Sinopsis Iron Man Episode 5 – 1

Sinopsis Iron Man Episode 5 – 1
Se Dong tak hanya berdiam diri di rumah orang tua Tae Hee, ia membantu mereka untuk bersih – bersih rumah dan menyiapkan bahan makanan.


Se Dong mencuci mukanya selepas lelah melakukan berbagai macam pekerjaan. Ibu mengejutkan Se Dong dengan mengarahkan pisau kearahnya. Dia bertanya apa maksud ibu?

Ibu berkata kalau dia tak bisa memotong dua ayam sendirian, Se Dong harus membantunya. Ingat yah, disini ibu Tae Hee menganggap Se Dong sebagai Tae Hee. Se Dong ketakutan kalau harus memotong ayam. Ibu mengingatkan kalau dulu Se Dong bahkan memotong babi sendirian. Bukankah ia sendiri yang ingin memotong ayamnya?

“Memotong babi?” Se Dong semakin terbelalak.



Se Dong memejamkan matanya ketakutan mendengar suara desingan pisau memenggal ayam. Dia tak kuat harus mendengarnya.

Bulu – bulu ayam bertebangan kearah Se Dong, dia yang sudah tak mendengar suara kokok ayam pun mulai membuka matanya. Se Dong terkesima melihat bulu ayam itu tampak indah dibawah sinar cahaya pagi. Se Dong mencoba meraih sehelai bulu ayam, namun ia kesulitan karena angin membawanya pergi. Dengan ceria, Se Dong terus mencoba meraihnya meskipun akhirnya bulu ayam itu terbang nan jauh membawa kita menuju ke tempat Hong Bin bersama Ayah Tae Hee dan Chang di tepian sungai.




Ketiganya tengah duduk di sampan tepian sungai. Hong Bin bertanya dimana keberadaan Tae Hee sekarang? Namun seberapa kali pun Hong Bin mencoba bertanya, ayah Tae Hee tetaplah diam.

“Kau tak mau memberitahuku? Aku mengerti. Jika aku jadi kau, aku juga tak akan memberitahunya. Siapa yang memberitahumu Kalau Chang sudah lahir? Jika bukan karena Chang,  aku tak akan ke sini. Bagaimana mungkin aku bisa ke sini lagi? Tapi, sekarang Chang sudah datang, tolong katakan padaku.” Mohon Hong Bin ditengah bungkamnya Ayah.




[FLASHBACK]
Ayah Tae Hee berlutut dihadapan Jang Won demi putrinya yang tengah sekarat. Dia sudah tak perduli akan harga dirinya sekarang, dia hanya ingin tahu dimana keberadaan Hong Bin. Mungkin dengan adanya Hong Bin disisi Tae Hee yang sekarat bisa membuatnya sembuh.

Jang Won tak bergeming ataupun merasa kasihan, dia memanggil seorang yang ada diluar. Sekretaris Ko masuk, dia berkata kalau tak ada seorang pun yang ada diluar makannya dia yang masuk.

“Kenapa kau ada di sini?”

“Pelayan Yoon bilang, anda ingin memberikannya sesuatu.”

Jang Won menyuruh Sekretaris Ko untuk mengantarkan Ayah menuju ke Stasiun. Ia memerintahkanya untuk menggunakan kereta yang kelas terbaik. Ayah mencoba mengejar Jang Won yang pergi namun ditahan oleh Sekretaris Ko.




[FLASHBACK END]

Sekali lagi Hong Bin memohon, dia akan tinggal disana untuk beberapa hari sampai Ayah mau menceritakan apa yang terjadi.



Pikiran Ayah kembali melayang pada saat dimana ia memohon pada Jang Won. Dia terduduk dengan hati pedih dan sedih. Bukankah Jang Won tahu bagaimana rasanya menjadi seorang Ayah? Tae Hee sekarang tengah sekarat.

Jang Won masih diam seribu bahasa, bahkan tanpa perasaan sama sekali tak menatap Ayah Tae Hee yang sudah terduduk tak berdaya.



Keheningan antara Ayah Tae Hee dan Hong Bin berubah ketika Se Dong berteriak kearah mereka. Dia memberitahukan kalau dia memiliki sesuatu yang menakjubkan, dia melambaikan tangan pada ketiganya.


Makanan sudah terhidang menenuhi meja di teras rumah Ibu Tae Hee. Se Dong dan Chang menatap makanan itu dengan takjub, sudah tak tahan untuk melahapnya namun berbeda dengan Hong Bin. Dia hanya diam tak terlalu suka.



