Sinopsis Pride And Prejudice Episode 9 – 1

Sinopsis Pride And Prejudice Episode 9 – 1
Yeol Moo tak bisa menyembunyikan kegalauan hatinya hingga terus terdiam. Dong Chi menyadari hal itu lalu membuat ia memindahkan sepatu yang dipegang oleh Yeol Moo kebangku belakang mobil. ia menawarkan Yeol Moo untuk berjalan – jalan sejenak.
Yeol Moo menjawabnya dengan senyuman.


“Lihatlah daun yang jatuh. Setiap tahun, tumbuh daun dan buah-buahan. Tapi setiap tahun, daunnya akan jatuh. aku ingin tahu apa yang pohon itu rasakan.” Ucap Yeol Moo melihat dedaunan yang berceceran dijalan.
Dong Chi menebak kalau perasaan pohon mungkin juga seperti mereka. Yeol Moo tak mengerti, memang apa yang mereka rasakan?
“Bagaimana perasaanmu?” tanya Dong Chi balik.
“Aku bingung.”
“Karena menurutmu orang yang seharusnya jadi terpidana ternyata saksi?”
Yeol Moo jujur berkata kalau itu memang alasannya. Dia berharap mendapat atasan yang lain dan sekarang saksi mungkin tak ada hubungannya dengan Sang Adik. Ini membuatnya frustasi, merasakan selama 10 tahun dan tak ada apapun yang bisa ia tangani. Cuaca sudah dingin  Yeol Moo masih merasa belum berguna. Semua atasan berakhir mati, dan tak ada orang yang bisa menjadi sandaran.

“Bersandar padaku. Aku sangat kompeten. Anggap aku sebagai pilar terakhirmu, dan bersandarlah padaku. Saat kau mengalami ke-buntuan, kembali ke titik awal. Itulah aturan pertama dalam penyelidikan. kita kembali ke awal dan memecahkannya bersama-sama.” Tawar Dong Chi.
Yeol Moo menatap Dong Chi dalam, dia memiliki rasa penyesalan karena telah salah paham dan menganggap Dong Chi sebagai pelakunya. Bagi Dong Chi, itu bukanlah masalah. Malah dengan ini membuat Yeol Moo tak melupakannya.




Keduanya kembali melanjutkan perjalanan, Yeol Moo bergumam mempertanyakan bagaimana dengan keadaan anak pemilik sepatu itu kira – kira. Apa dia kembali ke rumah dengan selamat?
Dong Chi jadi berfikir, apa benar anak itu adalah Han Byul sedangkan Yeol Moo tak melihat wajahnya secara jelas karena kebakaran lagipula mereka tak melakukan otopsi.
Yeol Moo terkesiap, kalau memang bukan. Lalu dimana Han Byul?



Scene beralih menuju Kang Soo yang sedang mandi dengan memejamkan matanya. Ia menggeleng kasar ketika mengingat saat ia tenggelam. Kang Soo mencoba mengenyahkan pikirannya tersebut tapi ia tak bisa dan terus membayang dibenaknya.



*****
Jaksa Moon menemui seorang pria yang tengah bermain biduk, keduanya saling berbasa – basi sampai akhirnya pria tadi berkata kalau dia memang sudah menunggu jaksa Moon. Jaksa Moon meminta pada pria tadi untuk menghubunginya saja tapi Pria Biduk tak mau karena berarti itu bukan lagi diam – diam. Lagipula, tak menelfon pun mereka mempunyai sesuatu untuk dibicarakan. “Tadi malam sedikit aneh, bukan?”
Jaksa Moon membenarkan, bahkan pengacara pun terlibat dalam insiden ini. Pria Biduk mengibaratkan kalau rumahnya dan rumah sang musuk memiliki jurang pembatas. Maka Jaksa Moon harus memilih sisi mana yang akan ia ikuti. Apakah akan ikut bergabung dengan pemenang atau akan melihat situasi dari luar saja.



