Sinopsis High School: Love On Episode 13 – 1

Sinopsis High School: Love On Episode 13 – 1
Woo Hyun terpaku ditempatnya berdiri, dia masih belum percaya dan menganggap apa yang ia dengar itu salah.

“Anakmu adalah Seong Yeol.” Tegas Woo Hyun. “Seul Bi. Aku salah dengar kan?”

Ji Hye mencoba memberikan penjelasan namun Woo Hyun menolak. Dengan susah payah Ji Hye berkata kalau semua ini ada alasannya. Memang sangat sulit untuk dipercaya tapi Woo Hyun benar – benar anaknya.
 
“aku tidak punya orang tua.  Silahkan pergi.” tegas Woo Hyun.




Woo Hyun berjalan menuju ke tempat kuburan neneknya, sekali lagi dia meminta Ji Hye untuk pergi karena dia akan berbicara pada Neneknya. Tangis Ji Hye tak tertahan lagi menerima penolakan dari putranya sendiri, dia pun pergi meninggalkan Woo Hyun bersama Seul Bi.



Woo Hyun seolah tengah bercerita dimakan neneknya, “Miss Gong, bagaimana kabarmu? Kau merindukanku kan? Mengapa hal ini hanya terjadi pada ku? Nenek.... kau adalah ibu dan ayah ku.”

Woo Hyun tertunduk pedih menerima kenyataan bahwa orang yang selama ini ia cari rupanya ada didekatnya tapi tak berusaha menemuinya. Pedih. Sedih. Kecewa. Seul Bi bisa menangkap kepedihan yang amat mendalam, ia memberikan sedikit kekuatan dengan menggenggam tangannya.



Ji Hye belum lah pergi, dia masih disana memperhatikan mereka dengan tangis yang tak bisa ditahannya. Ia pun juga merasakan kepedihan yang jelas tak jauh beda dengan apa yang Woo Hyun rasakan.


“Cuacanya sangat cerah.” Ucap Woo Hyun penuh kepura – puraan. Dia mencoba menyembunyikan perasaannya tapi apa daya, air mata tetap mengalir membasahi pipinya. Tersenyum pun terasa kaku dan Seul Bi menangkap gelagat Woo Hyun. Dia memandang wajah Woo Hyun dengan iba.

Senyum mu penuh kepedihan.” Batin Seul Bi.



High School: Love On Episode 13
Choice? The Pain of Losing All For You

Woo Hyun duduk termenung dikamarnya dengan tangan masih menggenggam kalungnya. Ia mengingat beberapa pertengkaran yang terjadi dengan Sung Yeol beberapa hari ini.

“Jadi kau sudah tahu?” gumam Woo Hyun.



Woo Hyun bersender di pagar pembatas lapangan basket, tak lama Sung Yeol pun datang menemuinya. Woo Hyun memecahkan keheningan diantara mereka, “Kau anggap aku apa? Berapa lama lagi akan kau  sembunyikan dan mencoba untuk mencekik ku? Apakah aku merusak kejutan mu?”

“Tampaknya begitu.” Jawab Sung Yeol sekenanya.

Woo Hyun menegaskan kalau tak ada yang berubah, dia tak perduli anak siapa Sung Yeol itu. Sung Yeol pun juga sama, dia tak akan berubah. Mengapa ibumu harus menjadi milikku?

Woo Hyun kembali menegaskan kalau dirinya tak butuh ibu. Sung Yeol kesal karena Woo Hyun begitu mudahnya mengatakan itu, iya karena dia ibu kandungnya. Woo Hyun membentak Sung Yeol, “kau dapat memilikinya, cengeng!



Woo Hyun berlalu dengan menabrak pundak Sung Yeol.

“Mereka mengatakan darah lebih kental dari air. Kau ambisius seperti dia.” cibir Sung Yeol. Woo Hyun menoleh dengan kesal, ia meminta Sung Yeol mengatakan hal itu sekali lagi. namun Sung Yeol malas, ia malas untuk kembali berurusan dengan Woo Hyun.

Sung Yeol pun pergi meninggalkan Woo Hyun.



