Sinopsis Night Watchman’s Journal Episode 20 – 1

Sinopsis Night Watchman’s Journal Episode 20 – 1
Ibu Suri terkejut menerima kabar dari dayangnya kalau terjadi pemberontakan diistana, terlebih pemimpinnya adalah Perdana Menteri.


Raja Kisan marah besar karena pemberontakan Perdana Menteri. Namun Perdana Menteri beralasan kalau dua hanya menunjukkan kesetiaan, dia ingin menyelamatkan Raja dari kehancuran. Raja menyuruh Perdana Menteri untuk diam, dia selalu saja mengaitkan dengan kata setia. Setia pada siapa? Siapa orang yang menginginkan tahtaku? Wolgang, atau kau menginginkan tahta untuk dirimu sendiri?

Dengan percaya diri, PM Soo Jong berkata kalau dia akan memerintahkan kerajaan ini sendiri. Dia menyuruh Raja menghentikan kebodohannya. Raja marah dengan sikap Perdana Menteri yang menginginkan posisinya.

“Saya yakin Anda akan mengikuti takdir yang sudah digariskan oleh langit.” Ucap PM Soo Jong penuh penekanan.



The Night Watchman beraksi dengan menyusup ke istana, Menteri Ddong yang sudah mengawasi kondisi didalam melaporkan kalau Menteri telah mengepung istana. Mereka telah menyembunyikan Perdana Menteri untuk merebut tahta di istana.

Moo Seok beranjak pergi untuk menemui Raja namun Rin menahan Moo Seok, Moo Seok ingin tetap masuk menjalankan tugasnya melindungi raja. Apa mereka harus diam saja?

“Maksudku, kita harus bertindak dengan hati-hati.” Jawab Rin.





PM Soo Jong menemui Ibu Suri, Ibu Suri dengan suara bergetar marah bertanya akan apa yang tengah PM Soo Jong lakukan. Dia beralasan kalau dia hanya ingin menghentikan raja yang semakin menyimpang. Ibu Suri tak mempercayai niatan PM, dia telah membaca surat yang ditulis oleh Ratu Min dan pelaku pembunuhnya adalah Perdana Menteri.

“Andalah orang yang memerintahkan pada saya untuk membunuh mereka.”

Ibu Suri membenarkan hal tersebut, saat itu banyak kematian dan seharusnya ialah yang menanggung semuanya. Ibu Suri percaya kalau PM Soo Jong akan melindungi tahta raja tapi dia malah membunuh Ratu lalu menyebarkan rumor.

“Itu hanya rumor tak berdasar.” Elak PM Soo Jong. “Saya akan mengambil alih tahta sampai Raja sudah stabil kembali. Mohon berikan cap persetujuan Anda.”

Ibu Suri menolak karena dia hanya bisa memberikan cap tersebut pada Raja saja. PM Soo Jong tetap meminta dengan alasan kebaikan negara. Ibu Suri menolak dengan keras, dia tak akan memberikan PM Soo Jong ngambil keuntungan dari raja untuk menuruti ambisi PM Soo Jong merebut kekasaan.

“Pikirkan kembali. Saya akan kembali lagi.”



Sekeluarnya PM Soo Jong ia tampak marah, ia memerintahkan pada orang kepercayaanya untuk tetap menjaga kediaman Raja. Kalau mereka sudah mendapatkan cap maka tak membutuhkan Ibu Suri lagi.

“Lalu dengan pangeran Wolgang? Haruskah kita menangkapnya?” tanya Pengawalnya.

PM Soo Jong merasa kalau itu belum saatnya, awasi dan cari tahu siapa saja yang ditemuinya.



Sadam kembali ke ruang pemujaanya, dia melihat – lihat sekeliling seolah ada yang nampak aneh. Sampai perhatiannya tertuju pada lukisan tempat menyegel Do Ha. Dia mendapati dalam lukisan tersebut sudah tak ada Do Ha yang terikat dipohon. Sa Dam terkejut sekaligus marah besar, Berani –beraninya Wolgang mengambil shamannya.

