Sinopsis Pride And Prejudice Episode 9 – 2

Sinopsis Pride And Prejudice Episode 9 – 2
Dong Chi dengan tak mengetuk pintu langsung masuk ke kamar Kang Soo, dia sedang melipat baju tapi Dong Chi malah menyuruhnya untuk pindah.
Dong Chi merasa kalau ada yang aneh dengan Kang Soo. Kang Soo masih cuek dan terus melipat bajunya, apa?
“Semuanya. Apa kau sudah BAM padanya?”
“Ya” jawab Kang Soo tanpa mengelak. Dong Chi tak percaya sehingga Kang Soo kembali mengucap, YA!
Dong Chi tak percaya karena Kang Soo bisa mengatakan Ya didepannya. Lalu bagaimana?
Kang Soo kesal dengan maksud kata Lalu apa? Bahkan Yeol Moo hanya menganggapnya sebagai adik. Dong Chi berkata kalau memang Kang Soo harus seperti itu. rasa sakit juga hanya diperuntukkan untuk anak muda. Semoga berhasil melipat pakaiannya.



Kang Soo memanggil Dong Chi yang akan pergi, dia tanya apakah Dong Chi sudah tahu sejak lama mengenai perasaanya. Dong Chi membenarkan, Kang Soo memang tak bisa mengendalikan perasaannya.
“Bagaimana jika aku tidak bisa (melupakan perasaannya pada Yeol Moo)?”
“Maka kau akan berperang denganku. kau masih ingin melakukannya?”
“Apakah aku bisa melakukannya?”
Dong Chi tertawa tak percaya, dia menyuruh Kang Soo untuk bertarung sampai akhir. Dia tak akan kalah darinya. Kang Soo rupanya begitu serius menanggapi, ia sanggup dengan tantangan itu.
Dong Chi kembali tertawa, kalau keadaan memburuk mungkin mereka tak akan bertemu lagi. Kang Soo tak yakin, dia percaya dan mereka tetaplah saudara.



Dong Chi menepuk dada Kang Soo pelan, ia pun kemudian keluar dari kamar Kang Soo. Ia tersenyum tapi kemudian senyum itu lenyap ada rasa gurat kehawatiran juga dalam rautnya.


Dikamar, Yeol Moo merebahkan tubuhnya yang lelah. Pesan dari ibunya masuk, Yeol Moo berniat membalas dan membahas masalah Han Byul.
Baguslah. Tapi ibu, Apa menurutmu dia benar-benar Han Byul? Yeol Moo tak tega untuk kembali membahas luka lama, ia menghapus dan mengoreksi kata – kata pesannya.



*****
Jaksa Moon membuat sebuah map persaingan antara beberapa kandidat dan hubungan satu sama lain untuk mampu meraih posisi Kanselir Kantor Kejaksaan tahun depan. “Orang yang keluar dari kekacauan ini adalah Oh Yoon Taec.”
Jaksa Moon mulai membaca situasi dan membuat perkiraan untuk rencana mereka nantinya. Ia kemudian menghubungi Yoon Taec.




*****
Pencarian file belum juga membuahkan hasil, Kwang Mi yang sudah lapar dengan ngawur berkata kalau mereka harus membuat Young Min dalam daftar pencarian orang. Jang Won heran, disaat seperti ini bagaimana bisa Gwang Mi masih memikirkan makanan.
Kwang Mi menatap Jang Won tajam. Jang Won pun tak bisa berkutik, ia menyuruh Kwang Mi untuk membeli makanan didalam toko saja. Kwang Mi yang sudah lapar tingkat tinggi bergegas masuk ke toko.



Jang Won menerima panggilan dari Young Min, ia bertanya tentang file miliknya. Young Min dengan yakin  menyuruh Jang Won menemuinya dan ia akan memberikan file –nya secara sukarela.
Jang Won tak pikir panjang langsung berlari bahkan sampai lupa kalau Kwang Mi masih ada ditoko. Melihat kepergian Jang Won, Kwang Mi pun mengejarnya.


