Sinopsis Iron Man Episode 9 – 2

Sinopsis Iron Man Episode 9 – 2
Hong Bin keluar dari kamarnya, dia sudah rapi. Dia menanyakan tentang ponselnya pada Sekretaris Ko, apa ponselnya sudah ketemu. Sekretaris Ko bingung bagaimana menjelaskannya, dia mengalihkan pembicaraan dengan bertanya kemana Hong Bin akan pergi. Hong Bin akan pergi ke kantor, Sekretaris Ko heran karena hari ini hari Minggu maka semua orang libur.

Dengan seenaknya, Hong Bin harus menghubungi mereka agar tetap berangkat. Sekretaris Ko tak bisa melakukan apapun selain meng –iya –kan perintah itu. Chang juga sudah rapi, dia bertanya pada Hong Bin. Dimana Se Dong noona?

Hong Bin pun Cuma mengernyit mendengar pertanyaan Chang.



Hong Bin segera meraih telefon untuk menghubungi Se Dong. Namun seseorang yang mengangkat telfon tersebut adalah seorang pria. Hong Bin heran, siapa kau?

“Kaunya yang siapa?” tanyanya.


Rupanya, anak anak sedang berada dirumah Se Dong semua. Mereka sibuk untuk merawat Se Dong yang tak enak badan. Sehingga Seung Hwan juga disana, ia mengangkat telfon dari Hong Bin lalu menyuruhnya untuk memberitahukan namanya terlebih dulu. Seperti itulah biasanya kalau ada orang yang menelfon.

Se Dong berbisik menanyakan siapa yang menelfon. Seung Hwan juga tak tahu karena namanya tak tersimpan. Se Dong pun meminta ponselnya.

“Kau sedang bersama siapa sekarang?!!” bentak Hong Bin dan Se Dong pun langsung bisa menebak siapa yang menelfonnya.



Anak – anak pun bersiap untuk pergi, Seung Hwan menghalangi Se Dong untuk pergi karena kondisi tubuhnya yang masih belum fit. Se Dong berkeras, Chang bisa menangis sepanjang hari kalau dia tak mau.

“Kau sedang bersama siapa sekarang? Aku bisa menyusunnya saat pulang nanti. Terima kasih, Seung Hwan.”

Disaat Seung Hwan tengah kesal, giliran Oh Joon sik menelfon apalagi memanggil Seung Hwan dengan sebutan Hippo. Jelas saja, Seung Hwan membentak mereka. Oh Joon Sik mengajak Seung Hwan untuk datang kesana sendirian tanpa anggota timnya. Mereka punya taruhan yang menarik hari ini. Oh Joon Sik dan kawannya pun cekikikan.

“Kalian tunggu saja. Kau di mana? Tunggu aku di sana. Akan kuhabisi kalian hari ini. Hari ini akan menjadi hari kalian yang terakhir.” Ucap Seung Hwan berapi – api membuat Joon Sik dan kawannya semakin cekikikan.



Se Dong sudah dijemput oleh Sekretaris Ko, dia terkejut ketika melihat didalam mobil tak ada siapa – siapa. Sekretaris Ko menjelaskan kalau Hong Bin sudah berangkat terlebih dahulu.


Hong Joo harus belajar seharian, dia yang bosan mengirim Se Dong pesan singkat.  Dia bertanya Se Dong ada dimana? Dia sudah pindah? Apa ada yang bisa dia bantu?

Sudah. Kau baik-baik saja?” balas Se Dong.

Kau bilang, mau meneraktirku burger? Tak bisa hari ini saja?

Jangan pernah berpikir untuk bunuh diri. Aku mohon.

Kalian salah paham. Kau dimana sekarang? Aku mau ke rumahmu

Aku mau ke Magic Land. Aku mungkin akan main viking seharian ini. Lain kali saja aku teraktir.



