Sinopsis High School: Love On Episode 19 – 2

Sinopsis High School: Love On Episode 19 – 2
Seusai bermain, mereka bertiga duduk sambil memperhatikan orang -  orang berlalu lalang. Woo Hyun dan Seul Bi tak sengaja saling berpandangan hingga bermain berdua tanpa memperdulikan Sung Yeol. Sung Yeol menggeliat sambil menguap, Seul Bi tersadar telah mengacuhkan Sung Yeol. Seul Bi dan Woo Hyun pun mengikuti apa yang yang dilakukan Sung Yeol.
Muncul ide jahil Seul Bi, dia berjongkok dan mengikat tali sepatu Woo Hyun dan Sung Yeol lalu meninggalkannya.


Keduanya meminta dilepaskan tapi Seul Bi malah meledek. Coba saja tangkap aku!
Woo Hyun menatap Sung Yeol.
“Apa? kau ingin menciumku atau sesuatu?” tanya Sung Yeol sebal. Woo Hyun menyindir Sung Yeol yang pintar. Dia menyuruh Sung Yeol untuk mendekat tapi karena tali sepatu yang terikat, saat Sung Yeol mendekat. keduanya pun jadi jatuh, bahkan saling menindih.


Sung Yeol memberikan Woo Hyun dan Seul Bi kopi. Woo Hyun kira kalau kopi Rasa Mbayar (Ga Usah Bayar. Gratis) itu rasanya yang paling enak. Seul Bi membenarkan ucapan Woo Hyun tapi segera ditolak oleh Sung Yeol. Terakhir kali dia membeli kue beras ditempat Woo Hyun, lalu membayar ini dan itu. totalnya 23000 won.
“WOW. Dia pintar!” Puji Seul Bi.
“Ini bukan pintar. Ini pelit.” Sergah Seul Bi.
“Apa itu pelit? Kosakata manusia memang sulit.”



“kau begitu pelit!” ejek Woo Hyun dan Seul Bi bersamaan. Keduanya lalu bermain berdua meninggalkan Sung Yeol. Sung Yeol yang tadi bercanda berkata akan membunuhnya malah tersenyum melihat mereka bahagia.



Sung Yeol: Woo Hyun, aku pikir aku menyukaimu sebagai temanku. Mungkin kita ditakdirkan untuk memiliki ibu yang sama. Maaf, aku telah membuatmu tak bisa memanggil ibumu. Panggillah Ibumu dengan lantang mulai sekarang. Juga merawatlah ayahku.
Woo Hyun dan Seul Bi memanggil Sung Yeol yang masih termenung, ia mengajaknya untuk bermain bersama.



Sekarang mereka bertiga pergi ke kotak pos tapi disana akan mengirimkan pesan mereka setelah 1 tahun dikirimkan. Woo Hyun tanya apakah surat itu akan dikirim setelah satu tahun?
“Ini sangat keren dan romantis.”
“Mengatakan cintamu sekarang untuk tahun depan. Untuk apa mengatakan tahun depan kalau sekarang pun bisa mengatakannya.”
Woo Hyun bertanya pada Sung Yeol yang ia kira melakukan seperti apa yang ia dan Seul Bi bicarakan. Sung Yeol segera menutupi suratnya, ini rahasia!!



Woo Hyun mencoba ingin melihat. Sung Yeol dengan sigap menuju kotak pos untuk memasukkan suratnya. Plung! Woo Hyun menggerutu kesal.
“Kau tak bisa melihat surat cinta!” ledek Seul Bi saat memegang suratnya. Woo Hyun semakin penasaran dengan surat Seul Bi namun oleh Seul Bi ia lemparkan pada Sung Yeol untuk dimasukkan kotak pos.
Plung! Semuanya sudah masuk dan Woo Hyun tak berhasil membacanya.


Sung Yeol mengkhawatirkan Seul Bi yang ada dikamar mandi, dia tanya apakah Seul Bi tak akan tidur dikamar mandi? Woo Hyun yakin kalau Seul Bi tak akan tertidur karena dia belakangan tak seperti itu. Sung Yeol masih belum yakin, kenapa kau begitu yakin?
“Saat dia terluka maka aku juga terluka. Itulah cara kerjanya.”
Sung Yeol tertunduk mendengar penuturan Woo Hyun. Tapi Woo Hyun meminta agar Sung Yeol jangan begitu, dia juga merasa kasihan pada Sung Yeol. Dia tanya apakah Sung Yeol akan kembali?
“Aku tidak pernah pergi. Aku selalu ada. Kalian berdua adalah orang-orang yang melarikan diri.” Tukas Sung Yeol.
Woo Hyun hanya tersenyum, kau sangat berani! Oh Ya, besok ulang tahun Ibu Ahn. Aku harap kau membawa ayahmu.


