SINOPSIS Moonlight Drawn by Clouds Episode 12 Bagian 2

SINOPSIS Moonlight Drawn by Clouds Episode 12 Bagian 2
Sumber gambar dan konten: KBS2

Young membaca gulungan yang melaporkan bahwa Menteri Ui Gyo melakukan praktek suap. Dia heran bagaimana bisa setelah menggunung seperti ini, Young belum mengetahuinya sama sekali.

Dia menyuruh Sekretaris Kerajaan untuk menjelaskan.



Sekretaris Kerajaan nampak ragu bicara ketika Menteri Ui Gyo tepat berada dihadapannnya. Dia pun beralasan bahwa surat tersebut belum diketahui kebenarannya, kemungkinan hanya dijadikan untuk memfitnah pejabat.


“Tapi bagaimana bisa mereka mengirimkan surat – surat tersebut secara bersamaan seolah ingin mendapatkan tanggapan?” Tanya Young pada Menteri Ui Gyo. Dia kemudian meletakkan buku yang berisi daftar orang yang menerima suap dengan imbalan sebuah jabatan.



Dalam buku tersebut terdapat detail waktu dan tempat dilakukannya penyuapan. Menteri Ui Gyo masih mencoba menyangkalnya namun Sekretaris Kerajaan mengatakan bahwa orang didalam daftar telah ditangkap dan diperiksa, mereka mengakuinya.

“Putra Mahkota, aku yakin ini adalah jebakan.” Elak Menteri Ui Gyo.


Young tetap pada keputusannya untuk memberhentikan Menteri Ui Gyo. Menteri Ui Gyo meminta Young untuk memutuskan dengan hati – hati ketika belum ada keputusan dari pemeriksaan resmi.

“Kau benar. Aku sedang melakukan investigasi secara menyeluruh, jadi semua orang yang membiarkan ini terjadi akan diselidiki secara ketat.” Tandas Young.



Klan Kim melakukan pertemuan setelah pemberhentian Menteri Ui Gyo. Mereka bertanya – tanya bagaimana bisa catatan yang diambil oleh orang – orang topeng putih bisa sampai ke tangan Putra Mahkota?

Tak lama kemudian, seorang anak buah masuk untuk memberitahukan bahwa orang yang menyerahkan informasi telah dimati. Selain itu, mereka sudah mengetahui nama Putri Hong Gyeong Nae. Dia bernama Hong Ra On.

Mereka sepakat kalau nama itu tak akan digunakan sembarangan, Menteri Ui Gyo menyuruhnya melakukan penyelidikan lebih lanjut.
-oOo-


Yoon Sung pergi ke Dongungjeon untuk membahas soal pemilihan Putri Mahkota. Kasim Jang memberitahukan bahwa Young sedang di perpustakaan. Haruskah dia memberitahukan kedatangannya?

Yoon Sung menolak. Dia sendiri yang akan menemui Putra Mahkota di perputakaan.



Diperpustakaan, Young sedang memandangi wajah polos Ra On yang terlelap. Dia menghalangi pancaran cahaya yang mengenai wajahnya menggunakan buku. Ra On tersenyum dan perlahan membuka matanya.


Young meletakkan kepalanya diatas meja sambil memandangi Ra On. Dia bertanya apakah Ra On bisa melihatnya dengan mata tertutup? Caranya tersenyum saat sedang tidur. Ra On membenarkan, dia baru saja memimpikan Putra Mahkota.


Yoon Sung masuk ke perpustakaan dan melihat keduanya tengah berpandangan. Meskipun cemburu, dia memutuskan untuk keluar tanpa mengganggu keduanya.

“Mimpi apa itu?” tanya Young.

“Mimpi saat kau memanggil Ra On untuk pertama kalinya.”

Deg. Mendengar nama Ra On disebutkan membuat Yoon Sung terkesiap kaget. Dia kembali mengingat nama Ra On. Hong Ra On. Putri dari Hong Gyeong Nae.


Melihat kesombongan yang ditunjukan oleh Young. Menteri Ui Gyo ingin memberinya pelajaran. Menteri Geun Pyo terkejut, bukankah ini sebuah pengkhianatan?

Menteri Ui Gyo menunjukkan topeng putih yang digunakan oleh para pengkhianat. Menteri Geun Pyo langsung mengerti akan taktik licik yang dimaksudkan olehnya. Setelah mereka melakukan rencananya, tinggal melepaskan topeng itu untuk menghilangkan jejak.


