Sinopsis Night Watchman Journal Episode 6 – 2

Sinopsis Night Watchman Journal Episode 6 – 2
PM Soo Jong ditemani oleh Moo Seok menuju ke kediaman Rin yang telah berantakan. Moo Seok meminta maaf karena tak berhasil menjaga Rin. Namun PM Soo Jong tak bisa memaafkannya begitu saja, Moo Seok telah melalaikan tugasnya sendiri. Dan ia memutuskan untuk memecat Moo Seok.




Do Ha memegang pipinya terus menerus, ia tak mau Pemilik Penginapan melihat pipinya yang membengkak. Pemilik Penginapan terkejut melihat kondisi wajah Do Ha tapi Do Ha berbohong kalau dia hanya terjatuh. Pemilik Penginapan tak percaya, ini sungguh membuat ia merasa kalau dirinya sangat kejam. Dia bisa menebak kalau Do Ha mendapatkan pukulan ketika mencari uang. Dia memang ingin uang tapi tak tega kalau melihat Do Ha harus menerima pukulan.

“Apa kau sudah memakai obat?”

“Sudah.”



Pemilik Penginapan hari ini tampak sangat ceria daripada biasanya bahkan hari ini ia memasak daging sendiri. Do Ha berbisik pada Anak Pemilik Penginapan, apa yang terjadi padanya?

“Dia sedang senang karena dapat pisau dari si pandai besi.” Jawab Anak itu. “Kau belum mengembalikan cincinnya?”

Do Ha terkejut, benar juga kalau dia belum mengembalikan cincin milik Soo Ryun.



Do Ha menemui Soo Ryun, tapi sayangnya Soo Ryun malah sedang terburu – buru untuk pergi ke suatu tempat. Bahkan dia sama sekali tak melihat Do Ha, dan hanya melewatinya.


Dan rupanya, status Pangeran Wolgang sepertinya sudah berubah menjadi buronan. Bahkan para prajurit melakukan penyisiran untuk mencarinya.


Soo Ryun semakin panik hingga ia menuju ke Maeranbang. Do Ha yang mengekori Soo Ryun pun ikut masuk kedalamnya, dia yang tak tahu menahu terjebak dalam barisan para wanita yang mengenakan pakaian khas china.

“Benda yang akan ditampilkan hari ini dikenal karena kelangkaannya, bahkan di Cina. Jangan melakukan hal-hal yang akan merusak acara, Akan ku pastikan kalian menghabiskan sisa hidup di ruang bawah tanah.” Jelas Nyonya pemilik Maeranbang, dia juga teman Sa Dam.





Do Ha yang ada dalam barisan mengangkat tangannya. Nyonya menatap Do Ha tajam dan seketika wajahnya terkesiap. Sebuah kejadian tergambar jelas dalam pikiran nyonya saat Do Ha dan Youn Ha harus terpisah karena Youn Ha dijemput paksa oleh kaum Yong Shin.

Namun seketika dia mengerjapkan matanya, dia bertanya apa yang tengah Do Ha lakukan? Do Ha berkata kalau dia tengah mencari seseorang. Namun tak sempat Do Ha berkata lebih lanjut, seorang Dayang menemui Nyonya untuk memberitahukan kalau dia ada tamu.




Tamu – nya tak lain adalah Soo Ryun yang meminta pada Nyonya untuk sebuah pedang dan perahu menuju ke China. Nyonya mengingatkan kalau menyelundupkan seseorang itu sangat berbahaya. Soo Ryun meyakinkan dan akan memberikan apapun yang Nyonya minta.

“Apa kau yakin dengan perkataanmu? Kalau begitu, aku ingin mendapatkan izin resmi untuk menjual obat herbal di ibukota. termasuk untuk klinik lokal.” Pintanya.

Soo Ryun terkejut karena dia tak memiliki wewenang yang cukup. Nyonya berkata bukankah Perdana Menteri adalah penanggung jawab Klinik Lokal dan Soo Ryun juga memiliki hubungan yang baik dengan pemilik klinik lokal.

“Klinik itu hanya untuk masyarakat miskin. Tetapi obat herbal dari China sangat mahal...”

“Pikirkan yang terbaik. Pilih mereka Atau Pangeran?” tanya Nyonya menggoyahkan keteguhan Soo Ryun menjaga Klinik Rakyat itu.