Seul Bi kemudian datang. Ia meminta maaf telah membuat menunggu. Tanpa sengaja saat menoleh Seul Bi melihat orang yang berfoto, ia kemudian mengajak keduanya untuk berforo bersama. Woo Hyun menolak tapi lengannya ditahan Sung Yeol. “Ayo berfoto sebelum kau menyesal.”
Mereka pun berfoto dengan senyum mengembang dipipi mereka.


*****
Sepertinya hari ini kedai begitu ramai, Ki Soo menanyakan keberadaan Seul Bi.
“Keinginan mereka akhirnya menjadi kenyataan. Mereka pergi dengan sendirinya.” Tukas Byung Wook.


Young Eun menyambangi kedai dan Ki Soo yang menyadari kehadiran Young Eun langsung mengampirinya, ia menanyakan kondisi Hye Eun. Young Eun mengangguk. Ki Soo berubah girang bukan main dan tanpa sadar meraih tangan Young Eun.
Young Eun mengucapkan terimakasih juga.
“Baik! Ki Soo benar-benar khawatir.” Celetuk Byung Wook.
Ki Soo mengelak kalau dia sudah mengkhawatirkan Young Eun. Seorang memesan seporsi kentang goreng pedas. Young Eun dengan sigap menghampirinya dan memesankan pada Joo Ah.



“Bukankah kau akan bekerja?” tanya Young Eun pada Ki Soo yang terpaku.
“Kau membenci karena seseorang juga yah?” tanya Joo Ah.
Young Eun beralasan kalau dia tak akan bisa membiarkan hutang budi karena membebani maka dia akan bekerja keras.
“Uapi cucian taplak. Masukkan piring ke mesin pencuci piring. Lap lantai dengan pembersih lalu keringkan dan bersihkan setelah itu.”
Ki Soo tak terima karena itu sangat banyak, mana bisa Young Eun menyelesaikannya sendiri. Byung Wook asal ceplos menyuruh Ki Soo saja membantu Young Eun.
Ki Soo dengan pelan menunjuk lengan Young Eun, entah apa maksudnya tapi kontan membuat Young Eun kesal dan memukul Ki Soo.



*****
Woo Hyun kembali kerumah, ia mendapat rentetan pertanyaan dari Ji Hye. Bagaimana perjalanannya? Apa sesuatu terjadi?Apa kau sudah makan malam? Apa yang kau lakukan? Apa kau memiliki cukup uang?
Woo Hyun menyunggingkan senyum bahagia. Ternyata dia juga bisa merasakan pertanyaan yang selalu anak lain rasakan tiap hari. Ji Hye meminta maaf.
“Aku juga ingin mendengarkan itu setiap hari. Dan Sung Yeol, kau tak perlu mengkhawatirkannya. Dia sudah kembali.”


Ji Hye merasakan kasihan juga pada Sung Yeol, dia sudah melakukan banyak hal untuk Sung Yeol tapi tak pernah bisa memberikan hatinya. Namun pada Woo Hyun, dia tak melakukan apapun tapi dia memberikan hatinya. Terimakasih telah tumbuh dengan baik.
“Aku tahu kau ingin melakukan semua dengan baik, aku tak mungkin tumbuh menjadi buruk.” Ucap Woo Hyun. “Kau harus datang untuk perjalanan berikutnya.”
Ji Hye bisa tersenyum sekarang, dia sudah semakin dekat dengan Woo Hyun.



*****
Sepanjang perjalanan pulang, Seul Bi terus saja menunjukkan senyumnya. Sung Yeol tanya apakah Seul Bi sangat senang hari ini?
Seul Bi membenarkan karena dia sudah bisa melihat Woo Hyun dan Sung Yeol kembali. Ini seperti Sung Yeol.
“Apa yang menjadi seperti diriku?”
“kau seperti payung pada hari-hari hujan dan warna pada hari yang cerah. Angin sejuk di hari yang panas.”  Gambar Seul Bi. Sung Yeol tanya apakah Seul Bi tak membencinya setelah apa yang ia lakukan?