“Ya, itu benar. Ya. Tetapi jika anda menempatkan taruhanmu ditempat yang tak seharusnya. anda akan melakukan sedikit perbaikan.”
Itulah sebabnya Pria biduk menanti Jaksa Moon karena hanya ada dua pemain dalam biduk. Dia memiliki tugas yang berbeda dengan Jaksa Moon maka ketika ia jatuh, bukankah ada peran yang harus Jaksa Moon lakukan?
Jaksa Moon benar – benar tak mengerti karena pusat telah mengambil alihnya.
“Jika kau mengguncangkan karpet, tak hanya ada satu partikel kotoran. kau memegang lebih banyak kotoran di tanganmu.”



Jaksa Moon tak cukup yakin, dia mungkin memegang dua kotoran tapi tak dengan dua kotoran lainnya. Dengan santai pria biduk siap untuk mengatasi dua kotoran lainnya.
“Direktur klinik operasi plastik orang yang sedikit susah diatur. Tapi tidakkah Majelis Nasional sedikit sensitif? Bukankah akan menyebabkan banyak bencana pada tim-ku jika kita terlibat dalam hal ini?”
Pria biduk begitu santai, kalau sampai lawannya kalah maka ia menang. Saat ia menang, Tim Jaksa Moo tak akan mendapat bencana. Jika ia sampai dipuncak maka tak akan ada konsellor lagi disana.



*****
Kang Soo selesai mandi, ia bertemu dengan Chan yang duduk ditangga. Kang Soo bertanya apakah Chan sedang menunggunya? Chan menjawabnya dengan anggukan tapi dia tampak menyembunyikan sesuatu dibalik punggung.
Kang Soo meminta Chan menunjukkan apa yang ada dipunggung Chan tapi dia hanya diam. Kang Soo bertingkah so’ imut sampai akhirnya Chan luluh dan menunjukkan selebaran Jajangmyung.
“Apa kau ingin jajangmyun?” tanya Kang Soo. Chan pun mengangguk tapi Kang Soo agak bingung, kalau mereka makan jajangmyun pasti nenek marah. Seketika Chan berubah muram. Kang Soo menyadari hal itu, ia mengajak Chan untuk memberitahukan nenek kalau mereka akan makan jajangmyun.
Chan mengagguk semangat. Mereka berdua menautkan jari kelingkingnya sebagai perjanjian.


Chan dan Kang Soo keluar dari rumah untuk mencari jajangmyun tapi dia malah berpapasan dengan Ibu Yeol Moo. Kang Soo menawarinya untuk masuk ke dalam rumah karena diluar dingin sedangkan Jaksa Han sedang keluar.
Ibu Yeol Moo menolak, dia kesana bukan untuk menemui Yeol Moo. Dia kemudian menatap Chan yang bergandengan tangan dengan Kang Soo.
“Apa anda keisini untuk bertemu Chan?”
“Aku berpikir untuk memberinya ini. Aku dari department store, dan aku terus memikirkannya.”




Ibu Yeol Moo berniat menyentuh Chan tapi dia takut dan bersembunyi dibalik punggung Kang Soo. Kang Soo mengajari Chan untuk mengucapkan terimakasih tapi dia malah semakin takut.
Kang Soo tak enak hati melihat Ibu Yeol Moo, Chan memang pemalu. Dia mempersilahkan Ibu Yeol Moo untuk masuk rumah karena sudah disini. Kang Soo permisi pergi.
Baru beberapa langkah, ia kembali berbalik. “Ngomong-ngomong, apa anda sudah makan? Apa anda ingin ikut dengan kami?”
Ibu Yeol Moo yang sempat tertegun akhirnya mengangguk setuju.



*****
Dae Gi sudah tahu akan masalah yang dihadapi oleh Kwang Mi dan Jang Won. Ini kasus yang sulit ditangani. Maka dari itu, Jang Won meminta Dae Gi untuk membantu mencarikan solusi.
Dae Gi tahu jalannya. Mereka harus berlutut dan memohon maaf, dia rasa korban melakukan ini karena merasa telah direndahkan oleh Jang Won maka cara termudah adalah dengan meminta maaf untuk menurunkan kemarahan.
Berlutut. Meminta  lalu bawa kembali file yang ada ditangannya.
Kwang Mi mengusulkan untuk mendekati saja keluarganya. Dae Gi tak yakin karena kebanyakan keluarga akan berpihak pada anggotanya. Dae Gi kesal, kalau mereka memang tak mau maka dia akan memohon.




