Sinopsis Tomorrow Cantabile Episode 6 – 1

Sinopsis Tomorrow Cantabile Episode 6 – 1
Seorang pria menolong Yoo Jin yang tenggelam dalam kolam, ia menarik Yoo Jin ke darat lalu memberikan CPR. Nae Il yang panik mendorong pria tersebut, ia mengguncang tubuh Yoo Jin yang tak sadarkan diri. Nae Il menyalahkan dirinya atas kejadian ini.

Il Rak pun ikut panik juga. Sedangkan Si Pria penolong merasa diabaikan, ia melihat Nae Il lalu memilih untuk meninggalkan mereka.



Nae Il menatikan Yoo Jin yang sedang masuk ke UGD. Ia tampak gusar takut – takut sesuatu yang buruk menimpa Yoo Jin.

Sedangkan Yoo Jin masih tertidur, nafasnya tak beraturan dan mencengkram erat selimutnya. Kilasan saat ia harus terjatuh dari pesawat saat badai dan membuatnya jatuh kelautan membuat Yoo Jin semakin erat memegangi selimutnya.

Ia mengerjapkan mata dan akhirnya sadar. Ia bergumam merutuki dirinya yang takut pada pesawat dan air. Bagaimana bisa ia keluar negeri kalau begitu.



LESSON 6

Si Penolong Yoo Jin di waterpark tengah dalam perjalanan, ia adalah Lee Yoon Hoo. Yoon Hoo menerima panggilan dari ibunya, ia bertanya rencana apa yang akan Yoon Ho lakukan. Yoon Hoo berkata kalau ia ingin melakukan apa yang ingin ia lakukan bukan melakukan apa yang harus ia lakukan.

Ibunya bisa mengerti namun ia berpesan agar Yoon Hoo tak memaksakan diri. Yoon Hoo mengerti lalu memutuskan sambungan telefonnya. Ia mencoret daftar rencananya di note ponsel, ia akan menulis rencana selanjutnya namun seolah ia tak memiliki sesuatu spesial yang akan ia lakukan.

Yoon Hoo menghela nafas berat.



Yoon Hoo sekarang berjalan menuju sebuah bangunan. Tanpa ragu ia melangkahkan kakinya menuju bangunan tersebut.


Trio Fans Yoo Jin duduk dengan terpekur, mereka mengkhawatirkan kondisi Yoo Jin terlebih Nae Il. Soo Min bertanya kesiapan Nae Il untuk bertemu dengan Yoo Jin namun tampaknya Nae Il sangat takut, ia takut kalau Yoo Jin mati. Saat ia mengingatnya, ia takut sekali.

Tuanku Cha... dia takut air?” tanya Soo Min.

“Sebagai teman, kita harus tahu kenapa dia tak mau.” Ucap Il Rak.



Yoo Jin keluar dengan telinga dijewer oleh Stresseman yang kesal karena Yoo Jin tenang – tenang di kamar. Nae Il menegur Stresemann, Yoo Jin baru saja sekarat dan baru saja sadarkan diri. Bukannya mendengarkan ucapan Nae Il, Stresemann malah memuji Nae Il yang sekarang tambah cantik saja. tak salah kalau dia merekomendasikan Nae Il. Nae Il dengan polos bertanya, apakah daftar kelas Master itu berdasarkan wajah?

Kau percaya itu?” tukas Yoo Jin melepaskan diri. “Profesor, kau merekomendasikanku karena kau mau menyuruh- nyuruhku lagi?

Stresemann membenarkan. Oleh karena itu, Yoo Jin tak boleh malas – malasan.



Nae Il menggandeng tangan kiri Yoo Jin ia bertanya sampai kapan Milch akan mengganggu Orabangnya? Soo Min menggandeng tangan kanan Yoo Jin, ia menyuruh Stresemann untuk kembali dan memilih. Il Rak ikut menahan Yoo Jin, ia berkata kalau ia akan melindunginya.

Aku harus memilih? Kau akan memilih siapa? Karena aku tak menyumbangkan suaraku? Siapa yang beruntung? A atau S?” tanya Stresemann seraya menarik telinga Yoo Jin lagi. ia pergi membawa Yoo Jin hingga Nae Il CS sebal dibuatnya.




