SINOPSIS Fantastic Episode 3 Bagian 1

SINOPSIS Fantastic Episode 3 Bagian 1
Sumber gambar dan konten: jtbc

So Hye melepaskan ciuman mesra diantara mereka. Dia buru – buru bersikap biasa dan berkata kalau ia memang cepat belajar. Dia yakin kalau sekarang ia bisa menulis adegan ciuman dengan baik. Terimakasih atas bantuan dan ide yang telah Hae Sung berikan.

Dia pun bergegas meninggalkan Hae Sung. Dia merutuki dirinya sendiri yang sangat gila sampai melakukan semua ini. Kau pasti gila Lee So Hye!


Hae Sung juga tertawa mengabaikan debaran dalam jantungnya. Wah, gadis itu! Dia membuatku hampir tertipu (oleh aktingnya).


Sesampainya di studio, So Hye meremas kepalanya dengan frustasi. Memangnya apa yang salah dengannya, jantungnya berdebar.. Tapi.. So Hye mencoba meyakinkan dirinya. Ini jelas bukan sesuatu yang salah karena mereka baru bertemu kembali. Ini pasti reaksi biologis yang sangat normal.


Tapi bagaimanapun, So Hye tetap tak bisa mengenyahkan ingatan tentang ciumannya dengan Hae Sung. Dia kembali memikirkan saat itu ketika ia tengah gosok gigi.


Sama halnya dengan Hae Sung, ciuman itu terngiang dikepalanya. Dia bukannya sebal malah terlihat senang dan tertawa lantang. Dia bahkan mencari reaksi apa saja yang biasanya dilakukan oleh wanita setelah berciuman. Haha. Dia kembali tertawa dengan puasnya.


Lain halnya dengan Hae Sung, So Hye tampak sangat sengsara karena harus mengingat adegan ciuman itu. Dia bahkan tak bisa bekerja dan mood –nya hilang seketika.

-oOo-


Keesokan harinya, Hae Sung cerah ceria dan mencium tomatnya dengan bahagia. Dia melahap tomat itu dan kembali senyum – senyum gaje. Koki yang ada disana cuma bisa melongo tak mengerti melihat tingkah ajaibnya.


Chul Hyung menunjukkan bahwa mereka akan melakukan syuting di Pyeonchang. Sontak Hae Sung tertawa gaje dan berkata kalau tempat itu adalah tempat sakral untuknya. Pyeonchang menjadi tempat dimana ia melakukan syuting untuk pertama kalinya.

“Apa kau bicara mengenai Penulis Lee?”

Hae Sung buru – buru mengelak dan berjalan pergi ke kamarnya.


Di kamarnya, Hae Sung melihat peta perjalanan dan hanya butuh 10 menit menuju ke sebuah tempat. Dia kembali tertawa mengira kalau So Hye terlihat dingin tapi nyatanya menulis hal semacam ini. Apa dia ingin menyusuri jalan kenangan bersamanya?


So Hye tak bisa berkosentrasi sama sekali. Sang Hwa datang dan bertanya kenapa So Hye menulis nama karakter utama sebagai ‘Ciuman’?

Sontak So Hye kaget, dia mengaku menggunakan fungsi replace sehingga muncul kata seperti itu terus menerus. Dia merasa tak profesional. So Hye kemudian berkata akan pergi ke pertemuannya.

“Dengan Dr. Hong Joon Ki?”

So Hye membenarkan. Joon Ki sendiri yang meminta melakukan pertemuan untuk membahas skrip secara pribadi.



Sang Hwa menunjukkan sebuah blus agar So Hye bisa mengenakannya ke pertemuan tersebut. So Hye menolak karena Dr Joon Ki bukan tipenya. Sang Hwa tetap membujuk, mereka tak akan tahu apa yang terjadi dimasa mendatang.

“Dia bukan tipeku!” tandas So Hye.



Hae Sung tiba – tiba bertamu ke studio So Hye. Jelas saja Sang Hwa yang paling semangat membukakan pintu. Dengan alasan basi, Hae Sung berkata kalau dia hanya lewat saja dan ia membawakan mie pangsit.

“Bagaimana kau tahu kalau Penulis Lee sangat menyukai mie?”

