Sinopsis Liar Game Episode 2 – 1

Da Jung masih menangis terisak di dalam kamarnya. Dia masih meratapi betapa bodohnya ia mau mempercayai seseorang. Dal Goo diluar rumah Da Jung meneriakinya, mengajaknya untuk mencari jalan dan menemukan guru Da Jung yang sudah menipunya.

Namun Da Jung sudah pasrah, memang dari awal mungkin uang itu bukan untuknya. Dia tak mau melanjutkan game ini. Ia menyerah sekarang.

“Ayo kita cari dia!!” teriak Dal Goo.

Akhirnya Da Jung tergiur juga, ia mau keluar dari kamar dan menanyakan apa yang akan mereka cari.

“Aku bilang, temanku yang dipenjara. Penipu yang jenius dan ahli berbohong. Profesor Ha. Dia akan dibebaskan besok.” Jelas Dal Goo. Sejenak Da Jung agak heran, profesor?


LIAR GAME EPISODE 2: Permainan Setengah Juta Dolar

Keesokan harinya, Dal Goo mengajak Da Jung untuk ke penjara. Ia menanti keluarnya profesor Ha. Da Jung celingukan memperhatikan keadaan sekitar, tampak aneh ketika didepan sebuah penjara namun ada banyak orang. Apa yang sedang mereka lakukan?

“Mereka harus memutar otak juga untuk mendapatkan seorang yang jenius.” Jelas Dal Goo yang membuat Da Jung berkedip kurang menangkap maksudnya.

Seorang keluar dari penjaga dengan mengenakan penutup wajah. Dal Goo tak bisa mengenalinya, ia memutuskan untuk bertanya pada petugas penjaga penjara.


Dal Goo menunjukkan luka diwajahnya, petugas itu mengenali Dal Goo yang dulu juga pernah terpenjara disana. Dal Goo bertanya kapan Ha Woo Jin akan dibebaskan?

“Dia baru saja pergi.” kata si Penjaga. Dal Goo segera sadar, ia menunjuk – nunjuk ke arah Da Jung namun Da Jung malah kebingungan sendiri. rupanya maksud Dal Goo adalah pria yang berpenutup wajah dibelakang Da Jung.


Orang – orang yang ada disana menyadari apa yang dimaksud oleh Dal Goo, mereka segera mengejar pria dengan penutup wajah tersebut yang dikira adalah Profesor Ha Jin Woo.

Da Jung kepayahan harus berlari mengejar pria tersebut, bahkan tak sengaja seseorang menyenggol tubuhnya hingga ia harus terjatuh. Da Jung meringis kesakitan.

Seseorang menyodorkan tangannya untuk menolong Da Jung yang terduduk kesakitan. Tak diduga, dialah Woo Jin yang sebenarnya. Dia baru saja terbebas sekarang.



Woo Jin mengingat saat ia membaca dilapas dan beberapa napi tengah menonton televisi, disana terpampang wajah Da Jung.

“Ayah.. aku baik – baik saja.” ucap Da Jung dilayar kaca.


Da Jung berniat menerima uluran tangan Woo Jin namun Woo Jin yang teringat akan wajah Da Jung pun jadi mengurungkan niatnya. Ia memilih berjalan meninggalkan Da Jung yang masih terduduk, Da Jung cengo melihat sikap aneh pria dihadapannya.


Da Jung menerima panggilan dari Dal Goo yang nafasnya masih tersengal – sengal. Dia memberitahukan kalau pria yang dikejarnya tadi bukanlah Profesor Ha. “Mungkinkah kau kebetulan bertemu dengan pria yang keluar setelah dia?”

Da Jung tertegun mendengar ucapan Dal Goo, dia menatap pria yang tadi mengulurkan tangan padanya.


Da Jung terseok – seok menarik kakinya yang nyeri, ia duduk dibangku tempat Pria yang mengulurkan tangan padanya tadi. Da Jung meminta maaf karena telah lancang, tapi dia hanya ingin bertanya apakah dia baru saja keluar dari penjara? Siapa nama anda?

