Sinopsis The Time We Were Not In Love Episode 1 – Bagian 2

Sinopsis The Time We Were Not In Love Episode 1 – Bagian 2



Ha Na kini duduk dengan tatapan tak mengerti akan maksud yang diucapkan oleh Ho Joon. Ho Joon berkata kalau ia akan menikah. Ha Na masih belum mengerti, mereka kan sudah berjanji untuk menikah tapi kenapa sekarang harus putus?

Ho Joon bingung menjelaskannya, ia memilih berlutut dihadapan Ha Na. Ia mengaku kalau ia memiliki wanita lain.

“Apa?!” penuturan Ho Joon seperti sambaran petir disiang bolong untuk Ha Na.

Ho Joon tampak menyesal, dia sudah berniat mengatakan hal ini sejak awal. Bahkan sejak awal ia melihat Ha Na, ia ingin membereskan hubungannya tapi ternyata wanitanya sekarang hamil 3 bulan. Jadi ia harus menikahinya sebelum perutnya membesar.



Ha Na menghentikan ucapan Ho Joon, jadi dia telah menduakannya selama dua kali? Dan ditoko perhiasan itu..?

Ho Joon terkejut menyadari Ha Na melihatnya di toko perhiasan. Ia hanya bisa meminta maaf sedangkan Ha Na tak sanggup lagi berkata apa – apa. Ia memilih mengatur nafas sebelum kemarahannya benar-benar memuncak.


Ha Na melangkahkan kakinya pergi, tapi karena tak seimbang ia hampir terjatuh. Ho Joon mencoba menolong Ha Na tapi Ha Na menolak disentuh olehnya. Ha Na terus berjalan menguatkan diri.

“Kau harusnya memukul atau mengutukku. Dengan kau diam begini, ini lebih menakutkan.” Ucap Ho Joon.



Mendengar perintah Ho Joon, Ha Na berbalik dengan wajah menakutkan. Ia berjalan menghampiri Ho Joon dan dengan cepat menginjak kaki Ho Joon dengan sepatu hak tinggi. Sontak Ho Joon mengerang kesakitan.

Ha Na akan berjalan pergi tapi rupanya ia belum puas, ia kembali berbalik dan menginjak kaki kiri Ho Joon.


Ho Joon kesal, ini perselingkuhan. Seharunya Ha Na memukulnya saja.

“Perselingkuhan?! Kau bilang perselingkuhan. Lupakan itu, siapa dia? Siapa wanita itu!!!” semprot Ha Na.

*****


Kini sedang ada rapat, seorang wanita dari Tim Desain memperkenalkan dirinya, Yoon Min Ji. Ia adalah Desainer junior tapi sudah diijinkan untuk melakukan presentasi karena ide kreatifnya. Min Ji mempresentasikan hasil desainnya, sebuah sepatu hak tinggi yang di desain untuk wanita usia 20 tahunan. Ia mempresentasikan hasil desainnya dengan sangat detail dan begitu lancar.

Ho Joon yang juga ada di rapat itu tersenyum bangga menatap Min Ji sedangkan Ha Na hanya duduk diam menahan kesal.



Hasil evaluasi dari mereka memberikan penilaian yang bagus untuk desain Min Ji. Ketua memberikan kesempatan pada Ho Joon untuk memberikan pendapatnya.

“Menurutku, desain ini disukai oleh wanita usia 20tahunan.” Jawab Ho Joon membuat Ha Na tersenyum remeh. Salah seorang Manager yang melihat ekspresi Ha Na, ia meminta Ha Na memberikan pendapat juga.

Min Ji juga meminta Ha Na memberikan pendapatnya, ia mendengar kalau keputusan Ha Na selalu tepat sasaran.



Ho Joon menelan ludah saat melihat ekspresi mengerikan Ha Na.

Ha Na bersikap manis dihadapan Min Ji tapi ucapannya sungguh bertolak belakang. “Aku rasa tak akan berhasil.” Ungkapnya. “Pertama, desainmu itu sangat mencolok untuk dikenakan oleh wanita usia 20 tahun. Yang kedua, sepatu dengan menggunakan glitter itu sangat mahal karena gaji buruh harus tinggi. Dan yang ketiga....”

Ha Na melirik kearah Ho Joon, “Aku Cuma tak menyukainya.”


Min Ji langsung tertunduk mendengar ucapan Ha Na yang menusuk itu. Sedangkan Ha Na sama sekali tak perduli, Ia malah melempar tatapan sinis kearah Ho Joon.