Sa Dam pun merobek lukisan tersebut.



Ho Jo menemui Sadam untuk memberitahukan bahwa pasukan pemberontak sudah ada disana. keduanya berniat pergi namun terlambat, mereka dihadang oleh prajurit yang akan menjemput Sadam. Mereka diperintahkan untuk mengikat Sadam namun Sadam tak mau. Dia menolak dan mengeluarkan kekuatannya sehingga para prajurit terjatuh, dia akan jalan sendiri.



Prajurit membawa Sadam menemui PM Soo Jong, dia bertanya kenapa Soo Jong sangat tergesa – gesa padahal kalau Raja Kisan berhasil dilenyapkan pun ada Rin yang akan menggantikannya.

“Sebenarnya kau berpihak pada siapa?” tanya PM Soo Jong seraya memegang pedang yang ada disampingnya, dia mencoba memberikan tekanan.

Sadam agaknya cukup marah akan sikap PM Soo Jong tapi dia menahan diri.

“Saya tidak mengharapkan apa-apa setelah pagoda itu selesai dibangun. Saya berada di pihak Anda, orang yang akan menguasai Joseon. Pertama-tama kita harus menangkap Pangeran Wolgang. Maka Anda bisa menjalankan Rencana Anda pada Raja.”



Raja Kisan mulai khawatir akan pemberontakan yang dilakukan oleh PM Soo Jong. Bayangan tiba – tiba muncul dan mengancam Raja kalau Pangeran Wolgang dan Perdana Menteri bekerja sama untuk mengambil tahtanya. Raja Kisan marah, Pangeran Wolgang tak boleh mengambil tahtanya.

Bayangan mengompori Raja yang sejak kecil sudah iri pada Rin. Raja mengelak, dialah yang malah melindungi Rin.

“Kau mengatakan akan menunjukkan cara menjadi raja yang benar tapi sepertinya kau tidak mampu.”

“Tidak! Aku adalah Raja Joseon!” bentak Raja.


Sadam datang menghadap Raja, Raja segera menghampiri dan bertanya seperti seorang anak kecil. Apakah Perdana Menteri akan membunuhknya?

“Perdana Menteri tidak bisa melakukan apa-apa tanpa cap kerajaan.” Jawab Sadam dibenarkan oleh Raja. Dengan hati – hati, Sadam kemudian bertanya dimana sebenarnya cap kerajaan tersebut?

Dengan bodohnya, Raja Kisan memberitahukan kalau cap tersebut ada ditangan Ibu Suri.


Ho Jo menanti Sadam, saat Sadam tiba disana. dia bertanya, pada siapa sebenarnya Sadam memihak?

“Siapapun yang menginginkan tahta, pada akhirnya akan hancur juga. Sampai saat itu tiba, aku akan membiarkan mereka saling menikam satu sama lain.” jawabnya. Dia kemudian menyuruh Sadam untuk mencari Shaman dari suku Mago saja.


Menteri Ddong dan Kasim Song tengah bersama dengan Sang Heon, Rin dan juga Do Ha di tempat rahasia mereka. Keduanya cekikan, merasa lucu karena hantu dan penjaga malam berada diruangan yang sama.

Sang Heon bertanya apakah benar kalau perdana Menteri melakukan pemberontakan? Rin membenarkan dan sekarang istana telah dikepung oleh para prajurit. Dia akan melakukan apapun demi kekuasaan. Jika Perdana Menteri dan Sadam bergabung maka akan menjadi malah besar untuk mereka.

“Jika itu terjadi, kita tidak bisa memusnahkan ular raksasa.”

Kasim Song panik, kalau sampai hal tersebut terjadi maka ular tersebut akan memakan semua hantu. Sang Heon menghena nafas panjang, mereka akan menghadapi masalah yang begitu besar.




