Sinopsis Tomorrow Cantabile Episode 10 – 2

Sinopsis Tomorrow Cantabile Episode 10 – 2
“Ini dia, Yoo Jin, si raja arogan! Yoo Jin akan menuju ke tempat duduknya.” Ucap Nae Il dengan riang. Namun keadaan menjadi canggung ketika ditempat duduk khusus Yoo Jin sudah ada Yoon Hoo yang menempati.

Yoon Hoo sadar kalau tempatnya duduk adalah khusus untuk Yoo Jin, ia bangkit dan meminta maaf. Nae Il mempersilahkan Yoon hoo untuk tetap duduk, ia pun menyikut lengan Yoo Jin yg terus diam.

Il Rak dan Soo Min juga tak enak hati berkata kalau Yoon Hoo bisa tetap duduk disana. dengan tanpa rasa bersalah, Yoon Hoo kembali duduk. Dia mendengar kalau pesta ini diadakan atas kembalinya Yoo Jin?



“Ya. Tapi, ada seseorang yang tak menganggapnya.” Jawab Yoo Jin. Yoon Hoo dengan polos menanyakan siapa orang itu? Dimana?

Nae Il, Soo Min dan Il Rak terus terdiam canggung mendengar pembicaraan keduanya. Yoon Hoo melanjutkan kalau semua orang disini merayakan untuk Yoo Jin jadi Yoo Jin harus berhenti bersikap jutek.

“Cara bicaramu memang sopan, ya.” Sindir Yoo Jin.

“Terima kasih. Caramu bicara juga tak pernah berubah. Kau juga harus lebih melembutkan nada bicaramu, Jadi, teman- temanmu akan merasa nyaman.” Tutur Yoon hoo membuat suasana semakin tak nyaman.



Yoo Jin mengalihkan pembicaraanya dengan Yoon Hoo dan menanyakan dimana keberadaan ayah Il Rak. Ia ingin menyapanya.

“Dia sedang keluar.” Tukas Yoon Hoo. “Dia baru mulai belajar seni memijat seminggu lalu.”

Yoo Jin menyindir Yoon Hoo yang sepertinya banyak tahu. Yoon Hoo dengan polos membenarkan, ayah Il Rak menyukainya bahkan ia mendapatkan kartu gratis seumur hidupnya.

“Jadi, siapa saja bisa dapat, ya?” tanya Yoo Jin tajam pada Il Rak.



Nae Il mengatakan kalau hanya orang tertentu yang mendapatkannya, ia juga tak dapat. Soo Min mengangkat tangan, ak . . . Il Rak segera memotong sebelum Soo Min berucap. Hanya orang – orang tertentu yang mendapatkannya. Paket ini hanya untuk 2 orang saja. Untuk sahabatnya Cha Yoo Jin dan teman sangat baik Yoon Hoo. Hanya dua.

“Hanya dua?” tegas Yoo Jin tak yakin. Yoon Hoo mengucapkan terimakasih pada Il Rak. Yoon Hoo merasa kalau semua orang senang karena kembalinya Yoo Jin, jadi dia harus senang. Yoon Hoo mengajak Yoo Jin untuk berteman juga.

“Aku pulang dulu.” Kesal Yoo Jin. “Bersenang- senanglah. Aku harus memikirkan musik untuk kita, jadi aku tak punya waktu.

Nae Il mengekori Yoo Jin yang pergi. Yoon Hoo pun juga memutuskan untuk pulang juga.



Ketiganya berjalan berdampingan menuju rumah, Yoon Hoo merasa sangat senang bisa tinggal segedung jadi bisa pulang bersama. Yoo Jin tak sependapat, memangnya kalau tinggal segedung harus selalu pulang bersama?

Yoon Hoo rasa itu akan aneh kalau mereka pulang terpisah. Bagi Yoo Jin tak masalah, mereka kan tak saling menyukai.


“Kau saja yang tak menyukainya, dia menyukaimu, kok.” Ucap Nae Il menengahi.

“Kau mau membuatku malu, ya?” kesal Yoo Jin.

