Sinopsis Tomorrow Cantabile Episode 6 – 2

Sinopsis Tomorrow Cantabile Episode 6 – 2
Yoo Jin mencari – cari keberadaan Nae Il, ia sudah mencarinya dari kantin dan cafe tapi tak menemukan dimana Nae Il.

Yoon Hoo berjalan menghampiri Stresemann yang tengah termenung sendirian. Dengan sopan ia meminta sedikit waktu Streseman.

Streseman sepertinya memiliki masa lalu khusus dengan Yoon Hoo, ia tak percaya Yoon Hoo mengikutinya sejauh ini. Dia pasti senang saat tak memiliki jadwal. Streseman menyuruhnya untuk melakukan apapun yang ingin ia lakukan.

Stresemann bangkit meninggalkan Yoon hoo.


“Bahkan saat aku mengikuti kemauanku, aku merasa tertekan. Lalu, aku harus apa, Profesor?” gumam Yoon Hoo.

Sebuah alunan piano membuat Yoon Hoo sedikit terdiam. suaranya begitu indah dengan permainan yang cepat. Ini menggerakkan hati Yoon Hoo untuk mencari sumber alunan nada tersebut.

Rupanya sumber itu berasal dari Nae Il, ia memainkan pianonya dengan penuh perasaan dan pengkhayatan. Tampaknya ia serius sekali dalam berlatih.

Yoon Hoo berhasil menemukan sumber suaranya, ia tersenyum mendapati Nae Il lah yang tengah bermain piano dengan cekatan. “Permainan yang cepat. Seperti mendengar permainan Richter, Apakah mungkin ada yang bermain secepat dia? Tidak, dia tak hanya cepat. Jeax d'eau (Water Games). Aku juga mau memainkannya.

Permainan Nae Il tiba – tiba terhenti saat melihat Yoon Hoo. Yoon Hoo yang sadar semua ini karena kehadirannya, ia meminta maaf.


Yoo Jin pun juga berhasil menemukan tempat Nae Il berada, sejenak ia terdiam saat melihat Nae Il tengah berbincang dengan Yoon Hoo.

Tak apa- apa. Ini bukan ruanganku, kok.

Tapi, kenapa kau bermain sendiri di sini? Bukannya di kelas?” tanya Yoon Hoo. Namun Nae Il yang sempat melihat Yoo Jin berdiri diambang pintu tak sempat menjawab pertanyaanya. Ia memilih untuk mengejar Yoo Jin.


Nae Il sedikit berlari agar bisa mengejar Yoo Jin, ia memberitahukan kalau dia habis berlatih. Ia bisa saat berlatih sendirian, makannya dia akan berlatih lebih giat. Yoo Jin diam tak merespon ucapan Nae Il, Nae Il mencoba mendekat kearahnya namun Yoo Jin menyuruh Nae Il untuk berhenti.

Yoo Jin berbalik, “Kenapa kau terus saja membuatku khawatir? Kenapa kau mengikuti ke sini dan membuatku kesal?

Nae Il mengubah panggilannya, bukan memanggil Orabang tapi Sunbae. Ia bertanya apa ia melakukan kesalahan hingga membuat Yoo Jin marah? Ia tak tahu apa yang membuat Yoo Jin marah, tapi ia meminta maaf.


Yoo Jin mengulurkan tangannya. Nae Il tersentak, ragu baginya untuk menerima uluran tangan tersebut. Hingga Yoo Jin menarik tangannya namun kemudian meraih pundah Nae Il untuk bersandar didadanya. Ia merangkul Nae Il hingga membuatnya diam tak berucap apapun.

Yoo Jin beralasan kalau ia melakukan semua itu karena cuaca yang semakin gelap. Ia tak mau Nae Il terpeleset dan jatuh. Yoo Jin membimbing Nae Il untuk berjalan bersamanya, “Kudengar, kau tak masuk ke kelasmu tadi.”



Yoon Hoo termenung di ruangannya, ia menatap ke cello miliknya. Senyum terulas diwajah Yoon Hoo, ia kemudian meraih ponselnya lalu menulis keinginan nomor lima. Selama jari- jariku mengijinkan, aku akan bermain.

****
Soo Min berteriak – teriak gaje karena timpanist yang ia idolakan, timpanist yang begitu keren. Il Rak berteriak menyuruh Soo Min untuk biasa saja. Nae Il yang memeluk Soo Min pun juga setuju agar Soo Min tenang.

