Sinopsis King of High School Life Conduct Episode 6-2


*** 



Han Sang Hee menerima panggilan dari seorang klien yang memberitahukan rapat direktur dengan pihak Spanyol. Sang Hee berdecak tak percaya, dia meminta klien tersebut untuk menghubungi sekretaris Direktur.

Sang Hee pun mencatat pertemuan tersebut di secarik kertas, pertemuan pukul tujuh. Sang Hee mengakhiri panggilan. Dia tampak tak terima, dengan sinis ia meletakkan note tersebut ke meja Soo Young namun begitu enggan bahkan tak sadar kalau note yang ia letakkan malah jatuh ke lantai.




Soo Young kembali ke kantor tim retail dengan pipi memerah, dia terus – terusan memegang pipinya. Dia bertanya – tanya kenapa Jin Woo tiba – tiba mengajaknya makan? Apa karena dia kasihan aku di pecat. Tapi aku belum nyaman makan dengannya.

Soo Young masih sibuk dengan perasaanya sendiri, tanpa menyadari ada sebuah note yang tergeletak di lantai. ‘Pertemuan Direktur dengan klien Spanyol FCC diubah malam ini pukul 07:00.’
***




Yoo Ah dengan gaya sangarnya mengancam pada Duk Hwan dan Tae Suk, dia menyuruh mereka mengatakan apa yang terjadi dengan Min Suk belakangan ini. Dia yakin kalau keduanya tahu alasannya. Duk Hwan malah meniup wajah Yoo Ah, membuat gadis itu semakin geram. Dia memungut batu besar dan berniat menghantamnya ke wajah mereka.

Kontan mereka mengarag cerita, kalau Min Suk harus bekerja part – time karena ayahnya memiliki hutang dan ia ingin membantu. Yoo Ah bertanya kerja apa?

“Pengirim makanan.” Jawab Duk Hwan. “Pengirim paket.” Jawab Tae Suk.

Yoo Ah jelas bingung, apa?

“Pengiriman paket” jawab Duk Hwan. “pengiriman makanan” jawab Tae Suk. Hahaha.

Duk Hwan mencoba meyakinkan, dia meluruskan dengan berkata kalau Min Suk bekerja di pengiriman paket. Jadi segala macam ia kirimkan, makanan, stocking. Keduanya berpelukan dengan haru memikirkan nasib sahabat mereka. Yoo Ah pun terdiam, dia ikut prihatin dengan kondisi sang suami.


Yoo Ah pulang sekolah bersama kedua temannya tapi dia terus berjalan tanpa memperdulikan mereka. Mereka mencoba bertanya apa yang terjadi? Apa ada yang terjadi dengan keluarganya? Apa dia putus dengan Min Suk?

Berondongan pertanyaan itu tak dijawab sama sekali, Yoo Ah malah menepis tangan mereka dan pergi mendahului. Tampak dia mengusap air mata yang sudah membasahi pipinya.
***



Jam sudah menunjukkan pukul 6, Soo Young kebingungan tapi pada akhirnya dia berniat membatalkan makan malam tersebut. Dia ingin mengirimi Jin Woo pesan tapi urung ketika Min Suk keluar dari ruang kerjanya.

Min Suk memberitahukan pada semua Tim Retail kalau dia akan pergi ke pertemuan hotel COEX dan pulang. Semua meng – iya – kan. Min Suk menatap Soo Young, “sekretaris Jung, morning call.” Ucapnya dengan senyum.


Soo Young ingin melanjutkan niatannya mengirim pesan untuk Jin Woo, lagi – lagi ada yang datang. AM Park sekarang mengubak sikapnya pada Seo Young, AM Park dengan riang memberikannya sebatang coklat. Katanya sih untuk meningkatkan energi.




Selepas AM Park pergi, Soo Young mengetikkan pesan untuk Jin Woo kalau dia tak bisa makan malam. Belum sempat dikirim, Ketua Tim Kim datang untuk menemui Min Suk, Soo Young memberitahukan kalau Min Suk sudah pergi.

