Sinopsis Iron Man Episode 15 – 2

Sinopsis Iron Man Episode 15 – 2
Tae Hee membelai wajah Chang yang tertidur nyenyak dipangkuannya. Senyuman mengembang dibibiir Tae Hee, ia bisa sedikit mengurangi rasa rindunya pada Chang saat ini.

Pintu terbuka, Tae Hee sigap siaga menatap pintu dengan cemas namun rupanya itu hanya lah Se Dong yang pulang kerja.

“Aku takut kau melanggar janji kita.” Ucap Tae Hee dengan senyum.

“Maafkan aku.” Se Dong tertunduk merasa bersalah. “Aku memang sudah melanggar janji kita.”

Tae Hee pun terbelalak melihat ada Hong Bin yang muncul dibelakang Se Dong. Keduanya bertatapan dengan sedih. Cinta lama yang belum kelar sepertinya.



Tae Hee berjalan di gang menuju ke sebuah tempat, Hong Bin mengikutinya dari belakang. Mereka sama – sama tak berucap apapun.

Se Dong menggantikan Tae Hee untuk menemani Chang tidur. Ia menerawang wajah Chang kosong, pikirannya saat ini melayang entah kemana. Mungkin ada sebersit rasa khawatir atau mungkin kecemburuan yang dirasakan Se Dong pada Tae Hee.

Tae Hee memasuki rumahnya dengan diikuti oleh Hong Bin, “Apa yang ingin kau tahu? Kenapa aku pergi saat kau sedang latihan militer?

Hong Bin diam sulit baginya untuk mengatakan sesuatu, sekarang pun dia masih penuh tanda tanya tentang bagamana Tae Hee bisa berbuat demikian. Tae Hee tak ragu untuk berkata kalau dia sudah merasa muak dengan Ayah Hong Bin. Begitu pula dengan Ayah dan Ibunya. dia pergi karena sudah tak tahan harus terus disebut sebagai sampah.


Suara Hong Bin tercekat. Ia meminta Tae Hee untuk diam, jawaban yang ia lontarkan sungguh seperti batu besar yang menghantamnya.

Kenapa aku meninggalkan Chang dan pura- pura sudah meninggal?” lanjut Tae Hee. Hong Bin dengan kaku memohon, ia meminta Tae Hee jangan mengatakannya sekarang. Ia belum siap untuk mendengar alasannya.

Tae Hee tak menggubris permintaan Hong Bin yang jelas ia hanya menginginkan kebahagiaan. Ia hanya menginginkan itu. Mungkin dia memanglah tak sekaya Hong Bin tapi dia adalah pria dan ayah yang baik. Kebalikan dengan Ayah Hong Bin, dia lembut dan baik. Tae Hee ingin hidup bersamanya tapi dia tak menerima Chang.

aku harus memilih antara dia dan Chang. Aku memilih dia.”


Hong Bin menatap dalam ke kedua belah mata Tae Hee yang berkaca – kaca, “memangnya kau pikir aku percaya?

Kau tak percaya? Kenapa aku tak bisa melakukannya dan menjadi hidup yang lebih baik? Duduk di meja makan bersama-sama, dan menikmati makan malamnya. Tidur bersama-sama, dan melahirkan anaknya. Tidur bersama-sama, dan melahirkan anaknya. Aku tak akan bisa seperti itu jika bersamamu. Tapi dengannya aku bisa. Aku merasa sangat bahagia. Aku akhirnya bisa memiliki keluarga dengan suami yang baik. Apa aku tak pantas bahagia?”


Hong Bin diam beribu bahasa. Sampai akhirnya ia bertanya, “kenapa kau pura – pura meninggal? Apa kau tak bisa bersabar? Aku akan meninggalkan semuanya demi kau. Di tempat itu, aku . . Aku sudah menemukan tempat tinggal kecil untuk kita. Aku bahkan sudah merenovasinya sebagai rumah baru kita. Lantainya juga sudah bagus. Aku sudah siap meninggalkan ayah dan pergi denganmu” ungkap Hong Bin penuh kepedihan. Ia mungkin hanya ingin Tae Hee tahu, bukan hanya Tae Hee yang sedih. Dia juga pasti lebih sedih melihat orang terkasihnya harus tersakiti didepannya dan itu semua ulah Sang Ayah. Pria mana yang tak sakit. Ya kan?

Tae Hee memalingkan wajah, ia ingin terlihat lebih tegar lagi. ia menegaskan kesalahannya yang datang kesana menemui Chang. Dia hanya perlu melihat Chang dari jauh, meskipun dia sudah meninggalkan Chang tapi ia tetap merindukan Chang. Tapi dengan bertemu saja sudah cukup.


