Sinopsis High School: Love On Episode 9 – 2

Sinopsis High School: Love On Episode 9 – 2
Woo Hyun keluar dari kamarnya, dia mencari keberadaan Seul Bi namun ia tak bisa menemukannya dimana – mana.


Sung Yeol termenung menatap maianannya, dia teringat akan ucapan Seul Bi yang rela kehilangan apapun. Asalkan ia bisa bersama Woo Hyun.

“Kehilangan?” pikir Sung Yeol.

Seul Bi juga masih duduk menyendiri di restauran nenek Gong, dia masih memikirkan akan perkataan Sunbae. Kehilangan sesuatu yang sangat berharga?

Woo Hyun keluar dan menemukan Seul Bi ada di restauran. Seul Bi segera bangkit, dia bertanya akankah lapar? Ingin makan?

“Kupikir kamu sudah pergi tanpa pamitan padaku!”

“Pergi kemana aku?”

Woo Hyun tak menjawab pertanyaan Seul Bi dan kembali masuk ke dalam rumah.


****
Pagi sudah tiba, matahari mulai meninggi namun Woo Hyun belum mau beranjak dari ranjangnya. Dia masih belum memiliki semangat untuk saat ini. Woo Hyun pun menutup kembali tubuhnya dengan selimut.

Seul Bi menerima pesanan Deobboki tapi Seul Bi berkata kalau mereka belum bisa menerima pesanan. Nenek Gong sedang pergi liburan.

Sung Gook masuk ke restauran Nenek Gong lalu memesan Ddeokbokki. Seul Bi menolak karena belum buka. Sung Gook berkata kalau pintu restauran terbuka, bahan makanan ada, hanya tinggal memasak saja. Seul Bi menatap lekat wajah Sung Gook, bukankah anda PNS itu yah?

“Kamu masih ingat? Ingatanmu bagus. Baiklah, akan kubuka. Senang bertemu denganmu. Selamat sudah jadi manusia.”

Seul Bi heran bagaimana Sung Gook bisa tahu? Sung Gook menjelaskan kalau dulu dia juga seorang malaikat dan sekarang menjadi Ketua Komite Manusia Malaikat. Seperti Mayor atau Presdir itu lah. Dia bekerja mengurusi masalah dokumen. Seul bi kembali menegaskan apakah benar Sung Gook dulunya malaikat?

“Mengagetkanmu? Kau pasti belum pernah lihat malaikat setampan aku.” Ucap Sung Gook Pede. “Ada telepon masuk tuh.”


Seul Bi membuka ponselnya dan ada nomor dengan nama Cowok Tampan. Sung Gook berkata kalau itu adalah nomornya. Mereka akan ada rapat, tempat dan tanggalnya akan dia beritahukan. Seul Bi bisa menelfonnya kapan saja untuk menanyakan hal apapun. Tapi yang paling penting, manusia tak akan tahu identitas mereka yang sebenarnya.

Seul Bi menahan Sung Gook yang akan pergi, dia ingin bertanya. Apa yang orang lakukan kalau mereka tengah sedih? Sung Gook menggerakkan tangannya seolah sedang minum. Yap, itu adalah cara orang menghilangkan kesedihan. Minum – minum.

“Oh ya, kamu masih SMA.” Sung Gook kembali berfikir. “Tetaplah berada di sisinya. Menghiburnya tidak susah kok. Tetaplah bersamanya.”

Ponsel Sung Gook berdering, ia menerima panggilan dari Tuan Kim membuatnya harus pergi. Seul Bi kembali merenungkan kata – kata Sung Gook. Bersamanya? Selalu bersamanya?


Ki Soo datang ke rumah Woo Hyun, dia menemukan Seul Bi yang tengah duduk sendiri di restauran. Dia bertanya apakah Woo Hyun masih belum makan? Seul Bi mengangguk membenarkan.

Halmeoni selalu bilang kalau kau tak makan hari ini, rejeki itu tak akan pernah kembali!” teriak Ki Soo.

Woo Hyun yang terbaring dikamar juga mendengar teriakan itu, dia hapal betul saat Miss Gong mengatakan hal itu padanya.


Ki Soo yang berniat pergi terkejut dengan kehadiran Joo Ah disana, dia membawakan mereka hotdog dengan alasan kalau bos –nya memberikan banyak. Ki Soo mengerti, ketua kelasnya memang sangat baik. Ki Soo kemudian pergi meninggalkan mereka.

