Sinopsis Night Watchman’s Journal Episode 22 – 2

Sinopsis Night Watchman’s Journal Episode 22 – 2
Do Ha mulai tersadar, perlahan ia membuka matanya yang tersorot oleh cahaya pagi yang menelusup melewati jendela. Ia mengusap lembut pipi Rin yang duduk dengan terkantuk – katuk. Rin tersadar, wajahnya berubah cerah mendapati Do Ha sudah tersadar. Do Ha sedih karena Rin harus terjaga semalaman karena dirinya. Tapi untuk Rin, melihat Do Ha tersadar adalah sebuah kebahagiaan yang tak tergambarkan.

“Kau harus menyelesaikan hal yang ingin kau lakukan sebelumnya. Aku akan berpura-pura tidak tahu.” Ucap Rin dengan nada menggoda.


Rin dan Do Ha duduk berdampingan, Rin mengutarakan niatannya untuk membunuh Sadam. Ia ingin Do Ha kembali ke gunung Baek Du untuk sementara waktu sampai ia berhasil. Dan setelah semua selelai, ia ingin mereka bisa bersama.



Do Ha tersenyum kemudian menggeleng. Lari bukanlah cara untuk menyelesaikan masalah. Rin mencoba menginterupsi, prinsipnya bahkan berubah demi menjaga wanita yang ia cintai.

“Aku berhutang sesuatu padamu. Kau dan orang tuamu sangat menderita karena kakakku. Aku akan menebusnya. Aku akan berjuang di sampingmu.” Tegas Do Ha.


Rin diam menghormati apa yang Do Ha inginkan, bagaimanapun dia tak mungkin memaksakan kehendaknya. Ia menggenggam tangan Do Ha dengan penuh kehangatan namun semburat kekhawatiran tampak jelas di rona wajah Rin.


Dan tanpa keduanya sadari, Ho Jo memperhatikan keduanya bersama dari balik tembok.


Ho Jo melaporkan bahwa si Dukun Mago telah tersadar. Sa Dam yang sibuk dengan ritualnya menyuruh Ho Jo untuk membuarkan saja Do Ha berada disisi Pangeran sampai ular terbangun.

“Terus awasi dia.” perintahnya.

Nona dari Maeranbang berada disini.” Lapor seorang penjaga membuat Sadam berfikir sejenak.


Soo Ryun masuk ke ruang ritual membawa kekesalan, bagaimana bisa Sa Dam membiarkan Do Ha untuk kabur? Sa Dam tersenyum dingin merasa kalau hal itu bukanlah urusan Soo Ryun.

“Bukankah kau membuat kesepakatan denganku?”

“Kenapa kau datang kesini dan bukannya mengawasi pembangunan pagoda?” Sa Dam balik bertanya. “Tugasmu adalah untuk memastikan pagoda itu diselesaikan tanpa masalah.”


Soo Ryun menegaskan kalau tugasnya hanyalah sebagai pemilik Maeranbang. Sa Dam tersenyum meremehkan Soo Ryun yang melakukan segala sesuatu hanya berdasarkan emosi. Mencoba banyak usaha hanya untuk mendapatkan hati seseorang.


Soo Ryun hanya meminta hal yang simpel, jika dia bisa mendapatkan Pangeran maka ia akan melakukan berbagai cara untuk menyelesaikan pagoda. Tapi jika tidak, dia akan melakukan berbagai cara untuk menghancurkan pembangunan pagoda dengan tangannya sendiri.

“Jika pagodanya diselesaikan tanpa masalah, kau akan mendapatkan Pangeran. Aku akan membuat itu terjadi.” Tegas Sadam tak mau kalah.


Dayang Lee membuka pintu belakang kediaman Ibu Suri untuk membiarkan Menteri Joo masuk. Sepertinya sekarang Ibu Suri lebih memihak pada Menteri Joo setelah mendapatkan pengkhianatan dari PM Soo Jong.


