Sinopsis King of High School Life Conduct Episode 14 – 2


Min Suk menarik Soo Young masuk dalam ruangannya, bahkan Ketua Tim yang mencoba menjelaskan mengenai acara mereka pun tak di gubris.




Min Suk mendudukkan Soo Young lalu bertanya padanya, apa yang telah Soo Young makan bersama dengan ibunya?

“Samgyetang.” Jawabnya lirih. Min Suk membentak Soo Young. Pasti ibu Soo Young adalah Yoo Jin Woo kan? Kenapa ?! Kenapa?! Ohh. Apa semua ini karena aku?

Soo Young hanya tak ingin membuat Min Suk khawatir, tapi yang terpenting sekarang adalah membuat Jin Woo tetap bungkam. Min Suk semakin kesal karena berarti Soo Young benar – benar melakukannya karena dirinya? Min Suk semakin kesal dan membanting ID – nya. “Hyungku atau direktur apapun ini! Aku tidak mau melakukan ini lagi. Aku tidak mau!”

Min Suk keluar dari ruangannya, Ketua Tim Kim tak tahu apa – apa hanya terbengong. Namun berubah terkejut setelah diberitahu Soo Young kalau Min Suk akan mengatakan yang sebenarnya pada Presdir Yoo.


Ketua Tim Kim dan Soo Young mencoba menahan Min Suk namun Min Suk masih keras kepala. Direktur Han yang tengah berada di koridor pun jadi ikut membantu keduanya menahan Min Suk.



Mereka bertiga membopong Min Suk menuju ke belakang gedung. Mereka mencoba membujuk Min Suk namun tak berhasil. Soo Young dengan penuh percaya diri menawarkan diri untuk menyelesaikan masalah ini. Direktur Han tak percaya. Soo Young pun meyakinkan.

Direktur Han menyeret Ketua Tim Kim untuk membiarkan Min Suk dan Soo Young berdua. Tapi bukannya pergi, mereka malah mengintip dari balik tiang.



Soo Young memberikan pengertian kalau sekarang itu bukanlah waktu yang tepat. Mereka bisa melakukannya kalau memang sudah tiba waktunya. Min Suk tetap tak bisa menerima hal itu, dia tak suka dengan sikap Jin Woo.

Soo Young meyakinkan dirinya lalu membuka lebar lengannya, dia bermaksud agar bisa mendapatkan pelukan Min Suk. Min Suk yang tengah kesal malah tak tahu maksud Soo Young. Sikap Soo Young tadi membuat Min Suk makin kesal.

Soo Young memonyongkan bibirnya minta di cium, lagi – lagi Min Suk tak tahu maksud Soo Young. “Jangan lakukan itu. kau membuatku marah. Peluk saja aku.”

Soo Young yang sudah kepalang malu tak mau melakukannya, dia pun pergi meninggalkan Min Suk.



Jin Woo tengah memberikan arahan pada bawahannya. Sang Bawahan, In Ho bertanya mengenai keadaan Jin Woo yang terlihat lelah. Jin Woo berkata kalau dirinya akhir – akhir ini tengah tak enak badan. Dia menyuruh In Ho untuk menghubunginya kalau ada sesuatu karena dia akan pulang cepat hari ini.

Dan selepas kepergian In Ho, Jin Woo pun menunjukkan rasa sakitnya. Dia tampak merasakan nyeri.
***


Jin Woo kembali ke rumah dengan tubuh yang lemas. Dia meminum obat tidur tanpa seenaknya lalu mencoba merebahkan tubuh namun tak bisa juga. Jin Woo akhirnya kembali terbangun dan mengambil wine – nya.

Jin Woo mencoba merebahkan tubuhnya lagi.



Soo Young tengah berada dalam perjalanan pulang dengan bus, dia tengah menghubungi Min Suk. Dia memberi semangat pada kekasih SMA – nya itu. “Bidi ... Bidi.. Fighting.” Ucapnya seraya memutuskan sambungan telefon.

Soo Young cekikan sendiri karena sikap cemburuan Min Suk. “Dasar pencemburu sekali. Memangnya apa yang bagus dari diriku?”

Soo Young teringat dengan hadiah pemberian Ibu Jin Woo, dia mengecek kotak itu. Dia sangat terkejut mengetahui kalau hadiahnya adalah kalung yang indah dan tampak mahal.