Selama 7 tahun, Aku tak bisa bernapas. Hanya aroma tubuhmu yang tercium olehku.” Tutur Hong Bin dengan suara terbata – bata menahan pedih. “Tapi, aku tak bisa menemukanmu Aku hampir gila.
Tae Hee menganggap kalau Hong Bin pastilah belum dewasa, tapi sekarang ia sudah tak menganggap Hong Bin sebagai pelindungnya lagi. bukan hanya karena sikap ayah Hong Bin tapi juga sikap Hong Bin yang kekanakkan membuat ia semakin muak. Pulanglah!

Kau tak seharusnya berbicara omong kosong. Hanya mendengarmu bernapas saja, Aku tahu apa yang kau pikirkan.”

“Memangnya apa yang aku pikirkan sekarang?


Kau sangat ingin memelukku.

Hong Bin perlahan mendekati Tae Hee. Menatap keduanya mata Tae Hee dalam, ia menggerakan tangan untuk mengusap wajah Tae Hee yang berlinangan air mata. Tae Hee pun memejamkan matanya menantikan sentuhan itu, namun entah apa yang terjadi. Tangan Hong Bin berhenti, ada sesuatu yang menahan perasaan hingga tak sanggup untuk membelai wajah Tae Hee.

Tae Hee membuka matanya, sorot kekecewaan tak bisa ia sembunyikan. Ia bergegas membelakangi Hong Bin, “Tolong jaga Chang. Pacarmu. Dia memang sedikit ceroboh, tapi, sepertinya dia sangat baik. Kau pasti sudah tahu itu. Kita sama- sama sudah melupakan semuanya Selamat tinggal, Hong Bin.




Tae Hee sedih dengan kepergian Hong Bin, bebagai perasaan berkecamuk dalam hatinya. Ada sisi tak rela namun apa daya, ia sudah melepas semuanya. Tapi . . Tae Hee berlari keluar rumah untuk mengejar Hong Bin yang sama sedihnya.

Tae Hee terisak melihat punggung Hong Bin yang berjalan menajauhinya, ia tak bisa menahan isakannya hingga harus bersembunyi. Namun Hong Bin juga bisa mendengar isakan tersebut, ia diam memaku untuk beberapa saat.

Hong Bin tak mungkin terus terdiam. ia berjalan meninggalkan Tae Hee yang menangis melihatnya. Pasti Hong Bin sudah  menyadari perasaannya sendiri. dia tahu kalau terus berada disana, ia akan semakin melukai bahkan mengorek luka lama Tae Hee.



Tae Hee melongok dari tempat persembunyiannya. Sosok Hong Bin sudah tak ada disana lagi. pertahanannya tak bisa ia jaga lagi, isakan Tae Hee semakin terdengar. Mungkin ia sadar sekarang, hati Hong Bin sudah terisi dengan orang lain.

Se Dong memberitahukan kalau Chang sudah tidur, jadi Hong Bin bisa meninggalkan Chang menginap dirumahnya saja.

Se Dong...”

Se Dong memotong ucapan Hong Bin yang terasa begitu berat, ia tahu akan sulit bagi Hong Bin menjelaskan masalahnya untuk saat ini. Ia meminta Hong Bin tak usah berkata apapun, ia tak mau memikirkannya. Hong Bin tak perlu memberitahukannya.

Kemarin, Chang melompat dari perosotannya. Tapi dia tak terluka. Sekarang, Semuanya sudah sangat jelas. Anak itu adalah Chang. Wanita yang menyelamatkan Chang dari musim gugur adalah ibunya. Dan Joo Hong Bin, adalah ayahnya.” Ucap Se Dong seolah mengisyaratkan kalau ia ikhlas seandainya mereka bertiga bersatu menyisihkan dirinya.

Se Dong berbalik untuk pergi, namun Hong Bin memanggilnya. Se Dong terhenti.

Aku... Aku memang mencintaimu. Saat di depan Tae Hee, aku menyadari sesuatu. Sekarang aku tahu siapa yang aku cintai. Bukannya kau tak mau memikirkan apapun sekarang? Tak usah pikirkan. Kau tak perlu memikirkannya. Biarkan aku saja.” pinta Hong Bin membuat Se Dong kembali menoleh mencaari kesungguhan dimata Hong Bin.




****
Bong Goo mengeluh dihadapan Pelayan Yoon karena Jang Won membatalkan proyek mereka di Goorae padahal ia sudah menghabiskan banyak waktu untuk proyek tersebut. Ia meminta Pelayan Yoon melakukan sesuatu.

Apa yang kau kerjakan selama ini?” tanya Pelayan Yoon santai sambil menikmati secangkir kopi. “Kau tak mengerjakan perintahku? Aku mendengar sesuatu dari Supir Jo. Bahwa ibu Chang masih hidup. Dan dia tahu di mana rumahnya. Aku sudah memberimu uang untuk mencari tahu di mana dia. Dan kau sama sekali tak membawa infomasi apapun.