Ibu Suri mengatakan kalau PM Soo Jong tengah melakukan konspirasi demi menggulingkan baginda Raja yang sekarang. Menteri Min agak berfikir, lalu apa yang harus mereka lakukan?


“Kita harus membunuh Perdana Menteri.” Tegas Ibu Suri.

Menteri Joo sedikit ragu, akankah baginda Raja akan menyetujuinya? Ibu Suri dengan penuh kemantapan dan kemarahan yakin, dia yang akan mengendalikan situasinya.


Sa Dam menemui Perdana Menteri untuk memberikan dana pembangunan Maeranbang. PM Soo Jong tersenyum karena pembangunan pagoda yang tak akan berlangsung lama lagi akan rampung.

“Hari di saat kau menjadi raja, pagoda akan berdiri untuk menbuktikan kehebatanmu.”


Perdana Menteri tertawa mengerikan mendengar ucapan Sadam, ia akan melakukan apapun demi menyelesaikan pembangunan pagoda.

Tawa Perdana Menteri pecah, tawa mengerikan layaknya iblis. Oops, memang dia sudah dikuasai oleh iblis yang bersemayam dalam dirinya. Sadam bahkan tersenyum penuh arti ketika melihat kepulan asap hitam yang mengelilingi kepala Perdana Menteri. Asap itulah, hantu itulah yang telah menguasai dan membuat ambisi Perdana Menteri semakin menggebu.


Perdana Menteri melakukan perjalanan, tanpa diduga beberapa orang dengan pakaian serba hitam dan penutup wajah menyerang mereka. Tanpa basa – basi mereka segera menyerang Perdana Menteri.

Pertarungan pun tak ter –elakkan.


Saat semua perhatian terfokus pada pertarungan tersebut, seorang dengan cadar hitam sudah berdiri dibelakang PM Soo Jong dan siap menancapkan pisaunya. Lewat ekor mata, PM Soo Jong sudah menyadari keberadaan pria tersebut. Ia sigap berbalik dan mencengkeram leher pria bercadar, “Siapa yang mengirimmu?”

“Menteri Joo.” Jawabnya terbata. PM Soo Jong marah bukan kepalang, dia mencekik dan mematahkan leher pria bercadar tanpa ampun.


Pertempuran selesai, para pria bercadar kalah jumlah dan bisa dipukul mundur. Pengawal PM Soo Jong bertanya, haruskah mereka menyerang Menteri Joo?

“Menteri tidak mungkin melakukan ini sendiri. Ibu Suri mungkin menyuruhnya melakukan itu.” Ucap PM Soo Jong dengan tangan terkepal. Matanya berkilat – kilat sarat akan kemarahan.


Ibu Suri memijit pelipisnya yang pening, akhir – akhir ini beban pikirannya semakin menumpuk. Perdana Menteri datang dengan penuh amarah, tanpa babibu ia menancapkan sebilah belati ke meja Ibu Suri.

“Ibu Suri. Apa kau memberikan perintah untuk membunuhku?”


Ibu Suri menghela nafas panjang, dengan jujur ia berkata tak bisa terus membiarkan PM Soo Jong terus bertanggung jawab atas tahta.

Kemarahan PM Soo Jong sudah tak tertahankan lagi, dia kembali bertanya dengan suara bergetar menahan marah. “Jadi kau lebih suka aku mati daripada hidup?”


Rupanya Menteri Ddong dan juga Kasim Song tengah memperhatikan keduanya. Menteri Ddong mengumpati sikap tak sopan PM Soo Jong, “Orang jahat itu. Beraninya dia.”


PM Soo Jong keluar dari kediaman Ibu Suri, ia memerintahkan pada penjaga agar jangan sampai membiarkan siapapun masuk menemui Ibu Suri.


