Sinopsis Iron Man Episode 13 – 2

Sinopsis Iron Man Episode 13 – 2
Team Se Dong harus berbenah membantu Se Dong yang sekarang tengah terbaring dikamar tidurnya. Sedangkan Seung Hwan pun juga hanya bisa memandangi tubuh Se Dong dengn frustasi, kejadian seperti ini menimpa Se Dong dua kali.




Rasa bersalah kini dirasakan oleh Hong Bin, ditatapnya kemeja putih milik Se Dong yang ternoda oleh darah. Terdapat lubang ditenganya, dimana bilah yang muncul dipunggungnya menusuk dada Se Dong.

Aku harap kau mau mempercayai karena aku memang pantas. Aku mengatakannya sendiri dengan mulut ini.” Tutur Hong Bin penuh rasa bersalah.

Sekretaris Ko yang mendengarkan kegundahan tuannya, meminta maaf telah membawa Se Dong bersamanya. Ia pikir dengan adanya Se Dong maka akan mencega kemarahan Hong Bin. Untungnya bilah dipunggung Hong Bin tak keluar semua, hingga hanya luka ringan saja didada Se Dong.

Apa yang Se Dong pikirkan tentang aku, Tentang apa yang terjadi?

Dia pikir, ada sesuatu yang tajam di dalam baju anda.

Ja Kyung. Apakah aku bisa terus menyukai Se Dong? Bahkan jika Se Dong kembali, Aku tak bisa menyukainya lagi, 'kan? Jika terus begini, Aku mungkin akan membunuh Se Dong.” Ucap Hong Bin penuh kebuntuan. Keputusa –asaan.


Hong Bin keluar dari mobilnya dengan tergesa, tak disangka disana sudah ada Seung Hwan dan anggota tim lain yang tengah menanti. “Dia memaksa untuk datang ke sini karena sudah berjanji. Kami khawatir karena dia masih belum sembuh. Jadi, kami semua mengantarnya.

Hong Bin terpaku mendengar penjelasan Seung Hwan.


Se Dong membacakan dongeng didepan seluruh anak kelas, dia memainkan boneka ditangannya sambil bercerita. Chang tersenyum senang Se Dong bisa datang ke sekolah. Namun ditengah cerita, dada Se Dong terasa nyeri hingga sejenak ia menghentikan ceritanya.

Hong Bin yang mengintip dari pintu kelas tampak khawatir sekaligus kasian melihatnya.

Se Dong mengakhiri dongeng tersebut dan menerima tepuk tangan dari anak – anak. Ia tampak bahagia melakukannya, saat ia menoleh. Ia tersadar kalau Hong Bin tengah memperhatikannya sedari tadi.



Hong Bin dan Se Dong berjalan beriringan, Se Dong menjelaskan kalau dia datang ke sekolah karena memang sudah berjanji dengan Chang. Dia takut kejadian seperti kemarin terulang kembali dan membuatnya merasa bersalah. “Tak peduli seberapa jauh aku mau melarikan diri dari masalah ini.... Pada akhirnya, kakiku akan berhenti berlari. Aku begini bukan karena aku kasihan padamu. Tapi, aku masih memerlukan waktu. Aku masih ingin berpikir.

Se Dong menegaskan kalau lukanya tidaklah parah jadi Hong Bin tak perlu mengkhawatirkannya. Ia permisi karena temannya sudah menunggu. Hong Bin masih tetap diam seribu bahasa. Entah apa yang ada dibenaknya saat ini.



Se Dong melangkahkan kaki meninggalkan Hong Bin.

Kau tak perlu berpikir lagi.” ucap Hong Bin membuat langkah Se Dong terhenti. “Aku tak peduli apa yang kau pikirkan lagi. Aku tak membutuhkanmu lagi. Selamat tinggal.

Se Dong diam membeku. Matanya mulai tergenang air mata namun tak ada kata yang terucap dari mulutnya.



Pelayan Yoon tengah menyesap kopinya, dia mendecak heran mendengar tangisan Chang yang tak henti – henti. Sudah cukup lama Chang tak menangis seperti ini tapi sekarang mulai lagi. ia pun menggeleng kepala dengan heran.

Chang menangis dengan bantal yang mengitari duduknya. Hong Bin bersama Chang dengan wajah muram. Dia menyuruh Chang untuk tak meminta Se Dong untuk datang kesana dan mereka pun tak akan datang ke rumah Se Dong lagi.

“Kita tak akan bertemu dengannya bahkan pada hari ulang tahunnya?”