Bong Goo tergagap atas ketidak –mampuannya menjalankan perintah ini. Pelayan Yoon memerintahkan Bong Goo untuk menutup mulut Tae Hee dan jangan sampai lengah.


Karyawan di Global Games pergi ke tempat relawan. Mereka akan membantu disana sebagai ganti dari Tae Hee yang sakit. Oh Joon Shik memperkenalkan dirinya dan tim –nya sebagai perwakilan dari Global Games. Ia seolah memberi garis pembatas antara Tim –nya dan Tim Seung Hwan.

Kenapa kalian bisa mengenal Kim Tae Hee?

Tim Seung Hwan pun demikian, ia memperkenalkan Tim –nya sebagai teman Se Dong. “Kami tak mengenalnya secara pribadi. Kami ke sini karena perintah Se Dong.”


Tae Hee menyuruh Se Dong yang keras kepala untuk tak memasakkan makanan untuknya. Ia bisa memasak sendiri. tapi dasar Se Dong, ia kerasa kepala untuk memasakkan. Ia tahu kalau Tae Hee tak bisa masak, “Wastafelmu kering dan kulkasmu kosong. Kau sakit, 'kan? Bagaimana bisa sembuh jika kau tak pernah makan? Jika kau tak suka aku memasakkanmu, kau harus belajar memasak...”

Se Dong menoleh, ia terkejut tak ada sosok Tae Hee dibelakangnya.


Se Dong mencari Tae Hee dan menemukan ia tengah memegangi kepalanya. Ia meringis menahan sakit yang teramat sangat dibagian kepala. Se Dong sangat khawatir tapi Tae Hee meminta Se Dong untuk pulang agar ia bisa berteriak tanpa malu.

Se Dong menunggu dengan cemas didepan rumah Tae Hee, terdengar suara erangan dan jeritan dari rumah Tae Hee.

Sekretaris Ko dan Ibu Hong Joo berdiri menatap pintu ruangan Jang Won dengan cemas. Ibu Hong Joo mencoba mendengar suara dari dalam ruangan suaminya.

Rupanya didalam ada Hong Bin yang meminta penjelasan tentang kepura – puraan Tae Hee kalau dia telah mati dan meninggalkan Chang. Jang Won berkata kalau dia tak tahu.

Aku sudah menelepon kepala desa di Goorae. Mereka semua sudah tahu, bahwa Tae Hee masih hidup. Jadi, Jika kau adalah alasan kenapa dia berpura- pura meninggal. Tolong minta maaf seperti kau lakukan pada Se Dong. Aku juga akan minta maaf. Kau juga harus minta maaf karena kesalahanmu ini.



Jang Won menolak, mungkin dia memang salah pada Tae Hee tapi meskipun begitu Tae Hee telah merebut segala miliknya. Kalau memang ada yang jahat, Tae Hee lah yang jahat.

Hong Bin belum mengerti maksudnya, toh apa yang telah Tae Hee rebut dari ayahnya. Jang Won bangkit, ia ragu untuk melanjutkan ucapannya.

Kau. Kau selalu menjadi yang terpenting bagiku.” Jelas Jang Won membuat Hong Bin tak berkutik.



Hong Bin berjalan pulang tanpa menggunakan mobil, pikirannya mengingat ucapan Jang Won kalau dirinya adalah segalanya bagi Jang Won. Yang jelas, Hong Bin mungkin merasa bersalah terlalu memojokkan ayahnya dan menganggap dia tak perduli dan menyebalkan. Tapi kenyataannya, Jang Won itu perduli hanya saja dia memang seolah membangun tembok pembatas antara dirinya dan Hong Bin. Menunjukkan rasa perduli dengan bentakan atau amarah, ga bisa ngomong baik – baik. *Opiniku.

Sesampainya dikantor, ia bertemu dengan Se Dong yang sudah menanti. Se Dong tanpa basa – basi meminta maaf pada Hong Bin. Hong Bin mengernyit tak mengerti akan maksud ucapan Se Dong.

“Mungkin, jika aku membantunya. Jadi, kau tak perlu turun tangan. Aku takut, kau akan menemui Tae Hee. Aku tak mau kau ke sana. Itu sebabnya aku tak memberitahumu.

Hong Bin tak bisa menangkap maksud perkataan Se Dong. Se Dong memberitahu kalau Tae Hee tak tahu berapa lama lagi waktunya akan bertahan, ia menitipkan Chang karena tak mau Chang menderita melihatnya kesakitan.



Hantaman bagi Hong Bin. Ia berbalik dengan tatapan kosong, ucapan Se Dong pun tak ia indahkan lagi.

Dan dengan berpura- pura meninggal, kau bisa melupakannya. Cepat atau lambat dia akan tetap meninggal. Itulah alasannya. Dia sakit parah.

