Sinopsis High School: Love On Episode 13 – 2

Sinopsis High School: Love On Episode 13 – 2
Ki Soo menanti kehadiran Young Eun didepan rumahnya. Saat Young Eun melintas, Ki Soo segera memberikan kantong makanan yang dibawanya. Young Eun tak menerima uluran tangan tersebut, namun hanya menatapnya sinis. Ki Soo memberitahukan kalau makanannya bukan untuk Young Eun melainkan adiknya, “Ini hari ulang tahun Ye Na, kenapa kau tidak datang? Jadi kau tidak tahu.”

“Jika aku melihat mu di lingkungan ini  sekali lagi, kau mati.” Ancam Young Eun meraih makanan tersebut lalu membuangnya. Ki Soo kesal dibuatnya, ia merutuki sikap Young Eun yang berlalu begitu saja meninggalkannya.


Jae Suk berjalan memasuki tempat bermain game, dia duduk dikursi tepat disamping Sung Yeol. Jae Suk memperingatkan Sung Yeol bahwa tempat yang ia duduki adalah tempatnya. Sung Yeol tak acuh menyuruh Jae Suk mencari tempat lain.

“Aku mempertimbangkannya kalau kau mau menjawab pertanyaanku.” Jae Suk menghadap Sung Yeol. “Guru etika menangis di depan  toko Shin Woo Hyun. Apa yang terjadi di antara mereka?”

Sung Yeol menghela nafas dalam mendengar pertanyaan Jae Suk. Jae Suk bisa menangkap raut paham akan pertanyaannya. Sung Yeol jengah menerima pertanyaan Jae Suk, meskipun ia tahu tapi dia juga tak akan memberitahukannya pada Jae Suk. Ia menyuruhnya untuk pergi mulai besok. Sung Yeol pun segera bangkit meninggalkannya.

“Dasar B*jingan ini.” Rutuknya kesal namun penuh tanda tanya. Ini semakin membuatnya penasaran.



Seul Bi girang mereka bisa mendapatkan uang yang cukup banyak kali ini. Woo Hyun tahu penghasilan mereka cukup banyak namun tak membuatnya menjadi senang, Apakah kamu menyukai uang lebih dari pacar mu?

Seul Bi berfikir sejenak, bagi manusia uang memanglah sangat penting jadi dia berharap pacarnya mampu menghasilkan banyak uang. Woo Hyun agaknya mengeluh akan sikap Ye Na, namun Seul Bi sama sekali tak menyalahkannya. “Ini semua karena kau begitu populer.”

Woo Hyun hanya merasa jengah dengan sikap Ye Na.

“Ini bukan hal yang buruk untuk menyukai seseorang. Tapi terlalu berlebihan dapat menyakiti orang lain. Meskipun mereka tak bermaksud melakukan hal itu tapi, Ada sesuatu yang kau tidak bisa hanya menerima karena uluran  tangan seseorang kepada mu.”

“Hati?” tanya Woo Hyun.



Dering ponsel Woo Hyun menghentikan pembicaraan keduanya. Tak selang lama pan berakhir, Woo Hyun meminta izin untuk pergi sebentar.


Woo Jin menyiapkan makannya, namun Sung Yeol hanya diam terpaku menatap hidangan di meja. Ia menegur sikap putranya, dia kan tak mau makan sendirian.

Sung Yeol dengan malas meraih sendoknya demi menemani sang ayah makan.


Woo Jin melambaikan tangan ketika melihat Woo Hyun masuk ke restauran tempat ia dan Sung Yeol makan. Woo Hyun cukup terkejut ada Sung Yeol disana, keduanya terdiam tanpa adanya saling sapa. Woo Jin cukup bisa mengerti akan gelagat pertengkaran diantara keduanya.

“Aku mendengar kalian berdua bertengkar. Kalian anak-anak. Tetapi rekonsiliasi dan mediasi  adalah keahlian ku.” Tuturnya melihat tingkah kikuk Woo Hyun dan Sung Yeol. “Tunggu, apakah kalian berdua memperebutkan Seul Bi?”

Sung Yeol yang terfokus pada makanan menyuruh Ayahnya untuk makan saja namun Woo Jin menolak. “Melihat sikap kalian berdua saja sudah membuatku kenyang.”