Ji Hye tidur dengan tak nyenyak sepertinya sehingga Woo Jin tampak khawatir melihat wajah istrinya yang tidur dengan tak nyaman. Dia tengah demam.


Woo Jin harus pergi untuk bertugas, untungnya ia tepat saat itu Sung Yeol pulang. Dia meminta Sung Yeol merawat Ji Hye yang tengah sakit. Dia percayakan padanya. Namun sepatah katapun Sung Yeol tak menjawab, matanya sudah memerah menahan tangis.

“Apakah kau sakit?  kau juga tidak terlihat baik.”

“Rasanya sakit. Rasanya sakit sekali.” Ucap Sung Yeol penuh kepedihan.

Woo Jin memegang wajah Sung Yeol tapi tak demam, ia mengira mungkin hanya karena perubahan musim. Sung Yeol berniat mengatakan sesuatu tapi ucapannya terpotong oleh dering ponsel Woo Jin. Dia harus pergi sekarang juga, ia meminta Sung Yeol mengambilkan obat lalu tidur.




Sung Yeol berjalan dengan lemas menatap lekat ke arah foto keluarganya. Tampaklah ayahnya, ia dan Ji Hye yang tersenyum menatap kamera.

“Kenapa dia? kenapa ibunya Woo Hyun?” tanya Sung Yeol masih belum bisa menerima kenyataan.



Malam ini pun Woo Hyun tak bisa tenang, banyak pikiran yang berkecamuk dalam benaknya. Berkali – kali ia mengubah posisi duduknya namun tetap tak bisa terlelap.


Pagi menjelang, Woo Hyun sama sekali tak mengistirahatkan tubuhnya. Semalaman ia terus terjaga, pikiran yang kalut membuatnya tak akan mungkin bisa tertidur. Woo Hyun bangkit lalu berdiri di depan kaca, ia meraih kalung yang ada dilehernya.

Ini adalah satu-satunya benda yang kau berikan pada ku, jadi  itu satu-satunya benda yang harus aku buang.” Batinnya mantap sembari melemparkan kalung tersebut dalam tong sampah.



Woo Hyun dan Seul Bi berangkat bersama ke sekolah, tak seperti biasanya Woo Hyun jadi tampak diam. Pikirannya kosong hingga tak memperdulikan adanya Seul Bi, ia terus berjalan menyusuri jalan sendirian. Seul Bi dengan riang memberikan tangannya pada Woo Hyun. Woo Hyun heran, apa yang kau lakukan?

“Ketika hidup mu sulit,  Aku akan berada di sana untuk mengulurkan tangan.”

Woo Hyun menolak menerima tangan tersebut karena dengan begitu mereka akan jatuh. Ini membuat Seul Bi heran, bagaimana pun kalau mereka jatuh tetaplah berdua, kan?

“Ya? Lalu aku tidak boleh jatuh karena kau akan terluka juga.” Jawab Woo Hyun menggombal dipagi hari. Seul Bi pun tersipu mendengar jawaban Woo Hyun, jadi ia hanya berjalan mengekori Woo Hyun saja.




Jae Suk menemui dua sahabatnya yang tak datang dan ditelfon tak mau menemuinya. Apa mereka memang tak mau datang?

Tae Ho mengelak, bukannya dia tak mau datang hanya saja tak bisa. Saat ia akan pergi ayahnya datang dan memukulnya. Jae Suk giliran menatap Byung Wook yang sedari tadi diam, dengan malas ia berkata kalau dirinya ngantuk jadi tak datang.



Jae Suk tak sabar menghadapi sikap Byung Wook, ia meraih kerah bajunya. “Kejujuran?  Tinjuku ingin menjadi brutal juga.”

Byung Wook tak menanggapi dan bersikap malas untuk menghadapi Jae Suk. Tae Ho panik sendiri melihat dua rekannya beradu, “Apakah kau bermain game sepanjang malam? Tidak heran kau tidak menjawab.” Ucapnya mencoba melerai.

Jae Suk akan membiarkan Byung Wook untuk pergi sekali ini. Seorang murid gendut datang, dia memberitahukan kalau ada guru yang memanggil mereka. Setelah mengucapkan itu, gadis itu tak sengaja terjatuh dan menumpahkan makanan di toples yang dibawanya.