Hong Bin melangkahkan kakinya meninggalkan Se Dong.

Jang Won masuk ke kamar Hong Joo, sigap Hong Joo bangkit dari kursi belajarnya.

Kau sudah bertemu dengan Tae Hee? Di mana dia?” tanya Jang Won tanpa basa – basi. Jelas saja Hong Joo bingung, akankah dia mengatakannya?

Tae Hee menatap makanannya dengan senang. Ketukan pintu terdengar, Tae Hee mengira kalau itu Se Dong. Dengan riang ia membukakan pintu, “Kenapa kau baru pulang? Kau harus mematikan kompornya. Supnya jadi gosong.”

Seketika Tae Hee terhenti setelah pintu terbuka, dua sosok orang berbadan besar masuk tanpa izin ke rumah Tae Hee.

Jang Won pergi ke tempat relawan, ia memperhatikan suasana disana yang ramai karena dipenuhi anak Global Games yang tengah gotong – royong membantu.

Hong Bin masuk ke rumah Tae Hee, dia terkejut melihat seisi rumah tak ada siapapun. Ia berlari keluar mencari – cari Tae Hee.


Tae Hee mencoba melepaskan diri dari dua orang besar yang mengapitnya dalam mobil, “Kalian siapa berani menculikku begini?”

Tanpa banyak kata, mereka memukul perut Tae Hee hingga ia tak sadarkan diri.

Jang Won bertanya pada anak – anak yang berada di tempat relawan, “Aku ingin bertemu dengan Kim Tae Hee.

Min Jung bertanya siapa Jang Won. Belum sempat mendapat jawaban, ponsel Min Jung bergetar. Ia merasa kalau Tae Hee dalam keadaan bahaya, ia menerima panggilan SOS.


Se Dong termenung di rumah Hong Bin, pikirannya entah bercabang kemana. Kesedihan dan kekhawatiran tampak diwajah Se Dong, ia tak ceria seperti biasa. Ponselnya berdering, ia segera mengangkat panggilan dari Seung Hwan.

Entah apa yang dibicarakan, Se Dong terbelalak mendengarnya.

Hong Bin mencari – cari keberadaan Tae Hee namun nihil. Panggilan masuk, ia segera mengangkat panggilan dari Se Dong itu.

Tae Hee sedang dalam bahaya. Relawan menerima panggilan S.O.S. Mereka tak bisa mendengar suara apapun. Mereka sudah memeriksa lokasinya. Dan tempatnya...” Jelas Se Dong khawatir.


Sekretaris Ko memacu kencang kendaraannya, ia menuju ke tempat dimana lokasi Tae Hee berada.

Tae Hee memegang kepalanya yang mulai sakit, ia teringat akan obatnya yang belum ia minum. Penculik I merasa kalau Tae Hee benar – benar sakit tapi penculik satunya berkata kalau mereka tetap harus membawa Tae Hee.

Tae Hee tak kuat lagi menahan sakitnya, ia kehilangan kesadaran.

Penculik yang menyupir terkejut, ada sosok pria yang menghadang laju mobilnya. Siapa lagi kalau bukan Hong Bin yang sudah berada mananti mereka. Penculik yang menjaga Tae Hee menyuruh untuk menabrak saja pria yang menghadang mereka.

Penculik yang mengemudi memacukan gas –nya, ia mengegas sekuat – kuat untuk menabrak Hong Bin tapi hanya dengan satu jari saja sudah mampu menahan laju mereka.

Mereka semua keluar untuk menghajar Hong Bin namun hanya dengan kibasan saja sudah membuat mereka terpelanting jauh.


Hong Bin masuk ke mobil, ia mengangkat tubuh Tae Hee yang tak sadarkan diri.

Penculik akan kabur tapi Sekretaris Ko giliran muncul untuk menghajar mereka bertiga.


Se Dong khawatir. Ia berdiri didepan gedung sendirian sampai akhirnya Seung Hwan datang menjemputnya. Mungkin Se Dong lelah pikiran dan mental kali yah, sampai dia pun jatuh pingsan tepat saat Seung Hwan datang.

Hong Bin menatap wajah Tae Hee lekat – lekat, ia teringat akan ucapan Se Dong yang berkata kalau usia Tae Hee mungkin sudah tak lama lagi.

Hong Bin mempercepat larinya bahkan sampai – sampai kakinya melayang, mungkinkah dia terbang demi menyelamatkan Tae Hee?



****

0 Response to "Sinopsis Iron Man Episode 15 – 2"

Post a Comment

Jangan lupa komentar yaah^^ biar aku lebih semangat dalam membuat postingan. Meskipun jarang bales tapi semua komentar selalu aku baca kok.. *serius*

Gomawo^^