Wolmae membawa nampan berisikan arak, Sang Heon menerimanya kemudian memberikan arak tersebut pada dua gelas tanpa pemilik dihadapannya. Namun rupanya, disana ada Menteri Ddong dan juga Kasim Song. Keduanya penasaran apakah Wolmae bisa melihat mereka, soalnya Wolmae menyuruh keduanya untuk menikmati saja.

“Kudengar kalau hantu... tidak, tidak, tidak... Kudengar kalau orang yang sudah meninggal masih ada disekitar kita. Ini anggur dan beras yang digunakan pada ritual pemakaman. Silahkan menikmati.” Ucap Wolmae.

Menteri Ddong meraih araknya, dia baru pertama kali ini bisa minum arak pemakaman. Kasim Song membenarkan, soalnya sudah tak ada yang hidup dikeluarga Menteri Ddong makannya tak ada yang memberikan  arak pemakaman. Menteri Ddong menunjuk Wolmae yang pasti bisa menjadi istri yang baik, Sang Heon seharusnya menikah dengan wanita seperti itu. Kasim Song membenarkan.

“Tamuku menikmatinya.” Ucap Sang Heon pada Wolmae dengan senyumnya. Seolah dia sudah memiliki perasaan spesial untuk Wolmae.

“Jika mereka adalah tamu Anda, mereka pasti berhati baik. entah itu manusia ataupun hantu.”


Rin menghampiri Do Ha yang tengah duduk termenung sendirian. Rin bertanya apakah Do Ha ada yang terluka? Do Ha menjawab kalau mungkin dia terluka saat keluar dari lukisan. Rin berniat melihat luka yang ada ditangan Do Ha namun Do Ha menarik kembali tangannya. Rin khawatir, Apa maksudnya tidak apa-apa? Apa kau sangat marah saat kusuruh kau kembali?

“Aku mengerti. Kau menyuruhku kembali karena kau khawatir. Saat aku bertemu denganmu, kupikir kau adalah orang yang sombong, yang merendahkan orang lain. Tapi, setelah menghabiskan waktu bersamamu, aku jadi tahu kalau kau adalah orang kesepian sepertiku. Entah bagaimana, kau berhasil masuk ke dalam hatiku.”

Mata Do Ha sudah berkaca – kaca. “Sudah kukatakan pada diriku untuk tidak membiarkanmu masuk ke dalam hatiku. Aku mencoba menutup pintu hatiku beberapa kali, tapi aku tidak bisa melakukannya. Satu-satunya hal yang bisa kulakukan untukmu adalah pergi dari sini. Tapi lagi-lagi, Aku merasa bahagia karena masih ada sesuatu yang bisa kulakukan untukmu.”




Do Ha bangkit dan meninggalkan Rin duduk sendiri, Rin ikut bangkit dan berjalan menuju Do Ha. Ia memeluk Do Ha, ia memintanya untuk jangan pergi. Memang akan sulit kalau berada didekatnya, seharusnya memang ia mengusir Do Ha. Tapi ia tak bisa membohongi perasaanya.

“Bahkan jika ini membahayakan hidupku aku akan melindungimu.” Ucap Rin menatap dalam ke kedua mata Do Ha.

“Pangeran.”




****
Rapat dilakukan seperti biasanya, namun tak ada sosok Kisan yang duduk disinggasana. Dengan percaya diri, Perdana Menteri memasuki ruang rapat dengan pakaian kebesaran seperti prajurit. PM Soo Jong berkata kalau Raja sudah tak bisa lagi mengendalikan dirinya dan tak pantas mempertahankan tahta. Sebagai hamba setia, maka dia akan mengambil alih tugas raja.