Jae Suk pergi dengan masih menatap tajam Byung Woo, ia sengaja menginjak makanan yang dijatuhkan oleh gadis tadi. Byung Wook sepertinya ingin berubah, ia kemudian membantu gadis yang terjatuh tadi memungut makanannya. “Ada kecap diwajahmu.” Ucap Byung Woo mengingatkan sang gadis gendut.

“Kau tak usah menemui guru. Aku hanya membuat mereka pergi.” ucap si gadis gendut.

“Ya, aku tahu.” Tukas Byung Wook. Gadis tadi bergumam heran, bagaimana Byung Wook bisa tahu?


“Apakah itu bagus untuk menjadi sendirian dengan Lee Seul Bi?  Apakah dia menggunakan kekuatan super-nya?” tanya Jae Suk pada Sung Yeol yang sibuk membereskan barang di loker. “Teleport? Aku membiarkan mu sendirian dengan Lee Seul Bi  dan aku marah Woo Hyun pergi. kau harus bersyukur.”

Sung Yeol sama sekali tak menanggapi ocehan Jae Suk. Namun tak diduga, rupanya Woo Hyun sudah ada dibalik loker mendengarkan percakapan keduanya.


Woo Hyun menduga kalau Sung Yeol telah bekerja sama dengan Jae Suk. Dia menyuruh mereka jangan melibatkan Seul Bi dalam masalah ini. Woo Hyun pun pergi setelah mengucapkan itu.

“aku pikir sesuatu yang menyenangkan akan terjadi pada kalian berdua.” Ucap Jae Suk dengan senyum lebar penuh kepuasan.

“Anak-anak akan berpikir itu akan menjadi lebih  menyenangkan antara kau dan aku.” Balas Sung Yeol meninggalkan Jae Suk.




“PLAAAK.” Pak Yoon tiba – tiba datang dan menggeplak kepala Jae Suk. Jae Suk meringis kesakitan menerima pukulan yang keras itu.

Pak Yoon menyuruh Jae Suk untuk melihat buku sebelum menggali kuburan terlalu dalam sehingga menyebabkan sumur minyak.


Da Yool heran ketika mendengar Ye Na akan mengadakan pesta ulang tahu padahal bukan ulang tahunnya. Ye Na berkata kalau dia hanya ingin melakukannya saja, dia meminta Da Yool untuk mengundang semua orang.

“Tapi Young Won tahu kapan ulang tahunmu?”

Ye Na tak masalah, toh dia tak akan mengundang orang tersebut. Dia bisa mengurusnya dan yang tepenting Da Yool bisa membawa semua orang. Tiba – tiba Ye Na terdiam dan memegang tengkuknya, dia bergegas pergi meninggalkan Da Yool.



Rupanya karena ada Young Eun yang datang.

“Sejak kapan kalian berdua jadi sahabat?  Kau tampak begitu dekat bersama-sama.” Tanya Young Eun tiba – tiba muncul. Da Yool frustasi sendiri, kenapa Young Eun dan Ye Na membuatnya pusing sih. Dengan sebal, Da Yool meninggalkan Young Eun yang keheranan.


Suasana belajar kelompok Woo Hyun dan lainnya tampak diam tanpa adanya komunikasi. Sung Yeol fokus memotret buku paket yang ada dihadapannya lalu memberi beberapa tanda pada bagian yang penting.



Tak lama ponsel Seul Bi berdering, dia hanya tertegun menerima pesan dari Sung Yeol.

“Aku sudah memberi tanda pada beberapa bagian penting di bagianku. Kau juga bisa melakukan hal yang sama.” Ucapnya. Ia kemudian berbenah untuk segera pergi meninggalkan yang lain. Woo Hyun merasa kalau cara itu cukuplah bagus. Ia berkata pada Ye Na kalau dia akan mengirimkan poin pentingnya juga.

Ye Na jelas semangat menerima tawaran Woo Hyun.

“Kenapa kau tidak pergi?” tanya Woo Hyun namun lebih seperti memerintah. Ye Na pun dengan berat hati pergi meninggalkan Woo Hyun bersama Seul Bi.