*****


Saat sudah mendarat, So Eun menghampiri Won untuk mengucapkan terimakasih. Ia meminta izin untuk memanggilnya Sunbae. Won memperbolehkan dan ia juga menyuruh So Eun untuk bekerja dengan lebih berani.

“Untuk makan malam...” ucap So Eun agak malu.

Namun ucapan So Eun terputus karena Won menerima panggilan dari ibunya. Ibu Won telah mempersiapkan makanan untuk Won. Dengan girang, Won mengatakan pada Ibu kalau ia akan segera kebali.



Won pun langung pamit pergi pada So Eun sedangkan So Eun masih terdiam memperhatikan Won yang berjalan memasuki bus.

*****



Won berjalan pulang dengan tergesa sambil memainkan ponselnya. Ia bahkan tak sadar ada Ha Na yang sedang duduk di pinggir jalan. “Won-ah. Won-ah.”

“Apa yang kau lakukan disini? Apa terjadi sesuatu?”

“Kini kita sedang dalam penerbangan ke venice.” Ucap Ha Na sedikit mambuk.

“Apa?” tanya Won tak mengerti sambil menatap wajah Ha Na bingung.


“Ada masalah dan terjadi pergolakan di dalam pesawat.”

Dalam bayangannya, Ha Na dan Won berada disebuah pesawat namun terjadi masalah pada pesawat yang mereka tumpangi. Keduanya jejeritan ketakutan, saking takutnya hingga saling berpelukan. Namun disaat terjepit itu, mereka masih ingat ego masing – masing. Mereka melepas pelukannya dan kembali saling memungggungi sambil berteriak ketakutan.


“Pesawat pun jatuh dan akhirnya terdampar disebuah pulau terpencil.” Ucap Ha Na. Ia membungkukkan badannya sambil menatap Won, “Kau ingat kan?”



Kilasan kenangan keduanya pun teringat dalam benak Won. Bahkan Ha Na pernah memberikan sebuah kantung dengan tanda hati pada Won.

“Jadi kita akan tinggal di pulang terpencil itu selamanya sampai mati.” Jawab Won.


“Kau ingat kan?” tanya Ha Na dengan sedih.

“Ya. Apa ada sesuatu yang terjadi? Bagaimana dengan Ho Joon?” sebagai sahabat, Won langsung menyadari kegundahan yang kini dirasakan Ha Na.

Ha Na menunjuk Won sebagai sumber masalahnya. Ha Na yang dianggap sebagai orang yang pintar dan kini ia malah berpacaran degan pria tak berguna bahkan dicampakkan secara keji. Ha Na kembali menunjuk Won, semua ini karena Won!

***18 Tahun***


Ha Na berada di sebuah kedai sambil makan bersama temannya. Teman Ha Na memberitahukan kalau rumor bahwa Won menyukai Ha Na sudah tersebar. Ini semua karena anak anak sering melihat Won membelikan Ha Na roti bakar.

Ha Na tak percaya, hanya karena membelikan roti bakar belum tentu Won menyukainya. Ini semua karena Won kalah taruhan.

“Tapi kenapa kalian sering bepergian bersama?” tanya teman Ha Na membuat Ha Na tersedak.


Ha Na menjelaskan pada Na Young kalau ia dekat dengan Won karena mereka sekolah dan juga hidup dilingkungan yang sama makannya ia dekat Won.

“Lalu bagaimana denganmu? Apa kau tak menyukainya?” tanya Na Young. Ha Na dengan santai berkata ia tak menyukainya. Na Young langsung senang, aku bisa hidup sekarang.

“Kenapa?”


Na Young mengaku kalau ia menyukai Won tapi ia cemas kalau Ha Na juga menyukai Won. Ekspresi Ha Na seketika berubah tapi sulit dikatakan apakah dia kecewa atau semacamnya. Na Young bertanya tipe gadis seperti apa yang disukai Won? Apakah ia serasi dengan Won?

“Sedikit..” jawab Ha Na. Na Young pun meminta Ha Na untuk menyomblangkan dia dengan Won. Ha Na setuju – setuju saja.


Na Young memberikan sebuah kantung dengan tanda hati pada Ha Na, ia memintanya untuk memberikan itu pada Won. Ha Na menolak dan menyuruhnya melakukan sendiri saja. Na Young tak mau, ia ingin mengujinya dulu. Kalau dia tiba – tiba memberikan dan di tolak kan ga lucu.