Yoo Jin tiba – tiba muncul, sepertinya ia sedari tadi membungkukkan badan karena kebisingan yang dibuat oleh trio kwek – kwek. Ia menyuruh Nae Il untuk makan dan diam. Nae Il menawarkan rotinya pada Yoo Jin namun Yoo Jin menolak. Soo Min memberikan roti juga pada Il Rak tapi dilarang oleh Yoo Jin, biarkan dia fokus menyetir.

Min Hee membersihkan meja, seorang pria muncul dan menawarkan bantuan namun Min Hee menolak. Pria satu lagu yang sudah lengkap dengan seragam memberitahukan kalau ia telah selesai mengerjakan tugasnya, ia bertanya apakah ada lagi yang bisa ia lakukan.

Min Hee menolak. Sudah selesai. Menyadari kalau rekannya ada disana, pria yang sudah lengkap dengan seragam mengajak pergi pria yang baru datang.

Keduanya berselisih arah dengan Nae Il, Nae Il memberikan makanan untuk Min Hee. Min Hee girang, ia memang sudah lapar sejak tadi. Nae Il sungguh baik. Nae Il tersenyum, ia kemudian menarik kepala Min Hee dan mengajaknya bicara dengan berbisik. “Mini Min Hee, kau yakin Chae Do Kyung pacaran dengan anak Bosmu?”

Min Hee membenarkan karena tingkah Do Kyung seperti menantu Bos. Nae Il girang. Giliran Min Hee yang bertanya, ia penasaran dengan festival yang akan diadakan nanti. Bagaimana festivalnya? Banyak orang terkenal di sana. Mereka mengajarmu?

Bukannya menjawab, Nae Il malah bercerita tentang Yoo Jin yang semakin baik padanya. Bahkan menepuk kepalanya. Keduanya tos lalu memperagakan bagaiamana Yoo Jin menepuk kepala Nae Il. Hahaha.

Ibu Yoo Jin muncul, “Nae Il, kau datang, ya. Siapa yang menepuk kepalamu? Semangat kerjanya.

Nae Il dengan malu – malu memberitahukan kalau Orabang lah yang menepuk kepalanya. Ia berterimakasih pada Bos yang telah memberikannya cuti sehingga bisa liburan. Nae Il kemudian menghampiri Min Hee, “Mini Min Hee. .” ucapnya semangat.


Dia sedikit gila, ya...” desis Ibu Yoo Jin.


Yoon Hoo dalam perjalanan, sopirnya bertanya kenapa Tuan pergi ke Seoul padahal Nyonya mengira kalau ia akan pulang hari ini. Yoon Hoo tersenyum. Ia merasa telah menemukan sesuatu yang menarik. Sesuatu yang menyenangkan.

Yoon Hoo meraih ponselnya, ia menulis sebuah keinginan di daftar No. 6 Pacaran dengan wanita teraneh yang pernah kutemui.


Kau adalah pemain cello yang jenius, Yoon Hoo. Kau tak seharusnya masuk ke Han Eum sebagai siswa pertukaran.” Puji Mi Na saat Yoon Hoo menemuinya.

Yoon Hoo berterimakasih atas kebaikan Mi Na tapi bolehkan ia meminta agar ia dianggap sebagai pelajar biasa. Mi Na mengerti dan menyetujui permintaan tersebut, tapi sulit dipercaya kalau ternyata Yoon Hoo adalah murid Julliard.

Tapi, masih sulit dipercaya, kau adalah murid Julliard. Aku bosan dengan kompetisiku. Setidaknya sekali, aku ingin menikmati musik dengan orang seusiaku, dan tak harus bersaing.” Jawab Yoon Hoo. Ya. Mi Na mengerti keinginan Yoon Hoo.


Il Rak memperhatikan Shi Won dari meja kasir, ie melongok Shi Won dengan penuh kekaguman. Satu dari temannya menyentuh wajah Shi Won karena ada makanan yang tertinggal. Seketika Il Rak kesal namun Shi Won menyingkirkan tangan tersebut dan menyapu pipinya sendiri. Il Rak kembali tersenyum.


Ayah Il Rak keluar, ia mengeluh melihat mereka bertiga ada disana lagi. tapi bagaimanapun ia tak bisa mengusir pelanggan. Il Rak bangkit, siapa?

Siapa lagi? Gadis sombong yang telah menghina concertmaster- ku. Seorang wanita harus lembut dan baik. Lihat? Lihat? Dia menjadi pemimpin mereka.” Decak Ayah Il Rak saat dua teman Pria Shi Won menyuapinya makanan.

Il Rak membela Shi Won karena saat itu mereka dalam persaingan. Ayah Il Rak menyuruh Il Rak untuk berlatih, bukannya menanggapi. Il Rak malah menawarkan diri untuk bekerja. Ayah Il Rak cemas, ia takut kalau anaknya jatuh atau lelah. Tapi Il Rak tetap bersikeras untuk mengantarkan makanan.