*****
Jaksa Moon menuju ke parkiran, seseorang sudah menantinya dan ia adalah supir dari Jaksa Oh Yoon Taec yang tak bisa datang saat ini. Ia meminta maaf.
Jaksa Moon diam. Ia memencet tombol mobilnya, bagasi terbuka dan Sopir Jaksa Oh bergegas mengambil barang yang tersimpan disana. ia pun tersenyum sinis.
“Jaksa mencoba untuk menyelamatkan harga diri. Tapi hakim tidak melakukan itu. Mereka hanya menggunakan nama mereka untuk sebuah akun. Mungkin mereka tidak takut karena tahu ada kekuatan tinggi yang merawat mereka. Atau karena hakim mempunyai kekuatan lebih dari jaksa?” ucap Supir itu panjang lebar. Ia kemudian meminta maaf sesaat setelah menyadari kalau ucapannya sangat jauh.
Jaksa Moon yang menatap sopir itu tak berkata apapun. Dia masuk ke mobil dan segera pergi.



Setelah kepergian jaksa Moon, Sopir Jaksa Oh bisa tersenyum mengerikan seolah ada sesuatu penuh makna.


Jaksa Moon mengumpat sebal dalam mobil, ia menganggap kalau Jaksa Oh begitu sombong dan bahkan hanya mengirimkan seorang sopir.


*****
Jang Won dan Kwang Mi kembali ke kantor untuk menanti datangnya Young Min. Disini Jang Won tampak sangat gelisah menantikan kehadirannya namun Kwang Mi menenangkan, mungkin Young Min belum datang karena dia menggunakan kendaraan umum jadi mereka jelas sampai ke kantor duluan.
Jang Won belum bisa tenang begitu saja, dia melihat apa yang tengah Kwang Mi lakukan. Jang Won kesal, disaat seperti ini dia masih makan kimbap.
Jang Won berjalan sambil mengecapkan lidahnya, apa kau punya lagi?
Kwang Mi menggeleng, ia menyodorkan kimbapnya agar Jang Won menggigit –nya. malu – malu mau, Jang Won berniat menggigit kimbap itu tapi belum sempat ia melakukannya. Young Min datang hingga Jang Won tak jadi makan.



*****
Sampai malam, Yeol Moo masih belum bisa tertidur. Ponselnya bergetar, ia menerima pesan dari Dong Chi. Tak bisa tahan kan?
Yeol Moo membalas lalu Dong Chi kembali membalas dan menyuruh Yeol Moo kekamarnya. Yeol Moo jelas terkejut, ia pun bangkit.


*****
Tampang super frustasi, Jang Won meminta agar Young Min mengembalikan file –nya tapi Young Min mengaku ia tak memiliki file –nya lagi. dia sudah membuangnya.
Jang Won terkejut. Dia begitu marah, bagaimana bisa Young Min melakukan hal itu pada mereka? Dia bilang pada Kwang Mi kalau file –nya ada dan mereka mencari sepanjang hari. Tapi sekarang katanya file sudah dibuang. Jika dia mengatakannya kalau file sudah hilang setelah mereka lelah mencari, ini benar – benar membuatnya gila.
“Aku  merasakan hal yang sama.Aku tak punya apapun. Aku hidup begitu tertekan. Aku menyerah pada cinta dan masa mudaku. Aku sudah bekerja keras untuk pekerjaan ini. Tapi aku tidak mendapatkannya.”




Jang Won rasa ini dua hal yang berbeda namun bagi Young Min ini sama dalam hal sedih, terperangkap dan marah. Sangat frustasi dan ingin melaporkan seseorang. Jang Won juga pasti ingin melaporkannya sebagai pencuri kan? Orang – orang juga sudah mencuri darinya dan itu sebuah kejahatan. Dia frustasi dan ingin menuntut orang – orang itu. Jang Won menelponnya dan menganggapnya sebagai tukang ngeluh.
“Aku tahu. Aku hanya harus bertahan kuat. Lalu bagaimana dengan yang lemah? Tak berdaya untuk makan dan hidup juga? Kau begitu cerdas dan berkecukupan, kau kasihan pada orang lain, bukan? Tapi kau tahu? Ada lebih banyak orang di dunia ini yang lebih buruk darimu.” Beber Young Min.
Jang Won tak bisa berkata – kata lagi, ucapan Young Min memang tak ada yang salah.



