Sinopsis Iron Man Episode 17 – 2

 Sinopsis Iron Man Episode 17 – 2
Hong Bin menemui Min Jung di rumah sakit, ia bertanya apakah Tae Hee membawa banyak obat?

Min Jung tersenyum mengerti akan kekhawatiran Hong Bin, ia menenangkan karena Tae Hee membawa banyak obat sekalipun kurang mereka telah menerima kiriman obat dan nanti akan dikirimkan pada Tae Hee.


Tae Hee berjalan keluar dari stasiun Guryegu yang berarti menandakan kalau ia tak pergi ke La Paz. Seseorang keluar dari pintu Stasiun dibelakang Tae Hee, Tae Hee menoleh. Ia tersenyum mendapati kalau disana sudah ada Se Dong yang menenteng rasel dan tersenyum manis padanya. Tae Hee meminta maaf karena telah memarahi Ayah yang telah memberitahukan keberadaannya. Tapi sepertinya ayah tak mau mendengarkan dirinya.

Se Dong kembali tersenyum, ia menanyakan keadaan ibu.


Se Dong menyuapi ibu dengan telaten, ibu pun juga menatap Se Dong dengan pandangan berbinar.

“Ibu, kau senang bisa bertemu dengan Tae Hee (Se Dong).” Tanya Tae Hee pada Ibu. Ibu rupanya tak bisa mengenali Tae Hee dan menganggapnya sebagai Bo Seul, anak tetangga. Ibu menyuruh Tae Hee (Bo Seul) untuk pulang karena ibunya selalu khawatir. Sepanjang hari selalu memanggil – manggil Bo Seul.

Tae Hee tersenyum tanpa kemarahan karena sang ibu tak mengenali. Ia mengungkapkan perasaan senangnya pada Se Dong, ibunya telah membaik sejak Se Dong datang. Ibu selalu mencari Tae Hee dan jika aku menghampirinya. Ibu akan menjadi pusing dan terjatuh pingsan. Dia takut ibunya akan meninggal karena ini.

Se Dong terdiam tak menjawab, mungkin agak tak enak hati. Ia kembali menyuapi ibu lalu tersenyum pada Tae Hee.


Se Dong menghampiri Ayah yang sedang termenung di perahu dengan menatap kosong ke arah sungai. Ia memberitahukan kalau Ibu mencari Ayah.

“Tae Hee sedang apa?”

“memasak.” Jawab Se Dong.

Ayah bangkit dan Se Dong membantunya turun dari perahu. Ayah menatap Se Dong, “Memangnya kau salah apa dikehidupan pada kami dulu? Salahmu apa? Hingga kau harus mengalami kesulitan ini...”

Se Dong tersenyum, dia yang mau datang ke sini kok. Ayah meraih tangan Se Dong lalu menepuknya lembut seolah ia mengucapkan rasa terimakasih yang tak bisa ia ucapkan dalam kata – kata.

Ayah pergi meninggalkan Se Dong yang menikmati angin segar tepi sungai. Bayangan akan kenangan bersama Hong Bin kembali terulas, ketika ia dan Hong Bin naik perahu bersama dengan chang. Saat Hong Bin memeluknya dalam kegelapan. Se Dong teringat akan ucapan Seung Hwan,

Apa yang sebenarnya diinginkan oleh Se Dong? Dan pada akhirnya, kau menemukan seseoarang yang membuat hatimu berdebar. Jadi, kenapa kau harus melakukannya? Se Dong, Apa yang sebenarnya yang kau inginkan? Bukan tentang keinginan orang lain, tapi keinginanmu sendiri. Tidak ada?



“Hei~! Yang di sana! Kami mau menyeberang!” teriak Bibi yang berada diseberang sungai. Se Dong tersadar dari lamunannya sendiri, ia pun tersenyum lalu memakai sarung tangan sebelum menyeberangkan perahunya.