Joo Ah memberikan buku yang ia bawa, dia menyuruh Seul Bi untuk membacanya ketika sedih. Seul Bi berterimakasih atas hotdog dan bukunya. Joo Ah memperingatkan agar Seul Bi jangan membacanya sambil tidur, makan dan juga jangan melipatnya.

Seul Bi dengan senyum manisnya me –iya-kan perintah Joo Ah. Joo Ah menatap jamnya, dia terkejut dan pamit pergi dengan tergesa – gesa.



Saat itulah Sung Yeol datang juga ke rumah Woo Hyun. Sung Yeol mengira kalau dirinya lah yang datang paling awal namun ternyata malah yang paling akhir. Seul Bi bertanya apakah Sung Yeol tak berangkat sekolah lagi? Sung Yeol akan berangkat kok, dia tak mau kena marah Seul Bi.

Seul Bi membongkar makanan yang dibawakan oleh Sung Yeol, apa ini buatan ibumu? Dengan tak ikhlas, Sung Yeol meng –iya –kan. Seul Bi merasa kalau Sung Yeol sangat beruntung memiliki ibu dan juga ayah yang tampan. Namun bagi Sung Yeol, semua orang juga sama jadi tak ada yang spesial. Mereka pasti memiliki orang tua juga.

“Tentu saja spesial. Woo Hyun dan aku nggak punya Woo Hyeon bahkan tak bisa menghubungi orang tuanya. Bersyukurlah orang tuamu masih hidup. Kau masih bisa lihat mereka kapan saja.”


Seul Bi membaca resep, dia akan memasak namun sepertinya tak terlalu meyakinkan deh. Sung Yeol yang memperhatikan Seul Bi pun kemudian memasangkan celemek untuk Seul Bi, Seul Bi jadi teringat saat dimana Woo Hyun juga pernah memasangkan celemek untuknya. Dia meraih ikat celemeknya dan memasangkan sendiri.

Seul Bi gelisah karena harus menerima pesanan tapi ia rasa makanannya agak aneh.



Sung Yeol mencicipinya dan tampaknya memang tak enak. Dia pun kemudian membantu Seul Bi untuk masak. Cukup lihai juga Sung Yeol dalam melakukannya, bahkan Seul Bi sampai memuji Sung Yeol.

Seul Bi memberikan pesanan yang telah siap pada Ki Soo. Ki Soo agak ragu, apa tak apa? Seul Bi juga tak tahu tapi dia dibantu oleh Sung Yeol.

“Iya, ayo kita coba. Kalau mereka tak suka kita coba lagi. Seul Bi. Bagus!” Ucap Ki Soo menenangkan.

Seul Bi mengucapkan terimakasih pada Sung Yeol, dia heran kenapa buatannya ga enak. Sung Yeol yakin kalau baru membuatnya pertama kali maka tak akan enak. Dia juga tak bisa membuat yang rasanya sama dengan buatan Nenek Gong. Seul Bi memuji kalau sudah mirip kok rasanya.

Sung Yeol tanya apa yang akan Seul Bi lakukan dengan kedainya? Seul Bi rasa untuk sementara dia akan mengelolanya bersama Woo Hyun. Namun sampai saat ini, Woo Hyun masih belum mau bangun juga. Sung Yeol yakin kalau Woo Hyun akan segera bangun kok. Seul Bi pun juga berharap demikian.

Keduanya mulai membersihkan piring, tangan keduanya tak sengaja bersentuhan. Membuat suasana canggung diantara keduanya. Seul Bi menarik piringnya dari dalam air namun tangannya yang penuh sabun licin sehingga piringnya malah jatuh ke lantai.

“Tanganmu bisa terluka! Biar aku saja!” perintah Sung Yeol ketika Seul Bi akan membereskan pecahan belingnya.


Dua orang tak dikenal masuk ke restauran membuat kegaduhan dengan memanggil – manggil Shin Young Chul. Sung Yeol dan Seul Bi segera menghadang mereka. Dua orang tadi berkata kalau mereka tak berurusan dengan anak – anak. Kau? Kau kah cucunya? Shin Young Chul! Keluarlah.

“Tiba-tiba saja melakukan hal ini, ilegal namanya!”

“Ilegal? Ambil uang orang lain memangnya legal?”


