Sinopsis Iron Man Episode 11 – 1

Sinopsis Iron Man Episode 11 – 1
Dimalam yang semakin gelap, Se Dong masih terjaga. Dia beberapa kali membalikkan tubuh mencari posisi yang tepat tapi belum juga bisa membuatnya terlelap.

Ia masih memikirkan bagaimana caranya Hong Bin mengangkat mobil dan dengan hanya menggunakan tangan ia sudah bisa melepas pintu mobil lalu menyelamatkan ibu – anak yang dalam kondisi bahaya.



Suasana kikuk tercipta saat dalam perjalanan, Hong Bin tahu akan Se Dong yang menyimpan berjuta pertanyaan setelah melihat kejadian ia mengangkay mobil. ia mempersilahkan Se Dong untuk bertanya. Ia menyuruhnya untuk bertanya saja, dia sudah siap.

“Chang...” ucap Se Dong menggantungkan ucapannya membuat Hong Bin menanti. “Kalian baru saja bertemu setelah lama berpisah, Kenapa kau tak memeluknya? Apa kau malu karena ada aku? Kau harus memeluknya jika sudah sampai di rumah nanti.”

Hong Bin tertegun. Apakah Se Dong tak melihat apa yang ia lakukan tadi? Dia bahkan tadi tampak sangat terkejut.

Se Dong tertawa tak yakin kalau dia barusan melihat sebuah mobil berdiri vertikal. Mungkin karena sangat terkejut hingga dia berhalusinani dan melihat Hong Bin mengakat mobilnya. Itu kan tidak mungkin. Saat polisi sudah datang, ia jadi lupa akan mengatakan kalau Hong Bin benar – benar kuat.

“Pintu mobilnya pasti terkunci, bagaimana kau bisa membukanya? Dari kejauhan, kau terlihat seperti merobek kertas.” tanya Se Dong.

Hong Bin tersenyum karena berfikir kalau Se Dong benar – benar tak menyadarinya. Dia beralibi kalau pintunya memang sudah terbuka saat ia akan menyelamatkan mereka.

“Aku sangat kuat. Aku keren, 'kan? Apakah hatimu berdebar- debar sekarang?” tanya Hong Bin.

Se Dong yang masih terjaga menenggelamkan wajahnya dalam selimut, ia tersipu malu mengingat pertanyaan Hong Bin padanya. Berkali – kali ia ganti posisi namun tak membuatnya lupa akan ucapan Hong Bin tersebut.

Hong Bin menatap Chang yang terlelap dalam tidurnya.

Hong Bin mengatakan kalau dia telah menampakkan kekuatannya dihadapan Se Dong. Sekretaris Ko terkejut kalau – kalau Hong Bin mengeluarkan bilah dan melakukannya dalam kondisi marah. Hong Bin menukas kalau ia tak dalam keadaan marah, ia hanya menyelamatkan mobil yang akan jatuh ke sungai.

Untung saja Se Dong yang melihatnya, dia bisa membohongi Se Dong yang bodoh. Kalau Chang yang melihat, Hong Bin tak yakin apa yang akan Chang pikirkan.

Hong Bin kemudian menyuruh Sekretaris Ko untuk mempersiapkan TK Chang, Se Dong menyuruhnya karena Chang pasti membutuhkan teman.

“Baiklah. Tapi pak, Ayah anda mengajak anda untuk makan besok. Pelayan Yoon ingin tahu jawaban anda.”

Hong Bin menolak tanpa pikir panjang, selama ia tinggal serumah pun belum pernah makan bersama-nya.

“Perwakilan Joo. Anda harus melatih untuk mengendalikan kemarahan anda. Bahkan jika anda marah, anda harus tetap mengendalikan kekuatan anda. Kita berlatih besok.”

Hong Bin tetaplah pada pendiriannya menolak ajakan ayahnya. Ia memilih meninggalkan Sekretaris Ko yang hanya bisa menghela nafas panjang.

****
Chang tampak murung pagi ini, bahkan ketika pelayan merawat wajahnya. Dia akan pergi ke dokter gigi bersama dengan Pelayan Yoon.

Kehadiran Jang Won disambul oleh Pelayan Yoon dan beberapa pelayan lain di rumah Hong Bin. Mereka segera bubar setelah mendapatkan tanda dari pelayan Yoon, dia akan mengantarkan ke tempat Jang Won menunggu.

Pelayan Yoon mempersilahkan Jang Won untuk duduk, dengan penuh hormat ia memberitahukan bahwa putranya telah berangkat untuk bekerja. Ia telah menyampaikan pesan Jang Won namun Hong Bin tetap memilih untuk bekerja. Seketika, Jang Won bangkit untuk pergi.