Soo Young memutuskan untuk menemui Jin Woo dan mengembalikan kalung pemberian ibunya. “Lupa dengan kado ini dan tadi baru kubuka. Tapi ini terlalu mahal. Kupikir aku tidak pantas menerimanya. Ibumu pasti akan kecewa, jadi Simpanlah ini padamu dulu sementara ini, Direktur.”

Namun ucapan panjang lebar Soo Young tak bisa di tangkap oleh Jin Woo karena dia sudah tak bisa menahan tubuhnya. Tubuhnya limbung hingga Soo Young menahan tubuh Jin Woo.



Jin Woo dilarikan ke rumah sakit. Dokter melaporkan kalau kondisi Jin Woo disebabkan oleh Insomnia. Memang tak apa mengkonsumsi obat tidur tapi akan berubah bahaya ketika dikonsumsi bersama dengan alkohol. Soo Young mengerti. Dokter telah memberikan izin pulang untuk Jin Woo setelah infusnya habis.

“Beri dia bubur hari ini dan besok. Beri dia bubur hari ini dan besok. Dia mungkin akan kejang nanti. Seringlah pijat lengan dan kakinya.” Saran dokter.



Sepertinya Soo Young menghubungi Min Suk, dia tergopoh – gopoh berlari menghampiri Jin Woo karena tak rela melihat Soo Young yang memapahnya. Lalu membantu Jin Woo mencarikan taksi.

“Bagaimana ini? Dia sedang sakit. Dia harus makan bubur.” Tanya Soo Young khawatir.

“Memangnya kau ibunya? Kenapa kau khawatir padanya? Dia bisa mengurus dirinya sendiri. Kau terlalu sok baik, kau tahu?” marah Min Suk.


Min Suk mengantarkan Jin Woo ke apatemen, Soo Young menunjukkan dimana kamar Jin Woo berada. Ck, ini semakin membuat Min Suk kesal karena seolah Soo Young tahu setiap sudut rumah itu.

Soo Young pun menyiapkan bubur untuk Jin Woo dan lagi – lagi Min Suk tak terima. Dia yang akan melakukannya dan Soo Young hanya boleh duduk melihat.
***


“Kau di serong kakakmu sendiri, Dan aku harus makan makanan menyebalkan ini.” Kesal Duk Hwan saat melihat nasib sial Yoo Ah. Sedangkan Yoo Ah tak mengatakan sepatah kata pun karena sedang makan dengan lahapnya.

Karena kesal, Duk Hwan pun jadi pengin berak. Ia pergi meninggalkan Tae Suk dan Yoo Ah bersama.



“Kau baik-baik saja? Tidak usah berpura-pura. Kau sungguh baik-baik saja?” tanya Tae Suk mendengar isakan Yoo Ah. Namun Yoo Ah mengelak, dia tak menangis hanya saja makan mie pedas membuat air matanya menetes.

Tae Suk tampak perihatin dengan keadaan Yoo Ah, dia mengelus pucuk rambutnya menenangkan. *Love Line?
***


Soo Young berniat meminumkan obat untuk Jin Woo. Dengan segera Min Suk datang dan mengambil alih obat tersebut. Dia meminumkan obat itu untuk Jin Woo.

Dengan lemas, Jin Woo menyuruh mereka untuk pulang.

“Lihatlah dirimu. Kau tidak berdaya begini, dasar egois.” Komentar Min Suk. Soo Young izin untuk keluar. Min Suk pun mengekorinya.



Soo Young mendapatkan panggilan dari Yoo Ah yang menanyakan keberadaanya. Soo Young mencoba menjelaskan tapi Yoo Ah nyerocos aja. “Antar juga Min Suk pulang. Kau kan sudah dewasa.”

“Bukan begitu. Aku akan segera pulang.”

Min Suk melihat jam di ponselnya, sudah pukul 11 jadi dia menyuruh Soo Young untuk pulang. Dia yang akan menjaga Jin Woo. Soo Young masih agak khawatir.

“Kau mau apa lagi? Noonim usilku ini mau tetap di sini? Jika kau tidak tahu, Dengarlah ini. Kalau masalah cemburu, Aku rajanya, hah? Dadaku rasanya mendidih seperti tungku.”

“Tapi, bagaimana aku bisa meninggalkanmu sendirian di sini?”

Min Suk tak mau mendengar alasan apapun dari Soo Young, dia menyuruhnya untuk pergi.




