Sinopsis Tomorrow Cantabile Episode 2 – 2

Sinopsis Tomorrow Cantabile Episode 2 – 2
Nae Il semakin frustasi saja, bahkan untuk menegakkan kepala pun sungguh sulit. Il Rak meminta Nae Il untuk kembali bersemangat. Nae Il malas banget, apa kalau dia bermain piano maka dia akan datang?

Il Rak sama frustasinya dengan Nae Il, karena pikiran buntu. Nae Il kalau memang masih menginginkan pacar, dia mau jadi pacarnya.

“Ya, Tuhan. Apakah karena dimataku hanya ada Orabang. Kau yang sekarang terlihat seperti cumi- cumi?” Nae Il mendongak dengan lemas. “Aku mau makan nasi cumi- cumi yang dibuatkan oleh Orabang.”



Il Rak terkejut karena Yoo Jin sudah membuatkan Nae Il makanan. Seol Nae Il sekarang memiliki kesempatan besar. Jadi kalian saling mencintai?

“Orabang dan aku?” tanya Nae Il sudah berubah semangat.

Il Rak menjelaskan kalau pria takkan memasakkan makanan untuk orang yang tak ia sukai. Dia berkata kalau Nae Il telah berhasil. Nae Il semakin excited, lalu bagaimana lagi?

“Skinship.” Ucap Il Rak. Nae Il girang, dia memperagakan untuk memeluk Yoo Jin nantinya.


“Jika kalian sedang merencanakan sesuatu, tutup pintunya!” perintah seseorang yang tak lain adalah Yoo Jin.
 
“Orabang, Kau datang. Dan meninggalkan Chae Kyung Do.” Kata Nae Il segera memeluk Yoo Jin dengan haru. Nae Il dengan dramatis seolah tak masalah kalau memang Yoo Jin dan Do Kyung bersama semalaman.

“Kalian melakukan apa semalaman?” tanya Il Rak penuh makna.




[FLASHBACK]
Semalam, rupanya Do Kyung datang ke rumah Yoo Jin untuk berlatih menyanyi bersamanya. Bahkan sampai jam tiga pagi hingga Yoo Jin pun kesal juga dibuatnya.
Do Kyung tetap berkeras untuk berlatih, dia akan mendaftar menjadi carmen. Yoo Jin tak bisa menolak dan mengiring Do Kyung yang bernyanyi dengan piano.



[FLASHBACK END]

Il Rak tertawa mengejek. Tak akan ada orang yang akan percaya dengan apa yang dikatakan Yoo Jin. Namun Nae Il yang super duper polos dan buta sama cinta, dia pun memahami dan percaya semua kata Yoo Jin. Dia memegang pipi Yoo Jin dengan lembut, Yoo Jin menyingkirkan tangannya. Nae Il langsung namplok dan memeluk Yoo Jin. Hahahaha. Yoo Jin pun mendorong Nae Il jauh – jauh.

“Aku ke sini untuk menemui pencipta suara berisik tadi. Nadanya sama sekali kacau balau.”

Il Rak tak terima, dia bisa tak lulus ujian karena dengan Yoo Jin.  Yoo Jin tak mau terima, dia tak lulus karena permainaanya yang kacau balau. Il Rak menyalahkan permain pianonya, lagipula dia sebenarnya tak ingin mengatakan tapi dia pernah juara 3 juara Nasional.

“Kau percaya pada ucapan temanmu yang menyebutmu jenius. Kau harusnya memerhatikan kinerja dari partner- mu juga.”



Il Rak menganggap Yoo Jin terlalu sombong, bukan hanya itu yang harus dia perhatikan tapi Interval yang akurat, keseimbangan beat, dan juga teknik. Il Rak menyuruh Yoo Jin untuk menunggu dia bermain dengan biola listriknya. Dia akan menunjukkan akhir dari musik klasik yang membosankan.

“Bukan musik klasik yang membosankan. Tapi, permainanmulah yang membosankan.” Ucap Yoo Jin tak suka dengan ucapan Il Rak. Ia pun kemudian meraih biola yang dipegang oleh Il Rak.

Il Rak mendecit tak percaya Yoo Jin akan memainkannya. Nae Il yang sedari tadi diam menyuruh Il Rak jangan melawan Yoo Jin karena dia manusia yang menakutkan.






