Sinopsis Tomorrow Cantabile Episode 10 – 1

Yoo Jin menuju ke tempat audisi, tak ada seorang pun disana yang ada hanya kursi kosong diatas panggung. Profesor Do muncul, ia memberitahukan kalau Profesor Ahn akan segera datang tapi tak seorang pun yang mau ikut audisi maka audisinya akan dibatalkan.

Nae Il berlari tergopoh – gopoh untuk menemui temannya yang lain, ia mendengar kalau Il Rak lah yang telah memboikot audisi ini. Il Rak hanya diam tak menjawab. Min Hee meminta Nae Il jangan menyalahkan Il Rak, mengapa mereka harus membentuk tim orkestra dengan A.

Nae Il berkata kalau Yoo Jin tengah memberikan mereka kesempatan terakhir.

“Jika benar dia mau memberikan kita kesempatan. Tentunya dia memberitahu kita tentang pembubaran itu. Tapi . . .”

“Dia adalah Yoo Jin.” Sela Nae Il. “Saat Milch meninggalkan kita, dialah yang datang membantu kita. Dan saat penanmpilan Mambo kita, Dia tetap datang setelah di SMS bahwa kita tak punya konduktor.”

Soo Min terkejut mendengar penuturan Nae Il sedangkan Il Rak tampak bimbang ada sedikit raut sesal juga.




Yoo Jin duduk dengan menautkan kedua tangannya, ia tampak penuh harap. Nae Il yang berdiri tak jauh dari Yoo Jin begitu sedih melihatnya saat ini.


“Tak ada yang datang?” tanya Yoo Jin.

Dengan sedih Nae Il membenarkan, Yoo Jin tersenyum miris. Ia kira dengan kebersamaan mereka selama ini, mereka bisa percaya padanya.

Profesor Do akan pergi namun ditahan oleh Profesor Ahn, siapa tahu akan ada yang datang untuk ausidi. Profesor Do menolak, kalau mereka memang berniat untu datang seharusnya sudah dari tadi.

Seorang gadis datang, ia memberitahukan kalau mereka akan segera mulai. Profesor Do heran, mulai apanya?


“Audisi. Semuanya sudah siap.”

Min Hee membaca sebuah pesan dari Il Rak sambil berlari, Il Rak memberitahukan kalau dia memutuskan untuk percaya pada Yoo Jin. Hanya Yoo Jin juga yang percaya pada mereka, ia meminta maaf dan akan pergi duluan ke ruang audisi.

Min Hee berpapasan dengan Soo Min dan Dan Ya, ia berkata kalau Il Rak itu pengkhianat. Sudah memboikot audisi tapi sekarang malah meninggalkan mereka.

“Sudah kuduga. Kau mau ke mana, Mini Min Hee?” tanya Soo Min membuat Min Hee ragu menjawab.

“Bagaimana denganmu, Soo Min?” tanya Min Hee balik. Mungkin sama – sama gengsi kalau mau bilang ke ruang audisi.

Beberapa orang muncul, mereka berlari tergesa – gesa menuju ke ruang audisi hingga Min Hee, Soo Min dan Dan Ya pun memutuskan untuk mengikuti mereka.



Profesor Do mengira kalau peserta pertama audisi berasal dari grup S. Sedangkan Profesor Ahn merasa bersyukur karena pemboikotan tak jadi dilakukan.

Profesor Do percaya diri kalau level mereka tak akan setara.


Yoo Jin dan Nae Il masuk dalam ruang audisi, dia menatap siluet seseorang dibalik tirai. Audisi dilakukan tanpa tahu siapa yang memainkan alat musik, mereka hanya menilai berdasarkan apa yang mereka dengar saja.

Yoo Jin bisa menebak saat mendengar bagaimana orang dibalik tirai memainkan violinnya, Yoo Il Rak.

Nae Il tersenyum, ya. Yoo Il Rak.


Dan benar, dibalik tirai Il Rak memainkan violinnya sepenuh hati sambil mengingat ucapan Nae Il padanya.

Tapi, dia adalah Yoo Jin. Saat Milch meninggalkan kita, dialah yang datang membantu kita. Walaupun kau sedang mabuk, dia tetap memberikanmu pelajaran. Setiap kali kau salah, dialah yang menyamangatimu karena kau adalah concertmaster. Dia adalah Yoo Jin. Dia tetaplah memaksa seragam tim kita. Kita pikir, semua ini hanya untuk keuntungannya. Tapi tidak, Ini juga demi kata semua.”