Sontak seisi ruangan terkejut mendengar hal itu, mereka tak bisa menerima putusan tersebut. Menteri Min dengan marah bertanya, atas dasar apa perdana Menteri melakukan pemberontakan? Dia terlebih dulu akan menanyakannya pada Raja. PM Soo Jong tak memperbolehkan karena Raja sudah tak bisa mengendalikan dirinya, maka tak akan berguna.

“Apa kau sudah bicara dengan Ibu Suri? Kami akan menemui Ibu Suri untuk mengetahui yang terjadi. Biarkan kami pergi!” ucap Menteri Min seraya bangkit, Menteri yang lain pun juga mengikuti langkah Menteri Min.




PM Soo Jong menghentakkan pedangnya, semua prajurit segera memasuki ruangan menahan semua Menteri yang akan keluar. Suasana pun kontan tegang,

“Untuk sementara waktu, tak seorangpun yang boleh bertemu Raja ataupun Ibu Suri. Aku sudah berbicara dengan Raja. Ikuti perintahku karena ini perintah kerajaan!” tegas PM Soo Jong.



Rin menuju ke kediaman Raja Kisan, Raja segera meraih tangan Rin dengan gemetaran. Dia bertanya akan kondisi diluar? Apa yang diperintahkan Perdana Menteri? Apa mungkin pemberontak itu akan membunuhnya?

Rin menggenggam tangan Raja yang gemetar ketakutan, ia menenangkan kalau Moo Seok dan ia akan melindungi Raja. Raja Kisan baru ingat, dia mulai melunak dan ingat kalau Moo Seok adalah anak buahnya yang setia.




Namun pandangan itu berubah tajam ketika menatap Rin, dia menuduh Rin juga dalang dibalik pemberontakan ini. Tahta ini memang seharusnya milik Rin, Rin pasti selalu membencinya.

“Dan kau pasti orang yang mencoba mencelakai-ku. Pasti kau yang bekerja dengan penjaga malam untuk merebut tahtaku. Dan kau bekerja sama dengan Perdana Menteri untuk menggantikan posisiku?!”

Rin terkejut dengan sikap Raja yang tiba – tiba berubah seperti itu.

“Aku tidak akan membiarkan itu terjadi! Kau pikir aku tidak bisa melihat tujuan jahatmu? Aku akan mengungkap tujuan jahatmu yang sebenarnya! Keluar dari sini!” marahnya.


Rin tak bisa berkata apa – apalagi, ia memilih pergi meninggalkan kediaman Raja dan menuju ke kediaman Ibu Suri. Namun ia dicegat oleh pengawal Perdana Menteri. Rin dengan sinis berkata kalau dia hanya ingin menemui Neneknya.

“Perdana Menteri memerintahkan kami untuk mengusirmu.” Ucapnya membuat Rin terkejut.


Dalam perjalanan kembali, Rin harus berpapasan dengan Sadam yang memuji kemampuannya hingga menemukan gadis dari suku mago, Do Ha. Rin acuk dan menyuruh Sadam untuk menyingkir namun Sadam menghalanginya. Sadam memberitahukan kalau dengan adanya Do Ha disisi Rin tak akan memberikan manfaat apapun tapi kalau Rin mau memberikan Do Ha padanya maka dia akan memberikan tahta untuk Rin.

“Dengan cara apa kau akan membantuku?”

“Saya akan memberikan Anda pasukan pemberontak Perdana Menteri. Apa Anda akan melindungi Negeri ini dan tahta? Atau Anda lebih memilih kehilangan semuanya demi seorang wanita? Tentukan pilihan Anda.”

Rin membentak Sadam, ia juga tak akan pernah meminta bantuan Sadam.

PANGERAN!!” bentak Sadam. “Pikirkan lagi baik-baik. Saya akan menunggu jawaban Anda.”

Rin menatap tajam kepergian Sadam.



Perdana Menteri memerintahkan agar mereka bisa menemukan cap kerajaan meskipun harus menjungkir balikkan istana. Prajurit mengerti.