Seul Bi meminta buku paket yang dipegang Woo Hyun, dia akan mengirimkan buku tersebut pada Sung Yeol. Namun dengan jahilnya Woo Hyun meledek Seul Bi, “Katakan aku Mohon. Ayo, Katakan mohon.”

Seul Bi memintanya dengan gaya dibuat – buat namun malah membuat Woo Hyun malas. Dia kemudian menengadahkan tangannya, dia meminta dengan senyuman yang biasa ia tunjukkan. Woo Hyun sejenak terdiam menatap senyuman Seul Bi, ia pun memberikan buku tersebut.

Woo Hyun merubah wajahnya tegas. “jangan lakukan ini pada orang lain yah.”

“Kenapa jadi marah?” kesal Seul Bi.




Sung Yeol duduk termenung diluar kelas dengan telinga selalu ditutup earphone. Woo Hyun yang tengah membersihkan kaca melihatnya tengah bersedih. Woo Hyun meniup kaca didepannya mencoba menghilangkan Sung Yeol dari penglihatannya. Dia kemudian berbalik,

“aku tidak ingin melihat  kau memiliki waktu yang sulit.” Gumam Woo Hyun sedih.



Seul Bi membawa tempat sampah dari lantai atas. Ia akan membuang sampah tersebut, namun seketika Seul Bi mengurungkan niatnya. Ia kembali melihat isi dalam tempat sampah dan menemukan kalung Woo Hyun disana. Seul Bi terkesiap melihat kalung tersebut berada disana.


Woo Hyun membagikan beberapa selebaran disetiap mobil yang terparkir, seseorang keluar saat ia memasangnya pada sebuah mobil. rupanya itu Woo Jin, ia menyapa Woo Hyun dengan ramah namun Woo Hyun tak seperti biasanya. ia hanya menghormat seadanya dan buru – buru akan pamit.

“Seong Yeol tampak tertekan.  Apakah ada yang salah?” sergah Woo Jin. Rekan Woo Jin yang ikut keluar menebak kalau terjadi pertengkaran antara mereka. Tapi bukan masalah karena mereka masih muda. Woo Hyun merasa risih sekaligus bingung akan apa yang harus ia katakan, ia kembali pamit dan segera pergi.

“Apa yang terjadi dengan mereka?” desis Woo Jin penasaran.




Seul Bi memandangi kalung Woo Hyun yang ia temukan, ia benar – benar iba karena Woo Hyun pasti sangat sakit. Ia kemudian menyimpan kalung tersebut dalam laci.

Seul Bi berniat menghubungi seseorang namun ia mengurungkannya.


Seul Bi duduk disebuah tangga menantikan seseorang. Ia segera bangkit ketika Sung Yeol melewati tangga tersebut, ia mengatakan pada Sung Yeol kalau semua ini bukanlah salah Woo Hyun dan bukan pula salah Sung Yeol. Ini bukan salah mereka. Mungkin ini sulit bagi Sung Yeol tapi sulit juga bagi Woo Hyun.

“Jadi? Kau ingin aku  menghiburnya atau semacamnya?” tanya Sung Yeol sinis.

Seul Bi mengingatkan kalau orang tua mereka sudah dewasa dan berhak mengambil keputusan. Mereka tak bisa berbuat apapun kan? Lagipula sung Yeol adalah teman Woo Hyun.

“Kami bahkan tidak berteman sekarang. “

“kau dan Woo Hyun tampak  benar-benar baik sebagai teman.”



Sung Yeol berkata kalau dimata Seul Bi ada Woo Hyun seorang. Kalau sampai Seul Bi terus melakukan ini, dia tak tahu apa yang akan ia lakukan pada Seul Bi.

“Tolong jangan. kau menyakiti  Woo Hyun dan diri mu sendiri.”

Sung Yeol memperingatkan kalau Woo Hyun bukan lagi teman atau keluarga maka dia bisa merebut Seul Bi. Seperti yang ia katakan kalau dirinya akan mengambil segalanya. Semakin Seul Bi mempersulitnya maka dia cenderung akan mencuri Seul Bi. Jadi ia meminta Seul Bi jangan berkata masalah Woo Hyun dihadapannya.
Sung Yeol memilih meninggalkan Seul Bi sendiri.


