Sinopsis High School: Love On Episode 19 – 1

Sinopsis High School: Love On Episode 19 – 1
Woo Hyun berlari menghampiri rumah Sung Yeol, dia melihat ada Jae Suk yang hendak melihat tanda dipergelangan tangan Seul Bi. Woo Hyun menarik Jae Suk lalu memukulnya. Jae Suk yang dasarnya emang pengecut kek –nya, dia langsung pergi tanpa melawan.
Woo Hyun membopong Seul Bi yang tak sadarkan diri. Ia menggedor pintu dengan panik.


Rupanya Sung Yeol sudah ada dibibir pintu tapi kondisinya juga begitu lemas. Dengan tenaga yang tersisa, ia membuka pintu untuk Woo Hyun. Saat pintu terbuka, Sung Yeol pun juga pingsan.


High School: Love On Episode 19
Selamat tinggal? Untuk kembali lagi


Woo Hyun dan Seul Bi membawa Sung Yeol ke rumah sakit. Woo Hyun tanya apakah Seul Bi benar baik – baik saja?
Seul Bi mengangguk meyakinkan. Kini Sung Yeol terbaring, mungkin saat ini ia tengah tertidur setelah menerima perawatan.
“Dia pasti kelelahan saat mengejarmu. Ia sudah tidur untuk sementara waktu.” Ujar Woo Hyun menatap Sung Yeol.




Dalam alam bawah sadar Sung Yeol, ia mengingat kembali ulasan singkat kebersamaannya bersama Woo Hyun dan Seul Bi. Kebersamaan yang penuh akan canda dan tawa. Kebersamaan yang mungkin tak akan terganti itu. mungkinkah dia merindukan masa – masa ini yang tanpa sadar terbawa hingga alam bawah sadarnya?


Sung Yeol perlahan membuka matanya dengan lemah, Woo Hyun dengan penuh kekhawatiran bertanya apakah Sung Yeol sudah sadar? Apa dia baik – baik saja?
Sung Yeol yang lemah belum bisa berucap dan hanya meliat kearah Woo Hyun dan Seul Bi dalam diam.



Ji Hye berlari menuju ke rumah sakit, dia khawatir sekali dengan kondisi Sung Yeol. Dihampirinya ia, “Apa kau baik – baik saja? Kenapa menunggu? kau harus mengatakan kepadaku bahwa kau sakit.”
Ji Hye mengusap dahi Sung Yeol dengan panik sedangkan Sung Yeol menatap kearah sendal Ji Hye. Dia pasti terburu – buru hingga tak sempat untuk mengganti sendal yang ia kenakan. Dengan lemah Sung Yeol hanya mengangguk.
Ji Hye juga mengucapak terimakasih pada Woo Hyun yang sudah mengantarkan Sung Yeol.



Seul Bi: Untuk manusia, ibu adalah orang-orang yang mendapatkan terluka pertama, tersenyum pertama, dan menangis pertama. Memiliki seorang ibu berarti semuanya akan segera baik-baik saja.


Diruang tunggu rumah sakit, Woo Hyun melepaskan sepatunya untuk dikenakan oleh Ji Hye. Ji Hye tak menyangka Woo Hyun melihatnya tapi dia menolak, biar Woo Hyun saja yang menggunakan sepatu itu.
Woo Hyun tetap mengenakkan sepatunya ke kaki Ji Hye. “Bu Ahn, aku senang mengetahui kalau anda adalah manusia yang baik.”
Ji Hye tertunduk mendengar penuturan putranya. (Menyadari bahwa dirinya sudah berlaku buruk pada Woo Hyun.)


Seul Bi memapah Sung Yeol yang lemah dengan wajah pucatnya. Sung Yeol terdiam melihat interaksi antara Woo Hyun dan Ji Hye.


*****
Digelapnya malam, Sung Yeol sudah tertidur nyenyak dikamarnya dengan Woo Jin menemani Sung Yeol. Dia menggenggam tangan Sung Yeol dengan penuh kasih sayang.
“aku berharap bahwa aku bisa sakit sebagai gantinya. Seong Yeol! Ayo bangun. aku merasa kesepian juga! kau harus lebih banyak beristirahat.” Tutur Woo Jin dengan sedih.


Woo Jin pun meninggalkan Sung Yeol untuk tidur. Namun rupanya Sung Yeol masih terjaga, dia meneteskan air mata tanpa sepengetahuan ayahnya.


