Sinopsis Iron Man Episode 7 – 2

Sinopsis Iron Man Episode 7 – 2
Hong Bin menutup mata Se Dong dan menggunakan kekuatannya untuk menarik gerobak sampah. Dia melempar gerobak tersebut dan ajaib, gerobaknya bisa jatuh tepat di tempat si pemulung berada. Sedangkan Hong Bin menarik Se Dong, ia memeluknya supaya tak melihat apa yang telah ia lakukan.




Hong Bin terpejam menikmati pelukannya dengan Se Dong, Se Dong pun sama namun ia terpejam karena ketakutan. Hong Bin tiba – tiba membuka matanya dan dengan kesal segera melepas pelukannya pada Se Dong.

“Kau mau bunuh diri, ya? Kau harus menghindarinya, kenapa malah mau menahannya?”

Se Dong rupanya khawatir kalau sampai ada orang yang terluka jika ia menghindar dari gerobak itu. Hong Bin pun cengo, apa?

“Apa yang ingin katakan padaku?” tanya Se Dong.




Hong Bin membawa Se Dong ke rumahnya dan memberikan di amplop. Se Dong bertanya untuk apa amplop itu? Hong Bin menyuruh Se Dong untuk mengantarkan amplop tersebut ke rumah orang tua Tae Hee karena dia telah merusak rumahnya. Se Dong terdiam, kenapa Hong Bin tak mengantarkannya sendiri?

“Mereka menyukaimu, dan aku hanyalah pegawai TV kabel.”

Se Dong berkata kalau orang tua Tae Hee pasti akan lebih senang kalau Hong Bin sendiri yang mengantarkannya.  Hong Bin jadi kesal dengan Se Dong yang tak mematuhi perintahnya.

“Jika aku yang pergi, amplop ini tersampaikan. Tapi, tidak dengan ketulusanmu.” Jawab Se Dong membuat Hong Bin tertegun. “Mereka tak akan pernah tahu hatimu yang tulus itu. Kau yang pergi.”



Se Dong mengembalikan amplop tersebut, dia memberitahukan kalau orang tua Tae Hee ada dirumahnya saat ini. Ibu sangat merindukan Tae Hee, Ayah memintanya untuk tak mengatakan pada Hong Bin dan mereka akan kembali hari ini. Sebelum mereka pergi, Se Dong ingin mengatarkan mereka kerumah Hong Bin. Maka perintahkanlah Sekretaris Ko untuk menjemput mereka.

Hong Bin mendengar perkataan Se Dong dan menatapnya dalam, “Kau, kau makhluk darimana? Son Se Dong?”




Hong Bin menemui Chang sesuai yang disarankan Se Dong, ia bertanya apa yang sebenarnya ingin Chang katakan padanya saat di taman hiburan. Chang diam, dia masih menonton TV. Hong Bin pun mematikan TVnya dan kembali mengulang pertanyaan tadi.

“Aku mau pergi jalan- jalan bersama karena takut sendirian.” Jawab Chang dengan wajah datar, raut ketakutannya sudah lebih berkurang sekarang.

“Kemana?”

“Viking.”

“Dengan siapa?”

Chang dengan takut – takut menunjuk Hong Bin. Sejenak Hong Bin tertegun, dia kembali menegaskan apakah benar Chang ingin pergi pergi dengannya. Kenapa?

Chang mengangguk, “Karena Viking sangat menakutkan.”



Hong Bin tanya apakah Chang tak takut pergi viking dengannya? Chang pun mengangguk. Hong Bin kemudian memberitahukan kalau Kakek dan Neneknya akan kesini. Mereka akan dijemput oleh Se Dong.

Seketika Chang bangkit dengan girang. Hong Bin tanya, Chang mau kemana?

Dia ingin menemui mereka. Chang pun bergegas pergi, sedangkan Hong Bin masih berada ditempat sambil menyunggingkan senyum tipisnya.



Chang berlari menuruni tangga, Pelayan Yoon yang melihatnya begitu menasehati agar Tuan Muda pelan – pelan. Memangnya dia mau kemana?

Chang memberitahukan kalau Kakek neneknya akan kesana, Se Dong yang menjemput mereka. Pelayan Yoon terdiam dan tampaklah wajah yang tak bersahabat darinya.



