Sinopsis High School: Love On Episode 15 – 1

Sinopsis High School: Love On Episode 15 – 1
Woo Hyun membawa tas –nya ke rumah Sung Yeol, ia meminta pada mereka agar mau menerimanya. Sung Yeol dengan tegas menolak kehadiran Woo Hyun diantara mereka. Bukannya membela Woo Hyun, Ji Hye malah ikut memojokkan agar Woo Hyun pergi. “Aku tidak tinggal disini sendiri, dan menerima Seul Bi disini sudah membuat cukup masalah.”

Woo Hyun masih diam mempertahankan kemauannya. Sung Yeol tak terima, kalau memang Woo Hyun tak mau pergi. maka dia lah yang akan pergi. Ji Hye mencoba menahan Sung Yeol yang akan pergi namun Sung Yeol sudah terlanjur marah.

Woo Jin bimbang apa yang akan dia lakukan, dengan tak enak hati ia mengizinkan Woo Hyun tinggal disana semalam.





Wound?
 I gave you the wound, but it hurts me more!

Woo Jin sedang bersama dengan Sung Yeol dikedai pinggir jalan. Ia heran kenapa Sung Yeol tak mengatakan padanya? Seharusnya yang pertama tahu adalah dirinya. Dia Ayah Sung Yeol.

Karena kau ayahku, maka aku aku tak bisa mengatakannya padamu. Aku tahu kalau ini akan menyakitimu.

Ayo berfikir untuk yang terbaik. Kau tahu aku kan, aku minta maaf.” Ucap Woo Jin dengan sedih.

Woo Jin berniat meminum bir –nya tapi panggilan masuk hingga ia belum menenggak minuman dalam gelas. Sung Yeol iseng mencoba merasakan bir –nya tapi tak berapa lama ia langsung menjulurkan lidah, rasanya tak enak bagi Sung Yeol.

“Yak!! Hwang Sung Yeol! Kau bodoh?!” bentak Woo Jin melihat reaksi putranya.

Ji Hye menyiapkan tempat tidur untuk Woo Hyun. Dia rasa Woo Hyun akan kedinginan karena menggunakan kasur lantai, ia berniat mencari pakaian hangat dalam tas Woo Hyun. Tepat saat itu Woo Hyun masuk, dia tak membiarkan Ji Hye untuk membuka tas miliknya. Keduanya bertatapan dengan canggung.

Aku akan membicarakan ini dengan suamiku. Dan pastikan kau tak membuat masalah dengan Sung Yeol.” Pesan Ji Hye lalu pergi meninggalkan Woo Hyun.


Seul Bi dengan khawatir  tak bisa duduk tenang. Ponsel Seul Bi bergetar, dengan segera ia membuka ponselnya.

Seul Bi buru – buru membuka jendela kamar dan menemukan Woo Hyun sudah berdiri diluar menatap kearahnya. Seul Bi meminta Woo Hyun untuk cepat masuk ke rumah, ia tak mau Woo Hyun mendapat waktu yang sulit karenanya.

Woo Hyun beralasan kalau dia disana untuk melindungi Seul Bi. Seul Bi menebak kalau Woo Hyun pasti tak memiliki tempat yang hangat dalam rumah. ia meminta Woo Hyun menunggu, ia akan segera kesana.

“Stop! Jangan datang! Aku tak mau mendapat masalah dihari pertama.”
“Aku tak mau kau sakit.”


Wow, kau sangat loyal.” Ejek Woo Hyun bercanda. “kalau kau sakit, aku harus mengerjakan semua pekerjaanmu dan aku juga harus berangkat sekolah sendirian. Tidak! Kau tak boleh sakit. Hanya aku yang boleh sakit.”

Seul Bi kembali menyuruh Woo Hyun untuk masuk juga. Woo Hyun pun juga menyuruh Seul Bi menutup jendelanya. “satu .  . . dua . .

Seul Bi dengan segera menutup jendela sesuai permintaan Woo Hyun.

Selamat malam. Sampai bertemu dimimpiku.” Ucap Woo Hyun melambaikan tangan.


