Sinopsis Heart to Heart Episode 4 – 1

Sinopsis Heart to Heart Episode 4 – 1
Yi Suk memerintahkan Hong Do yang berdiri membeku didekat tembok. Hong Do ragu melakukan apa yang Yi Suk perintahkan, dia berjalan menuju ke rumah Dong Soo. dia hanya perlu mengucapkan satu kalimat saja. Dia meyakinkan dirinya kalau ia pasti bisa.



Hong Do meyakinkan diri melepas helm –nya, dia berdiri tepat didepan rumah Dong Soo. Tak selang lama, Dong Soo keluar. Dia terkejut melihat Hong Do sudah ada didepan rumahnya bahkan melepas helm.

Lidah Hong Do berasa kaku untuk berucap, ia tergagap. “Det.... Det... Detektif Jang. Aku menyukaimu.”

Dong Soo melongo tak mengerti akan ucapan Hong Do. Sedangkan Yi Suk yang memperhatikan Hong Do dari kejauhan tertawa girang. Dia tertawa melihat bagaimana Hong Do mau berbicara dengan Dong Soo.


Hong Do rupanya terkejut dengan kata – kata yang meluncur dari mulutnya, dia sempat terjatuh saking malunya tapi segera bangkit melarikan diri.

Yi Suk memperhatikan wajah Hong Do yang terkejut, dia tertawa melihat ekspresi itu. sedangkan Dong Soo masih belum mencerna ucapan Hong Do namun sedetik kemudian ia tersenyum mengingat perkataan yang dilontarkannya.



Sesampainya di rumah, Hong Do langsung meringkuk menyembunyikan wajahnya. Ponselnya berdering, Yi Suk menghubungi untuk mengajak merayakan kemajuan Hong Do. Dia sudah berhasil berbicara dengan Detektif Jang untuk pertama kali, pasti sangat berarti bagi Hong Do. Yi Suk menyuruhnya datang ke toko roti persimpangan jalan.

“Bagaimana aku bisa pergi ke sana? Aku tidak pernah ke sana seumur hidupku!”

Yi Suk tak perduli, dia menyuruh Hong Do datang kesana.



Lama menanti tapi Hong Do belum muncul juga. Dia malah menelfon Yi Suk untuk memberitahukan bahwa ia telah sampai. Yi Suk celingukan, dia berdecak tak percaya melihat Hong Do malah berjongkok menghadap tembok dan tak berani masuk ke dalam toko.

Dia memanggilnya dengan kencang, meracau kalau ia telah lapar. Hong Do dengan terpaksa mendekat.


Awalnya Hong Do berusaha menjauh dan duduk di kursi yang berbeda namun Yi Suk terus meneriakinya. Yi Suk memutuskan untuk duduk mengikuti Hong Do. Dia memuji perkembangan pesat Hong Do yang mau datang ke toko dan berbicara dengan mudah pada Detektif Jang Dong Soo.

Yi Suk menyimpulkan bahwa rona merah di wajah Hong Do terjadi karena rasa takut. Reaksi wajah yang berbeda berdasarkan jenis kelamin orang yang Hong Do temui. Dia cukup mudah berbicara dengan Dong Soo, jadi kemungkinan ketakutan Hong Do adalah seorang wanita.

Hong Do terus diam menengadahkan kepalanya seolah tidur.

“Hey. Kenapa wajahmu begitu? Saking senangnya kau kehilangan akal sehatmu?” tanya Yi Suk.

Hong Do meminta pertanggung jawaban dari Yi Suk. Ia menyesal karena tak seharusnya ia mendengarkan omongan dokter palsu. Yi Suk bertanya, apakah Detektif Jang takut melihat wajah Hong Do?


Hong Do dengan wajah putus asa mengaku kalau ia tak bertanya apakah kau tidur nyenyak? Tapi ia malah berkata, “Aku menyukaimu.”

Yi Suk yang tadinya tak mendengar dengan jelas kini terkejut, “Omo!”



*****
Kini Hong Do dan Yi Suk sudah berada di Rumah sakit. Yi Suk menyuruh Hong Do untuk mengatakan apa yang ia katakan pada Detektif Jang. Ia akan mencoba merasakan apa yang Detektif Jang rasakan.

“Detektif Jang, aku menyukaimu.”