“Tuan Muda sudah pulang. Dia sedang mandi. Dia sudah bersiap- siap menemui anda.” Tukas Pelayan Yoon membuat Jang Won kembali terduduk.

Pelayan Yoon beranjak pergi namun ia kembali menoleh, ditatapnya wajah Jang Won penuh kerinduan. Jang Won menoleh pula membuat keduanya saling bertatapan. Pelayan Yoon mengutarakan rasa senangnya bisa kembali melihat Jang Won duduk disana, sudah sangat lama ia tak melihat itu.

“Ambilkan aku koran.” Ucap Jang Won membuat Pelayan Yoon bergegas melaksanakan tugas tersebut.

Pelayan Yoon menuju ke kamarnya, dia melihat pantulan dirinya dicermin. Ia menatap wajahnya dalam. Bukan hanya remaja yang akan memperhatikan penampilan ketika seorang yang ia sukai melihatnya, mungkin Pelayan Yoon juga ingin terlihat menarik dihadapan Jang Won.

Chang makan pagi bersama dengan Jang Won. Dia menggunakan garpu untuk mengambil makanannya.
Jang Won memperingatkan Chang untuk belajar menggunakan sumpit ketika tengah makan.

Chang berjalan mendekati Jang Won, ia menuliskan sesuatu dengan jarinya di lengan Jang Won. 10 Bulan, Hari ke-19. Jang Won tak bisa menangkap maksud dari tulisan Chang, apa itu?

Chang menjelaskan kalau dia sudah belajar menulis angka. Ia pun kemudian kembali duduk untuk kembali melahap santapannya.

“Sepertinya itu tadi adalah tanggal. Itu tanggal apa?” tanya Jang Won kikuk.

Chang mengatakan kalau itu adalah hari ulang tahun Se Dong. Mereka besok akan ke rumah baru Se Dong. Sorot mata yang tadinya cukup bersahabat berubah sebal ketika Chang mengucapkan nama Se Dong.

Se Dong keluar dari rumahnya menuju kantor, Hong Bin diam – diam muncul dan mengagetkan Se Dong. Se Dong terperanjat dibuatnya. Hong Bin menujukkan kartu bus yang dibawanya, ia ingin naik bus dengan Se Dong.

“Aku mau jalan kaki sambil olahraga. 15 menit jalan kaki sudah sampai, kok.” Tolak Se Dong.

Hong Bin berjalan dibelakang Se Dong, dengan kikuk ia mencoba memeluk Se Dong dari belakang. Se Dong melepaskan pelukan Hong Bin namun Hong Bin kembali melakukannya. Ia mengajak Se Dong menuju ke tempat yang gelap.

Se Dong berfikir sejenak, ia malah sekarang mengajak Hong Bin untuk berangkat terpisah saja. takut – takut ada gosip tentang mereka yang tinggal satu atap.

Hong Bin merengek karena apa yang ia lakukan salah terus. Ia menatap Se Dong dingin, mendengarkan ceramahnya yang panjang kali lebar.

“Teleponlah supir Jo dan mengantarmu ke kantor. Aku akan pergi sendirian. Tapi, jika para karyawan menggosipkan kita, Mereka bisa berpikir, timku mendapatkan perlakuan khusus darimu. Dan jika hasil kerja kami jelek, Mereka akan mengatakan kami hanya mengandalkan perlakuanmu saja.” celoteh Se Dong membeberkan kekhawatirannya.


Hong Bin diam. Dia meraih tangan Se Dong lalu meletakkan diatas tangannya, ia menautkan satu persatu jari Se Dong dengannya. Dia tak perduli dengan apapun itu, dia mengajak Se Dong pergi. dia akan membunuh mereka semua kalau hal itu benar – benar terjadi.

Suasana kantin kali ini diliputi kegalauan, kekeke. Apalagi pada kubu tim Se Dong, mereka tampaknya tak seriang biasanya.

Seung Hwan memohon – mohon pada Joon Shin dengan apa yang tengah mereka janjikan sebelumnya. Namun mereka mengelak, berlagak pikun akan janji mereka sendiri.

“Dasar. Kalian ini pembohong sekali. Ayolah.” Pintanya. “Aku punya banyak teman kuliah, Dari semua pacarku, Se Dong- lah yang paling jelek. Dia memang yang paling jelek. Sangat jelek.” Ucapnya membuat Joon Shik dan kawannya tertarik.