Satu rencana untuk tiga tujuan. Mempercepat pernikahan Putra Mahkota. Membuat mereka semakin leluasa untuk menyerang para ‘awan putih’. Dan juga untuk membuat Putra Mahkota bertekuk lutut dihadapan mereka.


“Tapi. Bagaimana dengan Perdana Menteri?” tanya Geun Pyo.

Menteri Ui Gyo yakin kalau PM Kim akan tahu tanpa mereka beritahu. Sekalipun dia tahu, ia tak akan menghentikannya.
-oOo-


Duk Ho melompat – lompat didepan kediaman Myung Eun. Ia bernita masuk tapi nyalinya langsung ciut ketika melihat dayang yang berseliweran. Dia pun memutuskan untuk menggantung rantang yang ia bawa didepan pintu.


Saat berniat pergi, Myung Eun malah muncul dibelakangnya dan membuat Duk Ho seketika tergagap. Myung Eun sudah memperingatkannya untuk tidak muncul dihadapannya lagi. Sebenarnya apa yang dia rencanakan didepan kediaman Tuan Putri?


Duk Ho mencoba mengalihkan pembicaraan dengan memuji suasana cerah pagi ini. Myung Eun diam sembari memperhatikannya penuh selidik.

“Jujur aku belum bisa melupakan wanita cantik yang dulu tinggal di sini. Jadi aku sering datang.” Aku Duk Ho.


Myung Eun kira wanita yang dimaksud oleh Duk Ho adalah Wol Hee. Dia meminta dayangnya untuk mengambil rantang yang terkait di pintu. Melihat kue didalamnya membuat iman Myung Eun tergoda namun ia buru – buru sadar, makan kue bisa membuatnya gendut.


Wol Hee tak menyukai makanan seperti ini. Dia menyuruh Duk Ho untuk membawa kue itu jauh-jauh.


Duk Ho berjalan pergi dengan loyo. Keduanya sama – sama berbalik ketika hendak pergi namun Myung Eun buru – buru memalingkan wajahnya karena kue dalam rantang terlihat begitu menggoda.



Ibu Ra On berniat pergi namun Kasim Han telah menantinya didepan pintu. Ibu Ra On tampak terkejut melihat kehadirannya “Apa yang membawamu kemari?”


Di Jahyeondang, Young datang untuk mencari keberadaan Byung Yeon. Tanpa sengaja ia melihat pakaian penuh noda darah tergeletak di lantai. Young memungutnya dan sesuatu terjatuh dari pakaian penuh noda darah. Benda yang jatuh rupanya adalah sebuah topeng putih.

Ia mengingat kejadian di pasar saat Byung Yeon dikejar – kejar gerombolan orang. Young menemukan topeng yang sama saat itu.

“Putra Mahkota?” panggil Byung Yeon.


Kasim Han bertanya mengenai kabar Ibu Ra On.

“Aku memutus hubungan denganmu karena aku tahu kau akan seperti ini. Dalam 10 tahun yang dia habis untuk mempersiapkan pemberontakan, apa kau pernah berpikir tentang bagaimana Ra On dan aku hidup?”

Kasim Han berjanji akan melindungi mereka saat ini. Dia meminta bantuan Ibu dan Ra On agar kematian dari orang yang tak terhitung jumlahnya tak akan sia – sia.
“Kami tidak tahu apa-apa.” Pungkas Ibu kemudian pergi.


Young melirik ke arah pakaian penuh darah. Ia bertanya pada Byung Yeon, apakah dia terluka?


Byung Yeon mengaku terjadi kecelakaan ketika latihan kemarin, pendatang baru membuat kesalahan. Wajah Young masih tampak kaku dan tak terlihat seperti biasa. Dia bertanya “Bagaimana dengan cederamu? Apa kau baik-baik saja sekarang?”

“Ya, aku baik-baik saja, Putra Mahkota.” Jawabnya.
-oOo-



Young sepertinya memendam sedikit kecurigaan pada Byung Yeon. Dia memanggil bawahakannya dan mendapati Byung Yeon telah pergi dari istana. Dia izin sakit. Young bertanya – tanya, apakah cidera latihan kemarin separah itu?

“Tidak ada latihan kemarin, Putra Mahkota.” Ujar Prajurit Istana.

Mendengar ucapan Prajurit membuat Young mengernyit curiga. Tak ada latihan kemarin?