Woo Hyun melihat Sung Yeol berjalan sempoyongan dengan dipapah oleh Woo Jin, ia bergegas membantu. “Kau tak apa?

Sung Yeol jelas tak sudi menerima bantuan dari Woo Hyun, ia menepis tangannya dengan kasar. Woo Jin tak bisa berkata apapun, ia memapah anaknya ke rumah dan meninggalkan Woo Hyun yang terlihat sangat sedih.


Ji Hye dan Woo Jin duduk saling memunggungi, Ji Hye meminta maaf atas masalah yang terjadi. Dia akan mencari sebuah jalan.

apa kau akan menendang putra kandungmu? Atau kau akan membiarkan mereka tinggal sendiri?” Ji Hye terdiam bimbang. Ia meminta pendapat Woo Jin tentang ini.

Bagaimana aku bisa tahu? Kau telah merawat putraku. Aku tak tahu apa yang akan kau lakukan ketika bertemu dengan putra kandungmu.” Ucap Woo Jin membuat Ji Hye harus menghela nafas dalam.

Woo Hyun menyelimuti tubuh Sung Yeol tapi Sung Yeol yang mabuk ribut sekali sampai – sampai selimutnya terus tergulung. Sung Yeol yang mabuk menarik tengkuk Woo Hyun, apa yang kau lakukan?

Jarak wajah Woo Hyun begitu dekat hingga dia bisa merasakan bau alkohol yang menyengat dari Sung Yeol. “kau mabuk.”

Sung Yeol memonyongkan bibirnya akan mencium Woo Hyun tapi Woo Hyun sigap menutup bibir Sung Yeol.

“b*jingan.”

Sama dengan –mu.” Woo Hyun sekali lagi membenarkan letak selimut Sung Yeol, ia menatap sahabatnya yang tertidur. “hatimu dingin tapi tanganmu hangat. Betapa imutnya. Aku harap kau akan selalu imut seperti ini.”


Seul Bi belum bisa terlelap, ia mengirimkan pesan untuk Woo Hyun. Menanyakan apakah Woo Hyun tak nyaman ketika harus tidur dilantai?

Aku baik – baik saja karena aku bersamamu.” Balas Woo Hyun. Ditengah heningnya malam, Woo Hyun melantunkan lagu yang biasa Seul Bi dengar dari Woo Hyun.

My love, my everything. Malaikat dari surga. Kau mencuri kedua mataku dan dunia menghilang dariku. Bintang kecil. Malam ini. Aku akan menjagamu selamanya.” Woo Hyun mengakhiri lagunya, ia meminta Seul Bi untuk memimpikannya.

BUUUK. Bantal melayang tepat kearah Woo Hyun. Sung Yeol menyuruhnya untuk diam.



Disisi lain, Seul Bi bisa tersenyum. Ia berterimakasih karena Woo Hyun mau bertahan dan selalu berada didekatnya.

Woo Hyun kembali menyelimuti tubuh Sung Yeol.

*******

Sung Yeol mengerjapkan matanya ketika matahari pagi sudah meninggi. Ia terkesiap saat sadar Woo Hyun tidur dengan memeluknya, tanpa dikomando ia pun mendorong Woo Hyun menjauh darinya. Apa kau gila?

Kau semalam menjatuhiku dan hampir membunuhku. Kenapa kamarmu begitu dingin?

Sung Yeol sudah terlanjur kesal, ia melemparkan selimut yang digunakannya lalu pergi.



Seul Bi menyodorkan jus jeruk pada Woo Jin, ia berkata kalau itu bagus untuk perjalanan. Woo Jin tampak malas menerimanya tapi tak enak hati kalau harus menolak. Dengan wajah terpaksa ia meminum minuman jusnya.

Woo Jin akan mengenakan sepatu, ia mendapati sepatunya telah bersih. Ia menolah pada Seul Bi. Seul Bi tersenyum cerah, ia telah membersihkannya dengan sebaik mungkin.