Park Soo Jong, kau b*jingan! Beraninya kau mengganggu Ibu Suri dan merebut tahta? Hukuman macam apa yang kau minta?” umpat Menteri Ddong tak tahan lagi akan sikap semena – mena PM Soo Jong.

PM Soo Jong berbalik dan menatap tajam kearah keduanya hingga membuat Kasim Song bergidik ngeri. Ia memilih bersembunyi dibalik punggung Menteri Ddong karena merasa tatapan PM Soo Jong sungguh aneh.


“Hukuman macam apa yang kau minta?” bentaknya lalu mengarahkan ujung pedangnya ke perut Menteri Ddong. Menteri Ddong terdorong kebelakang, ia merasa aneh bagaimana seorang manusia bisa memukul hantu. Kasim Song menebak kalau Menteri Park mungkin dirasuki hantu.

“Bagaimana bisa orang yang mati 12 tahun lalu muncul lagi? Jika kau muncul dihadapanku lagi, aku akan menyingkirkan rohmu! Menghilanglah!” ancamnya.


Wolmae menatap Soo Ryun dari ujung kaki sampai ujung kepala, untuk apa dia mencari Pangeran Wolgang? Dengan angkuh ia berkata kalau dia mengetahui segalanya, jadi dia menyuruh Wolmae untuk memanggil Pangeran Wolgang.


Do Ha menuruni tangga dengan riang, namun ketika matanya menangkap kehadiran Soo Ryun membuatnya terhenti. Soo Ryun tanpa ragu bertanya bagaiamana bisa Do Ha yang sudah meminum racun bisa hidup. Do Ha pasti sungguh kuat. Soo Ryun menatap Do Ha tajam dengan pandangan sinis.


“Nona Soo Ryun. Do Ha mempertaruhkan hidupnya demi aku.” Tegas Rin yang tiba – tiba muncul.

Pandangan Soo Ryun yang angkuh seketika meredup. Ia tak bisa berkata apa – apalagi dihadapan Rin namun untuk Do Ha, pandangan kebencian tak bisa ia sembunyikan.


Soo Ryun berbicara secara pribadi dengan Rin, dia memohon agar Rin mau menyerahkan segelnya demia keselamatan dirinya sendiri. Rin menolak saran tersebut, dia yakin seandainya ia memberikan segelnya belum tentu nyawanya akan selamat. Soo Ryun meyakinkan kalau Rin akan tetap selamat.

“Perdana Menteri sedang tidak waras.” Jelas Rin. Soo Ryun terdiam tak mengerti maksud Rin.


“Apa kau akan percaya padaku jika kukatakan dia dirasuki setan? Segel dimaksudkan untuk melindungi tahta.” Jelas Rin. Ia berbalik dan menyuruh Soo Ryun untuk kembali. Soo Ryun mencoba memanggil Rin namun tak berguna, Rin sudah menentukan pilihannya. Usaha Soo Ryun hanyalah sia – sia, tatapan angkuh yang biasanya ia pertontonkan sekarang berubah sendu dihadapan pria yang ia cintai. Berubah mengundang iba.


Prajurit memasang pengumuman dari Perdana Menteri Park Soo Jong.

Pangeran Wolgang adalah penjahat yang mencuri harta negara. Pangeran Wolgang sudah menempatkan tahta dalam bahaya besar. Jika Pangeran tidak menyerahkan segel itu, dia akan membahayakan hidupnya sendiri. Ini peringatan untuk Pangeran Wolgang. Dia punya waktu 4 hari. Demi kebaikan tahta, dia harus mengembalikan segel kerajaan.


Wolmae yang tengah berjalan – jalan dipasar mengikuti beberapa warga yang mengerumuni papan pengumuman. Ia ternganga membaca pengumuman yang tertempel disana.


Kertas pengumuman sudah berada dihadapan Para Penjaga Malam dan dua hantu. Mereka sudah menebak kalau semua ini adalah perbuatan PM Soo Jong yang ingin melimpahkan semua kesalahannya pada Rin.