Dua teman Shi Won melipat tangan didada seraya menatap sesuatu yang ada dibelakang Shi Won. Shi Won menoleh dan melihat ada Il Rak yang sedang bersembunyi. Il Rak memutuskan untuk keluar, ia berkata kalau ia memiliki sesuatu untuk dikatakan.

Shi Won mempersilahkan. Katakan saja dengan rileks.



Il Rak mendekatkan mulutnya ke telingan Shi Won dan berbisik. Secepat kilat, Il Rak segera kabur setelah mengatakan apa yang ingin ia katakan.

Seperti orang gila saja. Dia bilang apa?”

“Dia bilang, dia tidaklah cabul.” Ucap Shi Won yang juga bingung maksud dari ucapan Il Rak. Sedangkan dua temannya hanya tertawa mendengar hal tersebut.

Il Rak dikejauhan bisa menghela nafas dalam. Ia menatap Shi Won dan memuji kecantikannya.

Professor Do memberikan laporan atas kekecewaan atas Festival Musik Yoon Yi Song. Siswa mereka telah membuat kecewa terutama Seol Nae Il yang tak menghadiri kelas master. Yoo Il Rak yang tak memiliki kepandaian dalam bermain dan Ma Soo Min yang melempar pemukulnya pada pengajar. Dan Cha Yoo Jin.

Bahkan Cha Yoo Jin?” tanya Mi Na terkejut.

Professor Do memberitahukan kalau semua anggota dewan merasa kecewa.


Rapat Anggota Dewan dilaksanakan, Ketua Dewan yang tampak menyebalkan menyuruh Stresmann segera memberikan votingnya. Untuk Tim A atau S.

Stresmann tahunya kalau hari ini mereka akan membahas mengenai Yoo Jin dan teman buangannya. Jadi ia rasa mereka harus membahas itu terlebih dulu. Ketua Dewan marah saat Stresman menyebut mereka adalah anak buangan.

Semua orang memanggil mereka begitu.”

Mi Na mencoba mengurangi ketegangan dengan mengingatkan kalau mereka melakukan pertemuan ini untuk membahas mengenai kekecewaan pada siswa yang mengikuti festival.



Atas dasar apa anda merekomendasikan mereka?” tanya Professor Do.

Stresman mengangguk. Kalau memang bersalah berarti mereka harus menerima hukuman bahkan siswa hebat akan dihukum juga. Seharusnya ia tak mengijinkan mereka. Mi Na bertanya, apa itu?

Yang kumaksud adalah interview- nya.” jawab Stresemann membuat anggota dewan lain tampak tersentak.

 Nae Il pagi – pagi sudah bikin rame dirumah Yoo Jin, ia mengantarkan minum dan akan menyediakan kebutuhan Yoo Jin karena saat ini, Yoo Jinlah yang terpenting. Nae Il memberikan minum lalu menyuruh Yoo Jin untuk meminumnya sekali teguk.

Yoo Jin tersenyum pada Nae Il lalu meminum – minumannya. Nae Il memuji Yoo Jin yang tampak keren bahkan saat minum.


Yoo Jin menyuruh Nae Il diam dan jangan masuk tanpa izin. Nae Il meletakkan nampannya, ia mengerti dan akan pulang kalau sudah makan. Dia lalu mengelus pipi Yoo Jin cepat, hahaha.

Yoo Jin memakai dasinya, ia heran kenapa Penyihir Tua menyuruhnya untuk berpakaian rapi.

Nae Il masih saja ribut merapikan jas Yoo Jin. Seseorang dengan pakaian rapi mengejar Yoo Jin, ia bertanya apakah Yoo Jin masih mengingatnya? Nae Il diam memperhatikan, dia tahu kalau wanita itu yang ada di Festiva Yoon Yi Song. Yoo Jin ingat sekarang, dia adalah reporter yang melakukan wawancara dengan peserta.

Aku adalah Reporter Ban Ji Yeon dari Modern Classic. Kami sudah menyiapkan lokasi interview- nya. Kita ke sana sekarang?

Nae Il memeluk Yoo Jin seolah tak ikhlas, dengan Yoo Jin? Yoo Jin mengisyaratkan penolakan kalau alasan interview karena ia putra dari Cha Dong Won.

“Tak ada hubungannya dengan Cha Dong Woo. Kau belum diberitahu Maestro von Stresemann? Dia yang memintamu untuk mewakilinya dalam inteview.” Jelas Reporter Ban. Nae Il dan Yoo Jin pun berpandangan satu sama lain.