Yoo Jin memainkan biolanya dengan apik membumkam Il Rak. Il Rak bahkan tertegun tak bisa berkata apa – apa melihat permainan Yoo Jin yang benar – benar lembut. Yoo Jin memberikan biolanya pada Il Rak, Il Rak sepertinya merasa telah dipermalukan oleh Yoo Jin. Dengan kesal ia pergi dari ruangan itu.



Yoo Jin melihat kearah Nae Il yang tertunduk, ia tau apa yang akan Nae Il katakan padanya. Nae Il menoleh padanya dengan pandangan tajam,

“Dasar Orabang! Kau memang menakjubkan. Orabang, Orabang...” girang Nae Il mengejutkan Yoo Jin. Dia berusaha untuk memeluk Yoo Jin namun seperti biasa Yoo Jin menahan kepala Nae Il yang bersiap menubruk tubuhnya.





Il Rak berlatih biola dengan cara dan gayanya sendiri namun konsetrasinya buyar ketika mengingat betapa lembutnya permainan biola Yoo Jin. Dia meyakinkan dirinya agar dia tetap pada jalurnya sendiri. ia pun kembali menggesek biolanya dengan gaya seorang rocker.

Ayah Il Rak masuk diam – diam agar tak mengganggu anaknya, dia menaruh makanan di meja kamar Il Rak. Il Rak sebenarnya menyadari kehadiran Ayahnya, “Ayah sangat menantikanku tampil di Arts Center, Seoul.” Pikirnya.



Mi Na tengah menghubungi seseorang yang memberitahukan kalau dia memutuskan untuk ke Yangsuri. Mi Na terkejut, apa dia ingin merasakan udara korea yang asri?

Seorang dalam telfon pun juga tak tahu, tapi menurut supirnya Orang itu sangat berbeda penampilannya dibanding saat di foto.


Nae Il berjalan jejingkrakan seperti biasa mencari – cari Yoo Jin. Sesuatu tergelinding ke depan kakinya, ada topi yang jatuh tepat didepan kakinya. Dia memungutnya dengan penasatan. Seseorang muncul lalu mengitari Nae Il, ia bertanya akankah ayah Nae Il adalah seorang ..... pencuri?

“Jika tidak bagaimana bisa dia menaruh 2 bintang di langit matamu?” tanyanya. Nae Il sakin polosnya malah memegang kedua pipinya, dia bertanya tanya bagaimana bisa.

“Benar juga. Kau adalah pencuri. Kau baru saja mencuri hatiku.”


Nae Il berlagak merasa bersalah, dia memberikan kedua tangannya dan menyuruh pria tadi untuk memenjarakannya saja kalau dia bersalah. Pria tadi menawarkan untuk makan bersama sebagai gantinya jika memang Nae Il merasa bersalah.

Nae Il cemberut, dia tak bisa makan bersama dengan pria yang belum dikenalnya.




“Aku kelewatan, ya.” Ucap Pria tadi kecewa. “Aku sudah diadopsi sejak kecil. Aku kembali ke kampung halamanku untuk pertama kalinya. Dan selama itu, aku selalu makan sendirian. Aku sangat kesepian.”

Pria tadi pergi dengan wajah memelas. Jelas saja Nae Il tak tega melihatnya. Dia kembali memanggil pria tadi dan mengajaknya untuk makan bersama. Dia tahu tempat yang enak.


Dan, Nae Il membawa Pria tadi ke rumah Yoo Jin. Timing –nya benar – benar pas dimana makanan sudah terhidang dan siap santap. Orang tadi mengingatkan tentang wine, dengan cepat Nae Il mengambil Wine yang ada dilemari.

“Buka tolong.” suruh Nae Il pada Yoo Jin. Nae Il kemudian mengajak Yoo Jin untuk makan bersama. Dengan asal Yoo Jin mengingatkan kalau memang dialah tuan rumahnya. Pria tadi heran, bukankah ini itu resto yah?

“Ini adalah rumah Orabang.” Jelas Nae Il menggandeng tangan Yoo Jin. Yoo Jin mendorong Nae Il dan pria tadi tampaknya kurang suka dengan sikap kasar Yoo Jin.

“Kau memang siapa?”


Nae Il berniat mengenalkannya tapi dia sendiri tak tahu siapa nama pria tadi. Pria itu melirik ke kotak susu. “Milch... Holstein?”

Nae Il tetap percaya saja kalau namanya Milch, ya namanya Milch. Yoo Jin tak yakin, lagipula Milch Holsteain adalah susu sapi. Pria tadi berdecak karena Yoo Jin rupanya tahu bahasa jerman juga.