Seorang Professor bejalan melewati koridor sambil menyebut nama para pelajar yang ada disana, ia memberikan sedikit pesan pada mereka. Suara seseorang menghentikan langkah professor tadi, ia tak lain adalah Yoon Hoo. Yoon Hoo menghambur ke arah professor wanita itu, ia memeluknya hingga membuat Professor berkomentar kalau Yoon Hoo begitu dramatik hingga permainan musiknya pun sangat dramatik.

Yoon Hoo mengelak, ia memeluknya karena sudah dua tahun tak bertemu. Ia berterimakasih telah menerima undanganya. Segera setelah menerimanya, ia menuju ke sini. Professor mengira kalau Yoon Hoo tak akan datang karena jadwalnya bertepatan dengan jadwal panggung UNICEF. Yoon Hoo menegaskan kalau ia tak akan melewatkan untuk datang kesini.

Yoon Hoo menatap wajah professornya lekat – lekat, ia memuji kecantikan gurunya yang semakin bertambah. Professor tak termakan dengan rayuan gombal Yoon Hoo.



Yoon Hoo meyakinkan lalu merah tangan Professor, “Ini adalah tangan terindah yang pernah kulihat. Tangan yang membuat orang merasa bersemangat, bahagia dan sedih.”

 Professor merasa kalau kelas akan semakin menaik dengan kehadiran Yoon Hoo, sebelumnya ia khawatir karena Frans Von Stresemann membawa murid yang aneh.

Maestro von Stresemann datang?” tanya Yoon Hoo terkejut.



Stresemann tengah terfokus dengan hapenya, dia bergerak kesana kemari bahkan sampai mengangkat kakinya demi mengambil gambar yang bagus. Ia kemudian mengirimkan gambar tersebut, ia mengabarkan pada Mi Na kalau keadaannya baik – baik saja.

Belum sempat pesan terkirim, sebuah panggilan masuk. Panggilan yang membuat Stresemann tampak bahagia.



Mi Na bersyukur akhirnya ia bisa menghubungi Stresemann setelah badai berlalu. Streseman bertanya apa ada yang terjadi?

Mi Na menuturkan kalau ada masalah besar karena kaburnya Stresemann. Stresemann meminta maaf, ia mempunyai alasan tapi kalau alasan itu ia katakan mungkin Mi Na akan marah. Mi Na tahu kalau ia pasti punya alasan tapi ia khawatir kalau sebenarnya Stresemann memiliki alasan atau hanya bercanda.

Dengan kesal Mi Na mengakhiri panggilannya, dia bergumam. “Kita lihat saja nanti” sedangkan Streseman langsung lemas karena kemarahan Mi Na bahkan ia sampai kehilangan keseimbangan dan harus berpegangan pada tepi jembatan.



Nae Il mencoba menaiki tiang lampu, entah apa yang ia lakukan yang jelas buat orang khawatir. Yoon Hoo yang melihat Nae Il mencoba menahan tubuhnya yang hampir terjatuh, apa kau baik – baik saja?

Oh ya. Kau mau ke lounge?” tanya Nae Il dan dibenarkan oleh Yoon Hoo. “Jika kau mau ke sana, Orabang- ku yang tinggi dan tampan. Ada perwakilan dari kampusku yang bernama Cha Yoo Jin. Apakah kau bisa memberitahunya untuk duduk di dekat jendela nanti? Mungkin aku bisa melihatnya dari sini.



Yoon Hoo terdiam, merasa tak asing dengan kalimat Orabang. Yap. Dia mengingat dengan gadis dikolam renang yang menolong seorang dengan penuh kekhawatiran. Yoon Hoo bergumam kalau mereka bertemu lagi. Nae Il mengeluh karena sudah dua jam belum melihat Orabang, ini membuatnya pusing.

Kenapa harus aku?”

Nae Il kesal sendiri, kalau memang dia tak mau maka ia akan memanjati tiang lampunya. Yoon Hoo menahan Nae Il, dia akan membantu Nae Il bertemu dengan Orabang –nya. Yoon Hoo pun menggandeng tangan Nae Il menuju lounge.



Yoon Hoo memperkenalkan dirinya pada Yoo Jin namun Yoo Jin menanggapi dingin. “Kau mengikutiku, ya?

Yoon Hoo bingung dengan maksud Yoo Jin, tapi ternyata kalimat tadi ia tujukan untuk Nae Il. Nae Il pun perlahan keluar dari balik punggung Yoon Hoo.

Kau koala, ya? Kenapa sembunyi dipunggung orang?” tanya Yoo Jin lalu menarik tangan Nae Il dengan kasar.