Seul Bi berjalan mundur dihadapan Sung yeol, ia menyadari posisi sulit Sung Yeol. Tanpa sengaja Seul Bi malah hampir terjatuh namun beruntung Sung Yeol sigap menangkapnya.
“Tidak ada yang hilang. kau adalah tipe yang menangkapku di mana pun aku jatuh. Terimakasih karena kau tak terluka hari ini. Semuanya sempurna jika kita membuat Ibu Ahn dan Pak Hwang kembali bersama-sama.”



*****
Woo Hyun sedang belajar, ponselnya bergetar menerima pesan dari Seul Bi. Seul Bi mengirimkan foto mereka bertiga dan memuji Woo Hyun yang tampak baik di foto.
Woo Hyun balik memuji, Seul Bi yang terlihat lebih baik. Dia kemudian menatap foto tersebut lekat – lekat. Seul Bi tampak lebih cantik kalau tersenyum. Memiliki mata sedih saat tersenyum.



*****
Makan malam dikeluarga hwang tampak sepi. Sung Yeol meminta ayahnya untuk berubah dan berhenti menjadi pria yang keras. Ayah sebelumnya berkata kalau pria sejati adalah pria yang mau belutut dihadapan keluarganya.
“Apa kau meracuninya?” ledek Woo Jin dengan bertanya pada Seul Bi.
“Yah aku racuni makanannya. Satu sendok teh cinta dan rekonsiliasi. Lalu satu sendok teh pengampunan.” Canda Seul Bi.
Sung Yeol meminta ayahnya mentraktir mereka. Bukan masalah bagi Woo Jin, dimana?
“Kami akan memberitahukannya nanti.” Jawab Seul Bi sambil melirik kearah Sung Yeol. Keduanya tersenyum merencanakan sesuatu.



Woo Jin khawatir dengan perubahan sikap Sung Yeol lagi, dia takut kalau ada masalah. Apa kau butuh uang?
“Aku akan mengambil uang tapi aku tak punya masalah. Tapi aku berencana untuk membuat masalah.”
Woo Jin memperingatkan Sung Yeol jangan sampai memukul orang lagi atau dia akan menguncinya.
“Ayah!” panggil Sung Yeol saat Woo Jin hendak masuk ke mobil. “Aku suka melihatmu terluka saat mengejar buronan. Tapi jangan terluka lagi dan berjalan terlalu jauh. Kau harus memikirkan usiamu.”
Woo Jin senang, dia menepuk pundak Sung Yeol. Dia masih sehat dan ia juga merasakan senang saat Sung Yeol telah kembali sepertinya yang dulu.



Woo Jin melajukan mobilnya, Sung Yeol masih menatap kepergian sang Ayah dengan penuh kenangan. Kilasan akan kebersamaan mereka terekam jelas dalam ingatan Sung Yeol. Ayah yang selalu ada disisinya, disaat terburuk maupun terbaik. Selalu menyediakan pundak untuknya bersandar dan mau berbagi duka saat menangis.


“Ayah, aku minta maaf.” Batin Sung Yeol. Mungkin memang sulit baginya untuk mengucapkan secara langsung.


*****
Joo Ah berjalan sendirian, ia menerima panggilan dari seseorang. Tae Ho berniat mengejutkan Joo Ah dengan mainan yang dibawanya tapi mendengar ucapan Joo Ah ditelefon membuatnya berhenti.
“Aku tidak punya uang! kau berjudi sepanjang waktu dan mabuk – mabukan ! Aku tidak punya uang, terutama untukmu! Maaf!” tegas Joo Ah mengakhiri panggilannya.



Joo Ah tersadar ada seseorang yang ada dibelakangnya. Tae Ho yang terpaku tak bisa berkata apa – apa, dan mainan yang dibawa Tae Ho malah meluncur dan mengenai dahi Joo Ah. Tae Ho semakin merasa bersalah, dia telah membuat Joo Ah sakit disaat merasa sakit.
Tae Ho menyuruh Joo Ah memukulnya. Dia menarik tangan Joo Ah lalu memukulkan ke dadanya. Joo Ah tertunduk menangis.


“Kau tahu aku pandai memukul. Kau ingin aku mengeluarkan kupon yang bisa digunakan dari waktu ke waktu?” tawar Tae Ho.
Joo Ah diam namun ada sedikit senyum diujung bibirnya.
“Kau tersenyum! Yak. Kau tersenyum!” Ledek Tae Ho mencoba mencairkan suasana.


