Sinopsis Tomorrow Cantabile Episode 4 - 1

Sinopsis Tomorrow Cantabile Episode 4 - 1
Franz menghentikan gerakan tangannya yang tengah memimpin jalannya orkestra. Baginya game telah berakhir dengan kekalahan Yoo Jin. Dan Cha Yoo Jin harus keluar.

Semua terkejut mendengar perintah tersebut. Yoo Jin menolak, dia masih punya waktu satu hari. Selama itu maka ini masihlah orkestranya.

“Orkestraku?”

“Ya. Orkestraku.” Mantap Yoo Jin. Franz mengerti, dengan nada penuh tantangan ia menyetujui dan akan melihat hasilnya besok.



Yoo Jin sedikit penjelasan mengenai musik bethoven oleh Franz. Ia kemudian memejamkan matanya merasakan alunan musik yang tengah bergema namun rasanya berbeda. Tadi timpani terdengar sangat ceria, biola juga. Yap. Semua terdengar ceria. Dan sekarang menjadi melodi yang menyedihkan.

Ya, aku harus fokus pada musiknya saja Akan kuabaikan perasaan si pembuat iramanya.” Batin Yoo Jin.




Yoo Jin memberikan sedikit arahan pada Timpani dan biola agar tak tegang. Ia mempercayakan tes besok pada mereka. Yoo Jin berlalu namun Soo Min berdiri, dia meminta maaf atas kesalahan mereka.

“Ini salahku.” Tegas Yoo Jin lalu pergi.


Nae Il yang sedari tadi diam terpaku ingin mengejar Yoo Jin namun ditahan oleh Il Rak, mungkin maksudnya agar memberikan waktu bagi Yoo Jin untuk menenangkan diri.



Malam menjelang, Yoo Jin tak akan pernah patah arang. Dia masih bersemangat untuk membuat paduan musiknya. Ia berlatih bahkan sampai matanya lelah.


Sedang Nae Il sendiri, dia malah menjahit sesuatu dengan senangnya dirumah.


****
Mi Na meminta pada Profesor Do untuk mengurus masalah tentang Orkestra. Prof Do menolak dengan tegas,Prof Ahn dengan senang hati menawarkan diri melakukannya. Prof Do jadi agak ragu juga soalnya dia sedang sibuk mengerjakan keperluan konser. Apa ini memang perintah?

“Kudengar kau memang sibuk Tapi, ini sudah keputusannya Ini adalah penampilan terkahir dari mereka. Jadi, tolong kerja samanya.”

Prof Do ragu, dan apakah benar orkestra yang kalah akan dibubarkan? Mi Na meminta keduanya untuk merahasiakan masalah ini, ia ingin melihat mereka tampil dengan nyaman. Mi Na kemudian memohon hingga tak ada alasan lagi bagi Prof Do untuk menolak.



Yoo Jin naik ke atas podium dan mulai menarikan tangan memandu irama. Tapi mungkin karena suasana yang cukup tegang membuat Yoo Jin gugup hingga tongkat pemandunya terlempar. Pemandangan ini tak luput dari perhatian Stresemen yang menatapnya tajam.

Anjing Orabanga juga adalah anjing Nae Il. Tersenyumlah, tersenyumlah, guk~ guk~ guk.” Nyanyi Nae Il menyemangati Yoo Jin. Kelucuan Nae Il ini membuat Stresemen tersenyum menyekasikannya.

Yoo Jin yang tengah serius menyuruh Nae Il untuk berhenti. Nae Il tertunduk kecewa merasa orabangnya marah, Stresemen yang tadinya tersenyum berubah wajah datar kembali melihat apa yang Yoo Jin lakukan pada Nae Il.

Sedang Yoo Jin siap untuk kembali melakukan latihan.



“Kau di –disqualifikasi.” Ucap Stresemen menghentikan semua anggota yang bersiap memainkan alat musik mereka. Nae Il ngambek akan keputusan Stresemen, namun stresemen tetaplah kekeuh dengan alasan Yoo Jin menjatuhkan sticknya.