Min Jung bersiap untuk pergi, Seung Hwan tiba – tiba muncul dan mempertanyakan kenapa Se Dong selalu tiba – tiba pingsan?

Min Jung masih bingung. Seung Hwan kembali mengulang pertanyaanya, kenapa Se Dong selalu tiba – tiba pingsan?


Se Dong masuk rumah dengan girang, ia menunjukkan uang yang didapatnya dari hasil menyeberangkan orang. Tae Hee yang tengah mencuci tersenyum dengan tingkah kekanakkan Se Dong, ia melemparkan lap lalu menyuruh Se Dong membersihkan meja.

Se Dong pun melakukannya dengan senang hati tanpa bantahan.

“Hong Bin tak tahu aku ada di sini. Aku berpura- pura menuju ke Bolivia. Saat kondisi ibuku sudah baikan. Kau juga harus pergi.”

Se Dong menghampiri Tae Hee, ia bertanya apakah Tae Hee merasa tak enak karena telah memintanya datang? Tae Hee membenarkan ucapan Se Dong meskipun dari raut wajahnya sih kayaknya bukan itu maksud alasannya.

“Mungkin terdengar kejam. Tapi, aku melakukannya bukan demi kau. Aku sudah dekat dengan mereka sebelum aku bahkan mengenalmu. Dan aku sudah punya banyak kenangan di sini sebelum kau datang. Mungkin kau tak punya hak untuk memintaku pergi.”

Tae Hee tersenyum, ia memperbolehkannya tapi ia mengajak Se Dong untuk melakukan sesuatu. Se Dong heran dengan kata sesuatu. Tae Hee tersenyum penuh arti terselubung, ia mengajak Se Dong melakukannya setelah tidur siang. Makan. Dia akan mengajarkan Se Dong sesuatu.

“Siapa takut?” tantang Se Dong dengan nada bercanda.


Hong Bin duduk termenung dalam bus yang kosong. Ia membawa paket barang yang bertuliskan nama Tae Hee, sepertinya dia tahu keberadaan Tae Hee dari Min Jung deh.

“Waaah. Uwaaah.” Teriak Se Dong tiba – tiba muncul, teriakan Se Dong saat pertama kali kesana bersama dengan Hong Bin dulu. Orang – orang tiba muncul dan menertawakan sikap keterkejutan Se Dong melihat pemandangan disana.

Namun dengan sekejap mata, manusia – manusia tadi hilang bersama dengan Se Dong menyisakan Hong Bin yang duduk terdiam disana.




Se Dong tidur siang bersama dengan yang lain namun ia sama sekali tak memejamkan matanya.

“Permisi! Ada yang ingin menyeberangi sungai!” teriak tetangga membuat Se Dong bangkit. Dengan riang ia bersedia untuk menyeberangkan orang tersebut.

Setelah sampai di tepi seberang, Se Dong hanya bisa diam tertunduk karena orang yang akan menyeberang sendiri adalah Hong Bin. Se Dong kikuk menerima tatapan dingin Hong Bin.


Tae Hee terbangun dari tidur siangnya, ia menoleh dan Se Dong sudah tak lagi tidur bersamanya sekarang. Tae Hee mencari – cari Se Dong diseluruh bagian rumahnya tapi tak bisa juga menemukan keberadaan Se Dong.

Se Dong menarik tali untuk menyeberang sedangkan Hong Bin duduk dengan santai diujung perahu. Hong Bin tak bisa terus diam, ia menghampiri Se Dong dan menatapnya. Se Dong terus menarik talinya, keseimbangan oleh karena keduanya berada disisi yang sama. Dia pun menyuruh Hong Bin untuk kembali duduk karena sangat sulit untuk menjaga keseimbangan.

“Tunggu. Biarkan perahunya seperti ini saja.” pinta Hong Bin. Ia kemudian menarik tali pengait perahu sehingga perahu pun berjalan mengikuti arus. Se Dong terpaku, keduanya bertatapan dalam diam.