Pencari informasi keluarga Kim berpapasan dengan Yoon Sung. Dia mengaku akan pergi ke kediamannya untuk memberikan informasi mengenai Hong Ra On. Ia berbisik kalau wanita itu kini tinggal di istana.

Yoon Sung sama sekali tak terkejut. Dia bertanya apakah informasi itu sudah disampaikan pada yang lain?


Belum. Pencari infomasi menunjukkan kertas yang disimpan dibalik baju dengan senangnya, dia akan segera menyampaikan informasi itu sekarang. Baiklah, Yoon Sung menyuruhnya untuk pergi lebih dulu. Dia akan menyusulnya dibelakang.


Pencari informasi berjalan sendirian menyusuri jalan sepi. Suara langkah kaki membuat pria itu waspada dan berbalik sambil menyiapkan pedangnya. Tenyata Yoon Sung yang mengikutinya, dia mengaku lupa mengatakan sesuatu. Dia menjentikkan jemarinya memberi isyarat agar Pencari Informasi mendekat.


SYAT! Seketika pencari informasi tumbang akibat tusukan belati Yoon Sung. Dia langsung mengambil kertas yang tersimpan dibalik pakaian pria tadi dan membacanya. Sontak Yoon Sung terkejut dan meremas kertas itu.


PM Kim tengah memperhatikan bulan sabit yang menghiasi langit joseon malam ini.


Disisi lain, beberapa orang penyusup menggunakan topeng putih menerobos masuk ke istana dan membantai beberapa penjaga yang bertugas.


Di Dongungjeon, Yoon Sung menemui Young saat malam sudah larut. Young memperingatkan agar dia tak membicarakan masalah Sam Nom. Kalau ada sesuatu yang dibutuhkan oleh anak itu, dia yang akan melakukannya.

Tidak. Yoon Sung harus mengatakan hal ini karena yang dibutuhkan oleh anak itu adalah.... meninggalkan istana.


Dengan tegas Young mengatakan bahwa Yoon Sung tidak perlu mengkhawatirkan apapun.

“Kasim Hong seharusnya tidak berada di sini! Istana ini—“

“Aku akan... menemukan jalannya.” Potong Young.


Yoon Sung mencoba menjelaskan jika mereka bersama – sama maka Putra Mahkota dalam bahaya.


Ucapan Yoon Sung membuat Young teringat akan ucapan Guru Dasan. Pertemuan antara Ra On dan ibunya mungkin akan membawa bahaya besar untuknya. Young bertanya bahaya macam apa yang akan dirinya alami?

Yoon Sung tak bisa menjelaskan.

Lupakan. Kalau Young goyah hanya dengan kata – kata semacam itu maka dia tak akan pernah memulainya.



Ditempat lain, Menteri Ui Gyo dan Geun Pyo tengah minum tuak dengan wajah licik. Mereka menebak kalau tari pedangnya mungkin sudah dimulai.


Ra On membawa nampan berisi minuman. Seseorang tiba – tiba muncul dibelakangnya dan membekap mulutnyanya. Nampan berisi cangkir langsung terjatuh dan menimbulkan suara.


Young mendengar suara sesuatu terjatuh. Dia bertanya apa diluar ada orang? Tak ada jawaban. Young memutuskan untuk mengambil pedang yang terdapat diruangannya.



Saat pintu dibuka, beberapa orang dengan topeng putih mengarahkan pedangnya pada Ra On. Young mencoba bersikap setenang mungkin “Siapa kalian?”


Yoon Sung keluar dari Dongungjeon dan melihat dua penjaga yang ada didepan sana. Mata jelinya mampu melihat darah yang ada ditangan salah satu penjaga. Ia pun berjalan dengan waspada dan langsung siap saat penjaga itu menyerangnya. Dengan mudah, Yoon Sung mengalahkan dua penjaga gadungan itu.


Ra On berjalan dengan gemetaran mengikuti para pria bertopeng yang menjadikannya sebagai sandera. Young tak bisa membiarkannya dalam bahaya, dia menjatuhkan pedangnya dan mengajak mereka memulai pertarungan tanpa melibatkan Ra On.

Young mengulurkan tangannya dan Ra On gemetaran meraih tangan itu. Pria bertopeng menyerang Young. Young buru – buru menarik Ra On dan medekapnya menghindari serangan pedang.


Yoon Sung menerobos masuk dan langsung menyerang mereka.