Teman Se Dong sedikit saling sikut mendengar ucapan Seung Hwan. Namun semua teralih ketika Se Dong dan Hong Bin datang ke cafe dengan bertautan tangan. Semua menatap tautan tangan tersebut dengan heran.

“Aku tak serumah dengan Son Se Dong.” Jelas Hong Bin padahal ga ada satupun yang bertanya, sontak Se Dong tertegun dengan sikap ajaib kekasihnya. “Aku memang mau, Aku belum menanyakannya pada dia. Tapi, dia pasti menolaknya. Jika kami sudah serumah. Aku akan mengumumkannya di web perushaan. Jangan menyebarkan gosip.”

Hahaha, Karyawan di cafe pun hanya cengo mendengar penjelasan Hong Bin yang panjang lebar. Padahal mungkin mereka juga belum berfikiran sejauh itu.

Ponsel Se Dong berdering, ia berniat mengangkatnya namun tangannya bertautan dengan tanga Hong Bin. Hong Bin menolak melepas tautan itu namun Se Dong tetap melepasnya. Ia berlari keluar mengangkat panggilan tersebut.

Kita harus bertemu Se Dong.”

“Ini siapa?”

Tolong jangan beritahu Hong Bin kita akan bertemu.

Se Dong menemui Jang Won dikediamannya, Jang Won terus menerawan keluar jendela tanpa menghadap Se Dong yang telah berani mendekati tiga orang yang sangat ia cintai. Dia tak akan basa – basi.

“Hong Bin memiliki masih depan yang sangat cerah. Jangan menjadi gangguan baginya. Aku ingin masa depannya mulus, Sepertinya Hong Bin sangat menyukaimu. Jangan terus merayunya, putuskan dia. Dan jangan mendekati Chang.”

Jang Won sangat berterimakasih kalau Se Dong mau bekerja sama dengannya kalau tidak, ia tidak akan sabar menghadapi Se Dong . Se Dong diam seribu bahasa tak menanggapi perkataan Jang Won. Jang Won heran kenapa Se Dong hanya diam? Ia menyuruhnya untuk menjawab.

“Maaf, karena aku tak bisa memberikan jawaban yang anda harapkan. Kami berdua sudah saling menyukai.” Tegas Se Dong tanpa ragu. Sukses Jang Won pun sekarang menoleh menghadap Se Dong yang rupanya memiliki keberanian. Jadi, apa maumu sekarang?

“Aku sudah berjanji padanya, kalau aku tak akan menganggap diriku sebagai pengganggu.” Jelasnya.

Hong Bin frustasi karena telefon Se Dong sedari tadi tak diangkat. Dia merengek seperti anak kecil yang kehilangan mainannya, “Apa aku sudah mengatakan sesuatu yang salah? Kenapa dia sulit sekali ditebak? Aku salah apa lagi sekarang? Mungkin, dia akan memutuskanku lagi. Mungkin sebaiknya aku tak mengatakan hal itu tadi pagi”


Hong Bin menghentak – hentakkan kakinya dengan kesal sekaligus cemas.

Jelas saja Sekretaris Ko yang berdiri tak jauh dari Hong Bin hanya bisa tersenyum, dia geli melihat bosnya melakukan hal konyo karna cinta. Hong Bin menoleh, seketika Sekretaris Ko mengalihkan fokusnya pada sesuatu.

“Mungkin Se Dong merasa malu. Di depan semua orang, Apakah aku mempermalukan dia?” Hong Bin bertingkah seperti anak kecil merutuki dirinya sendiri.

Ia melimpahkan kekesalan dengan menendang Sekretaris Ko namun Sek Ko sudah paham, sigap ia membuat kuda – kuda dan menangkis serangan Hong Bin.

Se Dong tak tahu bagaimana akhir kisahnya dengan Hong Bin, namun sekalipun mereka putus bukan karena masalah pembeda antara keduanya. Mereka akan putus seperti layaknya pasangan lain yang putus.

Jang Won menatap Se Dong tajam, dia menganggapnya sangat egois. Dia meluapkan kekesalannya tanpa sadar darah mengalir melewati lubang hidungnya, “Apa kau butuh pengajaran sopan santun? Beraninya kau? Lancang sekali.”

Se Dong yang mencoba menginterupsi tak diberi kesempatan untuk berbicara, ia pun akhirnya mengambil sapu tangan dan memberikannya pada Jang Won dengan khawatir. Se Dong akan pergi mencari bantuan namun Jang Won mengingatkan agar jangan sampai orang lain tahu.

Se Dong mengerti.