Ha Na mendesis mengiyakan perintah temannya. Meskipun mengaku tak menyukai Won, ada sedikit gurat kesedihan diwajah Ha Na.



Won kini berada di rumahnya. Ia mencari –cari buku dirak dan tak sengaja ia melihat ada buku yang tersembunyi dibalik buku lainnya. Won mengambilnya, buku itu berjudul Cinta Sepihak. Won terdiam menatap buku itu dengan sedih.


Suasana hati Won tak cukup baik, ia memilih untuk bermain basket tengah malam. Ia meyakinkan dirinya sendiri kalau ia tak apa. Tak apa – apa. Ia bisa melakukannya.



Sedangkan disisi lain, Ha Na menantikan Won didepan rumah. Won pun pulang dan Ha Na segera menghampirinya. Ia berkata kalau ia mencari Won kemana-mana tak ada. Ha Na memberikan kantong dengan tanda hati pada Won.

“Apa ini?”

“Kau agak aneh Choi Won.” Ha Na memberikan kantung itu pada Won. Ia akan tahu nanti kalau ia menerimanya.



“Kau pikir siapa yang memberikannya padamu? Aku atau...” tanya Ha Na.

“Oh Ha Na.” Potong Won dengan Ekspresi sangat serius. “Sekarang, kita ada dipesawat menuju ke venice. Aku diundang ke festival film dan kau kebetulan dipesawat yang sama. Tapi tiba – tiba ada pergolakan pada pesawat lalu pesawatnya jatuh dipulau terpencil. Setelah membuka mataku, aku melihat semua orang mati. Hanya kau dan aku yang hidup. Hanya kita berdua. Jadi kita tinggal di pulau terpencil itu sampai kita mati. Tapi tetap saja, aku tak akan berpacaran denganmu. Meskipun dipulau terpencil, aku tak akan mencintaimu. Selamanya.”



Ha Na bersyukur kalau memang begitu. Tapi kata – kata Won benar – benar membuatnya marah, kenapa kau tak bisa menyukaiku? Kenapa?

Won tak menjawab pertanyaan Ha Na, ia mengembalikan Kantung pemberian Ha Na dan pulang.


Ha Na marah dengan sikap Won, ia berteriak didepan rumah Won. Apapun itu, dikutub, dilaut, dipulau terpencil, ia juga tak akan berpacaran dan mencintai Won! Tak akan. Dan ini, Ini adalah pemberian Na Young! Bukan aku!

Ha Na sungguh kesal tak diberi kesempatan untuk berkata. Ia menendangi pagar rumah Won.



Kembali ke masa kini, Ha Na merutuki ucapan Won yang telah berubah menjadi semacam kutukan untuknya. Won menganggap semua itu sungguh tak masuk akal. Ha Na masih merengek tak mengerti, ia ingin tahu alasan kenapa Won tak bisa menyukainya? Kenapa?

“Kenapa? Karena aku pemilih? Karena kepribadianku yang keras? Karena aku jahat? Apa aku sial?”

Won tak menjawab sama sekali, ia hanya tersenyum manis mendengar ocehan Ha Na. Won memintanya untuk berhenti membuat keributan, setidaknya ia ingin tahu apa yang terjadi.


Ha Na tak mau, ia menunjuk Won dengan kesal. Ia akan membalas Won dengan lebih kejam. Ha Na berjalan dengan sempoyongan ke rumah.

“Hati hati,”

“Jangan melihatku.” Seru Ha Na.



Dan tanpa keduanya sadari, ada seseorang yang  memperhatikan mereka. Ia adik Ha Na, Dae Bok.

Dae Bok segera membuka ponselnya, ia menemukan di media sosial ada foto pre – wedding Ho Joon dan Min Ji. “Heol..Daebak.”



Won sudah berganti pakaian dan sekarang makan di rumah Ha Na. Ibu Ha Na seperti menganggap Won anak sendiri. Won memuji makanan Ibu yang enak seperti biasanya.

“Hari ini Ha Na ulang tahun tapi dia tadi pagi berangkat pagi sekali dan sekarang ia melewatkan makan malam.” Keluh Ayah.

Won sendiri merasa kalau Ha Na dalam kondisi yang kurang baik.

“Kenapa? Ada masalah ke perusahaan?”