Kwang Mi terbelalak, ia melarang Ayah melakukan hal itu. kenapa ayah yang memohon?
“Tentu saja aku harus memohon! Putriku sudah membuat kesalahan.”
Kwang Mi merasa benar hanya saja dia terjerat oleh Jang Won dan tidak membuat kesalahan karenanya.
“kau tidak melakukan kesalahan? Apa bagusnya yang sudah kau lakukan begitu percaya diri? Berbaring dengan ayahmu dan pergi ke klub, bukankah itu kesalahan? kau jadi seorang detektif dan bahkan tak bisa mengendalikan pangkat jaksa-mu. Itu juga kesalahan!” bentak Dae Gi.



Jang Won beralih kesisi Dae Gi, ia setuju dengan usulan itu dan mengajaknya untuk berlutut bersama. Dae Gi menggaruk kepala yang tak gatal. “Saat aku mengatakannya, aku hanya mencoba untuk membuat titik terang. kau tidak bisa menyeretku  dan membuatku berlutut. Bukankah itu merusak kompetensi-ku sebagai jaksa?”
Dae Gi mengajak Jang Won untuk pergi sedangkan Kwang Mi ogah – ogahan untuk melakukannya.



*****
Jang Won dan Kwang Mi sudah menanti Young Min didepan rumah makan tempatnya bekerja tapi dia kerja malam. Kwang Mi mengajak Jang Won untuk menjemputnya dirumah saja.
Jang Won menolak karena saran Dae Gi, dia tak mau.
Tak selang berapa lama, sebuah pesan masuk ke ponsel Jang Won, ia mendapat sebuah foto yang menunjukkan sebuah gerobak. Ia berfikir kalau file –nya telah dibuang. Keduanya terkejut, mereka harus mendapatkannya.



*****
Chan makan dengan lahap Jajangmyun-nya. Ibu Yeol Moo memperlakukan Chan seperti anaknya sendiri, ia mengelap mulutnya yang belepotan oleh saus kacang hitam.
Pelayan menghidangkan makan dan menyuruh mereka untuk makan yang banyak karena ia telah memerintahkan untuk menyajikan makanan dengan porsi besar untuk mereka.
“kau pasti sangat bangga karena memiliki seorang putra yang tampan. Tak seperti kebanyakan anak-anak seusianya, dia membawa ibunya untuk makan jjajangmyun. Dia baik dan begitu tinggi.”
Wajah Ibu Yeol Moo berubah sendu namun hanya membenarkan saja ucapan pelayan tersebut.




“Itu, mengenai dia 15 tahun yang lalu. Berapa umurmu?” tanya Ibu Yeol Moo.
Kang Soo memberitahukan kalau umurnya adalah 22 tahun. Ibu Yeol Moo menceritakan kalau mungkin Byul umurnya 21 tahun. Tapi Kang Soo sangat tampan. Ia penasaran apakah Byul akan setampan Kang Soo. Atau lebih tampan? Apa dia lebih tinggi juga?
Kang Soo memastikan kalau putra Ibu Yeol Moo pasti akan seperti itu.
“Tentu saja dia seperti itu. Dia anakku.” Ucap Ibu Yeol Moo menahan kesedihan setelah mengenang kembali kenangannya bersama putra tercinta.



Mereka selesai makan. Kang Soo mengucapkan terimakasih atas makanan yang telah Ibu Yeol Moo bayarkan tadi. Ia mengajaknya untuk bertemu Yeol Moo juga tapi Ibu menolak.
Ibu Yeol Moo dengan perhatian membetulkn lagi jaket yang dikenakan Chan dan Kang Soo, ia menyuruh mereka untuk pulang karena hari yang begitu dingin. “Lain kali, aku juga harus memberikan sesuatu untuk-mu Detektif Kang.”
“Tak usah.”
“Bahu-mu begitu lebar. kau punya lengan panjang. Apa pun yang kubawa mungkin takkan cocok.”
Keduanya pun berpisah.



Saat mereka berjalan saling berlawanan arah, Ibu Yeol Moo kembali menoleh dan melihat bagaimana Chan dan Kang Soo yang begitu akrab. Gurat kesedihan kembali menyeruak dan seolah tak ingin berpisah juga dari keduanya.



