Sinopsis Heart to Heart Episode 2 – 1


Sinopsis Heart to Heart Episode || 1 – 1 || – 2 ||
Scene pertama kita disuguhkan dengan pemandangan Yi Suk yang terjerat lehernya, dia menggantung seperti mau bunuh diri. Yi Suk berteriak meminta bantuan dengan terbatuk - batuk.

Hong Do mendengar teriakan Yi Suk, ia bergegas memegang kaki Yi Suk tapi ini percuma saja. dia mengubah taktinya dan mencari meja untuk pijakan. Hong Do berdiri diatas meja lalu memotong tali yang menjerat leher Yi Suk.

Yi Suk terjatuh. Hong Do pun ikut terbawa dan jatuh tertindih oleh Yi Suk.



Yi Suk bergegas bangkit untuk mendengar pesan yang ditinggalkan Dong Soo. Ia kini masih bernafas dengan sesak. Pesan dari Dong Soo mengatakan bahwa dia sudah mendengar pengakuan dari Park Man Dong yang sudah siuman bahwa dia melukai dirinya sendiri. Dia mencoba menghubungi Yi Suk tapi tak menerima jawaban.

Seketika amarah Yi Suk naik, dia berteriak dengan frustasi.


Ponsel Hong Do berdering, ponsel itu ada didalam saku Yi Suk. Rupanya yang menelfon adalah Dong Soo, ia heran bukankah ini ponsel milik Hong Do?

“Siapa kau?” tanya Yi Suk.

“Ini Kantor Polisi Gangnam. Siapa kamu?”

“Ahh... Kantor Polisi Gangnam?” tanya Yi Suk membuat Hong Do yang sedari tadi bersembunyi berani untuk keluar merebut ponselnya. Yi Suk menghalangi, dia mencak – mencak pada Dong Soo yang sudah percaya pada wanita gila dan mengubahnya menjadi seorang tersangka. Dia akan balik menuntut mereka dengan tuduhan pencemaran nama baik.



“Halo? Dimana Cha Hong Do?” tanya Dong Soo serius.

Yi Suk tak perduli dengan pertanyaan Dong Soo, ia ingin tahu di rumah sakit mana Park Man Dong dirawat. Dia ingin bertemu untuk mengambil pulpennya. Dong Soo menolak untuk memberitahukan informasi pribadi.

Yi Suk tak mau berlama – lama dan langsung mengakhiri panggilan ini.




Dia langsung melabrak Hong Do tak perduli meskipun dia terus bersembunyi. Dia mengatainya sebagai wanita psyco yang sudah membuat dia diperlakukan seperti pembunuh. Yi Suk menunjukkan luka bekas jeratan dileher, “Apa kamu tahu betapa menakutkannya ini? Karena kamu, aku hampir mati”

Selepas kepegian Yi Suk, Hong Do mendesis sebal. Dia kan sudah menolong Yi Suk tadi.


Dan kini, rupanya Hong Do masih terus mengikuti Yi Suk agar bisa mendapatkan ponselnya. Dia berusaha ekstra keras untuk bisa menghindari orang – orang disekitarnya. Hong Do tak melepas helm –nya sama sekali dan berjalan dengan terus menundukkan kepala.

Ia pun mengintai Yi Suk yang kini berada di ruang rawat Park Man Dong. Ia bersembunyi dibalik kursi untuk menghindari orang – orang yang berlalu lalang.


Didalam ruangan, Yi Suk menanyakan kondisi Man Dong. Dia bertanya kenapa Man Dong melakukan semua itu?

Man Dong berkata kalau ia tak apa – apa. Tapi entah kenapa, saat Yi Suk melihat kondisi leher Man Dong, suara dengungan dalam rongga telinganya terus mengganggu. Dia tampak kesakitan dan memegangi telinganya.

“Kenapa kamu melakukannya?” Yi Suk masih berusaha menahan rasa sakitnya. Tapi ketika ia melihat Man Dong memegang leher, Yi Suk makin tak tahan bahkan pandangannya pun berubah buram.



Putri Man Dong masuk ke dalam ruangan, Yi Suk yang tadinya mencari angin langsung terhuyung dan memegangi lengan putri Man Dong. Dia bertanya apa yang terjadi pada Yi Suk?

Hong Do yang tadi terus bersembunyi kini berani masuk ke ruang rawat Man Dong. Dia meminta pada Yi Suk untuk mengembalikan ponselnya. Yi Suk yang tak karuan jadi memegang tangan Hong Do. Saat itulah dia merasa kembali normal dan tersadar sepenuhnya. Dia langsung bisa berdiri dengan tegap, ia mendorong Hong Do dengan paksa keluar.


“Apa yang sedang kau lakukan sekarang?” tanya putri Man Dong heran saat Yi Suk terus memegangi tangannya.

Yi Suk berkosentrasi merasakan perubahan yang ia alami, dia menatap Man Dong dan denyutan kepalanya kembali terjadi. Sedangkan Man Dong menatap Yi Suk tak suka karena terus memegangi tangan putrinya.