 Shi Won ke ruang latihan untuk menanyakan apakah mereka sudah memberitahukan pada Il Rak dan yang lain untuk latihan. Seorang menjawab kalau Il Rak sedang ke tempat audisi karena boikot telah dibatalkan.

Yang lain menimpali kalau mereka sudah cukup pengalaman jadi yang sudahlah, lagipula mereka juga akan melanjutkan belajar diluar negeri. Kalau satu panggung bersama dengan S-Okestra membuat kembanggaan mereka rusak.


Shi Won merasa kesal, tanpa banyak kata dia keluar dari ruang latihan. Dua pria yang selalu bersama Shi Won mencegat kepergian –nya. “Kau mau ke mana?”

Shi Won sekarang bisa menarik kesimpulan kenapa grup orkestra mereka juga dibubarkan. Ini karena mereka menggunakannya hanya untuk batu loncatan agar bisa belajar diluar negeri. Apa hanya sebatas itu?

Temannya menenangkan tapi Shi Won sudah terlanjur marah. Dia akan ikut audisi sendirian, bukan Yoo Il Rak yang pengkhianat tapi mereka. Baginya orkestra adalah tempat mereka untuk membuat melodi bersama. Kalau sudah tak memiliki perasaan itu, maka tak ada gunanya lagi.



Profesor Do melakukan analisa atas permainan mereka, meskipun tertutup tirai Profesor Do rupanya bisa mengenali mereka satu persatu. Profesor Ahn memuji kemapuan A Orkestra yang hebat secara individual tapi kempuan Tim A juga semakin berkembang saat 2 penampilan terakhir mereka. Sama saja, murid berkemampuan rendah masuk ke dalam 10 kelas teratas. Bukankah ini pertama kalinya kita sungguh melihat permainan mereka satu per satu?

Profesor Do membenarkan dengan pandangan masih menatap lurus ada Kontestan yang ada dibalik tirai.


Apakah dia Lee Jae Yong? Permainannya masih sebagus dulu. Tapi, dia hanya terfokus pada ajaran tekhnik gurunya. Tak ada perubahan dan tak ada kegembiraan di dalamnya. Permainanannya akan sedatar itu seumur hidupnya.” Batin Profesor Do.


Yoo Jin memberikan sekaleng minuman untuk Profesor Do yang tengah terduduk diluar ruangan. Ia mendecak akan sikap Yoo Jin yang tampak baik kali ini. Dia berkata kalau hanya sebagian dari Tim S yang mengikuti audisi. “Apakah ini tujuanmu? Menendang semua yang hanya menggunakan orkestra ini sebagai batu loncatan?”

Yoo Jin berharap dengan adanya audisi ini bisa membuka mata Profesor Do, dan bisa mengerti bagaimana permainan Grup S dan perkembangan mereka. Dekan Mi Na lah yang meminta agar Profesor Do menjadi juri karena ia yakin Profesor Do akan menilai dengan adil.



Yoo Jin mengingat ucapan Mi Na saat keduanya bertemu secara pribadi. Mi Na meminta Yoo Jin menjadikan Profesor Do sebagai juri. Meskipun dia tampak selalu menetangnya tapi Profesor Do juga perduli dengan kampus. Mi Na mempercayainya seperti Yoo Jin percaya pada temannya. Ia ingin Yoo Jin juga percaya pada Profesor Do yang tidak akan bebohong tentang kemampuan muridnya.



“Apa dia benar bicara seperti itu?”

Yoo Jin membenarkan. Dekan Mi Na percaya akan keadilan penilaian Profesor Do.



Soo Min bimbang, dia harus berdiri diantara dua kubu yang saling menatap tajam. Soo Min pasti bingung, di grup S ada banyak rekannya dan di Grup A juga ia.

Akan diumumkan siapa saja yang berhail lulus.” Seru seseorang memberikan pengumuman.

Pengumuman telah dipasang, semua orang yang mengikuti audisi merubung dengan semangat. Anak – anak Grup S menatap pengumuman itu. Muka tegang mereka seketika berubah saat nama mereka tercantum disana, mereka semua berhasil. mereka menjadi grup orkestra kampus.

Mereka berjingkrak kegirangan.