Ketua Tim Kim terkejut karena malam ini itu pertemuan FCC. Soo Young merasa tak menerima pemberitahuan itu. Tapi Ketua Tim Kim yakin kalau Presdir telah memberitahukannya. Sang Hee yang duduk di kursi segera bangkit, dia mengatakan kalau dirinya lah yang menerima telefon dan meletakkan memo di meja Soo Young. Apa kau tak menerimanya?

Soo Young mengecek sudut mejanya, benar saja kalau memo tersebut tergeletak di kolong meja. Ketua Tim Kim marah dengan kecerobohan yang disebabkan oleh Sang Hee. Dia meminta Soo Young untuk menghubungi Min Suk sampai diangkat.

Sang Hee ikutan panik apalagi Ketua Tim Kim terus mencak – mencak karena kesalahannya. Soo Young terus mencoba menghubungi namun tak bisa juga, dia segera berlari meninggalkan kantor.


Dan tanpa disadarinya, Soo Young meninggalkan ponsel miliknya. Meninggalkan pesan yang belum dikirim pada Jin Woo.



Soo Young berlari sekuat tenaga mengejar Min Suk. Tapi ketika dia sampai ke depan gedung Comfo tepat saat itu pula Min Suk masuk ke dalam taksi. Soo Young mencoba meneriaki Min Suk tapi sayangnya taksi terus saja melaju meninggalkannya.




Soo Young memutuskan untuk meminjam skuter seorang petugas pengantar barang, dia berteriak pada petugas itu dan mengatakan kalau dia bukanlah orang jahat. Dia akan meminjam skuternya.

Soo Young mengejar taksinya dengan sekuat tenaga, tapi karena bagaimanapun skuter Soo Young belum bisa mengejar taksi Min Suk. Dan sayangnya ketika Soo Young sudah hampir mendekati taksi Min Suk, ia terhadang lampu merah. Soo Young kembali tertinggal jauh hingga ia memutuskan untuk memotong jalan.

Soo Young yang begitu tergesa - gesa sampai menabrak lubang jalan dan rok’nya sobek. Tapi dia tetap mengejar sekuat tenaga, bahkan tak perduli dengan keselamatannya sendiri.




Jarak semakin dekat, tapi Soo Young masih belum bisa melampaui taksi Min Suk. Dia menggunakan pengeras suara yang terdapat di skuter. “Direktur! Direktur! Direktur!”

Naasnya lagi, Min Suk sedang mendengarkan musik dengan headphonenya. Sekeras apapun Soo Young berteriak tetap saja belum bisa membuat Min Suk tersadar. Sampai pada akhirnya Min Suk melepas headphone itu, tepat ketika Soo Young berhasil menyalip taksinya.

Min Suk melongo kebingungan. Soo Young tak perduli dan menyuruhnya untuk membonceng. Min Suk masih bengong, kenapa aku harus ikut denganmu? Kenapa?

Soo Young kelelahan, dia sampai tak sempat untuk mengatakan apapun. Dia hanya menyuruh Min Suk untuk ikut dengannya.
***


Ketua Tim Kim ketar – ketir menunggu kehadiran Min Suk, dia tak begitu yakin apakah Soo Young yang bodoh bisa menemukan Min Suk. Apalagi sekarang Direktur Han sudah serasa mau memakan Ketua Tim Kim hidup – hidup.

“Dia akan datang atau tidak? Astaga, kau mau kubunuh lalu aku masuk penjara? Atau aku gantung diri saja hah? Astaga, serasa mau mati belakangan ini. Oh, tekanan darahku.” Kesal Direktur Han sambil terus mondar – mandir tak keruan.



