Sinopsis Healer Episode 9 – 1

Sinopsis Healer Episode 9 – 1
Yeong Shin menggerakkan tangannya untuk menyentuh Healer tapi Jung Hoo melangkah mundur, identitas sebagai Healer masih harus ia jaga. Seolah enggan untuk melepaskan Yeong Shin, Jung Hoo masih menatapnya sambil berjalan mundur.

Yeong Shin yang tak bisa menyentuh Healer hanya bisa merasakan ujung – ujung kulitnya terada dingin oleh hujan salju yang turun pertama hari ini. Sweet.


Moon Ho sampai ke rooftop dengan sangat panik, ia memanggil – manggil Yeong Shin dengan sebutan Ji Han. Namun Yeong Shik masih dalam keadaan syok masih terus membatu.

“Kau menyuruhku untuk datang ke atap jadi aku mencoba untuk sampai ke atap. Liftnya rusak. Aku benar-benar berpikir aku akan jatuh dan mati. Tapi... orang itu. Orang itu muncul dan menyelamatkanku. Aku tak melihat wajahnya. Orang itu, orang itu, Healer, orang itu. Kau tahu?”



Moon Ho menyuruh Yeong Shin untuk berhenti bercerita karena kondisinya masih sangat syok. Ia memeluk Yeong Shin memberikan sedikit ketenangan namun Yeong Shin masih berbicara tentang Healer yang bisa saja mati karena dia.

Moon Ho memanggilnya dengan Yeong Shin lagi lalu membimbingnya untuk pergi. namun Yeong Shin terhenti, ia mencari ponsel miliknya. Ponsel itu kenangan dari sang Ibu, mungkin jatuh saat dilift tadi. Moon Ho mengajak Yeong Shin untuk pergi dulu, ponsel itu adalah masalah nanti.



Jung Hoo muncul setelah mereka pergi, ia menebak kalau pelaku sengaja melakukan ini dan ia yakin kalau ini sengaja untuk mencelakai Yeong Shin. Ia yakin pelaku belum pergi jauh. Bibi Min Ja mendengar ucapan Jung Hoo, dia akan segera mengecek CCTV yang terpasang disana.

Jung Hoo juga meminta untuk melacak pergi –nya Yeong Shin dan Moon Ho. Kali ini Bibi Min Ja tak banyak tanya dan melakukan perintah Jung Hoo. Tapi sekarang, apa yang akan kau lakukan?

“Aku akan mencari sesuatu.”



Jung Hoo berjalan namun karena dia begitu deg – degan membuat kaki –nya terpeleset dan jatuh. Bibi Min Ja memanggilnya, kenapa denganmu? apa yang terjadi? Healer?

“Aku terjatuh.”

“Anak yang tak jatuh meski seseorang mencoba menjatuhkannya?” tanya Bibi Heran lalu melihat pendeteksi detak jantung Jung Hoo. “Dan, kenapa tanda-tanda vitalmu seperti ini? Detak jantungmu...”

Jung Hoo segera melepas alat komunikasi –nya dengan Bibi Min Ja. Ia memegang dadanya yang kini pasti sedang bekerja begitu cepat lalu Ia mengusap bibirnya. Hahahaha.



*****
Bukan hanya Jung Hoo yang merasakan jantungnya berdebar kencang, Yeong Shin pun juga merasakan hal yang sama. Moon Ho menepikan mobilnya karena Yeong Shin terus terdiam, ia memeriksa denyut jantung Yeong Shin. Apakah Yeong Shin baik – baik saja? apa mereka perlu ke rumah sakit?

Yeong Shin menolak, dia baik – baik saja dan tak terluka jadi tak perlu kesana.

“Tampaknya kau mengalami kesulitan bernapas di sana.” Tanya Moon Ho.

“Hanya sesaat. Aku terkejut. Sekarang aku baik-baik saja.” jawab Yeong Shin. Dia lalu bertanya apakah Moon Ho sudah menemui informan yang dia bicarakan?



Moon Ho memberitahu kalau itu bukanlah dia melainkan seseorang yang menggunakan suaranya untuk menjebak Yeong Shin. Ancaman itu ditujukan padanya hanya saja Yeong Shin yang diperalat.

“Tak mungkin.” Ucap Yeong Shin tak percaya.

Moon Ho mengajak Yeong Shin untuk bersembunyi di rumahnya dulu karena mungkin akan bahaya kalau dia tinggal di ruko –nya karena siapa saja bisa masuk kesana. Yeong Shin heran, bagaimana kau tahu?

“Bukankah sudah kubilang? Aku melakukan penyelidikan latar belakang.” Bual Moon Ho.