Sang Heon pun juga tahu, tujuan utama PM Soo Jong ingin merusak reputasi Rin.


Rin tak akan tinggal diam, dia sudah memutuskan langkah pertama. Ia akan masuk ke istana karena PM Soo Jong sudah memberikannya waktu 4 hari. Dia akan memberikan segelnya pada Raja dan membunuh Perdana Menteri saat itu pula.


Rin dan Moo Seok menyusup ke istana bersama duo hantu, Rin akan menuju ke tempat Ibu Suri. Ia menyuruh Menteri Ddong dan Kasim Song untuk membantu Moo Seok. Ia akan lewat pintu belakang menuju ke kediaman Ibu Suri jadi mereka tak perlu khawatir.

Mereka pun mengangguk dan menyuruh Rin berhati - hati.


Kasim Song dan Menteri Ddong mencari cara supaya mengalihkan fokus penjaga di kediaman Raja Kisan. Mereka menemukan perapian disana, mereka meniupinya lalu mengibas dengan lengan baju mereka yang lebar. Api perlahan membesar hingga membuat kegaduhan dan kepanikan kalau – kalau terjadi kebakaran.

Kasim Song memberi tanda pada Moo Seok agar segera masuk ke kamar Raja.


Bayangan Raja Kisan muncul, ia melihat dengan sedih tuannya yang hanya bisa minum – minum dikeadaan genting tanpa mencari jalan keluar. Dia hanyalah sosok yang tak bisa memimpin dan ia mengambil posisi Rin lalu mengacaukan segalanya.


Raja Kisan bangkit tak terima mendengar ucapan bayangan –nya, dia akan menyerangnya namun bayangan itu pergi tepat saat Moo Seok masuk ke kamarnya. Raja Kisan terhenyak dan mundur beberapa langkah. Ia ketakutan karena sekarang hantu Moo Seok sudah mencarinya.


Raja Kisan menyerang Moo Seok dan menyuruhnya untuk pergi, dia membunuh Moo Seok karena diancam oleh perdana Menteri. Ia akan melaksanakan upacara yang besar untuk pemakaman Moo Seok tapi sekarang Moo Seok harus pergi.

Moo Seok menyadarkan sekali lagi kalau dia bukanlah hantu.


Tatapan Raja Kisan melunak, ia meraih wajah Moo Seok sekilas. Dia mungkin merasakan wajah Moo Seok masih hangat, ia mundur secara teratur. Ia tahu hamba setianya ini masih hidup, ia tak bisa menahan air matanya. “Mungkinkah kau kesini untuk membunuhku?”

“Selama saya masih hidup, saya tetaplah pelayan anda.” Ucap Moo Seok lalu menunduk tanda hormatnya. “Yang Mulia. Pangeran sudah menemukan segelnya.”

Raja Kisan terkejut, Rin sudah memilikinya?


Raja Kisan menuju ke kediaman Ibu Suri dengan segera namun seorang pengawal menghadang kedatangan Raja. Raja kontan marah menerima perlakuan tak pantas itu, dia menampar prajurit yang berani menghalangi jalannya.

“Aku adalah raja dari tanah ini. Beraninya kau menghalangi jalan raja!” bentaknya. Nyali prajurit itu pun menciut hingga membiarkan Raja memasuki kediaman Ibu Suri.


Raja Kisan dengan wajah sumringah bertanya dimana keberadaan Rin, dia katanya sudah menemukan segelnya. Ibu Suri menghela nafas panjang, seolah kurang ikhlas kalau Rin menyerahkan segel tersebut pada Kisan.

Rin keluar dari persembunyian lalu menyerahkan suling segelnya pada Raja, Wajah Raja Kisan semakin girang saja menyadari kalau dulu Ibu Suri pernah memintanya meniup suling tersebut. “Rin, kau telah melakukan hal yang bagus.”