Yoon Hoo menahan tangan Nae Il juga, ia marah dengan sikap Yoo Jin yang sangat kasar pada wanita. Yoo Jin masih dingin, ia mengedikkan dagu pada Nae Il. “Wanita? Dia?

Kenapa omonganmu kejam sekali? Kau pasti bukanlah seorang musisi, 'kan?” cibir Yoon Hoo.

Namun pertengkaran mereka tak berlangsung lama, Stresemann masuk lounge dan meminta untuk diambilkan air minum. Yoo Jin yang bertindak sebagai pesuruh sigap mengambilkannya.


Yoon Hoo memperkenalkan diri, ia bertanya apakah Maestro Stresemann mengingatnya. Tahun kemarin, Stresemann menghadiri konsernya. Lee Yoon Hoo.

“Pemain cello terkenal itu? Senang bertemu denganmu.” Sapa Nae Il pada Yoon Hoo. Yoo Jin diam ditempat memperhatikan Yoon Hoo, Stresemann juga memuji penampilan Yoon Hoo yang menakjubkan.
Stresemann dalam mood yang buruk, ia mengulangi perintahnya untuk diambilkan air minum.




Yoon Hoo menyodorkan gelas berisi air dingin namun Yoo Jin menahannya, air dingin tak cocok untuk Professor. Yoon Hoo mengingatkan kalau Stresemann menginginkan air dingin.

Kau menurutinya begitu saja? Silahkan diminum.” Tukas Yoo Jin.

Stresemann ingin pergi ke aula gala, ia akan minum banyak dan banyak sekali. Nae Il dengan semangat menawarkan minum bersama, Stresemann pun setuju untuk minum sepanjang malam tapi Yoo Jin menolaknya. Ia menyuruh Nae Il untuk berlatih saja. Yoo Jin mengajak Stresemann untuk minum bersamanya.




Nae Il menatap kepergian keduanya. Wajah Nae Il berubah sedih, ia baru sadar sekarang. Rupanya saingan –nya yang sesungguhnya adalah Milch.

Yoon Hoo menatap wajah sedih Nae Il dengan bingung.


Stresemann pulang dengan mabuk berat bahkan Yoo Jin harus menggendongnya. Ia sebal karena pekerjaannya hanya untuk menggendong Stresemann. Dasar penyihir tua! Umpat Yoo Jin pada Stresemann.

Dalam kondisi setengah sadar, Stresemann mengingatkan kalau ia bisa mendengar semuanya. Bagaimana bisa seorang murid berkata begitu kasar padanya?

Murid? Kau pintar juga bersilat lidah.” Sindir Yoo Jin. Stresemann merasa kalau Yoo Jin harusnya bangga berada diposisinya sekarang, posisi itu adalah posisi yang tak bisa didapatkan dengan mudah. Yoo Jin membenarkan dengan nada kurang iklas.



Kau pikir ini hanyalah suruhan biasa? Seseorang yang hanya fokus pada full score- nya dan tak memperdulikan anggotanya. Bagaimana mungkin dia bisa menjadi konduktor? Seseorang yang terus menutup matanya, Bagaimana dia bisa mengarahkan sebuah orkestra? Kenapa posisi konduktor harus ada di tengah panggung? Untuk bisa melihat semua anggotanya. Membuat panggung dengan anggotanya. Itulah sebabnya. Akhirnya, kau mulai terlihat seperti konduktor.

Yoo Jin mendengarkan semua ucapan Stresemann dengan seksama diluar pintu, ia tak membantah sama sekali karena ucapan itu memang ada benarnya. Ia pun kemudian duduk termenung dikursi.



****
Professor Ahn tengah bertelfon dengan seseorang, ia sepertinya adalah Stresemann. Professor Ahn memberitahukan kalau kondisi mereka saat ini aman terkendali. Ia menyuruhnya untuk tak usah khawatir walaupun dekan sedikit kewalahan karena ketidak –hadirannya.

Professor Do masuk menemui Professor Ahn, Prof Ahn pun dengan segera mengakhiri panggilan. Ia berjanji akan menjenguk Stresemann.


Apakah ada kabar dari Festival Musik Yoon Yi Song? Buangan itu.... Maksudku, apakah mereka menyebabkan masalah?” tanya Profesor Do menyebalkan.