Anggota perusahaan sudah berada di ujung pintu, untung saja Min Suk dan Soo Young sampai kesana dengan kondisi amburadul. Bayangkan saja, karena hujan yang sedang turun bahkan mereka sampai menggunakan payung saat naik skuter. Hahaha. Mereka segera turun dan kelabakan memasang dasi. Sepatu. Lalu berjajar dan senyum selebar mungkin.



Soo Young kembali ke kantor dengan dandanan yang sudah kembali seperti sebelumnya. Dengan rambut acak – acakan ditambar dengan rok yang sudah robek. Dia mengecek ponselnya, dan betapa terkejutnya Soo Young ketika tahu pesan yang ia ketik untuk Jin Woo belumlah ia kirimkan.
***






Soo Young kembali harus berlari dengan tergopoh – gopoh menuju ke restoran tempat ia dan Jin Woo membuat janji. Tepat saat Soo Young sampai, Jin Woo keluar dari restoran. Soo Young meminta maaf karena ia kira Jin Woo sudah pulang. Ia kesana untuk mengecek saja.

“Kau tidak meneleponku, jadi Aku pikir ada sesuatu.” Ucap Jin Woo lalu meraih kotoran yang ada menempel di pipi Soo Young, “Kau baik-baik saja?” tanya Jin Woo perhatian.

“Ya. Ada sedikit salah paham. Aku harusnya meneleponmu saja sebelumnya. Aku sangat sibuk untuk memberitahu aku tidak bisa datang.”

Soo Young biasanya tak pernah melupakan janji tapi malah sekarang dia lupa. Pasti Jin Woo belum makan, dia mengajak Jin Woo untuk makan dan dia yang akan mentraktirnya. Jin Woo tersenyum, dia ingin makan sesuatu tapi kalau mereka kembali ke dalam restoran pasti akan aneh.
***


Jin Woo mengajak Soo Young untuk ke rumahnya. Soo Young jelas ragu ketika Jin Woo mengajaknya masuk. Soo Young menyarankan untuk makan diluar saja. Jin Woo beralasan kalau hari sudah terlalu malam kalau harus makan di luar.

Soo Young yang masih berdiri di ambang pintu akhirnya masuk juga ke rumah Jin Woo.




Jin Woo menyuruh Soo Young untuk mencuci kaki dan tangan dulu.

Soo Young pun masuk ke kamar mandi, dia menutup mulutnya seolah tak percaya. Tak percaya bisa berada di rumah sang pujaan hati. Dia terkejut ketika menatap kaca kamar mandi, betapa kacaunya dandanan Soo Young. Mengerikan! Dia merapikan rambutnya yang acak – acakan. Alisnya pula. Rempong.

Soo Young mengatur nafasnya lalu meyakinkan dirinya kalau dia sudah cantik. “yaap. Kau cantik.”




Soo Young pun membantu Jin Woo yang tengah menyiapkan makanan, dia tak menyangka kalau Jin Woo pandai memasak. Jin Woo berkata kalau dia memang tak ingin selalu membeli makanan diluar.

“Jadi kau menyukai pekerjaan sekretaris-mu? Aku tidak tahu kalau Direktur Lee orang yang baik.” Tanya Jin Woo.

“Dia lucu. Tapi, terkadang nakal. Aku merasa lebih nyaman bersamanya daripada yang lain, tapi terkadang tidak juga..”

Jin Woo terdiam sesaat sampai dia meminta Soo Young untuk mengambilkan spagetti.



Soo Young menunjukkan spagetti yang ia ambil, “Apa ini cukup?”

Jin Woo melihat porsi yang di pegang Soo Young, porsi makanmu besar yah?

Jelas Soo Young langsung mengurangi spagettinya, Jin Woo meraih tangan Soo Young. Dia menunjukkan bagaimana cara mengambil spagetti agar pas dengan porsi mereka. Caranya  mengapit spagetti dengan ibu jari dan telunjuk. Kalau satu porsi dengan menyatukan ujung telunjuk dengan pangkal ibu jari. Dua porsi dengan menyatukan telunjuk dengan ruas pertama ibu jari dan kalau tiga porsi berarti menyatukan ujung telunjung dan ibu jari.

