Sinopsis Tomorrow Cantabile Episode 4 – 2

Sinopsis Tomorrow Cantabile Episode 4 – 2

Setelah berhasil mengalahkan Il Rak, tiga anak Tim A pergi meninggalkan restoran. Sebenarnya, bagi Shi Won sendiri untuk ukuran pemain biola listrik, Il Rak cukuplah bagus.



Nae Il membeli jajanan di toko, namun saat membayar uang yang ada di kartu –nya sudah habis. Dia sedih tak bisa membeli makanan tersebut.

Suara perut kroncongan terdengar dengan jelas. Nae Il celingukan dan menemukan Min Hee tengah memegangi perutnya. Ia tampak malu menyapa Nae Il.



Keduanya memutuskan untuk pergi ke rumah Nae Il, dia akan menunjukkan isi kulkasnya pada Min Hee. Dan hasilnya, kulkas kosong mlompong tak ada apapun. Min Hee yang sudah ikut semangat jadi loyo, dia berterimakasih Nae Il telah mengkhawatirkannya.

Nae Il mempunyai sesuatu, dia kemudian menunjukkan cemilan almond miliknya. Min Hee menengadahkan tangan menanti cemilan dengan semangat, dan rupanya Cuma tinggal dua biji. Hahahaha.



Min Hee menawarkan untuk memakan biji almond tersebut bersama tapi Nae Il tak apa. Dia menyuruh Min Hee untuk memakannya sendiri saja. Ga ragu lagi, Min Hee meletakkan biji almond tersebut ke mulutnya dengan semangat. Hidungnya tiba – tiba mengendus sesuatu.

Steak... Sup! Roti.” Ucap Min Hee seraya mengendus mencari asal bau tersebut.


Makanan terhidang dengan penampilan yang menggugah selera, Min Hee tanpa pandang bulu langsung melahapnya. Ia kemudian mendongak, ia minta maaf karena telah memakan terlebih dulu tanpa menunggu dipersilahkan. Dia selalu buta kalau sudah didepan makanan.

Tak masalah, kok. Selama kau masih punya nafsu makan. Makanlah.” Ucap Nae Il so’ berkuasa. Yoo Jin yang menatapnya hanya bisa tersenyum sinis dengan bocah ajaib satu ini.

Min Hee melahap dengan cepat, dia memuji makanannya yang begitu enak. Min Hee tanya apakah Nae Il selalu makan seenak ini?

Tentu.” Jawab Nae Il menyombongkan diri.





Nae Il menyuap beberapa sendok makanan, dia tahu kalau makanan itu instan. Yoo Jin menyuruh Nae Il untuk makan saja, tinggal makan saja rewel.

Walaupun instant, tapi kau menyiapkannya dengan cinta, 'kan?” goda Nae Il. Ia memanggil Min Hee lalu membuat tanda hati bersama.

Yoo Jin menyuruh Min Hee untuk lekas menyelesaikan makannya. Irama –nya masih berantakan karena jarang mengikuti latihan kelompok.


Min Hee tertunduk, ia merasa bersalah tapi juga harus bekerja part – time jadi tak bisa ikut berlatih. Yoo Jin menyuruh Min Hee untuk berhenti saja bekerja. Min Hee semakin tertunduk sedih, kalau dia berhenti maka dia tak bisa membayar SPP dan itu tandanya ia tak bisa kuliah.

Berhentilah kuliah. Jika begitu masalahnya, tak ada gunanya kau kuliah.

Kenapa bisa? Kuliah itu sangatlah menyenangkan. Kampuslah juga yang mempertemukan kita, Orabang!” bela Nae Il.

Yoo Jin merasa kalau belajar sendiri juga bagus. Min Hee berkata kalau baginya, tanpa sarjana maka permainan musiknya tak akan berguna.

Apakah hanya itu alasanmu kuliah?” tanya Yoo Jin menohok perasaan Min Hee. Ia meletakkan sendok makannya. Min Hee mengucapkan terimakasih atas makanannya dan memilih pergi. Nae Il mencoba membujuknya agar tak pergi namun Min Hee sudah terlanjur sakit hati.