Min Suk mencari pakaian ganti untuknya, dia meminjam pakaian dari lemari Jin Woo. Ketika memakai celana, itu terlalu panjang dan kecil. Saat memakai pakaian Jin Woo, lengannya terlalu panjang. Secara Min Suk bisa dikatakan agak pendek. “Kau selalu menjengkelkan.” Kesalnya.

Meskipun pada dasarnya Min Suk sebal pada Jin Woo tapi dia mengompres Jin Woo. Memijatnya. Menjaganya semalaman, bahkan ia sampai tertidur disamping Jin Woo.



 Keesokan paginya, Jin Woo terkejut ketika bangun karena Min Suk memeluknya. Min Suk mengajak Jin Woo untuk makan pagi dengan bubur yang telah ia siapkan. Dia tak bisa melewatkan makan pagi karena harus mengejar ketertinggalan tingginya dengan Jin Woo.

Jin Woo tak menjalankan perintah Min Suk malah pergi ke kamar kecil.



Ponsel Jin Woo berdering, Min Suk berteriak pada Jin Woo namun tak ada jawaban. Saat dia melihat ada nama Presdir Yoo Jae Suk makannya dia segera mengangkat telfonnya. Dia mengira kalau itu panggilan mendesak.

Presdir Yoo tanpa basa – basi langsung membentak Jin Woo karena meminta catatan keuangan Pavo. “kenapa kau malah menyinggung mereka? Apa tujuanmu? Kau berusaha mencekik ayahmu? Karena aku menelantarkan ibumu? Kau mencoba balas dendam ya?”

Min Suk terdiam tak bisa berbicara, Jin Woo yang datang segera merebut ponselnya dari tangan Min Suk.




Min Suk mengajak Jin Woo untuk melakukan perjanjian, meskipun dia tak suka hal buruk seperti itu tapi karena Jin Woo makannya dia mau melakukannya. Dia tak mau jatuh sendirian.

Jin Woo diam namun Min Suk menganggap saja kalau Jin Woo telah setuju.


Min Suk memberitahukan berita bahagia ini pada Ketua Tim Kim, Soo Young dan Direktur Han. Mereka semua sangat penasaran dengan kartu rahasia yang di pegang oleh Min Suk. Namun ketika ditanya aa kartu itu?

Min Suk kekeuh tak mau mengatkannya.



Saat makan bersama Soo Young, keduanya kembali masalah ini. Soo Young bertanya kartu apa yang dimiliki oleh Min Suk? Mungkin sesuatu yang dia tahu juga. Bagaimana kalau mereka mengatakannya berbarengan.

“Presdir....” “Presdir”

Oppps, ternyata Soo Young tahu hal ini juga. Min Suk yang rajanya cemburu langsung kesal, apa mereka sudah melakukan hubungan yang serius? Kenapa tahu hal ini. Kau jahat sekali!!

Soo Young pun segera mengalihkan pembicaraan.



Rumor mengenai Presdir Yoo yang memiliki seorang putra pun menyebar diantara para pengusaha.

Hingga akhirnya malah Presdir Yoo mabuk – mabukan dan pergi ke rumah Jin Woo. Disana dia mengeluarkan segala unek – uneknya pada Jin Woo. Dia merasa kalau dirinya adalah orang yang lebih menyedihkan dibanding Jin Woo. Hanya karena satu kesalahan, dia harus menanggung kekhawatiran.

Jin Woo adalah anak ibunya,anak yang telah membuatnya ketakutan. Oleh karena itu, Presdir Yoo memohon agar Jin Woo segera pergi. Dia akan memberikan uang yang banyak kalau Jin Woo mau pergi bersama ibunya.

Presdir Yoo benar – benar tak punya hati.



Soo Young yang sedang bertelfon dengan Min Suk segera mengakhiri panggilannya. Yoo Ah yang datang mengatakan kalau akting Soo Young sangat buruk. Mana punya teman So Young di Seoul. Dia menyuruhnya melakukan saja yang ia sedang lakukan.

Soo Young kembali menghubungi Min Suk, dia berkata kalau mereka harus semakin hati – hati (dalam menjaga perasaan Yoo Ah) karena Yoo Ah sekarang sudah tahu.


Ponsel Soo Young kembali berdering, sekarang giliran Jin Woo yang menghubungi Soo Young. Soo Young ogah – ogahan dan tak mengangkatnya. Ponsel kembali berdering hingga dia tak mungkin untuk membiarkannya.