Yoon Hoo mengaku kalau dia juga membenci Yoo Jin. Nae Il menoleh dengan terkejut, ia tak percaya Yoon Hoo berkata seperti itu. Yoon Hoo tersenyum. Ia berterimakasih pada Yoo Jin dan sekarang mereka akan saling membenci. Yoon Hoo mengubah nada bicaranya jadi riang saat mengucapkan selamat tinggal pada Nae Il.

Nae Il membalasnya namun masih tertegun mendengar ucapan Yoon Hoo. Saat ia menoleh pada Yoo Jin, Nae Il buru- buru menunduk.



Yoon Hoo kembali ke rumahnya, “Kupikir, aku sudah semakin dekat. Tapi, sekarang malah kembali ke posisi awal. Aku tak punya tenaga lagi.”

Yoon Hoo memegang tangan kirinya dengan sedih.


Yoo Jin mendesah atas sikap Yoon Hoo namun Nae Il meminta Yoo Jin agar jangan terlalu keras pada Yoon Hoo. Dia adalah orang yang membantu mereka saat Yoo Jin tak ada.

“Kau plin- plan sekali. Tetapkan! Pihak siapa yang akan kau pilih? Aku atau dia?” kesal Yoo Jin. Nae Il diam tersipu, ucapan Yoo Jin tadi seolah meminta Nae Il untuk memilih siapa. Ia pun memegang lengan Yoo Jin tapi Yoo Jin menepisnya, ia meminya Nae Il untuk melupakan kata – katanya tadi.

“Tentu saja, aku akan memilihmu. Aku sungguh – sungguh.”

“Benarkah?” tanya Yoo jin. Nae Il mengangguk dengan senyuman, ia akan selalu berada disisi Yoo Jin. Yoo Jin pun membalas senyuman Nae Il pula.



Yoo Jin menyalakan sebuah musik. Nae Il tahu kalau itu adalah musik Rachmaninoff. Apa itu untuk musik mereka nanti? Yoo Jin sendiri belum yakin, hanya saja dia ingin tahu bagaimana kalau Nae Il memainkan ini. Sepertinya akan menyenangkan kalau memainkannya bersama. Jika Nae Il mau berlatih serius, mungkin saja mereka bisa melakukannya.

“Seperti pasangan yang sebenarnya. Pianis dan konduktornya.”


Yoo Jin menoleh, keduanya pun saling menatap satu sama lain. pandangan yang penuh arti. Namun seketika Nae Il melepas kontak matanya dengan Yoo Jin, dia permisi untuk pulang karena sudah larut malam. Ia mengantuk.

Yoo Jin mengucapkan selamat malam. Ia tersenyum setelah Nae Il pergi, sebelumnya Nae Il lebih agresif dari ini.



Nae Il berdiri dibalik pintu rumah Yoo Jin, dia tersenyum membayangkan bagaimana keduanya tadi. Dengan tangan memegang dada yang berdebar, Nae Il tak hentinya mengulum senyum.


Stresemann tengah melakukan sambungan telefon pada Yoo Jin, dia berkata kalau Mi Na tak mau mengangkat telfonnya. Dia takut kalau Mi Na berfikir ia kabur lagi. apa Yoo Jin sudah mengatakanya?

Yoo Jin lupa melakukan itu. Stresemann dengan geregetan berkata kalau dia akan membunuh Yoo Jin ketika kembali.

“Kau mau kembali?”

“Kontrakku sebagai konduktor kerajaan akan segera berakhir. Setelah itu... Aku harus melindungi Mi Na.”

Yoo Jin bergumam kalau salah siapa juga yang telah membuat Dekan bersikap seperti itu. Stresemann kurang jelas mendengarnya, ia meminta Yoo Jin mengulang ucapannya tadi.

“Bukan apa- apa. Cepatlah kembali dan meminta maaf padanya.”



Diseberang telefon, Stresemann bisa mendengar suara musik Rachmaninoff. Apa dia akan menggunakan musik itu untuk orkestra barunya? Apa dia sudah menemukan pianisnya?