“Kau siapa?” tanya Nae Il dan Yoo Jin penasaran.



 Mi Na tengah bersama dengan Ibu Yoo Jin yang menantikan putranya yang tak hadir di acara pembukaan cafenya. Dia bertanya – tanya kenapa Yoo Jin tak datang. Mi Na dengan enteng berkata kalau mungkin Yoo Jin malu, ibunya harus membuka cafe ditempatnya sekolah. Ibu Yoo Jin mengingatkan kalau Mi Na belum punya anak makannya belum tahu perasaanya.

Mi Na berniat pergi namun ketika ia melihat ada Profesor Do, ia pun segera merubah sikapnya yang tadinya berisik langsung anggun. Ibu Yoo Jin mengomentari sikap ganda  Mi Na, Mi Na balas mengingatkan tentang sikap gandanya juga. Keduanya pun tertawa bersama.

Ibu Yoo Jin menyuruh Mi Na untuk fokus menemukan von stressman saja karena bisa gawat kalau tak ditemukan.

“Kau mengenalnya?”

“Dia adalah guruku.” Jawab Ibu Yoo Jin.




Milch menemukan foto yang ditaruh di meja, dia bertanya pada Yoo Jin apakah dia mengenal orang tersebut? Yoo Jin membenarkan dengan kesal, dia gurunya. Tapi rupanya dia adalah orang yang dibenci oleh Milch. Milch memilih untuk pergi saja.

“Nanti aku teraktir makan di resto terbaik. Makan Lobster di Resto.” Ucap Milch.

Milch mengajak Nae il untuk makan, nanti setelah itu ke kamarnya. Pemandangan malam dari kamarnya sangatlah indah. Nae Il jelas girang banget kalau bisa makan lobster, dia belum pernah makan lobster. Yoo Jin dengan keras melarang Nae Il.

Nae Il perlahan berjalan mundur menuju tasnya, “Orabang, kau tak boleh berprasangka buruk. Kau tak boleh menuduhnya. Kenapa kau jadi begini?”




Yoo Jin kesal dengan Nae Il yang bisa dibutakan hanya karena lobster. Demi menghalau Nae Il, ia menawarkan rumahnya agar Nae Il bisa menginap. Nae Il jelas goyah, ia kembali berjalan menuju Yoo Jin bahkan ia rela kalau hanya boleh tidur ditangga.

Milch menawarkan penthouse –nya untuk Nae Il. Haha. Nae Il kembali memihak pada Milch. Yoo Jin tak mau kalau, dia menawarkan Nae Il untuk bisa tidur di kasurnya. Milch berkata kalau kasurnya adalah kasur air.

“Kau bisa tidur di lenganku!” tawar Yoo Jin yang tak mungkin ditolak oleh Nae Il. Kesempatan yang sangat sangat langka untuknya.



Milch terdepak keluar setelah menerima cengiran evil Yoo Jin. Milch tampaknya sangat tak suka akan Yoo Jin.


Malam harinya, Nae Il telah siap sedia untuk tidur. Dengan gaya so’ seksi untuk memikat Yoo Jin tak mempan. Bahkan Yoo Jin tampak semakin sebal, dia menarik Nae Il untuk keluar dari kamarnya. Nae Il memberontak ingin tetap tidur bersama dengan Yoo Jin.

Nae Il diseret oleh Yoo Jin dan didepak keluar apartemennya, Nae Il memohon bahkan dia rela kalau tak tidur dilengan Yoo Jin namun Yoo Jin tetap tak mau dan meninggalkan Nae Il diluar rumah.



Yoo Jin meninggalkan Nae Il yang masih berteriak – teriak memohon, namun ia lebih memilih untuk mendengarkan alunan musik klasik yang menyejukkan pikirannya. Apalagi ketika ia melihat album Frans Stressman yang bisa membuatnya tersenyum karena impiannya menjadi seorang konduktor mungkin akan segera terlaksana.


Milch menatap foto Nae Il dan Yoo Jin yang tengah bermain piano. Dia langsung kurang suka ketika melihat ada foto Yoo Jin. Milch berniat merobek bagian Yoo Jin namun fotonya Nae Il ikut lecek. Milch tak tega, dia membatalkannya lalu melipat foto tersebut agar bagian Yoo Jin tertutup.
Milch menatap foto Nae Il dengan berbinar.