“tapi kau tak perlu  . . .

terimakasih telah menerimaku. Aku akan melakukannya lebih baik lagi jika anda mau menerima Woo Hyun juga.” Tukas Seul Bi dengan cengiran khasnya. Tapi sepertinya Woo Jin belum bisa menerima hal itu, tampa menjawab ia pun pergi untuk bekerja.

Seul Bi mengeluh karena Sung Yeol pergi begitu pagi padahal ia ingin agar mereka bisa berangkat bersama. Woo Hyun berkata kalau mereka tak butuh adanya rumor tinggal bersama. Seul Bi merasa kalau itu bukanlah hal yang buruk jika tinggal bersama dan Woo Hyun juga memiliki ibu yang sama.

Tidak baik sama sekali. Kita tak akan bisa menjadi teman.

Aku pikir hidup manusia sangat rumit.” Rutuk Seul Bi. Woo Hyun celingukan, ia memperingatkan agar Seul Bi jangan berbicara seperti itu lagi. Seul Bi meringis meminta maaf, ia salah. Seul Bi menyuruh Woo Hyun agar menjadi keluarga saja dengan Sung Yeol.

“Keluarga bukan sesuatu yang bisa dibagi.”

“Kau bilang keluarga adalah orang – orang yang ada didekatmu sampai akhir khayat.” Tanya Seul Bi masih bingung.

Woo Jin bersama dengan Sung Yeol makan di toko. Woo Jin menanyakan keadaan putranya. Ia yakin kalau Sung Yeol telah menipunya. Ia menggunakan kelemahannya dalam minum dan meminum sekali teguk agar bisa mabuk. “kau seperti ibumu.

Sung Yeol membenarkan karena ia tak mau seperti ayahnya. Woo Jin meng –iya –kan karena Sung Yeol sama sekali tak sepertinya. Keduanya sudah berbicara dengan santai, Woo Jin menggunakannya untuk berbicara masalah Woo Hyun dengan Sung Yeol.

Woo Hyun pasti punya alasan. aku tahu ini sulit tapi bersabarlah. Dia tetaplah temanmu.”

Dia bukanlah temanku.” Tegas Sung Yeol tak mau dibantah.


Terdengar suara dua orang yang sedang bercanda, saat menoleh Sung Yeol dikejutkan dengan Woo Hyun yang tengah saling ledek dengan Seul Bi.

Woo Jin menatap putranya, ia tahu gelagat kecemburuan yang nampak dari wajah Sung Yeol.


Tae Ho berjalan dengan riang, ia menepi didekat sebuah mobil untuk memeriksa penampilannya. Merapikan rambut dengan ludah dan menggunakan lips balm. Tapi belum selesai ia gunakan, mobilnya malah pergi. Tae Ho dibuat kesal olehnya.

Joo Ah meminta pada pemilik toko untuk membayarkan semua gajinya, pemilik toko masih menyisakan 31500 won. Upah minimum itu 5210 tapi bos malah selalu membayarnya kurang.

“Kau gila! Karena disini banyak anak yang bekerja dengan upah 5000 won. Pergi.” ucapnya tak terbantahkan. Joo Ah masih memohon tapi tak didengarkan sama sekali.


Joo Ah terpaku didepan toko. Tae Ho dengan girang menghampirinya lalu menepuk pundak Joo Ah. Tae Ho berjongkok untuk mengagetkan Joo Ah tapi Joo Ah bukannya berbalik malah pergi meninggalkan Tae Ho.

Tae Ho berlari mensejajari Joo Ah, “kau seharusnya terkejut. Kenapa? Apa kau bekerja lebih cepat?

Joo Ah diam. Ia mengusap air matanya, Tae Ho menebak kalau ini ulah dari pemilik toko. Ia akan melabraknya tapi Joo Ah menahan tangan Tae Ho. Tae Ho berjanji akan membuat pemilik toko mengembalikannya.

Apa yang akan kau lakukan?”

hah? Karena ini keahlianku.” Tae Ho kemudian memberikan sebuah bungkusan untuk Joo Ah. Keduanya pun tersenyum bersama. *Iiih, couple ini lucu juga.