“Tolong serahkan segelnya pada Pangeran Wolgang.” Perintah Ibu Suri dengan berat hati, Kisan terbelalak menerima permintaan Ibu Suri yang menandakan memintanya untuk lengser.

Ibu Suri memohon agar Raja mau memberikannya pada Rin demi negara, rakyat dan juga mengalahkan Perdana Menteri. Dahulu saat Raja Kisan mencoba meniupnya, itu tak mengeluarkan suara. Jadi kekuatan tak akan muncul ketika Kisan tak bisa menggunakannya. Sekali lagi ia memohon agar Raja mau memberikan segelnya pada Rin.


Raja sungguh sulit menerima ini, Ibu Suri lah yang telah mengangkatnya menjadi raja dan menempatkannya pada posisi ini. Tapi dia sama sekali tak pernah mengakui keabsahannya menjadi seorang Raja.

Raja Kisan menerima pil pahit yang harus ditelannya, Ibu Suri hanya menginginkan Rin sebagai seorang Raja.


Ibu Suri bangkit dan menghampiri Raja Kisan, ia menggenggam kedua tangannya. Baginya, mereka berdua adalah cucunya yang begitu berharga. Dia lah yang paling tahu betapa tersiksanya Raja ketika harus menghadapi pengepungan oleh Perdana Menteri. Betapa tersiksanya ia harus menghadapi semua itu sendiri. Raja Kisan mulai menangis meluapkan apa yang ada dalam hatinya. Kesedihan tertahan. Kesedihan yang ditutupi keegoisan dan keserakahan.

“Wolgang harus menggunakan kekuatan segel itu untuk menghentikan kejahatan Perdana Menteri. Kau harus membantunya melindungi tahta. Mohon buatlah keputusan yang bijaksana.” Tangis Ibu Suri tak tertahankan lagi.


Dengan susah payah, Raja Kisan memenuhi permohonan Ibu Suri. Ia mengangguk meng –iyakan semua permintaan neneknya itu.

“Terima kasih, Yang Mulia.” Ucap Ibu Suri dengan sedih. Ia tahu betapa terlukanya Kisan saat ini.


Rin seolah tak enak hati, dia bersujud dan meminta mereka tak harus melakukan semua ini. Namun Raja Kisan sudah membuat keputusan, kedudukan ini memanglah tempat Rin yang sesungguhnya.

Ibu Suri. Kudengar Pangeran Wolgang membawa segel kerajaan.” Teriak PM Soo Jong didepan kediaman Ibu Suri.


Rin menatap kesekeliling mereka, kediaman Ibu Suri sudah dikepung oleh puluhan prajurit. Dia menyuruh PM Soo Jong untuk menyingkirkan parjuritnya namun PM Soo Jong malah mengancam. Dia menyuruh Rin menyerahkan segelnya kalau ingin selamat.

Rin meminta Raja untuk menyerahkan segel padanya, ia akan menghalau mereka semua.


Raja Kisan bimbang, dia ragu memperimbangkan apakah ia akan menyerahkan segel kebesaran itu pada Rin atau tidak. Cukup berat baginya. Bahkan sangat berat, tampuk kekuasaan yang selama ini ia jaga dengan mengorbankan wibawa, pikiran, dan cara kotor pun tak luput ia lakukan.

Haruskah ia melangkah dan memberikan segel itu pada Rin dengan mudahnya?


Pilihan Raja Kisan adalah memberikan segel tersebut pada PM Soo Jong. Sontak Ibu Suri dan Rin terbelalak menerima pengkhianatan Raja Kisan. Mereka mencoba mencegahnya namun telinga Raja Kisan mungkin sudah tertutup oleh egoisnya sendiri.