****
Keesokan paginya, Yoo Jin akan berangkat menuju kampus. Namun ketika membuka pintu terasa ada sesuatu yang mengganjal pintunya hingga sulit untuk dibuka. Dan setelah terbuka, rupanya ada Nae Il yang tertidur didepan pintu.

Yoo Jin tersenyum sinis meminta Nae Il untuk bangun. Bukannya bangun, Nae Il malah terbatuk – batuk. Yoo Jin khawatir dengan Nae Il yang memang benar – benar sakit.



Rapat guru dilaksanakan membahas kehadiran Von Stresman. Profesor Do meminta kejelasan akan kehadiran Von Stresman agar mereka bisa melakukan upacara penyambutan. Mi Na menjelankan kalau Von Stresman tak suka dikerumuni media. Mereka tak perlu melakukan penyambutan apapun.

“Dan tak ada satupun fotonya di internet. Tapi, apa Dia memang konduktor musik terkenal di dunia. sopan jika kita tak menyambutnya? Apakah ada alasan lain kenapa anda merahasiakan kedatangannya?.”

“Ya, ada. Jujur saja, Von Stresemann sudah datang.” Jelas Mi Na.



Milch datang ke kampus sambil mengambil beberapa gambar dari siswi yang sedang berlalu lalang. Profesor Do melihat tingkah Milch yang aneh lalu menggetok kepalanya. Milch meringis kesakitan dan beberapa petugas keamanan pun datang untk mengamankan Milch.

“Aku bisa membawa raut wajah. Dia pasti orang cabul. Dia sering memfoto mahasiswi.” Adu Seung Oh.

Milch mencoba meluruskan apa yang sebenarnya terjadi namun Profesor Do tak memberikannya kesempatan dan menuduh Milch yang bersalah.




“Dia adalah Franz von Stresemann.” Teriak Mi Na lalu menyuduruh para Penjaga untuk melepas penjagalan mereka pada Franz.

Keduanya terlihat sudah saling mengenal sedangkan Profesor Do hanya bisa melihat tertegun.


Mi Na dan Franz mengobrol membahas tentang keduanya yang sudah lama tak bertemu namun meskipun sudah 7 tahun tak berjumpa, bagi Franz wajah Mi Na tetaplah cantik. Mi Na tersipu mendengar pujian dari Franz. Keduanya memang tampak canggung seolah ada sesuatu yang membuat mereka sama – sama sungkan.

Franz menoleh kearah Profesor Do yang berpura – pura tak memperhatikan keduanya. “Tolong maafkan aku, Maestro von Stresemann.”

Franz memaafkannya bahkan telah lama karena ini hanyalah kesalah pahaman kecil. Namun tampak jelas sekali diraut Franz kalau dia sangat tak menykai Profesor Do. Mi Na membahas mengani foto – foto yang dibuat oleh Franz.

“Aku sedang mengerjakan sesuatu...” ucapnya melirik Profesor Do. Mi Na menyadari akan gelagat tak nyaman Franz, ia pun menyuruh Profesor Do untuk meninggalkan ruangan terlebih dahulu.



Yoo Jin jalan dengan tersengal – sengal karena harus menggndong Nae Il yang super cute karena sakit. Dikepalanya tersemat kompresan yang lucu banget, dia terus saja mengeluh memanggil orang tuanya. Yoo Jin mengingatkan kalau dia kan sudah mau mengantarkan Nae Il ke Rumah sakit tapi dia menolak.

“Tidak, ujian Il Rak yang terpenting.” Ujarnya dengan terbatuk – batuk.

“Dan kau malah tidur di luar? Harusnya kau jaga kesehatanmu.”

Nae Il beralasan kalau ia menanti keluarnya Yoo Jin untuk mengajaknya kembali masuk. Huuh, Yoo Jin pun hanya bisa menghela nafas dalam dengan tingkah ajaib bin langka Nae Il ini.


Drum berjalan menggelinding menuju kearah Yoo Jin, Yoo Ji berusaha menghindari drum – drum tersebut dengan susah payah tapi tetap saja Nae Il jadi prioritas. Ia bertanya apa Nae Il baik – baik saja?

“Selama kita bersama. Aku akan tetap kuat.” Yoo Jin kembali menghela nafas menahan emosi.

Seorang wanita muncul, rupanya dia lah Dan Ya yang tak sengaja menggelindingkan drum. Yoo Jin tak masalah saat Dan Ya meminta maaf, ia pun segera pergi.