Yi Suk menggaruk lehernya, dia tak merasakan apapun. Ia kemudian menyuruh Hong Do untuk mengulang ucapan tersebut berkali – kali. Tapi Yi Suk tak merasakan apapun.


Ponsel Hong Do berdering, Dong Soo menghubunginya. Yi Suk merebut ponselnya tapi di tahan oleh Hong Do.

Selepas merebut ponsel itu, Yi Suk mengatakan pada Dong Soo kalau Hong Do sedang konsultasi jadi dia bisa menelfon lagi nanti. Yang tadi terjadi, anggap saja tak pernah terjadi. Apa ada yang ingin kau tanyakan?


Dong Soo heran kenapa Yi Suk selalu mengangkat panggilan Hong Do. Dan kejadian tadi, bagaimana Yi Suk bisa tahu? Dia merasa seperti kelinci percobaan?


Yi Suk menyuruh Dong Soo menganggap kejadian tadi hanyalah lelucon. Hong Do yang sejak tadi kesal, kini kembali berusaha merebut ponselnya dan memukuli Yi Suk. Yi Suk tak menyerah dan berkata,

“Dia sudah benar-benar terguncang soal yang tadi pagi dan merasa malu. Meskipun dia menakutkan, tapi dia tidak berbahaya. Kalau kau ingin dekat dengannya, cari cara lain. Kututup!”


Dong Soo masih ingin mengucapkan sesuatu tapi panggilannya sudah ditutup. Dia pun menganggap kalau dirinya kini tengah dipermainkan.


*****
Seorang nenek tengah melakukan konsultasi dengan Yi Suk, dia mengaku tidak menderita demensia dan datang kesana bersama anaknya. Tapi pada kenyataannya, nenek itu hanya seorang diri dan tak ada seorang pun disampingnya.

Dengan malas dan terang – terangan, Yi Suk menegaskan bahwa tak ada seorang pun yang ada disamping nenek. Dia menderita gangguan delusional bukan demensia, “Resep obat yang kuberikan, tidak kau makan obatnya?”



Tak selang lama, Yi Suk mendapat teguran atas sikapnya pada pasien. Sang nenek kini terus menangis diluar karena ucapan Yi Suk. Yi Suk tegas pada pendiriannya, bahwa nenek itu tak mau meminum obatnya jadi dia memang tak mau sembuh. Lagipula dia tak punya banyak waktu lagi, dia hanya perlu menghabiskan waktu bahagia dengan anaknya.

“Jangan bawa perasaan pribadimu. Kau tahu ini karena ambivalen-mu terhadap ibumu, kan?” bentak Dokter Uhm.

“Kenapa tiba-tiba bicarakan ibuku?Dan kauu yang punya Oedipus Kompleks itu karena kau tak punya ibu!”

Dokter Uhm kesal setengah mati, ia pun pergi meninggalkan Yi Suk.



Setelah pertengkaran dengan Dokter Uhm, Yi Suk mengajak Hong Do ke sebuah restaurant. Disana hanya mereka berdua, Yi Suk pun meminta Hong Do melepas helmnya. Hong Do tadinya menolak tapi akhirnya mau melakukannya dan minum wine gelas demi gelas. Yi Suk memperingatkan kalau kadar alkoholnya cukup tinggi namun Hong Do terus minum tanpa ragu.

“Kenapa kau jadi dokter? Pengorbanan, kasih sayang dan cinta. Itu tidak cocok untukmu.”

“Aku tidak punya rasa cinta? Aku dipenuhi rasa cinta.”

“Apa seseorang yang dipenuhi rasa cinta akan menyakiti Nenek itu? Kau sama sekali tidak punya rasa peduli.”

“Kau pasti dipenuhi rasa cinta, kan? Karena itu kau sangat menyukai Detektif Jang. Biarkan aku bertanya, Apa yang kau sukai dari Detektif Jang?”


Hong Do mengaku menyukai segala hal yang ada pada diri Detektif Jang. Dia bahkan merupakan tujuan hidupnya dan yang membuat ia ingin sembuh. Yi Suk mendesis kesal, dia dengan marah menyuruh Hong Do untuk duduk saja sepanjang hari di bangku polisi dan terus menatapnya. “Sana! Pergi sana!!!”



