Sinopsis Iron Man Episode 11 – 2

Sinopsis Iron Man Episode 11 – 2
Hong Bin memohon – mohon agar Se Dong memaafkan ia yang sudah mencak – mencak tadi. Rupanya, Hong Bin tak jadi pergi karena Se Dong kesal pada sikapnya barusan. Se Dong diam tak menanggapi permintaan maaf Hong Bin, dia duduk termenung menyenderkan tubuhnya ke dinding.

Hong Bin berjongkok memohon melalui lubang fentilasi, ia semakin kesal dan mengancam akan menghancurkan lubang fentilasi itu jika Se Dong tetap diam.



Minta maaf lebih tulus lagi.” suara seseorang memberikan saran. Rupanya Seung Hwan yang datang, baginya menyentuh hati Se Dong sangatlah mudah. Hong Bin hanya perlu lebih tulus meminta maaf, ia yakin kalau Perwakilan Joo menangis maka Se Dong akan keluar. Hong Bin mengernyit mendengar saran Seung Hwan.

“Tapi Perwakilan Joo, Jangan terlalu terlihat menyedihkan. Jika terlalu berlebihan di depan Se Dong, Dia bisa tertekan. Jangan membuatnya tertekan Se Dong. Aku tak akan membiarkan itu terjadi.” Ucap Seung Hwan serius lalu menaiki motornya.


 

Hong Bin memanggil Seung Hwan, dia belum mengerti akan membuat Se Dong tertekan karena tampak menyedihkan. Dia sudah lama mendengar kalau Seung Hwan dan Se Dong berteman sejak TK, dia ingin berbicara dengannya.

Hong Bin menyipitkan matanya, dia penasaran apakah benar kalau Seung Hwan menyukai Se Dong? Iya, kan?

Seung Hwan membenarkan dugaan Hong Bin, dia memang sangat menyukai Se Dong bahkan ia sanggup memetikkan bintang untuknya. Ia bahkan selalu mengejar Se Dong. Menyedihkan kan?

“Benarkan? Apa dia tak menerima mu?”


“Kami dulu pacaran.” Jawab Seung Hwan membuat Hong Bin terkejut. “Bukan karena dia menyukaiku, tapi kasihan padaku. Dia tak tahan melihat penderitaan orang lain.”

Hong Bin penasarakan akan penyebab putusnya hubungan mereka. Seung Hwan dengan jujur berkata kalau dia selingkuh tapi bukan karena dia tak mencitai Se Dong. Melainkan ia lelah dengan kenyataan bahwa Se Dong tak menyukainya. Tapi ia bersyukur masih bisa berteman dengan Se Dong. Ia pun juga sudah berjanji pada dirinya sendiri tak akan pernah tampak menyedihkan dihadapan Se Dong.

“Jadi, maksudmu, dia menerimaku karena dia kasihan padaku? Dan membuatnya tertekan?” tanya Hong Bin. Seung Hwan tersenyum, dia mengajak Hong Bin mentraktirnya makan kalau ingin informasi lebih.



Sepulangnya dari bertemu dengan Seung Hwan, Hong Bin tampak sedih. Ia mengingat perkataan Seung Hwan kalau Se Dong menyalahkan dirinya sendiri atas kematian orang tuanya. Dia takut orang terdekatnya akan mati dan merasa dirinya telah gagal menjaga mereka.


Hong Bin melongok keadaan Chang dan mendapati anak itu tengah bermain sendiri dengan asiknya.

Saat dia pertama kali bertemu dengan Chang, Dia mengajaknya pulang bersama hanya karena dia baik?”  Hong Bin mengingat ucapan Seung Hwan tadi.



Chang melihat kehadiran Ayahnya, ia menunjukkan koper besar dan akan memberikannya untuk Se Dong besok. Hong Bin seolah tak ingin membahas mengenai Se Dong, ia bertanya apa yang telah Chang lakukan hari ini?

“Ke dokter Gigi...” jawab Chang. Hong Bin memintanya untuk membuka mulutnya. Ia akan mengecek kondisi giginya. Tak ada yang bolong. Ia kemudian mengucapkan selamat malam pada Chang.


“Gigiku bolong! Sakit.” Ucap Chang membuat Hong Bin yang akan pergi jadi terhenti. Chang membuka mulutnya lebar – lebar dan membiarkan Hong Bin mengeceknya. Memang tak ada yang bolong, hanya Chang tetap meyakinkan dan meletakkan tangan Hong Bin dipipi Chang.

