Sinopsis Night Watchman Journal Episode 6 – 1


 PM Soo Jong keluar dari ruang pertemuan dengan amat kesal. Sa Dam yang keluar memberikan hormatnya pada PM Soo Jong. PM Soo Jong menghampiri Sa Dam, dia berjanji akan merobek lidah jahat Sa Dam.

“Bagaimana Anda bisa mengatakan hal mengerikan seperti itu untuk abdi surga?”

“Apakah kau pikir aku takut? Surga tak akan dilayani oleh preman seperti mu?”

Sa Dam seolah bersikap dirinya lah yang sekarang berada di posisi aman, dia tak melanjutkan ucapannya dan menunduk pamit.



Seorang Menteri bawahan PM Soo Jong bertanya, apa yang harus mereka lakukan? Kalau sampai Pangeran Wolgang keluar maka mereka juga harus keluar.

PM Soo Jong masih yakin kalau Raja tak akan mengambil keputusan terburu – buru karena mereka masih memegang kendali tentara.


PM Soo Jong menuju ke kediaman Raja, dia berpapasan dengan Moo Seok yang tengah berjaga disana. PM Soo Jong bertanya apa Pangeran Wolgang baik – baik saja? apa benar Moo Seok ada disana?

Moo Seok membenarkan semua pertanyaan PM Soo Jong. PM Soo Jong menyuruh Moo Seok untuk membiarkan ia lewat namun Moo Seok melarang karena Raja telah memerintahkan agar jangan ada seorang pun yang menemuinya. PM sekali lagi menyuruh Moo Seok membiarkan ia lewat tapi Moo Seok tetap pada pendiriannya.

“Aku selalu mengagumi kemampuan mu, tapi aku selalu ragu-ragu. Ragu apakah kau mampu menangani masalah-masalah penting. Aku selalu merasa tidak nyaman setiap kali aku berpikir tentang hal itu. Keras kepalamu. Kau harus belajar bagaimana untuk membungkuk jika kamu ingin bertahan lama. Tapi kau terlalu keras kepala!” ceramah PM Soo Jong seraya meninggalkan Moo Seok.



Moo Seok berkata kalau dia tak mau membungkuk meskipun ia hancur ketika membela sesuatu yang benar. Dia akan melakukannya dengan senang hati.

“Bagaimana kau bisa begitu setia kepada Raja dengan pola pikir yang benar?” tatap PM Soo Jong nyinyir.



Rin masih bisa memakan santap paginya dengan penuh selera, melahap setiap hidangan yang tersaji diatas meja. Moo Seok yang datang cukup heran melihat Rin yang masih memiliki selera makan disituasi seperti sekarang.

“Apakah kau mengatakan untuk berhati-hati karena seseorang mungkin meracuni makananku?” Rin terkejut. Tapi Rin meralat sendiri ucapannya, tak ada yang akan meracuninya disaat semua perhatian terpusat padanya. Kecuali orang tersebut bodoh lagipula situasi seperti sekarang, ia harus makan dengan baik.



Setidaknya, Moo Seok menyuruh Rin untuk bersikap seolah khawatir. Namun bagi Rin, berpura – pua khawatir pun tak akan merubah keadaan. Lagipula, dia belum makan makanan lezat dikerajaan. Rin menyuruh Moo Seok untuk makan juga.

“Apakah kau tahu bagaimana istana ini bekerja?”

“Istana ini bekerja? Ini tampak seperti tidak ada apa-apa.” Ucap Rin polos.




---***---
Kasim Song telah mengecek rumah Rin, dan ia tak tidur dirumahnya semalaman. Rang Yi kesal dengan sikap Rin, “Berani-beraninya dia tidur di tempat lain?”

Kasim Song mengingatkan kalau Rin itu sudah dewasa, dia harus pergi mencari wanita untuk dijadikan istri. Menteri Ddoong juga setuju kalau Rin tinggal diluar semalaman.


Segerombol prajurit datang ke kediaman Rin, mereka segera masuk setelah menerima perintah dari sang pemimpin. Kasim Song khawatir dibuatnya. Menteri Ddoong juga merasakan ada sesuatu yang salah terjadi.