Nae Il dengan riang membantu pekerjaan Min Hee di cafe. Namun berbanding terbalik dengan Min Hee yang tampak sedih, dia menyuruh Nae Il untuk pulang saja. Nae Il mencoba menghibur dengan menunjukkan uang koin yang ia temukan di rumah, dia mengajaknya untuk makan tuna.

Aku akan keluar dari orkestra.” Ucap Min Hee dengan sedih. Nae Il merutuki sikap Yoo Jin yang jahat.



Ponsel Nae Il bergetar, ia menerima panggilan dari Yoo Jin. Tanpa babibu, Nae Il segera mengangkatnya.

Orabang, tak usah meneleponku jika kau rindu padaku! Karena kita akan berpisah untuk sementara waktu.”

Namun seketika marah Nae Il hilang, Yoo Jin menanyakan tentang full – scorenya. Nae Il lupa – lupa ingat dimana ia menyimpan full score tersebut.


Nae Il meminta maaf pada Min Hee, ia harus pergi namun Min Hee menahan tangannya. Nae Il mengira Min Hee masih sedih tapi bukan itu. Min Hee malah melihat saku Nae Il tempat menyimpan uang tadi.

Uang ini?” tanya Nae Il yang dijawab anggukan oleh Min Hee. Dengan terpaksa ia memberikan uang tersebut, tapi dia juga agak tidak ikhlas. Keduanya berebut tapi Nae Il kemudian membiarkan Min Hee mendapat uangnya meskipun dirinya harus pulang dengan kesal.


Ibu Yoo Jin melihat kepergian Nae Il, dia bertanya pada Min Hee apakah gadis tadi adalah temannya. Min Hee meng –iya –kan.

Pengantin baru memang lucu, ya.” Komentar Ibu Yoo Jin.


Yoo Jin membuka pintu untuk menuju ke apartemen Nae Il tapi malah Il Rak yang mabuk masuk rumahnya tanpa permisi. Yoo Jin kesal dengan Il Rak yang masuk begitu saja terlebih ada Soo Min yang mengikutinya.

Maaf mengganggumu. Aku hanya mau menghentikannya. Tapi, Il Rak terus bersikeras mau ke rumah Tuanku Cha...

Tuanku Cha, Kau memanggilku dengan itu.. Timpani?”

Soo Min terharu Yoo Jin mengingat dirinya. Yoo Jin tentu saja ingat dengan semua anggota tim apalagi permainan Soo Min lah yang terbaik diantara yang lain.



Il Rak membawakan Yoo Jin makanan, namun Yoo Jin sendiri sudah makan. Baiklah, Il Rak akan meletakkan makanan tersebut dalam kulkas. Nae Il tiba – tiba muncul lalu melarang Il Rak menaruhnya disana. Ia pun kemudian menyimpankannya.

Seol Nae Bal, kau menggunakan kulkasku sekarang. Bagaimana kau bisa masuk?” kesal Yoo Jin.
Nae Il mengingatkan kalau pintu depan terbuka makannya dia bisa masuk. Soo Min yang menyadari kehadiran Nae Il pun jadi terkejut, keduanya sama – sama kesal dan ribut. Yoo Jin sungguh pusing menghadapi manusia ajaib didepannya. “Diam!!!”

Nae Il berkata kalau dia akan mencari full scorenya tanpa membuat suara.




Yoo Jin bertanya untuk apa Il Rak datang kesana dengan membawa daging? Il Rak menghampiri Yoo Jin lalu meraih tangannya.

Sahabatku!” Il Rak terdiam. Ia meralat ucapannya. “Maksudku, Guru. Berikan aku les privat. Hanya kau yang bisa aku andalkan sekarang. Kemampuanku lebih hebat dari Jung Si Won. Benarkan?

Yoo Jin diam. Dia hanya mendesah seolah mengakui kalau kemampuan Shi Won memang diatas Il Rak.