Yoo Jin belum tahu pasti lagipula Orkestranya juga belum mendapatkan izin resmi. Stresemann menyuruh Yoo Jin tetap menggunakan musik tersebut, dia akan mengirimkan seorang pianis yang tak akan pernah ditolak oleh Ketua.



*****
Seorang wanita cantik tengah berada dalam sebuah mobil, ia membuka satu persatu lembar majalah yang dibacanya. Sampai akhirnya ia tersenyum, ia melihat ada Yoo Jin yang dimuat di majalah dan menjadi murid satu –satunya Franz Von Stresemann.

Wanita tadi pun sampai di Han Eum.


Yoo Jin memperhatikan skornya sambil memainkan tangan, dia merasa kalau permainan antara anak Tim A dan Tim S sangat lah berbeda. Pemikiran diantara keduanya sangat bertolak belakang. Nae Il menyarankan untuk memperbaiki hubungan mereka.

Nae Il menutup bukunya lalu menunjukkan cover buku dengan judul aku juga bisa berpacaran. Nae  ll dengan serius berkata kalau dia mulai memikirkan hubungan mereka. Mereka sudah melewati tahap pertama dan kedua dalam hal pendekatan. Dan yang ketiga adalah tahap berpacaran.

Nae Il menunjukkan kata berpacaran yang tertulis dalam buku.



Yoo Jin merebut buku Nae Il lalu melemparnya,  kalau memang Nae Il mempunyai waktu untuk membaca maka pelajari skornya. Nae ll cemberut, ia meminjamnya dari perpustakaan. Ambil! Cepat!

Yoo Jin terpaksa melakukannya, kemaren dia melihat Nae Il ke perpustakaan, rupanya hanya untuk ini.

“Panduan ini akan memanduku dalam hal berpacaran. Buku ini akan memandu kita.”

“Memandu apanya?”



Nae Il meminta Yoo Jin menulis nama kontak telefonnya dengan nama Seol Lae Im (Debaran) dan menmbahkan bentuk hati diakhir nama. Yoo Jin mencoba dengan sekuat tenaga tapi ia tak bisa. Ia rasa nama Seol Nae Il saja sudah cukup.

Nae Il cemberut. Yoo Jin mengubahnya menjadai Seol Lae Im tanpa bentuk hati.

“Yang penting adalah bentuk hatinya. Tanpa bentuk hati,  Seol Nae Bal atau Seol Lae Im kan sama saja.”

“Sama apanya? Seol Nae Bal berubah menjadi Seol Lae Im. Kau tak tahu rasanya berterima kasih, ya?”



Nae Il cemberut, ia berinisiatif mengambil ponsel Yoo Jin dan merubah namanya menjadi Seol Lae Im dan menambahkan 3 bentuk hati. Nae Il mengembalikannya, ia meminta Yoo Jin untuk , menelfonnya dua kali sehari demi menumbuhkan rasa kasih sayang.

Nae Il permisi untuk ke kelas tapi lebih dulu ia menyentuh pipi Yoo Jin dengan telunjuknya, “Aku mau ke kelas dulu.” Kekeke. Yoo Jin menepis telunjuk Nae Il meskipun akhirnya tersenyum juga.



Gadis berambut hitam panjang, dia yang tadi berada dalam taksi menarik perhatian makasiswa Han Eum. Gadis itu sendiri berjalan tanpa terganggu dengan pandangan anak – anak yang terarah padanya.

Nae Il juga berpapasan dengan gadis tadi, ia sama kagumnya melihat gadis berambut panjang itu. “Sohn Soo Ji? Bukankah dia panis terkenal itu?” gumam Nae Il.


Ketua berkata kalau dewan direksi telah memutuskan untuk menolak orkestra ini. Mi Na bingung,tapi kan mereka sudah janji. Ketua menyalahkan ini semua pada Mi Na yang telah membuat kekacauan pada 2 orkestra dan juga mengundang Von Stresemann.

Tiga orang memasuki ruangan tanpa permisi, ketua pun kesal namun setelah mengetahui siapa yang datang. Ia segera berdiri. Soo Ji bertanya dimana Dekan Han Eum?