Aku yakin kalian akan berhasil. Jadi, kenapa kalian harus takut? Seperti kau bilang, aku adalah konduktormu. Aku tahu seberapa kemampuan kalian dan meminta kalian ikut audisi!” ucapan Yoo Jin yang terngiang dalam benar Il Rak. Ia pun meneteskan air matanya. Mereka bukan lagi menjadi pemain buangan.

Mereka menguatkan Il Rak, mulai sekarang mereka harus belajar lebih keras lagi. suasana riang pun muncul diwajah mereka.


Grup A berjalan menuju ke papan pengumuman dengan angkuh, Jae Young yakin untuk melewati audisi seperti ini sangat lah mudah baginya. Jae Young selalu menjadi pemain pertama. Ia menatap ke papan pengumuman, namanya tercantum menjadi nomor kedua dan ini membuatnya terbelalak.

Shi Won tetap bersyukur untuk masuk ditempat kedua, banyak anggota tim mereka yang tak masuk menjadi anggota Orkestra. Kalau seandanya mereka tak masuk, barulah Profesor Do pasti salah menilai.


Ibu Ketua marah – marah atas penilaian Profesor Do sebagai juri. Bagaimana bisa dia tak meluluskan seorang anak sponsor. Profesor Do minta maaf, tapi dia hanya ingin bersikap lebih adil saja. Ibu Ketua mengira kalau Profesor Do berbeda dengan Mi Na tapi rupanya sama saja. ia kecewa dengan Profesor Do.

“Jika memang kemampuan mereka hanya sebatas itu, tak mungkin bisa lulus. Aku adalah seorang profesor. Tak ada hal lain yang bisa kulakukan kecuali bersikap adil.”

Ibu Ketua menatap Profesor Do dengan sinis saat berkata kalau dia ingin bersikap adil. Ia pun lekas pergi. sedangkan Profesor Do hanya bisa mendesah, harapannya menjadi dekan semakin menjauh saja.



Yoo Jin mendapatkan pesan dari Nae Il yang bertanya apa yang ia lakukan dalam kelas. Yoo Jin mengetikkan kalau dia sedang istirahat dan meminta Nae Il jangan mengganggu. Tapi kata – kata songong itu segera dihapus. ‘aku sedang istirahat’

‘Apa aku bisa makan malam di rumahmu?’

‘Iya’ Dikelasnya Nae Il langsung tersenyum lebar mendapat izin Yoo Jin.


Il Rak menghampiri Yoo Jin, ia meminta Yoo Jin mengatakan kalau dia tak berniat untuk meninggalkan mereka. Dia ingin melindungi mereka kan?

“Maafkan aku. Aku harusnya lebih mempercayai kalian dan berdiri bersama. Aku mau menyelesaikannya sendiri.”

Il Rak terharu mendengar ucapan Yoo Jin, ia menggeser kursinya agar bisa duduk lebih dekat. Ia mengajak Yoo Jin untuk menyatukan darah mereka. Seperti janji sebagai seorang laki – laki yang selalu bersama. Yoo Jin menolak. Il Rak berfikir mereka harus melakukannya dimana agar darahnya keluar? Mereka harus melakukannya dirumah sakit?

Yoo Jin bergidik ngeri, ia menyuruh Yoo Jin jangan dekat – dekat dengannya. Ia pun pergi dengan terburu – buru.



Selepas kepergian Yoo Jin, Il Rak tersenyum. Ia menggumamkan ucapan terimakasih untuk Yoo Jin.

Nae Il meyakinkan dirinya kalau Yoo Jin hanya mengajaknya makan malam. Makan malam. Lalu setelah itu ia akan pulang. Nae Il memencet bel tapi tak ada respon, ia pun mencoba membuka dengan password.

“Oh ya, pass- nya sudah berubah. Nanti jika sudah menikah, kami akan serumah.” Ucap Nae Il sambil memencet angka, namun rupanya itu benar dan pintu segera terbuka. Sepertinya sandi rumah Yoo Jin berubah lagi jadi sama kaya Nae Il.


Nae Il masuk ke rumah dan menemukan boneka kecil miliknya ada di piano Yoo Jin. Ia berjalan menuju ke kamar mandi dan menemukan ada sikat gigi untuknya. Disana juga ada dua boneka miliknya yang akan dibuang oleh Yoo Jin. Ia merasa senang itu masih utuh disana.