Soo Bin muncul. Dan Ya bertanya kenapa Soo Bin menjatuhkan drumnya tiba – tiba. Ini membuatnya terkejut karena Soo Bin seperti melihat hantu saja.

“Aku melihat sesuatu yang mengerikan.” Jawab Soo Bin menatap kepergian Nae Il dan Yoo Jin.




Yoo Jin menyerahkan Nae Il pada Il Rak, dia panik apakah Nae Il bisa menjalankan jarinya untuk ujian nanti. Nae Il berniat membisikkan sesuatu pada Il Rak namun ketika ia mengeluarkan tangannya, tampak jelas kalau tangan Nae Il bergetar cepat. Sudah jelas dia tak akan mampu bermain piano.

Bukannya berbisik, Nae Il malah terbatuk ditelinga Il Rak hingga membuatnya bergeliat geli. Hahaha.

“Dia bilang, dia bisa sembuh jika ada yang menciumnya.” Tutur Il Rak pada Yoo Jin. Seketika Nae Il memonyongkan bibirnya pada Yoo Jin minta cium.





Yoo Jin mengabaikan saja permintaan tak berdasar Nae Il. Dia menawarkan diri pada Il Rak kalau ia akan menggantikan Nae Il. Il Rak mengaacak rambutnya dengan frustasi. Ia bahkan belum berlatih dengan Yoo Jin ditambah ia juga memiliki masalah pribadi dengannya.

Nae Il tersenyum karena Il Rak telah berhasil mendapatkan Jackpot.



Profesor Do tengah berdiri didepan gerbang. Mahasiswi menggosipkan tentang Yoo Jin yang akan berduet dengan pemain biola. Mereka penasaran dengan penampilan keduanya. Profesor Do yang sepertinya memiliki dendam pribadi dengan Yoo Jin, ia pun mengikuti siswi tersebut untuk menonton penampilan Yoo Jin.


Ruang Aula cukuplah penuh, mereka menantikan penampilan dari idola sekolah mereka. Cha Yoo Jin. Beberapa pembimbing seperti Profesor Ahn juga ada disana. Profesor Do bertanya kenapa Profesor Ahn ada disana?

“Tentu saja aku mau melihat permainan muridku.”

Profesor Do menoleh, dia melihat ada Mi Na dan juga Von Stresseman tengah melakukan perbincangan serius. Profesor Do tampaknya tak terlalu suka, ia teringat akan kata si petugas administrasi kalau Yoo Jin meminta form pemindahan mayor. Ia pun langsung mengira kalau Von Stresseman kesana untuk melihat kemampuan Yoo Jin.



Penampilan Il Rak 10 menit lagi, cukup lama untuk membuat Il Rak semakin gugup. Yoo Jin yang sedang membaca note menyuruh Il Rak agar lebih santai. Tapi Il Rak hanya menatap Yoo Jin kurang suka, dia akan pergi ke toilet terlebih dulu.


Nae Il bangkit dari duduk manisnya, Yoo Jin sigap menahan dan menyuruh Nae Il untuk kembali duduk, dia mau kemana? Nae Il berkata kalau dia ingin menonton Yoo Jin yang akan segera tampil. Yoo Jin menyuruh Nae Il untuk mendengarkan saja penampilannya. Namun Nae Il ingin bisa melihat penampilan Yoo Jin.

Yoo Jin menahan Nae Il lalu kembali menyelimutinya. Dengan hangat ia menatap Nae Il, “Seol Nae Bal.” Decaknya.


Il Rak pergi ke kamar kecil, ia bertemu dengan Profesor Do disana. ia memuji penampilan Il Rak yang energik tapi bernada tepat. Jelas Il Rak senang menerima pujian darinya. Namun bagi Profesor Do, penampilan dengan Yoo Jin maka akan membuat panggung bersinar karenanya. Il Rak tak terima, ini panggungnya bukan panggung untuk Yoo Jin.

Profesor Do membenarkan. Ia pun pergi dan setelah ia berada dibalik pin. Ia mengumpat dirinya sendiri yang berbuat seperti seorang pecundang,



Nae Il yang keras kepala tetap datang menonton dibangku penonton.


Yang hadir cukup banyak, Yoo Jin menyuruh Il Rak harus tetao terfokus pada nadanya dan tak usah memikirkan tentang teknik maka semuanya akan selesai. Il Rak menanggapi ucapan Yoo Jin dengan sini. Keduanya pun mulai memainkan tuts piaoni dan dawai biolanya. Alunan musik Bethoven mengalun dengan merdunya.