Hong Bin sekarang mengerti akan maksud putranya, ia merasa ingin diperhatikan dan mendapatkan belaian sang Ayah. Matanya berkaca – kaca lalu meminta Chang untuk menutup mulutnya, dia tahu sekarang. Dia mengerti. Hong Bin memeluk Chang dengan erat, ia menangis dalam pelukan putra kecilnya.

Chan menepuk punggung Hong Bin dengan lembut, membuat Hong Bin tenang. Tenang ketika mengingat Se Dong juga pernah memeluknya dan menyalurkan sedikit ketenangan untuk Hong Bin.




****
Sarapan Chang dan Hong Bin memang selalu hambar, tanpa bumbu tawa maupun canda. Hong Bin melirik Chang yang sibur memainkan sumpitnya, ia mungkin belajar menggunakan sumpit seperti kata Jang Won.

Hong Bin memutuskan untuk memberikan suapan pada Chang, Chang sempat tertegun sampai akhirnya membuka mulut menerima suapan itu. Hong Bin melanjutkan dengan suapan – suapan berikutnya.




Sekretaris Ko yang senantiasa berjaga terbelalak melihat Hong Bin sudah mau berinteraksi dengan Chang layaknya Anak – Bapak. Dia tersenyum melihat keduanya mulai bisa sedikit berkomunikasi.


Ketiganya berjalan menaiki tangga dengan saling ekor – mengekori, Hong Bin berjalan dipaling depan memimpin. Ia kemudian menoleh, Sekretaris Ko yang ada ditengah pun ikut menoleh menatap Chang yang berjalan dipaling akhir.

Hong Bin menghampiri Chang, dengan kaku ia meletakkan tangannya dipuncak kepala Chang. “Tunggulah disini, aku akan menjemputmu saat makan siang.”



Hong Bin kembali berjalan memimpin, masih dengan formasi sebelumnya. Ia menoleh lagi, Sekretaris Ko juga melakukan hal yang sama. Hong Bin berjongkok dihadapan Chang mensejajarkan tinggi badannya.

“Tunggulah aku. Aku mau keluar dulu. Kita akan ke rumah Se Dong untuk makan siang.”

“Aku mau mengatakan, Bye~ bye padamu.” Ucap Chang polos.



Hong Bin sudah bersiap dengan stelan jas kotak – kotaknya, namun ada yang kurang. Sesuatu mengganjal dipikiran Hong Bin membuatnya menyapu pandangan di seluruh ruang tamu. Ia berbalik menghadap pada Sekretaris Ko penuh tanda tanya.

Sekretaris Ko mengedikkan bahu tak mengerti lalu tersenyum saat melihat ada Chang yang melongok dibalik tembok. Hong Bin mengikuti arah pandang Sekretaris –nya. ia menemukan Chang yang segera menampakkan diri lalu melambaikan tangan dengan manisnya. “Bye ~ Bye, ayah. Bye ~Bye..” ucapnya dengan riang.

Senyum terkembang dari bibir Hong Bin, sebuah rasa yang mungkin baru pertama kali ia rasakan. Anak yang tiba – tiba muncul dan sekarang posisinya menjadi ayah. Ayah yang sudah diterima oleh sang anak. Ooough, terharu.



Oh Joon Shik dan Kim Seok Goo tengah duduk sambil minum menantikan kehadiran seseorang. Yap, sesuai janji Seung Hwan akan membawakan mereka dua wanita cantik untuk bertemu. Spontan melihat gadis yang dibawa Seung Hwan, mereka kontan berdiri dan menatapnya dengan terpesona.

Seung Hwan mengenalkan keduanya pada gadis tadi, namun dari sorot mata Seung Hwan tampaknya ada hal tersembunyi yang ia rencanakan.



Se Dong berjalan dengan kepayahan membawa dua kantong besar berisi sayuran. Seseorang datang mengejutkannya, itu adalah Hong Jo. Se Dong heran bagaimana Hong Jo tahu dia ada disini?

“Bukannya kau yang memberitahuku? Kau mau pergi berbelanja hari ini.” Ucapnya dengan banmal. Se Dong menyipitkan mata karena Hong Joo berbicara seolah mereka seumuran. Tak mau berbuntut panjang, Hong Jo mengalihkan perhatian dengan membawakan belanjaan Se Dong.

“Bagaimana keadaan ayahmu?”

