Sinopsis The Time We Were Not In Love Episode 1 – Bagian 1

Sinopsis The Time We Were Not In Love Episode 1 – Bagian 1

Disebuah ruangan gelap, seseorang melepaskan sepatu hak tingginya yang terlihat cantik dan berganti dengan sepatu kets butut. Dia adalah Kepala Marketing Oh Ha Na. Ha Na pun kemudian mematikan komputernya bersiap untuk pulang. Ia menyimpan sepatu hak tinggi dan memilih berjalan dengan lebih nyaman menggunakan sepatu bututnya.

“Saat usiaku 17 tahun, aku membayangkan usia 20 tahunku. Dan ketika menginjak umur 20, aku membayangkan usia 30 tahun. Dan ketika aku melewati usia 30, aku mengingat kembali usia 17 dan 20 tahunku. Kemudian, kenyataan tampak lebih jelas.”

Ha Na menjatuhkan tasnya, ia tampak kelelahan namun menyempatkan diri untuk melongok keluar jendela. Ia melihat jendela diseberang rumahnya masih gelap, Ha Na pun hanya menghela nafas.

Ha Na membersihkan diri, ia menatap pantulan diwajahnya dan menggunakan krim di bawah kelopak matanya. Dalam hati ia kesal, ia tak ingin kerutan di wajahnya terus muncul.


Ia menonton acara program TV kecantikan dengan santai namun beberapa kali khawatir karena fakta-fakta tanda penuaan mulai muncul pada dirinya. Ha Na kesal, ia mengganti chanel dan menemukan acara yang membahas fakta wanita usia 30 tahun. Seorang wanita menceritakan kisahnya, ia yang belum menikah diusia 30 tahun sangat kecil kemungkinan akan menikah ketimbang terkena bom atom.

Ha Na tersentak, ia mengingat akan kisahnya sendiri.

Aku tak melakukan hal yang buruk, tapi ini selalu mengingatkan kesempatan pernikahaku hilang. Kisah Kehidupan tanpa pernikahan.”

*****


Ha Na melihat puluhan sepatu hak tinggi yang terpajang di toko, namun tak ada satupun yang membuatnya tertarik hingga akhirnya ia melihat sepasang sepatu kets di lantai. Ha Na tersenyum, Ia segera mencobanya dan ternyata pas sekali. Ha Na terlihat nyaman dan menyukai sepatu itu.

“Maaf, itu milikku.” Tegur seorang siswi SMA.


Ha Na segera melepas sepatu tadi, ia kira sepatu itu dijual disana.

“Ya, tak apa. Itu biasa terjadi, Ahjumma.”

Ha Na sontak melotot terkejut mendengar sebutan gadis tadi. Ia dipanggil Ahjumma, Ha Na langsung terduduk lemas mendengar sebutan itu.


Tapi tunggu dulu, rupanya ini hanya mimpi Ha Na saja. Tapi Ha Na cukup kesal dengan sebutan Ahjumma tadi. “Siapa yang dipanggil Ahjumma?! Ini membuatku kesal. Ini tak akan terjadi!” rutuk Ha Na.

Ia mencoba untuk kembali tidur tapi tak bisa. Apalagi Assitennya Hong sudah menelfonnya.


“Kepala Tim! Apa kau sudah membaca artikel Go Yeon Jeong?” tanya Assiten Hong panik.

Ha Na bergegas membaca artikel di internet, entah apa yang dilakukan Go Yeon Jeong tapi ini sudah membuat kerugian pada mereka. Ha Na berangkat ke kantor dengan terburu buru bahkan melewatkan sarapannya.

Ibu Ha Na mengeluh, ia sudah menyiapkan sop dari pagi tapi malah dilewatkan begitu saja. Ayah juga ikut mengeluh, di usia Ha Na sekarang, sudah seharunya ia memasakkan makanan untuk orang tuanya.

Ha Na yang tergesa-gesa tak begitu mendengarkan ocehan kedua orang tuanya.
*****


Rupanya, Go Yeon Jeong yang seharusnya menjadi artis dalam launching sepatu Ha Na tersandung masalah tepat sebelum acara. Ha Na memohon pada direktor untuk menyusun kembali jadwal acaranya, dia akan mencari aktris lain. Director dengan tegas menolak, “Ini sesi akhir. Kapan kita akan mulai menayangkannya jika kau mendapatkan penggantinya sekarang? Kita tak bisa.”