Woo Hyun mempersiapkan sebuah pesta ulang tahun dengan sedihnya. Ia melakukan persiapan sendirian.


Dikamarnya, Woo Hyun memeluk baju milik Nenek. Ia berharap neneknya tak akan ada yang bersedih. Woo Hyun pun semakin mengeratkan pelukannya pada boneka tersebut.


****
Keesokan paginya, Ye Na menyebarkan undangan pestanya pada semua anak dikelas. Mereka tampaknya tertarik dengan undangan makan Ye Na. Ia menawarkan makanan yang tak terbatas dan sebuah hadiah smartphone terbaru.

Siswi gendut menunjukkan undangan tersebut pada Da Yool tapi Da Yool tampak sedikit marah.


Jae Suk bangkit lalu berjalan melewati Byung Wook dan Tae Ho. “kau harus pergi, Broke ass.” Sindir Jae Suk.

Byung Wook mendesis kesal dengan sikap Jae Suk yang menyebalkan namun Tae Ho merasa kalau mereka harus pergi. seperti kata ayahnya, Ayah ku selalu mengatakan bahwa  barang gratis tidak pernah buruk.


Ji Hye menggeserkan sebuah amplop pada Woo Hyun namun sudah barang tentu Woo Hyun akan menolaknya dengan tegas. Ji Hye beralasan kalau sudah memberikannya pada nenek Gong, tapi Nenek Gong meninggal maka ia berikan itu pada Woo Hyun. Woo Hyun masihlah terlalu muda untuk bekerja dan kenapa pula Seul Bi ada dirumah Woo Hyun?

“Ini bukan urusanmu.” Ketus Woo Hyun. Ji Hye memperingatkan kalau dalam hidup yang paling mereka butuhkan adalah uang namun Woo Hyun tak sependapat, untuk orang seumuran dirinya. Cinta dan kasih sayang adalah yang terpenting.



Aku tidak akan pernah meminta bantuan mu Ibu Ahn.  Jadi kau tidak perlu khawatir tentang itu. Mereka mengatakan orang dapat mengenali   kehilangan ibu mereka dari aroma mereka. Bahkan ketika mereka tidak tahu wajah mereka. Aku selalu khawatir tentang tidak diakui  , aku bertanya-tanya apa dia akan seperti. Dan bertanya-tanya apakah aku harus tertawa  atau menangis ketika aku bertemu dengannya. Jika Nenek meminta mu untuk mengurus ku,  maka kau hanya bisa melupakannya. Karena itu jauh lebih baik ketika  aku percaya kau berada di tempat lain. dia hanya butuh doa darinya. Ini menjadi neraka untuknya.” Tutur Woo Hyun benar – benar menyayat.

Woo Hyun meminta agar Ji Hye mau menjaga Sung Yeol. Dia pun kemudian pergi.



Ji Hye menahan tangan Woo Hyun, “Woo Hyun –ah.” Namun Woo Hyun menoleh dipanggil seperti itu oleh Ji Hye, ia menolak dipanggil seperti itu. Bahkan hanya dengan namanya saja sudah menyakitkan.

“aku tidak bisa datang ke sini lagi. Aku harus hidup sebagai ibu Seong Yeol sekarang.” Ucap Ji Hye yang dibetulkan oleh Woo Hyun. Ji Hye meminta agar ia bisa memeluknya sekali namun Woo Hyun menolak dengan keras, kalau dia hanya mengganggu pekerjaanya saya maka dia harus pergi.

Woo Hyun pun pergi ke dapur. Sedangkan Seul Bi yang sedari tadi berdiri dipintu tampak terkejut tak berani berkata apa – apa.



Ji Hye berjalan keluar rumah dengan terus menangis, ia menumpukan dirinya di pagar pun tak bisa menahan tangis ia. Ia terduduk dan menangis betapa sedihnya ketika ia ingin memeluk putra kecilnya yang sudah beranjak dewasa setelah lama ditinggalnya. Tapi, dia tak mau.

Ji Hye benar – benar hancur.