Tidak. Tidak Boleh. Tidak akan. Hong Bin menegaskan kalau mereka tak bisa bertemu dengan Se Dong. Chang sudah bersiap menangis lagi namun dengan segera Hong Bin melarangnya. “JANGAN MENANGIS.”

Hong Bin menyuruh Chang untuk segera tidur, ia pun menidurkan tubuh Chang namun wajah Chang masih lah cemberut.

“Berhenti cemberut, dan tutup matamu. Kau mau aku membacakanmu cerita?” ucap Hong Bin seraya meraih sebuah buku. Ia membaca cerita anak itu dengan tanpa jeda ataupun koma. Dia membaca –nya tanpa irama sampai membuat Chang semakin terganggu. Chang menutup buku yang ada di tangan Hong Bin dengan kesal lalu berbalik memunggunginya.


Pelayan Yoon tengah bersiap untuk beristirahat dan membersihkan riasan di wajah. Ponsel bergetar, ada panggilan dari Jang Won yang membuatnya berubah sumringah. Dia bertanya apa yang membuat Jang Won menelfonnya selarut ini?

Hong Bin mengatakan sesuatu yang tak kumengerti. Dia bilang, aku menyewa genster untuk membunuh Tae Hee. Pasti ada yang memberitahunya. Apakah kau tahu soal ini? Kau orang yang menyewa mereka? Kenapa kau tak pernah memberitahuku?” berondong Jang Won saat Pelayan Yoon hanya terdiam diseberang telefon. Jang Won menyuruhnya untuk menjawab ketika ia bertanya.

Anda yang meminta saya memberi Tae Hee pelajaran.

Jang Won terkejut dia hanya meminta untuk memberikan pelajaran pada Tae Hee. Kenapa pelayan Yoon bisa begitu kejam? Meskipun dia tak menyukainya tapi ia tak pernah berfikir untuk membunuhnya.


Pelayan Yoon sakit hati dikatai kejam, dia hanya melakukan apa yang diperintahkan oleh Jang Won. Dia mengerjakan pekerjaan kotor semata demi Jang Won. Dia hanya tak mau ada seseorang yang mengganggu Jang Won. Dia bahkan tak menerima ucapan terimakasih tapi tetap melakukan apa yang Jang Won perintahkan.

Disisi lain, rupanya istri Jang Won mendengar percapakan keduanya. Dia telah menyadap telfon Jang Won.

Jangan melakukannya lagi. Aku bahkan tak berterima kasih, kenapa kau mau melakukannya?


Pelayan Yoon menangis ketika sambungan telefonnya berakhir, sungguh sakit pastinya ketika apa yang kita lakukan dengan sekuat tenaga namun tak menerima balasan walau sekedar ucapan terimakasih.

*****
Se Dong sudah rapi bersiap untuk pergi namun harinya tampaklah kurang ceria hari ini. Ia yang akan melangkahkan kaki keluar kamar teringat sesuatu, ia membuka sebuah kotak yang berisi berbagai macam benda. Se Dong termenung.

Sebuah pesan masuk, itu dari Hong Joo. Kau mau pergi kemana?


Se Dong menghampiri Hong Joo yang sudah menantinya. Ia bertanya apakah Hong Joo tak sekolah? Apa dia sudah bersiap untuk berangkat keluar negeri?

Hong Joo mengeluh karena ibunya tak mau pergi tapi dia akan berusaha terus membujuknya. Se Dong diam, ia mengutarakan perasaan tak nyamannya ketika harus bersama dengan Hong Joo.

Kau takut ibu dan ayah akan melukaimu lagi?

Maaf.” Singkat Se Dong lalu pergi mendahului Hong Joo.



Hong Joo mengejar Se Dong lalu menghadangnya, ia melemparkan tasnya lalu push up dihadapan Se Dong. “Kau masih merasa tak nyaman?”

Se Dong diam. Hong Joo melakukan tingkah konyol lainnya untuk mencairkan suasana namun Se Dong masihlah bungkam. Hong Joo berkata kalau mungkin rasa tak nyaman Se Dong menunjukkan Se Dong mulai menganggapnya sebagai pria. ini awal yang bagus, meskipun minder bersaing dengan kakaknya sendiri. dia tak akan menyerah.

Hong Joo pun berjalan meninggalkan Se Dong.


Se Dong duduk di halte bus, tatapannya kosong menerawang entah kemana. Ia teringat akan kenangan manisnya bersama dengan Hong Bin. Tak terelakkan lagi kalau benih cinta mungkin sudah mulai tumbuh dan berkembang dalam hati Se Dong.