Ha Na meminta waktu dua hari lebih, mereka sudah mengeluarkan biaya banyak untuk launching sepatu ini. Bahkan ia hanya bisa tidur sebentar. Jika ia tak bisa melakukan acara launching, ia akan kena marah.

Director tetap tak mau dan berjalan meninggalkan Ha Na. Tapi ia kembali berbalik, “Ngomong –ngomong, kau tau Manager Park dari bagian logistik batal bertunangan? Suasananya jadi seperti ada kematian. Jangan buat ini makin sulit dan singkirkan semua barang-barangmu dari gudang penyimpanan.”

Ha Na yang sempat berharap kini hanya bisa tertuduk meratapi nasibnya.


Staf sibuk membereskan sepatu sepatu yang ada digudang. Ha Na akan kembali keruangannya dan sempat bertatapan dengan seseorang (rival) yang menatap Ha Na dengan remeh.

Ha Na diam saja dan meremas rambutnya dengan kesal.


Assisten Hong mengikuti Ha Na dengan panik dan bertanya ini itu. Ha Na kesal sendiri, ia membentak Asisten Hong agar berhenti bertanya. Assisten Hong pasti tau sendiri bagaimana untuk mengatasi masalah seperti ini.

“Na Ra, kirimkan padaku laporan penjualan minggu lalu. Assistant Hong, temukan departemen store yang bisa kita adakan event.” Perintah Ha Na.

Sebelum pergi, Assistant Hong memberitahukan pada Ha Na kalau ada kiriman dari seseorang dibawah meja Ha Na.


Ha Na menemukan seikat bunga dengan kartu ucapan ulang tahun diatasnya, dari Ho Joon. Ha Na tersenyum.

Membaca kartu ucapan itu membuatnya teringat sesuatu dan langsung menghubungi Ho Joon. Segera setelah panggilan diterima, Ha Ne memberongong Ho Jong pertanyaan.


“Director dari Departemen Store ini adalah senior di universitasmu, kan?” tanya Ha Na, Ho Joon membenarkan. Kenapa?

“Kau mendengar beritanya juga kan? Aku harus membatalkan show karena Go Yeon Jeong. Bisakah kau memintakan sedikit waktu pada director jadi aku bisa mengosongkan gudangku? Kalau aku tak menjualnya, aku bisa ditusuk sampai mati oleh Direktur.”

Ho Joon menyanggupi. Ia bertanya, kapan mereka bisa bertemu? Nanti?

“Apa kita tak meeting hari ini?” tanya Ha Na.

“Oh.. Ya aku aku akan bertanya pada Direktur dulu. Aku akan menghubungimu.”

“Oke. Terimakasih. I Love you.” Tutup Ha Na.




Ponsel Ha Na kembali berdering, ia menerima kiriman video ucapan ulang tahun dari teman temannya yang kini sudah memiliki pekerjaan masing-masing. Ada pebisnis mobil. Dokter. Pemilik restoran sampai guru karate. Mereka mengucapkan ucapan selamat dengan cara masing – masing, Ha Na pun tersenyum melihat wajah – wajah temannya semasa SMA sekarang.


Hingga wajah seseorang membuat Ha Na sempat terdiam. Dia Choi Won.

“Oh Ha Na. Aku mengucapkan selamat ulang tahun diusia 34 tahun kan? Kau tak menyiksa dirimu kan? Jangan seperti itu. Cheer up, karena bagiku kau selalu Ha Na di usia 17 tahun.”

Choi Won kembali tersenyum melambaikan tangan menutup ucapannya.

Ucapan Choi Won membawa Ha Na mengenang kembali masa lalunya, waktupun bergulir kembali ke musim semi saat keduanya berusia 18 tahun.


Ha Na bergegas berangkat sekolah, ia melihat jam tangannya dan menanti didepan rumah. Tak lama, Choi Won juga berlari keluar. Ha Na menggerakkan tangannya seolah menampar Choi Won dan Choi Won menggerakkan kepalanya seperti kena tampar.

Ha Na kegirangan karena menang dari Choi Won. Choi Won geregetan tapi meskipun begitu, ia dengan senang hati mengikuti Ha Na.