Yeong Shin dibuat terpana dengan pemandangan di penthouse Moon Ho. Ia berkata kalau dia ingin menyanyikan sebuah lagi tapi ia menahannya. Dia juga ingin menanyakan sesuatu yang sempat tertahan.

“Siapa yang mengirimkan peringatan, dan kenapa? Dan apa maksudnya mereka mempergunakan aku? Dan sebelumnya, kau memanggilku dengan nama yang berbeda. Apa itu Ji Eun?”

Moon Ho sempat terdiam karena Yeong Shin menyadari dia salah dalam memanggilnya. “Ji Han. Oh Ji Han. Dia seorang gadis kecil yang kutahu. Aku terburu-buru, jadi aku salah sebut.”


Moon Ho mengalihkan pembicaraan dengan memberikan Yeong Shin minum lalu menyuruhnya untuk istirahat. Yeong Shin memintanya untuk menjelaskan apa yang ia tak tahu karena dia hampir saja mau mati.

Moon Ho menyuruh Yeong Shin untuk istirahat disana. Yeong Shin menolak, ia akan pergi ke rumah saja. semua akan baik – baik saja karena ada Healer yang melindunginya bahkan ketika ia akan mati, dia mau menolong.

Moon Ho menegaskan kalau Healer punya standar utama, uang. Dia tak perduli tentang moral kalau ada yang membayarnya lebih maka ia akan berpindah kesisi lain.



Yeong Shin ingin menjelaskan lagi tapi Moon Ho malah memegang dahinya, dia masih agak demam jadi harus istirahat. Ia memintanya untuk tetap disana agar ia tak khawatir ketika harus pergi.

“Aku harus pergi ke suatu tempat sekarang. Tidur yang nyenyak.” Pinta Moon Ho. Yeong Shin akhirnya mau menerima minuman yang diberikan oleh Moon Ho.



Moon Ho pergi namun ketika didepan lift, ia merasakan sebuah keganjilan karena pintu yang menuju ke tangga darurat terbuka padahal seharusnya otomatis tertutup kecuali ada seseorang yang baru saja lewat. Ia pun masuk ke tempat tangga darurat,

“Terima kasih telah melindungi anak itu hari ini. Haruskah aku kusudahi dengan pembayaran untuk pekerjaan yang berbahaya ini, atau tanda ucapan terima kasih. Aku berencana membayarnya. Dan juga, biarkan aku meminta satu hal. Jika kau mendapat perintah dari sisi lain, bukan dari aku, jika kau harus berdiri di sisi yang berlawanan maka kuharap kau memberitahuku dulu. Karena aku klien langgananmu. Setidaknya kau akan melakukan itu, kan?” ucap Moon Ho. Dia yakin Healer ada disana.


Moon Ho melihat sebuah batu tergeletak disana, ia memungutnya lalu meletakkan batu tersebut untuk mengganjal pintu. Ia keluar dan pintu tertutup namun masih sedikit terbuka.

Jung Hoo yang bersembunyi menampakkan diri setelah mendengar decitan pintu tertutup. Aku yakin, Moon Ho melihatnya meskipun tak begitu jelas karena ruangannya remang – remang.


Yeong Shin menyesap minuman pemberian Moon Ho, otaknya masih memendam banyak pikiran.

Percaya. Percaya setidaknya sekali. Kemudian kau akan bisa mempercayai lebih banyak hal. Ayah, seorang pria yang sebelumnya asing bagiku, pernah mengatakan ini.


FLASHBACK
Dimasa kecilnya, Yeong Shin sangat peyendiri bahkan selalu bersembunyi dirumah – rumahan yang ada ditaman bermain. Chi Soo mencoba untuk membujuknya keluar dengan berkata kalau dia itu boneka kaleng. Dia menunjukkan tahi lalat yang ada ditengkuk, ia menyuruh Yeong Shin untuk menekannya kalau ingin dia berhenti bergerak.

Yeong Shin kecil masih terus bersembunyi ketakutan.



Ibu Panti menjelaskan kalau Yeong Shin tak akan mau keluar. Dia bisa mendengar dengan baik hanya saja tak bisa bicara. Jika dia meninggalkan makanan disana, Yeong Shin akan keluar setelah dia pergi dan memakannya dengan cepat. “Seperti yang kau dengar, saat dia datang ke sini, kami sungguh tak sanggup melihatnya (karena kondisinya). Dia patah tulang dan memar di seluruh tubuhnya.”


Chi Soo tak putus asa, ia menemani Yeong Shin sepanjang hari. Dia mencoba bercerita untuk menghibur Yeong Shin dan juga menyanyi serta berjoget dengan alay seperti yang Yeong Shin sering lakukan sampai sebesar sekarang.