“Benarkah? Bagaimana bisa ada kebetulan macam ini?”

So Hye menerima pemberian tersebut, dia akan memakannya nanti. Ia kemudian mengedikkan dagu, memberi isyarat agar Hae Sung cepat meninggalkan studionya.


Hae Sung mencari – cari alasan untuk bisa tinggal lebih lama. Ia membahas mengenai lokasi syuting mereka. Sang Hwa mengatakan kalau mereka akan melakukan syuting di Pyeoncang.

Sontak So Hye kaget, bagaimana bisa mereka melakukan itu?

So Hye mengendalikan emosinya lalu meminta Sang Hwa membuat secangkir kopi untuk Hae Sung. So Hye kemudian pamit pada Hae Sung dan memintanya menikmati kopi yang Sang Hwa buatkan.


Hae Sung berniat mengejarnya tapi Sang Hwa keburu datang memberikan secangkir kopi americano. Dia memilih menerima kopi itu dan berkeliling memperhatikan lukisan indah yang terpajang dalam studio. Sang Hwa menjelaskan kalau tempat itu adalah tempat favorite Penulis Lee. Salar de Uyuni di Bolivia.

Kemudian Hae Sung bertanya dengan penasaran, apakah Penulis Lee pernah mengatakan sesuatu tentang dia?


Yang Sang Hwa dengar dari So Hye, Hae Sung ini perlu banyak sekali latihan pada adegan penuh emosi. Apa kau tahu aktor Park Won Sang? Dia bekerjasama dengan Penulis Lee dalam empat drama. Dia sangat tahu intonasi sebuah adegan dalam naskah.

“Begitukah?” tanya Hae Sung kecewa.


Meskipun sudah kekeuh bilang Joon Ki bukanlah tipenya, nyatanya So Hye langsung berbenah penampilan ketika melihat Joon Ki dikejauhan. Dia bersiap menghampirinya namun sayang ada Dokter wanita yang datang lebih dulu. Joon Ki berbicara santai dan tertawa – tawa bersama Dokter Wanita tadi.

So Hye tidak terlalu suka melihat kedekatan diantara mereka.



Joon Ki segera menghampiri So Hye ketika menyadari kedatangannya. So Hye meminta maaf karena terlambat datang. Dia menganalisa penampilan Dokter wanita yang ada disamping Joon Ki. Tidak berkeriput. Rambut mengkilat.

Tak apa – apa. Lagipula Joon Ki yang memintanya untuk datang, dia ingin memperkenalkan So Hye dengan Dokter Jamie.

Keduanya saling sapa. Rupanya Joon Ki sengaja ingin So Hye diperiksa oleh Dokter Jamie.



Dr Jamie memeriksanya dan menyimpulkan kalau So Hye seperti bermain petak umpet (menyembunyikan penyakitnya?) sehingga dia tak bisa memperhatikan kondisi tubuhnya sendiri. Jika sampai menyebar ke paru – paru maka pengobatan klinis cukup efektif.

“Apa kau mengatakan agar aku untuk menjadi subjek percobaan klinis?”

Dr Jamie mengoreksi ucapan So Hye. Bukan percobaan melainkan penelitian, dua kata itu berbeda. Meskipun tak bisa 100 persen efektif tapi dia pikir kualitas hidup So Hye akan meningkat.

So Hye tidak mau memastikan, dia akan memikirkan hal ini lebih dulu. Dr Jamie meminta So Hye untuk membangun kepercayaan dirinya.

Sepulangnya dari rumah sakit, So Hye terjebak hujan dan terpaksa berteduh didepan sebuah cafe.


Hae Sung mengikuti ucapan Sang Hwa dan menemui aktor senior, Park Won Sang. Belum apa – apa, Won Sang sudah memperingatkan kalau menjadi aktor bukanlah sesuatu yang mudah dipelajari. Hae Sung bersungguh – sungguh ingin belajar dan mengenyahkan sebutan akting kaki yang melekat pada dirinya. Setidaknya dia ingin belajar tentang intonasi yang pas untuk karakternya.

Won Sang mengatakan kalau aktor punya intonasi yang unik setiap individunya. Dia yakin Hae Sung bisa melakukan yang terbaik. Dia akan mendukungnya.

