SINOPSIS Moonlight Drawn by Clouds Episode 10 Bagian 1

SINOPSIS Moonlight Drawn by Clouds Episode 10 Bagian 1
Sumber gambar dan konten:  KBS2


Young memanggil nama Ra On dengan lembutnya. Ia kemudian bertanya bukankah nama Ra On itu berarti sebuah kenikmatan?

“Ya. Ayahku memberikan nama itu agar aku bisa menikmati hidup.”

Young memuji nama itu, sangat cocok untuknya.



Chapter 10 Sinopsis Love in The Moonlight: Seperti Kisah Dongeng

Setelah mengungkapkan perasaan mereka, Young jadi tak sabar menantikan kehadiran Ra On. Ia sudah menunggu kedatangannya untuk memakaikan jubah. Senyum gaje sambil mondar mandir, khas remaja kasmaran.


Ra On juga sama tak sabarnya untuk bisa menemui Young. Kasim Jang menyiapkan diri untuk bertanya pada Putra Mahkota. Ra On langsung nyerobot, “Putra Mahkota, apa kau sudah bangun?”

Young buru – buru menyahut, “Aku sudah bangun. Silahkan masuk.”


Ra On memakaikan jubah Young. Young kemudian bertanya, “Bagaimana cuaca diluar, Ra On-ah?”

“Sinar mataharinya sangat terik.”

“Apa kau sudah membawa buku – buku, Ra On –ah?”

Ra On mengiyakan. Tapi kemudian ia bertanya apakah Putra Mahkota harus terus memanggilnya seperti itu. Bagaimana kalau ada yang mendengar?


Memang apa salahnya memanggil Ra On dengan Ra On? Young akan memanggilnya dengan nama itu saat mereka tengah berdua. Dia akan menebus setiap saat ketika ia tak bisa memanggil nama itu. Young setengah berbisik, “Ra On –ah..”

“Baik, Putra Mahkota.” Jawab Ra On mengulas senyum.



Ra On siap memakaikan topi ke kepala Young. Biasanya dia berjinjit mengerjai dia, tapi kali ini Young memilih menunduk dan mensejajarkan kepalanya dengan Ra On. Ra On lebih mudah memasangkan topi itu dan ia pun tersenyum.

Young mengangguk bangga seolah dia sudah melakukan hal yang sangat baik untuk Ra On.


Young bertanya, bukankah seluruh wanita di dunia ini bermimpi untuk menjadi kekasih Putra Mahkota?

Ra On menunjukkan wajah menye – menye tak setuju. Young dengan jahil menarik sabuknya lalu merangkul Ra On. Keduanya tersenyum dan berjalan bersama.


Byung Yeon mengaku pada anggota kelompok rahasianya kalau dia belum menemukan informasi apapun mengenai Putri Hong Gyeong Nae. Dia kemudian bertanya, apa yang akan mereka lakukan jika berhasil menemukan anak itu?

“Kita harus melindungi dia sebagai bagian dari kita. Kenapa kau bertanya?”

Bukan apa – apa. Byung Yeon berjanji akan terus melakukan pencarian.


Anggota kelompok bertopeng menyebarkan banyak sekali selebaran di jalan ibukota dan membuat keributan. Para prajurit mengejarnya namun tak berhasil menangkap siapapun.


Kini selebaran itu sudah sampai di tangan Raja dan Young. Dalam selebaran tersebut, mereka menyerukan kesengsaraan yang dialami oleh rakyat. Banyak yang berteriak kelaparan. Mereka tak mau dipimpin oleh Raja yang tak kompeten, mereka akan dipimpin oleh seorang yang menjalani sejarahnya. Anak Hong Gyeong Nae akan memimpin jalannya. Mereka tak akan melakukan kegagalan seperti 10 tahun yang lalu.



Raja langsung panik. Young mencoba meredam kepanikannya dan bersedia menyelesaikan masalah ini.

Raja tak bisa begitu saja lega, dia malah semakin panik. Ia khawatir kalau mereka sampai menusuknya ketika ia tengah tertidur. Bahkan istana sudah tak aman lagi, geledah semua orang di istana! Kalau ada sedikit saja kecurigaan, hukum mereka dengan berat!