Soo Young tertunduk dalam ketika Jin Woo memegang tangannya, dia pasti sangat grogi. Jin Woo meraih spagetti yang berada di tangan Soo Young lalu segera memasaknya. Sedangkan Soo Young tersenyum terpesona menatap punggung Jin Woo, dia pasti merasa kalau Jin Woo sosok pria yang sempurna.




Keduanya telah selesai makan, Jin Woo memberikan secangkir kopi untuk Soo Young. Soo Young mengatakan kalau dia akan segera menghabiskan kopinya tapi Jin Woo menyuruhnya pelan – pelan saja karena dia akan mengantarkan Soo Young. Soo Young jelas menolak, dia lebih memilih naik bus.

Dia melihat ke rak Jin Woo yang dipenuhi oleh piringan hitam. Jin Woo tanya jenis musik apa yang Soo Young suka. Soo Young menjawab kalau dirinya menyukai musik K – pop tapi dia tak pilih – pilih sama musik. Semua genre dia suka.

Jin Woo memutarkan sebuah musik klasik, Soo Young melongo medengar indahnya alunan musik tersebut.

“Ini Rachmaninoff, Vocalise. Ceritanya tentang kesedihan cinta. Aku sangat menyukai ini. Saat aku mendengarkannya, Aku jadi terhibur. Aku sangat kesepian sebagai seorang anak. Seperti yang kau tahu, Keluargaku sedikit berbeda dari keluarga orang lain. Ayahku yang jarang menyunjungiku, Orangnya terlalu menakutkan. Ibuku sangat suka musik klasik. Jadi aku terpaksa mendengarkan musik itu juga. Dan, aku jadi menyukainya. Saat aku merasa terpuruk, Dengan mendengarkan ini saja, Aku kembali ceria. Melodinya benar-benar indah. Karena melodinya indah, jadi terdengar sangat menyedihkan. Seperti ibuku.”



Jin Woo terdiam. Menunduk sedih setelah mengeluarkan unek – uneknya. Mungkin selama ini dia hanya memendamnya dalam hati.

Soo Young jadi kikuk, tak tahu apa yang harus ia katakan atau lakukan untuk Jin Woo hingga akhirnya dia hanya diam.
***



Jin Woo mengantarkan Soo Young sampai ke depan rumahnya. Soo Young segera keluar dan mengucapkan terimakasih. Ketika dia sudah akan pergi, Jin Woo mengatakan sesuatu. Dia memberikan Soo Young sebuah hadiah dalam kantung besar. Soo Young jelas menolak tapi Jin Woo tetap menyerahkannya karena itu sebagai hadiah masuknya Soo Young ke perusahaan.

Tak bisa menolak lagi, Soo Young menerimanya.


Yoo Ah tiba – tiba datang, “Unni. Siapa dia?”

“Dia direktur di perusahaanku.”

“Apa dia orang yang memperkerjakanmu sebagai sekretaris?” tanya Yoo Ah. Namun segera Soo Young menjawab bukan seraya menepuk pundaknya.

Jin Woo pun pamit.


Selepas kepergian Jin Woo, Yoo Ah melihat kado dari Jin Woo. Dia menggoda Soo Young tapi Soo Young mengelak.

“Ada sesuatu di antara kalian berdua?”

“Oh, tidak. Ini ucapan selamat karena aku kembali bekerja. Tidak berarti kami saling menyukai.”

Yoo Ah tak percaya dan sepertinya kakaknya telah melakukan sesuatu pada para direktut hingga mereka tunduk padanya. Hehehe. Yoo Ah membahas membahas mengenai gajian Soo Young. Dia ingin mengambil bulanannya karena dia butuh. Soo Young belum tahu juga.
***


Min Suk sudah sibuk dengan dasi sekolahnya, morning call Soo Young kali ini telat karena Min Suk sudah bangun bahkan hampir siap. Dia berdecak dan berkata pada lumut Soo Young kalau Soo Young yang tak pernah benar dalam melakukan sesuatu.