Jae Suk sepertinya akan pergi ke pesta ulang tahun Ye Na, ia bergumam apakah teman – temannya benar datang. Namun ketika ia melihat ada Guru Ahn Ji Hye yang duduk menangis didepan kedai Miss Gong, ia segera bersembunyi.


Woo Hyun mencoba mengalihkan pikirannya dengan menyibukkan diri membuat makanan. Namun berkali – kali pula ia kehilangan fokus dan menghentikan pekerjaan. Pikirannya masih tertuju pada Ibu juga.

Seul Bi datang menghampiri, sesegera mungkin Woo Hyun kembali dari lamunannya. Dia rupanya akan memasangkan Woo Hyun celemek, Seul Bi memutar tubuh Woo Hyun lalu memasangnya seperti apa yang Woo Hyun selalu lakukan padanya.

“Selera makanan yang terbaik ketika kau membuat  mereka berharap untuk yang terbaik, kata Nenek. Dengan wajah mu akan  membuat makanan sedih. Ya, ke sana kau pergi.  kau terlihat paling baik ketika tersenyum.”




Seul Bi mengambil pekerjaan Woo Hyun dan mulai memotong daun bawang. Woo Hyun memperhatikan lengan Seul Bi yang terbuka, ia pun meraih lengan Seul Bi dan meluruskan lengan bajunya agar menutupi lengan itu.

“kau harus menyembunyikan pergelangan tangan mu karena mereka begitu cantik.” Ucapnya. “Sekarang lengan mu terlihat lebih panjang.”



“Jadi itu kau?” tanya Woo Hyun kesal pada Ye Na. Sepertinya dia tak tahu kalau Ye Na lah yang memesan tempat untuk pesta ulang tahun. Ia kesal dan berniat mengembalikan uangnya pada Ye Na.

Ki Soo tersenyum garing agar Woo Hyun tak memberikannya, mereka butuh uang tersebut. Ia dan Seul Bi pun membawa Woo Hyun untuk masuk ke dapur.



Ye Na mengajak yang lain untuk segera duduk dan menyantap makanan mereka. Seseorang bertanya dimana hadiah yang disediakan Ye Na. Namun tampaknya Ye Na tak membawanya, “Tidakkah kau ingin aku bahagia di ulang tahun. pertama? Apakah kau hanya tertarik pada umpan?”

“Ke mana teman terbaik mu?” tanya Ki Soo. Ye Na berkata kalau dia sudah mengirim pesan tapi tak dibalas. Mungkin sibuk.

“kau mengatakan kepada kami untuk tidak menghubungi Young Eun sekalipun.” Celoteh Da Yool tak terbendung. Ye Na pun segera menjejalinya dengan menyuap kue beras.



Gadis gendut menyuapi Byung Wook sepotong kue beras, Tae Ho berkomentar kalau mereka seharusnya melakukan ciuman kue beras seperti di film – film.

“Dan itu akan menjadi film horor.” Tolak Byung Wook lalu meminta gadis gendut itu tak usah tersenyum.




Seul Bi membersihkan peluh Woo Hyun yang mulai menetes saat memasak. Keduanya tersenyum layaknya pasangan kekasih.

Dari kejauhan, tampaklah Ye Na yang memandang mereka dengan perasaan pedih.



Seul Bi menghidangkan makan, dia menahan Seul Bi lalu bersikap seolah tengah sakit perut. Ia bertanya dimana keberadaan toilet? Dia kekenyangan.

“Ya itu di lantai dua.” Jawab Seul Bi.

Ye Na pun bergegas pergi dengan masih memelintir perutnya.


Ye Na masuk ke rumah Woo Hyun, belum apa – apa dia sudah sedih melihat dua pasang sepatu terdapat didepannya. Ia kembali berjalan dan mendapati benda – benda milik Seul Bi dan Woo Hyun yang terdapat sepasang. Apalagi saat ia melihat sepasang sikat gigi yang ditaruhnya bersama dalam satu tempat. Poor.


****

3 Responses to "Sinopsis High School: Love On Episode 13 – 1"

Jangan lupa komentar yaah^^ biar aku lebih semangat dalam membuat postingan. Meskipun jarang bales tapi semua komentar selalu aku baca kok.. *serius*

Gomawo^^