*****
Kang Soo memakaikan pakaian yang dibelikan oleh Ibu Yeol Moo pada Chan dan tampak begitu pas dengan tubuh Chan. Wah! Chan tampak keren. Pujinya.
Dong Chi dan Yeol Moo pulang, Kang Soo bertanya apakah Yeol Moo bertemu dengan ibunya? dia baru saja dari sini. Dia membelikan pakaian untuk Chan. Saat diajak untuk masuk, Ibu Yeol Moo menolak.
“Apa yang dia rasakan? Apa dia benar-benar bahagia?”
“Tidak. Dia tampak sedikit sedih. Dia juga tak banyak bicara.”
Yeol Moo bertanya kemana Ibu-nya pergi? Kang Soo menunjuk jalan utama, Ibu Yeol Moo menunju kesana.


Tanpa pikir panjang Yeol Moo bergegas untuk mengejar ibunya. Kang Soo berniat mengejar Yeol Moo tapi ditahan oleh Dong Chi. Ia tanya kemana Kang Soo akan pergi? Jaksa Han sudah dewasa jadi sekarang mereka hanya perlu memperhatikan Chan.
Dong Chi membopong Chan, saat keduanya asik. Kang Soo diam – diam berjalan menuju ke dekat jendela.



Kang Soo memperhatikan Yeol Moo yang panik mencari ibunya sedangkan Dong Chi yang sadar akan kepergian Kang Soo pun mengikuti. Ia menatap heran saat Kang Soo melongok keluar jendela dengan khawatir.



*****
Jang Won dan Kwang Mi harus mencari file –nya di tong sampah namun sudah berapa lama disana belum juga ada tanda adanya file tersebut. Keduanya mulai putus asa sampai akhirnya ada sebuah pesan gambar masuk lagi.
Jang Won terkejut melihat difoto ada seorang kakek yang mendorong gerobak sampah dan filenya ada disana.


Mereka berlari mencari sang kakek dan gerobaknya. Yap. Kakek itu sedang mendorong gerobaknya dengan susah payah dan mereka berhasil mengejar.



“Apa anda mengambil sampah di akademi sana? Kami tak sengaja membuang sesuatu yang penting.”
Kakek pembawa gerobak mengerti, dia dengan ikhlas memberikan barang yang sudah didapatkannya dengan Cuma – Cuma. Hampir saja mereka menghilangkan bende berharga. Kakek hendak melanjutkan jalannya tapi Kwang Mi menahan. Ia tanya berapa kira – kira yang didapat kakek dengan berang tersebut. Mereka akan menggantinya.
Kakek menolak. Akan mahal untuk mereka. Kwang Mi tetap kekeuh dan kakek menjawab kalau harganya 600 won. Mahalkan? Mereka bisa membeli ramen dengan itu.
Jang Won tersenyum agak remeh namun ia kemudian memberikan selembar uang. Kakek akan memberikan kembalian, Kwang Mi menolak. Kakek bisa membeli makan enak untuk nanti malam. Kakek masih berniat menolak namun Kwang Mi memaksa.
Jang Won yang sempat meremehkan jadi terdiam. sepertinya dia tahu betapa berharganya uang segitu untuk orang seperti kakek tersebut.



*****
Yeol Moo kembali ke rumah, dua pria yang menantinya langsung bertanya apakah Yeol Moo berhasil bertemu dengan ibunya?
Yeol Moo tersenyum manis, ia tak berhasil bertemu dengannya tapi ia berhasil menelfonnya karena ibu sudah naik bus.
Dong Chi pun berjalan menuju ke arah kulkas dengan diikuti Yeol Moo. “Jadi kau tak perlu khawatir. Ibuku bilang dia akan meneleponku saat dia sampai rumah. Aku hanya harus menunggu kabarnya.”
Dong Chi mengerti, ia menawarkan bir tapi Yeol Moo menolak. Sedangkan Kang Soo yang sendirian menatap mereka dengan penasaran. Sedangkan Dong Chi bisa menangkap gelagat aneh dari Kang Soo lagi.



*****


0 Response to "Sinopsis Pride And Prejudice Episode 9 – 1"

Post a Comment

Jangan lupa komentar yaah^^ biar aku lebih semangat dalam membuat postingan. Meskipun jarang bales tapi semua komentar selalu aku baca kok.. *serius*

Gomawo^^