Young Min telah kembali, Kwang Mi tanya apakah Jang Won tak akan menuntutnya? Mungkin karena pencurian dan pemerasan?
Jang Won terlihat lelah sambil menopang kepala. Dia sudah terlalu lelah dan tak memiliki tenaga. Ia akan mulai dari awal lagi untuk mengumpulkan info, saksi untuk mengganti file yang hilang.
Kwang Mi bangkit, dia akan mencari daftarnya dulu.



Seorang satpam mengetuk pintu dengan tangan membawa sebuah paket, ia berkata kalau ada paket untuk mereka. Jang Won tersentak, ia buru – buru membuka –nya dan menemukan tas yang dibawa oleh Young Min ada disana.
“Kapan ini sampai di sini?”
“Sore kemarin. Karena ini hari libur, aku tak berpikir kalian ada disini. Saya menyimpannya, lalu aku melihat ada lampu nyala ditempatmu.”
Jang Won menghembuskan nafas lega, Young Min telah mempermainkan dia. menjengkelkan.
Kwang Mi bisa menepuk perutnya, ia lapar.



******
Yeol Moo berlari menuju ke kamar Dong Chi dengan tergesa bahkan sampai menubruk kursi. Dong Chi meledeknya yang begitu semangat untuk pergi kekamar.
Yeol Moo beralasan kalau dia hanya tak mau membuat Kang Soo terganggung.
“Oh, benarkah? Lagi pula, kau tidak bisa datang ke kamarku. Kita harus bermain adil.” Ujar Dong Chi dengan suara sengaja dikeras – keraskan agar Kang Soo mendengarnya. Dong Chi menunjukkan sebuah file, dia meminta Yeol Moo menjelaskan.
Sudah barang tentu Yeol Moo mendekat pada Dong Chi dan keduanya akrab.



DAN si Kang Soo juga penasaran, dia mengintip dari lubang pintu kamarnya.
Chan yang menggambar mengetukkan crayon agar Kang Soo mewarnai bersamanya. Meskipun penasaran, Kang Soo terpaksa menemani Chan.



*****
Jang Won dan Kwang Mi makan di kedai pinggir jalan. Kwang Mi memesan soju tapi Jang Won melarangnya, dia sedang tak mau minum. Kwang Mi memesan untuk dirinya sendiri, bahkan jika Jang Won meminta. Dia tak akan memberikannya.
Jang Won tampak sedih, Kwang Mi telah melakukan banyak untuknya. Kwang Mi rasa dia hanya melakukan apa yang memang seharusnya ia lakukan.
“Rasanya enak. Kau benar-benar tidak akan minum?” tawar Kwang Mi saat meneguk sojunya. Jang Won menolak meskipun dari wajah sudah tampak jelas kalau dia menginginkannya.



“Aku masih gemetar karena lega hari ini. Aku masih gemetar karena lega hari ini. Semua orang di dunia bekerja untuk tampak menyedihkan. Mereka tampak menyedihkan.” Ucap Jang Won. Dia lalu menatap kearah Kwang Mi dengan canggung. “Lebih buruk lagi sekarang, mereka terlihat cantik.”
Jang Won gugup, tanpa henti dia meminum sojunya. Ini tidak benar.



Jang Won secara mengejutkan mencium bibir Kwang Mi, jelas membuat dia terkejut lalu menampar Jang Won. Jang Won tampak bersalah sekaligus malu, “Sudah kubilang! Aku tak bisa minum pada situasi seperti ini. Kebiasaanku akan keluar.”
“Kau benar-benar mengerikan.”
Jang Won bersiap kembali meneguk sojunya. Tapi Kwang Mi malah menggebrak meja, “kau sudah banyak ditampar, bukan? Di mana kau belajar kebiasaan seperti itu? Beraninya kau tidak menyelesaikan apa yang kau mulai?”
Kwang Mi menarik Jang Won dan gantian menciumnya. Keduanya berciuman mesra dihadapan yang lain tanpa canggung.