“Apakah anda tidak ingin bertanya kejahatan apa yang telah saya lakukan? Kekerasan, perampokan, pemerkosaan, pembunuhan. Mana yang anda pilih?” tanya Woo Jin dengan dingin.

Da Jung sekali lagi meminta maaf karena telah menyinggungnya. Tapi dia hanya ingin bertanya tentang Profesor Ha yang katanya keluar hari ini. Apakah dia mengenalnya?



“Apa yang membuat anda ingin menemuinya?”

Da Jung mengatakan kalau ada sesuatu yang ingin ia tanyakan padanya. Woo Jin menyuruh Da Jung untuk menyerah saja, dia lebih baik tak bertemu dengan Profesor Ha. “Orang itu, membunuh seseorang yang dipercaya dan bergantung padanya. Membuat kesepakatan dengan setan lebih baik daripada terlibat dengan seseorang seperti Profesor Ha.”


Da Jung terpaku mendengar ucapan Pria dihadapannya, menakutkan bukan mendengar cerita mengerikan tadi. Sebuah bus berhenti, Woo Jing segera bangkit namun terlebih dulu ia berkata pada Da Jung. “Profesor Ha membenci orang-orang seperti Anda.”

“Jenis orang seperti apa aku ini?” tanya Da Jung tak bisa menyembunyikan rasa pesarannya.

“Seseorang yang berfikir menjadi bodoh adalah pilihan yang terbaik.” Tutur Woo Jin.




Dal Goo kembali menelfon Da Jung untuk bertanya apakah Da Jung sudah menemukan Profesor Ha. Da Jung meminta ciri – ciri yang dimiliki oleh Profesor Ha.

“Dia sangat tampan tapi agak menjengkelkan. Kau tahu bahwa hal di sekitar pergelangan tangan. Beads atau rosario? Dia selalu memakai itu.” Jelas Dal Goo membuat Da Jung tersadar. Pria yang tadi mengobrol dengannya memanglah Profesor Ha yang ia cari.


Da Jung berteriak – teriak mengejar bus –nya, dia meminta agar bus tersebut mau berhenti. Dan usaha Da Jung tidaklah sia – sia. Bus pun berhenti setelah sang sopir mendengar ia berteriak teriak mengejarnya.


Da Jung menjadi pusat perhatian didalam bus, beberapa orang mulai mengambil gambarnya dan berbisik tentangnya. Da Jung tak memperdulikan lalu mengambil posisi duduk dibelakang Woo Jin. Sekali lagi ia memastikan, “bukankah anda Profesor Han Woo Jin? Aku mendengar banyak hal tentang anda dari Dal Goo Ahjussi. Maafkan saya karena begitu berani, saya hanya ingin meminta tolong.”

Woo Jin menolak tanpa ampun. Da Jung mendengus karena ia sendiri bahkan belum berkata apa yang akan ia mintai tolong.

“Aku sudah tahu apa yang ingin kau katakan.” Jelasnya malas lalu memencet tombol henti.





Woo Jin kesal dengan Da Jung yang terus mengikutinya entah sampai kapan. Da Jung berkata kalau dia akan mengikutinya sampai ia mau mendengar cerita Woo Jin.

Woo Jin menghela nafas panjang, dia setidaknya akan mendengar cerita Da Jung. Tapi sebelumnya ia akan pergi ke toilet. Da Jung girang tanpa curiga membiarkan Woo Jin berlalu menuju toilet.




Da Jung menanti dengan bermain – main sendiri, bermain jejingkrakan. Berjalan kesana – kemari mendengarkan musik namun sampai bosan pun Woo Jin belum juga kembali.


Woo Jin meninggalkan Da Jung menuju ke sebuah kuil dimana abu seseorang disimpan sepertinya. Dia menatapnya penuh makna.



Malam menjelang, Da Jung masih menanti ditempat tadi. Dia memukul kakinya yang mulai lelah harus menanti dan berdiri seharian.