Pria kemarin mengolok – olok Do Ha yang terkurung dalam kandang melihatnya dalam barisan para dayang Maeranbang. Mereka merasa marah atas apa yang mereka terima kemarin dan belum puas kalau belum membalas dendam. Mereka memanggil seorang dayang pemimpin disana. Keduanya akan melakukan balas dendam sekarang.




Pertunjukkan untuk menunjukkan beberapa keramik, lukisan dan pedang antik pun dilakukan. Para hadirin memberikan tepuk tangan atas keindahan yang ada di barang antik tersebut.


Do Ha yang tengah gelisan menanti kehadiran Soo Ryun berniat untuk pergi namun Dayang Pemimpin disana, Dayang itu memberikan gulungan kertas pada Do Ha. Do Ha menjelaskan kalau dia disana hanya untuk menemukan seseorang.

Dayang itu membujuk kalau Do Ha bisa segera pergi mencari orangnya setelah membawa gulungan tersebut.

“Barang ini adalah sebuah karya dari salah satu kaligrafer paling terkenal dari Dinasti Tang.” Jelas Nyonya.
Do Ha menolak untuk diajak ke tempat pertunjukkan, namun ia didorong masuk kesana. Tak sengaja, gulungan yang dipegang Do Ha terbuka. Disana tertulis: Harga diriku tiga pence. Pence: uang koin yang sangat kuno.

Semua orang menertawakan Do Ha, gelak tawa terdengar diseluruh Maeranbang. Nyonya yang tadinya tak melihat segera menghampiri Do Ha lalu menggulung kembali kertasnya. Dengan hormat ia meminta maaf pada seluruh hadirin.





Dua Pria gila yang mengerjai Do Ha pun turun dari tempat duduknya. Dia menertawakan Do Ha yang membanting Pangeran Wolgang dan tak bisa membaca, tapi mungkin kalau hanya 3 pence itu sangat murah. Mereka mulai penawaran dengan harga satu perunggu.

Salah seorang dari mereka berbisik pada Do Ha, kalau Do Ha mau sepuluh perunggu maka Do Ha harus mau melepas baju compang – campingnya. Do Ha tak terima menerima penghinaan yang sangat keterlaluan ini. Dia merebut gulungan kertasnya dan membanting dihadapan pria tadi.

Dua Pria bangsawan itu tak terima, dia menjambak rambut Do Ha dan meminta pada Nyonya untuk memanggil polisi.



Nyonya melerai ketiganya, dia kemudian menampar Do Ha dua kali. Nyonya mengemabil tiga buah uang pence lalu melemparkannya ke tanah. “Harga dirimu bahkan lebih rendah nilainya dari tiga pence. Ambil koinnya.”

“Dirimu lebih rendah dari tiga pence. Cepat ambil koinnya!”




Dalam diam, Do Ha memungut uang – uang yang tergeletak di tanah. Menahan isakan amarahnya, dengan tangan bergetar dibawah tawa para penonton.

“Jika harga diriku lebih rendah dari tiga Pence, Untuk kalian semua bajingan di sini. Dua pence bahkan terlalu banyak.” Ucap Do Ha seraya melempar dua pence uang yang telah dipungutnya. Do Ha pun pergi menahan amarahnya yang telah membuncah.





Tanpa sengaja, Do Ha berpapasan dengan Soo Ryun saat menuju keluar. Do Ha memberikan cincin milik Soo Ryun sendiri.

“Bahkan sepuluh cincin ini tidak bisa membeli gelang kakakku.” Ucap Do Ha hampir menangis. Dia segera pergi meninggalkan Soo Ryun yang menatapnya heran.



Rin semakin lemah di tepian jurang. Dia berteriak mencari bantuan tapi tak ada siapa – siapa disana.


Trio hantu mencoba mencari keberadaan Rin. Menteri Ddoong cukup yakin kalau Rin berada di hutan tersebut, “Tempat tinggalnya sudah dekat ke pintu gerbang utara istana. Itu berarti ini adalah satu-satunya gunung di mana dia bisa bersembunyi.”

Rang Yi mengeluh mendengar suara ribut Menteri Ddong dan Kasim Song, sampai akhirnya ketiga hantu itu mendengar suara teriakan Rin.