Ketua berdiri, dia memperkenalkan diri sebagai ketua tapi Soo Jin melewatinya begitu saja menuju kearah Mi Na.




Soo Ji memberikan hormat pada Mi Na, dia datang atas permintaan Maestro Franz Von Stresemann. Ketua ikut penasaran. Soo Ji menanyakan keberadaan Streseman.

“Tolong panggil dia, kami hanya akan memfotonya bersama Nn. Sohn Soo Ji. Pertemuan idola klasik dan virtuoso terkenal di dunia.” Pinta reporter.




Soo Ji berjalan keluar ruangan dengan marah karena merasa dibodohi. Tapi Ketua mencoba menahan Soo Ji.

“Apakah kalian dan dia telah merencanakan ini? Memintaku datang ke sini.” Tuduh Soo Ji. Ketua meyakinkan kalau dia tak merencanakannya.

“Jika tidak. Di mana dia? Dia adalah seorang profesor di Han Eum. Apakah kalian membuatku datang ke sini, Dan malah meminta dia kembali ke Eropa?”

Kedua reporter berkasak – kusuk kalau mungkin Soo Ji telah ditipu oleh Han Eum. Ketua bingung, ia kemudian menegaskan kalau ia akan memanggil Stresemann kembali. Soo Ji pun tersenyum penuh makna seolah ini semua memang tak – tiknya.



Stresemann keluar dari taksi dengan seikat bunga. Memang kampus Mi Na lah yang terbaik. Dia menebak kalau Soo Ji pasti sudah sampai disana.

Ponsel Stresemann berdering, ia segera mengangkat telfon dari Mi Na. “Mi Na! Ini aku, Franz. Aku baru saja tiba. Di depan kampus. . .”

Tut. Tut. Panggilan tersebut diakhiri oleh Mi Na, sepertinya ia marah pada Stresemann.


Mi Na bangkit memandangi hamparan luas yang ada dihadapannya, disesapnya secangkir teh manis.

“Teh nya manis. Harusnya sejak dulu begini saja.”


“Sohn Soo Ji? Pianis terkenal asal Korea. Yang bisa memaikan Etudes oleh Chopin saat berumur 7 tahun. dan tampil di Carnegie Hall saat berumur 10 tahu? Sohn Soo Ji?” tanya Il Rak penuh keterkejutan.

Shi Won berfikir kalau Il Rak banyak tahu tentangnya. Il Rak membenarkan, ayahnya sangat mengidolakan Sohn Soo Ji. Apa Sohn Soo Ji akan bermain bersama kita?

“Ya, bersama Rising Star kita.”

Semua orang bersorak, mereka sudah mendapat persetujuan kalau begitu. Yoo Jin memperingatkan kalau akan ada banyak media yang datang jadi mereka harus mempersiapkannya dengan baik.




Nae Il berjalan dengan santai, Professor Do sudah berdiri dihadapan Nae Il dan menanyakan kenapa Nae Il tak masuk kelas?

Nae Il perlahan berjalan mundur menjauhi Profesor Do. Ia berlari, “Profesor, Tidak mau! Aku tak mau belajar dengan anda.”

Nae Il tetap berlari meskipun Profesor Do mengejarnya. Ia pun berhasil lolos.

“Seol Nae Il! Kau bisa tak lulus! Setidaknya dia mengikuti 1 pelajaran saja. Mungkin dia tak akan bisa mengikuti kompetesi apapun.” Peringat Profesor Do tapi tak digubris oleh Nae Il yang sudah kabur.



Nae Il berjalan mengengendap endap menuju ke ruangan piano, ia menemukan ada Yoon Hoo disana. dia bertanya apakah Profesor Do tak akan kesana? Yoon Hoo rasa tidak. Nae Il mendesah dengan sikap keras kepala Profesor Do, padahal dia sudah tak mau latihan.

Yoon Hoo menyodorkan lembaran kertas untuk diisi oleh Nae Il, dia ingin mereka melakukan duet untuk konser Raising Star. Nae Il ragu untuk menerimanya karena begitu mendadak. Mereka bisa memainkannya tanpa harus tampil.