“Kau seperti anak kedua ku, Woo Hyun.” Tutur Woo Jin membuat Sung Yeol melirik ke arah ayahnya. “Persahabatan! Ini sama pentingnya dengan cinta. Woo Hyun, aku pikir ayahmu  masih di Amerika. Aku tidak bisa membantu tetapi berpikir bahwa  Cara terbaik adalah untuk menemukan ibumu. Karena kalian berdua hidup bersama bisa menjadi masalah.”

Woo Hyun tampak kurang nyaman mendengar ucapan Woo Jin, dia dengan jujur berkata kalau dia sudah bertemu dengan ibunya tapi mereka memutuskan untuk menjalani kehidupan masing – masing. Mendengar penuturan Woo Hyun membuat Woo Jin agak tersentak.

“Oh ... Aku mengerti. Woo Hyun, tetap kuat.” Dukung Woo Jin prihatin.



Dengan alasan meninggalkan Seul Bi sendirian, Woo Hyun bergegas pamit meninggalkan Woo Jin dan Sung Yeol. Woo Jin mengingatkan Woo Hyun agar jangan sungkan meminta bantuan padanya.

Woo Jin menghela nafas dalam melihat kepergian Woo Hyun, penuh dengan rasa iba. Dia memberikan nasehat pada Sung Yeol agar menjadi teman yang baik. Berada disisinya dan membantunya, posisi Woo Hyun saat ini memanglah sulit.

Sung Yeol menahan kasihan yang sebenarnya juga ia rasakan dengan meneguk minumnya sampai habis.



Seul Bi menantikan kehadiran Woo Hyun yang sudah terlambat pulang, ia khawatir ketika melihat jam ditangannya menunjukkan pukul 9.


Rupanya, Woo Hyun mencoba mencari pelipur kesedihan dengan duduk termangu ditaman. Ia memperhatikan beberapa keluarga yang bercengkrama menghabiskan waktu menyenangkan bersama keluarga. Mata Woo Hyun mulai meremang, kebahagiaan seperti ini mungkin belum pernah ia rasakan.



Seul Bi sampai tertidur ditangga menantikan kepulangan Woo Hyun. Woo Hyun tersenyum melihat Seul Bi menantinya sampai tertidur, kepala Seul Bi hampir menghantam pegangan tangga namun Woo Hyun bergegas menahannya lalu menyandarkan kepala Seul Bi ke pundaknya.

Woo Hyun ikut memasangkan earphone yang digunakan Seul Bi ke telinganya, terdengarlah suara dirinya sendiri yang tengah bernyanyi.

“aku pandai menyanyikan lagu pengantar tidur juga.” Gumam Woo Hyun namun cukup keras hingga membuat Seul Bi terbangun.

“Kapan kau di sini?”

“Baru saja.” jawab Woo Hyun. Seul Bi yang memang sudah dilanda kantuk kembali menyandarkan kepalanya dipundak Woo Hyun.



Woo Hyun mengeluh setelah kepergian Miss Gong, ia tak memiliki keluarga lagi. Seul Bi kembali bangkit dari pundak Woo Hyun, dia keluarga Woo Hyun.

“Kau dan aku bukan keluarga, lebih tepatnya belum.”

Seul Bi kesal karena merasa Woo Hyun tak menganggapnya dan tak percaya akan kata – katanya. Woo Hyun mengingatkan Seul Bi yang suka menonton drama. Dia pasti tahu kalau mereka dari sekarang sudah menjadi keluarga maka diakhir mereka tak akan pernah bisa bersama.

“Cinta terlarang. Sesuatu seperti itu?” tanya Seul Bi polos.

“Pastikan untuk berada di sisiku selamanya. Mengerti ?”




Woo Hyun mengajak Seul Bi untuk melakukan janji kelingking, Seul Bi tersenyum menerimanya. Dia kemudian menepuk pundaknya meminta Seul Bi untuk bisa kembali bersandar disana. keduanya pun tersenyum atau lebih tepatnya tersipun malu.


Woo Jin kembali ke rumah dan Ji Hye pun membantunya melepas jas yang ia kenakan. Woo Jin memberitahukan kalau Woo Hyun sudah bertemu dengan ibunya. Ji Hye tampak terkejut lalu menunduk menantikan apa yang Woo Jin katakan.