Woo Jin melewati gang itu juga, ia melihat Da Jung. Meskipun terkejut dengan kekeras kepalaannya, Woo Jin tak mau perduli ataupun kasihan. Ia tetap pergi meninggalkan Da Jung.



Dua pria mabuk melewati Da Jung yang tengah duduk dipinggiran jalan, mereka berdua seperti kucing yang mendapatkan ikan. Keduanya meledek Da Jung lalu menariknya untuk pergi bersama dan menuduh Da Jung tengah menunggu pelanggan. Da Jung meronta – ronta, dia sedang menunggu seseorang.

Woo Jin rupanya belum pergi, dia melongok apa yang terjadi dan memperhatikan apa yang dua pria itu lakukan pada Da Jung. “Mari bermain game duduk dipenjara. Diujung jalan ada kantor polisi.”
“Siapa kau?”

“Aku?” Woo Jin merangkul pundak Da Jung. “orang yang dia tunggu.”

Dengan penuh kekesalan, dua orang tadi terpaksa meninggalkan Da Jung dengan Woo Jin.





Da Jung terdiam sejenak dalam rangkulan Woo Jin, sampai akhirnya ia tersadar dan melepaskan rangkulan tersebut. Dia mengucapkan terimakasih.

“Apa yang kamu lakukan di sini? Apa yang kau lakukan!” bentak Woo Jin. Da Jung tersentak menerima bentakan itu, dia hanya ingin menunggu Woo Jin. Woo Jin heran bagaimana Da Jung bisa tak sadar, seharusnya dia tahu kalau ia dibohongi ketika ada seseorang menyuruhnya menunggu namun tak kembali. “Mengapa menunggu sampai sekarang? Apa kau bodoh?!”

“Jadi ketika kau memintaku menunggu kau telah berbohong?”

Woo Jin membenarkan. “Tidak heran kau bisa dimanfaatkan oleh orang lain.”



Mata Da Jung mulai berkaca – kaca, Apa dia salah? Apa disalah ketika menunggu saat seseorang memintanya menunggu? Apa salah ketika seseorang percaya pada orang lain?

Woo Jin tertegun mendengar ucapan Da Jung. Ia menatap manik mata Da Jung dalam.



[FLASHBACK]

Woo Jin tengah memegang tangan ibunya yang akan terjatuh dari puncak gedung. Ia menangis menahan tangan ibunya, dengan sekuat tenaga ia mencoba menahan tangan itu. Woo Jin menangis dan meminta ibunya agar jangan pergi. Ibu meminta maaf.

“Kenapa kau merasa bersalah?” tanya Woo Jin sudah tak bisa menahan tangisnya.

“Ini semua salahku. Aku tak tahu kau berjuang begitu banyak. Tentang waktu itu, aku masih belum mengerti, apakah salah ketika seseorang percaya orang lain?” ucap ibu Woo Jin. Itulah kata – kata terakhirnya sebelum ia terjatuh dari ketinggian gedung. Woo Jin sudah tak bisa menahan tangan ibunya lagi, yang tersisa hanyalah gelang hitam yang sekarang berada dalam genggamannya.



[FLASHBACK END]

Tatapan tajam Woo Jin semakin melunak seiring Da Jung yang menatapnya dengan penuh harap. Da Jung mencoba menjelaskan apa yang terjadi namun Woo Jin memotongnya karena dia sudah tahu. Da Jung meminta bantuan Woo Jin untuk mendapatkan uang itu kembali, dia akan memberikan kompensasi kalau Woo Jin mau.

“Apa kau tahu siapa yang kau mintai bantuan? Kau meminta seorang tahanan dibebaskan dari penjara hari ini untuk mengambil uang orang lain. Dan pergi pada acara TV.”




Da Jung menahan tangan Woo Jin  dengan penuh harap, dia begitu memohon namun Woo Jin telah berkeras tak akan membantu. Dia tak mau membantu idiot seperti Da Jung.

Ucapan Woo Jin benar – benar menohok perasaan Da Jung, tanpa permohonan lagi ia menunduk dan pergi meraih tasnya. Tanpa ia sadari, kontrak peserta liar Game tertinggal dan Woo Jin memungut kontrak tersebut.