Do Ha datang pula ke kediaman Rin, “Dia masih belum keluar? Ku harap itu bukan sesuatu yang serius..” gumamnya.

Menteri Ddong bertanya pada Do Ha, apa dia tahu dimana Rin? Dia meminta penjelasan Do Ha. Kasim Song mengingatkan kalau Do Ha adalah manusia. Dia tak akan mendengarmu.

“Dia ada dikurung di istana.” Ucap Do Ha membuat Trio Hantu berjingkat kaget.



“Apakah kau berbicara dengan kami? Dapatkah kamu melihat kami?” tanya ketiganya penasaran.

“Memangnya ada siapa lagi disini?” tanya Do Ha.

Do Ha kebingungan apa yang sekarang ia lakukan, haruskah ia mengambil gelangnya kedalam. Rang Yi penasaran apa yang ingin Do Ha ambil? Apa yang terjadi? Kenapa Rin dikurung di Istana?

“Sialan! Aku juga tidak tahu! Aku khawatir juga.”



Petugas mulai menyisir seluruh ruangan di setiap sudut kediaman Rin. Bahkan ada salah seorang yang menemukan gelang lonceng milik Do Ha dikamar Rin. Di emperan, ada pula yang menemukan boneka jerami yang biasa digunakan untuk praktek ilmu hitam.

Lengkaplah tuduhan untuk Rin, gelang milik dukun dan boneka jerami itu.



Kasim Song mencoba menenangkan dirinya menanti hasil dari penggeledahan. Menteri Ddoong juga berharap tak ada sesuatu yang terjadi. Mungkin Rin tak memiliki alat ritual.

“Kami telah menemukan alat ritual digunakan untuk kutukan. Biarkan Raja tahu!” Pemimpin pasukan memimpin anak buahnya. Dengan segera mereka meninggalkan kediaman Rin.



Berita mengenai Rin yang menggunakan kutukan pun segera menyebar ke seluruh anggota kerajaan. Soo Ryun pun juga terkejut dibuatnya, dia berlari menuju ke kediaman Rin untuk melihat dengan mata kepalanya sendiri. Ketika dayang mencoba mencegah Soo Ryun pun tak ia hiraukan meski dia akan mendapatkan masalah kalau sampai Ayahnya tahu.



Do Ha ikut duduk bersama dengan trio hantu. Kasim Song semakin khawatir karena semua orang yang terlibat dalam pengutukan pada Raja akan mendapatkan hukuman mati.


Soo Ryun mencoba memasuki kediaman Rin, namun dihalangi oleh prajurit yang berjaga. Penjaga bertanya mengenai hubungan antara Soo Ryun dengan pemilik rumah. Namun Soo Ryun tak mau mengatakannya, “Aku tidak perlu memberitahu mu. Minggir!”

Penjaga berkata kalau mereka diperintahkan oleh Raja untuk menangkap semua kenalan Pangeran Wolgang. Pemimpin penjaga memerintahkan untuk menangkap Soo Ryun.

Untungnya Do Ha segera datang, dia berpura – pura menjadi Dayang Soo Ryun. “Aku salah menunjukkan rumah! Rumah yang itu, bukan yang ini! Rumah itu! Mari kita pergi!” Do Ha pun membimbing Soo Ryun untuk pergi bersamanya.



Soo Ryun sangat khawatir memikirkan Rin, Do Ha pun juga sama.

“Jadi apa yang terjadi kemudian? Apa yang terjadi jika dia terlibat? Lobak kering, tapi dia tidak akan menggunakan kutukan pada siapa pun!” tutur Do Ha.

Soo Ryun membenarkan, dia heran kenapa Do Ha bisa kenal dengan Pangeran? Do Ha berkata kalau dia ingin mengambil gelangnya. Soo Ryun kalap, ketika hidup Rin saja masih dipertanyakan tapi ada yang masih mengurusi hal kecil. Do Ha juga merasa tak nyaman untuk mengatakannya sekarang, tapi yang jelas gelang itu adalah gelang yang penting. Ia berjanji akan membantu Rin.

“bagaimana caranya kau akan membantu Pangeran?” Soo Ryun melepas cincinnya dan memberikan pada Do Ha. “Kau harusnya bisa membeli sepuluh gelang sialan mu dengan ini. Jadi jangan muncul di depan Pangeran lagi.”