*****
Seul Bi, Sung Yeol dan Woo Hyun pun membawa Ji Hye dan Woo Jin untuk bertemu dihari ulang tahun Ji Hye. Keduanya canggung satu sama lain dan Woo Hyun mencoba mencairkan suasana.
“Ehmm. . . Aku tak setuju dengan perceraian ini.” Ucap Woo Hyun memecah kecanggungan.
“Aku juga.” Timpal Sung Yeol.
“Kami bertiga.” Imbuh Seul Bi.
Woo Jin heran dengan sikap mereka, kenapa dengan kalian?



Woo Hyun mengatakan Ji Hye selalu mengkhawatirkan Woo Jin dan Sung Yeol tapi Woo Jin tak pernah datang. Woo Jin ngeles, dia sedang dalam misi pengintaian.
“Kau seharusnya mengintai di hatinya! Oh! Bekerja lebih penting?” sindir Woo Hyun.
“Aku benci seseorang yang  menyerah sebelum mencoba. Bercerai dengan masa pensiun lebih baik.” Imbuh Sung Yeol.
“Dewasa memberitahu kami untuk tidak menyerah. Tapi mereka selalu cepat menyerah.” Tambah Seul Bi.
Ke –limanya pun sekarang tersenyum mendengar ucapan terakhir Seul Bi.




Dalam perjalan pulang, Woo Hyun memberikan tangannya untuk bersalaman. Dia mengaku telah menjadi kakak Sung Yeol. Sung Yeol tak percaya begitu saja, lebih tua berapa bulan?
“Maaf kalau aku lahir lebih dulu.” Ledek Woo Hyun. “Seul Bi, bukankah aku mengatakan kalau tanganku itu mahal?”
“Genggam itu. Dia akan tetap bersamamu saat tersandung dan membuatmu bahagia.”
Sung Yeol ragu untuk meraih tangan Woo Hyun sampai – sampai hanya menampik tangannya. Woo Hyun gak mau membiarkan hal itu terjadi begitu saja. dia pun menarik Sung Yeol kedalam pelukannya.


Sung Yeol kesal dan melepaskan diri. Dia akan memukul Woo Hyun tapi Woo Hyun berdiri dibalik punggung Seul Bi.
“Apa kau akan memukulku?” tanya Seul Bi mengedipkan mata manja.


*****
Seul Bi duduk bersama dengan Woo Hyun ditaman, apa sekarang mereka sudah bisa tinggal bersama?
Woo Hyun hanya mengeluh kalau dia sulit tidur bersama dengan Sung Yeol yang memiliki kebiasaan buruh saat tidur. Seul Bi menyarankan Woo Hyun agar tidur memeluknya saja seperti yang biasa mereka lakukan.
Woo Hyun bergidik ngeri, tidak akan pernah! Oh yah, bagaimana dengan cederamu?
“Selama itu tidak melukaimu, Aku baik-baik saja.”


Woo Hyun mengeluarkan kalung gembok yang ia miliki. Andai saja juga punya kalungnya. Seul Bi mengeluarkan kalung Woo Hyun yang ia simpan.
“Dimana kau menemukan itu? Aku akhirnya bisa memiliki ini sepenuhnya.” Woo Hyun senang lalu memasangkannya ke leher Seul Bi.
Seul Bi terkejut, bukankah kalung tersebut adalah sebagian dari diri Woo Hyun.
 “Itulah sebabnya aku memberikannya padamu. Karena kau milikku.” Ucap Woo Hyun lalu menyuruh Seul Bi mengenakan kalung satunya untuk dia. Seul Bi senang karena pertama kalinya dia memiliki kalung.
“Ini adalah kalung keajaiban yang akan mempertemukanmu dengan seseorang yang harus kau temui. Ini akan membantu kita bersama.” Ujar Woo Hyun.


******
Woo Hyun duduk berdampingan dengan Ji Hye, ia mengucapkan selamat atas ulang tahun Ji Hye. Ji Hye menatap Woo Hyun sendu, dia melihat kalung milik Woo Hyun telah kembali.
“Kau mengatakan kalau ini adalah kalung keajaiban. Aku ingin tahu jika itu benar. Aku memberikan punyaku untuk Seul Bi. Aku pikir aku tidak pernah kehilangan itu karena Seul Bi menemukannya.”
“Kalian berdua sangat manis.” Puji Ji Hye.
Woo Hyun bangkit untuk ke kamar, ia mengingatkan Ji Hye untuk istirahat.