Permbicaraan mereka pun terhenti sampai disitu, karena pada akhirnya Hong Do mabuk berat dan tak bisa mengendarai skuternya sendiri. Dengan malas Yi Suk menghubungi polisi dan menyuruh polisi itu mengantar Hong Do.

Polisi kebingungan, mana bisa ia mengantarkan seseorang mabuk dengan skuter, kalau jatuh bagaimana. Yi Suk sih cuek, dia hanya memberikan nama jalan tempat Hong Do dan berlalu pergi.


Hahaha. Tapi dasarnya apes, Yi Suk tetap harus mengantarkan Hong Do yang mabuk parah. Bahkan saat ditanya dimana rumahnya, Hong Do malah tertidur. Yi Suk terus membangunkan Hong Do tapi dia benar – benar sudah seperti mayat. Ia pun tidur dengan lelapnya.

“Selain dari wanita yang menangis, kau tahu apa yang paling kubenci? Wanita yang mabuk. Kalau kau menangis dan mabuk hari ini, aku akan melemparmu keluar.” Geram Yi Suk.



*****
Keesokan paginya, matahari telah meninggi dan sinarnya membangunkan Hong Do dari tidur lelapnya. Dia terkejut melihat kamar yang begitu asing, ia bertanya – tanya dimana ia berada?


Hong Do pun ingat bagaimana Yi Suk semalam menggendongnya terbalik untuk membawanya ke kamar. Dalam gendongan Yi Suk, dia juga sempat muntah – muntah dan mengotori karpet Yi Suk. Seperti biasanya, Yi Suk pun menggeram marah dan menjatuhkan tubuh Hong Do ke kasur.


Hong Do terkejut mengingat semua itu, ia pun bergegas menyambar bajunya dan memilih pergi dari apartemen Yi Suk.

Diluar rumah, dia terpaksa harus berjalan ngumpet – ngumpet menghindari tetangga yang juga keluar dari gedung. Tak lama, Yi Suk juga menghubungi Hong Do, “Kau sudah bangun. Tidur di tempat asing pasti membuatmu terkejut, Kau ingat apa yang terjadi semalam, kan?”

Yi Suk mengomentari kebiasaan mabuk Hong Do yang begitu buruk, dia menjadi wanita gila semalam. Melepas baju dan mengatakan hal – hal yang tak senonoh.

“Kapan aku melepas bajuku? Omong kosong.” Elak Hong Do.

Yi Suk menyuruh Hong Do untuk melihat CCTV saja, dia melepas baju dan berkata kalau ia kepanasan.

”Itu karena kau menggendongku dibahumu!”

“Iya, kan? Kau ingat, kan? Aku sudah pernah lihat beberapa orang yang jadi gila setelah mabuk, tapi aku belum pernah melihat yang seperti kau ini. Aku harusnya menelpon Museum Rekor Dunia dan melihat apa ada yang muntah secara terbalik.”



Pelayan Ahn menyapa Yi Suk. Sedangkan Hong Do yang mendengar suara Pelayan Ahn pun segera menutup telfonnya, dia sudah terlambat.

Yi Suk memperingatkan agar Hong Do jangan menyentuh barang dirumahnya.


“Siapa itu?” tanya Pelayan Ahn.

“Seseorang. Yang sangat menyebalkan.” Jawab Yi Suk. Dia kemudian tanya, bagaimana penulisan otobiografi kakeknya, apakah berjalan dengan lancar?

Pelayan Ahn membenarkan, semua berjalan lancar karena ada Nenek yang membantunya. Yi Suk tersenyum penasaran, nenek?


Nenek yang maksud Pelayan Ahn adalah Nenek Oh yang sedang dalam perjalanan. Dia mengeluh kelaparan dan menyesal telah mabuk semalam. Ia bahkan mengambil keuntungan dengan bersikap kelelahan agar bisa duduk di halte.


Sesampainya di rumah Kakek Ko, Nenek Oh langsung memunggungi Yi Suk yang keluar dari rumah Kakek Ko. Dia tengah menelfon seseorang dan berkata akan mengajak Hong Do ke panti jompo tapi Hong Do sedang ada pekerjaan.

Setelah selesai menghubungi orang di seberang telefon, Yi Suk pun menghubungi Hong Do. Hong Do yang menyamar sebagai Nenek Oh langsung panik mengambil ponselnya dan masuk ke rumah. Yi Suk sempat mendengar dering ponsel Nenek Oh tapi dia tak begitu perduli dan hanya mengeluh karena Hong Do tak mengangkat panggilannya.