Sekretaris Ko bersiap menata penampilannya. Minyak wangi. Minyak rambut. Ponselnya bergetar, seketika senyumnya mengembang mendapat alarmnya menunjukkan kencan dengan sang kekasih hati di Taman Arium, jam 5.

Sekretaris Ko keluar dan meraih se –bucket bunga yang ia persiapkan.

Pelayan Yoon yang telah rapi turun dari lantai dua, dia meminta Sekretaris Ko untuk menjaga Chang. Ada keperluan yang tak bisa ia tunda.

Pelayan Yoon pergi tanpa menunggu persetujuan dari Sekretaris Ko yang terpaku. akankah kencannya gagal?


Chang turun dari lantai dua dengan wajah ditekut, ia bosan.

Sekretaris Ko terpaksa untuk mengajak Chang pergi bersamanya. Saat dalam perjalanan, Chang menarik tangan Sekretaris Ko dan menunjuk permen yang ada disebuah toko padahal waktu sudah menunjukkan pukul 4:45.


Keduanya kembali berjalan dengan tangan Sekretaris Ko membawa boneka besar dan Chang membawa balon. Lagi – lagi Chang menarik tangan Sekretaris Ko. Padahal jam sudah menunjukkan pukul 4:55.

Chang bermain video game dipinggi jalan, Sekretaris Ko makin gusar karena waktunya mepet. Bahkan sudah jam 5.



Sekretaris Ko tak bisa menunda lagi, Sekretaris Ko pun menjunjung tubuh Chang dan membawanya dilengannya.

Segera setelah sampai, ia meletakkan Chang dan menelfon pacarnya. Diseberang telefon, pacarnya mengira kalau Sekretaris Ko tak akan datang. Sekretaris Ko menoleh saat mendengar suara seorang yang ia kenal, ternyata pacarnya masih disana menanti Sekretaris Ko. Dia pun bisa tersenyum lebar.



“Kupikir kau sudah pergi. Terima kasih. Terima kasih mau menungguku. Aku senang sekali.” Ucap Sekretaris Ko kaku, dia kaya lagi ngomong sama Hong Bin. Pacar Sekretaris Ko tersenyum malu, ia kemudian menunjuk Chang. Anak itu?

Sekretaris Ko memperkenalkan Chang kalau dia adalah keponakannya. Pacar Sekretaris Ko merasa agak aneh, seharusnya mereka berdua saja. tapi ada anak –anak. Sekretaris Ko tampak bingung, ia meminta maaf karena situasinya tak memungkinkan.

“Kakakku bilang, kita tak bisa jalan berduaan saja.” ucap Pacar Sekretaris Ko, kemudian seorang anak gadis muncul dibelakangnya. Dia juga membawa keponakannya, mereka berdua pun tersenyum. Eciiieeeh. Lucu.



Se Dong dan Hong Bin masih terus diam, keduanya membiarkan aliran Sungai membawa perahu yang mereka naiki.

Tae Hee kembali dari kebun, ia membawa sayuran dan buru – buru meletakannya. Ia mengecek Se Dong, ayah melongok dari jendela rumah untuk memberitahukan kalau Se Dong belum kembali. Dia menghilang.

Tae Hee menuju ke tepian sungai, seorang paman memberitahukan kalau perahunya menghilang. Tae Hee meminta pada paman untuk tak mengatakan pada orang tuanya, mereka pasti akan khawatir. Dia meminta paman untuk menelfon polisi. Ia bertanya, apakah paman ada mobil?

Perahu telah menepi, Se Dong mengajak Hong Bin untuk kembali karena takut Tae Hee dan keluarganya khawatir.

Hong Bin yang sedari tadi diam kemudian menunjuk dadanya tepat dijantung. “Di sini ada buah persih yang tumbuh. Aku ingin menelannya, jauh ke dalam. Tapi aku tak bisa. Persik ini mencekikku. Sakit sekali. Jika kau membacakan mantramu. Apakah persiknya akan menghilang? Benarkah?”