Min Suk mengelusnya dengan sayang.




Min Suk makan pagi dengan ayah dan kakeknya. Ayah menyuapi kakek dan mengingatkan agar meludahkan tulangnya kalau ada dalam daging. Min Suk dengan manja ingin ikut disuapi juga. “Oohh. Bayi – ku.” Suap Ayah pada Min Suk.

Ayah menyuruh Min Suk untuk menghubungi Hyung Suk karena dia sudah mengantarkan Rumput laut bakar dan pasta kacang pedas tumis, tapi malah kembali lagi karena katanya salah alamat. Min Suk terdiam. Dia beralasan kalau kakaknya sudah mengatakan kalau dia akan pindah rumah. Makanya dia nanti dia akan memberikan nama barunya.

“Kenapa dia tidak menelponku?!!” bentak Ayah membuat kakek takut.

Kakek lalu mengambil sepiring croaker, Ayah menyuruhnya jangan melakukan itu. Tapi kakek tetap menyembunyikan croaker itu untuk Hyung Suk. Min Suk meledek kakeknya, dia merebut piring itu. “Lupakan Hyung Suk. Bagaimana dengan aku? Aku, aku? Tidak, kau salah.  Aku sangat suka croaker kering dibanding Hyung Suk.” Ledek Min Suk seraya melahap croakernya.

Kakek nangis gelojotan melihat crocer itu. Min Suk semakin meledek.



Min Suk sudah berjalan keluar rumah, Ayah memanggilnya. Dia tampak begitu khawatir dengan Hyung Suk. Dia bertanya ada apa dengan kakak Min Suk? Belakangan ini dia terus saja bermimpi buruk tentang Hyung Suk. Dia sulit BAB dan gangguan pencernaan.

Min Suk berkata kalau mungkin ayahnya hanya sudah tua. Dia menyuruh Ayah untuk mulai mengencani ibu Tae Suk saja. Ayah kesal karena ibu Tae Suk itu mengencani semua pria. Min Suk pun menyuruhnya untuk berkencan dengan siapa saja.

Min Suk pamit pergi.


Diluar, Min Suk berdiri di sisi tembok. Dia mencoba menghubungi kakaknya tapi tak mendapatkan jawaban. Nomornya bahkan tak aktiv.
***
Seperti biasa. sehabis absen, Min Suk segera kabur dari kelas dan posisinya terganti oleh boneka buatan Duk Hwan.
 

*** 

Soo Young berjalan masuk menuju gedung Comfo, Min Suk yang masih di jalan mencoba untuk mengejar Soo Young.



Soo Young berpapasan dengan Jin Woo, keduanya berjalan bersama. Soo Young hari ini mengenakan pakaian yang diberikan oleh Jin Woo semalam, Jin Woo memujinya yang tampak cocok dengan baju tersebut. Dia lalu menyerahkan jam tangan Soo Young yang tertinggal di kamar mandi.
Keduanya pun berjalan berdampingan dengan terus bercerita dengan akrab.


Min Suk ternyata sedari tadi memperhatikan keduanya, dia melongo ga ngerti dengan situasi yang tengah terjadi. Kenapa mereka berdua yang biasanya tak akrab tapi sekarang malah terlihat seperti itu. Tak percaya sekaligus tak senang. Cemburu??




Min Suk menemui Jin Woo, tanpa basa – basi dia segera bertanya apa maksud Jin Woo? Kenapa setelah memecatnya tapi sekarang malah dekat dengan Soo Young?

“Kenapa aku harus menjelaskannya padamu? Aku tidak mau.”

“Aku perlu tahu. Aku tidak sabaran saat aku penasaran dengan sesuatu.” Ucap Min Suk seraya menahan Jin Woo yang berniat pergi.