Pintu pertemuan tiba – tiba Soo Ryun ada disana, Pengawal menahan Soo Ryun namun PM Soo Jung menyuruh membiarkan Soo Ryun masuk.

Soo Ryun memberikan hormatnya namun kemudian dengan marah dia bertanya apa maksud Ayahnya? Apa yang dia lakukan? Dia ingin mengabdi pada Raja atau hanya ingin memenuhi keinginan pribadinya saja?

PM Soo Jong menganggap kalau ini bukanlah urusan Soo Ryun. Soo Ryun menanyakan rencana ayahnya pada Pangeran Wolgang. PM Soo Jong lagi – lagi berkata kalau Soo Ryun dan Pangeran Wolgang tak ada hubungan apapun. Dia menyuruh untuk jangan menganggu pekerjaannya.

“Aku tidak peduli jika Ayah menambah pasukan pemberontak atau mengambil alih tugas Raja. tapi...jika Ayah berani menyentuh Pangeran Wolgang, aku akan memutuskan semua hubungan denganmu.” Ancan Soo Ryun.

“Tidakkah kau tahu bahwa tindakanmu ini akan membahayakan Pangeran?”

Soo Ryun tak perduli lagi dan tanpa memberikan hormat, Soo Ryun pergi meninggalkan Ayahnya yang marah.


Soo Ryun pun menemui Ibu Suri karena ia khawatir akan keadaanya. Ibu Suri tampak tak tenang, hatinya memang sedang kacau. Banyak sekali kejadian yang terjadi di istana. Soo Ryun merasa tak enak hati, salah satu kekacauan dibuat oleh ayahnya sendiri. ia meminta maaf akan hal itu.

Ibu Suri menganggap kalau hal itu tak ada sangkutannya dengan Soo Ryun, dia hanya mengkhawatirkan kondisi Pangeran Wolgang. Soo Ryun mengerti, kalau ada sesuatu yang harus Ibu Suri sampaikan Pangeran Wolgang. Maka ia bersedia untuk menyampaikannya.


Do Ha sedih harus melihat Rin begitu khawatir dan lebih sering termenung sendirian. Rang Yi tahu, Rin memang seperti itu semenjak kecil. Dia akan mencari jalan keluar ketika ada masalah.

“Sejak dia kecil? Bagaimana kau bisa tahu seperti apa pangeran saat dia kecil?” Do Ha heran.

Rang Yi menatap gelang yang diberikan Rin pada Do Ha, Rin telah memberikan benda yang sangat berharga untuk Do Ha. Rin pasti sangat mencintai Do Ha, Rang Yi berharap Do Ha akan tetap bersama Rin dan memastikan kalau Rin tak akan terluka.

“Rang... Apa mungkin kau...” ucap Do Ha menebak- nebak. Namun Rang Yi memutuskan untuk bangkit dan berjalan pergi.



Soo Ryun menemui Rin, dia memberitahukan kalau keadaan Ibu Suri baik – baik saja. Ibu Suri telah memberitahukan kalau dia akan membuka jalan belakang terbuka untuk Rin. Soo Ryun tahu dengan pasti kalau Rin pasti membenci ayahnya, tapi ia berbeda dengan Ayahnya.

“Aku sudah memberitahumu tentang perasaanku yang sebenarnya.” Tegas Rin.

Soo Ryun tak memperdulikan ucapan Rin, dia mengingatkan kalau Rin tetap di Joseon maka akan semakin berbahaya untuknya. Maeranbang akan menyiapkan barang kebutuhan untuk Rin, dan kalau Rin pergi dari ibukota maka dia akan ikut dengan Rin.

Rin diam. Dia tak merespon ucapan Soo Ryun.



Soo Ryun keluar dari kediaman Rin, dia berpapasan dengan Do Ha. Ia terkejut karena Do Ha belum pergi dari sana. Bukankah dia sudah tahu kalau ia berada disisi Rin maka dia akan mempersulitnya?