Rasa takut Yeong Shin mulai lenyap, meskipun masih dalam lubang tersebut tapi dia menyimak dan mendengarkan apa yang Chi Soo katakan.


Waktu berlalu, sekarang Yeong Shin sudah mau duduk bersama Chi Soo. Ia memencet tahi lalat yang terletak di tengkuk Chi Soo, Chi Soo pun pura – pura terdiam seperti boneka. Yeong Shin kembali menekannya dan Chi Soo kembali bernyanyi.

Yeong Shin melakukan hal itu berkali – kali dan mulai bisa tersenyum dibuatnya.


FLASHBACK END

Yeong Shin menulis note untuk Moon Ho.

Apa seluruh dunia dapat dipercaya setelah aku bertemu ayahku? Tentu saja tidak. Jika aku menjadi ceroboh, orang selalu menikamku dari belakang dan jika aku membuka hatiku, seseorang datang dan meninggalkan luka. *Narasi Yeong Shin


Yeong Shin pergi dan masuk dalam lift, bayangan saat dia tergoncang didalamnya dan begitu mengerikan karena dia hampir mati saat itu. dia mencoba meyakinkan dirinya tapi tetap saja rasa takut merasup lebih dalam membuat ia urung untuk masuk.

Tapi, aku masih baik-baik saja. Jika ada satu orang yang bisa kupercaya selagi hidup meski aku akan ditikam dari belakang, itu tak terlalu menyakitiku.

Yeong Shin mengangguk dan memilih turun melalui tangga darurat.


Yeong Shin melihat tangga yang harus ia turuni cukup banyak.

Jadi sekarang, daripada mencurigai seseorang lebih mudah untuk mempercayai mereka.

Untuk menghilangkan rasa capai dan bosannya, Yeong Shin bernyanyi sepanjang menuruni tangga. Jung Hoo keluar dari persembunyiannya, dia menemani Yeong Shin dari belakang dan tersenyum mendengar dia terus bernyanyi.


******
Moon Ho menyeret Sekretaris Oh menemui Moon Shik. Myung Hee terkejut dengan kehadiran Moon Ho, apa yang terjadi?

Moon Ho meminta Myung Hee untuk masuk, dia ingin berbicara dengan Moon Shik dan tak mau kalau Myung Hee mendengarnya.



Moon Ho melempar Sekretaris Oh dihadapan Moon Shik. Dia menebak kalau Kakaknya mungkin sudah memilih untuk tidak lagi menjadi seorang manusia. Moon Shik seperti biasa tak mau melakukan pekerjaan kotor dengan tangannya sendiri, maka sekarang dia menyuruh Sekretaris Oh. Dia tak seharusnya menyentuh Ji Han.

Nama itu mengejutkan Moon Shik. Moon Ho menjatuhkan Sekretaris Oh dimeja tepat di hadapan Moon Shik, dulu dia bisa mengerti kenapa Moon Shik mengatakan pada Myung Hee kalau Ji Han mati padahal belum mati. Itu semua demi menyelamatkan nyawa Myung Hee yang tak ingin hidup lagi.

“Kau bilang Ji Han masih hidup? Kau menemukannya?”




Moon Shik meyakinkan kalau dia tak tahu menahu mengenai hal ini. Moon Ho membuat kesimpulan kalau memang bukan kakaknya yang melakukan ini maka Tetua lah yang mengirimi dia pesan. Ia mengancam bahwa Myung Hee adalah orang yang pertama kali tahu kalau sampai Moon Shik berani menyentuh Ji Han lagi.


Moon Shik yang tadinya masih terkejut berubah marah, baginya Moon Ho telah melampaui batas dengan menggunakan Myung Hee untuk mengancam.

“Tak ada pilihan. Aku juga menyukai Kak Myung Hee. Kakak yang kucintai hidup tanpa menyadari kalau dia serumah dengan pria yang membahayakan putrinya. Kau mau aku hanya melihat saja? Aku tak bisa melakukan itu.”


Ketika Moon Ho keluar dari ruangan Moon Shik, Myung Hee menyambut hangat seperti biasa. Dia melihat wajah Moon Ho yang kusut dan memberikannya vitamin. Moon Ho masih memandang Myung Hee sedih tanpa menerima uluran Myung Hee.

“Ah, lenganku lelah....” ucap Myung Hee hingga akhirnya Moon Ho meraih gelas pemberian Myung Hee. Moon Ho menatap Myung Hee dalam dan berucap kata maaf.