Stresemann berkata kalau Yoo Jin akan melakukan interview sebagai murid Von Stresemann dan juga atas ketampanannya. Ia kira itu akan cukup membantu. Ketua Dewan menyuruh Streseman menjaga omongannya, Yoo Jin tidaklah di interview karena anak dari Cha Dong Won. Jika Yoo Jin mau melakukan demi kampus, mereka harus mempertimbangkan hukumannya.

Stresemann menyindir Ketua Dewan yang sengit kalau menyangkut masalah keuntungan. Ketua Dewan kembali menyuruh Streseman untuk menjaga omongannya.

Stresemann memperingatkan agar Ketua Dewan jangan membuat musik sebagai ladang keuntungan. Atau dia akan membuat kehormatan Ketua Dewan yang begitu berharga hancur.


Mi Na mengejar Stresemann, dengan lesu Stresemann meminta maaf atas keributan yang ia ciptakan tadi. Mi Na tak masalah, toh dari dulu juga ia ingin mengatakan hal yang sama. Tapi sekarang, Streseman haruslah mengambil keputusan. Akankah Tim A atau Tim S, atau kedua grup akan dibubarkan.

Stresemann merasa kalau ini bukanlah menjadi keputusan mereka, kalau masalah waktu maka mereka sendirilah yang akan memutuskannya. Jawaban Streseman memang tak bisa terbantahkan lagi, Mi Na hanya menghela nafas mendengarnya.


Profesor Do mengantarkan ketua Dewan. Ketua Dewan berkata kalau mereka harus menyingkirkannya. Professor Do mencari ketegasan, maksud anda Professor Von Stresemann?

Ketua Dewan membenarkan tapi mereka harus menunggu sampai festival selesai agar tak menimbulkan kekacauan. Bukan hanya mengeluarkan tapi menyingkirkannya.

Yoo Jin yang tengah melakukan interview terkejut kalau ia harus melakukan pertunjukkan piano. Nae Il yang berdiri tak jauh dari Yoo Jin nimbrung, ie memuji permainan piano Yoo Jin yang mengagumkan. Yoo Jin masih penasaran, siapa yang mengatakan hal itu? Kapan?

Saat festival musim gugur...”

“Musik apa yang harus kumainkan?”

Reporter Ban menjawab kalau itu permainan piano duet, grieg. Repoter Ban agak bingung karena yang ia tahu kalau Von Streseman yang akan mengarahkannya. Melihat ekspresi terkejut Yoo Jin membuat reporter tak terlalu yakin. Apa mungkin salah?

Ya, kau sudah benar. Dengan arahan Maestro von Stresemann. Ini adalah pertunjukan yang dinantikan.” Elak Yoo Jin.


Apa kau punya pacar?” tanya Reporter Ban membuat Nae Il menunjuk dirinya sendiri dengan semangat. Namun seseorang hadir, dia Do Kyung yang menyapa Yoo Jin. Yoo Jin pun juga menyapa Do Kung.

Nae Il bergegas menuju tempat duduk keduanya, ia seolah tengah mengusir sesuatu. Ia menyuruhnya Do Kyung untuk menjauh namun Do Kyung menanggapi biasa saja. dia berkata kalau Nae Il selalu ada untuk Yoo Jin.

Miss Han Eum adalah mantan pacarnya. Tapi sekarang aku adalah pacarnya.” Ucap Nae Il mendepetkan wajahnya kearah Yoo Jin.  Tapi reporter agaknya kurang yakin dengan kesaksian Nae Il, mereka malah menyuruh untuk memfokuskan pada Do Kyung dan meminta Nae Il untuk menyingkir.




Nae Il sedih kenapa harus dirinya yang menyingkir? Namun Do Kyung mencegah, dia yang harusnya menyingkir. Mereka sekarang hanya teman dan hanya menyapa saja. ia permisi pada Yoo Jin. Yoo Jin meng –iya kan saja.

Shoot yang keren antara pria tampan dan wanita cantik.” Puji kameramen.

Ayah Il Rak yang memperhatikan jalannya wawancara juga merasakan kehangatan sekaligus aura dingin dari Do Kyung. Ia merasa kalau Do Kyung sangat cocok dengan Il Rak.

Stresemann memberikan arahan pada Yoo Jin agar bisa menjaga tempo. Konsep komposer dan juga style panggung juga penting. Tapi yang lebih penting adalah mengidentifikasi kecepatan orkestra dan permainan anggota. Dan kesehatan juga sangat penting. Seorang komposer bisa saja tiba- tiba kehilangan kontrolnya.