Young diam memperhatikan mimik wajah Ayahandanya, ia terlihat begitu prihatin dan khawatir.


Saat keluar, Young mengaku prihatin dengan kondisi ayahnya saat ini. Dia bertanya pada Byung Yeon, apa dia pernah mendengar mengenai Hong Gyeong Nae? Byung Yeon mengaku belum mendengar informasi itu.

PM Kim. Hong Gyeong Nae. Dan PM Kim. Young bertekad untuk mengakhiri hubungan terkutuk diantara mereka. Ia meminta Byung Yeon untuk membantunya mewujudkan hal itu.

“Baik, Putra Mahkota.” Jawab Byung Yeon.


Young berpapasan dengan PM Kim, mereka berdua hanya melempar salam hormat satu sama lain dan berlalu.

“Apa kau pikir ini adalah perubahan mendadak?” tegur PM Kim menghentikan langkah Young.

“Apa yang ingin kau katakan?”

PM Kim berkata bahwa kegelisahan merasuk melalui titik yang paling lemah. Young tersenyum, mengerti betul makna ucapan PM Kim. Karena dirinya yang lemah ini menjadi seorang Raja pengganti, begitukah?


PM Kim seolah mengamini ucapan Young. Keputusan yang dianggapnya sebuah keadilan malah membawa kekacauan. Dalam masa sulit, mungkin Young akan membutuhkan bantuan dari orang berpengalaman. Kenapa dia tak berpura – pura menyerah demi keamanan dan berteduh dibawah pohonnya?


Young sendiri tak yakin, mungkin dia tak mampu untuk berpura – pura tak melihatnya. Mengabaikan lumpur dikakinya dan berteduh dibawah pohon.

Dia kemudian menunduk dan pergi dari hadapan PM Kim.


Terjadi keributan di dalam istana, penjaga mulai menggeledah semua barang milih para kasim.


Do Gi dan Ra On bertanya apa yang terjadi pada Kasim Jang. Kasim Jang berkata kalau penggeledahan ini berlaku untuk semua orang, bukan hanya kasim tapi dayang dan penjaga juga sama. Ini karena selebaran yang mengatakan kalau mereka ingin menggulingkan Raja dan menciptakan tatanan baru dengan rakyat sebagai pemimpin.

“Apa itu bukan pengkhianatan?” tanya Do Gi.

Kasim Jang memperingatkan mereka untuk diam. Di titik ini, mereka bisa saja diseret dan disiksa sampai mati.


Malam harinya, Young baru bisa kembali ke Dongungjeon dan ia bertemu dengan Ra On yang tengah menyiapkan tempat tidur. Young menatapnya lekat – lekat. Kini Ra On berani membalas tatapan itu, kau baru kembali? Kau pasti kesal karena kerusuhan dalam istana.

“Ya. Aku tak bisa menemuimu sepanjang hari.”

Ra On tersenyum mendengar ucapan gombal Young.


Ra On menepuk ranjang yang telah ia persiapkan dengar rapi. Ia memintanya untuk berbaring disana. Young menurut tapi dia tak mau meletakkan kepalanya diatas bantal melainkan menjadikan pangkuan Ra On sebagai bantalnya.

Ra On tersenyum tanpa protes, dia menawarkan untuk menceritakan sebuah kisah menyenangkan sampai Young tertidur.

“Lakukanlah.” Ucap Young.



Ra On menceritakan kisah mengenai seorang putri duyung yang jatuh cinta pada seorang pangeran. Belum lama bercerita, Young sudah tertidur dalam pangkuan Ra On. Ia tak jengah memandang wajah polos Young ketika tertidur. Tangannya mulai bergerak menelusuri wajahnya.

Tangan Young menahan tangan Ra On, “Apa Pangeran itu setampan aku?”


Ra On tersenyum, “Mungkin saja karena putri duyung jatuh cinta pada pandangan pertama. Putri duyung yang jatuh cinta mengorbankan suaranya demi sepasang kaki dan ia pergi bersama pangeran. Putri Duyung itu tak pernah menceritakan apapun mengenai dirinya.”


Diluar kamar Young, Byung Yeon mendengarkan pembicaraan diantara mereka berdua. Ia pun kemudian pergi dari sana.