Se Dong berjalan beberapa langkah meninggalkan Jang Won namun urung dan membuatnya kembali lagi. dia dengan penuh perhatian bertanya apakah mimisan seperti ini sudah kerap menimpa Jang Won? Apakah anda sudah mengalaminya sebelumnya? Mungkin, mimisan anda bukan mimisan biasa.

Se Dong mengajak Jang Won untuk pergi ke rumah sakit, Jang Won jelas menolak dengan tegas ajakan tersebut. Namun Se Dong tetaplah berkeras untuk membawa Jang Won ke rumah sakit.

Hong Bin masih belum bosan untuk mencoba menghubungi Se Dong yang sedari tadi nomornya tak aktiv. Sekretaris Ko datang untuk memberitahukan kalau mereka mendapat tamu dari kepolisian.

“Siapa?”
“Polisi.”

Sekretaris Ko mengira kalau meraka melihat kejadian Hong Bin berubah kemarin. Akankah dia harus mempersilahkan masuk atau dia yang akan membuat jalan keluar?

Hong Bin terdiam.

Tn. Joo tak ingin memberitahu anda. Tapi, sepertinya anda harus mengetahuinya. Dia menderita koagulopati. Dia harus segera dioperasi. Tapi, resikonya sangat besar.” Ucap seorang di ujung telefon pada Ibu Hong Joo.

Mata liciknya sudah terpancar jelas, ketika ia mendengar suaminya menyidap penyakit. Ibu Hong Joo masih bersikap tenang tanpa beban. Dia kemudian menghubungi seseorang, ia bertanya apa yang ia perlukan untuk mengubah marganya?


Dua polisi sudah berada diruang kerja Hong Bin, dia mengelak telah datang ke taman hiburan. Dia bahkan tak kesana. Hong Bin menunjuk dua foto yang dijadikan bukti, dia bertanya kepastian mereka akan wajah tersebut. Tak jelas karena itu gelap, jadi pria dalam foto belum tentu dirinya.

Seorang polisi menyodorkan sebuah bros dengan gambar dino, “Aku menemukannya di rumah hantu. Ini adalah bros perusahaan anda, 'kan? Dan kartu bisnis anda, 'kan?”

Hong Bin berdecih tak percaya, dia beralibi kalau bros tersebut digunakan oleh hampir 70% pengguna gamenya. Sama juga dengan kartu bisnis tersebut.

“Korban yang berada di rumah hantu, Telah dikonformasi bahwa dia mantan karyawan di sana, bernama Son Se Dong. Dan kebetulan juga, dia bekerja di sini. Apa kami bisa menemuinya? Dia tak masuk kerja hari ini.” Sergah polisi satunya.

Ponsel Hong Bin bergetar memecah keheningan sekarang. Ke dua polisi tersebut mempersilahkan Hong Bin mengangkat panggilannya.

Hong Bin tersentak mendengar suara Sang Penelphone yang tak lain adalah Se Dong. Ia membelalakkan mata mendengar Se Dong tengah menemui Ayahnya. Kenapa kau menemui ayah?!!


“Bukan itu masalahnya sekarang, Dia mungkin sedang sakit. Kau harus tahu itu. Kau harus datang ke sini sekarang.” Pinta Se Dong diseberang telephone.

Hong Bin tak bisa menahan rasa kesalnya, dia tak tahan melihat SeDong harus mengurusi urusannya. Apa dia tak kapok sudah menerima tamparan dan sekarang malah menemui ayahnya. Dengan nafas menderu penuh emosi Hong Bin menuntut penjelasan pada Se Dong.

Sekretaris Ko mulai khawatir melihat kondisi Hong Bin saat pisau yang ada dipunggungnya mulai mencuat. Dia bertindak cepat dengan mengusir dua polisi tadi, ini masalah privasi. Masalah keluarga jadi ia meminta mereka untuk keluar.

Hong Bin bergegas untuk menjemput Se Dong, namun Sekretaris Ko menghadang Hong Bin. “Ada polisi di luar. Anda harus mengendalikan kemarahan anda. Jika anda menemuinya dalan keadaan seperti ini, Dia akan takut pada anda. Dia akan menganggap anda monster. Kendalikan kemarahan anda. Aku mohon.”

Hong Bin dengan wajah yang sudah mengeras penuh amarah mencoba memejamkan matanya. Ia memikirkan saat – saat dimana ia bertemu dengan Se Dong. Melihat ia tersenyum. Memeluknya. Tersenyum bersama.

Perlahan pisau yang sudah tampak dipunggung Hong Bin kembali masuk kedalam. Dia berhasil mengendalikan emosinya dan Sekretaris Ko pun juga senang tuannya berhasil menahan Emosi.