Seseorang mendekati kamarnya, sigap Hong Joo menyembunyikan ponselnya dalam laci. Jang Won lah yang rupanya melihat keadaan Hong Joo. Ia mengintip dari bibir pintu, ia ingin masuk tapi urung ketika melihat Hong Joo tengah belajar dengan rajin.

Tapi namanya Hong Joo, setelah ayahnya pergi ia pun kembali memainkan ponselnya.

Se Dong berjalan sendirian menuju ke taman hiburan, dia diberitahu oleh Sekretaris Ko kalau Hong Bin menyuruhnya untuk menunggu didepan korsel.


Daaan, ternyata Chang tak akan ikut dalam liburan kali ini. Sopir Jo malah mengantarkan Chang menuju ke tempat kakek – neneknya. Chang lebih suka bertemu dengan kakek – neneknya dibandingkan dengan taman hiburan.

“Ini adalah hari Minggu. Sial.” Umpat Sopir Jo.

Sial itu apa?” tanya Chang polos.

“Kata itu digunakan saat aku sedang bahagia. Sial. Aku juga merindukan cucuku. Sial. Sial.”


Seung Hwan terburu – buru menemui Joon Sik dan berniat menggebrak meja tempatnya duduk tapi tiba – tiba sesuatu melayang. Seung Hwan sontak diam dan mencoba meraih benda tersebut tapi teman Joon Shik lebih dulu dapat meraihnya. Itu adalah sebuah kunci, teman Joon Shik bertanya apa Seung Hwan tahu apa itu?

Romanson Baile?” jawan Seung Hwan masih terbengong – bengong.

Joon Shik datang dan mengambil kunti tersebut dari temannya.


Seung Hwan sudah berada didepan Romanson Baile, dia akan menyentuhnya tapi tangannya bergetar. Seperti mimpi bisa memegang Romanson baile. Namun Joon Shik tak bisa membiarkan Seung Hwan senang, dia menggeplak tangan Seung Hwan dengan kasar.

“Kau mau mencobanya? Kim Seung Hwan. Sesuatu yang seperti apa yang disukai Son Se Dong?”

Seung Hwan ragu untuk menjawabnya namun karena iming – iming kunci Romanson pun membuat Seung Hwan lupa diri. “Hal yang dia suka adalah...”



Sekretaris Ko memberikan amplop pada Se Dong, katanya Se Dong harus membaca pesan itu dulu sebelum dia datang. Se Dong dengan heran membukanya, bukan sesuatu yang spesial tapi hanya surat yang seluruh isinya Cuma. “Se Dong aku minta maaf. Se Dong, aku minta maaf.

Se Dong tersenyum membaca surat tersebut, simpel tapi ngena.



Se Dong menoleh, di komidi putar terdapat beberapa tulisan. Dia tertegun memperhatikan tulisan yang tertempel disana. Tulisan – tulisan itu ucapan permintaan maaf dari Hong Bin dan tak lama muncullah Hong Bin yang sudah mengenakan kostum tikus.

Semua orang yang ada disana berteriak menyemangati Hong Bin dan menyuruh Se Dong untuk memaafkannya. Tapi Se Dong malah bingung apa yang harus ia ekspresikan, dia memilih untuk membalikkan badan.


“Se Dong tak menyukai sesuatu yang berlebihan. Kau tak perlu membuat suprise apapun untuknya. Hal yang paling Se Dong benci di dunia ini adalah menjadi pusat perhatian.”  Tutur Seung Hwan demi kunsi motornya.

Rekan Oh Joon Shik segera mengetikkan pesan, ia memberitahukan kalau surprice untuk Se Dong itu akan buruk. Perwakilan Joo, anda belum melakukannya kan?



Se Dong memilih pergi saat semua orang menatapnya dan meneriakkan agar Se Dong memaafkan Hong Bin. Hong Bin yang masih lawak banget didepan jadi bingung, dia mengejar Se Dong yang memegangi pipinya karena malu.

“Ada apa?” tanya Hong Bin.