Jang Won dalam perjalanan menuju suatu tempat, ia terngiang perkataan Pelayan Yoon yang memberitahukan kalau Son Se Dong telah membawa Kakek Nenek Chang kesana. Pelayan Yoon mengingatkan kalau mungkin saja Jang Won bisa kehilangan cucunya.


Orang tua Tae Hee sudah dalam perjalanan bersama dengan Se Dong dan Sekretaris Ko. Sekretaris Ko sepertinya masih terus terpikir kejadian beberapa tahun lampau saat ia mengantarkan Ayah Tae Hee ke stasiun. Ada rasa kekhawatiran tersendiri untuk Sekretaris Ko meskipun dia tak tahu, apakah Ayah Tae Hee mengingatnya juga.



Dipersimpangan, Sebuah mobil melintas dan menghalangi mobil yang ditumpangi oleh Orang tua Tae Hee. Mobil pun terhenti, pelakunya tak lain adalah Jang Won yang segera berjalan kearah mereka. Se Dong yang melihat situasi tegang diluar menggenggam tangan Ibu Tae Hee memberikan ketenangan.

“Pulanglah. Beraninya kau datang ke sini?” marah Jang Won.

Se Dong tak bisa berdiam diri didalam mobil, Sekretaris Ko berbisik pada Se Dong kalau pria yang itu adalah Ayah Perwakilan Joo Hong Bin. Se Dong mengerti, dia menyapa Jang Won dan memberitahukan kalau dia akan mengantarkan mereka menemui Chang.





“Aku datang ke sini untuk bertemu dengan cucuku.” Tegas Ayah Tae Hee. “Karena seseorang, dia hampir tak bisa melihat dunia. Dan saat dia sudah tumbuh, dia hampir direbut dari ibunya. Tapi, dia sudah sebesar ini, dan memanggilku Kakek. Suaranya terus berdenging di telingaku. Aku datang karena aku sangat merindukannya. Jadi, jangan halangi kami, ayah Hong Bin.”

Jang Won juga tak mau kehilangan kesempatan untuk merebut hati Chang, demi kesempatan ini ia rela dihina oleh anaknya sendiri. dia harus ingat, ia tak akan diam untuk seseorang yang menghalanginya.



“Kakek... Kakek...” teriak Chang kegirangan. Jelas saja Jang Won dan Ayah Tae Hee menoleh, namun pelukan Chang jatuh pada Ayah Tae Hee. Ayah pun memeluk cucunya dengan lembut, menghilangkan rasa rindunya yang sudah lama tertahan.

Sedangkan Jang Won, dia hanya bisa menatap. Entah itu raut sedih akan kekalahan, sedih tak dianggap atau bahkan raut iri. Yang jelas ada gurat kesedihan disana.



Hong Bin rupanya juga mengikuti Chang, kemunculan Hong Bin membuat Jang Won memilih untuk pergi. Hong Bin memanggilnya, “Apakah kau ke sini untuk menjauhkan Chang, sama seperti yang dulu?”

“Kau bisa merebut Chang dari Tae Hee. Kau bisa merebut Chang, yang satu- satunya dimiliki Tae Hee. Kau bisa menyewa genster untuk memukuli wanita yang lemah. Aku mendapatkan hukuman sebagai ganti kesalahanmu. Jadi, tolong hentikan semuanya. Bahkan jika kau masih memiliki rencana busuk lain, tolong jangan. Jangan muncul di hadapanku dan Chang. Aku terlalu berbahaya. Aku terlalu bahaya hingga tak bisa kau bayangkan. Pulanglah sekarang. Cepat.”

Jang Won menolah, jangan anggap dia akan menyerah begitu saja. dia kemudian memasuki mobilnya untuk pergi.




Hong Bin terbawa akan emosinya, ia menggerakkan lehernya yang mulai kaku. Namun tiba – tiba Se Dong berteriak, ibu telah menghilang.

Hong Bin tersadar dari lamunannya, dia menolah mendengar teriakan Se Dong.


Disisi lain, Ibu yang tak tahu arah dan memang sudah agak ada gangguan mental kayaknya. Dia menaiki tangga menuju ke sebuah tempat.


Ayah membopong Chang meskipun pikirannya sudah tak disana lagi. dia khawatir menantikan kabar dari Hong Bin dan Se Dong.



Sampai malam, Hong Bin dan Se Dong masih mencari keberadaan Ibu namun masih nihil.

“Perwakilan Joo... Tempat itu sering ibu bicarakan...” ucap Se Dong menebak – nebak.