Pagi harinya, Sung Yeol sudah mendingan dan ia berjalan menuju kamar ayahnya. Dia melihat foto ayahnya yang berdampingan bersama Ji Hye. Tanpa sengaja, ia melihat ada amplop dalam laci. Karena penasaran Sung Yeol membukanya dan menemukan ada surat perceraian disana. Sung Yeol terkejut.
Seul Bi yang sedang bersih – bersih akhirnya menghampiri Sung Yeol, dia mengingatkan kalau Sung Yeol harus istirahat. Sung Yeol cepat – cepat menyembunyikan surat perceraian Ayahnya tapi Seul Bi sudah melihat sekilas.
“Mereka akan bercerai?”



Sung Yeol rasa ini semua karena salahnya sehingga mereka akan bercerai. Seul Bi kira alasan seperti itu sungguhlah konyol, lagipula dalam drama kertas bukanlah berarti apa – apa. Mereka akan menemukan jalan.
“Tapi, kenapa kau masih disini?”
“Aku akan mengembalikan senyummu. Aku akan tinggal disini sampai aku bisa menyembuhkan lukamu. Usahakan kau segera tersenyum kalau kau tak ingin melihatku disini. Kita akan menemukan jalan agar semua orang bahagia, kau kan pintar. Itu adalah yang aku dan Woo Hyun paling ingin lihat.” Jelas Seul Bi.



*****
Woo Hyun menemui Jae Suk, dia bertanya apa maksud Jae Suk. Apa dia mau melihat Seul Bi menghilang?
Jae Suk menyalahkan Seul Bi dan melimpahkan semua yang terjadi sebagai salah Seul Bi. Woo Hyun heran dengan sikap egois Jae Suk, apa karena dia tak punya teman?
“Aku tidak membutuhkan teman.” Elak Jae Suk namun wajahnya menampakkan raut sedih.
“Apa itu sebabnya kau begitu tertarik pada urusan orang lain ? Bukankah kau menjadi pengganggu karena kau ingin memiliki teman?”



Jae Suk mengelak tudingan Woo Hyun. Baik, Woo Hyun menerima elakkan Jae Suk tapi dia harus hidup sendiri selama hdupnya karena tak akan ada yang perduli dengan Jae Suk. Woo Hyun benar – benar tak percaya, disaat Seul Bi mengkhawatirkan Jae Suk juga tapi malah sikap Jae Suk seperti ini.
“Tanpa dia, kau akan sendirian selama sisa hidupmu.” Tegas Woo Hyun.


*****
Seul Bi sedang bersama Sung Yeol ditangga. Woo Hyun yang lewat bertanya dengan canggung, apakah Sung Yeol sudah baik – baik saja?
“Kenapa? Kau pikir aku tak akan kesekolah?”
Woo Hyun senang sekali tampaknya, Sung Yeol sudah banyak bicara. Dia sudah kembali. Woo Hyun pun kemudian menarik Seul Bi agar berdiri disampingnya.
“kau sangat kekanak-kanakan.” Sindir Sung Yeol.
“kau adalah orang yang paling kekanak-kanakan yang pernah aku tahu!” tunjuk Woo Hyun pada Sung Yeol. Sung Yeol geregetan karena woo Hyun menunjuknya, ia pun menekuk telunjuk Woo Hyun dengan kasar.



Woo Hyun mengaduh tapi kemudian meraih tangan Sung Yeol. Dia memasangkan kain orange yang digunakan dia dan anak – anak untuk mengikat pergelangan tangannya.
“Semua orang melakukannya. Ikuti tren, ya? Aku mengikatnya dengan ketat sehingga kau tidak akan pernah melepaskannya.”



Sung Yeol galau saat menatap ke pergelangan tangannya, dia berkata Ayahnya dan Ibu Ahn mungkin akan bercerai. Dia meminta agar Woo Hyun mau membujuk Ibu Ahn dan dia akan membujuk ayahnya.
“Bukankah itu yang kau inginkan?” tanya Woo Hyun namun segera dibalas cubitan oleh Seul Bi dilengan Woo Hyun. Dia mengancam akan melaporkan mereka.
“Pada siapa?” tanya Sung Yeol tak takut.
“Ayahmu adalah satu-satunya polisi yang aku tahu. aku akan memberitahu untukmu!”
Sung Yeol memerintahkan untuk memberitahukannya saja. dia kemudian akan pergi. Woo Hyun menyindir kalau orang meminta tolong itu bukan seperti itu caranya. Sung Yeol so’ ga tahu, Lalu bagaimana?
“Sopan. Bersikaplah dengan baik dan tampaklah putus asa.”