“Tidaklah penting apakah Wolgang atau Perdana Menteri yang memilikinya. Mana mungkin suling yang tidak berbunyi melindungi negeri dan melegitimasi tahta? Aku lebih memilih menyerahkannya pada Perdana Menteri dan mengakhiri ini.” Ucapnya seraya memberikan segel tersebut dan disambut baik oleh Perdana Menteri.


Moo Seok yang sedari tadi bersembunyi sambil memperhatikan bagaimana kondisi disana, ia terkejut dengan sikap Raja yang sungguh diluar dugaan.


Perdana Menteri mengangkat tinggi segel yang telah berada ditangannya. Simbol kekuasaan sudah berada digenggamannya. Baginya, segel tersebut bukanlah untuk orang – orang lemah, dia akan menggunakan suling tersebut untuk membuat takhta lebih kuat.

Ia menitahkan bawahannya untuk membunuh Pangeran Wolgang Si Pengkhianat.


Nafas Rin memburu menahan kekesalan yang tak tertahankan lagi. pengkhianatan dan sekarang posisinya berada di ujung tanduk. Ia pun mencoba menenangkan Ibu Suri dan menyembunyikannya dibalik punggung.

Sedangkan Prajurit mengeluarkan pedang mereka dari sarangnya, bersiap untuk menghunuskannya pada Rin.


Pertarungan tak terelakkan, meskipun kalah jumlah tapi dengan adanya Moo Seok yang sigap membantu Rin cukup untuk membuat mereka bisa mengalahkan para prajurit. Namun Ibu Suri yang syok harus menghadapi situasi yang mengerikan ini, ia lemas dan tak bisa menahan tubuhnya lagi.


Rin menoleh karena khawatir akan kondisi Ibu Suri, saat lengah inilah pengawal PM Soo Jong berniat untuk menebas punggung Rin. Ibu Suri yang menyadari hal itu tak mau membiarkan cucunya terluka, dia sigap pasang badan untuk menahan tebasan pedang tersebut.

Punggung Ibu Suri tertebas.


Seketika suara desingan pedang terhenti, kejadian yang mengejutkan ini membuat pertarungan tak lagi berlanjut. Kisan yang masih memperhatikan mereka tersentak melihat Neneknya tertebas dan sekarang lemas tak berdaya.


Rin menahan tubuh Ibu Suri yang akan jatuh ke tanah, air mata kesedihannya tak bisa terbendung lagi. Ibu Suri mencoba mengumpulkan tenaga hanya demi mengucapkan beberapa kata. Nafasnya semakin tersengal – sengal, satu permintaanya. Dia hanya ingin Rin menerima tahtanya.


Tangan Ibu Suri terkulai lemas. Yap, dia sudah menghembuskan nafas terakhirnya setelah mengucapkan apa yang ia inginkan. Rin menangis belum bisa menerima semua ini. Para Dayang segera pasang badan dan menutupi Ibu Suri mereka yang telah mangkat.


Moo Seok menghampiri Rin untuk mengajaknya pergi. namun Rin masih enggan meninggalkan Ibu Suri, salah satu anggota keluarganya yang masih tersisa selain Kisan. Dia masih menangisi kepergian Ibu Suri.

“Kau ingin kematiannya sia-sia?” tanya Moo Seok mengingatkan. Keduanya pun kabur saat Dayang masih pasang badan menyembunyikan mereka.


Salah seorang melihat kepergian keduanya, “Pangeran melarikan diri.”

PM Soo Jong tak memperdulikan hal tersebut, dia sudah mendapatkan segelnya kok. Ia pun tertawa merayakan kemenangannya saat ini.


Kisan dan PM Soo Jong tengah duduk menghadap jasad Ibu Suri, Kisan masih sempat saja melimpahkan kesalahan akan kematian Ibu Suri pada Rin. Ini semua adalah salah Pangeran Wolgang.

PM Soo Jong membenarkan, Rin –lah yang bertanggung jawab akan kematian Ibu Suri dan juga sebagai seorang yang telah menyembunyikan segel.