Soo Min dan Nae Il sekarang tengah memasak, Nae Il melihat bagaimana Soo Min memasak. Tampaknya kemampuan Soo Min diatasnya sehingga rapi dalam memotong. Soo Min tertawa mengejek kemampuan Nae Il.

Nae Il tersindir. Dia menyombongkan diri kalau ia tahu bagaimana selera Orabang. Jadi dia yakin Yoo Jin tak akan menyantap makanan Soo Min. Buat apa rapi dalam memotong. Soo Min balas mengolok Nae Il, kalau nanti Yoo Jin melihat makanannya maka dia tak akan melirik makanan Nae Il. Haha. Keduanya pun adu kepala, menyuruh satu sama lain untuk menjauhi Yoo Jin.


Yoo Jin menawarkan Il Rak minum tapi dia malah menolaknya. Kalau begitu, Yoo Jin menyuruh Il Rak untuk pulang saja. Il Rak yang sudah mabuk mengutarakan betapa pesimisnya dia. merasa tak bisa menjadi concert master yang baik.

“Tidak....” ucap Yoo Jin.



Il Rak mendekatkan tubuhnya, dia meminta Yoo Jin menjelaskan kenapa dia bisa menjadi seorang concert master yang baik.

Kau bisa merilekskan pikiran para pemain lain.” Yoo Jin berfikir sejenak. “Kau orang yang easy going.

Bukannya senang, Il Rak malah semakin kesal akan hal itu. Bukan ini yang inginkan, dia ingin diakui kalau dia juga mampu dalam memainkan violin. Dia semakin merasa kalau dirinya tak pantas menjadi concertmaster.


Kalau begitu, berhentilah.

Il Rak juga menolak untuk berhenti. Dia tak akan berhenti karena ini adalah Orkestra pertamanya. Dia akan tampi dihadapan Yoo Jin dan lainnya. Dia akan menjadi concertmaster. Dia akan berusaha.

Yoo Jin terdiam. dia ingat betul bagaimana ia kemarin mencoba meminta kesempatan sehari pada Von Stressemen. Yoo Jin pun kemudian mengajak Il Rak untuk berlatih sekarang juga tapi ll Rak menolak dan tepar lebih dulu.


Soo Min dan Nae Il muncul. Keduanya kembali ribut agar Yoo Jin mau mencicipi makanannya. Haduh. Yoo Jin pusing sendiri dan memilih meninggalkan mereka berdua.


****
Il Rak bermain violin dengan kaos bergerak – gerak, Yoo Jin hanya bisa menghela nafas dengan sikap aneh ini. Il Rak membela diri, katanya ini keren. Lagipula dalam musik, penampilan adalah hal yang paling utama. “Apa sudah mirip dengan avant-garde?

Nae Il muncul dari balik punggung Il Rak, rupanya ini ulahnya yang menggerak – gerakkan baju Il Rak. Ia menawarkan Yoo Jin untuk melakukannya juga tapi Yoo Jin dengan tegas menolak.

“Yoo Jin, memang hebat dalam semua hal. Tapi, kau itu tak asik. Kau harus lebih santai. Musik ini juga menjadi hidup karena Beethoven adalah petualang. Mengandalkan semangat Beethoven dan menciptakan orkestra dengan nuansa rock! Bukannya itu keren?”



Nae Il setuju dengan tanggapan keren Il Rak. Namun lain halnya dengan Yoo Jin yang begitu serius, dia meminta keduanya jangan aneh – aneh. Mereka sudah tak ada waktu, pikirkan saja iramanya
.
Sudah tahu Yoo Jin sudah mendidih, Nae Il masih punya waktu kembali menawarkan hal tadi. Yoo Jin makin geram dengan sikap ga serius keduanya. “kalau kau tak berhenti, Aku akan menggantimu sebagai concertmaster.”

Yap. Ancaman ini mampu membungkam Il Rak.




Setelah semua kembali duduk, Yoo Jin menatap bangku kosong milik Min Hee. Sepertinya ia khawatir juga akan kondisi pemain contrabass itu.


