Sinopsis Tomorrow Cantabile Episode 2 – 1

Sinopsis Tomorrow Cantabile Episode 2 – 1
Yoo Jin berjalan dipadang ilalang, dia seolah tengah mencari dimana sumber suara piano yang tengah mengalun dengan indahnya. Sampai akhirnya dia melihat ada seorang gadis dengan dress putih tengah memainkan sebuah piano.

Gadis itu menoleh, dialah Seol Nae Il.



Seol Nae Il dan Cha Yoo Jin merampungkan penampilan keduanya, dan Prof. Ahn memberikan tepuk tangan atas permainan piano keduanya yang sangat indah. Yoo Jin melihat kearah Nae Il yang masih diam terpaku.

Nae Il memanggil Yoo Jin sebagai Orabang  atau Oppa Cuma ini dialek Jeju. Dia menutup wajahnya malu, hatinya terasa mau meledak. Nae Il tak bisa lagi menahan perasaannya, dia pun berlari dengan tersipu malu meninggalkan Yoo Jin dan Prof. Ahn.



Orabang? Apa dia selalu seaneh itu?” tanya Yoo Jin pada Prof. Ahn.

“Bukankah kau sudah tahu kalau dia memang aneh?” Yoo Jin pun tersenyum mendengar ucapan Profesor. Professor Ahn bertanya apakah Yoo Jin senang bisa bermain piano lagi?

Yoo Jin baru menyadari kalau Professor Ahn tengah memberikan latihan untuknya bukan untuk Nae Il. Professor Ahn tersenyum karena Yoo Jin berhasil menebaknya dan dengan mendengar permainan Yoo Jin tadi, ia bisa tahu kalau keinginan Yoo Jin sebenarnya adalah menjadi Konduktor.

Yoo Jin tersentak mendengar ucapan Prof. Ahn.


NaeIl Do Cantabile / Tomorrow Cantabile
Lesson 2


Nae Il bertanya – tanya apa yang telah terjadi pada dirinya? Kenapa hatinya berdebar – debar.

“Itu adalah cinta.” Ucap seseorang. Nae Il menoleh dan mendapati ada Yoo Jin berdiri tak jauh darinya dengan wajah berseri memesona. Yoo Jin berkata kalau itu tandanya Nae Il telah jatuh cinta padanya.

Nae Il melongo melihat senyum memukau Yoo Jin, dia menari – nari jejingkrakan karena ini. Ia membuat bentuk hati dengan tangannya, “Orabang, aku mencintaimu!”





Seung Oh tengah meng –konduktori grup orkestranya, dia melakukannya seperti biasa. Grup orkestranya cukup kompak, sedangkan seseorang dari kejauhan memperhatikan mereka. Tak lain, dia adalah Yoo Jin.

Ia teringat akan nasehat dari Professor Ahn tadi, dia menyarankan pada Yoo Jin untuk mengubah mayornya. Konduktor bukan hanya nada full score tapi juga mampu mengarahkan para pemain. Konduktor yang baik memerlukan kerjasama tim. Bukankah kau mau menjadikan mimpimu itu kenyataan?

Yoo Jin mulai memejamkan matanya, ia mengkondisikan dirinya menjadi konduktor. Dia mulai mengarahkan pemain lain untuk mengikuti alunan musiknya.



Nae Il berlarian mencari – cari Yoo Jin, dia sangat ceria kali ini karena dia sudah yakin akan perasaanya. Dia yakin dia itu suka dengan Yoo Jin, si Orabangnya.



Rupanya Yoo Jin masih bimbang dengan keputusan apa yang akan ia pilih. Ia menyendiri dibangku pinggir danau namun suasana sunyi disana segera pecah ketika Nae Il menemukan Yoo Jin.

“Aku bahkan tak punya waktu untuk sendiri.” desis Yoo Jin.

Nae Il menghampiri Yoo Jin dan memberitahukan kalau jari kaki dan tangannya gemetaran saat ia bermain piano tadi. Tubuhnya merinding bahagia sekali. “Tapi.... Kakiku terus gemetar karena aku ingin memelukmu.”

Yoo Jin melirik kearah kaki Nae Il yang bergerak terus, Yoo Jin bangkit. Nae Il berkata kalau dia sudah sadar, dia sadar telah menyukai Orabang. Yoo Jin menyuruh Nae Il sadar, dia memperingatkan kalau itu bukanlah cinta.




“Saat aku memikirkanmu, hatiku terus berdebar- debar.” Ucap Nae Il memejamkan mata dengan tubuh bergoyang – goyang aneh. Yoo Jin menggoncang tubuh Nae Il agar dia sadar, itu bukanlah cinta tapi hanya respon karena sangat senang bisa bermain piano.