Nae Il mengingatkan kalau ini hanyalah latihan. Namun Stresemen tak mau tahu, kemungkinan hal ini terjadi di panggung bisa terjadi. Semua akan kacau karenanya.

“Aku tak akan melakukannya, dan akan kugunakan tanganku.” Ucap Yoo Jin bersiap kembali berlatih.



Stresemen bergumam dengan keras kalau Yoo Jin tetaplah harus berhenti. Atau kalau dia mau, dia bukanlah menjadi konduktor melainkan asistennya. Nae Il kesal dan menolak dengan tegas usulan itu, apa dia mau membuat orabang menjadi pembantunya?

“Sayang sekali kau menolaknya.” Ucap Stresemen.

“Kapan aku menolaknya? Aku terima. Aku akan melakukannya!” ucap Yoo Jin sedikit jeda. “Asistenmu.”
Nae Il menyilangkan tangan didepan dada agar Yoo Jin menolak namun Yoo Jin sama sekali tak bergeming.



Yoo Jin keluar dari gedung beratih, Nae Il mengekorinya dan segera memeluk Yoo Jin. Jelas saja Yoo Jin bergidik ngeri dan memilih menjauh namun Nae Il, dia alergi dengan kain yang digunakan Nae Il. Nae Il dengan girang membuka penutup kepalanya, “Tapi aku tetaplah Seol Nae Il.”

“Aku malah lebih alergi pada Seol Nae Il.” Sinis Yoo Jin sambil lalu membuat Nae Il tertunduk sedih.


Yoo Jin yang menyadari Nae Il tak mengikuti ia lagi, ia menoleh. Nae Il kembali berubah ceria, ia berjalan mendekat dan memegang ujung lengan baju Yoo Jin, kalau begitu dia akan memegang itu saja.

Yoo Jin diam tanpa penolakan. Nae Il tersenyum senang ia direstui melakukan hal itu. Dia berjalan beriringan dengan Yoo Jin dan memuji penampilannya tadi. Tapi namanya aja Nae Il, dia masih sempat khilaf dan kembali mencoba memeluk Yoo Jin. Hahahaha.




Mi Na susah payah memasukan sesuap es krim ke dalam mulutnya. Ia berusaha agar riasan yang ia pakai tak luntur, ia pun segera meraih kacanya untuk mengecek wajahnya saat ini. Ibu Yoo Jin yang sedang menemani Mi Na meminta gara dia menghentikan Stresemen mempermainkan putranya. Ia bahkan mendengar kalau Yoo Jin membagikan sandwitch pada anak – anak.


Mi Na menatap Ibu Yoo Jin tanpa kata, menurutnya Yoo Jin telah berubah. Bahkan ia sudah berduet dengan pemain piano dan violin.  “Kau tak akan menyangkan akan hal ini sebelumnya, 'kan?”

Ibu Yoo Jin sudah tahu tentang duet violinnya tapi yang piano ia tak tahu. Mi Na mencondongkan badan bersiap memberitahukan, namun seketika ia berubah pikiran. Dia tak akan terjebak, ia tak mau memberitahukan lebih dalam lagi.

Mi Na pergi sebelum Ibu Yoo Jin memberondongnya banyak pertanyaan. Ibu Yoo Jin pun bergumam penasaran siapa sebenarnya teman duet piano Yoo Jin, dia tahu kalau disana tak akan banyak pemain piano. Maka dia akan mencari tahunya.



Rupanya, Mi Na berjalan bersama dengan Stresemen menuju ke tempat sejarah. Istana. Bagi stresemen, mencari seorang pemain piano adalah hal mudah. Namun baginya, Mi Na mampu mengerti apa yang tengah ia mainkan. Meski sekarang Mi Na sudah tak bermain piano tapi ia tahu hati Mi Na tak lah akan berubah.

“Mina.....” ucap Stresemen serius.


Tapi momen ini segera berubah, Yoo Jin muncul disana secara tiba. Yoo Jin mengingatkan kalau S Orkestra harus segera berlatih. Dia kesana menjemput Stresemen sebagai seorang asisten. Mi Na tampak malu akan kehadiran Yoo Jin, ia juga merasa bersalah dan membiarkan Stresmen untuk berlatih.