Keduanya mengacau disana, mereka akan mengambil bangunan itu kalau uang mereka tak kembali. Woo Hyun turun juga akhirnya, dia melarang mereka untuk mengacau disana. Kedua preman itu menebak kalau Woo Hyun adalah anak dari Shin Young Chul. Keduanya tertawa lalu menunjukkan kontrak yang telah ditandatangani oleh Shin Young Chul. “Gong Mal Sook! Gong Mal Sook kau di mana? Dengar ya. Shin Young Chul kasih jaminan bangunannya Miss Gong untuk pinjaman. Dia tak mau bayar. Dan kami tak bisa menghubunginya.”

Woo Hyun tak terima neneknya dipanggil dengan cara kasar. Dia tak meminjam jadi bukan dia yang harus membayarnya. Woo Hyun dengan tegas mengusir mereka. Preman itu langsung kesal, dia menarik baju Woo Hyun dan berniat memukulnya namun Seul Bi tak terima. Dia menggigit tangan pria tadi hingga dia meringis kesakitan.



Berakhirlah ke –limanya di kantor polisi. Dua preman itu beralasan kalau mereka hanya ingin menagih hutang yang tak dibayarkan padahal mereka sudah berusaha sabar. Pak Polisi meminta keduanya menyerahkan tanda tangan kontraknya, keduanya menolak. Pak Polisi membentak hingga keduanya ketakutan.

“40%? Tahu apa artinya? Bunga pinjaman lebih tinggi dari batas yang ditetapkan oleh hukum! Kau bisa kena masalah.” Ucap Pak Polisi setelah membaca surat kontraknya.

Preman tadi berkata kalau mereka bahkan tak bisa mengambil bunga sepeserpun, mereka hanya meminta pinjaman pokoknya saja. Preman itu kemudian menarik kerah baju woo Hyun, mereka mengancam Woo Hyun untuk mengembalikan uangnya.



Polisi membentak akibat kelakuan preman tadi. Woo Jin menatap wajah Woo Hyun yang sedari tadi diam dengan iba. Dia meminta Sung Yeol dan Seul Bi membawa Woo Hyun untuk pulang.

Preman tadi juga merasa kalau mereka sudah tak ada urusan dan akan pergi. Namun Woo Jin menahannya, mereka masih membutuhkan nama mereka.


Sung Yeol dan Seul Bi membereskan baju – baju, sedangkan Woo Hyun masih saja bungkam tanpa kata.
Ki Soo yang datang heran kenapa mereka membereskan baju?


Woo Jin membicarakan kemalangan yang dialami oleh Woo Hyun pada Ji Hye. Ayah Woo Hyun telah menjaminkan kedai pada rentenir untuk hutang. Jadi kemungkinan kedainya akan dipindah tangankan. Ayahnya tak bisa dihubungi, mereka harus menghubungi ibunya. Ji Hye terkejut, apa Woo Hyun tak menerima warisan dari Neneknya?

Woo Jin rasa kalaupun ada tak akan mencukupi.

“Rentenir itu pasti akan kembali. Tolong jangan biarkan mereka melakukannya. Woo Hyun bagaimana? Apa dia terluka?” tanya Ji Hye perhatian.

Woo Jin merasa kalau Ji Hye sangat perhatian, tapi Woo Jin merasa senang. Sung Yeol meminta dia untuk meminjamkan uang kuliah Sung Yeol. Sung Yeol sudah berjanji akan mendapatkan beasiswa saat kuliah kelak. Woo Jin senang anaknya semakin dalam bersahabat dengan Woo Hyun.

Tanpa diketahui Woo Jin, Ji Hye menghela nafas seolah penuh pikiran.


Ki Soo ikut panik karena bangunan yang Woo Hyun dan Seul Bi tempati harus disita. Sung Yeol tanya apakah Ayah Woo Hyun tak bisa dihubungi? Memang tak bisa dihubungi, kalau bisa mungkin Ayah Woo Hyun sudah hadir di prosesi pemakaman. Ayahnya sudah meninggalkan Woo Hyun sendirian. Dia benar – benar tak menyangka ada orang tua seperti itu.

“Kalau mamanya Woo Hyeon bagaimana? Dia tinggal di mana?” tanya Sung Yeol.

“Mereka bercerai saat Woo Hyeon masih kecil. Sudah lama dia tak melihat mamanya. Woo Hyeon hanya memiliki Halmeoninya saja. Aku kasihan sekali padanya. Di mana kita bisa dapatkan uang banyak?”

Seul Bi tak bisa membiarkan kedai ini diambil. Kenangan Woo Hyun dan Neneknya ada disini.