Pelajaran yang disampaikan oleh Ji Hye seperti biasa hanya dengan mendengarkan rekaman. Anak – anak memperhatikan kecuali Jae Suk yang asik mengetikkan pesan. Ia mengirimkan pesan pada Tae Ho dan Byung Wook untuk mengecek Chun Shik dan Yo Ha apa sudah meningkat dan melapor padanya.

Byung Wook mengacuhkan pesan tersebut dan meletakkan kasar ponselnya kedalam laci. Hanya Tae Ho yang menunjukkan pesetujuan. Jae Suk kesal dan berniat mengirim pesan untuk Byung Woo tapi Ji Hye merebut ponsel milik Jae Suk. Tak ada ponsel selama pelajaran. Apa kau tak ingat?

Jae Suk dengan santai menyuruh Ji Hye mengambilnya saja. dia akan membeli ponsel yang lain.

Benarkah? Itu tak akan menghentikanku. Aku pikir aku akan mendirikan toko segera.” Balas Ji Hye membuat anak kelas terkikik.



Jae Suk tak terima, ia mengangkat tangan untuk mengajukan pertanyaan tentang dirinya yang pernah melihat Ji Hye dan Sung Yeol tinggal bersama. Dan juga, Lee Seul Bi tinggal dengan Hwang Sung Yeol kan?

Ayo gunakan otak pintar itu untuk pelajaran.” Perintah Ji Hye. Jae Suk diam tapi ada anak lain yang kembali bertanya, kalau begitu. Apa hubungan Guru Ahn dengan Hwang Sung Yeol?

“Dia putraku.” Singkat Ji Hye membuat seisi kelas heboh. Sung Yeol kesal dan mengajak Jae Suk untuk keluar. Keduanya pergi dengan diikuti Byung Wook, Tae Hoo, Woo Hyun, Ki Soo dan anak kelas lainnya.


Seorang murid wanita memuji keberutungan Seul Bi. Ye Na ikut menyahut dengan berkomentar kalau Seul Bi memiliki kekurangan dalam berpindah – pindah dengan pria.

“aku hanya tinggal dengan mereka. Jangan melebih – lebihkan kata. Ini tidak seperti yang kalian pikirkan, ada alasan yang baik didalamnya.” tegas Seul Bi.


Ye Na mengatakan sebuah ungkapan, Young Eun yang mendengar ungkapan tersebut salah hanya bisa tersenyum sinis. Ia menoleh dan menyuruh Ye Na untuk diam saja. Ye Na berkilah kalau dia hanya mengatakan sebuah kebenaran. Young Eun semakin sinis, dia juga tak berkata kalau Ye Na tak bisa bicara.

“Aku tahu kau memiliki masalah dengan Sung Yeol. Kenapa aku? Bukankah kau seharusnya berurusan dengan Sung Yeol?

Aku hanya khawatir padamu. Kau melakukan segalanya demi mendapatkan Woo Hyun. Aku merasa sangat kasihan padamu.” Sindir Young Eun. Ye Na tak bisa menguasai amarahnya, ia menumpahkan air ke wajah Young Eun dengan kesal.


 “apa guru etika adalah Ibumu? Atau Ibu tirimu?” tanya Jae Suk meminta penjelasan.” Ucap Jae Suk tapi tak menerima jawaban. “apa ini sakit?

bagus.” Singkat Sung Yeol karena dia malah berterimakasih. Dari dulu ingin mengatakan ini pada semua orang tapi ia tak berani. Jae Suk jelas saja cengo mendengarnya. Sung Yeol pun pergi.

Da Yool melempar ponsel yang diberikan oleh Ye Na padanya. Ia menyuruh Ye Na mengambil ponsel tersebut dan menjauhinya. Ye Na menatap nanar dengan rambut acak – acakan, mungkin habis ribut sama Young Eun tadikan dia nyiram Young Eun.

kalau kau ingin menjadi penyanyi menyanyilah. Kenapa kau bekerja di karaoke? Kau tahu aku bisa bersinar dengan kata – kataku.” Ucap Ye Na.