Raja mengungkapkan kekhawatirannya pada Kasim Han. Baru beberapa lama Putra Mahkota diangkat menjadi Raja Sementara tapi sudah banyak yang menentang. Dimasa yang akan datang, sudah jelas mereka akan bersatu dan berusaha mengekang Putra Mahkota. Karena merekalah, dia tak bisa melakukan apapun.



Kasim Han bertanya apakah mereka perlu menunda pernikahan Putra Mahkota?

Raja tak punya niatan semacam itu, dia malah ingin mempercepat prosesnya. Pernikahan Putra Mahkota akan menjadi perayaan bangsa. Mereka harus mendapatkan perhatian dari hati rakyat yang bimbang. Dia harus meyakinkan rakyat bahwa keluarga kerajaan tetaplah kuat.

“Apakah anda sudah memilih sebuah keluarga?”


“Panggil Menteri Jo Man Hyung secara diam-diam.” Pungkas Raja.

-oOo-


Wah meskipun tampangnya tidak terlihat pintar, ternyata Jung Duk Ho menjadi orang yang berada di posisi pertama ujian kemarin. Dengan berapi – api ia bersujud dihadapan Putra Mahkota. Dia berjanji akan melakukan yang terbaik demi kemajuan bangsa dan akan bekerja keras sampai ketulangnya..

“Itu tak perlu.” Potong Young.


Young hanya menunjuknya untuk menjadi petugas kantor perlindungan dibawah naungan Putra Mahkota karena dia punya bakat dibidang strategi. Duk Ho menyanggupi penunjukkan itu.


Ra On masuk kedalam ruangan untuk mengantarkan gulungan. Dia bertatapan dengan Duk Ho, keduanya sama – sama terkejut. Young bertanya apakah mereka saling mengenal?

Ra On ingat kalau Duk Ho dulu memohon padanya untuk menggantikan dia menemui Tuan Putri Myung Eun. Dia pun bergegas mengelak dan berkata ia tak mengenalnya.

Young sebenarnya agar curiga apalagi melihat reaksi gemetaran Duk Ho. Dia tak begitu mempermasalahkannya dan menyuruh Duk Ho pergi.


Ketika di luar ruangan, Ra On kembali bertemu dengan Duk Ho. Duk Ho langsung tergagap ingin mengatakan sesuatu. Ra On langsung menangkap maksud perkataannya, dia berjanji tak akan mengatakan apapun. Tapi ngomong – ngomong, bagaimana bisa dia mendapatkan peringkat pertama?

Duk Ho sendiri tak percaya akan hal itu soalnya ini bukan kontes makan loh, ini ujian kecerdasan. Apa itu lucu?

“Memangnya tidak.”

Putri Myung Eun melihat Ra On, ia langsung menyapanya. Ra On memanggilnya dengan sebutan Tuan Putri. Sontak Duk Ho terkejut meskipun sempat terpesona melihat wajah ayu Putri Myung Eun.



Ra On menoleh ke samping, dia heran karena tak bisa menemukan Duk Ho disana. Myung Eun juga sama herannya, perasaan tadi dia melihat Kasim Hong bersama dengan orang lain.

Myung Eun melihat ekspresi terkejut Ra On, “Kenapa kau begitu terkejut?”

“Maafkan aku. Anda terlihat begitu berbeda. Apa anda selalu memiliki hidung mancung seperti itu?”

Myung Eun memegang kedua belah pipinya dengan malu. Ia kemudian berdehem mengendalikan diri, dia juga baru sadar kalau punya hidung semancung ini. Myung Eun lalu permisi untuk melanjutkan perjalanannya.


Duk Ho kembali muncul ketika Myung Eun sudah pergi. Dia bertanya kenapa sekarang Putri Myung Eun terlihat kurus seperti orang sakit – sakitan?

“Kau akan sering berada di istana mulai sekarang. Apa yang akan kau lakukan?”

Yang jelas, Duk Ho akan berusaha menghindarinya. Akan menjadi bencana kalau Putri Myung Eun sampai tahu. Duk Ho menunjukkan wajah melo –nya, tapi kenapa dia sangat kurus sekarang?