“Dia akan keluar sore ini.” Jawab Hong Jo sambil lalu namun Se Dong yang notabene dikasari oleh ayah Hong Jo masih bisa tersenyum senang karena hal itu.


Seseorang masuk ke ruang rawat Jang Won, suasana tampak kurang bersahabat diantara keduanya. Meskipun menjenguk namun ada aura sengit diantara mereka. Pria itu merasa tak enak melihat kondisi Jang Won yang memburuk setelah pertemuan keduanya.

Jang Won dengan sinis menyuruhnya untuk pergi. dulu ia memang pernah menghalangi jalannya tapi untuk sekarang meraka tak ada urusan lagi.

“Ya, Tuhan. Kenapa kau bisa sekejam ini? Kau belum memberitahu anakmu? Kudengar, Hong Bin dari Global Games adalah anak dari pria itu. Dia akan melakukan apapun jika anak itu sudah tumbuh dengan baik. Memangnya apa lagi yang lebih baik dari ini? Jika kau tak bisa mengatakannya.” Ucap pria itu setengah berbisik dengan nada mengintimidasi. Jang Won buang muka menghadapinya.



Hong Bin sudah berdiri tepat didepan ruang rawat Jang Won, setengah ragu untuk mengetuk kamar Ayahnya. Sampai Pria yang menjenguk Jang Won tiba – tiba keluar sebelum Hong Bin sempat mengetuknya. Pria tadi merutuki sikap Jang Won yang masih so’ kuat.


Hong Bin masuk ke ruang rawat Jang Won, suasana canggung keduanya memang belum pernah bisa terpecahkan. Hong Bin memecah keheningan membahas mengenai Jang Won yang akan keluar sore nanti. Ia meminta Jang Won untuk tetap sehat dan mengganggu hidupnya. Yah. Gak mau keliatan perduli, tapi intinya sih pengen ayahnya tetep sehat. Tapi bahasanya so’ cuek ngono looh.

“Caci maki saja aku. Tapi, jangan menganggu Se Dong. Aku bisa tahan kau terus mencaciku. Jika ada yang ingin kau katakan, katakan saja padaku. Aku akan melakukan apa pun untukmu. Tapi, Jangan ganggu Se Dong. Aku mohon.” Pintanya dengan sangat.

Ia pun berjalan meninggalkan Ruang Rawat Jang Won. Jang Won menatap kepergian putranya dengan penuh pikiran.



Hong Joo memberitahukan kalau dirinya akan segera pergi setelah menyelesaikan persyaratannya. Dia akan pergi bersama dengan ibunya, ia harus tetap mengontrol sang ibu. Kalau dia tak melakukan itu dan tetap menemui Se Dong mungkin dia akan menyakiti Se Dong lagi.

“Aku berhutang padamu. Kau terluka untuk melindungi ibuku. Lukamu sudah sembuh?” tanya Hong Joo dan dijawab Se Dong dengan senyuman, dia sudah tak apa – apa kok.

Hong Joo sangat merasa bersalah. Ia meminta maaf, ia berjanji akan menjadi kuat dan membuat bangga kedua orang tuanya. “Apa kau bisa menungguku?”



Se Dong mengacak puncak rambut Hong Joo, sudah sangat kentara kalau Se Dong menganggapnya sebagai seorang adik. Ia meraih belanjaan yang dibawakan oleh Hong Joo, dia mengajaknya untuk makan burger sebelum pergi. Se Dong pun kemudian berniat masuk ke rumah.

“Apa kau ditelepon polisi?” tanya Hong Joo membuat Se Dong bingung. “Pelaku di taman itu. Polisi tengah mencarinya.”

Se Dong terpaku mendengar ucapan Hong Joo. Yeah, sepertinya Se Dong sudah sadar dan tahu kalau pelakunya itu Hong Bin. Sepertinya. Cuma dia pura – pura belum sadar kali.


Se Dong mencuci sayuran yang telah dibeli, ponselnya bergetar dan tak lain dari kepolisian Yeoin yang meminta sedikit kesaksian Se Dong.

Disini ditampilkan dengan jelas, Se Dong memunggungi Hong Bin yang hendak melukai Ibu Hong Joo. Ibu Hong Joo yang tertutup Se Dong sama sekali tak melihatnya sedangkan Hong Joo yang berdiri tak jauh dari mereka pun menghindar dan hingga menutupi arah datangnya Hong Bin. Secara garis besar, tak seorang pun diantara mereka bertiga yang melihat kejadian itu secara pasti.