Woo Hyun memejamkan mata lalu menyuruh Sung Yeol memperhatikan caranya memohon.
“Teman, tolong lakukan apa yang aku minta. aku mohon padamu. Itu carannya......” Woo Hyun membuka mata dan kesal sendiri karena Sung yeol sudah ngibrit duluan meninggalkan dia.



*****
Semua anak kelas kompakan memakai kain orange untuk menutupi pergelangan tangannya.


Disisi lain, Ye Na tampak cemberut menatap bangku didepannya kosong. Sama halnya dengan Ki Soo, dia menatap bangku disampingnya dengan perasaan khawatir. Yap. Hari ini Young Eun tak masuk kelas.


Berbeda halnya dengan muda – mudi yang baru kembali bersama, Seul Bi dan Woo Hyun saling pandang tanpa memperdulikan kelas mereka saat ini. Keduanya tersenyum cerah satu sama lain. eciiieeeh. Saling lirik dan tersipu.


Sung Yeol memegang kain orange dipergelangan tangannya seperti akan melepas kain tersebut. Seul Bi terkeju apalagi Woo Hyun yang langsung mendelik tapi ternyata Sung Yeol Cuma iseng. Dia hanya membetulkan kain tersebut lalu kembali menulis.
Kekeke. Woo Hyun pun kembali senyum lebar kearah Seul Bi. Puas – puasin aja senyum. Hahaha.


Emang hari ini edisinya lirik – lirikan, Da Yool tak ketinggalan untuk melirik ke arah Jae Suk namun Jae Suk tampak canggung. Dia hanya diam dan balas melirik.
Da Yool sepertinya cukup miris melihat keadaan Jae Suk akhir – akhir ini.


Dikoridor sekolah, Sung Yeol berpapasan dengan Ji Hye. Ji Hye bertanya bagaimana kondisi Sung Yeol sekarang?
Sung Yeol mengangguk. Ji Hye menyuruh Sung Yeol jangan sungkan untuk menghubunginya ketika sakit. Sung Yeol berkata bahwa ayahnya bukan tipe yang pandai menelfon lebih dulu lalu minta maaf. Ji Hye pasti tahu kalau ayahnya mudah marah dan berkata hal – hal yang bahkan bukan itu yang ia maksud. Jadi, Ji Hye bisa menghubunginya lebih dulu.
Sung Yeol pun cepat – cepat pergi setelah mengatakan itu.



Pelajaran olah raga Pak Yoon dimulai, dia memberikan sedikit arahan tapi sesuatu ada yang membuatnya merasa aneh. Semua anak menggunakan kain orange dipergelangan tangan mereka. Dia kira ini adalah sebuah bentuk protes. Dia menyuruh mereka melepasnya namun tak ada yang berkutik.
Pak Yoon menyuruh Seul Bi untuk maju.


Woo Hyun menahan Seul Bi, dia yang maju. “Pak Yoon, Ini adalah tren. Ini melambangkan bahwa kita adalah satu. Oh iya, aku punya satu untukmu. Jangan dihilangkan ya pak?”
Woo Hyun memasangkannya pada pergelangan tangan Pak Yoon. Pak Yoon merasa senang, dia juga perduli akan tren. Woo Hyun berkata ia sangat menyukai Pak Yoon. Dia kemudian memeluknya dengan so’ akrab. Pak Yoon sudah kegirangan dulu, dia balas memeluk Woo Hyun dengan senang.



Anak – anak bergerombol karena hari ini mereka tak ada hal yang dilakukan. Woo Hyun merangkul Sung Yeol yang berjalan sendiri, “Hei, kau lupa bahwa kau memintaku untuk melakukan kebaikan untukmu?”
Woo Hyun membimbing Sung Yeol untuk ikut bergabung bersama mereka.


Anak – anak sedang mencari cara untuk membantu Young Eun. Mereka semua bersedia membantu.
“aku memiliki 3000 Won. Ini untuk membayar taksi.” Celetuk Tae Ho. Woo Hyun berkata kalau mereka bisa menemukan jalan. Dia menunjuk Sung Yeol, dia yang akan menemukan jalannya!
Sung Yeol yang tak tahu apa – apa hanya bingung menatap Woo Hyun.



Seul Bi tersenyum penuh harap, pandangannya kemudian tertuju pada tribun penonton. Dia melihat ada Jae Suk yang berada dibalik pilar sendirian. Menatap mereka dengan sorot kesepian.