Yi Suk menarik kembali Hong Do yang bersembunyi di balik kursi. Hong Do ketakutan dan terus menutup kepalanya dengan helm. Seketika itu pula pusing yang dialami oleh Yi Suk kembali reda. Ia pun langsung mendorong Hong Do keluar ruangan lagi.

Dan ia kembali merasakan pusing.


Yi Suk keluar dari ruangan Man Dong dengan merangkak tapi seketika itu pula pusingnya kembali mereda. Hong Do yang masih terus menanti dengan bersembunyi di balik kursi meminta agar ponselnya dikembalikan.
Yi Suk terheran – heran melihatnya masih disana, dia menganggap Hong Do sebagai seorang penguntit. “Kenapa aku harus punya ponselmu?”



Ponsel yang ada disaku Yi Suk berdering, ada panggilan dari Detektif Jang –ku. Disana juga tertera foto Dong Soo, “Kalian sudah saling mengenal kan sebelumnya? Kalian sudah saling mengenal kan sebelumnya?”

Hong Do mencoba merebut ponselnya tapi ditahan oleh Yi Suk.

Kemarahan Hong Do memuncak, dia melampiaskannya dengan berseru sekeras mungkin. Dia kesal akibat ulah Yi Suk, dia harus datang ke kantor polisi dan menunjukkan sisi yang tak ingin diketahui oleh Dong Soo. Yi Suk telah mangacaukan segalanya, “Kenapa kamu terus menyalahkan aku ketika kamu satu-satunya orang yang mabuk? Kau itu cuma dukun psyco!”


Yi Suk memuji kemampuan bicara Hong Do yang bisa meledak begitu saja, dia mengakui kalau dia psyco tapi dia bukanlah dukun. Hong Do malas untuk berdebat lebih langsung, dia menyuruh Yi Suk untuk membawa saja ponselnya.

Hong Do berjalan pergi tapi Yi Suk menahannya, dia mendekatkan wajah Hong Do dengan penasaran. Dia melihat kedua pipi Hong Do bersemu kemerahan, “Kulitmu yang kemerahan dan anthrophobia. Kau ingin menyembuhkannya, kan? Kamu pasti ditakdirkan beruntung karena bertemu denganku. Aku adalah dokter terbaik di dunia, yang bisa menyembuhkan penyakit itu.”


Yi Suk menggandeng Hong Do masuk ke ruang rawat Man Dong, dia berjanji akan menyembuhkan penyakitnya jika dia mampu bertahan bersamanya selama 3 menit. Dia juga akan mengembalikan ponsel Hong Do.


Dia mendudukkan Hong Do yang berniat kabur, dia meyakinkan kalau ini hanya 3 menit saja. Hong Do pun menurut.

Yi Suk melontarkan pertanyaan yang memang membuatnya penasaran, kenapa Man Dong melakukan bunuh diri dihadapannya? Biasanya seserang yang bunuh diri akan melakukannya ditempat sepi.



Man Dong tersenyum, dia menyuruh Yi Suk untuk mendekat. Yi Suk pun berjalan menghampirinya sedangkan Hong Do menanti beberapa saat lalu pergi meninggalkan ruangan.

“Sekarang kamu sudah melihat puteriku, apa kamu penasaran denganku? Jangan dekat-dekat dengannya, b*jingan kau.” Bisik Man Dong.

Karena Hong Do sudah pergi maka Yi Suk kembali mendengar dengungan yang membuat ia sakit kepala. Yi Suk sebenarnya sempat heran dengan apa yang dibisikkan oleh Man Dong tapi ia memilih untuk pergi saja.



“Kemana perginya dia?” desis Yi Suk.

“Ponselku.” Tuntut Hong Do yang sedang bersembunyi. Yi Suk tanpa basa – basi melemparkannya begitu saja.


Keesokan Harinya Dirumah Keluarga Ko

Hong Do sudah mengubah tampilannya menjadi seorang nenek, ia menanti diluar pintu sampai akhirnya ada yang menyuruhnya masuk. Hong Do menyamar menjadi Nenek Oh Young Rae. Kakek Koo menolak untuk memperkerjakan seorang nenek sebagai juru ketiknya. Dia menyuruh pelayannya untuk memberikan ongkos pulang pergi saja untuk Nenek Oh Young Rae.

Nenek Oh menatap Kakek Koo, “Saya sangat ingin mencobanya. Karena saya sudah sampai sini, cobalah pekerjakan saya sekali saja. Saya meminta kepada Anda.”



Sekeluarnya dari ruangan Kakek Koo, dia mendapati ada foto Yi Suk terpajang di dinding tangga. Dia terkejut seperti melihat hantu, dia bertanya pada Pelayan. “Um, Ahjumma. Kamu tahu anak muda yanga ada di foto itu. Apa dia anggota keluarga disini?”

Dengan antusias, Pelayan menghampiri foto itu. dia menjelaskan kalau Yi Suk tak tinggal disana dan dia adalah Cucu Kakek Koo. Dia terkadang datang sesekali, dia juga memperlakukan Pelayan layaknya nenek sendiri.



