SINOPSIS Uncontrollably Fond Episode 7 Bagian 1

SINOPSIS Uncontrollably Fond Episode 7 Bagian 1
Joon Young duduk mengarahkan pandangannya ke laut lepas seolah mencari keteduhan yang ada disana.

Pikirannya melayang kembali pada saat ia masih bersama No Eul di penginapan. Dia menatap foto sebuah pulau indah pada pajangan penginapan. Joon Young tersenyum sembari mengalihkan pandangannya pada No Eul.

“Aku datang kesini untuk membawamu ke pulau itu. Tapi.. Aku akan pergi sendiri.” Ucapnya dengan seulas senyum miris. “Jika aku membawamu, aku akan menyembunyikanmu disana. Sehingga kau tak bisa pergi pada orang lain.  Jadi jangan muncul dihadapanku. Jika aku melihatmu, aku akan membawamu pergi.”





Terik matahari membuat mata Joon Young silau. Ia pun mengenakan kacamata hitamnya.
Suara ketukan sepatu mendekatinya, No Eul mengeluh lalu melepas kacamata Joon Young. Dia menggerutu karena harus khawatir dengan Joon Young yang bersantai disaat semua orang mengkhatirkan dia.

Satu..” batin Joon Young lantas ia bangkit meninggalkan No Eul.



No Eul mengejar Joon Young dan menyadarkan dia kalau semua ini bukan lah mimpi. Dia mengibaskan tangannya tepat didepan wajah Joon Young.

Dua..”
No Eul terus mengatakan kalau ini bukanlah sebuah mimpi.
Tiga..”



No Eul berniat mencubit wajah Joon Young namun Joon Young menahan tangannya. Dia meminta No Eul untuk pergi. Enyah dari hadapannya. Joon Young berjalan meninggalkan No Eul.

No Eul kebingungan, entah bagaimana dia harus menghadapi semua ini. apa dia melakukan kesalahan? Kesalahan besar apa yang kembali ia lakukan? Kalau aku mabuk lagi, aku benar – benar menjadi anjing.

No Eul menampar mulutnya sendiri dengan kasar.



Pandangan Joon Young terus tertuju ke arah lautan. No Eul perlahan mendekatinya, dia menacapkan sedotan pada botol susu kemudian menyuapkannya ke mulut Joon Young, dia pasti belum sarapan. Joon Young masih menutup mulut hingga sedotan itu mengenai bibirnya. Ah..

 No Eul mengaku kalau dia sangat buruk saat mabuk. Paling buruknya lagi, dia tak ingat apapun. Dia tak tahu apa yang salah dengannya, dia ingin meminta maaf.

Empat..”

“Ya tuhan, aku sangat ingin minta maaf. Kenapa aku tak mengingat apapun? S*al.” Ujar No Eul seraya melirik Joon Young lewat sudut matanya.

Lima..”




Ponsel No Eul bergetar, ia menerima panggilan dari Ji Tae. Ia perlahan berjalan menjauhi Joon Young sebelum menerima panggilannya.

Joon Young rupanya cukup penasaran, sudut matanya tertuju pada No Eul namun ia masih keras kepala untuk tetap mengabaikannya.


“Kenapa kau tak mengangkat panggilanku? Dimana kau?” tanya Ji Tae diseberang telefon.
No Eul meminta maaf, ada sesuatu yang penting yang harus ia lakukan. Ji Tae menjeda pertanyaanya, apa kau bersama dengan Joon Young.

No Eul mengelak namun sedetik kemudian dia meralat jawabannya, “Ya.”



Perhatian Joon Young rupanya tertuju pada pembicaraan No Eul. Tapi ia melangkahkan kakinya pergi saat melihat kapal yang menepi ke dermaga pulau itu.

No Eul melihat kepergian Joon Young, dia mengatakan pada Ji Tae bahwa dia telah melakukan kesalahan besar pada Joon Young. Dia mengakhiri panggilannya dan berjanji akan menghubungi lagi nanti.