Mi Na mengintip Orkestra S yang tengah berlatih. Dia melihat perdebatan tadi dengan hati yang sedih.


Saat keluar, dia bertemu dengan Stresemen. Keduanya pun memilih berbicara dipinggir danau. Mi Na mengutarakan rasa sedihnya melihat muridnya beradu meskipun kompetisi bisa membuat mereka semangat. Stressemen merasa kalau mereka tak memiliki cara lain.

Iya. .  tapi . .” ucap Mi Na menggantung ucapannya.

Stressemen menyuruhnya untuk mengatakan apa yang ingin ia katakan. Dulu, Mi Na pernah berhenti bermain piano. Dirinya adalah orang yang paling menyukai permainan Mi Na lebih dari siapapun hingga ia merasa tak bisa melindungi musik Mi Na. Kalau memang ada sesuatu yang ingin ia lakukan. Ia akan membantu.

Mi Na terlihat ragu.



Ahjussi. Kau pilih mana, cinta atau persahabatan?” tanya Nae Il pada Ayah Il Rak.

Ayah Il Rak dengan tegas akan memilih cinta. Jawaba ini jelas membuat Nae Il semakin semangat. Ayah kemudian melanjutkan kalau Nae Il memilih cinta maka dia akan memiliki anak. Anak adalah hal terpenting.

Kau sangat mencintai Il Rak? Setiap kali kau melihatnya, ada teburan hari di matamu.



Ayah Il Rak membenarkan. Il Rak turun dari kamarnya. Dengan manja Ayah bertanya kenapa Il Rak harus turun? Padahal dia bisa menyiapkan jus untuk Il Rak. Ia pun segera menyiapkan jus untuk anak tercintanya.
Seol Nae Bal! Kau temanan dengan Choi Min Hee, 'kan?

Mini Min Hee? Kenapa?” tanya Nae Il dengan heran.


****
Yoo Jin tengah mencari – cari sebuah tempat dengan bantuan ponselnya. Nae Il datang mengejutkannya, dia menebak kalau Yoo Jin pasti tengah mencari tempat Min Hee karena khawatir. Namun dasar Yoo Jin, dia mengelak kalau ia bukanlah mencari tempat Min Hee melainkan ingin memastikan apakah Min Hee akan lanjut atau tidak.

Orabang, kau pasti hanya malu.” Tebak Nae Il. “Mini Min Hee belum membayar tagihannya, jadi ponselnya diputuskan. Dan karena itu dia kerja part- time di toko. Ikuti aku. Aku tahu di mana tempatnya.”


Yoo Jin berjalan cukup jauh bersama Nae Il tapi belum juga menemukan tempatnya. Nae Il juga bingung sendiri, dia biasanya lewat sana tapi tokonya banyak jadi dia lupa.

Mini Min Hee!” teriak Nae Il ketika melihat Min Hee kena omel oleh bos –nya.


Bos –nya marah karena Min Hee tak mau mengerjakan perkerjaan lain selain menjaga kasir. Memangnya kau itu Putri? Kenapa kau takut tanganmu terluka?

Min Hee mengaku kalau tangannya terkilir saat harus mengangkat dus kemarin namun bos tak mau menerima alasan apapun. Dia meminta untuk ganti rugi atas botolnya yang rusak. Bos melirik contrasbass milik Min Hee, itu berapa harganya?

Min Hee menahan tangan bos –nya agar jangan mengambil benda itu.


Min Hee membawa lari contrabass –nya, ia tak mau menyerahkannya pada bos tersebut namun bos itu mau memaksa. Untung Yoo Jin datang, “Kau mau masuk penjara? Kau tahu seberapa kejamnya hukum itu? Mengambil barang milik orang lain secara paksa adalah kejahatan.

Kau sudah menerima gajimu?” Min Hee menggeleng. “Bagaimana dengan jam lemburmu?” Min Hee kembali menggeleng. Dengan tajam Yoo Jin menatap bos Min Hee, dia bertanya seberapa kejam hukum akan menjeratnya?

SKAK. Bos diam tak bisa berkutik maupun mengelak lagi.