Dia menulis Sonata No 5 F mayor, Op 24. Orang menyebutnya dengan. Musim Semi. Ini adalah musik yang indah dalam musik biola. Mengingatkan semua orang akan musim semi.

Il Rak melirik ke arah Yoo Jin kemudian ia mengubah nada dalam permainan biolanya, ia membuat permainannya menjadi lebih cepat meninggalkan nada yang seharusnya. Yoo Jin mencoba mengejar dan mengikuti pola permainan Il Rak namun terasa jelas kalau permainan keduanya tak kompak.

Profesor Do ditempat duduknya tersenyum sinis melihat penampilan ini. Seorang kundoktor tak akan mampu kalau hanya bermain full score tanpa kerja sama tim.



Yoo Jin berusaha untuk mengikuti alur Il Rak dan membuatnya kembali ke jalurnya. Yeah, dengan musik yang dibawakan oleh Yoo Jin. Il Rak pun mulai tersadar akan permainannya, ia bisa merasakan Yoo Jin yang mampu membawa ia kembali. Dia telah membimbingnya. Ia akan kembali memainkannya bersama dengan Yoo Jin.

Yap. Kedua alat musik itu masih mengalun namun dalam sebuah harmoni yang indah bukannya dua ego yang tengah beradu. Keduanya mengalun dengan sejajar tanpa saling mendahului.






Sekarang, Il Rak bisa mengakui kemampuan Yoo Jin baik itu dalam bermain violin, piano atau yang lainnya. Yoo Jin sudah tahu akan kemampuannya sendiri, dia mendapatkan hal itu bukanlah sebuah perkara mudah. Ia berlatih semenjak usia tiga tahun.

Mendengar hal tersebut, Il Rak terharu lalu memeluk Yoo Jin. Dia ingin mereka menjadi teman. Nae Il yang melihat Orabang –nya dipeluk orang lain jadi tak terima, ia yang masih sakit bangkit dari duduknya. Ia meminta Il Rak melepas orabang, ia masuk diantara keduanya. Ia tak ikhlas kalau Il Rak memegang Orabang.

Yang paling risih jelaslah Yoo Jin dengan tingkah aneh alien bumi tersebut. Dia mendorong keduanya sampai terjungkal. Hahaha.





Di tempat duduk penonton, Profesor Do masih terpaku. dia sekarang bisa mengakui kalau Yoo Jin telah berubah. Permaianannya kali ini sangatlah hebat. Profesor Ahn tersenyum, “Dia memang sudah berubah.”


Il Rak kembali ke rumahnya dengan girang bukan kepalang. Baginya ia telah melakukan sebuah penampilan yang paling keren dari sebelumnya. Semenjak sekarang dia akan semakin berlatih bermain biola. Dia akan membawa permaianannya ke Center Art, Seoul. Il Rak jejingkrakan girang saat menyampaikan itu pada ayahnya.

Ayah bisa ikut senang ketika putranya yang ia dukung yakin seperti itu.


Foto para mahasiswi yang telah Von Stressman kumpulkan sudah bisa untuk membuat sebuah kelompok orkestra. Von Streseman mengungkapkan kalau ia akan membuat sebuah orkestra yang bisa menggetarkan setiap hati. Orkestra yang spesial. Bukankah orkestra itu yang kau impikan, Mi Na? Dia sudah menemukan pemainnya, merekalah yang ada dalam foto sebagai pemainnya.

Mi Na melihat foto Nae Il dengan  terkejut karena ada seorang painis diantaranya. Namun sebagai seorang maestro, dia meminta Nae Il untuk ikut serta. Dialah sang maskot orkestranya. “Akan kubuat impianmu jadi nyata, Mi Na.”

“Apa yang bisa kubantu?” tanya Mi Na semangat.




Orketra yang dikonduktori oleh Seung Oh tengah berbincang, Seung Oh sudah tahu kalau akan dilakukan perekrutan ulang untuk membentuk sebuah orkestra baru. Dengan begitu yakin, Seung Oh percaya kalau mereka akan ikut didalamnya khususnya dia. orkestra merekalah yang terbaik di sini, jadi kemungkinan hanya ganti nama saja. karena keyakinan Seung Oh inilah yang membuatnya batal untuk pergi ke Jerman.