Keduanya menuju kesebuah tempat, itu adalah sebuah toko mainan kecil. Hong Bin mencoba membuka pintunya namun terkunci.

“Ibu..” teriak Se Dong ketika menemukan ibu tengah terduduk dipinggir jalan tanpa alas kaki. Hong Bin pun menoleh, dia menatap ibu dengan pandangan miris. Seorang diri duduk ditepi jalan membuatnya terigat akan masa lalu.




Hong Bin kecil berlari menuju ke toko mainan Ayah Tae Hee, dia kesana untuk menitipkan mainan Thunderbird karena ayahnya tak mengizinkan ia memainkan itu. Dengan senang hati Ayah Tae Hee mau menyimpankan mainan tersebut.

Tae Hee kecil muncul dan ia memperbolehkan Hong Bin menyimpannya disana.

“Kau bisa merakitnya di sini, dan bermain di sini. Kau bisa menitipnya di sini, dan besoknya bermain di sini. Dan datang lagi esoknya. Datanglah bermain.”

Hong Bin pun girang dibuatnya.


Menginjak remaja, keduanya semakin akrab dan sering mengerjakan PR bersama. Apalagi Tae Hee lebih tua, sehingga dia bisa mengajarkan Hong Bin. Dan kebiasaan menghirup aroma seseorang memang sudah ada semenjak dulu. Bukannya memperhatikan apa yang Tae Hee terangkan, Hong Bin malah menghirupi aroma Tae Hee dan sesekali menatapnya dengan berbunga – bunga.

Tae Hee yang menyadari Hong Bin mendekatinya, ia pun memukul kepala Hong Bin dengan penggaris. Tak kapok, Hong Bin kembali melakukannya. Tae Hee bersiap memukul kepala Hong Bin namun Hong Bin menahan tangan Tae Hee. Dengan cepat, ia pun mengecup pipi Tae Hee.

Keduanya pun tersipu malu karena hal itu.



Se Dong mendekati ibu, namun ibu menoleh dan melihat ada Hong Bin. Ibu mendekati Hong Bin kemudian memegang lembut tangannya.

“Tae Hee –ku, Ikhlaskan dia sekarang. Biarkan Tae Hee tidur dengan tenang sekarang. Ikhlaskan dia.” ucap Ibu penuh ketulusan dan kelembutan. Pandangan Hong Bin berubah sendu mendengar ucapan ibu.





Hong Bin menggendong Ibu pulang ke rumah.


Malam harinya, Ayah terbangun dengan khawatir. Mungkin dia berfikir kalau ibu belum kembali tapi sekarang Ibu sudah tertidur pulas bersama dengan Chang. Kakek dengan sedih mengusap rambut Chang penuh kasih sayang.

Hong Bin yang tengah melongok tempat itu melihat Ayah mengusap rambut Chang.


Hong Bin menenangkan dirinya di luar rumah, Se Dong yang juga belum tertidur menghampirinya. Dia menyuruh Hong Bin untuk masuk kerumah karena udara diluar semakin dingin. Hong Bin diam, dia tak mau. Dia tak mau kembali ke tempat itu (Toko mainan) karena itu sangat menyakitkan.

Se Dong perlahan mendekati Hong Bin yang masih memungginya, dia menepuk pelan pundah Hong Bin untuk memberikan sedikit ketenangan. Hong Bin pun berbalik, perlahan ia mendekat pada Se Dong. Seolah akan menciumnya, namun rupanya ia hanya meletakkan lehernya di pundah Se Dong. Mencari sedikit kekuatan disana.








Hong Bin bersama dengan Chang, dia membuka sesuatu yang dibawa oleh Ibu. Disana ada pakaian dan foto Tae Hee yang tengah tersenyum dengan cantiknya. Mungkin sebagai tanda pelepasan, Hong Bin membakar pakaian dan foto Tae Hee.

Suasana hening tercipta. Hong Bin menyuruh Chang untuk mengucapkan kata perpisahan.

“Selamat tinggal, ibu.”

“Selamat tinggal, Tae Hee –ah.”




****
Hong Bin duduk layaknya boss besar, dia heran kenapa hari ini tampak sunyi dan tak ada bilah. Sekretaris Ko menjelaskan kalau hal itu terjadi apabila Hong Bin marah ataupun ada hujan. Hong Bin percaya diri lalu meraih gelas dimejanya. Dia yakin kalaupun tak hujan ia bisa memecahkan gelas tersebut, namun sekuat apapun dia mencoba gelas tersebut tak mau pecah.