Ibu sibuk menyiapkan makanan, dia menyuruh pada Ayah untuk mengambil cabai. Fermentasi kacang saus tak akan enak kalau tak memakai cabai. Ibu pun berniat menyiapkan air beras namun sebelumnya ia berbalik. Dia menyuruh Hong Bin menganggap rumah ini seperti rumahnya dan makan yang banyak. Sepertinya Hong Bin orang yang kuat.

Hong Bin diam, dia hanya memandang ibu dengan heran.



Chang menatap kepergian kakeknya, Se Dong mengerti akan pandangan Chang. Ia pun membisikkan sesuatu padanya.


Ayah memetik cabai di kebun, ketika ia bangkit. Dia melihat Chang sudah berdiri tak jauh darinya. Ayah Tae Hee membuka lebar tangannya, seolah meminta Chang untuk datang menghampirinya. Chang terdiam, dia bingung harusnya ia kesana. Ayah bisa merasakan keraguan yang ada pada Chang, ia pun mengangguk meyakinkan.

Chang menghampiri Ayah Tae Hee yang mengulurkan tangannya. Chang kembali ragu untuk meraih tangan Ayah. Namun akhirnya dia menerima uluran tersebut, Ayah tak bisa menahan air matanya yang tiba – tiba mengalir. Ia cucunya, keturunan dari putri kesayangannya. Sungguh putrinya yang malang.

“Kau punya kartu? Kartu lama punya ibuku. Ibu bilang untuk memintanya jika aku bertemu denganmu.” Tanya Chang. 





Se Dong disuapi oleh Ibu Tae Hee, dia riang sekali bisa menerima suapan tersebut dan makan dengan lahapnya. Sedangkan Chang, dia diperhatikan oleh Ayah Tae Hee. Ayah memberikan beberapa lauk dalam mangkuk Chang.

Hanya satu manusia yang terasing, Hong Bin pun berniat menyumpit udang untuk dimakan. Namun dengan segera ibu bangkit, dia menahan sumpit Hong Bin lalu memberikan udang tersebut untuk Se Dong.

Hong Bin Cuma bisa melongo menatap mereka berempat, dia tak jadi makan.





Se Dong masih menerima suapan sampai perutnya sudah hampir penuh. Dia tak kuat lagi tapi mencoba tetap makan demi Ibu Tae Hee.

Hong Bin yang menatapnya semakin melongo, apa dia tak punya tangan?




Se Dong kekenyangan dan tidur di dipan dengan perut buncit. Ibu datang lalu mengelus perut buncit Se Dong, tapi dimatanya Se Dong tetaplah cantik.

“Kenapa ayah Hong Bin tak menyukai anakku yang cantik ini? Dan anaknya yang menyukai sayangku duluan. Anaknya yang datang duluan. Karena dia masih muda, dia suka mengikutimu. Dia dulu sering memohon agar kau mengajarinya.” Ucap Ibu membuat Hong Bin diam tak berkutik. Dia duduk tak jauh dari mereka dan mendengar semua perkataan ibu.

Ibu mengusap lembut wajah Se Dong. “Sayangku, Apa kau terluka? Jika sayangku terluka, apa kau pikir aku tak terluka?”

Hong Bin semakin diam. Dia sekarang tahu bagaimana perasaan wanita yang dikasihinya selama menerima penolakan dari Jang Won. Se Dong pun mengusap air mata yang mengalir di wajah Ibu dengan penuh kasih sayang.




Tiba – tiba ibu bangkit, dia berkata kalau ia lupa untuk mengantarkan cabai ke restauran Tn. Dae Ting. Kakinya sudah renta sehingga sulit untuk membawa cabai kesana. Se Dong mengusap lutut ibu, “Lututmu pasti sangat sakit.”

Ibu menoleh kearah Hong Bin. Dengan pandangan memohon, dia menyuruh Hong Bin untuk membantu putrinya untuk mengantarkan cabai.



Yeah, seperti biasanya. Hong Bin tak akan mau susah payah dan ia pun hanya berjalan didepan selayaknya bos yang bisa berlenggang memberikan semua pekerjaanya pada Se Dong. Se Dong memohon agar Hong Bin membantunya, seandainya dia tak makan banyak mungkin dia tak akan kesulitan membawa kantong cabainya.