Ji Tae tampak kecewa dan menaiki lift bersama asistennya. Asisten Ji Tae memberikan sebuah map, map itu berisi foto Ji Tae yang menggandeng tangan No Eul di konser Joon Young. Ji Tae terkejut, bukankah seharusnya dia sudah menghentikan pemberitaan itu. Asisten Ji Tae meminta maaf dan memberitahu bahwa kemungkinan Nyonya Yoon telah melihatnya.

Ji Tae ingat akan panggilan mendadak Jung Eun, menanyakan apa dia datang ke konser Joon Young. Asisten Ji Tae menambahkan bahwa Nyonya Yoon juga telah mencari informasi latar belakang dari No Eul.



*****
No Eul mencoba menarik perhatian Joon Young karena dia sama sekali tak mau menatapnya. Dengan lantang No Eul mengatakan kalau dia lupa segalanya. No Eul menggeplak kepalanya keras – keras, “Bodoh, bodoh, bodohnya aku.”

Joon Young tak perduli. No Eul melihat beberapa rumput kering mengotori sepatu Joon Young. Ia berniat membersihkannya.

Joon Young bergerak meninggalkan No Eul lagi, “Enam..”


Kini No Eul mulai frustari, dia berjongkok lalu menyembunyikan wajahnya.

No Eul mencoba mengajak Joon Young sarapan sebelum mereka pergi. Tak ada respon, dia akhirnya berjalan menghadang Joon Young.

“Aku memang meluapkan perasaanku saat mabuk. Jadi kenapa? Ayahku mengatakan kalau orang yang melampiaskan dendamnya saat mabuk adalah orang yang paling baik di dunia ini. dia mengatakan padaku untuk berteman dengan orang seperti itu.”

Joon Young berniat melangkahkan kakinya, “Tujuh..”



No Eul merentangkan kedua lengannya, kalau memang Joon Young marah. Dia bisa melampiaskannya, pukul saja dia. Pukul sampai kemarahannya reda.

No Eul menengadahkan pipinya. Dalam batin Joon Young ia kembali berhitung, “Delapan..”

Joon Young mendorong kepala No Eul dengan telunjuknya lalu berjalan menuju mobil. No Eul super duper frustasi, dia menggelengkan kepalanya kuat – kuat. Seolah ingin merajuk kesal tapi dia coba tahan saat harus menghadapi sifat menyebalkan Joon Young.



Joon Young masuk dalam mobil dan No Eul buru – buru mengejarnya, dia bergegas duduk disamping Joon Young. Joon Young diam menatapnya. No Eul mengedipkan mata tak mengerti, ah, dia yakin Joon Young sudah lama menyimpan dendam padanya. Tapi kenapa dia jadi tak pemaaf seperti ini? Dia mabuk juga karena Joon Young, dia berkontribusi besar sampai ia ingin mabuk. Bukankah dia seharusnya meminta maaf?

“Keluar.”

No Eul menolak lalu memakai sabuk pengaman.

“Sembilan.” Joon Young lah yang keluar dari mobil.



No Eul menegaskan bahwa dia tak mengingat apapun. Dia tak ingat apa yang telah perbuat hingga Joon Young begitu marah.

Sembilan setengah..”

“Aku ingat kalau aku digendong oleh mu.”

Sembilan tiga perempat..

“Kau menggantikan...” No Eul meralat ucapannya, “Aku ingat kau membantuku berganti baju. Aku ingat kau mengungkapkan perasaanmu..”


Sebuah taksi melintas hingga No Eul mengakhiri ocehannya karena Joon Young naik dalam taksi itu. No Eul melongo melihat Joon Young menghamburkan uang saat disana juga ada mobil Joon Young.



Joon Young meminta pada supir taksi untuk mengantarkannya ke Seoul. Dia melihat ke arah kaca spion, ada sosok No Eul yang masih berdiri menatap kepergiannya. Entah itu senyuman kecil atau hanya penglihatanku, Joon Young sepertinya cukup senang karena usaha keras No Eul meminta maaf padanya.