Do Ha merasa kalau ucapan Soo Ryun sangat kasar. Soo Ryun pergi meninggalakan Do Ha yang tampak cukup marah dengan ucapan Soo Ryun.


Prajurit menyerahkan penemuannya pada Raja. Sa Dam yang ada disana meraih boneka jerami untuk ritual, ia membuka gulungan kertas kecil yang tersimpan dalam tubuh boneka jerami. Dia menunjukkan pada Raja hingga Raja membulatkan mata terkejut. Dalam kertas itu tertulis informasi horoskopnya.

“Benda tersebut pasti digunakan untuk mengutuk Anda.”

“Aku tidak akan membiarkan dia hidup!” murka Raja.





Rin berniat mencari udara segar namun setiap ia melangkah, Moo Seok mengikutinya bagaikan ekor. Rin geram dibuatnya, apa kau mencintaiku? Kenapa kau selalu mengikutiku?

Moo Seok berkata kalau dia hanya mematuhi perinta Raja yang menyuruhnya agar jangan pergi dari sisi Rin.
“bisakah kau memberi ku waktu sendirian? Jadi aku bisa melakukan sesuatu yang disebut Berpikir.”

“Saya diperintahkan oleh Raja untuk tidak pernah meninggalkan sisi Anda. sehingga Anda tidak bisa berpikir atau melakukan hal-hal yang licik.”

Rin yang cukup marah dibuatnya, dia menyuruh Moo Seok untuk mengikutinya saja.





Kehadiran para prajurit membuat Rin terkejut, mereka segera menggeledah masuk ke dalam kediamannya. Moo Seok berkata kalau prajurit telah menemukan bukti bahwa Rin mengutuk Raja. Seluruh istana bahkan sedang memperdebatkan hukuman apa yang akan dijatuhkan pada Rin.

“Mengutuk Raja? Kau berada di sana juga. Aku hanya mengenang ibuku! Ini konspirasi! Seseorang mencoba menjebak ku!” kesal Rin.

Moo Seok tampak dingin menghadapi kemarahan Rin, bahkan sepertinya dia tak terlalu percaya dengan apa yang Rin katakan.



Moo Seok menunjukkan boneka jerami dan gelang lonceng yang ditemukan di kediaman Rin. Rin bertanya pada Moo Seok, akankah ia juga percaya kalau dirinya mengutuk Raja? Bahkan sekarang, Moo Seok lah yang menjaga barang bukti – nya.

“Bahkan jika Anda tidak mengutuk Raja, hal yang tak bisa dimaafkan adalah ketika Anda memiliki niat untuk menyakiti Raja. Niat buruk pada Raja, tak perduli apapun. Anda harus mempertanggung jawabkan konsekuensinya.”




Rin menjatuhkan barang bukti yang ada dihadapannya. Rin marah dengan perlakuan Moo Seok yang seolah bertindak kalau Rin benar – benar bersalah. Apa kau yakin akan segala sesuatu yang ada dihidupmu? Apakah kau pernah berpikir bahwa ada suatu fakta yang berada di luar keyakinannya? Hal – hal yang terlihat, mungkin adalah suatu kebenaran.

Bagi Moo Seok tak ada kebenaran yang nampak pada diri Rin. Rin memalingkan wajahnya karena kecewa, dia menyuruh Moo Seok untuk pergi. Dia sudah memiliki banyak pengawal jadi tak membutuhkan Moo Seok lagi.

Moo Seok berniat pergi.

“Suatu hari, Sifat dingin mu akan menyebabkan masalah untukmu.” Ucap Rin.




Do Ha menatap cincin milih Soo Ryun dengan amarah, dia minum untuk mendinginkan pikirannya. Pemilik Penginapan juga merasa kesal pula, dia merebut air Do Ha lalu meminumnya. Dia berkata pada Do Ha kalau ia tengah marah. Do Ha menyuruh Pemilik Penginapan untuk jangan memendam amarah karena hanya akan membuat kerugian saja.