“Mengejutkan sekali melihatmu makan seperti orang kelaparan tadi. Kau menyebut dirimu manusia? Bagaimana bisa manusia makan sebanyak itu? Mengumpulkan semua daging di dunia dan memakannya. Rasanya seperti menonton beruang kodiak Alaska yang kelaparan.” Ucap Hong Bin dengan gaya anehnya.

Se Dong tertawa, ia kira Hong Bin malah akan mengatainya sebagai Babi. Tapi kalau dia tak memakannya mungkin akan membuat Ibu menjadi sedih. Bukankah tadi Hong Bin bisa melihat betapa bahagianya Ibu ketika melihatnya makan dengan lahap?




Hong Bin tak terima Se Dong memanggil Ibu Tae Hee sebagai Ibu. Bahkan dia saja merasa tak pantas memanggilnya Ibu tapi kenapa Se Dong dengan alaminya memanggilnya Ibu? Sungguh jahat dan licik.

“Maksudku, Semua ibu di dunia adalah ibuku. Apa maksudmu? Jahat? Licik?”

“Dan sangat bodoh.” Tambah Hong Bin.

Se Dong tak mau membahas terlalu panjang, dia kembali memohon pada Hong Bin untuk membawakan cabainya. Hong Bin malah memegang pipinya dengan malu, tapi tetap pada keputusan awal. Dia tak mau membawakan cabe itu. Hong Bin berjalan mendahului Se Dong.



“Apa kau tak bisa membawa cabai ini? Ayolah bantu aku. Kau jahat sekali, Cabainya masih basah, jadi berat begini. Benar tak bisa kau saja yang bawa.” Mohon Se Dong.

Ibu – ibu yang tengah memetik cabai mendengar permintaan Se Dong pada Hong Bin. Mereka menertawakan keduanya, dan menyuruh Hong Bin membawakan kantong cabai Se Dong. Hong Bin celingukan, dia malu ketika tahu kalau orang yang menertawakannya sangat banyak. Sedangkan Se Dong, dia ikut saja tertawa untuk menutupi rasa malunya.

Kayaknya, Cabai itu memiliki makna sesuatu deh. Makannya disini Hong Bin sampai memegangi pipinya malu, dan lagi ibu – ibu juga menertawakan mereka ketika Se Dong memohon agar Hong Bin membawakan cabainya.




Hong Bin terpaksa harus mengangkut karung cabainya, dia sungguh kesal harus melakukan hal tersebut.

Se Dong mencari – cari Tn. Dae Tong untuk bertanya dimana ia harus meletakkan karung cabai. Namun rupanya Tn. Dae Tong tengah sibuk meneriaki seseorang dari atap rumahnya. Dia kesal karena orang yang ia teriaki merusak tanahnya.

Saking kesalnya, Tuan Dae Tong tak sadar kalau genting yang ia pijak sudah rapuh. Tuan Dae Tong pun jatuh dari atap rumahnya.



Se Dong terkejut, dia segera masuk ke rumah Tuan Dae Tong untuk melihat keadaanya dan ia sudah jatuh telentang diatas tumpukan jerami. Se Dong kebingungan, dia mendudukkan Taun Dae Tong. Tuan Dae Tong bertanya siapa sebenarnya Se Dong?

“Ada yang memintaku membawakan anda cabai merah itu. Si supir perahu itu.”

“ooh, rumah Tae Hee.”

Se Dong berniat membantu Tuan Dae Tong untuk berdiri namun Tuan Dae Tong tak bisa karena punggungnya sakit bukan main. Se Dong meminta Tuan Dae Tong untuk menunggu sebentar.


Se Dong mencari Hong Bin namun hanya ada karung cabai yang tergeletak disana. dia mengejar Hong Bin yang tampak malas untuk menanggapi Se Dong.

“Perwakilan Joo, bantu aku! Cepatlah. Cepat.” Pinta Se Dong langsung meninggalkan Hong Bin. Hong Bin tak bisa berkutik, dia hanya mendesah kesal menerima perintah Se Dong.




Dengan wajah malesnya udah kebangetan, Hong Bin membopong Tuan Dae Tong dan meletakkan ke kasur dengan segera. Se Dong menawarkan Tuan Dae Tong untuk ke rumah sakit namun Tuan Dae Tong menolak tawaran Se Dong.

Hong Bin yang mukanya sudah ditekuk memilih untuk pergi saja meninggalkan Se Dong.