Nae Il tetap memaksa untuk memeluk Yoo Jin tapi Yoo Jin menahan kepala Nae Il agar tak mendekatinya. Dia menyuruh Nae Il untuk pergi ke dokter memeriksakan otaknya. Kalau dia berani memeluknya maka dia tahu sendiri apa akibatnya. Jangan mendekat!!

“Jika tak boleh, akan kupeluk dari belakang saja.”

“Peluk belakang juga boleh!”

Yoo Jin menolak habis – habisan permintaan Nae Il, ia memilih untuk kabur meninggalkan gadis satu ini dengan ketakutan.


Nae Il mengejar Yoo Jin, dia memohon agar bisa memeluknya meskipun hanya sekali saja. Il Rak memperhatikan tingkah keduanya dari kejauhan, menurutnya benar – benar diluar perkiraan Nae Il berduet dengan Yoo Jin.


Nae Il kelelahan tak bisa mengejar Yoo Jin yang memiliki kaki jenjang. Tapi hanya dengan memikirkan mereka tetanggaan saja sudah membuat Nae Il senang bukan kepalang. “Orabang... orabang...”

Seseorang menyodorkan minuman soda untuknya, tanpa melihat saja Nae Il menerima minuman tersebut. Dia sangat berterimakasih karena sudah memberikannya minuman. Orang itu Il Rak, dia menebak kalau Nae Il adalah pianis?

“Kenapa kau bisa tahu?”

“Kudengar orang- orang sering memujimu.” Ucapnya. Nae Il bertanya musik apa itu, Mozart, Schubert, Chopin.


“Violin Sonata... No. 5? Beethoven.” Jawabnya.

Nae Il yang sudah girang karena seseorang memujinya langsung sebal, dia tak tahu musik apa itu. Il Rak salah orang. Il Rak menahan Nae Il yang hendak pergi, dengan alasan sudah terlanjur bertemu  maka Il Rak ingin mengajak Nae Il untuk berduet.

Yoo Jin berada di pasar untuk membeli ikan, dia memperhatikan ikan mana yang akan ia beli. Ia memutuskan untuk membeli yang makarel saja. Pelayan pun memuji penglihatan Yoo Jin yang jeli. Ponsel Yoo Jin berdering, sebuah pesan dari seseorang yang mengajaknya untuk makan malam bersama.

Seketika Yoo Jin tahu kalau itu adalah si Gadis Aneh, Seol Nae Il. Dia heran bagaimana bisa Nae Il mendapatkan nomornya.

“Jangan Bermimpi!!!” balasnya.

Yoo Jin menerima satu ekor ikan, dia terdiam. ia meminta untuk ditambah satu lagi ikannya.


Yoo Jin berjalan pulang, tak sengaja dia melihat Nae Il yang tengah makan dengan Il Rak di restoran Ayah Il Rak. Dia yang katanya ga perduli itu akhirnya memundurkan langkahnya, dia melihat keduanya yang tengah enak – enaknya makan bahkan suap – suapan.

Yoo Jin tampaknya kesal, dia melempar satu ikan yang telah dibelinya tadi dan melanjutkan perjalanan.



Nae Il sudah sangat kenyang tapi Il Rak masih menwarinya makan karena duet keduanya. Ayah Il Rak pun mempersilahkan Nae Il untuk memesan lagi bahkan makanan yang tak ada dalam menu pun boleh.

Makanan kembali dihidangkan, Steak, kepiting risotto dan jeruk jeju pun dihidangkan. Namun wajah Nae Il tak terlalu bahagia.

“Apa aku bisa membungkusnya saja?” tanyanya.


Nae Il keluar dari restoran Il Rak dengan girang membawa makanan yang telah dibungkus. Il Rak bertanya – tanya apakah dia tak salah pilih, tapi permainannya dengan Cha Yoo Jin sangat bagus.

“Kau tak melihat tangannya? Tangannya besar dan panjang. Tangan pemain piano. Tangan Seo Ye Jin dan Yim Seul Ho juga seperti itu.”

Il Rak memuji ayahnya yang sudah jadi ahli sekarang. Ayah hanya tak mau membuat anaknya malu, tugas ia sekarang hanyalah mendukung putranya sampai musiknya mengalun di Center Arts, Seoul. Il Rak terdiam, sepertinya dia terharu mendengar ayahnya yang percaya dan begitu mendukungnya.



Yoo Jin menyiapkan ramen untuk dimakannya. Suara bel rumah berbunyi dan Yoo Jin sudah bisa menebak Nae Il lah yang datang kerumahnya. Dia mengumpati Nae Il yang mau mengikuti siapapun yang memberikannya makanan.