“Atau seperti ini...” ucapnya seraya memukul meja kuat – kuat. Bukannya hancur, malah tangannya sendiri yang sakit. Sekretaris Ko tak bisa menahan senyumnya melihat tingkah konyol bin ajaib sang boss. Hahaha.
Hong Bin tak terima dan menampar Sekretaris Ko dengan tangannya yang sakit.





Hong Bin bosan dan berjalan mondar – mandir dilobi kantor. Ia kemudian pergi ke ruang kerja Se Dong dan kawan – kawannya, dia mencari – cari seseorang namun tak bisa menemukannya.

“Perwakilan Joo, apa anda mencari Nona Son Se Dong?”

Hong Bin mengelak tapi pada akhirnya penasaran juga, dimana dia?

“Dia tengah berada direstauran bersama dengan Hong Joo.”

Mendengar nama Hong Joo membuat Hong Bin terkejut, siapa?!



Se Dong tengah bersama dengan Hong Joo di restauran, Hong Joo berkata kalau Se Dong kenapa senang melihatnya gagal ujian? Se Dong tak seperti itu lagipula seharusnya dia belajar bukannya disini. Hong Joo bertanya tenang ongkos bis yang pernah ia bayarkan untuk Se Dong?

“Bukankah makanan ini lebih mahal dari ongkos bus? Makanlah cepat, dan pergilah belajar. Aku sibuk.”

Hong Joo meraih ponselnya, Se Dong menebak kalau dia adalah anak yang aktiv di sosmed. Ia pun menyuruh Hong Joo untuk mengambil fotonya yang bagus.



Hong Joo dengan wajah pasrah berkata kalau kemungkinan makanan ini adalah makanan terakhir untuknya. Se Dong pensaran akan sosok ayah Hong Joo, apa dia sangat menakutkan?

“Dia orang yang horor.” Jawabnya. “Jika kau mau pacara denganku. Aku masih punya harapan hidup.”tuturnya memelas.

Se Dong menjitak kepala Hong Joo yang berkata ngelantur. Hong Joo menegaskan kalau ia serius, Se Dong kembali menjitak kepala Hong Joo. Hong Joo kesal, bisa – bisa dia akan semakin bodoh.

“Kau tak akan tambah bodoh.”

“Memang benar...” jawab Hong Joo sekenanya tapi membuat Se Dong tertawa.


Diluar ada sosok yang tengah memperhatikan ke-akraban Hong Joo dan Se Dong. Siapa lagi kalau bukan Hong Bin, dia kesal dengan Se Dong yang bisa tertawa lantang didepan Hong Joo.

Hong Bin memutuskan untuk pergi.


Tak berselang lama, ponsel Se Dong bergetar menerima pesan dari Seung Hwan yang memberitahukan kalau ada rapat mendadak. Se Dong bergegas pamit pada Hong Joo, dia menyuruhnya agar makan yang banyak. Ia akan mentraktir burger lain waktu.

“Kau sungguh mau kembali? Mungkin, aku tak akan punya waktu lagi.” ucap Hong Joo tak ikhlas.

“Berhenti mengatakan itu. Kau mau aku marah? Cepat makan.” Perintah Se Dong seraya pergi meninggalkannya.

Se Dong kembali ke kantor, dia bertanya pada rekannya yang sibuk menyiapkan bahan presentasi. Seung Hwan menjelaskan dengan panik kalau Perwakilan Joo tiba – tiba menyuruh mereka untuk mempresentasikan monstro didepan seluruh karyawan.

“Sekarang? Sekarang juga?” tanya Se Dong terkejut.


Seung Hwan mulai melakukan presentasi, tapi karena tanpa persiapan dia terkadang tergagap ketika harus menjelaskan. Sedangkan Hong Bin, dia malah tak bisa berkosentrasi dengan apa yang disampaikan oleh Seung Hwan. Sesekali dia menengok kearah Se Dong yang duduk disamping belakangnya. Ia pun memutuskan untuk mengirim pesan pada Se Dong.

Kenapa kau selalu cuek padaku?

Kapan aku cuek?” Se Dong tanya balik.

Kau mempermainkan aku yah?

Kenapa kau bilang begitu?

Kau memelukku dua kali dan membuatku menangis sekali. Kau mempermainkan aku yah?