Hong Bin keluar dari rumah Tuan Dae Tong, dia celingukan mencari Se Dong yang tak mengikutinya dan malah berjalan berlawanan arah dengannya. Hong Bin bertanya kemana Se Dong akan pergi?

“Anda pulang duluan saja.” ucap Se Dong masih sibuk dengan kertasnya.

Hong Bin melongo. Dia heran dengan Se Dong, dengan kesal ia pun menghadang Se Dong.


“Kau mau apa? Kau mau kemana?” tanya Hong Bin.

Se Dong berkata kalau dia akan pergi mencari obat. dia akan melakukannya sendiri jadi Hong Bin bisa pulang terlebih dulu. Hong Bin memanggil Se Dong yang sudah berjalan meninggalkannya, apa tujuanmu ke sini?

Se Dong dengan polos berkata kalau dia hanya mengikuti Hong Bin, bukankah ia yang membawanya kesana? Hong Bin mengingatkan kalau Se Dong datang kesana itu untuk menjadi babysitter Chang. Se Dong berkata untuk meralatnya saja, toh Chang juga sekarang tak membutuhkannya. Ada nenek dan Kakek yang menjaga Chang.

“Apakah dia membutuhkanmu atau tidak, kau ke sini bukan untuk bermain tapi bekerja. Ini adalah jam kerjamu, kenapa kau menjalankan tugas untuk orang lain?”




Se Dong berbalik dan bertanya pada Hong Bin dengan jarak yang amat dekat. Hong Bin memundurkan badannya dengan canggung.

“Jadi, aku ke sini sebagai babysitter- nya?” tanya Se Dong yang di – iya – kan oleh Hong Bin.

Se Dong menolak, dia tidak bekerja sebagai babysitter tetapi programmer. Dia bersama Chang karena dia adalah temannya.

“Kalau begitu, jadilah temannya.”

“Dia tak memerlukanku sekarang. Dia bersama keluarganya. Aku pergi dulu.” Ucap Se Dong.




Hong Bin bertanya pada Se Dong yang akan pergi, apa dia tahu jalannya?

Se Dong menunjukkan kertas yang ia bawa, dia sudah diberikan petunjuk. Hong Bin mengingatkan lagi kalau Se Dong itu tak punya uang. Se Dong menunjukkan kertasnya lagi, dia sudah mendapatkan uang transportasi ke pasarnya.

“Berapa banyak?” tanya Hong Bin lagi.


Se Dong berbalik dan menatap tajam Hong Bin. Hong Bin heran kenapa Se Dong menatapnya seperti itu. Se Dong masih menatap tajam Hong Bin dan berjalan mendekatinya. Dengan gaya aneh, Hong Bin kembali bertanya. “Memangnya kau mau bicara apa, hingga menatapku begitu?”

“Kau tak tahu jalan pulang ke rumah, 'kan? Atau, Kau akan merasa canggung jika kau pulang sendirian? Chang bermain dengan kakeknya. Dan neneknya pikir kau adalah penagih siaran TV.” tebak Se Dong yang langsung ditepis oleh Hong Bin.

“Kalau begitu, kau mau ikut denganku?”

Heol.. Ucap Hong Bin lucu. Liat ekspresinya ah, sulit dijelasin.

“Kau mau aku memohon padamu untuk ikut, tapi aku malah meninggalkanmu. Jadi, kau kesal, 'kan?”
HEOLL!!... Geram Hong Bin lagi.

“Jadi, bukan ya? Kalau begitu, pulanglah duluan. Aku harus pergi.” Ucap Se Dong dengan meledek.



Se Dong berbalik dengan tersenyum, ia pun kemudian berlari meninggalkan Hong Bin. Hong Bin yang tadinya masih melongo sadar, dia mengejar Se Dong tapi Se Dong semakin berlari kencang.

Kejar – kejaran nih ye...



Chang tengah disuapi oleh Neneknya, Kakeknya keluar dengan membawakan sebuah kotak mainan, Thunderbird. Chang menunjukkan kartu miliknya. Kakek menjelaskan kalau thunderbird itu adalah milik Ayah Chang. Tapi Jang Won melarang Ayah Chang untuk memainkan itu, jadi dia lah yang menyimpankannya untuk Ayah Chang.

Ibu Tae Hee alias Nenek Chang menjadi kesal mendengar ucapan Kakek. Dia jahat... Jahat.. “Jika memikirkannya, Aku terbangun di tengah malam. Aku membesarkannya tanpa pernah memukulnya. Berani-beraninya dia memukul anakku?”