Se Dong sudah terlanjur malu, dia tak menjawab dan berlari meninggalkan Hong Bin. Hong Bin kesulitan untuk mengejar Se Dong bahkan sampai terjatuh. Hahaha. Jatuhnya lucu.



Hong Bin berhasil mengejar Se Dong, dia sekali lagi bertanya apa yang terjadi hingga Se Dong seperti itu.
“Aku merasa sedang dipermalukan semua orang.” Jelas Se Dong.

“Kenapa kau menganggapnya begitu? Kau pikir aku melakukan ini hanya untuk mempermalukanmu? Kau tahu, betapa malunya kau tadi?”

“Jadi, kenapa kau melakukannya?” ucap Se Dong lalu kembali berlari meninggalkan Hong Bin sambil menutup wajahnya.



Hong Bin yang kesulitan menggunakan kostum lagi – lagi harus terjatuh. Sekretaris Ko muncul untuk menolong Hong Bin tapi Hong Bin memberikan kode agar Sekretaris Ko menjauh.

“Aku sudah terjatuh 2x hari ini.” Erang Hong Bin.

Se Dong berlari menghampiri Hong Bin, ia panik dibuatnya. Tapi Hong Bin emang lagi modusin Se Dong, dia pun tidur di pangkuan Se Dong.

“Sakitnya. Kakiku sepertinya terkilir. Aku tak bisa berjalan.” Manja Hong Bin.




Se Dong memapah Hong Bin untuk duduk dibangku. Dia panik dan akan mencarikan Sekretaris Ko untuk membantunya. Tapi Hong Bin berteriak tak mau dipanggilkan Sekretaris Ko.

“Hei! Kenapa kau tega sekali meninggalkanku sendiri? Aku kesakitan. Sakitnya.”

“Bagaimana ini? Apakah sakit sekali? Dimana? Pergelangan kakimu?”

Hong Bin menunjukkan kakinya, Se Dong pun ikut kelabakan dan memijat kaki Hong Bin.


Jang Won menyuruh Hong Joo untuk mengatakan apa yang ingin ia katakan. Hong Joo memberitahukan kalau dia tak mau kuliah di Amerika Serikat. Jang Won menegaskan kalau Hong Joo tak akan bisa melanjutkan kuliah disini dengan nilai seperti itu.

“Aku memang tak mau masuk kuliah. Tak peduli seberapa keraspun aku belajar. Aku memang bodoh. Belajar bukanlah minatku. Selama ini aku terus mencoba untuk belajar. Semuanya sia- sia.”

Jang Won mengingatkan kalau belajar bukanlah sebuah hobi tapi seperti layaknya makan dan tidur. Sesuatu yang memang harus dia lakukan dalam hidup. Jika dia menyerah pada titik ini, maka dia akan gagal. Kenapa dia mengatakan sesuatu yang begitu menyedihkan?

“Kenapa kau bisa memutuskan hal ini?” tanya Hong Joo.



Ibu membuka laci Hong Joo dan menemukan ponsel putranya disana. sepertinya dia membaca pesan obrolan Hong Joo.

“Bunuh Diri? Pindah? Apa yang mereka rencanakan?”


Hong Joo tampak begitu frustasi, kenapa harus ayahnya yang memutuskan? Baginya belajar itu tak ada gunanya, tapi kenapa ayahnya memutuskan kalau belajar adalah bagian dalam hidupnya. Dia sudah tak kuat harus terus belajar. Jang Won balik bertanya kalau memang Hong Joo tak mau belajar. Dia mau apa? Dia punya ketrampilan atau bakat yang lain? katakan kalau begitu.

“Jika memang ada, ayah mau mendukungku? Sayangnya, aku tak punya bakat.”

“Kalau begitu, diamlah! Aku tak akan memaksamu untuk masuk kuliah. Pergilah ke AS dan belajar bahasa Inggris.”