Woo Hyun pun juga mencoba mencari solusi dengan menghubungi nomor ayahnya namun beberapa kali dicoba, nomor itu tetap tak aktiv.

“Sebenarnya kau di mana? Kenapa kau harus jadi papaku? Kenapa?” marah Woo Hyun.

****
Pagi – pagi sekali, Seul Bi menemui Ki Soo ditempat kerjanya. Ki Soo khawatir jangan – jangan rentenirnya datang lagi. Seul Bi menggeleng, dia ingin melakukannya juga. Ki Soo terkejut, dia mengira kalau Seul Bi ingin gajinya dibagi bersamanya.

Seul Bi kembali menggeleng, dia ingin Ki Soo mencarikan kerja untuknya. Dia tak bisa membiarkan kedai diambil oleh rentenir.


Seul Bi mulai bekerja di restoran.

Hal tersulit memiliki pekerjaan adalah bertahan. Kamu harus makan karena kamu tak dibayar mahal.” Wejangan Ki Soo.

Seul Bi mengumpulkan makanan sisa pelanggan dan mekakannya.

Saat di toko baju, seorang pelanggan gendut mencoba beberapa baju. Seul Bi terus – terus memberikan pendapat kalau baju yang dikenakan tak cocok. Wanita tersebut kesal, dia sudah mengganti beberapa baju tapi tetap saja Seul Bi mengatakan kalau bajunya tak cocok. Aneh.

Pelanggan tadi dengan kesal melemparkan semua bajunya kearah Seul Bi.

Kedua, meskipun pelanggannya jelek. kamu harus bilang cantik.


Kemudian dia berpindah bekerja di TK. Anak – anak berebut Seul Bi untuk bermain bersama mereka, Seul Bi yang sudah loyo bingung harus bermain dengan siapa. Hasilnya, dia malah menghukum mereka dan menyuruh semuanya untuk tak bermain. Tak boleh lempar –lemparan bola juga.

Ibu dari anak – anak itu datang, mereka tak terima akan perlakuan Seul Bi dan meminta pergantian guru. Seul Bi pun diusir dan diberi beberapa lembar uang dengat tak sopan.

Ketiga, kamu harus senyum kapan saja.

Woo Jin mampir untuk menemui Woo Hyun, namun tampak sekali Woo Hyun masih belum memiliki semangat untuk hidup. Woo Jin bertanya dimana sebenarnya ayah Woo Hyun? Dia memiliki teman di Amerika dan tengah mencarinya. Dia menyuruh Woo Hyun untuk menunggu. Lalu mama Woo Hyun, dimana dia? nomor KTP? Alamat tinggal? Dia akan membantu mencarikan.

“Bagi yang lain orang tua adalah pelindung. Namun bagiku, mereka tebing. Tebing yang amat curam, hingga aku tak bisa melihat dasarnya. Begitu terjatuh justru akan membunuhmu. Jadi tolong tak usah mencari mereka. Malah dengan begitu Anda membantuku.” Tutur Woo Hyun dengan mata berkaca – kaca.

Woo Jin mencoba mengerti akan perasaan Woo Hyun, hanya saja ia meminta Woo Hyun untuk segera menghubunginya kalau orang tua Woo Hyun kembali. Dia yakin kalau orang tua Woo Hyun punya alasan melakukan semua ini.


Ki Soo benar – benar tak percaya kalau Seul Bi akan dipecat sebanyak enam kali dalam sehari. Benar – benar rangking yang bagus. Seul Bi tanya apakah tak ada tempat lagi untuk bekerja?

Seul Bi pikir kalau Ki Soo pasti tak memiliki waktu untuk belajar kalau seperti ini. Ki Soo pun juga setuju, dia kalau sudah belajar pasti akan lulus dalam semua pelajaran.

Sung Yeol menanti kepulangan Seul Bi didepan restauran. Sung Yeol tanya darimana saja Seul Bi? Dia berkata kalau dia habis bekerja paruh waktu bersama Ki Soo dan habis dari apotek. Sung Yeol khawatir apakah ada yang sakit. Seul Bi menyembunyikan obatnya dibalik punggung. Dia mengelak.

“Kenapa kau kemari?”

“Aku lewat tadi, jadi mampir dulu. Aku juga cari cara untuk dapatkan uang. Jadi kamu jangan keluyuran sendiri.”