****

Keesokan harinya, Min Hee tak terlambat lagi saat berangkat latihan. Nae Il menghampiri Min Hee dengan senang temannya tak lagi harus terlambat. Min Hee menjelaskan kalau dirinya tak lagi akan terlambat karena tak bekerja di toko lagi. dia mungkin tak akan mendapatkan gajinya tapi ia tak khawatir dengan SPP karena bekerja di cafe. Dan sekarang ia mengajar di SMP.

Nae Il ikut senang dan menyemangati Min Hee. “Fighting.”



Nae Il menghampiri Yoo Jin dengan pandangan penuh kekaguman. Jelas saja Yoo Jin risih akan tatapan itu, kenapa?

Orabang, aku tahu otakmu itu keren, tapi hatimu jauh lebih keren.”

Nae Il memeluk Yoo Jin dengan gemas namun Yoo Jin melepaskan tubuh Nae Il yang menempel bak ubur – ubur. Latihan akan dimulai.

Dasar pemalu..” desis Nae Il masih terdengar Yoo Jin. Meskipun tadi muka Yoo Jin serius, tapi dibalik itu ia menyunggingkan senyum.



Seung Oh dan rekannya mengendap – endap menuju ruang latihan Orkestra S namun seseorang akan keluar ruangan. Mereka pun segera bersembunyi sebelum ada yang melihat.


Dua orang keluar dengan kemarahan yang membuncah karena sikap kejam Yoo Jin. Soo Min mencoba menahan dan menjelaskan kalau Yoo Jin adalah orang yang adil. Dia yakin kok kemampuan mereka telah meningkat. Keduanya mulai tersenyum berniat kembali mungkin.

Tapi rombongan yang lebih banyak keluar, Dan Ya frustasi dengan sikap Yoo Jin dan yang lain pun juga sebal bukan kepalang. Il Rak mencoba menahan tapi diacukan begitu saja.



Seung Oh yang bersembunyi bisa tersenyum penuh kemenangan melihat betapa berantakannya Orkestra Yoo Jin.


Profesor Ahn menunjukkan jajaran juri yang akan ikut dalam penilaian lomba Orkestra. Ada enam juri didalamnya termasuk ia sendiri. Mi Na tampak ketar – ketir karena akan ada tiga juri yang akan mengikuti arahan dari petinggi kampus. Ia takut kalau nanti penilaian dianggap tak adil.


Yoo Jin memainkan tangannya untuk membimbing teman yang lain yang tengah memainkan alat musik. Dalam hatinya Yoo Jin merasa kalau permaianan telah menjadi lebih bagus. Mereka telah menemukan irama, semuanya mengikuti arahan.

Namun ketika ditengah, iramanya semakin menghilang. Yoo Jin menatap setiap pemain yang ternyata fokus pada note mereka masing – masing dan tak ada satupun yang menghadap kearahnya.

Tak ada satupun yang melihat konduktor.” Batin Yoo Jin dan perlahan menurunkan tangannya. Dia berhenti meng –konduktori dan tak ada satupun yang menyadari sampai beberapa saat.


Yoo Jin memejamkan mata menahan sesuatu yang mengganjal dalam pikirannya. Il Rak tersadar Yoo Jin berhenti, dia meminta maaf karena dia tengah fokus pada score –nya. semua orang tertegun namun Yoo Jin berkata tak apa.



Malamnya, Yoo Jin tampak tak bersemangat. Nae Il menemani Yoo Jin, ia merasa kalau permainan tadi siang adalah permainan yang orabang inginkan. Tapi Yoo Jin sendiri merasa ada sesuatu yang salah.

Melihat betapa buruknya mood Yoo Jin, Nae Il akan memainkan piano untuk Yoo Jin. Yoo Jin menyuruh Nae Il untuk pulang saja namun Nae Il menolak dan bersikeras memainkan piano.