Young sedang jalan – jalan, tanpa sengaja ia melihat gadis kecil yang berjualan lentera ketika festival. Dia menegurnya dan bertanya apa yang sedang ia lakukan di dalam istana? Apa dia ingin menemui Raja?

Gadis itu dengan jujur berkata kalau ia datang bersama Ayahnya. Ayah sedang menghias tas disana.


Seorang dayang datang. Ia terkejut melihat kehadiran Young, “Putra...”

Young memberikan isyarat agar ia tetap diam. Young menghampiri dayang itu kemudian memerintahkan agar ia bisa memberikan camilannya untuk disuguhkan pada gadis kecil itu. Young kembali menghampiri gadis lentera, ia mengusap kepalanya seraya tersenyum.


Menteri Jo menghadap pada Raja untuk menanyakan alasan ia dipanggil ke istana. Secara langsung, Raja meminta kesediaan Menteri Jo untuk menyerahkan Putrinya menjadi pendamping Putra Mahkota dan menjadi pendukung untuknya.

Sontak Menteri Jo terkejut sekaligus bingung.


Para Kim langsung menerima informasi ini meskipun Raja sudah melakukan pertemuan dengan Menteri Jo diam – diam. Menteri Ui Gyo menduga pernikahan ini dilakukan untuk menenangkan rakyat yang kacau.

Mereka panik kalau sampai Putra Mahkota yang sudah diangkat menjadi Raja Sementara memiliki seorang ahli waris. Mereka harus menggagalkannya. Mereka juga punya seorang Ratu yang tengah mengandung.


PM Kim menenangkan mereka, tak perlu mengkhawatirkan semua itu. Toh Raja tak bisa mengambil keputusan seorang diri. PM Kim tersenyum dan bertanya pada Menteri Geun Pyo, berapa umur putri bungsumu sekarang?



Young tengah dalam perjalanan. Dia melihat Ra On tengah bermain – main dengan Do Gi dan Sung Yeon. Keduanya mengangkat tubuh Ra On bersama – sama. Ra On kegirangan, tak sakit dan ini menyenangkan.

Young berdehem, apa yang menyenangkan?

Do Gi dan Sung Yeol menjelaskan bahwa kaki Ra On terkilir dan mereka membawanya dengan cara yang aman. Young tak suka dan memberikan isyarat agar mereka cepat pergi.


“Bagus sekali.” sindir Young.

“Aku memanjat pohon kesemek dan jatuh terkilir.”

“Bagus sekali. Kau melingkarkan tanganmu pada semua orang. Tertawa didepan siapapun. Dan terluka.” Rutuk Young. “Jangan terluka lagi. Ini perintah.”


Ra On membela diri. Dia juga tak mau terluka kok. Young kembali memberikan larangan keduanya, jangan tertawa didepan yang lain! Tahan tawamu, itu juga perintah.

“Aku menolak.”

“Kau menolak?”



Young bersiap menjitak dahi Ra On. Reflek Ra On memejamkan mata dengan takut. Young tersenyum licik kemudian menutup wajah Ra On dengan buku. Ia mendekatkan wajahnya dan mengecup pipi Ra On.

“Itu hukumanmu karena menentang perintah Putra Mahkota.”


6 Responses to "SINOPSIS Moonlight Drawn by Clouds Episode 10 Bagian 1"

  1. Huaaaa huaaaa huaaaaaaaaa,, lagi lagi aku kesengsem sama putra mahkota yg satu iniiii hhahahah

    ReplyDelete
  2. Mkin pnasaran n g sabar nunggu episode2 slnjutnya....

    ReplyDelete
  3. Lovely dowey......duh.....senangnya, yg ngasih perhatian cho~a...

    ReplyDelete
  4. Wkwk.. seneng bnget ngelihat kejahilan park bo gum.. 😆

    ReplyDelete
  5. Wkwk.. seneng bnget ngelihat kejahilan park bo gum.. 😆

    ReplyDelete
  6. klo gitu mah enakan terus menentang putra mahkota,, biar disayong2 trus sm putra mahkota... hahha.. #lol 😂😂

    ReplyDelete

Jangan lupa komentar yaah^^ biar aku lebih semangat dalam membuat postingan. Meskipun jarang bales tapi semua komentar selalu aku baca kok.. *serius*

Gomawo^^