Suara bus terhenti, ia bergegas untuk menaikinya dengan helaan nafas berat.

Sekretaris Ko menemui Hong Bin untuk memberitahukan bahwa semua orang telah berkumpul di auditorium. Namun ketika mata memandang, tak ada seorang pun dalam ruangan, Sekretaris Ko menuju ke luar ruangan dan menemukan Hong Bin tengah duduk termenung dengan sekujur tubuh dipenuhi oleh pedang.

“Apa yang terjadi? Kenapa anda marah lagi? Cepat pikirkan Nona Son Se Dong. Anda mau aku memanggilnya?”

Hong Bin dengan sedih berkata kalau bilang –nya keluar bahkan ketika ia memikirkan tentang Se Dong. Ini terjadi karena ia sangat merindukan Se Dong.


Hari berganti malam, namun Hong Bin masih duduk ditempat tadi dengan Seketaris Ko yang menemaninya. Bahkan keesokan harinya pun, Hong Bin masih duduk disana.

Malam harinya lagi, Sekretaris Ko mengorbankan diri sebagai pelampiasan kemarahan Hong Bin. Darah mengucur di wajahnya namun pertarungan ini sama sekali tak meredakan amarah Hong Bin.

Se Dong melakukan pertemuan dengan Jang Won setelah mendapatkan nomornya dari Hong Joo. Jang Won merasa tak terima kalau seandainya Se Dong menyalahkannya atas kematian Sang Ayah.

Bukan, bukan seperti itu. Aku terus kuliah walaupun kami tak punya uang Bahkan setelah ibuku meninggal. Aku pergi ke perpustakaan tepat setelah pemakamannya.”

Jang Won menyela ucapan Se Dong namun Se Dong tak perduli dan kembali bercerita. “Dan, Perkuliahanku dulu. Harusnya aku cari kerja saja dan membatu ayahku. Untuk mengejar impianku, aku tak peduli kesulitan ayahku. Aku hanya bergantung pada ayah saat kuliah.



Meskipun ini salah Se Dong, ia ingin menanyakan sesuatu. Ia menunjukkan kartu ID ayahnya, mungkin saja Jang Won tak ingat akan ayahnya. Satu yang ingin Se Dong dengar, dia ingin mendengar kalau Jang Won merasa menyesal akan kejadian tersebut.

“Aku tak akan mengatakannya. Aku tak pernah mengatakannya seumur hidupku. Bahkan jika aku mau mengatakannya. Apakah ayahmu akan hidup kembali?” tolak Jang Won.

Se Dong bertanya apakah Jika dengan mengucapkan penyesalan ada yang berubah, apa dengan begitu Jang Won akan berkata menyesal? Jang Won tetap tak mau. Dan tak akan pernah. Se Dong sungguh tak mengerti jalan pikiran Jang Won. Apa susahnya mengatakan sesal?


****
Sekretaris Ko sudah kelelahan dengan luka – lukanya namun Hong Bin masih dalam kondisi semula.


Se Dong menerima panggilan dari Jang Won, meskipun awalnya Jang Won ragu. Dia mengaku kalau dirinya terlalu sibuk sampai tak terlintas dalam benaknya bahwa para pekerja juga seorang ayah. Dia memang tak bisa mengatakan apa yang Se Dong inginkan. Dia tak bisa berubah tak egois. Hanya saja ketika ia melihat pekerjanya, maka dia akan melihat mereka sebagai seorang Ayah juga.

“Apa ini cukup?”

“Tidak pak. Ini lebih dari cukup.” Jawab Se Dong.

Panggilan berakhir, tampak sebuah kelegaan dalam diri Jang Won.


Tak lama berselang, giliran Sekretaris Ko yang menghubungi Se Dong. Ia menjemput Se Dong untuk menemui Hong Bin. Dia dengan cemas meminta Se Dong memaklumi ketika Se Dong melihat perilaku aneh Hong Bin maupun pakaian aneh yang dikenakan Hong Bin. Jangan kaget dan buat tuan melepaskannya.

Se Dong diam. Ia juga tampaknya khawatir dengan kondisi Hong Bin.



Se Dong memasuki ruang gulat Hong Bin dan Sekretaris Ko, awalnya Hong Bin tak sadar akan hadirnya Se Dong. Namun setelah sadar, ia mencoba menghindar dan meminta Se Dong jangan mendekat. Se Dog tak takut. Ia mendekati Hong Bin tanpa ragu bahkan berjongkok dihadapannya.