Seul Bi tersenyum, Woo Hyun pasti akan sangat berterimakasih pada Sung Yeol. Sung Yeol kemudian menyuruh Seul Bi untuk beristirahat.



Woo Hyun yang sudah duduk menanti kepulangan Seul Bi bertanya habis dari mana Seul Bi seharian? Dia menyuruh Seul Bi untuk tak melakukan hal bodoh, tak ada yang bisa dia lakukan. Namun Seul Bi yakin, ada hal yang bisa ia lakukan.

“kau mau cari Ayahku? Kau tak bisa kan? Kau akan membayar semua hutangnya? Kau juga tak bisa kan! Jadi tolong kau tak usah melakupan apapun!”

“Aku juga tak tahu. Kenapa sulit sekali? Padahal hanya memberimu makan! Memberimu makan ternyata susah! Betapa sakitnya bagimu, aku benar-benar tak tahu.”

Makannya, Woo Hyun menyuruh Seul Bi untuk diam saja. Namun Seul Bi tak sependapat, mereka tak bisa terus begini.


Woo Hyun mengintip Seul Bi yang tengah terlelap dalam tidurnya.

Makannya aku menyuruhmu untuk pergi, bodoh.” Pikirnya.


****
Keesokan paginya, Sung Yeol sudah bersiap berangkat dan mendapati Ji Hye tertidur di sofa. Semalam Ji Hye telah menyiapkan banyak makanan untuk disimpan dalam kulkas. Dia pasti tahu kalau Sung Yeol membawa makanan – makanan itu untuk Woo Hyun, makannya dia membuatkan banyak makanan.

Sung Yeol mulai memasukkan makanan  tersebut, kemudian mengambil susu yang telah dipersiapkan oleh Ji Hye. Tak seperti sebelumnya, dia selalu menolak untuk meminum susu tersebut.

Seul Bi menyiapkan makanan, koyo besar telah terpasang dipundaknya. Sepertinya Seul Bi begitu kelelahan.

Seul Bi bekerja mengantarkan susu di pagi hari. Di depan sebuah rumah, dia menemukan selebaran tentang anjing hilang. Hadiah bagi yang menemukannya adalah 500 ribu won.

Seul mencoba mencarinya ke sana kemari untuk bisa menemukan Bongie. Sampai akhirnya, dia menemukan Bongie disela – sela tumpukan sampai. Seul Bi senang bisa menemukan anjing tersebut, namun tanpa disadari Seul Bi, tumpukan sampah yang ada didepannya bergoyang tak seimbang. Tumpukan itupun roboh jatuh ke arah Seul Bi.


Woo Hyun masih bernostalgia dengan setiap jengkal dapurnya, dia masih saja memikirkan tentang neneknya.

Sung Yeol datang, dia menitipkan sesuatu untuk Seul Bi. Woo Hyun dengan cuek menyuruh Sung Yeol untuk memberikannya sendiri saja. Sung Yeol kecewa akan sikap Woo Hyun sekarang yang tak ubahnya seperi pecundang. Seul Bi kerja siang malam demi hutangnya, baunya sudah seperti koyo. Jadi berhentilah bersikap kekanakan. Bahkan karena Woo Hyun, Seul Bi tak bisa berangkat sekolah.

“Aku tak pernah memintanya di sini.”

Sung Yeol berkata kalau Woo Hyun sendiri bahkan tak menyuruh Seul Bi untuk pergi. Jangan bersikap seolah menjadi yang paling menyedihkan didunia ini. Setidaknya, Nenek Woo Hyun menyayanginya. Woo Hyun menyuruh Sung Yeol untuk pergi saja kalau hanya ingin marah – marah.

“Aku tak tahan lagi. Menjauhlah dari Seul Bi. Aku kasihan sama Seul Bi, dia kerja mati-matian untukmu.” Kesal Sung Yeol saat Woo Hyun bersikap acuh bahkan meninggalkannya.



Disisi lain, Seul Bi sudah bisa menerima uang dari hasil menemukan anjing. Dia pikir akan bisa melunasi hutangnya kalau bisa menemukan anjing tiap hari.

Seul Bi tetaplah riang meskipun banyak luka di tangannya.

Woo Hyun menyendiri di kamar Nenek. Bayangan akan neneknya masih sangat melekat dalam pikiran Woo Hyun, dia menyesal tak memuji neneknya cantik ketika mengenakan lipstik pemberian Seul Bi. Kemudian ia mengambil buku tabungan yang tersimpan di dompet Nenek.