Profesor Ahn menenangkan karena semua berjalan dengan baik. Professor Do berkata kalau festival Yoon Yi Song adalah festival berkelas meskipun kemampuan mereka berkembang. Ia tak yakin kemampuan mereka cukup.


Disisi lain, Il Rak mengalami penolakan dikelas. Kertas full scorenya dibuang oleh seseorang dengan kesal. “Bagaimana kau bisa masuk ke sini? Ini adalah sampah.”

Il Rak pun memunguti kertas – kertasnya, maaf.


Soo Min heran kenapa Il Rak bisa tak berlatih, padahal siswa yang ada disana semuanya lulus audisi jadi kemampuannya memanglah hebat. Dengan wajah miris, Il Rak berkata kalau dia sendiri tak tahu kalau mereka akan sehebat itu.

Lihat aku. Tadi, mereka memuji permainanku. Di adalah bintang timpani terkenal!” angan Soo Min.



Tapi kenyataanya, Tubuh Soo Min terdorong dari dalam kelas karena ia sama – sama menerima penolakan. Pengajarnya marah karena Soo Min melemparkan stick pemukul timpaninya ke dia. Soo Min mengusap stick pemukul timpaninya dengan penuh kasih sayang, “memang apa salahku?


Aku melemaparnya hanya karena itu adalah bagian pertunjukanku. Banyak yang melakukan itu juga di TV.” Jelas Soo Min belum merasa salah.

Il Rak bertanya apa Nae Il sudah berlatih? Ia harap Nae Il sudah berlatih supaya tak terdepak. Nae Il meyakinkan diri kalau ia telah berlatih. Soo Min mengingatkan agar Nae Il berhati – hati, Professor Yoon Yi Song terkenal galak.

“Benarkah? Aku tak suka pemarah.” Tanya Nae Il mulai takut. Soo Min membuat Nae Il makin takut karena Professor Yoon tidak seperti Professor Ahn yang baik. Nae Il makin tegang.



Ruang latihan, Professor Yoon memukul punggung muridnya yang salah dalam memainkan piano. Ia menyuruh punggu mahasiswi itu untuk tegak. Ia marah – marah dalam memberikan pengajaran. Nae Il yang duduk menunduk semakin takut, tangannya gemetaran.

“Seol Nae Il. Seol Nae Il! Apa kau tuli?” bentak Professor Yoon saat Nae Il lama tak menunjukkan diri.


Nae Il maju dengan gemetaran. Ia akan memainkan tuts pianonya tapi jari – jari Nae Il serasa kaku dan tak bisa memainkan piano dengan benar. Wajah Nae Il semakin ketakutan.

“Kau mau main- main, ya? Tegas lalu mulai.” Bentak Professor Yoon seraya menepuk punggung Nae Il.



Perlakuan kasar Professor Yoon membuatnya mengingat masa menakutkan saat ia berlatih dengan guru galaknya semasa kecil. Guru Nae Il yang dulu juga sering memukulnya dengan rotan.

Seol Nae Il, oktafmu banyak yang salah Kau tak berlatih? Kau tak mau pulang?

Nae Il kecil menangis dan tak mau berlatih lagi. tapi gurunya menyuruh Nae Il untuk berlatih kembali sampai seratus kali dan kalau masih salam menjadi seribu kali. Fokus. Piano bukanlah untuk main – main tapi untuk masa depan Nae Il.



Nae Il semakin pusing, ia menatap full score namun karena begitu tegang pandangannya mengabur. Jarinya makin sulit digunakan. Nae Il tak mampu menahan dirinya lagi. ia berlari meninggalkan Professor Yoon yang galak.

Seol Nae Il, Seol Nae Il! Seol Nae Il!” teriak Professor Yoon yang tak dihiraukan Nae Il.


Nae Il duduk dibangku taman dengan nafas tak beraturan. Dia trauma dengan masa kecilnya yang harus berlatih piano dibawah tegangan. Air mata Nae Il tak tertahan lagi, ia pun menangis.

Orabang . . .



Nae Il akhirnya menemukan Yoo Jin, tanpa banyak kata ia segera menggenggam tangan Yoo Jin dengan ketakutan. Ia mencoba mencari ketenangan disana. Yoo Jin melepasan tangannya, memangnya ia anak anjing? Bagaimana kabar kelas Nae Il?

Nae Il sendiri tak tahu tapi ia mau pulang. Ia mau makan masakan Yoo jin dan menikmata duet piano mereka.