Kenapa kau jadi kekanak-kanakan begini? Masih ada Pororo dan Hutos. Kenapa kau memilih kostum yang mengerikan?

Se Dong menunjukkan sebuah sapu tangan pada Hong Bin. Ada dua hari yang begitu sulit bagi Se Dong saat itulah sapu tangan ini ia dapatkan. Pada hari ia mendapatkan sapu tangan ini, ia terhibur. “Kau harus menyimpannya. Pegang ini,  saat kau merasa sedih. Dan kembalikan padaku. Ini adalah sapu tanganmu dulu. Tapi, ini sudah menjadi milikku. Ini adalah barang yang berharga bagiku.



Se Dong pergi membiarkan Hong Bin memikirkan kata – katanya sendiri. Hong Bin pun menatap sapu tangan itu dalam diam. Ia teringat telah memberikan sapu tangan tersebut pada gadis yang tengah menangis, ia semasa itu dalam masa wajib militer.

Hong Bin tak bisa menahan tangisnya lagi karena gadis itu menangis oleh ayahnya. Seketika itu pula, pisau yang ada di punggung Hong Bin telah lenyap.



Se Dong melangkahkan kaki menuju rumahnya, tanpa semangat ia menenteng tas yang sedari tadi ada tangannya. Langkah Se Dong terhenti melihat seseorang berdiri tak jauh dihadapanya, siapa lagi kalau bukan Hong Bin yang tengah menanti Se Dong.

“Aku sedang libur, Aku mau pergi menyapa ayahku di perusahaannya. Ada perumpuan yang menangis dan menjerit. Aku melihatnya mengemis mau menemui ayahku. Aku bisa menahan ayahku dan membawanya menemui perempuan itu. Tapi, aku tak bisa. Yang bisa aku lakukan adalah memberikan saputanganku. Apa dia bahagia dengan itu?”



Se Dong memberitahu kalau ayah Hong Bin telah berkata ia tak akan egois. Dia kemudian meminta sapu tangannya karena itu miliknya, Se Dong menengdahkan tangan. Namun bukannya memberikan sapu tangan tersebut, Hong Bin menarik tangan Se Dong dan memeluknya erat.

Kerinduannya selama ini mungkin sedikit berkurang. Ia kemudian mencium bibir Se Dong, membuktikan betapa sayangnya ia pada Se Dong saat ini.


****
Pelayan Yoon tengah menghubungi seseorang membahas tentang ia yang menyewa orang untuk membuntuti Hong Joo.

“Tapi hari ini. . . .” ucap orang diseberang telefon ragu.

Sekretaris Ko menemui Hong Bin, ia memberitahukan kalau Hong Joo datang ke sana. Hong Bin tak mendengar apa yang tengah Sekretaris Ko ucapkan. Sampai beberapa kali barulah Hong Bin mendengarnya, hahaha.

Sekretaris Ko sebenernya sih geget sendiri dengan sikap Hong Bin. Dia sudah kembali menjadi kekanakkan.


Hong Bin melihat penampilan Hong Joo yang begitu kucel.

“Kau tak pernah membalas suratku. Jadi, kau pasti tak tertarik.”

Hong Bin heran. Hong Joo mengeluh karena seseorang terus mengawasinya ditempat kerjanya bersama dengan Tae Hee. Hong Bin terpaku mendengar nama yang disebutkan oleh Hong Joo.

“Kupikir, kau harus mengetahui ini. Saat kau pulang dan bertengkar dengan ayah. Kau bilang, Tae Hee dipukuli sampai mati oleh ayah. Aku ragu-ragu apakah aku harus memberitahumu atau tidak. Tapi hari ini, aku harus memberitahumu.”

Hong Bin masih tertegun, belum bisa mencerna apa yang Hong Joo katakan. Ia berulang kali menyuruh Hong Joo mengulang nama yang ia sebutkan. Dengan kesal Hong Joo menyebut nama Tae Hee, Tae Hee cinta bertama Hong Bin. Tae Hee ibu Chang.



***** 

1 Response to "Sinopsis Iron Man Episode 13 – 2"

  1. Banyak ling yang engga bisa dibuka khusus nya pada episode- episode genap

    ReplyDelete

Jangan lupa komentar yaah^^ biar aku lebih semangat dalam membuat postingan. Meskipun jarang bales tapi semua komentar selalu aku baca kok.. *serius*

Gomawo^^