Jin Woo berkata kalau dirinya tengah membutuhkan seseorang untuk berbicara. Dia sekarang sudah ada didepan rumah Soo Young. Soo Young mencoba tegas dan menolak ajakan Jin Woo bertemu, ia menyuruhnya untuk pergi. Namun Jin Woo bersikeras dan akan menunggu Soo Young sampai keluar.



Hujan mengguyur kota Seoul dengan derasnya, Soo Young terlihat was – was mengintip dari kaca jendela. Yoo Ah penasaran dengan tingkah Unni – nya.

Ternyata, Diluar Jin Woo tetap menanti Soo Young meskipun hujannya sangat lebat. Yoo Ah berlari menghampirinya, dia disuruh Soo Young untuk memberikan payung tersebut. Namun sepertinya Jin Woo sakit hati, ia meninggalkan Yoo Ah tanpa menerima payung tersebut.

Dia pedih menerima penolakan Soo Young, mengenang ketika Soo Young mencoba mendekatinya. Saat ia memeluk Soo Young, sebuah penyesalan sepertinya. (Karma?)
***


Keesokan paginya, Jin Woo tidur di ranjangnya dengan badan menggigil. Dia demam setelah hujan – hujanan semalam.



Sedangkan Min Suk sedang berdiskusi bersama Ketua Tim Kim, membahas status Comfo yang kemungkinan akan menjadi perusahaan global setelah menandatangi kontrak dengan Pavo.

Ponsel Ketua Tim Kim berdering, dia menerima panggilan dari seseorang. Dia tampak syok menerima panggilan itu.

“Ada apa? Aku gugup. Apa?” tanya Min Suk takut melihat reaksi Ketua Tim Kim.

“Comfo dan Asia, Mereka ingin melakukan pertemuan denganmu.”

Keduanya sama – sama panik.


Disisi lain, Jin Woo menerima panggilan dari seseorang.

“Apa yang kau katakan ,jadi Pavo dan Jepang Tidak ada kontak sama sekali?” tanyanya terkejut. Disaat wajah yang memucat, Jin Woo tetap memikirkan perusahaan ayahnya yang bahkan orang yang disebut AYAH itu tak mau menerima kehadirannya. *Poor


Di kantor, kontrak antara Pavo dan Comfo telah ditandatangani.



Min Suk dan Ketua Tim Kim menemui perwakilan Asia yang meminta untuk bertemu dengannya. Ketua Tim Kim berkali – kali mewanti – wanti Min Suk agar jangan salah berucap. Dia menyuruh mengingat apa yang telah mereka rencanakan.

Namun sesampainya di depan pintu masuk ruangan perwakilan Asia, mereka malah dihadang. Hanya Direktur yang boleh masuk. Ketua Tim mencoba memohon tapi tetap tak bisa, Hanya Direktur!

Ketua Tim Kim pun menyeret Min Suk untuk berbicara.

“Dengarkan saja mereka. Dan bilang Bicara secara rincinya nanti saja. Bilang saja begitu... Dan tetap tenang lalu keluar.”

“Kau bilang aku harus tergantung padamu. Aku sudah biasa dalam situasi seperti ini.”



Min Suk pun masuk dalam kamar hotel sendirian, dia berdecak dengan keadaan hotel yang tampak mewah itu. Dia melihat seorang pria tengah memunggunginya sambil menerawang keluar jendela hotel.

Pria tersebut berbalik dan sonta membuat Min Suk terkejut.

“Lama tak bertemu.” Ucap Pria yang berpostur begitu identik dengan Min Suk. Yap. Dia Lee Hyung Suk, dengan kacamata sungguh pria ini tampak pintar dan pembawaanya tenang.

Bagaimana? Penasaran bagaimana kelanjutannya? Nadoo.. Kita tunggu update – an sinopsis dari blog Kisah Romance. See You di Episode 16 sama aku yah.. Ga sabar...
*** Bersambung***


1 Response to "Sinopsis King of High School Life Conduct Episode 14 – 2 "

  1. Ditunggu episode 15 n 16 nya,, bikin penasaran,,,

    ReplyDelete

Jangan lupa komentar yaah^^ biar aku lebih semangat dalam membuat postingan. Meskipun jarang bales tapi semua komentar selalu aku baca kok.. *serius*

Gomawo^^