Young Eun muncul, ia mengatai kalau Ye Na itu kalau tidak memaksa ya hanya mengandalkan uang. Da Yool berlari ke arah Young Eun, ia mengadu kalau ia mendapat waktu yang sulit saat bersama dengan Ye Na.

Young Eun menatap sinis Ye Na, kalau dia ingin memaksa maka ia harus menyelesaikan sesuatu. Young Eun pun pergi meninggalkan Ye Na. Da Yool mengikutinya, ia menatap benci kearah Ye Na.


Seul Bi duduk disamping Ye Na, menemaninya yang duduk sendiri dengan kesal. Ye Na makin sebal, kau puas sekarang?

Seul Bi berkata kalau sebenarnya Young Eun itu mengkhawatirkan Ye Na. Ye Na juga pasti ingin kembali berteman dengan Young Eun.

“Tidak.” Elak Ye Na. Seul Bi mengusap mata Ye Na yang memerah, matamu berair. Air mata manusia itu hangat.

Ye Na diperlakukan baik oleh Seul Bi malah merajuk, ia mengira Seul Bi sekarang tengah mengolok – oloknya.

Da Yool berpapasan dengan Jae Suk, ia bertanya sebenarnya siapa pria kemarin itu? Da Yool berdecak. Pria kemarin itu dari sebuah agency, dia sedang membuat mereka terpesona.

“Apa mereka satu – satunya agency? Haruskah aku memulai sebuah label untukmu?” kesal Jae Suk.

Apa aku terlihat seperti lelucon? Mimpiku seperti lelucon? Aku tahu kalau aku tak baik. Tak ada jalan untuk ku untuk bisa tampi di panggung. Aku tak memiliki uang maupun koneksi. Itu berarti aku tak punya mimpi? Aku hanya kasihan padamu yang tak memiliki mimpi!” Da Yool dengan kesal pergi meninggalkan Jae Suk.


Woo Hyun memegangi pundaknya yang terasa sakit, Bu So Jin memerintahkan Woo Hyun untuk  jangan menggunakannya dulu dan lakukan scan saat kondisinya tak baik. Bu So Jin kemudian melihat Woo Hyun, ia duduk disisi Woo Hyun dan bertanya dengan penasaran.

“Apa benar Guru Ahn adalah ibu Sung Yeol? Semua orang berkata tentang ini disekolah. Sungguh tak disangka, itulah kenapa Guru Ahn selalu bersikap aneh kalau sudah menyangkut Sung Yeol. Tunggu, dia ibu tirinya. Aku merasa kasihan pada Sung Yeol.” Ucap Ibu Soo Jin panjang lebar.

“Apa kau kasihan karena dia anak tirinya?”

Ibu Soo Jin membenarkan, dia mendengar cerita kalau ibu tiri itu jahat. Tapi untuk sekarang, ibu tiri sudahlah lebih baik. Gurau Ibu Soo Jin tapi Woo Hyun menanggapi dengan serius, “Apa bedanya ibu tiri dan ibu kandung?”

Woo Hyun pun memilih pergi meninggalkan Ibu Soo Jin.


Pemilik Toko tempat Joo Ah bekerja tengah melayani Pak Kim. Dia memberikan kembalian pada Pak Kim tapi Pak Kim masih saja menatapnya dengan tajam. “Ada yang lain tuan?”

Pak Kim meminta uang 31500 won. Dia melihat ada CCTV dan mulai menyuruh Pemilik Toko untuk membayar. Joo Ah hanyalah anak kecil, tapi bberfikirlah saat ia menerima gajinya kurang. Kau ingin aku melaporkannya pada departemen ketenaga kerjaan?

Pemilik toko takut, ia bergegas untuk mengambil uang. Pak Kim berjanji akan memberikan uangnya pada Joo Ah. Suatu saat nanti, ia harap pemilik toko juga bisa mengucapkan terimakasih pada pekerjanya saat selesai bekerja. Pak Kim pun permisi.