Kalau begitu, kau pulanglah. Jangan menganggu kesempatan emas bagi orang lain.” perintah Yoo Jin dingin.




Ibu Yoo Jin membelai rambut Do Kyung, sudah lama keduanya tak bertemu. Dan sekarang dia sudah cantik. Apa kau baru masuk kuliah saat kita ketemu dulu?

Saat aku pakai kacamata?

Kau lupa kawat gigimu?” canda Ibu Yoo Jin.

Do Kyung mendesis mendengar candaan ibu Yoo Jin. Ia tak menyangka kalau Ibu Yoo Jin membuat cafe disana. dia pasti sudah mendengar hubungannya dengan Yoo Jin. Ibu Yoo Jin membenarkan, bukankah mereka suka putus –nyambung. Apa sekarang sudah baikan?

Sekarang kami menjadi teman.




Min Hee bersembunyi agar bisa menghubungi Nae Il, ia memberitahukan kalau Do Kyung ada disana.

Mantan pacar? Yoo Jin bilang begitu? Jadi, memang benar mereka sudah putus. Baguslah. Dia betindak seperti halnya dia menantu Bosku. Aku mengira dia selingkuh. Dia pasti sekarang sudah pacaran dengan anak Bosku yang sekampus dengan kita.


Seorang perwakilan menemui Stresemann namun kondisinya kurang fit, bahkan ia mual – mual seharian ini. Perwakilan bertanya apakan Maestro masih mual? Memangnya makan apa?

“empat botol wine.” Jawab Yoo Jin. Perwakilan berkata kalau seandainya Maetro tak datang maka workshop tak akan berjalan. Secara mengejutkan, Stresemann menunjuk Yoo Jin sebagai muridnya untuk datang. Yoo Jin terkejut, Aku?

Perwakilan sama terkejutnya, ia tak menyangkan kalau Maestro memiliki murid. Ia tanpa ragu mempersilahkan Yoo Jin untuk menggantikan Stresemann.



Workshop berlangsung. Yoo Jin benar – benar menjadi konduktor dan dengan lihainya ia memberikan arahan pada para pemain. Yoo Jin tersenyum karena musik mengalun sesuai dengan arahannya. Beberapa orang merubung untuk melihat penampilan Yoo Jin yang memukau.

Ada juga Yoon Hoo yang tampak iri dan Professor Yoon yang berbinar melihat bakat Yoo Jin.




Nae Il yang biasanya mengikuti Yoo Jin kemanapun seperti anak itik sekarang hanya duduk terpekur. Moodnya masih kurang baik karena kejadian kemaren bahkan sama sekali tak ada ketertarikan untuk melihat penampilan Yoo Jin.


Professor Yoon memuji penampilan Yoo Jin, sepertinya hal yang aneh saat mengetahui Von Stresemann memiliki seorang murid. Seperti yang diharapkan kalau murid Stresemann sangatlah berbakat. “Dia mau lanjut studi di mana Dia akan ikut von Stresemann?”

Sedangkan Yoon Hoo tampak diam saat melihat penampilan Yoo Jin, seperti mata seorang yang iri.


Nae Il berjalan mendekat kearah workshop, ia mendengar ucapan Professor Yoon dan beranggapan kalau mungkin Yoo Jin pergi keluar negeri.

Il Rak dan Soo Min yang tadinya melihat pertunjukkan Yoo Jin pun menghampiri Nae Il. Il Rak memuji penampilan Yoo Jin yang hebat, seorang konduktor yang juga tampan. Ini membuatnya iri.

Itulah sebabnya aku menyukainya. Tapi, aku juga khawatir.” Gumam Nae Il.



Do Kyung menemui Mi Na dibangku taman, keduanya tampak akrab. Mi Na berkata kalau Ayah Do Kyung begitu mengkhawatirkannya. Ia takut kalau Do Kyung akan kecewa. Namun Do Kyung cukup berlapang dada, dalam audisi pasti adakalanya harus gagal. Mi Na menenangkan kalau Do Kyung akan di akui saat lulus audisi. Sedikit lagi . .

Sedikit lagi...” sergah Do Kyung. “Sedikit lagi kau pasti bisa berhasil. Aku terus mengingat hal itu. Ibu Dekan, Apakah aku bisa berhasil jika aku berusaha lebih keras lagi? Kau tahu, jika hanya sendiri, kita tak akan berhasil.