“Aku sudah mencoba untuk meninggalkan Pangeran. Tapi aku sadar bahwa kepergianku bukanlah cara untuk membantunya.”

Soo Ryun tersenyum sinis mendengar begitu mudahnya Do Ha berkata seperti itu. Keberadaannya disana tak akan membantu Rin, cepat lah pergi! Ini permintaan terakhirnya. Soo Ryun pun meninggalkan Do Ha dengan tatapan sinisnya.



Sang Heon memberikan kompas yang telah ia perbaiki. Sekarang Moo Seok tak akan kesulitan lagi dalam mendeteksi hantu. Moo Seok masih diam, Sang Heon sadar kalau Moo Seok pasti mengkhawatirkan kondisi di Istana.

“Ini menggangguku, karena aku tidak bisa melindungi Raja saat dia dalam bahaya. Kau adalah penjaga malam. Apapun yang terjadi di dunia ini, kau tidak bisa menghilangkan gelar ini.”

Wolmae berlari dengan tergopoh – gopoh, ia memberitahukan kalau ada utusan kerajaan yang mencari Moo Seok. Moo Seok tertegun.


Rupanya ada seorang utusan rahasia yang datang untuk memberikan surat pada Moo Seok. Moo Seok pun membuka suratnya,

Moo Seok, tahta sedang terancam oleh Perdana Menteri. Perdana Menteri akan membunuhku dengan segala cara. Tak seorangpun berada di pihak ku. Bertahan hidup setiap harinya seperti sebuah ancaman. Kau satu-satunya hamba setiaku. Moo Seok. Tolong lindungi aku.” Tulis Raja Kisan dengan penuh kekhawatiran dan kepanikan.

Moo Seok berbalik namun sudah ada Sang Heon yang menghadangnya, Sang Heon mengatakan kalau Moo Seok tak boleh pergi. Moo Seok meminta Sang Heon untuk menyingkir.

“Penjaga malam tidak boleh mencampuri urusan pemberontakan. Itu adalah aturan penjaga malam.” Ucap Sang Heon. Moo Seok menatap tajam kearah Sang Heon.



****
Apa yang akan terjadi? Semakin seru rupanya, menuju akhir membuat semakin penasaran.

Entah kenapa, di episode ini aku terpukau dengan sosok Soo Ryun. Dia wanita, wanita yang kuat dan mau mengorbankan perasaannya demi seorang yang ia cintai, Rin. Yeah meskipun dari beberapa cara yang ia lakukan memanglah tak bisa dibenarkan, namun itulah usahanya. Itulah yang ia lakukan demi seorang yang ia cintai.
]
Pintar. Cantik. Mandiri. Baik (sebelumnya) aku suka sosoknya. Dia sosok yang memang pantas untuk menjadi pendamping Rin. Untuk Do Ha, kalau dalam realita yah memang tak memiliki kualifikasi untuk menjadi pendamping Rin. Sosok Ratu pastilah akan sangat tetap untuk Soo Ryun, dia cerdik dan memiliki pencitraan yang cukup baik.

Tapi apa bisa dikata, hati Rin sudah lah menjatuhkan pilihan pada Do Ha.

Sepertinya sih, Rin bakal jadi Raja deh demi melindungi kerajaan. Tapi ga tahu juga, aku juga penasaran pas liat ending episode 20.

1 Response to "Sinopsis Night Watchman’s Journal Episode 20 – 1"

  1. Makasih buat sinopsisnya.
    Untuk episode yang ganjil bisa lihat di mana? Yg tertera di home kok bunyinya Blog tidak ditemukan. Kebetulan CDke 3 ku yang episode 14 n 15 gak bisa diputer.

    ReplyDelete

Jangan lupa komentar yaah^^ biar aku lebih semangat dalam membuat postingan. Meskipun jarang bales tapi semua komentar selalu aku baca kok.. *serius*

Gomawo^^