Sebagai hukuman, Choi Won membayarkan jajanan Ha Na dan menjadi pesuruh Ha. Meskipun keduanya rival, mereka tampak seperti pasangan ketika berjalan bersama.

Choi Won dengan semangat menceritakan sebuah film pada Ha Na. Ha Na sama sekali tak tertarik dengan cerita itu hingga Choi Won menganggapnya tak tahu apa-apa tentang kehidupan. Ha Na berhenti berjalan, ia menatap Choi Won. “Kau harusnya belajar lebih keras dari pada mengkhawatirkan hal tak penting. Kau bilang kau ingin masuk ke universitas K jurusan Film.”

Choi Won membenarkan.

“Berapa rangkingmu sekarang?” tanya Hana menepuk pundak Choi Won. Choi Won pun menjadi berfikir, tapi entah apa yang ia pikirkan.


Jam pelajaran berakhir. Kelas anak pria riuh memberikan semangat pada Choi Won dengan meneriakan namanya.

Disisi lain, Kelas Perempuan pun juga mendukung Ha Na. Entah apa yang mereka lakukan.

Ha Na dan Choi Won Saling berhadapan dengan wajah sengit.  Keduanya saling berbalik dan memunggungi satu sama lain, “Batu Gunting Kertas.” Ucap anak-anak lain.

Keduanya sama –sama mengeluarkan batu.

Lagi...lagi... Batu Gunting Kertas.” Seru yang lain serempak.

Keduanya sama-sama mengeluarkan gunting. Yang lain langsung kecewa.

Batu Gunting Kertas..”

Ha Na menunjukkan kertas dan Choi Won gunting. Choi Won pun menang. Sontak siswa laki-laki langsung bersorak gembira sedangkan kawan-kawan Ha Na kecewa. Mereka harus mengikuti permainan apa yang diinginkan Choi Won.


Permainan yang dipilih Choi Won ga banget, jadi disini anak cowoknya pada membungkuk dan ceweknya harus menunggangi mereka. Jadi tim cowok menang kalau mereka ga roboh. Ha Na memberikan semangat pada temannya agar bisa merobohkan mereka tapi tubuh mereka mungil – mungil jadi tim Choi Won bisa terus bertahan.

Pemain terakhir akan berlari untuk menunggangi Tim Cowok tapi Ha Na menahannya. Ha Na meminta pergantian pemain karena melihat temannya yang gemuk sedang menuju kesana.


Tim Cowok langsung melongo melihat tubuh anak itu sedangkan Ha Na cs bisa tersenyum lebar menyambut anak gedut tadi.

“Siapa dia?” tanya Tim Cowok tidak ikhlas.

“Dia anak pindahan ke kelas kita.” Ucap Ha Na sedikit sombong.


Siswi Gendut itu melompat dan menunggangi punggung Choi Won. Kaki Choi Won sampai gemetaran menahan beban tubuh gadis itu. Tapi dia masih berjuang, “Sedikit lagi...”

Ha Na yang terakhir, ia pun berlari dan duduk dipunggung Choi Won juga. Choi Won dan yang lain masih berusaha tapi apa daya, kaki mereka tak bisa menahan beban hingga akhirnya roboh.

Ha Na CS bersorak atas kemenangan mereka sedangkan Choi Won terduduk kesal menatapnya. Ha Na menghampiri dan menepuk pundak Choi Won, “bekerja keraslah!”


Kembali ke masa kini, senyum Ha Na mengembang mengingat masa remajanya yang penuh keceriaan. Tapi sesuatu membuatnya sadar, ia menatap kartu ucapan selamat yang ia terima. Selamat ulang tahun, Ha Na.

“Apa, hanya ini? Ini sangat simple.” Ucap Ha Na agak aneh.

*****


Choi Won berada di bandara saat ini, Ha Na menelfonnya dan mengucapkan terima kasih atas ucapan selamat ulang tahunnya.

“Terimakasih untuk apa? Kita kan teman.” Ucap Choi Won.”Kau sudah makan? Kau sekarang sudah 34 tahun, cukup sulikan karena sudah tua?”

Ha Na menyuruh Choi Won jangan menyerangnya dengan membahas usia, toh tahun depan Choi Won juga 35 tahun. Choi Won mengelak, ia bukannya meledek tapi lebih tepatnya mengkhawatirkan. Lagipula, pria usia  34 dan wanita usia 34 itu berbeda.