Keduanya keluar dari kediaman Ibu Suri, Kisan menagih janji PM Soo Jong yang akan membiarkannya tetap hidup. PM Soo Jong sama sekali tak menggubris ucapan Kisan, dia hanya berencana akan segera membuat pengumuman kalau Pangeran Wolgang sudah memberika segelnya.


Di markas, Rin masih menangisi kepergian Ibu Suri. Bukan hanya dia, semua yang ada disana pun ikut berduka akan kepergian Ibu Suri dan merasakan apa yang tengah Rin rasakan saat ini. Do Ha yang mencoba menenangkan pun urung, ia membiarkan Rin menumpahkan segala kesedihannya dalam tangisan.

Tidak akan! Aku tidak akan pernah mengampuni mereka.” Ucap Rin penuh tekad.



Ditempat ritual, Sadam melakukan ritualnya pada Ular yang telah membatu. Namun kekuatan ular itu semakin membesar, mungkin luka yang dialami semakin membaik hingga segel yang menidurkannya kini semakin merapuh. Sinar merah mulai bercahaya disekujur batu tersebut, kekuatan keluar dari mulut naga tersebut.


Kekuatan itu sepenuhnya menimpa Sadam dan perlahan, wajah Sadam yang sebelumnya sudah semakin menua dengan beberapa kerutan sekarang kembali semakin muda. Kerutan itu hilang membuat wajah Sadam semakin terlihat muda.

Senyum mengerikan khas Sadam tampak semakin mengerikan. #EfekMakeUp Korsel harus diacungin jempol.

****

Keesokan paginya, Raja Kisan duduk dikursi singgasana dengan tak tenang. Menteri – menteri sibuk untuk berkasak – kusuk sendiri.

PM Soo Jong datang dengan diikuti oleh beberapa pengawal yang segera mengepung Menteri yang menjalani rapat. PM Soo Jong berjalan menuju kursi singgasananya. Ia menunjukkan suling yang telah berhasil didapatnya.

“Ini adalah segel kerajaan, sebuah Suling Dewa.”


Rin berlari menuju ke istana. Sudah tak ada waktu lagi.


“Aku, Park Soo Jong, akan menerima segel ini dan menjadi raja yang baru! Mereka yang mematuhiku akan hidup. Mereka yang tidak mematuhiku adalah pengkhianat yang akan mati!” tegas PM Soo Jong mengintimidasi seluruh menteri.


Rin datang tepat waktu, ia segera berjalan menuju kearah Park Soo Jong tanpa gentar. Ia mengeluarkan pedangnya dan mengarahkan tepat pada PM Soo Jong.

“Kau pengkhianat, Park Soo Jong. Aku, Wolgang akan memohon pada langit untuk menghentikanmu! Aku tidak akan mengampunimu!”


Park Soo Jong hanya menanggapi ancaman itu dengan senyum remeh seolah dirinya sekarang berada diposisi dimana Rin tak akan menjangkaunya lagi. Namun Rin tetap yakin akan apa yang ia lakukan. Dia akan mengalahkan PM Soo Jong.


****
Akhirnya, OMOOO lama sekali tak kelar – kelar. Maafkeun, lagi sedikit kurang enak badan tapi aku suka sama recapan ku episode kali ini. Seolah aku khayati, keke. Mungkin karena ga dikejar deadline meskipun aku tahu udah mepet tapi aku teteup santai selow dipantai aja ya ching, sesuai mood.

Eum, aku mau sedikit memberikan opiniku tentang beberapa karakter disini.

Pertama, Buat kamu sang Raja Kisan. Geregetan sama sikap dan tingkahnya yang benar – benar tak tahu posisi dan penempatan dirinya. Terlalu egois dan memang tak cocok sebagai seorang pemimpin.