“Halmeoni kerja keras mengumpulkan uang hingga tak memperhatikan kesehatan sendiri. Kita bisa pergi, kita bisa jalan-jalan dengan uang ini, Ke Jeju saja tak kesampaian. Bodoh sekali kita. Banyak uang. Tapi kita tak punya kenangan bersama.”


Dua preman bersiap untuk mengambil foto restauran Nenek Gong namun Seul Bi yang baru saja kembali segera menghalangi keduanya. Dia memberikan uang hasil menemukan anjing, dia akan membayar sisanya.

Dua preman itu mengecek jumlahnya, mereka meremehkan Seul Bi. Seul Bi meyakinkan kalau dia akan terus berusaha. Dia akan membayar seberapapun itu. Preman itu kemudian menunjukkan luka merah bekas gigitan Seul Bi. Apa kau mau membayar yang ini juga?

Seul Bi menunduk meminta maaf. Pria yang satunya memperhatikan Seul Bi dengan seksama, dia kemudian memegang dagu Seul Bi.

“Kau lumayan cantik. Anak manis, sebetulnya ada banyak cara untuk dapatkan banyak uang.”



Woo Hyun datang dan segera melepaskan sentuhan pria itu pada Seul Bi. Keduanya marah akan sikap kasar Woo Hyun, mereka kemudian menyebar uang yang telah Seul Bi kumpulkan. Seul Bi tak bisa melihat uang tersebut berserakan, ia pun memungutinya.

“Lihat! Uang bisa bikin orang berlutut. Bayar hutangnya. Kalau tidak...” pria itu melirik pada Seul Bi yang tengah memunguti uang. “Kau tahu kan?”

Keduanya pun pergi.


Seul Bi meyakinkan Woo Hyun kalau mereka mau berusaha, mereka bisa menyelamatkan rumah dan kedai. Ada banyak tempat yang menerima pekerja dari SMA kok.

“Kau dan aku? Seumur hidup ingin melunasi hutang? Itu impianmu? Harapanmu? Kalau gitu lakukan saja sendiri.” sinisnya.

Woo Hyun akan pergi namun Seul Bi menahannya. Woo Hyun menyingkirkan Seul Bi hingga dia jatuh terduduk.


Seul Bi memegang lukanya yang sakit. Dia mengingatkan Woo Hyun betapa terlukanya Nenek Gong kalau melihat Woo Hyun seperti ini. Woo Hyun berteriak marah, dia juga merasakan sakit bahkan sampai dia ingin mati.

“Kau tak melihatku? Kau tak sendirian. Aku bagaimana? Aku hanya tak ingin kau sendirian, aku rela melakukan semuanya. Jangan begini, kumohon, Woo Hyeon.”

“Karena itu, pergilah. Tolong pergilah!” bentak Woo Hyun.


Woo Hyun akan pergi, pot yang menghias depan kedai bergetar kemudian terangkat. Pot itu terletak pas sekali diatas kepala Woo Hyun. Seul Bi yang melihat hal itu segera berlari mendorong Woo Hyun agar tak kejatuhan pot tersebut.

Keduanya pun jatuh bersamaan. Mereka melihat pot tersebut dengan heran.


****
Woo Hyun egois banget untuk episode kali ini. Hanya perasaanya saja yang ia pikirkan tanpa memikirkan bagaimana posisi Seul Bi dan usaha yang telah ia lakukan demi Woo Hyun.
Dan aku masih penasaran, sampai kapan Ji Hye akan menutupi hal ini? Seberapa lama nalurinya sebagai ibu bisa ditahan melihat kondisi Woo Hyun yang sangat memprihatinkan. Bagaimana Woo Jin? Melihat betapa baiknya dia, dia pasti akan sangat kecewa dengan sikap Ji Hye. Betapa dia ingin membantu Woo Hyun mencari ibunya, tapi rupanya orang yang ia cari berada disebelahnya selama ini.
Bagaimana sikap Sung Yeol? Benci Woo Hyun atau Ji Hye? Atau keduanya?
Mari menanti ^_^
Mianhae sinopsisnya telat yee.. hehehe :D


0 Response to "Sinopsis High School: Love On Episode 9 – 2"

Post a Comment

Jangan lupa komentar yaah^^ biar aku lebih semangat dalam membuat postingan. Meskipun jarang bales tapi semua komentar selalu aku baca kok.. *serius*

Gomawo^^