Bel kembali berbunyi membuat Yoo Jin tak bisa menahan kesabarannya. “Bukannya kau sudah makan banyak. Pulang saja sana! Dasar tak tahu malu...!”

Tapi setelah pintu terbuka, rupanya dia adalah Do Kyung. Do Kyung heran kapan dia melakukan hal seperti itu? Yoo Jin mengubah ekspresi marahnya menjadi datar, “Ada perlu apa?”

“Kau tak mau membiarkanku masuk? Kau mau membuatku terus berdiri di sini?”


Yoo Jin menoleh dan melihat ada Nae Il yang berjalan dengan riang. Ia mempersilahkan Do Kyung masuk kedalam rumahnya. Nae Il melongo melihat wanita cantik masuk ke rumah Orabang, Yoo Jin pun sebelum masuk menunjukkan senyum super duper evil pada Nae Il.

Dunia Nae Il gonjang – ganjing, ia pun menjatuhkan makanan yang dibawanya dengan masih melongo.



Do Kyung tanpa ragu masuk dalam rumah Yoo Jin, baginya mereka sebelum pacaran adalah teman. Berarti sekarang mereka ya teman. Yoo Jin tanya masalah apa yang Do Kyung sedang hadapi? Pria atau musik?

“Inilah untungnya kita berteman lebih dari 10 tahun. Panggung kita selanjutnya adalah Carmen. Aku adalah Micaela. Dan yang selalu melayaniku adalah Carmen.”

Yoo Jin mengingatkan kalau dia sedang sibuk sekarang. Do Kyung mengatakan kalau dia punya berita besar sekarang. Yoo Jin acuh, dia tak tertarik.

“Ini ada hubungannya dengan konduktor musik. Karena perlakuanmu padaku. Aku akan memberitahumu, tapi, ada gantinya.”


Nae Il penasaran banget apa yang sedang Do Kyung dan Yoo Jin bicarakan. Dia menempelkan telinganya dan mencoba mendengar apa yang mereka bicarakan, mulai dari gelas, mangkuk, baskom dia gunakan agar bisa mendengar mereka. Tapi sia – sia dan membuat Nae Il makin kesal.

Nae Il menuju balkon, dia mencoba melompat menuju balkon Yoo Jin tapi susah dan dia ngeri ketika melihat kebawah.


****
Keesokan paginya, Yoo Jin dan Do Kyung berangkat ke kampus bersama. Nae Il keluar apartemen dengan lingkaran hitam dimatanya. Mungkin karena penasaran apa yang Yoo Jin lakukan makannya dia ga bisa tidur semalaman.

“Mereka bersama semalaman? Orabang.. Apa ini akhir bagi kita?” tanyanya.



Sesampainya di kampus, Nae Il lemas dibuatnya. Il Rak yang kesal karena Nae Il harus tetap berlatih dengannya, dia kan sudah mentraktir makanan untuknya. Nae Il tersenyum sinis, hatinya telah kosong. Baginya ujian sudah tak penting lagi.

Il Rak meminta Nae Il untuk menyimpan patah hatinya setelah ujian saja. sekarang mereka harus berlatih. Dia pun menaruh tangan Nae Il keatas tuts piano tapi tangan Nae Il sudah lemas duluan.



Il Rak berjanji akan membantu mengembalikan cinta Nae Il, tapi siapa pria yang telah memutuskan Nae Il?

“Teman sekelas.” Jawabnya singkat. Il Rak berfikir dan sedikit kurang yakin apa mungkin Cha Yoo Jin. Nae Il terkejut dengan tebakan Il Rak yang tepat, dia kemudian menunduk dengan sedih. Il Rak tak percaya, rupanya Nae Il memiliki selera yang tinggi.

Il Rak mengambil ponselnya dan menunjukkan sebuah foto, Primadona Chae Do Kyung. Melihat foto tersebut membuat Nae Il geregetan dan berusaha mengambilnya namun Il Rak menahan.


“Tak mungkin. Kau pasti kalah. Aku tak bisa membantumu. Aku punya batas kemampuan. Kau tak kenal Chae Kyung Do?”

“Memangnya kenapa?” tanya Nae Il polos.

Il Rak menyuruh Nae Il untuk menyadari akan posisinya. Nae Il mengibaskan rambutnya, ia yakin ia lebih dari pada Do Kyung. Il Rak tak bisa menahan tawanya mendengar kepercayaan diri Nae Il yang luber sampai tumpah.

Nae Il tak terima, ia pun memukuli Il Rak dengan sebalnya.



Do Kyung menggandeng Yoo Jin menuju ke cafe, dua orang mahasiswa membicarakan tentangnya. Lee Dan Ya dan Ma Soo Bin.