******
Pagi ini, Jaksa Moon membelikan yang lain sandwich untuk sarapan. Ia mengucapkan maaf karena telah membuat mereka berkumpul dihari libur. Tak seperti biasa, Jang Won tak malas dan antusias saja.
Jaksa Moon merasakan perbedaan pada diri Jang Won yang terlihat senang dan menata ramburnya dengan rapi. Jang Won beralasan kalau dia hanya ingin sesuatu yang baru.
Jaksa Moo terus menanyainya dengan hal sepele hingga membuat Jang Won bingung. Jang Won mengutarakan perasaanya yang ingin berubah menjadi lebih keras dalam bekerja.
“Apa dia masih tak bisa tidur?” tanya Jaksa Moon pada Dae Gi.
“Oh iya, kudengar dia sudah bisa tidur.”




Jaksa Moon membuka pintu dan berniat mengeluarkan Jang Won. “Apa kau akan mengulurkan pencarian dan merebut surat perintah lagi?”
Jang Won bilang kalau dia tak akan hanya melihat dari berkas penuntutan tapi juga penyelidikan internal.
“apa kau yakin? penyelidikan internal? Itu, menurutmu kau bisa melakukannya diam-diam?”
Jang Won yakin bahkan ia tak akan membuat tikus dan burung tahu.
“Burung-burung dan tikus harus mendengar jadi mereka bisa tahu info dan memnberikan infonya padamu.” Ucap Jaksa Moon.


Jaksa Moon memberikan sandwich untuk Yeol Moo, ia menanyakan tentang kasus Cha Yoon Hee padanya. Yeol Moo bilang kalau mereka masih melakukan pemeriksaan lebih lanjut.
Jaksa Moon membenarka tindakan tersebut, jaksa sudah bisa merasakan sebuah kebenaran didalamnya. mereka tak boleh diam saja. satu bukti belum pasti dan sedikit disayangkan tak ada saksi.
Yang lain diam mendengar ucapan Jaksa Moon yang biasanya lebih mementingkan selesainya sebuah kasus ketimbang benar tidaknya.
“Song Ah Reum itu. Bertemu dengan Song Ah Reum dan mencoba untuk membuat dia bicara. Aku tahu dia ditetapkan menjadi saksi di persidangan. Dia akan membantu dalam menggali lebih dalam pada kasus ini, itu benar. Sebagai gantinya, jangan menyeretnya.” Tambah Jaksa Moon.



Dong Chi dan Yeol Moo yang merasa semakin aneh pun berpandangan.


“Sebenarnya, itu tidak ideal melakukan pertemuan seperti ini di tengah-tengah hari kerja kita. Jadi aku memanggil semuanya untuk bertemu pada hari libur sehingga kita bisa menggalang semangat tim. Sekarang kita semua pada bidang yang sama. Kita semua melakukan pemanasan, jadi besok mari kita bekerja keras.” Ucap Jaksa Moon.


Dong Chi bangkit untuk pergi tapi Jaksa Moon menegurnya, dia bertanya apa yang akan Dong Chi lakukan hari ini?
Dong Chi berniat akan membuka kasus lama, tapi dia akan melihatnya. Jaksa Moon memberikan izin kalau memang mereka menemukan bukti baru. Lalu dia menyuruh Jang Won juga bisa bergabung menangani kasus Dong Chi karena mungkin ada keterkaitan informasi.
Jaksa Moon kemudian memberikan semangat agar semua bisa bekerja keras.
Dong Chi diam, dia menatap Jaksa Moon yang menunjukkan gelagat yang tak biasa.



Jang Won keluar dari ruangan Jaksa Moon bersama yang lain. dia bertanya pada Dong Chi mengenai maksud burung dan tikus.
Dae Gi menjawab kalau itu adalah perumpamaan dari wartawan.
“Jadi dia bilang kita harus membocorkan itu pada pers?”
“Jadi dia bilang kita harus membocorkan itu pada pers? Lalu akan membuat hal-hal yang lebih sulit pada orang yang berkekuatan lebih tinggi. Maka kasus akan berakhir di tangan kita dengan lebih alami.”