“Berbeda? Berbeda apanya?”

Choi Won menyuruh Ha Na jangan sok ga tahu, dia pasti tahu alasan kenapa mereka berbeda. Dia menyuruh Ha Na jangan marah, ia hanya memberikan saran untuk masa depan. Ha Na menolak, ia tak membutuhkannya.

Choi Won yakin Ha Na membutuhkannya, ia pun memberikan ceramah untuk menjaga kesehatan.

“Ini hanya saran untuk pengobatan kan? Lupakan! Apa maksudmu yang sebenarnya?” tanya Ha Na seolah paham maksud Choi Won.

“Ini waktunya kau meredakan amarahmu dan menjaga baik-baik tubuh bagian dalammu.”


Ha Na dengan sok mengatakan kalau tubuhnya baik-baik saja, yang harusnya mendengarkan adalah Choi Won. Lagipula, berapa kalipun membahas usia tak akan mempan untuknya. Dia adalah Direktur Marketing sukses yang memiliki pacar sempurna dan akan segera menikah. Sedangkan Choi Won seorang jomblo 3 tahun.

“WAAH... tembakan murahan. Baik, kau tau segalanya. Pasangan surga. Jomblo seperti neraka kan?”
Ha Na menghentikan perdebatan mereka, dia kan tak ingin berdebat. Ia mau meminta dibelikan krim mata. Kapan kau akan pulang?

“Aku tak tahu. Aku akan cek jadwal penerbangan dulu.” Jawab Choi Won. Ha Na terdiam hingga membuat Choi Won berikir Ha Na memutuskan sambungan telefon.

Dengan sedikit kegelisahan, Ha Na bercerita kalau pacarnya tak mengatakan I Love You di kartu ucapan ulang tahun dan hanya Selamat Ulang tahun. Ha Na merasa sedih, “ataukah hanya aku yang berlebihan?”

“Tidak.”

“Apa hubungan kami sudah tak hangat lagi?”

“Ini adalah apa yang ingin ia sampaikan sampai akhirnya dia akan melamar. Apa yang akan kau lihat (jika dia menggunakan tanda hati)? Seperti playboy.”

Ha Na membenarkan dan mengucapkan terimakasih. Ia pun memutuskan sambungan telefonnya.

Ha Na pun bisa menghembuskan nafas lega setelah menceritakan kegelisahannya pada Won.

Won sampai ruangan yang ia tuju namun terhenti karena seorang pramugari diam didepan pintu memperhatikan kedalam ruangan. Pramugari itu menoleh saat menyadari Won datang, Won memberi isyarat untuk masuk. Pramugari itu pun mengangguk.

Sialnya Pramugari tadi berjalan sambil menunduk hingga tak sadar ada seseorang yang membuka pintu dari dalam ruangan, Pramugari itu pun kepentok pintu.


Disaat yang sama, seorang Pramugari senior datang.

“Anyeonghaseyo.. Saya Pramugari Intern Lee So Eun.” Sapa Pramugari yang kepentok pintu. “Sebuah kebanggaan bisa menjadi satu tim penerbangan. Guru, Saya adalah penggemar Anda saat masih sekolah.”

Bukannya senang, Pramugari senior itu malah kesal dipanggil Guru. Ini bukanlah sekolah, jadi panggil aku sesuai jabatan. Pramugari itu pun berjalan masuk meninggalkan So Eun.

“Ah, Nyonya Choi. Sungguh..” desis Won melihat Nyonya Choi marah.


Dalam penerbangan, So Eun memperagakan peralatan emergency. Dia melakukannya dengan gugup dan tampak beberapa kali melakukan kesalahan. Bahkan ia sesekali menoleh kearah rekannya untuk mencontoh instruksi.

Won dan yang lainnya juga memperhatikan So Eun, mereka hanya memejamkan mata dan menggeleng karena kesalahan So Eun banyak sekali bahkan seperti Pramugari yang belum siap.

So Eun tengah memeriksa salah seorang penumpang, penumpang itu terus – terusan berkata kalau ia demam. Ia meminta So Eun untuk terus memegang kepalanya agar ia mendingan. So Eun dengan ramah mencoba menolak karena penumpang itu tak demam.