“Kau tak membiarkanku untuk menggali bakatku? Jika saja aku menghabiskan waktu dengan hal- hal yang aku inginkan. Aku mungkin saja akan punya bakat. Tapi, apapun yang ingin kulakukan, kau selalu saja melarangnya. Aku sudah tak tahan dengan semua ini lagi.”

Jang Won kesal putranya berani – beraninya menyalahkan ia sekarang. Hong Joo tanya, apakah ayahnya tahu apa yang ia inginkan?

Jang Won dengan seenaknya berkata kalau dia tak pernah mengingat hal yang tak penting. Hong Joo makin sedih, dia juga sudah lupa dengan apa yang ia inginkan. Maka dari itu dia membenci ayahnya. Jang Won tak perduli, dia menyuruh Hong Joo untuk masuk ke kamarnya dan mencari informasi tentang universitas di Amerika.



Se Dong membawakan es untuk mengompres kaki Hong Bin yang terkilir. Hong Bin menyuruhnya untuk menyembuhkan luka yang telah Se Dong buat. Se Dong sendiri tak tahu bagaimana cara melakukannya. Hong Bin Cuma meminta agar Se Dong menarik kembali ucapannya tentang putus kemarin.

Se Dong terdiam tak mau merespon, Hong Bin menarik tubuhnya dan menatap dalam ke kedua mata Se Dong.

“Aku tak akan pernah menghina pensil, sepatu atapun ranselmu. Sendokmu. Piringmu. Kamarmu. Mejamu. Aku tak akan menghinanya lagi. dan aku tak akan memaksamu pindah ke apartemen lagi. maafkan aku. Ini semua salahku.”




Hong Bin membuka lebar lengannya, ia menyuruh Se Dong untuk memeluknya dan menepuk pundaknya. Jelas saja Se Dong malu apalagi sekarang masih pagi dan banyak orang.

“Kalau begitu, kau mau ke tempat yang gelap?”

Se Dong pun tak bisa menolak, ia memeluk Hong Bin dan menepuk lembut pundaknya. Hong Bin seperti biasa memejamkan matanya, meresapi setiap sentuhan hangat Se Dong.



Ibu Hong Joo menuju ke tempat Hong Bin namun para pelayan menatapnya dengan pandangan tak suka. Jelas saja dia marah, untungnya ada pelayan Yoon yang datang menangani ini semua. Dia menegur pelayan agar cepat memberikan hormat namun sepertinya mereka agak malas untuk melakukannya. Pelayan Yoon kemudian menyuruh mereka menyiapkan kopi kesukaan Ibu Hong Joo.

“Sepertinya wanita itu pindah ke sebuah apartment.” Ucap Ibu Hong Joo tapi Pelayan Yoon tak bisa menangkap maksud ucapannya.

“Apartmen atas nama Hong Bin, Tapi, kau pasti tahu, apartment itu milik Hong Joo.”

Pelayan Yoon tak tahu menahu masalah itu, sebagai seorang pelayan mana mungkin ia tahu. Ibu Hong Joo menganggap Pelayan Yoon berpura – pura, dialah yang mengurusi kepemilikan apartemen untuk keperluan pajak. Dan ia telah mengecek –nya, apartemen itu atas nama Pelayan Yoon. Sungguh tak tahu malu, mengklaim sesuatu yang bukan miliknya?




“Aku akan mencari tahu soal apartment ini. Tolong pelankan suara anda, Nyonya.” Tegas Pelayan Yoon mulai kehilangan kesabaran.

Ibu Hong Joo tersenyum sinis mendengar ucapan Pelayan Yoon yang berlagak.

“Jika ini adalah tujuan anda, mari bicara di luar saja. Anda harusnya memberi kabar sebelum anda datang. Jika anda tak mau hal itu terulang lagi di depan pelayan lain.” ingat Pelayan Yoon.


Hong Joo tengah berada didalam bus. Dia akan menuju ke magic land karena Se Dong ada disana.




Hong Bin bersama dengan Se Dong, dia penasaran dengan pria yang mengangkat telfonnya. Se Dong memberitahukan kalau itu Seung Hwan. Hong Bin heran, kenapa Se Dong tak mengangkat telfonnya sendiri?