Dong Chi memperingatan Jang Won agar bertindak lebih hati – hati. Wartawan bisa lebih berbahaya daripada membantu.
“Mereka membantu atau tidak, kurasa namaku akan muncul dalam berita.” Girang Jang Won.
Dong Chi menepuk lengan Jang Won, dia kan sudah menyuruh hati – hati. Jang Won meyakinkan, tentu saja dia akan berlaku hati – hati. Dia sadar kalau Dae Gi ada dibelakangnya, tanpa sengaja ia menyikutnya. Ia pun meminta maaf dengan sopan lalu berlari pergi.
“Dasar belum dewasa.” Komentar Dong Chi.



Dae Gi bertanya kenapa Dong Chi ingin membuka kasus lama. Dong Chi melakukannya karena masa batas penyelidikan akan segera berakhir.
“Aku akan berusaha sebisa –ku.” Ucap Dong Chi curi pandang kearah Yeol Moo. Yeol Moo pun membalasnya dengan senyuman.
“Tapi Pak Yoo, berapa lama bekerja sebagai jaksa?”
“Sudah sekitar 25 tahun.” Jawabnya. Dong Chi merasa akan banyak meminta bantuan pada Dae Gi. Dae Gi berjanji akan memberikan bantuan sebisanya.



“Sialan, Koo Dong Chi itu.” umpat Jang Won dalam ruangannya.


Jang Won terkejut saat sampai diruangan dan menemukan Kwang Mi sudah ada disana dengan penampilan barunya tanpa rambut kuncir. Jang Won memberikan makanan yang didapatnya tadi lalu menyinggung permasalahan semalam, “Aku tekankan tentang kasus ini. Pikiranku akan lemah saat aku lelah.”
Kwang Mi tanpa pikir panjang bisa mengerti. Tapi cukup bagus bagi Jang Won saat pikirannya lemah.
Kwang Mi kemudian memakan makanan yang dibawa oleh Jang Won. Dimata Jang Won apapun yang dilakukan oleh Kwang Mi tampaklah seksi hingga dia lupa akan apa yang ia lakukan. Bahkan sampai memonyongkan bibirnya menatap Kwang Mi seperti akan mencium.
“Itu ... wartawan itu. Siapa dia? Reporter itu yang mengambil foto Kim Jae Hak.. Tolong hubungkan aku dengan wartawan itu.” ucap Jang Won menundukkan kepala menghilangkan pikirannya.



Kwang Mi berjalan menuju kearah Jang Won, ia memberikan kartu nama yang sudah ditulisnya. Ia menyuruh Jang Won menghubunginya sendiri. Jang Won mematung saat Kwang Mi tepat berada disampingnya.


Dong Chi menghubungi seseorang, “Jadi Kim Jae Hak dan Joo Yoon Jang adalah pendukung untuk tawaran Sung Moo Young di kursi kanselir. Siapa Park Man Geun?”
Pria diseberang telefon tengah bermain golf, Jaksa Choi. Dia sendiri tak begitu yakin dengan masalah itu. “Ada yang bilang dia orang yang sangat berpengaruh di Blue House. Yang lain mengatakan dia adalah anak simpanan presiden. Dan juga ia memiliki uang banyak di negara kita. Mereka mengatakan semua bangsa menyimpan 50.000 Won pada keluarganya. Tapi apa kau benar-benar akan melakukan ini?”
Dong Chi tak bisa membiarkan kasusnya begitu saja karena Song Ah Reum menyebut ke –empat nama tersebut sebagai penyebab insiden Panda.
“Tapi apa yang atasanmu katakan? Tampaknya Lee Jong Gon dan Kim Jae Hak berada di tim yang sama. Tapi Kim Jae Hak atasannya Sung Moo young adalah calon untuk kursi kanselir. Dia mungkin cukup terkoyak.”
Dong Chi juga merasa begitu. Lagipula mereka tetap membutuhkan bantuan Song Ah Reum. Jaksa Choi mengerti, dia kemudian mematikan telfonnya. Dia akan menelfon lagi nanti.