Yoo Jin kembali dari belanja, Nae Il menunjukkan sepasang boneka. Ia bertanya kenapa Yoo Jin tak jadi membuangnya? Apa ia tak tega?

Yoo Jin beralasan kalau dia hanya tak mau repot – repot untuk membuangnya. Nae Il meminta Yoo Jin tak usah malu untuk mengakui kalau ia tak tega.

“Malu? Kau selalu saja mengataka yang tidak- tidak”


Nae Il meng –iya kan saja ucapan Yoo Jin. Ia heran kenapa Yoo Jin mengundangnya untuk makan malam tapi malah dia belum membuat makanan. Yoo Jin mengeluarkan makanan instannya satu persatu, Aku sudah membeli makanan.

Nae Il menolak makan makanan instan, ia mau Yoo Jin membuatkannya. Yoo Jin menyuruh Nae Il untuk makan saja toh gratis. Nae Il tetap menolak.

“Kita pesan saja, ya?”

Di cafe, ibu Yoo Jin menerima panggilan.

“Untuk apa? Kenapa harus di Korea? kenapa kau mencari Yoo Jin? Cha Dong Woo, kau pasti sudahsemakin tua sekarang. Jadi, sekarang kau berlagak menjadi ayahnya?” Ibu Yoo Jin berubah kesal. “Jangan. Cha Dong Woo, kau sama saja dengan pesawat bagi Yoo Jin.”

Yoo Jin kecil berjalan sambil membawa sebuah undangan dan diberikannya pada Cha Dong Woo. Dia masuk dalam babak final kompetisi junior. Banyak orang yakin kalau dia akan menang, jadi. . .

“Tentu saja kau yang akan menang. Tak ada gunanya aku pergi ke panggung yang biasa saja itu. Berdirilah di panggung terbaik. Jika kau mau aku datang melihatmu. Karena kau adalah anak Cha Dong Woo.” Ucap Dong Woo tanpa pikir. Ia lebih perduli dengan bukunya dan memainkan jari – jarinya. Yoo Jin tampak terpukul menerima penolakan dari sang ayah.


Matahari menyusup melewati jendela kamar Yoo Jin, sudah pagi. Yoo Jin bergumam, sudah lama sekali ia tak memimpikan ayahnya tapi sekarang dia malah memimpikannya.

Yoo Jin memasuki ruang latihan yang gelap, ia segera menutup pintu dan menyalakan lampunya.

“TA – DA ” anak – anak bersorak menghamburkan kertas warna – warni lalu membentangkan sebuah spanduk bertulis RS Orkestra. Yoo Jin heran, rising star?

Il Rak menjelaskan kalau gaya ini tak norak dan fresh. Semua anak sudah setuju. Ini adalah tujuan mereka, Rising Star!!

“Tak usah memperlihatkannya padaku.” Ucap Yoo Jin membuat anak – anak terdiam. Yoo Jin menjelaskan kalau bukan mereka yang akan menentukan nama tapi sekolah. Jadi untuk sekarang mereka harus mendiskusikan musik mereka dulu.



Teman Shi Won bertanya apakah mereka bisa latihan sejam saja. dia memiliki jam setelah ini. Il Rak bersuara, apa maksudmu? Kita harus merayakan ini dan pergi makan di resto ayahku!

Shi Won berkata kalau dia juga memiliki kels. Jelas saja Il Rak seketika merengut. Jae Young berkata kalau mereka tak seperti ll Rak dan yang lainnya. Mereka itu sibuk.



Nae Il menyeret Yoo Jin agar cepat berjalan menuju ke restoran Mendelsshon. Bukankah Il Rak juga akan mentraktir Yoo Jin seumur hidupnya?

Yoo Jin tampak malas untuk mengikuti ajakan Nae Il.

*****



3 Responses to "Sinopsis Tomorrow Cantabile Episode 10 – 1"

  1. Mksh sinopsisnya,,di tunggu part 2nya.,puji episod 8 blm ya?

    ReplyDelete
  2. apik eeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeee
    semangattttttt.q pembaca baru blog ini
    sukaaaaaaaaaaaaaaaaa.dan
    txxxxxxxxxxxx bgt

    ReplyDelete

Jangan lupa komentar yaah^^ biar aku lebih semangat dalam membuat postingan. Meskipun jarang bales tapi semua komentar selalu aku baca kok.. *serius*

Gomawo^^