“Ya, jadi biarkan aku memberitahu mu ini. Jika kau makan makanan, kau membayar untuk itu. Jika kau mendapatkan ruang di sini, kau membayar untuk itu.” Ucap Pemilik Penginapan seraya menengadahkan tangan untuk meminta bayaran pada Do Ha. Do Ha tak tahu apa yang dimaksud pemilik Penginapan, ia pun hanya menepuk tangan si Pemilik Penginapan.

Pemilik Penginapan kesal, apa Do Ha tak tahu maksudnya? Padahal dia bisa membayarnya dengan cincin yang dipegang Do Ha. Do Ha tak mau memberikan cincin tersebut, itu bukan miliknya dan salah satu yang membuatnya jadi sakit kepala. Bagaimanapun dia tak akan menggunakannya.

“Benda yang kau miliki padahal bisa untuk menginap 100 hari.” Tutur Pemilik penginapan. Do Ha dilema dalam mengambil keputusan. Dengan ragu, dia mulai menyodorkan cincin tersebut namun dengan segera ia berubah pikiran. Dia tak akan memberikannya!! Dia akan mengebalikan cincin tersebut.

“Hei!! Kalau begitu carilah uang!! Lalu bayar biaya penginapan!!” bentak Pemilik Penginapan.

Do Ha pun bergegas pergi setelah menerima omelan Pemilik Penginapan.





Do Ha berjalan – jalan ke pasar, melihat penduduk yang melakukan transaksi jual beli. Dia berfikir untuk menemukan kakaknya, tapi dia butuh tempat tinggal. Jadi sekarang dia akan mencari uang dulu untuk mendapatkan tempat tinggal.

Seorang berjalan dan tak sengaja menabrak Do Ha. Do Ha yang tak tahu apa – apa melihat ke tanah, dia menemukan se – ikat koin. Dia berfikir kalau dia telah berhasil mendapatkan uang.

Do Ha pun menatapnya dengan kegirangan.



Pria yang tadi menabrak Do Ha kebingungan mencari uang – nya, dia melihat Do Ha yang tengah menatap uang miliknya. Pria itu langsung menampar Do Ha dan menyebutnya sebagai pencuri. Do Ha bingung kenapa dia menyebutnya pencuri?

Pria tadi membolak – balikkan koinnya, dia kehilangan beberapa koin dan lagi – lagi menuduh Do Ha yang menyembunyikan koin miliknya. Pria itu meminta Do Ha mengembalikkan koin miliknya atau bahkan dengan ganti rugi cincin yang dikenakan Do Ha.

Pria itu kembali berniat menampar Do Ha tapi untungnya Do Ha sigap dan menjatuhkan tubuh pria itu ketanah.



Do Ha tak terima terus – terusan dikatai pencuri, Do Ha akan memukul Pria tadi. Untungnya ada Moo Seok yang datang lalu menahan tangan Do Ha. Pria itu menyuruh Moo Seok untuk menangkap Do Ha yang telah mencuri uangnya.

Moo Seok memungut koin yang terjatuh ke tanah. Ia menimang – nimang koin tersebut dan menyunggingkan senyum simpulnya. “Kau yang seharusnya ditangkap.”

“Apa maksud anda tuan?”

“Ini palsu.” Ucap Moo Seok.

Pria itu berniat kabur tapi untungnya Do Ha memelanting kaki si Pria hingga terjatuh.



Do Ha membasuh wajahnya yang lebam akibat tamparan Pria tadi. Moo Seok memperhatikan Do Ha dari atas jembatan, dia turun dan bertanya apakah keadaan Do Ha baik baik saja? dia harus lebih berhati – hati dimasa yang akan datang. Moo Seok kemudian mengeluarkan obat untuk Do Ha, dia menyuruhnya untuk mengulaskan pada tempat yang sakit.

Do Ha berniat meraih obat tersebut, tapi seketika ia mengurungkan niatnya. Dia mengatakan kalau ia baik – baik saja. Moo Seok tahu apa yang dirisaukan oleh Do Ha, dia berkata kalau itu gratis kok. Do Ha pun tak ragu lagi dan menerima ramuan pemberian Moo Seok.