Oh Yoon Taec yang baru datang ke tempat golf menyapa Jaksa Choi. Jaksa Choi tampak terganggu hingga menghembuskan nafas panjang lalu berusaha tersenyum dihadapan Jaksa Oh Yoon Taec.



Jaksa Moon muncul, ia tanya apakah memang ini yang diinginkan oleh Dong Chi?
“sejauh mana anda akan melakukan ini?” tanya Dong Chi. Jaksa Moon akan melakukannya sejauh mungkin, tentu saja. Hanya karena kau ingin pergi ke suatu tempat tidak berarti kau bisa pergi.
Dong Chi kan tahunya kalau Jaksa Moon akan menggantungkan pada hasil pencarian mereka nanti.
Jaksa Moon tanya, apakah Dong Chi masih menganggap ini sebagai kasus?



Dong Chi hanya mengikuti apa kata seniornya untuk menganggap kasus sebagai kasus.
“Lalu. apa kau akan melakukannya atau tidak?”
Dong Chi akan mencoba tapi ia juga tak mau terjepit dalam urusan politik. Tapi Jaksa Moon rasa Dong Chi akan mengambilnya. Dia tak boleh menyerah pada satu titik hanya karena politik.
“Tidakkah kau tahu itu kelemahanmu? Lagipula kau akan mengambilnya, Nikmatilah sendiri. Dengan begitu kau menjadi anggota sebenarnya dari keluarga jaksa.”



Yeol Moo memberikan daftar polisi dan detektif yang ada di TKP. Dalam buku ayahnya, dia selalu mencatat tanggal penting dalam catatannya. Kecuali detektif, semua saksi dijelaskan dengan jejak. Saat ini, mereka tak bisa melihat orang yang terlibat dalam kasus ini baik dokumen maupun nama.
“Jadi kau membawa orang-orang yang ayahmu catat dan mereka cocok sesuai tanggal dan jejak saksi. Kalau begitu kau tahu orang bertanggung jawab atas apa.”
Yeol Moo membenarkan. Mungkin dengan tahu tanggung jawab mereka. Mereka bisa tahu nama orang yang terlibat.



Yeol Moo berniat mengambil berkasnya, tangan Dong Chi secara reflek berniat mengusap rambut Yeol Moo. “kau sangat pintar, Han Yeol Moo. .”
Yeol Moo melirik tangan Dong Chi dengan tajam. Dong Chi tersadar, ia kembali menarik tangannya dan bersikap serius lagi. Yeol Moo memecah keheningan, karena mereka telah mengetahui nama – nama detektifnya maka mereka bisa melihat gambaran umumnya.
“Namun dari semua detektif tersebut, hanya satu dari mereka yang berada di TKP.”
Yeol Moo berfikir tapi ia rasa harus mengerjakan kasus Ah Reum lebih dulu. Dong Chi melarang karena itu bisa dikerjakan besok. Sekarang mereka harus menyelesaikan yang ini dulu.



Kang Soo masuk dalam ruangan. Yeol Moo heran bagaimana bisa Kang Soo berangkat sekarang?
“Aku memanggilnya. Karena itu kasusku sekarang, Aku membutuhkan detektifku.” Jelas Dong Chi. Ia memberitahukan kalau kasus ini adalah kasus Yeol Moo. Dong Chi lalu memberikan arahan untuk Kang Soo.
Yeol Moo memberikan berkas dan mengucapkan terima kasih atas bantuan Kang Soo. Kang Soo tersenyum, Jangan sungkan. dia senang bisa membantu.
“Kasus ini dibuka pada tahun 1999, dan tidak ada banyak catatan.” Ucap Yeol Moo.



Kang Soo membuka berkasnya, dia melihat ciri – ciri adik Yeol Moo yang mengenakan jaket kuning. Yeol Moo membenarkan karena dimasa itu memang sedang tren.
Kang Soo membuka lebih lagi, “Tahun 1999, Desember ...”
“Tanggal 20.” Sambung Yeol Moo saat Kang Soo hanya terdiam apalagi saat melihat foto adik Yeol Moo mengenakan mantel.