Kesalahan utama kemungkinan karena semua orang selalu meremehkan dan menganggapnya tak mampu untuk mengemban tugasnya sebagai seorang raja. Fakta bahwa nenek –nya sendiri pun seolah tak mau menerima keabsahan akan dirinya sebagai Raja membuat ia semakin egois. Semakin ingin membuat semua orang yakin dan percaya akan posisinya. Mau semua orang itu menilai dia cocok dan pantas menjadi seorang raja.

Tapi dia sama sekali tak memikirkan bagaimana keadaan rakyat dan kondisi rakyatnya. Ia terlalu sibuk mengurusi pendapat orang, bukannya sadar dan mulai membenahi dirinya namun dia malah bersikap semakin angkuh untuk menunjukkan posisi dan keberadaannya.

Kedua, buat Perdana Menteri Soo Jong. Terlepas dari peran jahat atau baik tapi aku suka sama akting dia. ga tahu kenapa, suka aja. Tapi kalau menilai sikap PM Soo Jong sendiri aku merasa ambisinya lah yang membuat ia kehilangan akal sehatnya hingga nafsu (atau yang dibilang setan yang merasuki Soo Jong) menguasai penuh dirinya.

Ketiga. Lah ga tahu kenapa juga aku suka sama peran Soo Ryun. Dia itu sosok cewek yang kuat, dia mau mengambil berbagai macam rintangan demi seorang yang ia cintai. Atau malah itu hanya ambisi. Ambisi yang membuat dia ingin mendapatkan Rin dengan berbagai macam cara.

Tapi, kalau dibilang dalam realita. Seperti sebelumnya aku katakan, Soo Ryun lah sosok yang akan mampu bertahan dan melindungi Rin seandainya dia menjadi raja. Kenapa? Soo Ryun cerdas. Kedudukan? Punya. Taktik? Mampu. Dan dia pun juga bisa mencintai Rin. Kalau seandainya Do Ha? Aku rasa dia hanya akan masuk dalam taktik, dia terlalu lemah dan kurang dalam pengetahuan tentang kerajaan. Dalam drama ini pun, aku merasa kurang ngeh sama peran dia. ga terlalu menonjol hingga aku lebih suka dengan Soo Ryun. Mungkin Do Ha hanya terlihat sebagai pemanis? Maybe.

Oops, ini hanya pendapat kok. Kalian bisa menulis pendapat kalian sendiri kalau memang agak berbeda atau memiliki kesamaan dengan apa yang aku pikirkan? Komentarnya aja deh. :D

Untuk cerita, yah ada dinamikanya. 4 episode awal aku merasa sangat senang dan menikmati alurnya namun setelah agak ditengah cukup jenuh juga dengan alur yang stay ditempat ga maju – maju. Tapi mendekati akhir aku kembali menikmatinya. Alasan? Ga tahu. :D

Dan akhirnya aku bisa bersorak horaay menyadari tugasku merampungkan drama ini tinggal satu langkah lagi. aku sudah menyelesaikan cerita raja – rajaan ini. Dan untuk pertama kalinya juga aku menulis tentang raja – rajaan dan aku rasa pengetahuanku tentang kerajaan, kisah maupun plot memang dangkal banget. Makannya jadi bingung, mungkin tulisan pun jadi ngalor ngidul.

Tapi okay lah, hanya satu yang belum aku buat. Tentang Dokter – dokteran. Kapan aku berani ambil project ini yah? Sampai sekarang masih menanti genre yang ininiiih. Oiya, jangan lupa next project aku selanjutnya Liar Game (aku sama Mba Diah) dan Pride and Predijuce dengan Mba Ayu. Hihi. :D see di episode terakhir yah chingu.


0 Response to "Sinopsis Night Watchman’s Journal Episode 22 – 2"

Post a Comment

Jangan lupa komentar yaah^^ biar aku lebih semangat dalam membuat postingan. Meskipun jarang bales tapi semua komentar selalu aku baca kok.. *serius*

Gomawo^^