“Hanya itu yang aku lihat.” Ucap Se Dong mengakhiri panggilannya.



Se Dong kedatangan tamu yang tak lain adalah Hong Bin, Chang berlari dan segera menghambur ke arah Hong Bin. “Se Dong-ah.” Hahaha. Serunya tanpa menggunakan sebutan Noona, kontan Hong Bin pun kesal dengan sikap Chang.

Sekretaris Ko berniat langsung meninggalkan mereka namun dicegah oleh Se Dong, ia mengajaknya untuk makan bersama.



Mereka semua makan bersama, Sekretaris Ko yang paling lahap menyantap makanan buatan Se Dong. “Dasar, Dia mungkin pikir aku tak memberimu gaji.” Sindir Hong Bin.

Sekretaris Ko sama sekali tak peka dan terus menyantapnya dengan lahap, makanan buatan Se Dong benar – benar enak. Hong Bin mencoba memberikan tanda dengan menyikut kaki Sekretaris Ko tapi tak mempan. Ia menyuruhnya untuk pergi pun tak mau. Hahaha.




Sekretaris Ko bertanggung jawab membersihkan piring, ia mendengar gelak tawa Chang. Ia melihat dari bibir pintu saat Hong Bin bermain bersama Chang, ia ikut tersenyum keduanya sudah semakin akrab. Sekretaris Ko kembali mencuci piringnya.

Hong Bin tiba – tiba sudah berdiri menyilangkan tangan didepan dada, ia lalu menjentikkan jari agar Sekretaris Ko mendekat. Ia menyuruhnya untuk mengajak Chang bermain diluar. Sontak Sekretaris Ko tersenyum penuh makna memandang majikannya itu.

“Kenapa senyummu begitu? Kenapa? Senyummu tadi mencurigakan sekali.” Kesalnya.

“Bukan apa – apa.”

“Bukan apa – apa, apanya?!”




Ini ayah.” Suara Chang menghentikan perdebatan Hong Bin dan Sekretaris Ko. Keduanya segera menghampiri Chang dan Se Dong yang tengah menatap layap laptop. Rupanya seseorang ada yang merekam saat dimana Hong Bin tengah mengangkat mobil untuk menolong Ibu – Anak kemarin.

“Kau jadi artis sekarang. Kau jadi artis sekarang. Dan lebih dari 5jt komentar.”

Hong Bin terbelalak. Ia membaca beberapa komentar kagum dan candaan yang tertera. Ada yang iseng berkomentar kalau mereka ingin pindah rumah dan minta bantuan Hong Bin. Ada yang memuji ketampanan dan betapa kuatnya dia. dan yang terakhir, ada yang mengenali Hong Bin sebagai Perwakilan Global Games.

Se Dong terkejut karena ada juga yang mengenalinya. Namun Chang sudah senang duluan, ia jejingkrakan dengan senangnya.



Chang berlari keluar rumah meninggalkan yang lain, ia berteriak – teriak senang karena ayahnya begitu hebat. Ia mengitai beberapa anak yang tengah jalan bersama, ia memuji ayahnya yang begitu hebat dan kuat.



Hong Bin menatap tajam Chang, ada rasa haru yang tampak saat Chang mengakui dan bahkan bangga akan dirinya. Chang tersenyum dan melambaikan tangan pada Hong Bin.

Hong Bin berjalan menghampiri Chang, diangkatnya tubuh Chang. Ditatapnya dalam kedua mata hitam Chang, keduanya sama – sama tersenyum lalu mengangguk. Seolah hanya dengan mata mereka, keduanya sudah bisa berbicara.



Hong Bin melempar Chang keudara, dia tersenyum melihat putranya melayang dan membuka lebar lengannya bersiap untuk menangkapnya kembali. Se Dong dan Sekretaris Ko ternganga melihatnya.

Apa yang akan terjadi? Chang jatuh? Atau gimana ini? Apa nyangkut dilangit ke tujuh? Hahaha. Menanti diepisode 12. J



ngomong - ngomong, baju -nya chang dari kemarin keren2 yah. :D diajarin Key kali yah. hahaha. 







1 Response to "Sinopsis Iron Man Episode 11 – 2"

  1. Gomawo eonni, di tunggu eps selanjutnya. Fighting!!

    ReplyDelete

Jangan lupa komentar yaah^^ biar aku lebih semangat dalam membuat postingan. Meskipun jarang bales tapi semua komentar selalu aku baca kok.. *serius*

Gomawo^^