Woo Jin benar – benar tak habis pikir betapa teganya membiarkan Woo Hyun harus melunasi hutang ayahnya sendiri. Entah kenapa dia merasa kalau Woo Hyun dan Sung Yeol seperti saudara. “Seong Yeol adalah anak tunggal, jadi  aku ingin mereka menjadi seperti saudara. Tidakkah kau berpikir begitu?”

Ji Hye terdiam menggigit bibir bawahnya, tak ada seucap kata pun yang keluar dari mulut Ji Hye.



Ji Hye mengurangi rasa frustasinya dengan menenggak alkohol. Sung Yeol datang lalu duduk disana. Ji Hye bertanya kenapa Sung Yeol belum mengungkapkan kebenarannya? Sung Yeol berkata kalau dia sekarang melihat Ji Hye yang semakin terpuruk.

“kau berbeda dari Woo Hyun.”

“Apa kau membandingkan aku dengan putra kandungmu?”

“Secara hukum, kau adalah anakku dan Woo Hyun adalah orang asing.”

“Tapi aku kira hanya melihat dia  membuat air mata menetes? Dapatkah kau membuatnya lebih jelas?  Ayah akan mencari tahu.”

Ji Hye akan mengungkapkannya. Namun Sung Yeol tak setuju, dia yang akan mengungkapnya. Ia bangkit pergi meninggalkan Ji Hye, sedangkan Ji Hye kembali meneguk minumannya. “Apa kau akan melakukannya untukku? Karena aku tak akan bisa melakukannya.” Gumam Ji Hye.



Woo Hyun merenung dalam kamarnya, ada sesuatu yang aneh. Ia meraba lehernya yang tak lagi berhias kalung gembok. Meskipun sedih, Woo Hyun membiarkan keanehan itu. Mungkin sudah keputusannya membuang kalung pemberian Sang Ibu yang ia anggap hanya ada dalam masa lalu.


****
Sungguh menyakitkan melihatmu menyakiti dirimu.”
“Aku ada dalam dirimu.”
“Kehidupan menyedihkan yang sebenarnya adalah ketika tak ada apapun yang terjadi menimpa hidupmu.”
“Pertama, tetapi bukan yang pertama ... “

Woo Hyun membaca setiap note yang tertempel dikaca jendela. Dia tahu kalau quote yang terakhir berasal dari drama. Seul Bi memuji kepintaran Woo Hyun. Woo Hyun mengingatkan kalau mereka akan telah, ayok berangkah beibeeh.

Seul Bi tepok jidat, ia malah melupakan akan hal itu.



Hot News hari ini adalah tentang Woo Hyun dan Seul Bi yang tinggal serumah. Berita menyebar ke seluruh anak disekolah dan  mereka terkejut akan hal ini.


Biang keladinya sudah bisa ditebak, YE NA yang sekarang berada di ruang Pak Yoon. Ye Na mengompori Pak Yoon dengan berkata kalau Woo Hyun dan Seul Bi bahkan bukan lah saudara. Seul Bi sekarang bekerja di kedai Woo Hyun.

“Nenek Shin Woo Hyun lalu  pergi, jadi aku mengerti mengapa dia sendirian. Tapi Lee Seul Bi, orangtuanya tidak disini. Lalu mengapa mereka hidup bersama?” Pak Yoon memijit kepala pusing. “Apa ada lagi?”

“Tak ada.” Jawab Ye Na dengan senyum kepuasan.




Seul Bi menuju ke loker dengan mendapat tatapan sinis dari teman temannya namun ia tak acuh dan percaya diri saja. Ye Na menyikut lengan Da Yool agar berbicara, Da Yool tak bisa melawan dan mengikuti apa yang Ye Na inginkan. Da Yool bertanya sinis, Sekarang kau tinggal dengan Woo Hyun?

“Siapa itu Woo Hyun atau Seong Yeol? Bukankah kau belum memutuskan?” tanya Ye Na.

Seul Bi sudah menebak kalau ini perbuatan Ye Na, ini hanya akan membuat Ye Na semakin jauh dengan Woo Hyun dan mendekatkan ia dengannya. Seul Bi menganggap lalu kekesalan Ye Na lalu meninggalkan ia.



Lebah itu!” teriak Ye Na.

“Oh Tuhan. Kau bisa lebih keras lagi?” cibir Young Eun yang menuju ke loker. Gadis gendut teman Da Yool bertanya kenapa Young Eun tak datang ke ulang tahun Ye Na? Padahal Da Yool memenangkan hape loh?