“Aku tak mau. Aku mau mereka mendengarkan musik kita. Harmoni kita. Nada yang kita buat, emosi yang kita luapkan. Aku ingin mendengar tepuk tangan mereka.”

Tapi Nae Il tak mau mendengarkan tepuk tangan apapun, dia hanya ingin memainkannya dengan santai. Yoon Hoo bertanya, apa arti musik tanpa penonton?

“Sejak saat itu, saat aku mendengarmu memainkan. Ravel - Water Game, aku sangat ingin berduet denganmu. Tapi, tak hanya sekedar berlatih saja. Aku ingin berdiri di panggung bersamamu.” Ucap Yoon Hoo.




Dikamar mandi, tangan kiri Yoon Hoo kondisinya semakin parah. Bahkan dia memeganginya, sepertinya sangat menyakitkan.


Stresemann duduk dengan galau, kenapa Mi Na tak mau mengangkat telfonnya?

Soo Ji muncul, kalau bukan karena maestro mungkin dia tak akan mau melakukan konser ini. Apa memang dia harus melakukan konser dengan maestro?

“Apakah ada rekomendasi konduktor lain lagi?”

Soo Ji membuka tas –nya, ia menunjukkan seorang yang namanya dimuat dimajalah. Cha Yoo Jin putra Cha Dong Woo sekaligus murid satu – satunya Van Stresemann. Dia mendengar pertunjukannya di Youtube. Ia mau memainkan Rachmaninoff dengannya.

“Musik ini dinamakan Hati ke hati" ucap Stresemann.


Yoo Jin menemui Stresemann, sudah lama mereka tak berjumpa. Streseman bersikap layaknya remaja yang tengah kasmaran, dia bertanya kenapa Mi Na masih marah padanya? Apa ini trik Yoo Jin?

Yoo Jin tak menggubris, ia memperkenalkan dirinya pada Soo Ji tanpa basa – basi. Soo Ji berkata kalau dia tak menyukai pria yang langsung ke poinnya. Yoo Jin membalas, sepertinya Soo Ji juga tipe yang langsung ke poin.

“Mungkin kalian akan cocok. Berlatihlah bersama, dan perlihatkan hasilnya.”

Yoo Jin memberitahukan kalau hari ini tak ada jadwal latihan orkestra. Soo Ji menyuruh Yoo Jin mendengarkannya saja, ia yakin dengan hanya mendengar Yoo Jin bisa membaginya.



Soo Ji mulai memainkan pianonya bersama dengan Yoo Jin. Nae Il masuk ke ruangan tempat Yoo Jin dan Soo Ji berlatih piano. Ia agaknya kecewa mendengar musik Rachmaninoff yang seharusnya ia duet bersama Yoo Jin tengah dimainkan Yoo Jin bersama orang lain.

“Itu adalah kursiku. Itu adalah kursi untuk Yoo Jin dan aku.”



Nae Il duduk terpaku, bingung apakah dia harus mengisi formulir pendaftaran untuk tampil di konser Raising Star. Ia teringat dengan ucapan Stresemann, Waktu maupun Cha Yoo Jin tak akan bisa menunggumu.
Nae Il pun berhasil meyakinkan dirinya dan mengisi formulir pendaftaran.


Yoon Hoo mengucapkan terimakasih pada Nae Il, dia akan berlatih dengan keras. Nae Il pun sama, ia akan berlatih dengan keras. Semuanya akan lancar kalau dia tak gugup diatas panggung. Sejak kecil dia selalu gugup, tapi ia rasa itu sudah tak terjadi lagi.

“Tentu saja! Sekarang kau sudah dewasa.”

“Ya, aku sudah dewasa sekarang.”



Il Rak menutup matanya saat harus melihat Shi Won yang berlatih secara individu pada Yoo Jin. Ia menutup matanya tapi juga ingin sekali untuk mengintip Shi Won. Ia tersenyum sendiri melakukan hal konyol tersebut.

Min Hee yang melihat kelakukan ajaib Il Rak hanya bisa menggelengkan kepala.