Se Dong tertegun tak membalas pesan Hong Bin, mungkin dia agak bingung maksud Hong Bin. Hong Bin menoleh dan menatap tajam Se Dong, ia pun kembali mengirim pesan. Kau pencuri emas yah?




Se Dong sontak berdiri setelah membaca pesan terakhir Hong Bin hingga membuat semua orang menatapnya heran. Hong Bin tersenyum karena telah membuat Se Dong terpancing emosi, ia meminta lampu ruang presentasi dinyalakan. Hong Bin menunjuk Seung Hwan dan memintanya untuk menunjukkan tampilan gamenya. Apa yang akan ia tunjukkan dari game tersebut?

Seung Hwan menjelaskan dengan tergagap. Hong Bin menyuruhnya untuk diam, itu tak bisa dikatakan sebagai game melainkan sampah. Dia memperkerjakan Seung Hwan bukanlah untuk mendongeng, dasar tak berguna.

Hong Bin kemudian menoleh dan menatap pada rekan – rekan Se Dong yang lain. “Itulah kenapa kau bisa ada di sini karena kau mengekor pada wanita. Dasar tak berguna! Menghilang dari pandanganku, kalian semua!”





Hong Bin bergegas pergi, saat berbalik dia bisa tersenyum dengan puas – sepuas puasnya. Mungkin dia berfikir telah mampu menunjukkan pada Se Dong kalau dialah yang berkuasa. Se Dong harus tunduk padanya, ini loh gue.


Se Dong menanti Hong Bin didepan ruangannya dengan cemas. Saat Hong Bin kembali, Hong Bin berpura – pura so’ cuek dan tak memperhatikan Se Dong. Dia meminta pada Sekretaris Ko agar tak seorang pun mengganggunya meskipun telefon penting.

Sekretaris Ko pun menahan Se Dong yang ingin berbicara dengan Hong Bin. Se Dong memanggil – manggil Hong Bin, dan namanya Hong Bin yah. Dia keluar dengan sikap masih so’ gak perduli meskipun Se Dong masih mengejar – ngejar dia. hahaha. Dalam hati mah udah seneng.




Hong Joo menatap foto Se Dong yang disimpannya dengan tersipu.



Diluar, Ayah dan Ibunya berdebat karena Hong Joo yang tak lulus ujian. Ibu membela Hong Joo dan menyalahkan semua ini pada seluruh tutornya. Dia menyuruh Jang Won untuk memecat saja semua tutor Hong Joo.

Jang Won tak terpengaruh dan berjalan menaiki tangga menuju kamar Hong Joo.

Jang Won kesal sambil membawa kertas ujian putranya, dikamar dia melihat Hong Joo sedang bermain ponsel. Jang Won pun merebutnya, dia menemukan banyak sekali foto Se Dong yang tersimpan dalam ponsel Hong Joo.

Hong Joo mencoba menjelaskan tapi Jang Won sama sekali tak menggubris. Dia meninggalkan kamar dengan membawa ponsel Hong Joo.


Hong Joo mengikuti ayahnya, Jang Won dengan perasaan teramat kesal melempar ponsel Hong Joo keluar rumah. Ibu menyuruh Hong Joo untuk masuk dalam kamar, apa dia mau dipukuli sampai mati?

Hong Joo terdiam, dia menatap ayahnya dengan menahan amarah.


Se Dong menemui Hong Bin di rooftop, dia ingin bertanya sesuatu.

“Perwakilan Joo. Aku hanya mau tahu alasan karena perkataan yang tak adil tadi. Kenapa game kami tak berguna? Para programer dan staf monitoring menilai game ini akan menjadi yang terbaik di pertengahan tahun ini. Dan kenapa kau menyebutku sebagai penggali emas? Apakah aku merayumu dan membawa lari uangmu?”

Hong Bin membenarkan kalau Se Dong telah merayunya. Se Dong terkejut, kapan?

“Kenapa kau bertemu dengan Hong Joo? Kenapa kau bertemu dengan anak itu?”




Se Dong mendesah hampir gila dengan tingkah Hong Bin. Hong Joo membayarkan ongkos busnya, itulah sebabnya..... memangnya kenapa?! Hong Joo kenapa? Aku tak bisa makan dengannya?

Hong Bin makin kuat dengan analisanya, itulah yang penggali emas lakukan. Memeluk pria ini dan tersenyum pada pria lain. Se Dong mulai menitikkan air mata, kapan dia melakukannya?