“Mereka bisa berlatih sendiri kok,” ucap Stresemen. Yoo Jin dengan sopan memberitahukan kalau anak – anak malah sudah menunggu lama. Mi Na mengenakan kacamatanya, ia sepetinya ben – benar tak enak hati. Ia pun permisi dan pergi meninggalkan Yoo Jin bersama Streseman.

Stresemen tampak kecewa lalu menyuruh Yoo Jin untuk pulang terlebih dulu namun Yoo Jin menolak dengan berkata kalau dia akan menunggu di lobi.





Yoo Jin menanti kehadiran Stresemen dengan sabar namun belum ada kabar juga padahal anak – anak sudah menunggu.

Benar saja, Il Rak tiba – tiba muncul lalu diikuti oleh anggota lainnya. Mereka menanyakan keberadaan Stremen namun ia sendiri kurang tahu. Soo Min dengan gaya kemayunya menghampiri Yoo Jin, ia mengajaknya untuk berlatih bersama mereka. Il Rak membetulkan usulan itu.

Yoo Jin pun mendesah pelan menerima seluruh perintah rekannya.



Semua anak mengerubungi Yoo Jin yang tengah mengarahkan. Salah seorang memberikan usul, “Mungkin irama crescendo akan lebih bagus lagi.”

Nae Il menyuruh gadis tadi untuk percaya pada orabangnya. Ia meminta yang lain mengacungkan tangan untuk bertanya. Il Rak muncul dibelakang Yoo Jin, ia menyarankan agar Yoo Jin bisa mengarahkan mereka saja. Yoo Jin awalnya ragu, namin setelah menerima dukungan dari yang lain membuatnya mau.


“Bukannya itu adalah tempat konduktor, asistenku?” tegus Stresemen muncul. Yoo Jin terkejut mendapati kehadirannya yang tak terduga.

“Kenapa kalian diam saja membiarkannya berdiri di sana? Maafkan aku asisten. Kau dipecat.” Ucapnya tanpa ampun. Yoo Jin terkejut menerimanya, namun Nae Il muncul dan mencoba membela Yoo Jin. Nae Il kesal dengan sikap stresemen yang suka memberikan pekerjaan namun dengan mudah menariknya lagi.

“Benar. Baiklah, Cha Yoo Jin, yang akan menggantikanku saja. Lalu, mulai sekarang, aku akan mundur dari Orkestra S. Tak usah khawatir. Kalian ikuti saja konduktor baru kalian. Semoga kalian beruntung.”



Stresemen pergi hingga membuat anggota yang lain bergegas mengemas alat musiknya, mereka ada disini karena Stresemen jadi mereka akan mengikutinya. Il Rak bangkit dan mencoba meyakinkan mereka, mereka baru pertama kali menjadi aggota sebuah orkestra –kan?

“Itulah sebabnya kita akan melakukan yang terbaik! Di mana lagi kita bisa bermain jika bukan di sini?”

Nae Il mengangkat tangan Yoo Jin dan meyakinkan kalau mereka pasti akan bisa dengan adanya Yoo Jin. Semua anggota berubah pikiran, meskipun Yoo Jin galak tapi dia pintar. Mereka meneriaki nama Yoo Jin semangat. Yap. Mereka telah menerima Yoo Jin sebagai konduktor mereka.




Suasana perkumpulan di Orketra yang di konduktori oleh Seung Oh tengah dilakukan, Profesor Do menyebutkan kalau Seung Oh akan meng –konduktori mereka. Mereka tak bisa terus berharap akan pada Von Stresemen. Jurusan Konduktor lebih hebat daripada Jurusan Piano.

Suara ponsel berbunyi, beberapa orang membuka pesan mereka. Jelas Profesor marah, namun rupanya ini berita mengenai Von Stresemen yang mundur dari S Orkestra.

Kau juga sudah menemukan konduktor baru untuk menggantikanku.” Suara seseorang membuat perhatian mereka teralih. Franz Von Stresemen.



Yoo Jin dengan serius memperhatikan stiknya. Bahkan tak sadar ketika Nae Il perlahan mendekatinya lalu memberikan ia sedikit pesta ucapan selamat. Nae Il bernyanyi dengan ala kadarnya didepan Yoo Jin.