“Jika kita berlatih secara invidu begini, aku pulang saja. Buang- buang waktu saja melatih para buangan itu.” Keluh Jae Young.

Il Rak jelas kesal dikatai sebagai buangan, Shi Won mencoba menengahi dan menyuruh Jae Young meminta maaf. Jae Young bersikeras, toh dia gak salah. Dia mengakui kalau pitch Yoo Jin sempurna tapi kalau dia melatih mereka satu persatu, kapan mereka akan maju?

Min Hee membela kalau Jae Young yang selalu terlambat latihan, itulah yang menghambat mereka. Sejauh ini permaianan mereka sudah sangat bagus. Jae Young mendesah, ia tak mau kalau harus berdebat dengan para buangan.

Il Rak makin tak bisa menahan emosi, ia bangkit dari duduknya. “Apa kau harus menyebut kami begitu?”

“Memangnya salah?” tantang Jae Young tak mau kalah.



Yoo Jin tak tahan lagi, ia menjatuhkan bukunya. dia menyuruh mereka untuk memberitahukan kalau mereka telah selesai bertengkar. Mereka tak bisa latihan kalau mereka belum selesai.



Ketua tengah melakukan pertemuan dengan dewan direksi lainnya, dia menyuruh mereka untuk tetap membiarkan orkestra tetaplah berlatih. Lagipula mereka tak akan bisa terus berlatih tanpa dukungan mereka.
A juga berlatih di sana, 'kan?” tanya seorang direksi.

“Bunga yang di dalam rumah kaca akan tahu, seberapa menakutkannya dunia luar. Kita akan mengembalikan posisi orkestra yang semula. Konser? Kata siapa?”

Dewan masih ragu, mereka rasa konser akan tetap dilakukan jika tim diresmikan. Ketua yakin kalau itu tak akan pernah terjadi. Bagaimanapun usaha mereka, pasti tetap akan ada masalah. Mereka harus menunggu sampai mereka terjatuh sendiri.



Shi Won terkejut ketika mendengar dari Profesor Do kalau mereka tak memiliki sponsor tambahan dana. Shi Won bertanya bagaimana dengan konser mereka? Apakah akan dibatalkan?



“Kenapa dibatalkan? Kita bisa cari sponsor sendiri.” ucap Min Hee. Il Rak membenarkan bahkan kalau perlu mereka bisa melakukan bazaar untuk penggalangan dana. Soo Min setuju, untuk masalah makanan bisa dilakukan dengan Il Rak. Kalau kostum, Min Hee bisa melakukannya dengan Nae Il.

“Oke?”

“oke.” Jawab Shi Won dan kawan – kawan dengan ragu.



Jae Young meminta izin untuk bisa melakukan konser. Tapi pengajarnya melarang karena mereka belum menerima izin resmi. Kalau pun mereka akan konser maka harus tetap mengumpulkan tugas. Dan tetap bersiap untuk ujian.

Jae Young masih mencoba memohon tapi gurunya tak mau tahu.


“Kenapa? Kau bisa tetap latihan, 'kan?” tanya Il Rak. Shi Won berkata kalau jam –nya itu bersamaan dengan latihan mereka. Min Hee merasa sesuatu yang aneh karena biasanya mereka bisa izin ketika ada konser.

“Yah, hak istimewaku telah pergi saat keluar dari A. Tapi, aku merasa bebas.” ucap Soo Min.

“Ya, kenapa kau tak tidur saja di kelas dan lanjut latihan setelah itu? Oke?” tanya Il Rak, Soo Min dan Min Hee dengan membentuk jari dan jempolnya huruf O.

Dengan kaku, Shi Won dkk melakukan hal yang sama.



Yoo Jin melihat keakraban mereka semakin terjalin, ia bisa tersenyum sekarang.


Nae Il dan Yoon Hoo sedang berlatih, keduanya berlatih tapi tak ada harmoni yang menyatukan musik mereka. Yoon Hoo menghentikan permaiannya, ia meminta Nae Il jangan terlalu memperhatikannya skornya tapi juga harus memperhatikan permainannya pula.