Jin Woo merasa memang agak canggung karena Soo Young mengatakan cinta padanya tapi dia juga penasaran karena Min Suk sangat perhatian padanya. Soo Young memiliki sisi yang lucu dan menarik.
“Apa yang kau katakan?!” sergah Min Suk.

“Bukankah kau berlebihan seperti ini? Jung Soo Young kan sekretaris-mu. Bukan pacarmu.” Ucap Jin Woo lalu pergi meninggalkan Min Suk yang masih begitu kesal.





Soo Young menerima pujian dari Ketua Tim Kim atas kerjanya yang bagus dan membuat mereka bisa lolos dari masalah. Soo Young membungkuk hormat dan mengucapkan terimakasih. Ketua Tim Kim meminta maaf karena sebelumnya ia telah meremehkan Soo Young. Soo Young sama sekali tak masalah karena dia sudah diberikan kesempatan untuk bekerja lagi disana maka dia akan bekerja dengan sebaik – baiknya. Soo Young mengepalkan tangannya tanda semangat.

Min Suk yang sedari tadi memandang sebal pada Soo Young di ambang pintu semakin gondok ketika dia melihat jam yang terpasang manis di pergelangan tangan Soo Young. Dia memanggil Soo Young agar masuk ke ruangannya.



Min Suk menyuruh Soo Young untuk menutup pintunya. Soo Young minta maaf karena dia belum selesai menyusun jadwal Min Suk. Min Suk tak masalah karena bukan itu yang ingin ia ucapkan, dia berkata dengan penuh keseriusan untuk kebaikan Soo Young.

Soo Young menyiapkan kuda – kudanya lalu membuka buku catatan, bersiap mencatat semua yang Min Suk katakan. Hahahaha. Min Suk langsung turun nafsu untuk berkata, dia membatalkan apa yang akan ia beritahukan pada Soo Young.

Soo Young menyuruh untuk mengatakan saja apapun padanya tapi Min Suk sudah malas. Soo Young pun keluar dari ruangan Min Suk.


Min Suk geregetan sendiri di dalam ruangan, dia kesal dengan kebodohan Soo Young.

“Aku tidak bisa memberitahumu kalau Direktur Yoo yang memecatmu. Nanti kau terluka lagi! Ya Tuhan.”




Soo Young kembali untuk mengatur jadwal Min Suk. Min Suk melalui chat bertanya apa yang sedang Soo Young lakukan.

“Mengatur jadwal. Ada yang kau butuhkan?”

“Tidak, hanya saja... Aku merasa bosan.” Jawab Min Suk. Min Suk menunggu dengan bingung karena belum menerima balasan. “Sedang apa kau sekarang?”

“masih mengatur jadwal.”

Min Suk dalam ruangan semakin bingung. Bimbang apakah ia harus mengatakan masalah pemecatan Soo Young padanya atau tidak.


Sedangkan Soo Young juga geregetan, sampai akhirnya ada sebuah chat masuk dari Jin Woo. Dia mengirimkan Soo Young file musik. Dia menyuruh Soo Young untuk mendengarkannya di sore yang membosankan itu.

Dengan segera, Soo Young membuka file tersebut dan mendengarkannya.

“Direktur Yoo, Terima kasih atas musik yang kau kirimkan. Aku mendengarkannya sepanjang waktu dan sangat menyukainya.” Balas Soo Young.


Min Suk memutuskan untuk memberitahukan Soo Young, dia memberikan saran sebagai seorang teman untuk Soo Young. Namun belum selesai ia mengetik, Min Suk kembali berubah pikiran dan merenung.

Pesan chat masuk dari Soo Young, “Direktur Yoo, Terima kasih atas musik yang kau kirimkan. Aku mendengarkannya sepanjang waktu dan sangat menyukainya.”

Aku sangat menyukainya? Kau sudah ditipu sekarang. Sadarlah! Dia mau dihina lagi apa?” kesal Min Suk.