Sedangkan Ibu Yi Suk baru saja keluar dari toko baju, dia menelofon Yi Suk untuk mengingatkan hari ulang tahun kakek Koo. Dia menyuruhnya untuk membeli hadiah, dia mengajak Yi Seok untuk belanja bersama. Ibu Yi Suk juga sepertinya memiliki gangguan DID.

Yi Suk mengangkat panggilan dengan suara serak, ia dalam kondisi yang kurang sehat tapi mengaku kalau dia baik – baik saja. dia setuju untuk menemani ibunya belanja. Ia pun kemudian mengakhiri panggilannya.



Nenek Oh sudah mulai melakukan pekerjaan dengan mengetik apa yang Kakek Koo katakan. Dia terus berbicara mengenai topik sepeda dengan suara yang tak jelas namun Nenek Oh mampu menangkap pembicaraan tersebut dan terus mengetik.

Kakek menyuruh Nenek Oh menunjukkan hasilnya tapi dalam sekejap kakek langsung menebak kalau tulisan Nenek Oh tak benar seperti pengetik yang lain.


Nenek Oh memungut kertas yang sudah dilempar Kakek Koo ke meja. Dia menunjukkannya lagi, dia tak yakin dengan tulisannya tapi ia cukup percaya diri. Nenek Oh bahkan mencarikan kaca mata agar Kakek Koo bisa membacanya dengan jelas.

Nenek Oh tak menemukan kacamata di laci, dia menunjukkan sebuah aplikasi ponsel yang digunakan sebagai kaca pembesar. Nenek Oh bahkan menawarkan untuk dikirim pada ponsel Kakek Koo tapi rupanya ponsel kakek Koo masih ponsel jadul dan bukan smartphone.


“Aku menebak anda menggunakan ponsel ini karena lebih mudah digunakan untuk orang yang sudah lanjut kan.”

Kakek Koo tersinggung, “Apa katamu? Aku seumuran denganmu!” dia menyuruh Nenek Oh untuk pulang saja.


Nenek Oh harus pulang tanpa diterima kerja. Pelayan Ahn akan mengantarkan Nenek Oh tapi ia menolaknya, dia lebih suka pulang sendiri. Pelayan dengan ramah mengingatkan Nenek untuk berhati – hati saat menuruni tangga.


Baru beberapa anak tangga ia turuni, Nenek Oh melihat ada Yi Suk yang berjalan dengan ibunya. Ibu mengeluh kecapean karena harus membawa banyak barang bawaan.

Nenek Oh langsung kebingungan mencari tempat bersembunyi tapi untungnya Yi Suk tak melihatnya. Dia malah membopong ibunya yang mengeluh kecapean.

“Dia tersenyum.” Gumam Nenek Hong Do. – biasanya kan Yi Suk sukanya marah – marah.



Dong Soo dan Detektif Yang makan siang di sebuah toko, Detektif Yang meledek Dong Soo yang sepertinya menyukai Hong Do. Dong Soo mengelak, dia hanya khawatir karena Hong Do kemarin diserang di kantor polisi. Dia hanya ingin tahu apakah ia selamat sampai rumah. bukankah kau khawatir juga?

“Aku tidak merasa khawatir. Aku tidak merasa khawatir, sedikitpun.” Ledek Detektif Yang.



Dong Soo mengirimkan pesan kalau dia sudah menghabiskan buburnya, kalau dia mau dia bisa datang ke ....... namun belum selesai Dong Soo mengetik, ada seorang wanita yang berlari melewati mereka tanpa mengenakan baju sehelai pun. Dong Soo langsung saja mengirim pesan pada Hong Do dan bergegas mengejar wanita tadi.


Hong Do yang tengah menanam bawang membaca pesan yang dikirim Dong Soo, dia tampak sangat bahagia.

Pasti sangat sulit bagimu untuk menjawab telepon. Aku sudah menghabiskan bubur labunya. Jika kamu bisa, maukah kamu ke 'shik'.....

Kata akhir Dong Soo yang menggantung membuat Hong Do berfikir keras. Shik, shik, shik,shik, shik, shik. Shikdang (restoran)?

Hong Do berbunga – bunga kalau memang itu adalah restoran. Ia membalas, “Kata apa sesudah shik??” tanyanya.

Namun Hong Do terkejut sendiri setelah mengirim pesan tersebut. Dia setengah melempar ponselnya, “Omo, aku mengirimkannya! Omo!”


Sedangkan disisi lain, Dong Soo bersama Detektif Yang tengah memburu wanita yang tak mengenakan pakaian tapi dia berlari dengan lincah hingga sulit untuk dikejar.


*****Bersambung Heart To Heart Episode 2 – 2****


3 Responses to "Sinopsis Heart to Heart Episode 2 – 1"

  1. ga pake baju krn gila? hihihi lucu ini drama kayaknya.

    ReplyDelete
  2. drama yang menarik banget unni...trus kirim sinopsisnya aku suka banget ceritanya ...

    ReplyDelete
  3. ayo semangat lanjut membuat yang 2-2

    ReplyDelete

Jangan lupa komentar yaah^^ biar aku lebih semangat dalam membuat postingan. Meskipun jarang bales tapi semua komentar selalu aku baca kok.. *serius*

Gomawo^^