Pertanyaan Hong Bin tak mendapatkan jawaban Se Dong yang membisu, ia bahkan mencoba membuat matanya tak menatap Hong Bin.


“Sama seperti Chang dulu. Akankah persik itu menghilang, dan aku bisa makan dengan tenang?”

Se Dong membuka mulut, ia tahu kenapa persik itu ada tapi ia menyuruh Hong Bin memakan saja makanannya. Dia tak perlu lagi mendengarkan penjelasan Hong Bin. Hong Bin rasa ia harus tetap menjelaskannya. Se Dong kekeuh menolak.

Hong Bin mencoba terus memanggil Se Dong seolah memohon, “Se Dong –ah.”

Se Dong memalingkan wajahnya dan tetap tak mau mendengarkan penjelasan Hong Bin. Bagaimanapun mereka telah memilih pilihan ini, dan pilihan ini yang terbaik. Jika tak memilih pilihan ini maka mereka adalah orang yang jahat.


“Se Dong, maafkan aku.” Hong Bin menangis. Ia tak bisa menahan perasaannya yang membuncah dalam hati, ia terus mengulang permintaan maaf pada Se Dong dengan tangisnya. Se Dong tak tahan untuk terus membuang muka, ia pun menoleh dengan raut yang sama pedihnya dengan Hong Bin.

Ia pun memutuskan untuk memeluk Hong Bin, memberikan sedikit ketenangan untuknya.


Tae Hee mengendarai mobilnya mengikuti arus sungai sampai akhirnya ia menemukan perahunya ada dipinggir sungai dengan dua penumpang yang berpelukan menenangkan satu sama lain. Tae Hee terdiam, ia memutuskan untuk menghubungi paman dan memberitahu kalau ia sudah menemukan perahunya tapi ia tak bisa langsung kembali. Ada urusan yang harus ia kerjakan.

Tae Hee bersender dibalik mobil, dia tersenyum meskipun jelas terlihat ada –nya rasa sakit dalam senyum itu.


Seung Hwan membawa Min Jung ke cafe dan meminta ia menceritakan apa yang terjadi dengan Se Dong. Tapi bukannya menjelaskan, Min Jung malah dengan santai minum dan makan pesanan yang ambil Seung Hwan.

“Apa kau menyukaiku? Kau hanya menggunakan temanmu sebagai alasan, 'kan? Lihalah dirimu ini. Seleramu bagus juga. Walaupun aku tak tahu titik masalahnya. Aku tetaplah seorang dokter dan bisa mengetahuinya. Katakan, pada saat apa temanmu bisa pingsan begitu?” tanya Min Jung pede.

Seung Hwan ternganga dengan tuduhan tak berdasar Min Jung. Ia pun meminum minumannya, namun Min Jung kembali menuduh Seung Hwan telah terpesona akan kecantikannya. Seketika Seung Hwan kembali membuka mulutnya hingga minuman dimulut pun kembali keluar.


Chang bermain video game bersama dengan Keponakan Yoo Rin. Chang terdiam memperhatikan Keponakan itu dengan mata berbinar, akankah anak polos satu ini sudah mulai mengenal cinta? Hahaha.

Sekretaris Ko dan Yoo Rin duduk bersama dengan malu – malu, keduanya saling memandang dengan lucu apalagi Sekretaris Ko yang tampaknya sangat senang malam ini. Ia menyuruh Yoo Rin untuk menanyakan apa saja yang Yoo Rin ingin tahu.

“Antara mie kacang hitam dan sup pedas, Yang mana yang lebih kau suka?” tanya Yoo Rin malu – malu.

Sekretaris Ko bingung dan bertanya balik. Yoo Rin menyarankan untuk menjawabnya bersamaan saja. 1. 2. 3.