“Iya, seperti menjauh dari alkohol.” Sindir Yoo Jin.

Stresemen tak perduli, ia ingin agar permainan Yoo Jin tak seperti Viera yang sunyi dan membosankan. Yoo Jin mendengar kalau permainan guru Viera bagus sesuai dengan pengalamannya.


“Dia sudah tua dan begitu pula alunan musiknya. Pengecualian untukku, Aku tak bertambah tua, hanya bertambah dewasa.” Jelas Stresemann. Yoo Jin menatapnya penuh selidik dan hanya meng –iya –kan saja ucapan Gurunya itu.

“Kau tak menganggap konduktor ada di atas podium dan bisa meremehkan anggotanya, 'kan?”

“Ini adalah kesempatanmu untuk mengenal anggotamu.” Jawab Yoo Jin.

Stresemann menyuruh Yoo Jin untuk belajar semakin ramah.


Keduanya terdiam, Yoo Jin tak bisa menahan tawanya mendengar apa yang sedari tadi Stresemann katakan. Karena Yoo Jin tertawa, Stresemann pun juga ikut tertawa. Keduanya semakin akrab sekarang.


Suasana hening saat Yoo Jin membereskan beberapa kertas diatas meja. Stresemann bertanya apa yang akan Yoo Jin lakukan, memilih Tim A atau Tim S. Tim A yang punya pengalaman dan bakat? Atau Tim S yang memiliki perasaan bebas? (Kok jadi keinget Who Is Next. Tim A & Tim B. Mirip. Tim A punya bakat dan pengalaman dan Tim B punya rasa bebas sama membawa suasana cerah dipanggung)

Yoo Jin terdiam. Stresemann meminta Yoo Jin untuk mempertimbangkannya.


Nae Il sedang panik harus ujian dan materinya banyak sekali, ia tak yakin bisa melakukannya. Nae Il menunggu Yoo Jin tapi tak kunjung keluar.

Yoo Jin berjalan keluar denga banyak pertanyaan, Nae Il menghampiri dan menceritakan kalau dia takut dengan ujiannya. Tapi Yoo Jin sama sekali tak merespon. Dia berfikir Orkestra mana yang harus dipilih, A atau B? Tunggu, bukan Orkestranya melainkan musik yang paling tepat.

Musik klasik dengan irama dan harmoni yang sempurna. Dan dimainkan dengan sempurna. Perhitungan yang sempuran sesuai dengan harapan. Penampilanku juga tak kalah. Tapi, apakah musik yang menyenangkan tidaklah penting? Musik klasik yang tak biasa dengan perasaan bebas. Dan berdasarkan dengan kesukaan pasar.”

Nae Il bercerita panjang lebar ketika Yoo Jin sibuk dengan pikirannya. Yoo Jin berkata kalau dia sedang berfikir. Nae Il kesal dengan Yoo Jin yang terus berfikir dan tak mau bermain dengannya.

Yoo Jin lagi benar – benar serius, ia menyingkirkan tangan Nae Il dan berjalan mendahuluinya tanpa sadar kalau Nae Il terjatuh. Nae Il duduk dengan sedih,

Aku akan memaafkanmu jika kau kembali ke sini dalam hitungan ke- 3.” Tantang Nae Il. Satu. Dua. Yoo Jin belum juga berbalik membuat Nae Il tertunduk menanti. Dua setengah! Dua setengah dan seperempat. Sedikit lagi 3.


“Kalian berdua... masih sama saja, ya.” Ucap seseorang menyodorkan tangannya. Nae Il mendongak dan ada Yoon Hoo disana. Nae Il ragu untuk meraih tangan tersebut, ia menoleh pada Yoo Jin yang sekarang menatapnya. Sampai akhirnya Nae Il menerima uluran tangan tersebut.

Yoon Hoo menatap Yoo Jin dengan sengit, kau tak mungkin merindukanku.

“Tapi, kau... tak merindukanku?” tanya Yoon Hoo mengubah intonasinya pada Nae Il jadi lembut.


Yoo Jin berbalik dengan kesal, ia meraih tangan Nae Il dan membuat Nae Il jatuh ke pelukannya. Ia menatap Yoon Hoo dengan tajam dan begitu pun sebaliknya. Persaingan dimulai!!



*****



0 Response to "Sinopsis Tomorrow Cantabile Episode 6 – 2"

Post a Comment

Jangan lupa komentar yaah^^ biar aku lebih semangat dalam membuat postingan. Meskipun jarang bales tapi semua komentar selalu aku baca kok.. *serius*

Gomawo^^