Da Yool meremas ponselnya dan mencoba menutupi dengan tangannya.

“Aku tidak pergi karena aku tidak ingin seseorang mati pada hari ulang tahunnya.” Sindir Young Eun.

Ye Na berulah dengan mengajak mereka untuk makan lagi di hari natal, dia punya ponsel terbaru lainnya. Ye Na kemudian menggandeng tangan Da Yool dan gadis gendut, ia mengajak mereka untuk pergi.



Sudah barang tentu Young Eun terpancing emosi dengan sikap so’ mantan sahabat –nya itu. Ia menggeram ingin membuatnya jadi perkedel mungkin namun beruntung Ki Soo datang lalu mengalagi langkah Youn Eun.

Baginya, tak pantas Young Eun meladeni orang seperti Ye Na. Bak pahlawan kesiangan, Ki Soo menawarkan dirinya sebagai pelampiasan kekesalan Young Eun. Young Eun tersenyum sinis menerima tawaran konyol tersebut.


Finally, wajah babak belur Ki Soo cukup parah. Young Eun benar – benar memukulinya sebagai pelampiasan.


Rapat guru dilaksanakan, dengan mengejutkan disini juga ada Sung Gook. Dengan gaya so’ gentle dia menarik kursi untuk tempat Bu So Jin, untuk sejenak Bu So Jin agak tertegun menatap kehadiran Sung Gook. Namun ia segera mengalihkan pandangannya pada Bu Kepala yang memberitahukan kalau Sung Gook adalah Ketua Dewan Baru.

Seketika Pak Yoon memuji Sung Gook dengan antusias namun Sung Gook menggerakkan tangannya so’ bijak agar Pak Yoon bisa diam.

“Rapat dimulai. Lee Seul Bi dan Nam Woo Hyun adalah siswa yang tinggal serumah. Bagaimana masalahnya?”



Setiap guru mengutarakan ketidak – setujuannya karena ini bisa menurunkan reputasi sekolah mereka. Bukan contoh yang baik pula dan kalau mereka sampai tidur seranjang lalu hamil.

Sung Gook bangkit dari duduknya, “Bertanggung jawab? aku tidak melihat ada orang yang bertanggung jawab untuk mereka. kau pikir mereka ingin hanya mereka dua? kau tertarik mengapa mereka dalam situasi untuk hidup bersama. kau tertarik mengapa mereka dalam situasi untuk hidup bersama.”

Sung Gook berhenti disamping Bu Soo Jin. “Perawat. Kau yang bertanggung jawab atas pendidikan seks, kan? Apa pendapat mu tentang hal ini?”



Bu So Jin terkejut bukan main karena ditunjuk dadakan. Dengan cegukan dia menjelaskan kalau seandainya murid – murid menerima pendidikan seks yang baik maka hal – hal yang tak terduga tak akan pernah terjadi. Pak Yoon menyuruh Soo Jin untuk mengambil minum agar cegukannya tidak berlanjut.

“Ini lah yang aku pikir kan.” Puji Sung Gook.

“Terimakasih.” Sahut Pak Yoon. Hahaha. Sung Gook bukan menunjuk Pak Yoon, maksudnya ia sependapat dengan Bu Soo Jin. “Ini adalah apa yang aku pikir. Membuat proposal yang baik bagi mereka. Atau menerima cinta mereka. Itu saja untuk pertemuan.”


Sung Gook akan pergi namun sebelumnya ia berbalik dengan menjentikkan jari, dia mengingatkan pada yang lain tentang Kim Kwang Shik. “Betapa kalian tak berperasaan tapi mengajarkan pada murid untuk berlajar kasih sayang? Apa itu? Kalian harus berubah. Maka jika berubah, anak – anak akan berubah.”

Pak Yoon menatap Sung Gook penuh ke kaguman. Sung Gook pun menunjuk Pak Yoon sebagai salah seorang yang berbakat. Pak Yoon bangkit, dia berjanji akan menemukan Pak Kim. Ia mengikuti langkah Sung Gook dan membukakan pintu untuknya.



Jae Suk cs mempertanyakan perihal Woo Hyun dan Seul Bi yang tinggal serumah.

“Apa? kau punya masalah? Jangan pedulikan urusan orang lain ' dan pikiran urusanmu sendiri.”