“Mie kacang hitam.”
“Mie kacang hitam.”

Keduanya pun girang karena jawaban mereka sama.


Giliran Sekretaris Ko yang bertanya, Kau suka lemon soda atau cola? 1. 2 . 3.

“Lemon soda.”
“Lemon soda.”

Sekretaris Ko terbengong, kecocokan mereka sungguh banyak. Yoo Rin pun menatap Sekretaris Ko dengan berbinar bahkan sampai berkaca – kaca karena terharu.


Pelayan Yoon kembali dari bepergiannya, ia mendapati Jang Won sudah berdiri dirumah tersebut. Pelayan Yoon bertanya apa kepentingan Jang Won datang kesana?

Jang Won berkata kalau Tae Hee menghilang. Kalau mengenai hal itu, Pelayan Yoon sendiri juga tak tahu keberadaanya.

“Bukannya kau mau mengantar Chang menemui ibunya, 'kan?”

“Saya masih belum sempat mengantarnya.”

Jang Won meminta izin untuk melakukannya. Pelayan Yoon menyetujui, ia akan segera mengabari kalau sudah tahu keberadaan Tae Hee. Untuk sekarang, Jang Won harus pergi. Pelayan Yoon telah mendengar sesuatu ditempat spa jadi Jang Won haruslah buru – buru pergi.



Jang Won menatap surat cerai yang terdapat dimejanya, ia bertanya akan maksud dari surat tersebut. Dengan ketus Ibu Hong Joo berkata kalau Jang Won pasti tahu maksudnya, dia kan bisa baca.

Ibu Hong Joo bergegas keluar ruangan Jang Won dengan kesal.

Hong Joo ada ditangga menanti ibunya, Ibu tetap berjalan meninggalkan Hong Joo dan menganggapnya seolah tak ada.

“Apa ibu akan meninggalkanku? Apa aku ibu akan membuangku?”

“Kau. .  Kau tak pernah menyayangi ibu. Kau sama saja dengan ayahmu!” kesal Ibu lalu melanjutkan jalannya. Hong Joo terdiam menghela nafas, situasi yang rumit untuknya.

Malam harinya, Se Dong memutuskan untuk kembali lagi kerumahnya meninggalkan rumah Tae Hee. ia pun menaiki bus dan menyenderkan kepalanya dikaca demi menghilangkan sedikit lelahnya.


Bus melaju beberapa meter jauhnya namun anehnya, belum jauh berlalu bus kembali berhenti. Tae Hee menaiki bus lalu meminta Se Dong untuk turun karena sesuatu yang ia janjikan siang tadi belumlah mereka lakukan.
Se Dong terus terdiam hingga Tae Hee terpaksa menariknya untuk turun.


Tae Hee membawa Se Dong kesebuah ruangan, disana ada Hong Bin yang duduk termenung. sontah Se Dong berniat untuk pergi namun Tae Hee menahannya.

"Kalian butuh berapa lama untuk sendirian? Apakah aku adalah seorang kriminal? Jika tak bisa tinggal bersama mereka, aku harus ke Bolivia."

Hong Bin meminta pada Tae Hee untuk memelankan suaranya dan berbicara berdua saja dengannya.

"Kalian berdua pasti sudah salam paham. seberapa jauh kau sudah melukai harga diriku? Apakah orang sekarat tak punya hak untuk bicara? Apakah orang sekarat tak punya hak untuk memilih? Joo Hong Bin. Memangnya kau siapa mau berkorban demi aku? Son Se Dong, katakan padaku. Memangnya kau siapa mau menyerahkan Hong Bin untukku?"


Hong Bin sekali lagi menyuruh Tae Hee untuk sadar dan memelankan suaranya atau orang tuanya akan mendengar keributan ini.