Asisten Manager Yoon menepuk pundak Soo Young yang masih terus mendengarkan musik tanpa menyadari telefon yang berdering, Soo Young pun segera mengangkat panggilan dari Min Suk itu.

“Direktur.”

“Kau tidak memahami semuanya setelah semua itu? Apa kau tidak punya harga diri? Kenapa dia tiba tiba berubah atau apa pernah dia jujur, Tidak akan menyakitimu lagi, Kau tidak penasaran kenapa dia seperti itu, Jung Soo Young? Kau sudah dibodohi olehnya, dan Wow, ini mengejutkan. apa semua wanita seperti itu?  Atau cuma kau yang begini, Jung Soo Young?” kesal Min Suk tanpa memperdulikan ucapan Soo Young.



Soo Young berlari menuju ke ruangan Min Suk, dia tak mengerti dengan ucapan Min Suk.

“Kau tidak mengerti maksudku? Kau tidak lihat apa yang terjadi pada Asisten Manajer Yoon kemarin. Dia punya kepribadian ganda. Dia itu psikopat sejati. Aku tahu kau itu baik, tapi Kenapa kau masih bisa tersenyum pada pria yang memecatmu?” ucap Min Suk tanpa pikir panjang.

Soo Young merasa ucapan Min Suk sangat kasar. Mungkin memang Jin Woo salah waktu itu karena setiap orang tak memiliki kepribadian yang sempurna. Tapi sekarang Jin Woo telah mengucapkan maaf dengan tulus. Dan walaupun dia sebagai sekretaris Min Suk tapi tak sepantasnya juga Min Suk memberikan saran seperti itu padanya, dia bisa menjaga dirinya sendiri.

“Dan juga, Lumut-ku. Kapan kau mengembalikannya padaku?”                   

“Kenapa kau menanyakan itu?  Aku sudah membuangnya. Tidak boleh?” jawab Min Suk asal.



Soo Young keluar dari ruangan Min Suk dengan kesal bukan kepalang. Sedangkan karyawan Tim Retail segera bergosip karena tak pernah ada direktur dan sekretaris yang bertengkar seperti itu. Mereka mulai menduga – duga.

Asisten Manager Yoon menegur mereka agar kembali bekerja, seperti biasa mereka pun dengan malas – malasan kembali ke bangku masing – masing.



Sedangkan Min Suk masih terus mengomel sendiri dalam ruangannya. “Kau bisa terluka. Terserahmu-lah. Aku tidak peduli. Terserahmu-lah! Terserahmu-lah!


Soo Young duduk di tempat biasa, mencoba mengatur nafasnya. Dia merasa sangat jengkel dengan sifat Min Suk. Kadang memang baik tapi mulai mengolok – oloknya dan tiba – tiba mulai menggangungnya.

Soo Young mengibasi wajahnya dengan  penuh kekesalan.



Semua karyawan kantor mulai berlalu untuk pergi, Dae Han bertanya kenapa Soo Young belum pulang juga? Karyawan lain sudah pada pulang. Asisten Manager Park tahu alasannya, karena sang direktur belum pulang mana mungkin sekretarisnya pulang duluan.

Dae Han mengajaknya untuk makan sushi bersama tapi AM Park segera menahan, dia mengajak Dae Han pergi meninggalkan Soo Young yang sudah ingin pulang juga sebenarnya.




Soo Young mengintip dari pintu, dia bertanya apakah Min Suk tak pulang?

Min Suk pura – pura tak perduli dan terus memainkan game di ponselnya. Dia berkata terserah Soo Young saja.

Dengan tertunduk, Soo Young menuruti Min Suk dan pergi. Min Suk yang tak perdulikan jadi kesal, niatnya capet tapi malah kena cuek.