Moo Seok berjalan pergi, Do Ha memanggil Moo Seok lalu meraih tangan Moo Seok yang terluka. “Anda bisa melihat orang lain terluka, tapi kenapa kau tidak melihat lukamu sendiri?”

“Hal ini sudah sering terjadi.”

Do Ha membuka penutup ramuannya lalu mengulaskan sedikit ke luka Moo Seok. Dengan hati – hati, Do Ha bahkan meniup luka yang mungkin terasa sakit. Moo Seok menatap Do Ha seolah menunjukkan kalau ia tertarik padanya. Namun dengan segera ia memalingkan wajah dan menarik tangannya.

“Oh ya, Lobak kering.... Tidak, maksudku Pangeran Wolgang,  Apa yang akan terjadi padanya?”

“Dia harus membayar kesalahannya jika dia ditemukan bersalah.” Jelas Moo Seok.

Do Ha terfokus pada kata membayar, dia teringat harus membayar kamar. Ini membuatnya pusing tapi yang terpenting dia berterimakasih pada Moo Seok atas apa yang telah ia lakukan.





***
PM Soo Jong dengan para antek – anteknya melakukan rapat untuk membahas tindakan mereka. Banyak diantara Menteri yang merasa aneh dengan sikap raja yang tak bisa diduga. Bahkan para Dayang pun sering mendengar adanya kegaduhan yang keluar dari kediaman raja.

Namun, PM Soo Jong tetaplah tak percaya dengan hal yang berbau hantu. Dia menegaskan kalau tak ada hantu di lingkungan istana.



Sedangkan Sa Dam sendiri melakukan sebuah ritual dalam sebuah ruangan. Dan Raja berada diruangannnya, dia tampak tak begitu tenang. Dia selalu tampak gelisah dan penuh amarah.




Rin yang tertidur dengan tak pulas mendengar sesuatu, ia pun terbangun. Diluar tampaklah seorang misterius mendekati kearah kediaman Rin lalu mengeluarkan pedangnya. Rin yang mendengar suara desingan pedang segera meraih kipas yang ia letakkan disampingnya.

Terjadilah pertarungan tak seimbang antara pedang dan kipas. Beberapa pengawal mencoba membantu Rin namun mereka berhasil dikalahkan dengan hanya sekali tebas. Pertarungan Rin dan Pria misterius berjalan dengan sengit, sampai akhirnya lengan Rin tertebas karena pedang.




Pria itu menempatkan pedangnya di leher Rin, ini membuat trauma masa kecil Rin kembali terulang. Saat dimana Raja menodongkan pedang di leher Rin semasa ia kecil.

Untungnya, tepat saat itu Prajurit mulai berkumpul untuk menangkap pria misterius tersebut. Sedangkan Rin memilih untuk kabur dari istana.



PM Soo Jong menemui Raja Ki San. “Bagaimana kau bisa begitu ceroboh? Kau menggantikan posisi Pangeran Wolgang. Sekarang kau mencoba untuk membunuhnya? Ini bukan masalah yang bisa kau anggap mudah, Yang Mulia!”

Raja mengelak telah mengirim utusan untuk membunuh Pangeran Wolgang.

Seorang Kasim masuk kedalam ruangan Raja, dia melaporkan bahwa Pangeran Wolgang telah menghilang. Raja pun tersenyum menang, dia menuduh Pangeran Wolgang sendiri lah yang membuat keributan dan kabur ketika semua orang tak memperhatikannya.




Rin kabur masuk ke dalam hutan. Dengan terus memegangi luka di lengannya, Rin terus berjalan masuk kekedalaman hutan. Sampai akhirnya, Rin yang mulai pucat kehabisan tenaga, kepalanya mulai berputar dan jatuh ke dalam jurang.

Rin berpegangan ke pohon di tepian jurang namun tangannya yang terluka membuat ia tak bisa bertahan. Dia terguling dan tertahan oleh akar tumbuhan.




Sinopsis Night Watchman Journal Episode 6 – 2



0 Response to "Sinopsis Night Watchman Journal Episode 6 – 1 "

Post a Comment

Jangan lupa komentar yaah^^ biar aku lebih semangat dalam membuat postingan. Meskipun jarang bales tapi semua komentar selalu aku baca kok.. *serius*

Gomawo^^