Moon Ho mengingat bagaimana dulu saat ia masih kecil, Myung Hee menyuruhnya untuk menangis dihadapannya. Moon Ho melakukan hal yang sama sekarang, dia menangis dipangkuan Myung Hee.


Moon Shik melihat keduanya dari kejauhan, tampak kesedihan juga dari rautnya. Ia menemui Sekretaris Oh yang membersihkan meja kerja, dia tanya apa yang sebenarnya terjadi?

“Tetua memerintahkan itu.”

“Apa sebenarnya perintah itu? apa yang harusnya kau lakukan setelah menemukan anak itu? Sampai aku tak boleh tahu. Apa yang kau lakukan?!” seru Moon Shik penuh kemarahan.



Namun pembicaraan keduanya terpotong oleh suara Bibi Min Ja. Rak yang biasanya menyembunyikan tiga layar LCD Moon Shik terbuka. Di layar tersebut ada waktu yang menunjukkan hitungan mundur, masih tersisa sekitar dua hari.

Ini markas Healer! Ini markas Healer! Aku memberitahu sisa waktumu sebelum kau menyerahkan pembunuh Go Seong Cheol sebenarnya ke polisi. Dan juga, jika kau tak menyelesaikan ini aku akan memberitahu stasiun TV untuk menayangkan 'video bermasalah'. Pada berita utama 3 stasiun TV terbesar.” Ancam Bibi Min Ja.

Dengan panik, Moon Shik menyuruh Sekretaris Oh menyiapkan jadwal pertemuan dengan Tetua.

Di Markas, Bibi Min Ja sibuk menjalankan pekerjaan dengan komputernya. Ia menghubungi Dae Young dan bertanya apa yang sedang ia lakukan?

“Aku sedang melakukan penyamaran di rumah Chae Yeong Shin.”

“Dimana Healer?”

Dae Young heran, bagaimana dia bisa tahu Hyung ada dimana karena dia tak pernah mengatakan padanya. Sekalinya mereka bicara, dia tak mengerti maksud ucapan Hyung. Dae Young kemudian tanya bagaimana dengan bayarannya?


Tapi dasar Bibi Min Ja sibuk dan tak memperdulikan Dae Young, ia langsung mematikan sambungannya. Ia langsung menghubungi Jung Hoo, “Healer, anak bandel, kenapa kau memutuskan lagi? Bukankah sudah kubilang jangan mematikan koneksi dimanapun kau berada dan apapun yang kau lakukan, sekalipun sedang buang kotoran?


Suara Chae Bum tiba – tiba muncul, dia kini berada dirumah Jung Hoo dan makan cake yang dibawanya sendirian. Bibi Min Ja mengingatkan kalau dia saja tak berani mengusik tempat Jung Hoo dan kini Chae Bum ada disana padahal Jung Hoo sedang pergi. Chae Bum beralasan kalau ini juga dulu tempatnya.

Chae Bum menghubungi untuk memastikan sesuatu. Bibi Min Ja tak akan melakukan sesuatu tanpa kontrak, kau berani bayar berapa?

“Adik Kim Moon Sik, Moon Ho, kau bilang kau menanam program dalam ponselnya, kan? Kau bilang Kim Moon Ho meminta tes DNA, kan? Itu perempuan?”


Bibi Min Ja membenarkan, dia berusia sekitar 20 tahunan. Chae Bum kembali bertanya, dia yatim piatu.

“Ya, seorang anak yang menjadi yatim piatu setelah tahun 1992,”

Chae Bum bisa menebak karena satu – satunya orang yang Moon Ho cari hanyalah dia. Putri Gil Han dan Myung Hee, Oh Ji Han.


******


6 Responses to "Sinopsis Healer Episode 9 – 1"

  1. makasih banget sinopnya mbak..tetap semangat....semangat....

    ReplyDelete
  2. Semangat mbak

    Berharap di eps selanjut nya bnyk scane romantis antara jung hoo dan young shin

    ReplyDelete
  3. Suka...Bingiiittss,...ihirr deg-degan nih yee....

    ReplyDelete
  4. Aaaaaah.... Gk sabar bwt ep 10...
    Slalu klepek" klo liat ji chang wook...

    Oh yaa,,, annyeong...
    Ini pertama kali'y sya komentar...
    Padahal sering bgt mmpir bwt bca di sini... :D :D

    gomawo chingu karna udah bikin sinopsis the healer...
    Hwiting...!!

    ReplyDelete

Jangan lupa komentar yaah^^ biar aku lebih semangat dalam membuat postingan. Meskipun jarang bales tapi semua komentar selalu aku baca kok.. *serius*

Gomawo^^