Young mendorong Ra On agar bisa berlindung dibelakangnya. Yoon Sung pun berdiri disamping Young untuk melindunginya pula.



Keduanya bekerja sama untuk mengalahkan gerombolang bertopeng putih. Mereka bertarung dengan lihat meskipun kalah jumlah dengan mereka.



Young berdiri menahan beberapa pedang yang terarah padanya dengan menggunakan pedang pendek. Salah satu diantara mereka tiba – tiba muncul dan mengarahkan pedang padangnya dari arah lain. Young membeku melihat pedang itu hampir mengenainya, beruntung Yoon Sung muncul. Tanpa ragu dia menahan pedang itu menggunakan tangannya.

Tangan Yoon Sung berdarah. Young sempat tertegun melihat aksi Yoon Sung.


Ra On menemukan sebilah pedang tergeletak disampingnya. Ia melemparkan pedang itu pada Young. Ia langsung menusuk pria yang melukai tangan Yoon Sung.

Pertarungan diantara mereka kembali berlanjut.


Seorang mencoba menyerang Ra On yang duduk dipojokan melihat mereka kekacauan ini. Young sigap menghampirinya dan menahan pedang yang terarah padanya.





Young langsung menyerang pria yang mencoba untuk melukai Ra On. Tanpa diduga seseorang kembali datang dan menebas punggung Young. Young terduduk dengan luka dipunggungnya, pria bertopeng berniat menebas Young lagi.

Dalam benak Young seolah melihat bayangan Byung Yeon dalam diri pria bertopeng “Apa kau, Byeong Yeon?” tanya Young sedih.


SYAT! Orang yang berniat melukai Young langsung muntah darah karena Byung Yeon datang menusuknya “Ya, aku minta maaf karena terlambat.”



Young tumbang ketika itu pula. Ra On menangkap tubuh Young dengan panik. Putra Mahkota!
-oOo-


Raja panik ketika mendengar Dongungjeon telah diserang oleh pasukan topeng putih. Dia tak menyangka putranya akan menerima cobaan berbahaya. Sedangkan dia sebagai Ayah hanya bisa khawatir dan merengek kalau rumornya sampai menyebar.


PM Kim yakin kalau Raja berniat untuk melakukan investigasi namun PM Kim menyarankan agar Raja mengurungkan niatnya. Kalau sampai kejadian ini tersebar ke masyarakat, dia pastikan gerombolan itu akan memanfaatkan sentimen masyarakat untuk melakukan rencana yang lebih besar. PM Kim menawarkan dirinya untuk mengurus masalah ini.


PM Kim menemui Menteri Geun Pyo dan Ui Gyo. Dia memastikan apakah mereka telah membereskan semuanya. Menteri Ui Gyo memastikannya dan bersyukur karena Yang Mulia Raja berniat untuk merahasiakan masalah ini.

“Bagaimanapun, kau tidak boleh lengah sampai akhir.” Tegas PM Kim.

“Tentu saja. Tidak ada masalah dengan hal itu.” ujar Menteri Ui Gyo.


Diluar ruangan PM Kim, Menteri Geun Pyo langsung panik karena mereka kehilangan 10 orang anak buahnya. Mereka belum bisa menemukan mayat 10 orang tersebut. Menteri Ui Gyo tak bisa tinggal diam mengenai masalah ini tapi dia juga tak boleh memberitahukannya pada PM Kim.


Ra On tak bisa menemui Young, ia hanya bisa melongok tempat rawat Young dari pintu. Ia meminta izin pada tabib yang merawatnya agar bisa menjenguk Young. Tabib itu dengan ketus melarang.

“Apa Putra Mahkota baik-baik saja? Tolong paling tidak berikan aku jawaban.”

Tabib itu tetap tak mau memberikan jawaban dan mendorong Ra On agar tak menghalangi jalannya.


Ra On menanti penuh harap “Tolong... jangan sampai kau kalah, Putra Mahkota.”



Young terus menerima perawatan dan Ra On menantinya dengan gelisah “Kapan kau akan datang?”



Akhirnya Young membuka matanya setelah menerima perawatan. Tabib memberitahukan bahwa Raja melarang semua orang untuk masuk ke tempat ini. Dia juga terpaksa memindahkannya ke tempat ini karena Dongungjeon penuh darah dan mayat saat itu.

Young duduk. Tabib melarangnya untuk banyak bergerak.