“Sang prima donna suara, Han Eum dan putri tunggal dari Perusahaan alat musik Gaon. Chae Kyung Do? Kau mengenalnya?” tanya Soo Bin.

Dan Ya menebak kalau Soo Bin menyukainya.  Soo Bin tak menjawab, ia menambahkan kalau semua alat musik yang ada disekolah mereka berasal dari perusahaan ayahnya. Dia juga cantik. Cantik dan cantik.

“Dasar, pria.”



Yoo Jin menyambar kopi pesanannya dan segera pergi. Do Kyung berkata kalau dia akan segera memberitahukannya. Namun Yoo Jin sudah tak mau lagi, menjadikan latihan dan ke kafe sebagai alasan. dia melangkahkan kakinya untuk pergi.

“Franz von Stresemann.” Ucap Do Kyung membuat langkah Yoo Jin terhenti. Ia menoleh kearah Do Kyung.


Kudengar dia datang ke kampus kita untuk mengajar.” Yoo Jin mengingat ucapan Do Kyung padanya. Dengan senangnya, ia tak mau lagi berjalan. Ia pun berlari menuju ke sebuah tempat dengan wajah berseri.


Prof. Do meminta pada Prof. Ahn untuk memberitahukan persyaratannya namun Professor Ahn menolak. Dia akan mengajar dahulu.

“Profesor Ahn, kau mempermainkanku, ya?” kesal Profesor Do.

Yoo Jin keluar dari ruang administrasi dengan wajah bahagia. Profesor Do penasaran apa yang telah membuat Yoo Jin bahagia, ia pun menuju ke ruang administrasi.


“Kenapa dia ke sini? Dan kenapa dia kelihatan bahagia?” tanya Profesor Do membuat petugas administrasi bingung. “Siapa lagi yang baru saja keluar kecuali si tengik itu?”

Petugas memberitahukan kalau Cha Yoo Jin datang untuk mengambil form pendaftaran perpindahan jurusan.


Yoo Jin duduk dibangku tepi danau seperti biasanya. ia menatap form pendaftarannya dengan perasaan senang namun suasana hatinya yang tengah berbunga berubah setelah mendengar suara violin seseorang yang sumbang.


****
KOMENTAR:

WAAAAH... Keren drama ini. Aku memang belum pernah menonton versi dorama maupun manganya. Tapi kalau ada kesempatan, aku akan menontonnya juga karena sepertinya sangat menarik. Aku suka banget sama akting Shin Eun Kyung yang udah kek cacing kepanasan kalau Liat Yoo Jin. Waah.

Disini, Shim Eun Kyung perannya bagus banget. Aku ga bisa bayangin kalau Yoona yang memerankan tokoh Nae Il karena memang mungkin kurang sreg sama tampangnya. Kalau Yoona lebih cocok yang mellow galau (jadi inget PMAI) tapi kalau Shim Eun Kyung Cuma liat mukanya aja udah ngakak. Kekeke.



5 Responses to "Sinopsis Tomorrow Cantabile Episode 2 – 1"

  1. Ga bisa ga komen tentang drama satu ini... Kocak :-D q jg blm prnh nontn ver.dorama'y mba,katanya sh bagus.Nae il tingkahnya ga jauh beda ma Na mi (sunny) yah..kalau udh gugup kaya cacing kepanasan :-D

    ReplyDelete
  2. Setuju sama puji...shim eun kyung. Habis2an akting lebaynya dah...gak kebayang. Kalo yoona harus akting se lebay dia,bagus banget drama ini,full musik Dr awal....je hehe,trims puji semangat nulis sinopnya bareng diyah onnie yah,fighting!

    ReplyDelete
  3. Aq udah baca and nonton semuanya dr Manga, anime, dorama, sekarang versi K-drama. Semuanya keren.. emang TOP deh cerita Nodame Cantabile

    ReplyDelete
  4. Jujur ak g masalah soal penampilan good looking apa tdk ,mirip pa tdk sm manga-nya yg penting sang aktor aktingya bagus,fun & menghibur bg aku. soal good looking/penampilan hanya sbg nilai plus sj kayak jdramanya...i'm okay with shim eunkyung tp yg jd chiaki ma milch holstein kurang nendang hehehe

    ReplyDelete
  5. Maaf mbk q rasa klw yoona jg bgs...krn asliny dia doorki..bhkn akting ny d PMAI pun sngat kereennn...

    ReplyDelete

Jangan lupa komentar yaah^^ biar aku lebih semangat dalam membuat postingan. Meskipun jarang bales tapi semua komentar selalu aku baca kok.. *serius*

Gomawo^^