“Aku tidur tadi.”

Hong Bin terkejut, bagaimana bisa Se Dong tidur dihadapan pria. bagi Se Dong, dia bukanlah pria tapi Seung Hwan.

“Jadi, tak apa jika itu dia? Jadi, dia adalah wanita dan bukannya pria?”

“Kami bahkan sekamar mandi saat masih kecil. Ibu kami sering pergi bersama”

“Dia melihat semuanya? Dari atas...sampai...” Hong Bin memegang kedua sisi pipinya. “bawah?”

Se Dong makin meledek dengan berkata kalau Seung Hwan melihat dari atas, bawah, depan belakang. Hong Bin tak terima Seung Hwan sudah melihat semuanya, tak ada lagi yang bisa bersama Se Dong. Sekarang teman Se Dong Cuma dia. Se Dong tak mau, ia mengancam akan putus saja. ia pun pergi meninggalkan Hong Bin.




Se Dong tersenyum ketika Hong Bin mengejarnya. Ponselnya berdering, ia pun mengangkat panggilannya. Rupanya ibu Hong Joo menelfon Se Dong, dia mengajaknya untuk bertemu.

Hong Bin yang tahu kalau mereka membahas tentang Hong Joo menjauhkan telinganya. Dia melarang Se Dong yang akan menemui Ibu Hong Joo tapi Se Dong tetaplah Se Dong yang keras kepala. Dia akan tetap menemuinya dan menyuruh Hong Bin untuk menunggu.




Hong Bin mencari – cari ponselnya namun tak ada. “KO JA KYUNG!!”

Sekretaris Ko muncul dengan menyodorkan ponselnya pada Hong Bin. Hong Bin segera menghubungi Hong Joo, bagaimana bisa Hong Joo membiarkan ibunya menemui Se Dong?

“Kau tahu ibuku seperti apa, 'kan? Dia pasti berpikir bahwa nilaiku jelek karena Se Dong.”

Sekretaris Ko memberitahukan kalau dia tadi melihat Ibu Hong Joo didepan rumah berhantu. Hong Bin makin kesal karena Sekretarsis Ko baru memberitahukannya sekarang.



Se Dong sudah sampai, Ibu Hong Joo mencocokkan wajah Se Dong dengan foto yang ada diponselnya. Memang benar dan ia segera menghampiri Se Dong lalu menamparnya. Orang – orang yang ada disekitar mereka penasaran, mereka merubung penasaran dengan apa yang terjadi.

“Kau butuh berapa banyak? Kau mau berapa hingga kau selalu merayu anakku?”

Sekretaris Ko datang dan berdiri diantara keduanya, Ibu Hong Joo makin kesal sehingga menampar Sekretaris Ko juga. Ibu Hong Joo masih mencak – mencak dihadapan Se Dong bahkan kembali menamparnya.





Hong Bin muncul, tatapannya tajamnya terarah pada Ibu Hong Joo. Suasana mendung dan awan pun bergumul seperti akan hujan. Kemarahannya membuncah dan pisau – pisau mulai muncul di punggungnya.
Akankah semua orang akan melihat ini?


****




3 Responses to "Sinopsis Iron Man Episode 9 – 2"

  1. pacaran hong bin ama se dong norak..
    tapi lucu
    bikin iri
    bikin senyum" dan mual dalam waktu bersamaan

    ReplyDelete
  2. Ibunya Hong Jo itu ibu tirinya Hong Bin tah :/ aku ga ngeh :/

    ReplyDelete
  3. Thanks kk buat ep 9 na
    Tp kpn kluar ep 10 na kk dh gk sbr ni ...

    ReplyDelete

Jangan lupa komentar yaah^^ biar aku lebih semangat dalam membuat postingan. Meskipun jarang bales tapi semua komentar selalu aku baca kok.. *serius*

Gomawo^^