Tak lama berselang, sebuah ponsel berdering. Soo Bin dan Seung Oh mengecek ponselnya bersamaan tapi bukan Seung Oh yang menerima telfon, rupanya malah Soo Bin yang menerimanya.




Nae Il sedang mengintili Yoo Jin seperti biasanya, suara ponsel berdering menghentikan langkah keduanya. Nae Il mendapat pesan kalau dia bergabung di S Orkestra dan sekarang berkumpul di auditorium. Dia bukannya senang malah cemberut harus melakukannya.

Yoo Jin tak mendapatkan pesan apapun, dia penasaran apakah ponselnya itu rusak sampai tak bisa menerima pesan tapi sepertinya tidak. Ponsel Yoo Jin akhirnya berdering juga, tapi bukan sms pemberitahuan melainkan Nae Il yang mengiriminya pesan. Orabang.

Yoo Jin makin kesal dan membentak Nae Il. Sekali lagi ponsel Yoo Jin berdering, dia membentak Nae Il agar tak bermain – main. Nae Il marah melemparkan sepatunya, itu bukan dia.


Profesor Do memberitahukan pada Von Stresseman kalau Ketua Dewan mengajaknya untuk makan. Tapi Von Stresseman tak menanggapi, dia mengambil sebuah surat dari jasnya.

“Siapa yang tak mendengarkan Mi Na dan Yang tak mengurus dokumennya. Aku tak menyukainya.”

Profesor Do tak akan melakukannya. Dia akan segera mengurus surat itu, surat kepindahan mayor Cha Yoo Jin anak Cha Dong Woo. Seketika Stresseman berbalik, dia terkejut mendengar Yoo Jin adalah anak dari Cha Dong Woo.



Il Rak merasa bangga karena mereka bisa berkumpul karena panggilan dari Maestro sepeti Von Stresseman. Dia tak menyangka dan menyuruh Nae Il untuk mencubit kedua pipinya. Nae Il benar – benar melakukannya tanpa belas kasih hingga Il Rak pun kesakitan.

Yoo Jin bertanya kenapa bisa Nae Il dipilih menjadi mayor pianisnya yah? Dengan asal Nae Il menjawab kalau mungkin karena mereka pasangan. Hahaha.


“Aku akan memperkenalkan seseorang pada kalian. Kalian pasti sudah mengenalnya. Dia adalah Maestro Franz von Stresemann. Mari sambut dia.” ucap Mi Na dipanggung. Semua orang pun memberikan tepuk tangan.

Yoo Jin terkejut melihat siapa yang datang, dialah si Milch pria aneh yang dibawa Nae Il ke rumahnya. Sedangkan Nae Il memanggil – manggil Stresseman dengan girang. “dia Milch...” girangnya.





“Senang bisa bertemu dengan kalian. Ibu Dekan memintaku untuk mengambil alih orkestra. Tapi, seperti pepatah, Anggur baru dalam kantong baru. Aku ingin membuat orkestra spescial dengan kalian. Bukan dengan orkestra ini. Mulai sekarang kalian adalah anggota S Orchestra.” Pidato Stresseman dan disambut ceria oleh para anggota.

Kemudian ia menunjukkan sebuah amplop yang berisi surat perpindahan mayor Cha Yoo Jin. Nae Il terkejut, dia memegang lengan Yoo Jin agar jangan pindah.

Dengan mengejutkan, Stresseman menyobek form perpindahan mayor tersebut. Seketika Yoo Jin bangkit dengan terkejut.

“Aku bersumpah kepadamu, sebagai Franz von Stresemann. Selama aku yang bertanggung jawab atas orchestra ini. Cha Yoo Jin, Kau tak akan pernah menjadi konduktor musik.” Ucapnya. Streseman menatap tajam Yoo jin dan Yoo Jin pun demikian.





****
Bagiku yang tak tahu menahu tentang ceritanya sama sekali, penasaran juga sebenarnya siapa sih yang Cha Dong Woo itu sampai membuat Stresman membatalkan niatannya menyetujui perpindahan mayor Yoo Jin.
But, nantikan episode berikutnya. Tetep stay deeh


0 Response to "Sinopsis Tomorrow Cantabile Episode 2 – 2"

Post a Comment

Jangan lupa komentar yaah^^ biar aku lebih semangat dalam membuat postingan. Meskipun jarang bales tapi semua komentar selalu aku baca kok.. *serius*

Gomawo^^