Jae Suk berbalik untuk pergi namun tiba – tiba Da Yool datang. “kau seharusnya senang. Lihat apa yang terjadi padamu setelah mengintimidasi orang. Jika kau cemas karena kau berbeda, kemudian cobalah untuk menyesuaikan diri.”
Da Yool memasangkan kain orange juga ke pergelangan tangan Jae Suk. Ia pun kemudian pergi. Jae Suk heran dan bertanya pada Da Yool, Apa aku begitu berbeda?


“Tidak apa-apa untuk menjadi berbeda. Cara terbaik untuk menyelamatkan orang buangan adalah untuk bisa bersamanya. Sehingga ia mungkin merasa bahwa ia adalah salah satu dari kami.” Ucap Seul Bi muncul dibelakang Jae Suk.
Seul Bi mengangkat tangannya untuk high five tapi Jae Suk masih saja diam. Maka Seul Bi menarik tangan Jae Suk lalu menepukkan ke tangannya. Dia tersenyum manis pada Jae Suk.


*****
Ki Soo dan Yo Han memasang sebuah banner didepan kedai Woo Hyun. ‘Selamatkan Hye Run!


Sedangkan dalam kedai, kondisi begitu ramai pengunjung. Da Yool membantu juga namun Joo Ah juga merasa kewalahan karena begitu ramai. Dia ngedumel kesal karena biasanya dia datang disaat seperti ini. Dia begitu tak berguna.
“Siapa yang kau tunggu?” tanya Da Yool mendengar rutukan Joo Ah.


*****
Jae Suk berhadapan dengan para anak nakal dari sekolah lain. tanpa temannya, Jae Suk jadi tampak lemah. Lawan Jae Suk yang bergerombol ingin mengetes bagaimana kekuatanya. Tanpa babibu mereka menyerang Jae Suk tanpa ragu namun Jae Suk kalah jumlah hingga ia terkena pukul.



Untungnya Byung Wook dan Tae Ho datang tepat waktu. Byung Wook berkata kalau mereka memang tak bisa menggunakan otak mereka tapi mereka bisa tinju.
Tae Ho melepas jas –nya, “Kami adalah orang-orang yang bisa menggunakan tinju kami.”
Keduanya pun membantu Jae Suk, tampaknya Jae Suk sedikit tersadar dan cukup tersentuh dengan keduanya.


*****
Ye Na berlari masuk ke kedai dengan terburu – buru. Dia kabur dari pelajaran golf, ia meminta mereka untuk tak mengatakan pada ibu dan ia juga sudah membawa tabungan untuk tas ibunya.
“Jadi kau mencurinya?” tanya Woo Hyun.
“Aku tidak mencurinya.” Elak Ye Na.



Tak lama kemudian, Byung Wook datang bersama dengan Tae Ho yang menjewer telinga Jae Suk. Dia berkata bahwa ia telah membawa seorang pekerja yang kuat. Keduanya kemudian mengajak untuk membantu yang lain.


Sung Yeol juga datang dengan segerombol gadis yang berbaris dibelakangnya. Mereka menatap Sung Yeol dengan pandangan terpesona. Rupa rupawan Sung Yeol berhasil menarik hati para gadis dan membawa mereka menuju kedai.
Hanya demi menatap wajah Sung Yeol lebih lama, mereka memesan makanan.


Pekerjaan berakhir, semua orang kelelahan. Woo Hyun memuji kerja keras mereka semua.
“Hey! Siapa bilang bahwa kau bisa melakukan acara tanpa kami?” tegur Pak Kim mengejutkan. Ji Hye juga datang, dia menyerahkan uang yang mereka dapat dari para guru unruk membantu Young Eun juga. Woo Hyun terdiam tak mengambil uluran amplop Ji Hye.
Seul Bi sigap menerimanya.


*****
Young Eun tertunduk diruang tunggu rumah sakit. Ia mendongak ketika ada seseorang yang menyodorkan amplop padanya. Young Eun jelas menolak karena yang memberikan adalah Ye Na, apa dia pikir ia akan menyombongkan uangnya?
“Ini tidak seperti itu. Kami mendapatkannya dari melakukan sebuah acara.”
Ye Na berkata kalau dia tak bisa membiarkan adik Young Eun begitu saja. Young Eun semakin kesal, dia tak suka dikasihani. Dia tak butuh bantuan Ye Na.
Ye Na mulai menangis, “Kami mendapatkannya dari melakukan sebuah acara. Kami mendapatkannya dari melakukan sebuah acara. Bisakah kau menyelamatkan adikmu dan aku dengan ini? Aku bahkan tidak tahu bahwa kau memiliki saudara perempuan. Aku bahkan tidak tahu wajahnya. aku ingin melihat dia juga.”