Pelayan menegur Nenek Oh yang terlambat, padahal Kakek Ko itu sangat benci pada keterlambatan. Nenek Oh meminta maaf dan saat itulah Pelayan mencium bau alkohol dari tubuh Nenek Oh. Dia sungguh tak percaya diusianya kini ia masih meminum alkohol.

Nenek Oh mencium tubuhnya sendiri, ia pun sadar dan berjalan sambil menutup mulutnya meninggalkan pelayan.


Dong Soo dalam misi penangkapan Kim Hwa Chang. Dia pun menunggu di depan jendela sambil menanti Hwa Chang yang berniat kabur. Dong Soo memperingatkan agar Hwa Chang jangan melompat karena cukup tinggi tapi Hwang Chang tetap nekat.

Hwa Chang pun harus merasakan kakinya nyeri sampai tak bisa berdiri untuk kabur.


Tepat saat penangkapan, Se Ro menelfon Dong Soo. Dia menanyakan perihal komplainnya pada Dong Soo tapi dia berhasil bebas. Dong Soo mengaku kalau dia belum menerima pemberitahuan tersebut.

 Sedangkan Detektif Yang keluar dari jendela rumah Hwa Chang, dia menunjukkan sepatunya yang terkena kotoran anjing. Itu jebakan Hwa Chang, Detektif Yang pun berteriak menunjukkan kakinya dengan kesal. “Kotoran anjing! Kotoran anjing!”

Se Ro mengira kalau ucapan kotoran anjing di tujukan padanya, dia mengira Dong Soo mengumpatinya. Dia mengancam akan kembali mengirimkan komplain, memanggil pengacara dan meminta investigasi formal. Dan yang terpenting, Dong Soo belum minta maaf padanya.

Diseberang telefon, Dong Soo hanya heran mendengar tuntutan permintaan maaf dari Se Ro.



Disisi lain, Se Ro berhenti mengoceh karena dia sudah dipanggil. Dia kini berada dilokasi syuting dan berperan sebagai pengemis. Sutradara mengenali Se Ro sebagai wanita di kolam renang. Se Ro hanya tersenyum, dia berjanji akan bekerja dengan keras. Dia pun tampak antusias meskipun hanya berperan sebagai pengemis.


*****
Nenek Oh bertindak begitu canggung dihadapan Kakek Ko karena bau alkohol di tubuhnya. Bahkan sampai harus menutup mulut rapat – rapat dan mencoba menjauh dari kakek Ko. Kakek Ko meminta pendapat Nenek Oh mengenai otobiografinya.

Karena tak mau berbicara terlalu panjang lebar maka Nenek Oh menjawabnya sangat singkat, “Cukup bagus.”

Kakek Ko tersinggung dengan jawaban Nenek Oh yang terkesan terpaksa. Dia memerintahkan Nenek Oh untuk mengembalikan buku ke rak saja. Nenek Oh terlebih dulu memakai parfum lalu mengambil buku dengan jarak sejauh mungkin ia bisa.

“Sedang apa kau?”

“Tidak. Karena aku sedikit bau.”



Kakek semakin tersinggung. “Bau? Kau membuatku semakin jengkel. Apa aku ini sekop kotoran? Maksudmu, aku ini bau seperti kotoran? Pasti berat untukmu melakukan pekerjaan membosankan dan menahan bau! Mulai besok tidak usah datang!”

“Presdir!” ucap Nenek Oh terpaku.

“Keluar, apa kau tak dengar?!”


3 Responses to "Sinopsis Heart to Heart Episode 4 – 1"

  1. Makasih ya puji udah lama gak update sinop lagi sibuk ya. Semangat n sehat selalu

    ReplyDelete
  2. Yang dipanggil itu bukan polisi, tapi sopir bayaran yang dipanggil kalo yang punya kendaraan mabuk

    ReplyDelete
  3. Kok nggak dilanjut mb?

    ReplyDelete

Jangan lupa komentar yaah^^ biar aku lebih semangat dalam membuat postingan. Meskipun jarang bales tapi semua komentar selalu aku baca kok.. *serius*

Gomawo^^