“Itu bukan masalah perusahaan, tapi karena tak ada yang memperhatikan dia. Noona sedang patah hati. Ho Jo Hoon menikah dengan wanita lain.” Sela Dae Bok.

Semua orang terkejut mendengar penuturan Dae Bok. Ibu yang khawatir menyuruh Dae Bok untuk memanggil Ha Na. Ia ingin tahun kisah keseluruhannya.

Dae Bok tiba tiba memberikan isyarat pada Ibu, rupanya Ha Na sedang menuju kearah dapur.



Ha Na berjalan menuju ke arah kulkas mengambil minum. Semua orang tak berani mengatakan apapun dan diam melihat Ha Na dengan bingung. Mereka saling pandang tapi ada yang berani mengajak Ha Na bicara.


Sedangkan Ha Na tak sadar diperhatikan, ia sibuk dengan pikirannya sendiri dalam diam. Ha Na kembali ke kamar dan meminum air yang telah ia ambil. Ha Na masih sedih meratapi nasibnya, ia pun hanya bisa memeluk karung tinju.



Won sudah kembali ke rumah, ia menerima pesan dari Dae Bok. Dae Bok merasa mereka tak bisa hanya diam saja. Kakaknya telah ditipu. Dae Bok juga mengirim foto pre-wedding Min Ji dan Ho Joon. Won melihatnya dan tampak geram.

“Anak nakal, kenapa tak memberitahuku.” Ucapnya sambil menatap kearah jendela diseberang rumahnya. Jendela kamar Ha Na.
*****


Ha Na disibukkan dengan kehidupan kerjanya, ia masih mencoba memasarkan sepatu yang kemarin gagal launching namun para direktur Dept store menolak tawaran Ha Na.



Ha Na juga berusaha untuk menemui Go Yeon Jeong namun aktris itu terus tinggal dirumahnya. Ha Na menawarkan untuk bertemu sebentar tapi Yeon Jeong tak merespon bahkan Ha Na harus menanti dari pagi hingga malah dan masih diabaikan.
*****


D-Day. Hari ini adalah hari pernikahan Jo Hoon dan Min Ji. Ha Na masih sibuk dikantornya saat teman lainnya berangkat ke pesta pernikahan mereka. Ha Na hanya bisa menelan pil pahit yang harus ia tarima.



Nara dan Assistan Hong bingung, akankah mereka akan pergi. Keduanya tak berani membahasnya secara langsung, mereka saling chating agar Ha Na tak mendengarnya. Nara menolak untuk datang. Assistan Hong merasa aneh kalau tak hadir.

“Akan lebih aneh kalau mereka datang.” Balas Nara lagi. Assistan Hong melihat ruangan Ha Na yang kosong.


“Apa kalian tak pergi?” tanya Ha Na mengejutkan mereka. Ha Na menyuruh mereka untuk pergi saja, ia nanti akan menyusul.

“Ketua Tim.” Ucap Assistan Hong ga enak hati.

“Pergilah.” Perintah Ha Na. Mereka pun bergegas pergi setelah mendapat perintahnya.
*****


Ha Na sudah berada digedung tempat pernikahan Ho Joon. Ia tampak ragu untuk memasuki gedung itu. Disaat kebimbangan itu, ada seseorang yang menepuk pundaknya. Rupanya Won sudah ada disana dengan stelan jas ragi. Ha Na heran kenapa Won tak bekerja?

Won mengaku cuti satu hari, ia ingin mengajak Ha Na untuk berkencan dengannya. Ha Na menolak, pergilah.

“Seperti biasa, Oh Ha Na yang sombong, Kau tipeku sekali. Itulah kenapa aku menyukaimu.”



Ha Na mengelu karena masalahnya sudah semakin sulit seperti biasa.

“Itulah kenapa aku disini. Aku akan ada disisimu.” Ucap Won. Ia berbisik kalau dia akan menjadi pacar baru Ha Na hari ini. Ia menyeret Ha Na untuk masuk ke gedung bersamanya. Sedangkan Ha Na masih mengatur kesiapannya sendiri.




Ha Na berkata pada Won kalau ia akan menemui pengantin wanita lalu segera kembali. Ha Na mencoba bersikap sabar, ia pun dengan yakin berjalan meninggalkan Won. Sedangkan Won bisa tersenyum melihat ketegaran Ha Na.