“kau harus senang ketika nenek mu meninggal. Karena kau bisa saja dengan dia.” sindir Jae Suk.



Woo Hyun tak bisa diam saja mendengar neneknya dibawa – bawa, ia pun mendorong tubuh Jae Suk dengan emosi. Jae Suk menantang Woo Hyun untuk memukulnya tapi dia juga harus ingat kalau sudah tak ada Nenek yang akan pergi ke sekolah.

Seul Bi merasa kalau Jae Suk sudah cukup kelewatan, ia memperingatkan kalau dia akan menghukum Jae Suk. Woo Hyun tak mau Seul Bi terancam, ia menarik tangan Seul Bi lalu menyembunyikannya dibalik punggung. Tangan kiri yang ada tandanya. Woo Hyun berkata kalau mungkin neneknya tak akan datang tapi sekarang ada Seul Bi yang akan pergi dengannya.

“Apakah ini yang kau lakukan di rumah juga?” cibir Jae Suk.

“Tidak! Kami bahkan lebih menyenangkan.” Ucap Woo Hyun membuat anak seisi kelar ber – oh ria.



Sedangkan Sung Yeol yang melihat perdebatan ini didepan pintu hanya bisa menghembuskan nafas panjang.


Pak Yoon mendesah lelah dihadapan Ji Hye bagaimana mereka harus menghadapi masalah Lee Seul Bi dan Woo Hyun. Mereka tak mungkin untuk mengirimkan keduanya ke panti asuhan. Pak Yoon membuat ide agar Ji Hye dan Choi sebaiknya membawa keduanya kerumah mereka.

“Itu tidak akan bekerja dengan baik?” ucap Ji Hye menghela nafas panjang. Pak Yoon tahu kalau ayah dan ibu Woo Hyun bercerai, jadi seharusnya mereka mengirim Woo Hyun keamerika untuk mempertemukan mereka.

“Dia (Ibu Woo Hyun) akan membawanya jika dia berada dalam situasi untuk melakukannya.” Jawab Ji Hye. Pak Yoon tetaplah yakin, bagaimanapun mereka tetaplah orang tua Woo Hyun.



Pelajar etika dimulai, seperti biasa Ji Hye hanya memutarkan audio dan siswa disuruh untuk mendengarkan. Huh, sungguh metode belajar yang membosankan. Dan ini melanda Seul Bi hingga ia hanya memainkan pulpennya dengan malas.

Sung Yeol berniat memegang tangan Seul Bi namun Seul Bi segera menghindar. Rupanya karena Woo Hyun menoleh kearahnya, tatapan Sung Yeol dan Woo Hyun pun bertemu. Keduanya berpandangan dengan sengit.



Jam pelajaran berakhir, Sung Yeol secara mengejutkan bertanya. “Kami belajar tentang nilai-nilai keluarga. Apa pendapat anda tentang seorang ibu  yang meninggalkan anaknya?”

Woo Hyun dan Seul Bi jelas terbelalak mendengar pertanyaan yang bermaksud menyindir Ji Hye itu. Ji Hye agak terkejut namun mencoba tenang, semua kan pasti karena masalah situasi. Sung Yeol kembali bertanya, namun Ji Hye tak mau menjadi panjang. Ia menyuruh Sung Yeol untuk bertanya saja diluar jam pelajaran.

Ji Hye pamit pergi, Sung Yeol tertunduk dengan senyum sinisnya.



Dalam perjalanan pulang, Ki Soo benar – benar tak percaya Sung Yeol mampu melontarkan pertanyaan tersebut. Dia telah membuat semua menjadi sulit. Sung Yeol menyukai guru etika atau tidak sih? Dia membuatnya menjadi pucat.

Woo Hyun terdiam menghentikan langkahnya. Ia menyuruh Seul Bi dan Ki Soo untuk pulang dulu. Woo Hyun berbalik, Seul Bi tak mungkin meninggalkan Woo Hyun. Ia pun mengejarnya.


Woo Hyun menemui Sung Yeol di rooftop, dia kemudian menuding Sung Yeol yang bersikap ke kanakan. Sung Yeol balas menyindir Woo Hyun yang mulai bersikap khawatir pada ibunya. “Bahkan anjing ditinggalkan dapat mencari anak anjing nya. Apakah kau senang kau menemukannya?”