No Eul bergegas membangunkan Gook Young yang tidur di bagian belakang mobil. Keduanya dalam perjalanan menuju Seoul dan No Eul masih mencoba mengingat apa yang telah ia lakukan hingga Joon Young sebegitu dongkol padanya. No Eul menggeplak kepalanya kuat – kuat.

“Itu tak akan membantu kau mengingatnya.”

“Melakukan ini bisa membuatku ingat beberapa hal.”

Gook Young menyuruh No Eul berhentik sejenak dan PLAKK! Dia memukul kepala No Eul keras, sontak No Eul kalap. YAK!


*****
Joon Young merogok saku dan tak menemukan ponsel miliknya. Ia ingat betul kalau ia sudah melempar ponselnya ke laut.

Joon Young menurunkan syalnya lalu dengan ramah ia meminjam ponsel dari sopir taksi.


Dikedai, Young Ok makan semangkuk besar makanan. Bukan makan tepatnya tapi lebih seperti menjejalkan makanan itu terus menerus dalam mulutnya. Jung Shik datang dan bergegas merebut mangkuk makanan itu. dia memarahi Young Deuk yang diam saja saat melihat Young Ok melakukan kebiasaan buruknya. Jung Shik meminta Young Ok melepeh makanan yang sudah ada dimulut tapi Young Ok malah menatapnya kesal.

Ponsel Young Ok berdering. Young Ok mengangkat panggilan dari nomor tak dikenal.



“Halo, ibu ini aku. Kau pasti sangat mengkhawatirkan aku.” Ucap Joon Young diseberang telefon.

“Maaf, anda salah sambung.” Ketus Young Ok meskipun sedikit kelegaan ada diraut wajahnya.


Mimik wajah Joon Young sungguh kecewa mendengar ucapan ibunya. Apalagi saat sambungan telefon langsung terputus.


Jung Shik merebut ponsel Young Ok karena ia yakin kalau itu panggilan dari Joon Young. Ia kembali menelfon Joon Young. Sontak panggilan itu membuat Joon Young sumringah. Tapi lagi – lagi sedikit kecewa mendengar Jung Shik –lah yang menghubunginya.

Jung Shik memberitahukan bahwa sebenarnya Ibu Joon Young sangat mengkhawatirkan dia. Dia hanya berbohong. Bahkan dia sedang makan satu mangkuk besar bimbimbap. Kau tahu artinya, kan?

Joon Young tersenyum, “Aku tahu. Aku tahu kalau ibu sangat mengkhawatirkan aku.”

Young Ok menggeram meminta Jung Shik menghentikan ucapannya. Dia bahkan melempar sendalnya namun Jung Shik malah kabur keluar kedai.



Diluar kedai, Jung Shik bertanya kenapa Joon Young harus berakhir dengan seorang wanita mata duitan (gold digger). Harusnya dia sudah tahu apa akibatnya bahkan Gook Young mengalami semua itu dan dia sampai harus dipenjara. Joon Young sendiri yang dulu membantu keuangan Gook Young.

“Dia bukan wanita mata duitan.”

Young Ok yang kini mendengarkan pembicaraan Joon Young lantas merebut ponselnya, “Kalau begitu dia silver digger? Aku pikir kau seorang bintang. Kau sangatlah kaya. Kenapa kau sangat buruk dalam hal wanita. Beraninya kau membiarkan...”



Dengan suara lembut dan tulus, Joon Young mengatakan kalau dia menyukainya. Dia baru sadar akhir – akhir ini. dia sejujurnya mencintainya...sangat.

Jung Shik mengeluh mendengar ucapan Joon Young. Lain halnya dengan Young Ok, dia diam tertegun.

“Itulah kenapa aku lari. Jika aku terus melihatnya, aku tak tahu apa yang akan aku lakukan. Jadi aku lari darinya.”

Young Ok diam mendengarkan kata demi kata yang keluar dari mulut putranya. Dia tahu, bahkan sangat tahu bagaimana perasaan cinta namun cinta itu juga memaksa untuk melepaskan dan merelakannya pergi. OMG Baper sendiri nulisnya..