Mi Na menatap Do Kyung penuh sayang namun Do Kyung juga tampaknya tegar. Ia selamanya akan memandang keberhasilan tersebut. Mi Na mengusap lengan Do Kyung untuk memberikan sedikit dukungan.



Il Rak menghubungi ayahnya untuk memberikan kabar. Keduanya ngobrol dengan asik membahas ini dan itu. Ia pun kemudian mengakhiri panggilannya.


Soo Min juga mendapatkan panggilan, ini dari Shi Won. Il Rak girang dan berusaha untuk mengejar dan juga ikut mendengar percakapan antara Shi Won dan Soo Min. Soo Min mengeluh ini dan itu pada Shi Won.

Il Rak saking penasarannya sampai memepetkan telinganya ke telefon hingga jarangnya dengan Soo Min begitu dekat. Soo Min risih dengan hal itu, Yoo Il Rak, kau kenapa? Soo Min kemudian mengakhiri panggilannya.

Il Rak kesal, kalau sampai orang mendengar mereka akan mengira yang tidak – tidak. Ia terkejut, ia sadar kalau percakapan mereka pasti didengar oleh Shi Won. Ia menyuruh Soo Min untuk menghubungi Shi Won lagi takut dia salah paham. Tapi Soo Min tak peka, salah paham apanya.

Ataukah Shi Won suka pria yang kurang ajar?” gumam Il Rak setelah Soo Min pergi. “Tak mungkin!!”


Shi Won menatap ponselnya dengan aneh. Dua temannya yang lain bertanya apa yang Pengkhianat Soo Min lakukan? Palingan dia hanya mengeluh. Shi Won menyuruh dua temannya jangan memanggil Soo Min sebagai pengkhianat. Dia kan hanya belajar disana.

Nikmati saja sekarang. Dewan direksi tak akan diam. Buangan di masukkan ke dalam ke festival musik terkenal. Tentu saja mereka tak akan setuju.

Buku menu terlempar ke meja mereka, ketiganya terkejut saat melihat Ayah Il Rak berdiri menatap mereka dengan garang. Ia menyuruh mereka untuk memesan menu sekarang.



Yoo Jin tengah mematut dirinya didepan kaca, ia menerima panggilan dari Professor Yoon untuk bertemu. Il Rak berkata kalau Yoo Jin telah menutupi kekurangan mereka. Soo Min dengan berbinar memuji kehebatan Yoo Jin. Dia bangga jadi fansnya.

Mendengar kata fans membuat Yoo Jin celingukan, ia mencari – cari Nae Il. “Seol Nae Il di mana?”

“Tak tahu. Dia terus saja bersiul seperti sudah gila saja. Dia membuatku takut.” Jawab Soo Min.



Yoo Jin sudah menghadap Professor Yoon dan ia pun menerima pujian akan kehebatan penampilannya. Professor Yoon berkata kalau hanya Yoo Jin yang hebat sedangkan yang lain jelek, mungkin tanpa adanya Yoo Jin, ia sudah melaporkan mereka. Dia heran kenapa Maestro memilih mereka.

Dia melakukannya untuk Dekan Song. Bukankah itu alasannya?” tanya yang lain.

Professor Yoon mengejek Il Rak yang permainan violinnya jauh dari kata bagus. Juga pemain drum yang berlebihan dan pianis yang tak tahu skor dengan baik. “Apalagi Seol Nae Il. Kenapa dia bisa keluar begitu saja setelah kumarahi? Murid yang lain bisa tak konsentrasi karena tingkahnya itu. Mereka semua hanyalah buangan.



Yoo Jin yang sedari tadi diam teringat akan Nae Il yang menemuinya dengan tangan gemetaran. Mungkin sekarang ia tahu alasan Nae Il bertingkah aneh belakangan ini.

Mereka bukanlah buangan.” Tukas Yoo Jin. “Permainan mereka mungkin tak stabil. Pemain violin menuangkan semua perasannya. Pemain drum mungkin terlalu berlibihan tapi, dia hebat. Mungkin dia terlihat tak bisa bermain piano, Tapi, dia adalah pianis dengan pikiran yang murni.”

Yoo Jin sudah kesal, dia permisi untuk kembali pulang.



*****

0 Response to "Sinopsis Tomorrow Cantabile Episode 6 – 1"

Post a Comment

Jangan lupa komentar yaah^^ biar aku lebih semangat dalam membuat postingan. Meskipun jarang bales tapi semua komentar selalu aku baca kok.. *serius*

Gomawo^^