Dia seperinya malas banget sama kedatangan Hae Sung dan buru – buru ngacir.




Hae Sung menahan Won Sang dan memberikan sekotak uang “Ini dari hatiku yang tulus.”
Ampuh juga ternyata uang yang dibawa Hae Sung. Won Sang berubah pikiran dan bersedia membantunya.



Sebagai awal, Won Sang menanyakan alasan Hae Sung ingin menjadi aktor. Sejak kapan?

Semua itu berawal saat Hae Sung masih kecil. Dia menjadi paduan suara dalam pertunjukan drama musikal. Dia menitikkan air mata ketika melihat adegan terakhir yang menunjukkan sebuah keluarga yang bersatu.

Ketika pertunjukkan berakhir, terdengar suara tepuk tangan dari para penonton. Tepuk tangan ingin membuat air matanya berubah menjadi senyuman.



Semenjak saat itu, Hae Sung mengaku belum pernah menerima tepuk tangan lagi. Tidak sama sekali sampai akhirnya So Hye muncul dan memberikan tepuk tangan untuk Hae Sung di bangku penonton.

“Aku ingin diakui oleh dia sekali lagi.” Ucap Hae Sung sembari mengingat senyuman So Hye memberikan tepuk tangan padanya.



Hae Sung pun menunjukkan adegan yang ia anggap begitu sulit. Won Sang memberikan wejangan agar dia tak menganggap sebuah adegan itu sebagai sesuatu yang sulit. Semua jawaban ada dalam naskah, dia hanya perlu memasukkan dirinya dalam naskah secara alami.

Baiklah. Hae Sung akan mencoba menunjukkan aktingnya. Dan. Zonk! Dalam naskah seharusnya dia menunjukkan ekspresi emosional karena kekasihnya tiba – tiba akan menikah. Tapi Hae Sung malah menunjukkan wajah lempeng dengan nada datar.

Won Sang menghentikan Hae Sung. Ia mencobe memberikan conton dan mampu membawakan adegan ini dengan sangat baik sampai – sampai Hae Sung tepuk tangan dengan kagumnya.


Sekali lagi Hae Sung mencoba menunjukkan adegannya. Tet Tet. Won Sang dengan geregetan menyuruh Hae Sung menggunakan emosi! Emosi!

Berulang kali mencoba tapi yang ada dia malah terdengar seperti sedang merengek. Won Sang sampai putus asa untuk memberikan contoh pada Hae Sung. Dia menarik kerah bajunya dengan emosi.


Keluar dari ruang latihan, Hae Sung menggunakan tisu karena mimisan. Dia mengaku pada Chul Hyung kalau ia terlalu menggebu – gebu sampai mimisan begini.



Didepan cafe, So Hye menanti hujan reda sambil memperhatikan orang – orang yang berjalan sambil bermain – main. Ia ikut tersenyum melihat kebahagiaan mereka seolah tanpa beban.

Ponsel So Hye berdering menerima pesan dari Hae Sung. [Apa kau membawa payung? Kau bisa kena kanker kalau kena hujan asam. Berhati – hatilah karena kau berharga.]

So Hye cuma tersenyum remeh melihat pesannya.


Hae Sung tersenyum, dia menganggap So Hye sedang jual mahal dan mengabaikannya. Bagaimana kalau dia benar – benar mengabaikannya coba?

Chul Hyung tanya, apa yang sedang dia lakukan? Hae Sung mengaku tengah berlatih kata – kata untuk adegannya. Chul Hyung lantas menunjukkan jempolnya dengan senang.


Hujan belum juga reda, So Hye menengadahkan tangannya membiarkan titik – titik air berjatuhan mengenai kulitnya. Tanpa ragu, dia memutuskan untuk hujan – hujanan dan berjalan dengan percaya diri tanpa mengkhawatirkan apapun.


Seperti biasa, Sul sibuk melakukan pekerjaan rumah tangga.



Jin Sook pulang ke rumah membawa barang belanjaan. Anggota Majelis Lee datang bersamanya dan ibu menyambutnya dengan ramah. Sul jelas kaget melihat selingkuhan suaminya berani datang kesana.