“kadang – kadang aku berfikir manusia terlahir untuk saling menyakiti. Alasan kenapa air mata itu hangat karena hatinya juga hangat kan?” tanya Seul Bi.

“air mata memanglah selalu hangat. Air mata dingin membuat semakin sedih.”

Seul bi memuji kepintaran jawaban Woo Hyun. Sung Yeol tiba  - tiba muncul dan memberitahukan kalau Seul Bi harusnya bukan lewat situ. Seul Bi memohon, dia akan pergi ke kedai Woo Hyun dan akan membantu disana. ia ingin Sung Yeol menjaga rahasia dari Guru Ahn.

“kau mau aku berbohong?”

Woo Hyun menyuruh Seul Bi untuk pulang saja, ia ada Ki Soo dan Chun Sik yang membantu. Seul Bi tak tega.

“Jaga dia sampai rumah.” pinta Woo Hyun. Sung Yeol pun berjalan mendahului dengan diikuti oleh Seul Bi.




Seul Bi berjalan mengekori Sung Yeol, ia kemudian memanggil Sung Yeol dan izin untuk pergi ke toko buku. Dia melupakan sesuatu.

“Aku akan menemanimu”

“tak usah. Aku akan segera kembali.” Ucap Seul Bi seraya berlari pergi. Sung Yeol menatap kepergian Seul Bi dengan sedih, mungkin dia tahu kalau Seul Bi hanya beralasan saja.


Tae Ho makan di toko tempat Joo Ah sebelumnya bekerja, ia menghabiskan ramen lalu menumpahkan kuahnya ke meja. Mengacak – acak benda – benda juga. Dia sengaja melakukannya dan pergi ke kasir hanya dengan membawa satu botol soda.

Saat membayar pun ia sengaja menjatuhkan uang tersebut ditangan pemilik toko dengan angkuh. Tae Ho senang ia sudah bisa mengerjai pemilik toko yang tak bisa berlaku apapun karena dia pelanggan.



“kau mendapat pinjaman untuk membayar barang – barang di cafe?!” tanya Woo Jin terkejut. Ji Hye berjanji kalau dia akan melunasi pinjaman dan bunganya. Tapi bukan itu maksud Woo Jin, hanya saja Ji Hye selalu menyembunyikan sesuatu darinya. Tak berkata lebih dulu dan membuatnya kecewa. Kau anggap aku apa?

“aku tak bisa meninggalkanya sendiri ataupun berbicara padamu.” Ucap Ji Hye bingung. Woo Jin kesal, bagaimana dia bisa tahu kalau Ji Hye tak mengatakan padanya. Ia pun pergi, Ji Hye mencoba menahannya tapi Woo Jin sudah terlanjur kesal.


Sung Yeol muncul tepat saat pertengkaran berlangsung tapi Woo Jin memilih tetap pergi. Sung Yeol bertanya pada Ji Hye, apa dia harus membantu kedai Woo Hyun juga?

“kau juga ingin membantunya kan?”

“Ini berbeda. Uang itu adalah uang yang didapat oleh ayah dengan bekerja sepanjang waktu.” Geram Sung Yeol. Ji Hye menghela nafas, ia mendapatkan uang tersebut saat sebelu bertemu dengan Woo Jin. Dia dulu berniat untuk membeli rumah.

“Jadi kau akhirnya ingin tinggal dengannya? Kenapa kau mengatakan kalau aku anakmu?”

“Kau juga.”

“kalau begitu, katakan kalau Woo Hyun juga anakmu.” Tegas Sung Yeol. Ji Hye seolah lelah harus berdebat, kalau memang itu harus dilakukan maka lakukanlah. Ini akan menjadi mudah untuk menghadapi Sung Yeol disekolah.



******


1 Response to "Sinopsis High School: Love On Episode 15 – 1"

Jangan lupa komentar yaah^^ biar aku lebih semangat dalam membuat postingan. Meskipun jarang bales tapi semua komentar selalu aku baca kok.. *serius*

Gomawo^^