"Aku masih menyukaimu, lalu, apa? Ini adalah perasaanku, dan itu tak ada urusannya denganmu. Aku sangat menyukai gadis ini. Jika dia bukan wanita yang baik untukmu. Aku akan memintanya menjauh. Kau bilang, tempat itu masih punyaku, karena anak kita. Dan mungkin, sudah sejak lama aku memintanya menjauh."

Hong Bin kembali meminta Hong Bin berbicara berdua karena saat ini Se Dong tampak tertekan.


Tae Hee meminta Se Dong untuk berkata kalau dia membencinya, kalau Se Dong ingin dia pergi. kalau dia tak ingin ada Tae Hee.
Se Dong tertekan sekali, tak mungkin ia mengatakan kata - kata kejam itu. ia pun berlari meninggalkan keduanya dengan disusul oleh Hong Bin yang berusaha mengejar.

sepeninggal keduanya, Tae Hee bergumam. "Kau tak akan bisa mencelupkan kakimu ke dalam sungai yang sama untuk ke-2 kalinya"

Hong Bin menghentikan Se Dong yang menangis sambil berlari. ia menahan dengan memeluknya dari belakangan. Se Dong tak kuasa untuk menangis sejadi - jadinya. ia berteriak mengeluarkan suaranya, "Dasar bodoh! Menghilanglah, Kim Tae Hee. Pergilah, Kim Tae Hee!" jerit Se Dong.


Komentar:
Akhirnya selesai juga, makasih buat yang udah baca sinopsis Iron Man / Blade Man. Makasih yang udah mau menunggu dan yang paling makasih buat Mba Diah yang mau menanti postingan ku yang lelet ini.
Next project -ku adalah Sweden Laundry. Semoga ada yang menanti dan sub -nya juga mudah soalnya agak kurang terkenal. tapi story linenya menarik.
Tentang seorang yang bekerja di tempat laundry dan dengan cucian mereka, mereka mampu membaca sifat dan karakter pemilik cucian. wow. dan mereka bakal mencoba menolong mereka. yap, menarik kan? keke
Tayang setiap jum'at. seminggu sekali dan ada 16 episode. Jadi keinget HSLO yah.... :D
Banyak yang salah paham sama kata - kataku, masih ada satu episode lagi Iron Man -nya. Episode 18. Tunggu yah diblog Mba Diah.

8 Responses to "Sinopsis Iron Man Episode 17 – 2"

  1. udahan yah??,, emang cm 17 episod??? Kok kayak msh ada lanjutannya yah?? Bingung gue???????

    ReplyDelete
  2. pertama-tama, makasih banyak buat puji yang sudah nyelesein bagiannya nulis sinop ini sama mbak diah *peluk puji
    so sweet banget deh sek ko dan untungnya saya ga kebawa arus untuk berhenti ngikutin blade man dari episode pertama karena ratingnya yang rendah hehe

    episode 18nya di mbak diah ya puji? minta tolong dikasih linknya ya! atau dibalas di sini juga gapapa biar ga salah paham :P

    dan aiiiiiiiiiiiiiih seneng banget puji mau nyinop sweden laundry >.<
    saya juga tertarik dari gambaran singkatnya itu dan castnya hahaha makasih banget deh puji^^
    semoga sukses ya!

    ReplyDelete
  3. Haaaaah Tamatnya begtu aja,,, kok gx jelas rasa'a masih jauh dri ending nya,,, kecewa ceh msa bgtu, tp klw memang iya apa mau d kata,,,

    Tp sblm'a thanks ya
    ,,,aku mw hyun bhin d tunggu ya

    ReplyDelete
  4. makasih akhirnya keluar jg sinops ... ditunggu proyek selanjutnya mg menari ya ....

    ReplyDelete
  5. Blade Man sampai Episode 20 kok aku liat di Wikipedia :D hehehe

    ReplyDelete

Jangan lupa komentar yaah^^ biar aku lebih semangat dalam membuat postingan. Meskipun jarang bales tapi semua komentar selalu aku baca kok.. *serius*

Gomawo^^