Penumpang tetap ngeyel, ia memegang tangan So Eun agar terus memegangi kepala gundulnya.

Won datang. Ia memberikan isyarat pada So Eun dan menggantikan untuk memegang kepala Penumpang itu.

“Anda sepertinya tidak demam. Haruskah saya menekannya sedikit lebih keras?” tanya Won sopan tapi nyinyir.

“Tekan apa? Apa?” tanya pelanggan tak mau. So Eun pun menatap Won dan Won mengangguk kearahnya lalu berjalan pergi.
*****


Ha Na menemui Ho Joon dengan membawa beberapa sepatunya tapi ia tak menemukan Ho Joon ditempatnya. Ia pun berjalan – jalan di Deprtemen store, di kejauhan ia melihat ada Ho Joon yang ada di tempat perhiasan dan sedang memilih – milih.

Ucapan Won terngiang dibenak Ha Na. Ia pun tersenyum gembira. “Mungkinkah..?”


Ha Na bergegas ke toilet dan memperbaiki make – upnya. Panggilan dari Ho Joon masuk. Ia mengajak Ha Na untuk bertemu sebentar. Ha Na jelas saja tak menolak, dia menyetujui dengan senang hati.

*****


15 Responses to "Sinopsis The Time We Were Not In Love Episode 1 – Bagian 1"

  1. lanjut ya min bikin penasaran dramanya

    ReplyDelete
  2. Huahuaa...akhirx puji kembali lgi nulis sinop...

    Tiap hari bolak balik loch..kali ªăjjªªª da updtan terbaru..akhirnyaaaa
    Ada jga...

    Smga sehat selalu
    آمِيّنْ... آمِيّنْ... يَ رَ بَّلْ عَلَمِيّنْ

    ReplyDelete
  3. huaa!! aku seneng banget liat Ha Ji Won eonni lagi, dramanya bagus, bkin penasaran, kanjut ya kak^_^ mksi

    ReplyDelete
  4. makasi sinopnya, keren.. semangat!!

    ReplyDelete
  5. woooooow,,, Puji is back!! hehehe...
    welcome...!! LOL
    setelah berbulan bulan menghilang akhirnya muncul juga ^_^
    aga amazing pas liat postingan Puji di beranda G+ hihihi
    jangan ngilang lagi yaaaaa...!! Fighting...!! ^_^

    ReplyDelete
  6. Kaya nya seru episode awal.. tapi lebih penasaran apa L oppa jadi maen disini.. hehe
    Semangat kak! Lanjut!^^

    ReplyDelete
  7. Seru banget!
    Tapi L kapan mainnya?
    Lanjut terus ya kak! ^_^

    ReplyDelete
  8. L ko blm muncul yaa..semangat trus bwt nulis!!

    ReplyDelete
  9. Suka banget versi aslinya (taiwan series in time with u) smoga korean versionnya sukses kayak drama aslinya

    ReplyDelete
  10. seru.. nunggu L muncul.

    ReplyDelete
  11. saya juga lama gak buka sinopsis giliran buka ada yang baru dr ha ji won .... seneng banget makasih jenk puji .... Lanjut .....

    ReplyDelete
  12. Ada yg tau judul lagu pas baru mulai ini apa ya? Yg Ha Na lg jalan di jalanan sampai nyampe dikamar rumahnya?

    ReplyDelete
  13. gomawo...

    ☁☁☁☁☁☁☁
    ☁🎀🎀☁🎀🎀☁
    🎀🎀🎀🎀🎀🎀🎀
    🎀🎀🎀🎀🎀🎀🎀
    🎀🎀🎀🎀🎀🎀🎀
    ☁🎀🎀🎀🎀🎀☁
    ☁☁🎀🎀🎀☁☁
    ☁☁☁🎀☁☁☁
    ☁☁☁☁☁☁☁

    ReplyDelete
  14. Ada yang tau lagu dimenit 10:21 episode 1?

    ReplyDelete
  15. Ada yang tau lagu dimenit 10:21 episode 1?

    ReplyDelete

Jangan lupa komentar yaah^^ biar aku lebih semangat dalam membuat postingan. Meskipun jarang bales tapi semua komentar selalu aku baca kok.. *serius*

Gomawo^^