“Ada sesuatu yang aku butuhkan. Kirimkan aku seseorang dari tempatku...” perintah Young.


Ra On berdiri didepan pintu mengatakan kehadirannya. Matanya berkaca – kaca, “Apa kau baik-baik saja? Putra Mahkota, apa kau ingat saat aku mengatakan kepadamu bahwa aku takut karena aku terlalu menyukaimu? Kalau kau jatuh, ku sangat takut. Pada akhirnya, mereka membawa pergi kebahagiaanku. Itulah yang aku pikirkan. Jangan pernah melepaskan tanganku karena aku juga tak akan melepaskannya.”




Ra On meraih pintu dengan sedihnya. Young datang dan memegang tangannya, dia memeluk Ra On. Kurang ajar sekali. Tak ada yang bisa mengambil kebahagiaan Ra On tanpa izin darinya. Jangan menangis.

Young mengeratkan genggaman tangannya “Aku tidak akan pernah melepaskan tangan ini.”


Keduanya memejamkan mata. Seolah mereka menyalurkan perasaan rindu mereka satu sama lain dalam diam. Juga perasaan lega setelah melewati kekacauan kemarin.
-oOo-



Hari berlalu, Young sudah sembuh dan memberikan tanda izin agar Ra On bisa meninggalkan istana. Belum apa – apa dia sudah bertanya kapan Ra On akan kembali. Ra On berniat meraih kayu berukir itu, dia akan kembali sebelum bel malam.

“Kembalilah sebelum matahari terbenam.” Perintah Young.

Ra On manyun.

Pokoknya Young memastikan kalau Ra On harus sudah ada dalam pandangannya ketika matahari terbenam. Ra On akhirnya tersenyum “Baik, Putra Mahkota.”


Di tempat Guru Dasan, Ibu sudah mengepak barangnya untuk pergi. Dia tak bisa membiarkan Ra On berada di sisi Putra Mahkota.


Ra On sampai ke tempat Guru Dasan dan melihat sandal ibunya. Ia tersenyum seraya melangkahkan kaki menuju ke rumah. Tanpa sengaja, ia mendengar pembicaraan antara Ibunya dan Guru Dasan tentang hubungannya cinta dirinya dan Putra Mahkota.

Ia terdiam.



Ibu merasakan penderitaan untuk bisa keluar dari nasib yang menyedihkan. Memaksa putri cantinya untuk menjadi seorang pria. Dia tak bisa membiarkan Ra On berada di istana lebih lama lagi. Bagaimana kalau ada yang tahu kalau Ra On adalah Putri Hong Gyeong Nae?

Pintu terbuka. Ra On menatap ibunya dengan sangat terkejut.


Petang sampai Malam, Ra On belum juga kembali. Young mondar mandir didepan Jahyeondang menantikan kedatangannya. Dia ingat ucapannya pada Ra On, memintanya untuk tak melepaskannya ketika Ra On dihadapankan pada situasi yang sulit.

Ia juga mengingat ucapan Ra On, dia tak akan pergi kemanapun tanpa izin dari Young.

Young termenung mengingat ucapan itu.


“Apa kau sudah menunggu cukup lama, Yang Mulia?” tegur Ra On.



Young berbalik dan mendapati Ra On tersenyum ke arahnya. Awalnya Young hanya meliriknya sebal tapi kemudian dia membalas senyum Ra On.

-oOo-

4 Responses to "SINOPSIS Moonlight Drawn by Clouds Episode 12 Bagian 2"

  1. di banding lee young,, lebih suka sama yoon sung n byung yun,, hehee,, maaf para team lee young,,
    entah knp saya kdng merasa lebih menyukai second male di banding lead male,,
    second male tuch kyk ada greget greget tersendiri,, hahaa,,

    udah mulai masuk konflik yg serius,, gimana nanti reaksi Young klo tau byung yun terlibat,, gk sabar nunggu lanjutannya,,
    SEMANGAT puji,, terimakasih,,

    ReplyDelete
  2. Kak....ditunggu lanjutannya ya..... Super penasaran.....

    ReplyDelete
  3. saat saat sedih sebentar lagi menghampiri Lee young & Ra on ....huhuhuhu...smoga happy ending yaa..semangat ya mba puji....

    ReplyDelete

Jangan lupa komentar yaah^^ biar aku lebih semangat dalam membuat postingan. Meskipun jarang bales tapi semua komentar selalu aku baca kok.. *serius*

Gomawo^^