Kakek menenangkan Nenek, dan mengingatkan kalau Chang juga mendengar ucapannya.




Dipasar, Hong Bin mengikuti Se Dong yang berlarian kesana – kemari dengan takjub. Dia sebentar – sebentar perkata, Ketua lihatlah ini. Ketua lihatlah ini. Sedangkan Hong Bin mulai malas, dia mengajak Se Dong untuk pulang. Namun Se Dong tak perduli, dia malah berjalan menuju ke kios penjual pakaian dalam. Hong Bin yang berniat mengikuti Se Dong pun jadi urung.



Se Dong berlari kearah Hong Bin, dia meminjam uang untuk membeli pakaian dalam. Dia pergi dengan buru – buru tanpa membawa uang makannya dan saat akan memakai pakaian ibu, tak ada pakaian dalamnya. Hong Bin risih mendengar penuturan Se Dong yang blak – blakan banget. Dia tanpa melihat menyodorkan Se Dong beberapa lembar uang. Se Dong diam menatap uang yang diberikan Hong Bin.

“Tidak cukup? Kenapa mahal sekali?” tanya Hong Bin seraya menambahkan beberapa lembar uang lagi.

“Ya Tuhan...” desah Se Dong.

“Kenapa pakaian dalam wanita mahal sekali?” tanya Hong Bin kesal lalu melemparkan dompet miliknya.



Se Dong tersenyum heran, dia menganggap Hong Bin benar – benar unik. Se Dong pun membuka dompet Hong Bin untuk mengambil uangnya, namun disana ada foto Kim Tae Hee yang terselip. Se Dong memperhatikan Hong Bin yang berdiri tak jauh dihadapannya dengan miris. Ia mengembalikan fotonya lalu mengambil uang selembar.

“Sudah diam di sini. Aku hanya meminjam 1000 won.” Ucap Se Dong. Se Dong pun memilih pakaian dalam.

Se Dong melihat pakaian dalam lagi, dia juga butuh itu. Dia kembali meminjam dompet yang telah ia kembalikan pada Hong Bin. Sekarang Hong Bin langsung saja melemparkan dompetnya. Selesai memilih, Se Dong menyodorkan dompet itu lagi pada Hong Bin namun seseorang malah merebut dompet Hong Bin.



Keduanya terkejut, mereka segera berlari mengejar dompet yang dibawa kabur oleh pencuri itu. Namun saat mengejar pencuri itu, Se Dong malah terjatuh. Hong Bin mengejarnya tanpa ampun, dia terus berlari kemanapun pencuri tersebut pergi.

Saat Hong Bin kehilangan jejak, dia malah melihat Se Dong tengah mengejar pencuri tersebut.



Sekarang Hong Bin bukan lagi mencari keberadaan dompetnya, dia malah berlarian mencari dimana Se Dong berada. Hong Bin berlarian kesana – kemari untuk menemukannya namun sampai malam menjelang pun, ia belum bisa menemukan Se Dong.

Hong Bin sampai di tengah pasar, dia celingukan mencari – cari Se Dong. Namun entah kenapa pandangan Hong Bin berubah, yap berubah sendu. Dia diam terpaku, seolah ada pengalaman buruk yang pernah dialaminya sehingga Hong Bin begitu.

Semua kios telah tutup, tak ada seorang pun didalam pasar. Keadaan telah gelap sehingga Hong Bin mulai beranjak pergi.


5 Responses to "Sinopsis Iron Man Episode 5 – 1"

  1. FIRST COMENT
    sebelumnya Thanks buat mba puji yg udh menulis sinopnya,
    moga slalu sehat dn semangat nyelesain sinop'nya :)

    salam kenal :)

    ReplyDelete
  2. Thanks mbaq udh mau lnjutin ...
    D tnggu ea mbaq part 2 na ...

    ReplyDelete
  3. wow it is verry nice.

    ReplyDelete
  4. kayanya sy mulai tertarik akan drama ini
    moga aja yg cewenya gk pling plang

    ReplyDelete
  5. kerennn...lanjut y mba...smangat...

    ReplyDelete

Jangan lupa komentar yaah^^ biar aku lebih semangat dalam membuat postingan. Meskipun jarang bales tapi semua komentar selalu aku baca kok.. *serius*

Gomawo^^