Hong Bin meminta Sekretsris Ko untuk minggir membiarkannya bertemu dengan Se Dong. Sekretaris Ko memperingatkan kalau dia akan segera muncul ketika Hong Bin mulai marah. Hong Bin yakin bisa menahan diri jika ada Se Dong disisinya.

“Di taman hiburan, anda berubah saat bersamanya.”

“Itu karena dia telah merendahkan Se Dong.”

Hong Bin melihat kondisi ayahnya yang tak sadarkan diri. Cukup prihatin melihat sang ayah yang tak berdaya.

Ibu Hong Joo sampai ke rumah sakit, ia melihat Se Dong tengah duduk termenung di bangku taman. Dia bertanya apa yang membuat Se Dong ada disana? apa jangan – jangan, dia yang sudah mengantarkan suaminya?

Se Dong mengangguk membenarkan tebakan Ibu Hong Joo.

“Kenapa bisa? Kenapa kau bisa bersama dengan suamiku?” tuntut Ibu Hong Jo ingin tahu. Se Dong menjawab singkat kalau Jang Won lah yang meminta ia menemuinya. Ibu Hong Jo makin hilang kontrol, dia membentak Se Dong karena ingin tahu apa yang membuat suaminya menemui Se Dong. Apa yang mereka bicarakan? Jam berapa mereka bertemu?

Se Dong heran tak menjawab, ia berjengit bingung menerima bentakan Ibu Hong Jo.

Hong Bin muncul dan bertanya apa yang mereka tengah lakukan. Ibu Hong Jo tergagap akan kehadiran Hong Bin yang tiba – tiba. Hong Bin meminta Se Dong menjelaskan apa yang tengah terjadi.

“Aku membawa ayahmu ke rumah sakit, jadi dia bertanya tentang itu. Aku membawa ayahmu ke rumah sakit, jadi dia bertanya tentang itu.”

Ibu Hong Jo tersenyum karena jawaban Se Dong tak menyalahkannya. Namun Hong Bin bukanlah orang yang mudah, ia meyakinkah apa benar begitu?

Se Dong mengerutkan kening meminta Hong Bin mempercayainya. Hong Bin mengajak Se Dong untuk pergi dan mennggandeng tangannya.

Sontak Se Dong mengaduh kesakitan, dia terduduk memegangi tangannya yang terkilir akibat Hong Bin menarik tangannya dengan begitu kasar. Hong Bin menatapnya dengan sendu penuh rasa bersalah.

Keduanya sekarang duduk ditaman dengan Se Dong yang masih menggerak – gerakkan tangannya. Namun Se Dong meyakinkan kalau dia sudah tak apa. “Kau bahkan bisa mengangkat mobil itu. Tak masalah, kok. Aku pikir, tulang- tulangku bisa patah tadi.”

Hong Bin tampak menyesal dan meminta maaf akan kejadian tadi. Dia bertanya apa yang membuat ayahnya menemui Se Dong namun Se Dong tetap bungkam. Hong Bin bisa menebak dan sekali lagi meminta maaf akan hal itu.

“Tak banyak yang dia katakan. Kau tahu, ayahmu dan Ibu Hong Bin mengatakan sebuah hal yang benar. Dan aku tak perlu menjawabnya. Tapi, kau juga sama saja.”

Hong Bin mengernyit tak mengerti akan maksud Se Dong.

“Jika kau terus hidup sepeti itu, Kehidupan kalian semua bisa sangat menyulitkan. Berhentilah menanggap semua hal itu menyulitkan. Jika kau mau melindungiku, berbaikan dengan mereka.”




Hong Bin bangkit dan berjalan pergi namun baru beberapa langkah ia kembali lagi. ia menyuruh Se Dong untuk jangan bersikap so’ tahu. Jangan karena dia menyukai Se Dong jadi dia bersikap besar kepala.

Hong Bin kembali pergi, tapi lagi – lagi masih ada hal yang belum ia selesaikan bicaranya. “Jika berdamai dengan mereka adalah hal yang mudah, Situasinya tak akan seperti ini. Kau tahu itu?”

Hong Bin benar – benar pergi sekarang. Se Dong hanya bisa melihat sikap Hong Bin sambil menghela nafasnya.



****


0 Response to "Sinopsis Iron Man Episode 11 – 1"

Post a Comment

Jangan lupa komentar yaah^^ biar aku lebih semangat dalam membuat postingan. Meskipun jarang bales tapi semua komentar selalu aku baca kok.. *serius*

Gomawo^^