*****
Dalam perjalanan, Gook Young mengutarakan pendapatnya bahwa Joon Young memang serius dengan ucapannya. Bahkan saat tahu No Eul punya alergi, dia segera menendang Pororo keluar.

“Tak bisa dipercaya.”

Gook Young membenarkan. Diluar sana memang banyak wanita yang lebih baik dari No Eul. Seolah ini memang mustahil. No Eul membenarkan, mungkin Joon Young sudah gila. Gook Young suka dengan cara pandang No Eul, dia cukup baik dan sadar akan kenyataan.


Ibarat kisah Cinderela, Pangeran mempesona menikahi si Malang Cinderella. Meskipun malang, Cinderela gadis yang baik. Dia rajin dan juga jujur.

“Aku rajin dan...jujur juga.” Ujar No Eul.

Gook Young mengatakan kalau akhir – akhir ini dia merasa Joon Young kurang sehat. Saat Syuting terakhir kepalanya dipukul kayu. Mungkin otaknya bengkak dan dia tak bisa berfikir jernih. Dia akan segera memeriksakan Joon Young ke rumah sakit.

No Eul meminta Gook Young menghentikan ceritanya. Gook Young kembali bertanya, apa kau benar – benar tak ingat apa yang kau katakan pada Joon Young?


No Eul berfikir keras, “Kalau Joon Young tak berbohong dan mengatakan yang sebenarnya. Jika dia menyukaiku, apa yang harus aku lakukan?”

Gook Young membalas dengan candaan, dia akan membawa Joon Young dengan No Eul bersama – sama ke rumah sakit.


*****
Setelah berhasil menghindari puluhan wartawan yang menantikannya didepan gerbang, Joon Young masuk lewat pintu belakang rumahnya. Pororo menyambut tuan –nya dan ia pun membelai Pororo.

Joon Young bangkit, seketika rasa nyeri kembali muncul. Dia memijat keningnya sebentar dan masuk ke rumah.




Rasa nyeri benar – benar tak tertahan lagi, tubuhnya roboh terduduk dilantai. Ia meringis dan isak sakit sesekali keluar dari mulutnya. Dia mengerang menahan dan memukul kepalanya sendiri.


****
Istri Hyun Joon, Eun Soo menerima kabar dari pelayannya bahwa Joon Young mengidap penyakit brainstem glioma (tumor otak) dan dalam kondisi kritis. Pelayannya membenarkan selain itu, letak tumornya memang sulit jika dilakukan sebuah operasi.

Tangan Eun Soo gemetaran, apa ibunya tahu?

Pelayan mengatakan bahwa Joon Young dengan keras mencoba menutupi penyakitnya dari keluarganya. Eun Soo menatap lukisan yang tengah ia kerjakan, dia menatap wajah Hyun Joon yang tersenyum disana. Dia bekata kalau ini berita yang menyedihkan untuk Joon Young dan ibunya.



Disebuah pertemuan, Hyun Joon mengajukan keberatan atas pendapat beberapa anggota rapat. Dia menolak penunjukkan pada seseorang karena orang itu ia anggap tak layak, bahkan dia punya banyak sekali kasus. Anggota lain meminta Hyun Joon jangan terlalu keras, toh beritanya nanti akan hilang dengan sendirinya.

Hyun Joon kekeuh, berita itu juga akan timbul kembali suatu saat nanti.


Tuan Yoon angkat bicara, “Aku yakin, setiap orang disini pernah melakukan kesalahan. Untuk mendapatkan sesuatu yang besar, membuat beberapa kesalahan tak bisa ter-elakkan. Politik adalah tentang menolong orang lain yang membutuhkan.”

“Politik seperti itu akan menyebabkan penyesalan. Itu akan membuatu.. melakukan apa yang tak kau inginkan.”

Tawa Tuan Yoon pecah, “Sepertinya kau punya banyak waktu kosong? Bagaimana bisa kau punya waktu untuk menyesal.”