Kasim Song panik melihat Rin yang lemas di tepian jurang. Rin pun sudah tak berpura – pura tak melihat mereka lagi. Rang Yi kesal dibuatnya, “Tunggu, dia mengakui kita sekarang, apa dia membutuhkan bantuan kita?”

Kasim Song tak memperdulikannya sekarang, dia berjalan menuju ke tempat Rin berada. Dia meminta Rin untuk meraih tangannya, namun seberapaun keduanya mencoba, tangan Rin tak bisa meraih tangan Kasim Song. Mereka berada dalam dimensi yang berbeda.

Kasim Song menangis, dia akan mencarikan bantuan untuk Rin.

“Kau akan kembali, kan?”

“Tentu saja.” jawab Kasim Song. Dia bergegas pergi dan meminta Rang Yi untuk menjaga Rin.





Namun seberapapun caranya Kasim Song untuk mencoba berbicara dengan para penduduk, tak ada seorang pun dari mereka yang mendengar jeritan kasim Song meminta tolong.

Akhirnya, dia hanya bisa gelojotan di tanah tak bisa menemukan bantuan.


Do Ha masih terisak mengingat penghinaan Nyonya yang mengatai kalau harga diri Do Ha lebih rendah dari tiga pence. Sungguh ini melukai perasaan Do Ha.

Sampai akhirnya dia melihat Kasim Song yang tengah gelojotan di tanah. Kasim Song pun teringat dengan sosok Do Ha. “kau?!”




Rin masih mencoba berteriak mencari bantuan. Pikirannya melayang disaat dimana ia merasa sulit, saat Pangeran Kisan yang menghukum dengan mencambuknya. Dan ketika Pangeran Kisan menodongkan pedang karena mengetahui kalau Rin bisa melihat hantu. Lalu dia mencoba dibunuh oleh seseorang.

Dan yang paling terngiang yaitu, saat dimana Ratu Dowager menyuruh Rin untuk hidup tapi seolah sudah mati.



Do Ha dan Kasim Song sampai ke tempat Rin berada, Do Ha mencoba melihat siapa yang berada dalam tepian jurang. Dia terkejut mengetahui kalau itu Rin, “lobak kering....”



Belum lama, prajurit menangkap cahaya obor yang dibawa oleh Do Ha. Sigap, Do Ha melempar obornya kedalam jurang. Lalu ia pun bersembunyi, Do Ha melempar batu ke arah yang jauh dari keberadaanya. Suara gaduh batu tersebut mampu mengalihkan perhatian mereka.



Do Ha melemparkan talinya pada Rin, namun masih terlalu lemah untuk bisa mengangkatnya. Do Ha bertanya apakah dia harus turun? Rin melarang, yang terpenting talinya kuat maka dia akan bisa naik. Do Ha pun mengikat talinya ke batang pohon lalu mencoba menarik Rin lagi.

Meskipun kepayahan akhirnya Rin berhasil keluar juga dari tepi jurang.

“Aku cukup kuat menyelamatkan hidup seseorang, tiga pence terlalu rendah, kan?” gumam Do Ha kesal mengingat kejadian tadi.




Mereka berlima berjalan mengikuti Rin. Tapi lagi – lagi suara para prajurit membuat mereka terkejut, prajurit mencium keberadaan Rin lagi. Trio hantu menyuruh Rin dan Do Ha untuk pergi dulu lalu mereka akan mengalihkan perhatian.

“Tidak ada yang bisa mendengar mereka atau menyentuh mereka. Apa yang akan mereka lakukan?” gumam Do Ha heran.



Rin menyuruh Do Ha untuk pergi saja dan dia akan kembali ke kediamannya. Do Ha terkejut, dia melarang karena di kediaman Rin banyak sekali prajurit yang berjaga. Rin harus bersembunyi atau setidaknya meminta bantuan teman kenala Rin.

“Teman kenalan?” tanya Rin meremehkan lalu berjalan mendahului Do Ha.




“Apa kau membedakan kelas seseorang yang mengkhawatirkanmu? Apa orang kelas bawah sepertiku tidak boleh mengkhawatirkanmu? Ketika seseorang mengkhawatirkanmu...”

“Tidak ada.” Potong Rin. “Aku tidak punya kenalan. Aku punya tempat tinggal, dan tidak ada yang membantuku. Tidak ada. Dohwadang adalah satu-satunya tempatku beristirahat.” Jelas Rin.