Ibu menyuruh Sul membawakan minuman dingin. Namun dengan kurang aja, Anggota Majelis Lee malah meminta dibuatkan makanan pada Sul. Jin Sook berkata kalau Lee telah memberikan proyek pemerintah pada mereka, dia ingin mentraktirnya tapi Lee malah minta makan dirumah mereka. Dia ingin menemui ibu.

Ibu antusias memerintahkan Sul ini dan itu. Sul tak bisa melawan dan terpaksa mengiyakan perintah mertuanya.


Jin Tae pulang kerja. Sul mendengar suara tawa mereka dari dalam dapur. Jelas kemarahan Sul sudah sampai ubun – ubun dan membanting bahan makanannya dengan kesal. Jin Tae masuk ke dapur, dia meminta maaf dan tak tahu kalau Lee datang kesana. Dia tak bisa berbuat apa – apa soalnya dia datang sebagai tamu kakak. Dia janji hal seperti ini tak akan terulang lagi.


Jin Sook masuk ke dapur. Jin Tae yang kaget langsung tutup mulut. Dengan seenak jidat, Jin Sook menyuruh Sul mencuci buah agar ia bisa mengupasnya.



Sul menghidangkan makanan dengan ogah – ogahan. Ibu mertuanya langsung menegur agar dia bisa lebih berhati – hati.

Nona Lee terus berbicara dan menjilat keluarga Jin Tae dengan pujian. Mereka tertawa – tawa puas sedangkan Sul bergetar marah saat melihat tangan Nona Lee terus menepuk paha suaminya saat berbicara. Nona Lee kemudian mengajak keluarga Jin Tae untuk pergi berlibur bersama. Mereka pun setuju.

“Wah, aku bisa mencicipi makanan Nona Baek Sul tiga kali sehari dong?” tanya Nona Lee seraya melirik ke arah Sul.

Jelas Sul tahu betul ucapan Nona Lee adalah sebuah sentilan untuknya. Mulutnya bergetar menahan amarah.

Ditempat lain, ada seorang pria yang tengah menanti lampu hijau untuk pejalan kaki. Sayangnya, lama sudah ia menunggu tapi lampu tetap saja masih merah. Dia baru sadar kalau lampu lalu lintasnya mati.

Pria itu, Kim Sang Wook segera menghubungi petugas dan menyuruh mereka segera datang ke jalan di Yeouido untuk memperbaikinya. Dia akan menunggu mereka.



Akhirnya, Sang Wook harus terlambat menemui seorang wanita yang sudah janjian dengannya. Wanita itu tak mempermasalahkannya. Sang Wook mengatakan kalau wanita itu jauh lebih cantik di foto.

“Maaf?”

Sang Wook tak jadi bicara, itu cuma candaan tak lucu. Mereka berdua pun sangat canggung meskipun si wanita menunjukkan ketertarikan pada Sang Wook.


Dalam perjalanan pulang, Sang Wook terus diam saat teman wanitanya mengoceh. Sang Wook meminta dia menghentikan mobilnya ditepi jalan. Wanita itu menurut.

Sang Wook langsung menyemprote wanita itu karena membawa mobil tanpa memiliki SIM. Dia juga sudah melanggar 4 aturan lalu lintas, melaju dengan kecepatan tinggi. Tak menyalakan lampu sen ketika akan pindah jalur. Sang Wook tahu kalau wanita itu bisa membayar denda tapi dia bisa menyebabkan kecelakaan dalam skala besar.


Sang Wook turun dari mobil dan berniat mendorong mobilnya. Wanita tadi jelas tersinggung, dia melempar tas Sang Wook dengan marah dan meninggalkannya begitu saja.

“Hei, kau harusnya mengantarku dulu.” Seru Sang Wook.

-oOo-

1 Response to "SINOPSIS Fantastic Episode 3 Bagian 1"

  1. Semangat chuingu.. nungguin ada yg post ini sinopsis.... gumawo..

    ReplyDelete

Jangan lupa komentar yaah^^ biar aku lebih semangat dalam membuat postingan. Meskipun jarang bales tapi semua komentar selalu aku baca kok.. *serius*

Gomawo^^