Ha Na menemui Min Ji dan mengucapkan selamat dengan semanis mungkin. Namun ucapannya itu malah terkesan dipaksakan. Min Ji jadi canggung juga sedangkan teman yang lain memilih meninggalkan mereka berdua.



Ho Joon yang sedang berada di toilet terkejut saat seseorang memberitahunya kalau Ha Na sedang menemui Min Ji. Ho Joon merasa terganggu dengan adanya Ha Na, “Dia yang paling parah. Harusnya kita sudah mengakhiri hubungan....”

Won rupanya ada di toilet juga, ia mendengar ucapan Ho Joon. Disana juga ada Ayah Ho Joon yang langsung menegur putranya, ia mengira putranya mendua.



Min Ji mengaku kalau ia baru tahu hubungan antara Ha Na dan Ho Joon akhir-akhir ini. Mendengar itu, Ha Na serasa mau pingsan tapi ia menahannya dan tetap tersenyum palsu.

Min Ji juga mengaku kalau ia sebenarnya menyukai Ha Na bahkan Ha Na menjadi panutannya. Jadi meskipun Ho Joon pernah bersama Ha Na, ia tak mempermasalahkannya. Ia meminta maaf telah merebut Ho Joon tapi bukankah Ha Na tetap akan mengucapkan selamat untuknya?

“Tidak. Aku tak mau.” Jawab Ha Na masih tersenyum.



Ha Na menghampiri Min Ji. Ia sebenarnya tak ingin mengucapkan selamat tapi mengingat desain sepatu Min Ji waktu itu.

“Jika aku menjadi kau, aku akan melepas hiasan pita yang tak ada gunanya dan aksesoris gasper yang hanya cocok untuk orang asing sebagai sepatu sehari-hari jadi tak cocok dinegara ini. Menempatkan resleting dibelakang akan memudahkan saat meletakkan atau mengambilnya. Aku hanya ingin mengatakan itu.”

Ha Na juga menambahkan, seandainya ia masih berusia 20 tahun. Ia malah akan membeli sepatu yang bisa ia gunakan untuk melompat kedalam bus dari pada  sepatu khusus pesta. Dan ketika usianya menginjak 30 tahun, daripada memilih desain yang mewah, ia akan lebih suka dengan sepatu yang desainnya tak lekang oleh waktu.

Min Ji mendengar seluruh ucapan Ha Na, ia tersenyum dan mengucapkan terimakasih.


Ho Joon mencoba menjelaskan pada Ayah kalau ia sama sekali tak mendua. Ayah masih tak percaya dan pergi begitu saja meninggalkan Ho Joon.


Ho Joon menyalahkan segalanya pada Ha Na, ia terus merutuk tak jelas disamping Won tanpa sadar. Won hilang kesabaran, “Hei!”


Ha Na mencari – cari Won saat keluar. Won menyeret Ho Joon dari toilet dan langsung memukul wajahnya. Ha Na terkejut melihat kejadian itu dan mencoba melerai mereka berdua. Won masih emosi dan menyuruh Ha Na diam saja.

Ho Joon menyimpulkan kalau Won pacar Ha Na dan mereka kesana untuk balas dendam. Sungguh menyedihkan!

Won tak terima dibilang menyedihkan, ia akan memukulnya lagi tapi ditahan Ha Na. Suasana makin kacau, orang- orang menatap Ha Na dengan sinisnya.




Min Ji datang, ia marah atas keributan yang disebabkan Won. Ia tak menyangka kalau Ketua Tim Oh tak datang kesana mengucapkan selamat malah membuat keributan. Ha Na tampak tak enak hati, maafkan aku.

“Apanya yang harus minta maaf!” kesal Won pada Ha Na.

“Kaulah yang seharusnya berhenti!” bentak Ha Na.



Min Ji mengajak Ho Joon kembali ke acara mereka, Ha Na terus membungkuk merasa bersalah. Won kini hanya bisa menatap Ha Na dengan tatapan tak terima, ia seolah menyesal telah membuat Ha Na harus meminta maaf begitu.

Ha Na marah, ia langsung meninggalkan gedung pernikahan Min Ji dan Ho Joon.


Ha Na berjalan dengan diikuti Won. Dia menahan kekesalannya, Ha Na sempat berhenti. Dalam hati Won menghitung, “Satu!

Ha Na kembali melanjutkan jalannya tapi kembali berhenti. Won menghitung, “Dua.”