Nae Il meng –iya –kan. Ia mencoba tersenyum dan mencairkan suasana, sepertinya latihan mereka cukuplah cepat. Mereka bisa menguasai semuanya saat konser nanti. Dia juga sudah mulai lancar membaca skornya.
“Nae Il, Kita harus fokus saat latihan.” Pinta Yoon Hoo.



Seseorang mengetuk pintu dan Yoo Jin pun masuk. “Sepertinya kau memang orang seperti itu, ya? Kemampuan mendengarnya jadi berubah.”

Nae Il senang ketika Sunbae –nya yang satu ini datang. Yoon hoo mengingatkan kalau mereka sedang berlatih. Yoo Jin menyuruh mereka untuk menundanya saja, sudah empat jam mereka berlatih. Yang ia dengar sedari tadi adalah nada pianonya. Nada Chelo –nya hanya minimum saja. dia terlalu memaksakan nada tangannya. Dan kau mau melanjutkan berlatih? Kau harus lembut pada wanita.

Yoo Jin menarik Nae Il untuk pergi dengannya.


“Jadi, sudah 4 jam, ya? Pikiranku jadi kacau.” Gumam Yoon Hoo selepas kepergian Nae Il dan Yoo Jin.


Nae Il melepaskan tangan Yoo Jin. Yoo Jin kesal kenapa dengan Nae Il? Kenapa dia terus menurut dengan kata – katanya?

Nae Il hanya merasa kalau cara mengajar Yoon Hoo itu bagus. Yoo Jin semakin bete karena setiap Nae Il berlatih dengannya pasti dia akan kabur.

“Bukannya kau memintaku untuk berlatih keras? Dengan begitu, kita bisa berduet lagi. Aku akan berlatih keras. Aku tak akan lagi memakai kostum bodoh. Aku akan membuat panggung yang terbaik. Selama aku tak gugup, permainanku akan berjalan dengan lancar.”

Yoo Jin tersenyum melihat tekad yang ditunjukkan oleh Nae Il.



Yoon Hoo dan Nae Il melakukan latihan bersama. Tak terkecuali juga Soo Ji yang berlatih dengan tim orkestra.



*****
Nae Il duduk menenangkan dirinya kalau ini bukanlah kompetisi. Ini hanyalah panggung biasa, jadi aku bisa rileks.

Terdengar suara ketukan pintu.


Nae Il membukanya dengan perlahan dan menemukan Yoo Jin sudah berdiri didepan rumahnya. Nae Il memuji Yoo Jin yang tampak bahagia kali ini, dia juga terlihat . . .

Nae Il memejamkan matanya dan menutupninya dari Yoo Jin seolah Yoo Jin cahaya yang menyilaukan, “Sangat menakjubkan, dan menyilaukan mata. Kau terlihat hebat. Aku hanya perlu menunjukkan hasil latihan selama ini.”



Nae Il meraih tangan Yoo Jin, mereka hari ini akan berada dipanggung yang sama kan?

Yoo Jin membenarkan, meskipun mereka berada dipanggung yang terpisah. Yoo Jin tersenyum lembut ketika Nae Il berkata kalau mereka suatu saat mungkin bisa melakukannya bersama.

“Jika permainanmu hari ini bagus, mungkin saja? Semua akan mengingat nama Seol Nae Il.” Ucap Yoo Jin lalu mengajak Nae Il untuk berangkat.


Yoon Hoo memasuki ruangan dengan tergesa, ia menahan rasa sakit yang teramat bahkan sampai mengeluarkan air mata. Tangan kirinya bergetar hebat, ia pun meminum obat miliknya.

Aku pasti kuat melewati hari ini. Sehari... bukan, tapi hanya sebentar saja. Hanya empat jam.” Pinta Yoon Hoo dalam hati.


Min Hee menunjukkan sebuah baju putih, ia yakin kalau Nae Il menggunakan pakaian itu maka akan terlihat seperti idola musik klasik. Ia menyuruh Nae Il untuk mengalahkan Sohn Soo Ji dan rileks saja saat dipanggung seperti latihan.