“Kenapa kau ingin melihat adikku?” sentak Young Eun.
“Karena dia adalah adikmu! Aku menyesal tidak tahu itu begitu sulit bagimu. Aku menyesal meninggalkanmu.” Ucap Ye Na dengan bergetar. Ia pun memeluk Young Eun dengan rindu, sudah lama baginya selalu bertanding ego dengan Young Eun.
Young Eun juga tak dapat membohongi perasaannya. Dia menangis dalam pelukan Ye Na pula. Keduanya sama – sama menyesal atas apa yang mereka lakukan sebelumnya.



*****
Ji Hye mengamati surat perceraiannya bersama Woo Jin. Namun segara ia sembunyikan ketika Woo Hyun datang.
“Pria macam apa yang menjadi ayahku? Dia orang yang baik? Lalu kenapa anda menceraikannya?” tanya Woo Hyun duduk disamping Ji Hye.
Ji Hye rasa karena dia tak tahu. Alih – alih melihat kebahagiaan orang lain, maka kehidupan sendiri dianggapnya buruk. Ia rasa ayah Woo Hyun ingin bersadar padanya tapi dia juga ingin bersandar pula.
“Akan lebih baik jika anda bersandar satu sama lain.”
Ji Hye kira dulu ia tak menyadarinya. Woo Hyun mengingatkan Ji Hye agar tak menyesal untuk kedua kalinya. Pekerjaan Pak Hwang memang lah keras sehingga terkadang ia menceritakan lelucon yang mengerikan dan juga pemarah. Tapi dia tinggi dan tampan, dia adalah pria yang baik.



Woo Hyun pun bangit tapi Ji Hye memanggilnya. Dia memberikan kalung pasangan yang sekarang ada ditangannya.
“Berikan kepada seseorang yang kau cintai. Sehingga kau dapat bertemu lagi, tidak peduli seberapa jauhnya dirimu. Ini akan membawa keajaiban seperti kita. “ ucap Ji Hye.
Yap, kalung yang penuh makna dimana lika - likunya telah membawa keduanya kembali. Kebetulan yang terencana. Itulah takdir.


*****
“Bukankah sulit?” tanya Sung Yeol pada Seul Bi.
Seul Bi tak merasa demikian, dia merasa bahagia bisa membantu seseorang terlebih ia melakukannya bersama orang yang ia suka.
Apa kau benar – benar malaikat?” benak Sung Yeol. Seul Bi mengajak Sung Yeol menemukan jalan untuk permasalahan Ibu Ahn dan Juga ayah Sung Yeol. Sung Yeol mendesah, dia merasa lelah dengan semua ini.
“Apa kau merasa sakit? Kau ingin aku mendapatkan sesuatu?” tanya Seul Bi khawatir.
“Aku rasa udara segar akan sedikit membantu.” Usul Sung Yeol. Seul Bi membenarkan, dia akan memikirkan mencari udara segar untuk besok. Sung Yeol mengeluh karena harus mencari udara segar dengan bos galak sepertinya.


*****
Keesokan harinya, Sung Yeol bersama Woo Hyun dan Seul Bi pergi untuk bermain ice skating. Mereka ke permaian anak – anak dan berselancar dan saling dorong. Menghabiskan waktu bersama, saling tersenyum.
Melupakan beban yang mereka harus pikul selama ini. Sung Yeol dengan permasalahan bersama orang tuanya. Seul Bi dengan tekanan sebelum menjadi manusia. Maupun Woo Hyun yang hidupnya dipenuhi luka.
Hari ini mereka bersama, bersama menghilangkan penat dan luka yang mereka miliki. Dengan senyuman dan kebersamaan.


4 Responses to "Sinopsis High School: Love On Episode 19 – 1"

  1. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  2. Part 2 nya ditunggu cantikk

    ReplyDelete
  3. Kyaaa!! Episode ni penuh haru..hiks! Persahabatan mmank harus sprti tuh..*-*
    Smngt lanjutin part 2x yah mba...slalu dtuggu... ^-^

    ReplyDelete
  4. Ditunggu part 2 nya..makin penasaran..semangat yach..

    ReplyDelete

Jangan lupa komentar yaah^^ biar aku lebih semangat dalam membuat postingan. Meskipun jarang bales tapi semua komentar selalu aku baca kok.. *serius*

Gomawo^^