Yoo Jin kesal karena ucapan selamat itu tidaklah tepat. Nae Il heran karena seharusnya Yoo Jin senang telah menjadi konduktor.

“Aku tak tahu apa yang Profesor pikirkan.” Gumam Yoo Jin.




Saya akan mengumumkan sesuatu.” Suara Von Stresemen menggema di seluruh penjuru kampus. “mengenai konser orkestra di festival musik musim gugur. Tentang orkestra kampus kita. Tim satu adalah Orkestra A dan Tim dua adalah Spesial. S Orkestra. Orkestra A akan tampil dalam festifal musim gugur dan begitu pula dengan Orkestra S. Penampilan ini akan menjadi pertandingan antara okestra A dan S. Tim yang kalah akan dibubarkan.

Seketika seluruh penjuru kampus pun terkejut dan gaduh dibuatnya.

“Semoga beruntung, A dan S. Semangat, ya!”


Nae Il heran dengan sikap Milch (panggilan Nae Il pada Franz Von Stresemen) yg menurutnya aneh. Apa mungkin karena dia maestro?

Yoo Jin berdecak heran, Maestro? Baginya, Dia hanya penyihir tua. Aku penasaran, apakah dia menjadikanku konduktor hanya karena dia dendam? Pertandingan apa ini? Kau mau melibatkan kami, lalu membubarkan kami?

Yoo Jin memanggil Nae Il membuat gadis itu dengan segera mengangguk tunduk. Yoo Jin mengajaknya untuk melakukan ini. Melawan Tim A dan menang.



Profesor Ahn menemui keduanya, dia bertanya apakah mereka sudah mengetahui berita? Siapa yang akan mengarahkan Orkestra S sekarang?

Yoo Jin sudah tak ragu lagi, dia mengukuhkan dirinya sebagai konduktor dari S Orkestra. Profesor Ahn pun tersenyum sumringah mendengar hal ini.


Suasana kelas jadi agak canggung, gimana ga. Mereka tampaklah sangat pesimis dengan apa yang akan mereka lakukan, lawan mereka penuh dengan pengalaman dan ada yang belajar pula di luar negeri. Il Rak mencoba meyakinkan mereka kalau mereka juga pasti bisa. A Orkestra hanyalah anak – anak orang kaya.

“Kalian sedang apa? Kalian tak mau berlatih?” tegur Yoo Jin. “Kita mulai. Tim yang kalah akan dibubarkan! Kita kalah dalam keterampilan dan pengalaman, jadi kita lawan mereka dengan berlatih. Waktu kita tinggal 3 minggu. Kita harus menguasai semua irama. Kita tak punya waktu lebih, Dan jika kita kalah, orkestra kita akan dibubarkan Kita akan menggandakan latihan kita. Kalian juga harus melanjutkan latihan di rumah. Mengerti?”

Profesor Ahn melongok dari pintu, wajahnya menunjukkan kepuasan melihat muridnya akan memimpin S Orkestra dan menjadi konduktor pula.




Choi Min Hee mencoba melewati teman – temannya yang duduk dengan kepayahan, dia kesulitan membawa kontrabass yang ukurannya bahkan melebihi dirinya sendiri. Yoo Jin memperingatkan kalau terlambat jangan sampai terjadi lagi untuk latihan besok.


Nae Il duduk dipojokan melihat yang lain tengah bersiap, dia tersenyum dalam kesendiriannya. Terbersit sebuah keinginan agar bisa bermain musik juga bersama mereka.


Nae Il mencoba menyalurkan keinginannya dengan bermain musik sendirian, ia mulai menarikan jari jemarinya diatas tuts piano. Permainannya pun menciptakan sebuah harmoni yang indah. Tunggu. Bukan hanya indah, tapi juga berbeda.


Profesor Do mengakhiri panggilannya, ia mendengar permainan piano Nae Il dan berkomentar kalau permainannya sungguh berantakan. Dia pun melanjutkan jalannya namun perlahan ia berhenti, berhenti dengan kaki sedikit dihentakkan mengikuti irama yang dimainkan oleh Nae Il. Ia baru merasakan kalau permainan piano orang ini berbeda, permainan yang mampu membuat orang mendengarkannya.