“Aku gugup juga.” Ucap Min Hee. Kekeke.

“Lakukan seperti saat latihan. Yoo Jin yang jadi konduktor kalian.” Balas Nae Il seperti yang tadi Min Hee katakan padanya. Min Hee berkata kalau memikirkannya saja sudah membuatnya tenang.

Keduanya kemudian kembali ribut dengan baju putih cantik yang ada ditangan Min Hee.



Soo Min menegur mereka, apa mereka akan terus – terusan mengobrol? Mereka harus mengecek instrumen mereka.

Ketiganya pun saling mendukung satu sama lain.



Mi Na bertemu dengan Yoo jin, ia begitu gugup melebihi Yoo Jin. Yoo Jin malah bisa tenang, ia meyakinkan kalau dia akan tenang jadi tak perlu khawatir. Konser ini sangatlah penting.

“Maaf. Aku tak berniat untuk membuatmu tegang.”

“Anggotaku sudah berlatih keras. Jadi, percayalah dan nikmati penampilannya. Rising Star akan disetujui oleh pihak dewan dengan adanya konser ini.”

Mi Na meng –iya –kan. Dia dan ibu Yoo Jin akan mendukung mereka.


Yoo Jin menemui anggota Rising Star, ia meminta mereka untuk tenang. Mereka bisa melakukan sedikit latihan untuk nanti. Lakukan saja seperti apa yang mereka biasa lakukan saat latihan.

“Tuanku Cha, sepertinya kau sedang bahagia sekali hari ini. Konser ini membuatku bahagia.” Kata Soo Min semangat.

Yoo Jin tersenyum, ia seperti itu karena yakin pada instrumennya. Il Rak bertanya, Pemain adalah instrumen untuk sang konduktor, 'kan?


Yoo Jin berjalan meninggalkan mereka dengan senyuman. Il Rak merasa mood Yoo jin sedang bagus. Min Hee pun demikian, dia baru pertama kali melihat mood Yoo jin sebagus itu. Ini benar – benar membuatnya tenang.

Soo Min merasa gugup tapi mereka harus mendapatkan izin dari dewan direksi. Il Rak memperingatkan agar mereka jangan sampai salah. Min Hee yakin karena mereka hanya perlu mengikuti gerakan tongkat Yoo Jin.



Nae Il sudah sendirian, dia berubah gugup tak seperti saat bersama dengan Min Hee. Ia menggerakkan jarinya mengingat bagaimana ia menekan tuts piano. Dia meyakinkan dirinya untuk tenang, ini bukan kompetisi. Bukan kompetisi. Dia harus tenang. Ini hanya panggung biasa.


Ibu Yoo Jin menemui Mi Na, Kau mengundang dia? Mi Na tak mengerti maksud Ibu Yoo Jin.

“Cha Dong Woo. Dia baru saja tiba di bandara. Dia ingin melihat konser Yoo Jin.”

“Bukan aku. Aku tahu permasalahan kalian, kenapa aku mau mengundangnya? Ketua memang selalu mengundangnya. Tapi, sekarang? Semuanya akan lancar. Dia hanya akan diam menonton.”

Ibu Yoo Jin tak berfikiran seperti itu, Cha Dong Woo adalah biang dari phobia Yoo Jin. Dia tak tahu bagaimana Dong Woo menggembleng Yoo Jin. Dia tak yakin dampak apa yang terjadi kalau Dong Woo datang. Ia harus mencegahnya. Ibu Yoo Jin (Seon Young) meminta Mi Na jangan mengatakannya pada Yoo Jin.



Disisi lain, Dong Woo sudah dalam taksi. Ia mendengarkan musik klasik dengan santai.


Yoo Jin menenangkan dirinya sebelum akhirnya ia harus naik panggung.


******

0 Response to "Sinopsis Tomorrow Cantabile Episode 10 – 2"

Post a Comment

Jangan lupa komentar yaah^^ biar aku lebih semangat dalam membuat postingan. Meskipun jarang bales tapi semua komentar selalu aku baca kok.. *serius*

Gomawo^^