Kang Soo akan duduk tapi kemudian dia tak bisa melakukannya, dia harus pulang sekarang juga. Dong Chi heran, kenapa?
Kang Soo beralasan kalau ada sesuatu hal mendesak yang harus ia selesaikan. Dia harus pergi. Dong Chi mengerti, dia akan membereskannya dan pulang juga jadi Kang Soo bisa pulang dengan membawa berkasnya.
Tanpa buang waktu, Kang Soo segera pergi. Dong Chi dan Yeol Moo berpandangan melihat sikap aneh Kang Soo.



Jaksa Moon sudah akan pulang tapi satpam datang ke ruangannya mengantarkan sebuah berkas. Disana terselip kartu nama dengan nama Oh Yoon Taec.
Jaksa Moon menghubungi seseorang dan meminta untuk bertemu.


Dong Chi masih berfikir keras sedangkan Yeol Moo sudah tampak lelah dan memukul pundaknya yang semakin loyo.
“Tidak peduli seberapa seruis aku melihat filenya. Aku tak bisa memastikan bahwa anak yang meninggal adalah Han Byul. Dia tidak di-otopsi, dan wajahnya tidak dikenali. Apa kau yakin?” ucap Dong Chi penuh keraguan.
Yeol Moo rasa dia yakin karena tidak lama setelah Han Byul meninggal, mereka menemukan anak kecil yang mengenakan pakaian yang sama dengan Han Byul. Semua detektif mengatakannya jadi dia yakin.



“Saat aku terjatuh waktu itu, penculik itu mengejarku. Tapi aku tak percaya bahwa anak kecil bisa lolos dan melarikan diri.” Ucap Dong Chi.
Yeol Moo ikut terpancing, kalau memang Byul masih hidup kenapa dia tak kembali. Ibu selalu percaya kalau Han Byul masih hidup. Dia terus mencarinya. Tapi dia tidak menemukan apa pun. Tapi kenapa mereka mencoba membunuhnya? kenapa anak kecil?
Di papan sudah terdapat beberapa dugaan yang keduanya tulis. Jaksa. Anak Hilang.




*****
Kang Soo langsung mengambil kotak miliknya. Dia membuka kota tersebut dan menemukan jaket kuning ada disana. dia berniat meraihnya tapi suara Chan menghentikan tangan Kang Soo.



Kang Soo menemui nenek yang memangku Chan yang menangis keras. kenapa Chan menangis?
“Dia menangis karena dia sedih. Meskipun dia seorang anak, dia tahu tentang kesedihan. Walaupun ia tidak bisa memahaminya. Dia masih bisa merasakan kesedihan dalam hatinya. Itu sebabnya dia menangis seperti ini.”
Kang Soo berganti memangku Chan. Dia bertanya dengan sedih, akan kah dia juga dulu menangis?
“kau menangis bahkan sering.”




“Tapi nenek. . . Siapa aku?” tanya Kang Soo sedih.


*****
Rupanya Jaksa Moon menemui Chang Gi, keduanya bertatapan sengit satu sama lain. Jaksa Moon memberikan sebuah berkas dan ketika dibuka terdapat surat adopsi dari Kang Soo.
“Kang Soo. Siapa dia?” tanya Jaksa Moon.
Chang terkejut sekaligus sedih, dia menjatuhkan surat adopsi Kang Soo.




Kilas balik kejadian tabrakan Chang Gi.
Dimalam saat mereka menabrak seorang wanita, ada anak kecil dengan jaket kuning menangis dipinggir jalan melihat sebuah tubuh tergeletak disana.




*****

0 Response to "Sinopsis Pride And Prejudice Episode 9 – 2"

Post a Comment

Jangan lupa komentar yaah^^ biar aku lebih semangat dalam membuat postingan. Meskipun jarang bales tapi semua komentar selalu aku baca kok.. *serius*

Gomawo^^