Profesor Do mencoba mencari si pemilik alunan piano tersebut, ia mencoba mencari ke beberapa ruangan namun tak menemukannya. Padahal ia berfikir kalau ia bisa mengajarinya mungkin permainnya akan semakin bagus.



“YAAA!! Aku terlambat ke sekolah!” teriak Nae Il terkejut. Dia segera keluar dari ruang latihannya. Ia pun juga terlihat berselisih arah dengan Profesor Do yang tengah mencarinya.


Yoo Jin mengakhiri latihannya, dia memutuskan untuk membuat tambahan satu jam latihan mulai besok. Semua anak mendengus tak setuju. Yoo Jin menghela nafas, “Apa kalian mau tambahan dua jam?”

Tak ada yang berani membantah namun muka mereka jelas menunjukkan raut tak setuju.


Il Rak mencoba menenangkan mereka selepas kepergian Yoo Jin.

“Kita harus mengikuti perintah Yoo Jin dan menambah jam latihan kita. Kalian lapar, 'kan? Kita harus makan....” ucap Il Rak menggantung, dia sedikit menimang. “Ya! Ayahku akan meneraktir kalian makan malam!”


Anak – anak pun makan di restauran ayah Il Rak, Il Rak mengucapkan terimakasih pada ayahnya yang menghidangkan makanan dengan senang hati. Salah seorang anggota S Orkestra merasa kurang percaya diri dengan penampilan mereka nanti.

“Kau tak usah khawatir. Musik mereka adalah musik yang sangat membosankan.”


Rupanya tepat saat Il Rak mencibir Tim A, tiga anggota Tim A ada disana. dengan angkuh mereka menebak kalau Il Rak hanyalah iri pada mereka. Si Won memandang mereka dengan remeh, dasar pengganggu!

“Si Won itu sangatlah hebat. Dia concertmaster yang berbeda dari semua yang pernah ada.”

Tim S jelas tak mau kalah, mereka menganggungkan concert master mereka, Yoo Il Rak. Salah seorang diantara mereka menantang, mengajak keduanya untuk beradu. Jelas pantang banget buat kedua belah pihak untuk mundur, mereka menyetujuinya.

Czardas, setuju?” tantang Si Won.



Il Rak memainkan violinnya terlebih dahulu, ayahnya memperhatikan dari kejauhan dengan pandangan penuh kebanggaan. Si Won memperhatikan permainan Il Rak dengan seksama, ia pun menirukan Il Rak setelah ia selesai. Il Rak tersenyum dengan permainan Si Won, keduanya memang memiliki perbedaan yang kontras. Il Rak terdengar unik. Kalau Si Won lebih lembut, merdu hanya saja ya itulah permainan violin.

Keduanya terpancing emosi dan bermain bersamaan dengan semangat. Tanpa disadari, karena semangatnya senar Il Rak sampai terputus. Yup. Il Rak hanya bisa melongo melihat Si Won mengakhiri permainannya dengan mulus. Sementara ia harus rela mengakui kekalahannya.




Ia terlalu terbawa suasana. Nyaris saja mereka menang. Teman Si Won berkata kalau diantara mereka ada level yang berbeda. Ketiganya pun pergi meninggalkan Il Rak yang masih tertunduk sebal.

Soo Min menenangkan, dia tak usah malu karena Si Won juga sudah pernah belajar di Wina jadi bukan hal yang salah kalau kejadiannya seperti ini.


Ayah Il Rak menatapnya dari kejauhan, matanya memerah hampir menangis seolah bisa merasakan seberapa kecewa anaknya saat ini. Dalam hatinya ia yakin kalau anaknya pasti sudah berusaha keras.


*****




0 Response to "Sinopsis Tomorrow Cantabile Episode 4 - 1"

Post a Comment

Jangan lupa komentar yaah^^ biar aku lebih semangat dalam membuat postingan. Meskipun jarang bales tapi semua komentar selalu aku baca kok.. *serius*

Gomawo^^