Rin kembali berjalan meninggalkan Do Ha, sepertinya Do Ha cukup tersentuh dengan apa yang Rin katakan dan ia pun mengikutinya.



Do Ha berhasil membujuk Rin untuk ikut dengannya, Rin hanya bisa heran melihat tempat tinggal Do Ha. Di kedai Penginapan sangat ramai, Do Ha kebingungan bagaimana dia bisa membawa Rin menuju ke kamarnya.

“Apa kau benar-benar tinggal di sini?”

“Aku tinggal di sini. Tapi ada satu masalah kecil.”

Do Ha kembali mengintip keadaan di kedai.



“Ku dengar malam ini malaikat seksi kesini. Apakah itu hanya rumor?” tanya seorang pria.

Dan anak pemilik penginapan yang centil berjalan masuk kesana, ia menyibak rok hanboknya menunjukkan kaki puntihnya. Tak lama, pria – pria mulai mengerubungi gadis itu dengan pandangan ngiler tentunya.

Do Ha memanfaatkan keributan ini untuk memboyong Rin menuju kamarnya.




Rin segera merebahkan tubuhnya, meskipun tubuh berlumpur dan pastinya bau kali yah.

“Apa kau mau tidur? Apa kau lapar? Apa kau butuh sesuatu?” tanya Do Ha cerewet.

Rin bangkit dengan perasaan dongkol, geregetan dengan sikap rewel Do Ha. “Tidak. Aku mau tidur. Aku tidak lapar. Aku tidak butuh apa-apa! Aku hanya ingin bersenang-senang dalam situasi mengerikan ini. Jadi tolong tinggalkan aku sendiri.”



Do Ha berasa mau meremas Rin hidup – hidup tapi melihat luka dilengan Rin membuat Do Ha miris melihatnya. Do Ha mengambilkan ramuan yang ia dapat dari Moo Seok, dia menyuruh Rin untuk menggunakan obat itu sebelum tidur. Rin tersenyum, dia menggoda Do Ha dengan berkata kalau dia akan membuka bajunya. Do Ha semangat karena Rin mau bangun, obatnya sangat mujarab dan ia mendapatkannya dari seorang yang Rin kenal.

“siapa?”

“Tidak.” Ucap Do Ha menggeleng.

“Siapa itu?”

“sudahlah.”

“Siapa?” tanya Rin masih ramah tapi Do Ha tetap menggeleng. “Katakan!!!” Rin geram. Hahahaha, suka banget scene ini. Entah kenapa.





Do Ha berjingkat ketakutan, ia pun jujur kalau mendapatkan ramuan itu dari orang yang menangkap Rin. Rin tertawa lalu kemudian mengeratkan kembali pakaiannya dengan kesal. Rin mengambil botol ramuan itu dan membantingnya. Dia tanpa ampun menyuruh Do Ha keluar.




Do Ha pun sama kesalnya dengan Rin, kalau bisa mungkin akan menelan Rin hidup – hidup. Dia geregetan sendiri didepan kamar.

“Apa yang terjadi?” tanya Sang Hoon mengejutkan Do Ha.



*** Bersambung ke Sinopsis Night Watchman Journal Episode 7***

Aku rasa karena ucapan Ratu Dowager, Rin akan mengubah identitasnya. Dan untuk interaksi Rin dan Do Ha, aku suka banget. Ga tahu kenapa aku udah dapet feelnya.

5 Responses to "Sinopsis Night Watchman Journal Episode 6 – 2"

  1. Fighting...... Update terus cingu. Jadi lebih semangat nonton dan baca sinopsisnya. :D

    ReplyDelete
  2. makasih banget sinopsisnya .. makin seruu .. ditunggu episode selanjutnya ...

    ReplyDelete
  3. Makin seru ceritanya..maksih buat sinopsisnya...ditunggu episode 7..hwaiting :)

    ReplyDelete
  4. Karena itu Jung Il Wo oppa,jadi pasti dapat banget feelnya mba...Ngena banget pokoknya :)
    Thank you sinopsnya baru sempat baca sekarang...dan salam kenal

    ReplyDelete

Jangan lupa komentar yaah^^ biar aku lebih semangat dalam membuat postingan. Meskipun jarang bales tapi semua komentar selalu aku baca kok.. *serius*

Gomawo^^