Ha Na lagi – lagi berjalan dan terhenti, ia meremas tasnya dengan kesal. Won langsung menghitung, “Tiga.”

Ha Na menoleh dan Won reflek berlari. Ia hafal betul dengan kebiasaan Ha Na, dan kini ia sudah berada dipunggung Ha Na tepat saat Ha Na menoleh. Ha Na sempat celingukan hingga akhirnya menemukan Won tengah tersenyum manis menatapnya.



Ha Na menanyakan alasan Won melakukan semua itu, kenapa dia jadi gila? Kenapa Won melakukan itu? Apa ia ingin mempermalukannya? Ha Na datang kesana hanya untuk terlihat baik ketika pria –nya direbut orang lain. Meskipun ia malu ia tetap datang demi mempertahankan harga diri, tapi kenapa Won malah seperti itu?

Won mencoba menjelaskan tapi Ha Na memukuli Won dengan tas. Kenapa?! Kau ingin mempermalukan aku!


Won tak melakukannya tapi Ho Joon lah yang membuatnya seperti itu. Ha Na terus memukul Won, ia tak memintanya untuk melakukan itu. Ha Na pun menangis.

“Hentikan! Untuk itu, seharusnya kau tak menangis sejak awal karena pria sampah itu.”

“Ya benar. Akan lebih baik kalau aku tak datang dan aku tak akan mencarimu lagi.”ucap Ha Na lalu pergi.

Won mengiyakan, sebagai nasihat terakhir. Ia menyuruh Ha Na untuk bersikap sesuai usinya yang sudah 34 tahun.


Ha Na membalikkan badan, ia menunjukkan tinjunya kearah Won.


Ha Na  berlari saat ada bus yang berhenti di halte. Won ikut naik dalam busnya, ia sengaja mendahului Ha Na dan menyerobot kursinya. Won memalingkan wajah layaknya anak SD yang lagi musuhan.

Ha Na menghela nafas, dia duduk di kursi di belakang Won.




Selama perjalanan keduanya sama – sama diam, namun rupanya Won tak bisa menahan rasa kantuk. Berkali – kali kepalanya terantuk pada tiang pegangan di bus. Ha Na yang duduk dibelakang tak bisa menahan senyum karena sahabatnya itu.



Selama berjalan pulang, keduanya masih diam. Tapi kemarahan Ha Na sudah mereda, “Won~ah?”

Won yang akan masuk ke rumah berhenti. Ha Na mengucapkan terimakasih, untuk pertama kalinya ia merasa pembersihan dalam perutnya. Won pun tersenyum menyadari kalau kemarahan Ha Na tak akan bertahan lama, ia mengedikkan dagu. “Ceker ayam?”

Ha Na menolak.


“Ceker ayam pedas.” Ajak Ha Na lalu menyeret Won pergi bersamanya.


Keduanya sudah berada di rooftop sambil makan ceker ayam. Won tak bisa menahan pedas tapi bagi Ha Na, rasanya sama sekali tak pedas.

Won kemudian memberikan sebuah kotak untuk Ha Na. Ha Na tanya, apa ini?

“Kau sudah tahu.”

“Kau membelikan krima matanya? Thank you. Thank you. Thank you.” Ucap Ha Na.


Ha Na melihat krim matanya, ini pasti mahal. Won tak menjawab, tapi ia menyuruh Ha Na untuk mencari pria kaya nantinya. Ha Na berjanji akan mencari pria yang baik hati. “Dia harus tinggi.Oh tidak, tinggi tak masalah. Penampilan pun juga tak jadi masalah.”

Won bangga dengan sikap Ha Na yang sekarang, ia mengacak rambut Ha Na dengan sayang.







“Pria tanpa syarat. Seorang pria yang lebih baik. Benarkan?” Ha Na menggelayut di bahu Won. Jarak di antara keduanya hanya beberapa senti. Won terdiam, sekejap tatapan Won pada Ha Na berubah. Itu tatapan seorang pria pada wanita namun sebelum berlanjut, ia mendorong kepala Ha Na.

“Baumu seperti ceker ayam.” Cela Won.



“Won –ah, wanita seperti apa yang kau inginkan?”

“Aku ingin seperti, suzy? Ah tidak, IU?” ujar Won.

“Ahjussi.. sadarlah!” Ha Na memukul lengan Won agar sadar.

Won mengajak Ha Na untuk taruhan, siapa diantara mereka yang menikah sebelum usia 35 tahun akan mendapatkan uang. Ha Na setuju dengan taruhan itu, berapa jumlah uangnya?