Dikamar, Woo Jin kembali mengecek isi kontrak peserta Liar Game. Beberapa poin didalamnya membuat kening Woo Jin berkerut dan mempertajam penglihatannya. Ada yang salah dalam kontrak itu hingga ia pun menghembuskan nafas tak percaya.



Da Jung menantikan kehadiran Guru Jung Bum didepan pintu namun Guru malah menghindar dan tak mau menemuinya. Da Jung meminta alasan gurunya bersikap demikian padanya. Guru Jung Bum jujur karena semua ini dalam game, dia tak perlu bersikap baik didalamnya.


“Sebagai aturan, Kau mendapatkan imbalan 20% dari uang yang kau temukan dan dilaporkan. Aku melihat telepon di dalam tas, jadi aku menelepon. Aku pikir aku akan pergi dengan mendapat setidaknya beberapa ribu dolar. Tapi coba tebak? $ 500K digulung tepat ke tanganku.” Jelas Guru Jung Bum.

“Kalau begitu, kenapa sebelumnya ada mengembalikan uangnya?”

Jung Bum menghela nafas menghadapi sikap Da Jung yang polos banget. Mereka itu berada dalam sebuah game, kalau orang yang bermain didalamnya seperti Da Jung semua. Mungkin dia bisa meraih hadiah utama. Tawanya pun pecah meninggalkan Da Jung.



Da Jung diam tak bisa berkutik karena gurunya saja bisa termakan akan godaan uang. Sosok guru yang baik baginya malah mengkhianati dia.


Dal Goo masuk keruangannya, Seseorang telah menantinya. “Apa yang telah kau lakukan?”

Dal Goo atas nama Da Jung meminta maaf, namun masih ada kesempatan untuk menang kok. Pria bergumam ambigu, ciuman perpisahan untuk hadiahnya.

“Maksud anda.. apa... apa?” Dal Goo menghampiri pria tadi.

“Apa kau tak tahu? Semua kerditur tau tentang acara itu.” Ucapnya. Dal Goo merutuki sikap Da Jung yang super idiot.




Da Jung berjalan pulang dengan lemas, ia terkejut melihat banyaknya orang yang berada didepan rumahnya. Mereka memastikan kalau Da Jung memanglah anak dari seorang yang meminjam uang pada mereka. Mereka merubungi Da Jung, mereka seperti demo dan menuntut mendapatkan uang yang pertama kali saat Da Jung menerima hadiah.


Da Jung kebingungan saat tangannya dipaksa untuk men –cap sebuah dokumen perjanjian.

Seseorang datang meraih tangan Da Jung dan membawanya berlalu, orang – orang kesal dengan sikap pria yang berlaku tak sopan itu. Yap. Woo Jin lah yang menyelamatkan Da Jung. Siapa kau? Beraninya, tanpa izin!!



“Dia milikku.” Ucap Woo Jin membuat Da Jung terbelalak. “Apa mereka ingin mendapatkan uang? Apa gunanya menggunakan kertas dengan cap –nya. aku membawa kontrak resmi dengan perangko dan stampel dari notaris. Orang – orang di stasiun cukup ketat dalam meng –klaim hadiah. Pastikan anda mendapat konfirmasi atau gadis ini akan menuntut anda karena koleksi ilegal. Dia terlihat polos tapi dia sangat kejam dan manipulatif.”

Orang – orang berbalik meminta kontrak pada kameramen yang disana namun mereka hanya kebingungan dan menatap Woo Jin penuh tanda tanya. Kreditur pun juga menoleh pada keduanya. Woo Jin bohong. Dia menarik Da Jung untuk mengajaknya lari.



*****




0 Response to "Sinopsis Liar Game Episode 2 – 1"

Post a Comment

Jangan lupa komentar yaah^^ biar aku lebih semangat dalam membuat postingan. Meskipun jarang bales tapi semua komentar selalu aku baca kok.. *serius*

Gomawo^^