Yoo Jin sadar kalau lagu yang dimainkan Nae Il itu adalah yang orkestra mainkan. Nae Il tahu, karena mendengarkannya setiap hari makannya dia tahu. Musiknya memang agak rumit tapi menyenangkan, ia menyuruh Yoo Jin untuk menemukan kesalahannya.

Nae Il pun segera menarikan jari jemarinya diatas tuts piano. Yoo Jin tersenyum, kalau Nae Il bermain dengan kemauannya maka tak akan ada kesalahan. Yoo Jin mencerna sendiri ucapannya, ia terdiam.

“Gembira dan bebas. Interpretasi tanpa beban.” Batin Yoo Jin saat mengingat bagaimana cara anggota orkestranya bermain. Mereka punya cara dan gaya mereka sendiri. bukan terpaku pada teknik maupun yang lain, mereka bermain ala mereka. “Sekarang aku sadar kenapa Maestro memilih kalian semua.



*****
Pagi ini, Von Stressemen mematut diri didepan kaca. Entah kenapa hari ini ia tampaklah begitu gembira.


Nae Il dengan riang memasuki rumah Yoo Jin. Yap. Hari ini adalah hari dimana lomba akan dilaksanakan.

Nae Il tersenyum melihat Yoo Jin masih terlelap dalam tidurnya. “Orabang, jika kau tak bangun juga. Kau pasti akan menyesal.”

Yoo Jin tak bangun juga, Nae Il pun menjatuhkan tubuhnya diatas tubuh Yoo Jin. Seketika senyum Nae Il berubah, dia merasakan dadanya berdebar dengan sangat kencang bahkan dia tak memeluk atau berbuat apapun pada Yoo Jin. Dia menjauhkan dirinya.

Yoo Jin terkejut melihat Nae Il duduk disampingnya, dia berharap Nae Il tak melakukan apapun padanya. Ia pun terkejut seketika, kenapa Nae Il tak membangunkan dirinya?

Nae Il sama sekali belum menjawab, jantungnya masih kejar – kejaran tak keruan.



Kau pasti sudah tahu apa keputusan para petingga kampus. Aku juga tahu, sangat sulit untuk mengelola 2 orkestra sekaligus.” Jelas Mi Na saat rapat sebelum lomba.

Profesor Do berkata kalau seharusnya memang orkestra tersebut tak usah dibentuk karena sudah jelas mereka harus membubarkan salah satu dari mereka.

Aku harap penilaian yang adil dari kalian hingga semua dapat menerima hasilnya.”

Kalau begitu, Profesor Do meminta agar Profesor Ahn tak diikut sertakan dalam penilaian ini. Dia adalah penanggung jawab orkestra jadi kalau dia ikut maka akan diragukan hasilnya. Profesor Ahn tak berucap apapun, hanya helaan berat yang ia keluarkan.




Akan adil jika aku yang bergabung.” Ucap Von Stressemen yang muncul mengagetkan semuanya terlebih Profesor Do.


Yoo Jin menatap penuh harap gedung latihannya, dia sudah rapi dengan potongan rambut baru. Nae Il datang menghampiri, dia memberikan vitamin agar orabangnya bisa fokus mengarahkan nantinya.

Tanpa basa – basi, Yoo Jin memakan vitamin itu lalu masuk ke ruang latihan.



Suara orkestra terdengar memenuhi ruangan, itu suara rekaman Orkestra Seung Oh. Semua orang jadi pesimis karena permainan Orkestra lawan mereka begitu apiknya, bahkan Dan Ya berfikir kalau mereka akan kalah.

Il Rak dengan gugup membaca score –nya, dia mencoba kembali memahami score tersebut namun Yoo Jin merebut lalu menyobek score tersebut. Semua orang berdebar menanti apa yang akan Yoo Jin lakukan, akankah dia marah?

Robek note kalian.” Perintah Yoo Jin.


*****


0 Response to "Sinopsis Tomorrow Cantabile Episode 4 – 2"

Post a Comment

Jangan lupa komentar yaah^^ biar aku lebih semangat dalam membuat postingan. Meskipun jarang bales tapi semua komentar selalu aku baca kok.. *serius*

Gomawo^^