“500 dollar?” tawar Won. Ha Na mengejek jumlah yang ditawarkan Won, kenapa pria bisa begitu penakut. Won khawatir, kalau begitu berapa?

“5000 dollar. Bagaimana? Kalau kau takut tak apa – apa.”

“Tidak. Aku kan populer.”

“Tentu saja.” Ucap Ha Na enteng setengah mengejek. Won meyakinkan kalau ia benar – benar populer dan meminta Ha Na menyiapkan uangnya.

**** 17 Tahun****

Dikelas siswa perempuan, mereka sedang riuh karena Ha Na tengah menghitung hasil voting. Nama Won terus- terusan muncul dan ia mendapatkan suara terbanyak.


Dalam perjalanan pulang, Ha Na masih bertanya – tanya kenapa bisa Choi Won berada diurutan pertama. kini Ha Na harus melihat polah Won selama 500 tahun.


Sesampainya didepan rumah, Ha Na melihat Choi Won berjalan tanpa payung saat hujan turun dengan derasnya. Ha Na berlari kearah Won dan memayunginya, “Won –ah, Apa kau jadi keren sekarang? Kau terpilih sebagai siswa terpopuler. Seperti keajaiban seorang yang tak bisa mati. Bahkan saat pesawat jatuh dipulau terpencil....”

Ocehan Ha Na segera terhenti saat menyadari Won terus terdiam. “Kenapa? Apa terjadi sesuatu?”

“Mungkin.. aku tak akan pernah mencintaimu.” Jawab Won dengan sedih.

Ha Na tak mengerti arah pembicaraan Won, tapi ada raut kesedihan diwajah Ha Na. “Apa? Apa yang kau katakan?”



**** Bersambung The Time We Were Not In Love Episode 2****
Anyeong haseyo?? Puji back back back, hehehe. Setelah libur panjang menulis,akhirnya aku kembali lagi. Drama ini aku tulis bersama mba lilih dari kisahromance.blogspot.com yang kawan.
Episode pertama dari drama ini menurutku yah, penuh makna. Dari scene awal, saat Ha Na mengganti sepatu hak tingginya dengan sepatu kets yang butut, seolah dari sana berkata kalau terkadang kita lebih memilih hal yang terlihat lebih cantik dan tampak sempurna ketimbang dengan sebuah hal yang sudah menemani kita sejak lama. Hal yang lebih membuat kita nyaman namun lebih sering ditinggalkan.
Yang bikin penasaran sih satu hal, kenapa Won benar – benar kekeuh kalau dia tak akan mencintai Ha Na padalah tanpa diungkapkan pun sudah jelas ia memiliki sebuah rasa dari hanya sekedar sebuah persahabatan.

Tapi persahabat mereka mungkin yang membuat Won tak ingin merusaknya. Persahabatan yang terjalin dari persaingan tapi membuat mereka saling mengasihi dan membantu satu sama lain.

7 Responses to "Sinopsis The Time We Were Not In Love Episode 1 – Bagian 2"

  1. Saya jd ingin nnton versi taiwan nya. Mkasih atas sinopsis nya :-)

    ReplyDelete
  2. makasi sinopnya, mbak puu.. keren!!

    ReplyDelete
  3. remake drama taiwan,, keren lee jin wook oppa,,, :-*...

    Semangat ya mba buat sinopnya..

    ReplyDelete
  4. Ditunggu sinopsis selanjutnya ya mba

    ReplyDelete
  5. Salam kenal mbaaa....
    Hwaaa ini aktor n aktres paporiiit akuuuh...

    Ga nyangka mereka bakal maen bareng.
    Semangaaat bikin sinopsisnya ya Mba :)

    ReplyDelete
  6. Hallo aku langsung jatuh cinta sama drama ini. Semangat ya Eonni :)

    ReplyDelete
  7. Drama taiwan ny bner2 oke sih
    Critany si cewek mrasa dah mulai mature gt jd dy inget wktu sma dy masi pake spatu kets dan membayangkan gmn klo pake heels.
    pas uda gede pake heela malah kangen masa2 sma hehehe

    ReplyDelete

Jangan lupa komentar yaah^^ biar aku lebih semangat dalam membuat postingan. Meskipun jarang bales tapi semua komentar selalu aku baca kok.. *serius*

Gomawo^^