“Apa yang seharusnya aku  lakukan setelah melukaimu?” tanya Ji Hye.
Woo Hyun terdaim. Ia hanya meminta Ji Hye untuk membantu menyembuhkan lukanya. Dia juga ingin merasakan pelukan seorang ibu. Ia berterimakasih karena Ji Hye sudah melahirkannya ke dunia. Dan Woo Hyun juga sangat menyukai Sung Yeol.



*****
Sung Yeol membenahi pakaian dan beberapa barang miliknya. Entah apa yang ada dibenaknya atau bagaimana yang ia pikirkan. Sung Yeol menuju ke depan kamar Seul Bi tanpa memasukinya, “Selamat tinggal cinta pertamaku.”



Dalam kamarnya, Seul Bi tengah merenung. Sekarang semua orang sudah senang. Ia berharap kalau Sunbae juga bisa bahagia.


Sunbae rupanya mendengar ucapan Seul Bi, dia menatap Seul Bi dari kaca jendela kamar Seul Bi.
“Selama kau tidak kembali, Aku tidak akan pernah bisa kembali. Aku akan melakukan apapun dan membuktikan kalau cinta manusia bisa berubah. Aku akan melakukannya meskipun akan kehilangan segalanya.”
Sunbae menatap kepegian Sung Yeol seolah ada rencana yang akan dilakukannya.


Seul Bi masuk ke kamar Sung Yeol, dia akan menaruh pakaian yang telah ia lipat. Dia heran Sung Yeol tak ada orang namun ia terkejut saat membuka lemari tapi tak ada satupun pakaian yang tersimpan didalamnya.


*****
Woo Hyun berlari dengan kesal, dia sudah mendapat pesan dari Seul Bi kalau Sung Yeol pergi.
Hwang Seong Yeol, kau pengecut. Kemana kau pergi? Aku tidak berpikir aku bisa pergi setelah mengatakan selamat tinggal.” Benak Woo Hyun.


Sung Yeol menanti untuk menyeberangi jalan, “Aku akan merefleksikan diri dan belajar banyak hal untuk kembali menjadi orang baru.
Sunbae dari atas jembatan melihat kedatangan Sung Yeol, dia mengarahkan tangannya pada sebuah mobil yang berjalan kencang. Sung Yeol menyeberang tanpa menyadari mobil tersebut. Woo Hyun yang sudah sampai diseberang jalan menyadari akan mobil kencang tersebut.
Sung Yeol terkejut saat menoleh dan tepat saat itu Woo Hyun datang lalu mendorong tubuh Sung Yeol. Dan Seul Bi juga datang diwaktu bersamaan melindungi Woo Hyun.
Sunbae tak bisa diam saat Seul Bi hampir tertabrak, dia muncul dan mengeluarkan kekuatannya untuk menahan mobil tersebut. Apa yang terjadi?




*****
Ji Hye dan Woo Jin menanti didepan ruang gawat darurat dengan was – was.


Woo Hyun terbaring di bilik rumah sakit, ia mulai mengedipkan matanya sadar. Ji Hye terbangun dari tidurnya.
“Woo Hyun! Ini aku! Woo Hyun!”
“Bagaimana dengan Seul Bi dan Seong Yeol?” tanya Woo Hyun dengan lemah.



Sung Yeol kini terbaring dengan luka yang cukup parah. Tabung oksigen dan alat pendeteksi jantung melekat pada tubuhnya.
Woo Hyun sedih menatap Sung Yeol. Ia bertanya dimana Seul Bi?
“Dia tidak disini.”
Lutut Woo Hyun lemas seketika dan terjatuh ke tanah mendengar berita mengejutkan ini.



******


3 Responses to "Sinopsis High School: Love On Episode 19 – 2"

  1. tinggal satu episode lagi nih...
    meski udah baca preview ep. 20 tp tetep penasaran sama ending kisahnya Woo hyun & Seul bi...
    #fighting buat last episode nya ya mbakkk *salam kenal* :)

    ReplyDelete
  2. Ahhh ngak sabar nunggu ep 20nya����

    ReplyDelete

Jangan lupa komentar yaah^^ biar aku lebih semangat dalam membuat postingan. Meskipun jarang bales tapi semua komentar selalu aku baca kok.. *serius*

Gomawo^^