“Kau yang memelukku. Di Goorae, dan di kebun juga. Bukannya begitu?”

Se Dong tak bisa menahan air matanya lagi, ketulusannya malah dianggap seperti itu. Bukan karena dia ingin memeluk Hong Bin melainkan saat di Goorae, Hong Bin lah yang ketakutan. Ini sangat tak adil ketika Hong Bin mengatainya sebagai penggali emas.




“Itu karena aku menyukaimu... Itu sebabnya aku mememlukmu... Aku kesal karena semuanya terus mengolok- olokku. Dan, aku merasa bersalah karena kau juga ikut digosip karena aku. Aku merasa bersalah, dan tak pantas menemuimu lagi. Dan aku mencoba untuk tak menemui Chang. Aku berusaha untuk bekerja keras. Kau mengejek game kami, dan memanggilku penggali emas. ” luap Se Dong dengan tangisnya.

Sedangkan Hong Bin sedari tadi terus saja terdiam, dia tertegun mendengar pengakuan suka Se Dong. Perlahan ia mendekatkan kepalanya dan mencium lembut bibir Se Dong yang tengah menangis.

 




****
Aku selalu penasaran, kenapa feel dari Se Dong kurang nge –klik saat aku melihatnya. Rupanya semua ini karena pandangan mata Se Dong, entah kenapa ketika aku melihat mata Hong Bin alias Lee Dong Wook. Seolah apa yang ia rasakan tersalur sepenuhnya sama aku nonton, saat dia menangis aku ikut berderai air mata. Saat dia tertawa mampu membuatku tersenyum,

Dan ini tak berlaku untuk Se Dong, pandangan matanya ga ngena dan nyalur ke aku. Hehehe. Tapi aku masih sayang sih sama drama ini, gak tahu kenapa. Suka interaksi Chang sama Hong Binnya. Gak tahu kenapa juga.

Style Hong Bin juga sukaa.

Mianhae agak telah sinopsisnya, kalau banyak tugas suka ketunda. Keke. Semoga ga ada yang bosen baca sinopsis –nya. :D



12 Responses to "Sinopsis Iron Man Episode 7 – 2"

  1. Yeay akhir nya keluar juga Ep 7 part 2 nya setelah bolak/ik buka ini...
    Gomawo eonnie, semangat terus nulis nya.. Fighting!!

    ReplyDelete
  2. Oke, good job
    Ditunggu ep 8 ny...
    Semangat!

    ReplyDelete
  3. IIIH SAMA BNGT ONNI,aku juga ngrasa kurang kenna bngt kalo liat se dong..

    ReplyDelete
  4. pembaca setia selalu hadir meski tak selalu komen

    ReplyDelete
  5. Aku gak bosan kok nunggu episode selanjutnya ... makasih ya jenk ...

    ReplyDelete
  6. wow.. ditunggu ep 8 nya~~~ semangat!!

    ReplyDelete
  7. Aturan minum obat biasanya 3x sehari tapi ist lebih dari 3x sehari utk bolak balik blog ini ngarep update-an terbaru...btw thanks utk episode 7nya ditunggu kelanjutannya...

    ReplyDelete
  8. entah knp aku suka bgt story drama ini. makasih yaaa udh recap. can't wait for episode 8 ! much !

    ReplyDelete
  9. Q setuju banget sama komentar komentar di atas...drama ini bagus, semoga tidak nggantung di endingnya.. semangat buat penulis sinopsis,,,ditunggu terus update nya

    ReplyDelete
  10. Gomawo eonnie...sinopsisnya kereeeeennn...keep fightiiinng eonnie 😊

    ReplyDelete
  11. kalo shin she kyung yg main pasti bgt...kasian ma lead actor-nya...cape acting sendirian.....hahaha...

    tapi masih laku loh shin she kyung.....terakhir main di when a man love a woman aja, udah pengen jitak shin she kyung tuh....

    eh.. taunya main ama dong wook skrg....tepk jidat dah...

    san

    ReplyDelete
  12. Ada yang tau ga aktris yang jadi tae hee waktu dia belajar bareng sama hong bin?
    Kalo ada yg tau komen yaaa...
    Kamsahamnida ~

    ReplyDelete

Jangan lupa komentar yaah^^ biar aku lebih semangat dalam membuat postingan. Meskipun jarang bales tapi semua komentar selalu aku baca kok.. *serius*

Gomawo^^