Hyun Joon menunjukkan senyum terpaksa, matanya menyipit tanda tak suka dengan cara pandang Tuan Yoon.



Hyun Joon membasuh wajahnya di toilet. Dia menatap pantulan dirinya dikaca, “Penipu itu.”


*****
Puluhan pewangi tergeletak di dekat tempat mandi Haru. Dia berteriak frustasi sambil memegang tab –nya. Bibi Jang datang dengan terburu – buru. Ia mengira kalau teriakan itu karena api atau apa tapi rupanya itu hanya karena komentar negatif antis Joon Young di internet.

Haru menunjukkan foto – foto editan antis, mereka membenci Joon Young yang telah mengkhianati fans –nya.

“Bibi Jang, kau tahu mimpiku untuk menikah dengan Joon Young? Masa lalunya, aku tak perduli semacam itu. tapi sekarang aku tak tahu dia hidup atau mati.”




Haru menjerit frustasi kemudian meminta Bibi Jang membawakan dia parfum lagi. Dia masih bau sampah. Bibi Jang mencium aroma tubuh Haru, dia sudah wangi seperti bunga. Dia harus cepat keluar dari air sebelum tubuhnya melar.

“Sh, Jik kunyuk. Aku akan balas dia.” Rutuk Haru.


*****
Jik menuju ke apartemen Hyun Woo (Ji Tae), dia bertanya pada petugas disana namun petugas jaga tak pernah dengan pria yang bernama Hyun Woo. Jik menunjukkan foto Hyun Woo dan petugas hanya mengerutkan dahi, dia tak kenal.

Ponsel Jik berdering, Hyun Woo menghubunginya. Jik mengaku kalau dia tengah berada dirumah Hyun Woo, kau dimana?



Ji Tae terkejut namun berubah tersenyum, dia mengatakan kalau dia sudah pindah. Dia mungkin belum mengatakannya. Jik tanya, kau pindah kemana?

Ji Tae tak menjawab, dia mengatakan kalau dia sedang ada di Daejeon dan dalam perjalanan pulang. Dia akan menemui Jik di toko tempatnya bekerja.




Ji Tae bergegas masuk ke toko Jik dengan tergesa – gesa. Jik bergegas menyambutnya dengan satu gelas bubble. Ji Tae bertanya apa maksudnya ini, apa yang ingin dia katakan? Jik mengaku kalau shift –nya masih ada sepuluh menit lagi, jadi dia akan mengatakan intinya saja.

“Kakakku pernah jatuh cinta pada Joon Young. Itu saat kita tinggal di Suyu-ri. Aku melihatnya menulis di diary. Tapi dia menyerah karena dia adalah pacar Na Ri. Jika dia mulai menunjukkan ketertarikan, dia akan jatuh dengan mudah kepelukannya.”

Ji Tae meremas tangannya. Dia memasang senyum, bukankah itu akan lebih baik, jika seorang superstar menyukai No Eul?


Jik menggeleng. Baginya antara No Eul dan Joon Young mempunyai dunia yang berbeda sekarang. Dia hanya ingin kakaknya memiliki pasangan yang sama, makan makanan yang sama, berpakaian yang sama, cara pandang yang sama.

Ji Tae tersenyum kaku, “Apa yang ingin kau katakan?”

“Bisakah kau menahannya? Kau satu – satunya, yang bisa membuatnya kembali sadar akan kenyataan. Aku mohon.”



******



5 Responses to "SINOPSIS Uncontrollably Fond Episode 7 Bagian 1"

  1. makasih sinopsisnya, ttep semangat buat lanjut ke part lainnya ^_^

    ReplyDelete
  2. kehidupan nya joon young miris skli:'(
    di tunggu part 2 nya,,,smngat trus^^

    ReplyDelete

Jangan lupa komentar yaah^^ biar aku lebih semangat dalam membuat postingan. Meskipun jarang bales tapi semua komentar selalu aku baca kok.. *serius*

Gomawo^^