Woo Hyun kesal sekali dengan sikap Sung Yeol. Sung Yeol menantangnya untuk memukul namun Woo Hyun menolak. Dia sudah berjanji pada Nenek dan Seul Bi kalau dia tak akan memukul seseorang.


“kau tidak akan bisa memenuhi janji itu.” Ucap Sung Yeol memancing emosi Woo Hyun dengan memukulnya lebih dulu. Dicengkeramnya krah baju Woo Hyun dengan penuh emosi namun Woo Hyun tetap diam tak melawan.

“aku berpikir untuk belajar sehingga Aku bisa pergi ke perguruan tinggi dengan mu. aku ingin mendaftar dengan mu dan. aku ingin meminum alkohol pertama ku dengan mu! Masa depan ku bukan hanya Seul Bi. Kau juga ada dalam kehidupanku.”

Sung yeol juga merasakan hal yang sama karena ia mulai bisa menganggap Woo Hyun sebagai temannya. Dan karena adanya persoalan ini, membuat Woo Hyun tampak menjijikkan. Woo Hyun diam tak melawan, apapun yang Sung Yeol lakukan. Ia tak akan membencinya.



Seul Bi berlari menuju rooftop, tanpa sengaja ia berpapasan dengan Ji Hye sehingga Ji Hye pun mengekori Seul Bi yang tampak tergesa – gesa dengan wajah panik.


Ji Hye mencoba melerai keduanya, namun Sung Yeol dengan marah menarik kerah Woo Hyun lalu menghadapkannya pada Ji Hye. “Perhatikan dengan teliti. aku yakin kau merindukannya sekali.”

Ji Hye membentak putranya tersebut, ia menatap Woo Hyun dan berharap Woo Hyun tak menyebabkan kekacauan.

“Itu kau yang menyebabkan  semua ini, Guru Ahn.” Tuding Woo Hyun.


Sung Yeol nekat naik ke tembok pembatas rooftop, dia ingin tahu kalau dia dan Woo Hyun jatuh bersamaan. Siapa kira – kira yang akan diselamatkan Ji Hye? Sung Yeol tersenyum sinis menatap Ibu Tirinya.

“Berhenti menjadi kekanak-kanakan dan turun sekarang!” bentak Woo Hyun.

“Siapa yang akan dia selamatkan dulu?  aku atau anak kandungmu?” tanya Sung Yeol.


Seul Bi mencoba mendekati Sung Yeol namun seketika bangku yang ada disana roboh menghalangi jalan Seul Bi. Seul Bi menyapu kesekitar, ia mendapati Sunbae lah yang melakukannya. Sunbae sekarang mulai mengarahkan tangannya kearah Sung Yeol.

“Lee Seul Bi, itu apa?” tanya Sung Yeol yang melihat tangan Seul Bi yang teracung kearahnya bersinar. Sepertinya Seul Bi tengah mencoba untuk menyelamatkan Sung Yeol.



Woo Hyun terkejut, dia berbalik untuk menyelamatkan Seul Bi namun kardus yang tertumpuk roboh juga menghalangi jalan Woo Hyun. Woo Hyun tak perduli tetap menerjang kardus tersebut, ia meraih tangah Seul Bi dan memeluknya.



Sung Yeol tak sadar malah terus memperhatikan Seul Bi, sehingga Ji Hye bisa menariknya turun.


****







7 Responses to "Sinopsis High School: Love On Episode 13 – 2"

  1. Sung Yeol kok kekanak-kanakkan gitu ya? ckckck..

    ReplyDelete
  2. Ceritanya mulai membosankan mb,, bagus pas di awal2..

    ReplyDelete
  3. ceritanya bagus :)

    ReplyDelete
  4. pngin banget punya filmnya :')
    cuma baca aja udah bnyak ngeluarin airmata nih, apalagi nonton filmnya :'D

    ReplyDelete
  5. sung yeol juga kasian, disisi lain dia tau klo ibu tirinya adl ibu kandungnya wooyun , disisi lain juga seulbie juga lbh milih wooyun jd sung yeol kecewa banget

    ReplyDelete

Jangan lupa komentar yaah^^ biar aku lebih semangat dalam membuat postingan. Meskipun jarang bales tapi semua komentar selalu aku baca kok.. *serius*

Gomawo^^