Min Suk menerima panggilan dari Tae Suk yang memberitahukan kalau latihan hoki dimulai satu jam lagi. suasana hati pelatih sedang buruk. Min Suk menghela nafas karena kalau jam sibuk seperti sekarang pasti macet.
***




Min Suk bermain hoki seperti biasa, pelatih memberikan instruksi dari tepi lapangan. Seorang lawan memepet Min Suk yang tengah menggiring bola, Min Suk kehilangan keseimbangan hingga dia terjatuh. Min Suk yang tengah dalam mood yang super buruk langsung menyerang tim lawan tadi, pertandingan pun jadi kacau. Di tambah Min Suk yang dengan marah mengumpati lawannya.


“Ada apa denganmu hari ini? Bukan pertama kalinya kau begini. Kenapa kau sensitif sekali?” tanya Pelatih pada Min Suk.

Min Suk hanya mengatakan maaf, pelatih sepertinya tahu kalau mood Min Suk memang kurang baik. Dia hanya menepuk pundak Min Suk lalu meninggalkannya.



Duk Hwan dan Tae Suk segera menghampiri Min Suk setelah pelatih pergi, Duk Hwan berniat memasangkan plester di wajah Min Suk yang tergores tapi Min Suk dengan kasar menepisnya. Dia tak mau.
Duk Hwan memenangkan karena Ki Hyung (Sunbae yang sebal sama Min Suk) tak akan datang. Min Suk masih diam. Tae Suk bertanya apa Min Suk ada masalah di tempat kerja?

Min Suk tak menjawab lalu meninggalkan keduanya pergi.



Min Suk pulang bersama dua temannya itu, mereka berdua mengobrol dengan gembira membicarakan masalah wanita dan makanan. Sedangkan Min Suk masih terus terdiam.

Yoo Ah berlari mendekati Min Suk dan bergelayut di tangannya dengan manja. Dia tahu kalau Min Suk sedang mengalami hari – hari yang sulit.

“Ada apa dengan wajahmu? Kau terluka lagi selama latihan ya. Kau seharusnya lebih hati hati. Kau terluka karena kau tidak punya energi. Tunggu, kau harus makan daging. Aku akan mentraktirmu. Kau terlihat kurus belakangan ini. Kau harus banyak makan. Kenapa? Kau mau apa?  kau ingin perut babi? Steak daging? Atau apa?” tanya Yoo Ah.

Min Suk merasa terganggu dengan keributan suara Yoo Ah, dia menghempaskan tangannya. Aku bilang aku tidak merasa seperti itu!! Kenapa kau terus menggangguku walau aku terus bilang aku tidak merasa seperti itu?!!

Bentakan Min Suk membuat Yoo Ah terpaku dan tak mengejar Min Suk ketika ia pergi meninggalkan dirinya.



Min Suk sudah tak bersama dengan temannya, dia berjalan sendiri dan mendesah kesal ketika melihat Soo Young yang diantar oleh Jin Woo.

Tak ada yang bisa ia lakukan, Min Suk hanya bisa mendesah kesal.



Min Suk melampiaskan kekesalannya dengan menendangi kardus yang ada di pinggir jalan. Dia tak tahu apa yang harus ia lakukan, dia menendangi gardus – gardus itu dengan geram.

Min Suk mencoba mengatur nafasnya, menata kembali pikirannya. Dan sesuatu terlintas dalam benar Min Suk, tampak raut mantap dan Min Suk pun berlari pergi.



Soo young berjalan dengan riang sesekali berjingkat senang, dia melihat sebuah selebaran yang tertempel di tiang tapi selebaran hampir lepas. Soo Young mencoba membetulkan posisinya.

Ponsel Soo Young berdering, panggilan dari Min Suk.

“Jung Soo Young, kau suka mie kacang hitam atau mie seafood pedas? Jawab saja, Kau tahu kan aku harus tahu sesuatu yang aku penasarankan.”

“Ooh. Aku suka mie kacang hitam.”

“Kau suka musim dingin atau musim panas?”

“Oh... musim dingin.” Jawab Soo Young masih terus berusaha menempelkan selebarannya.

“Aku mau bertanya 1 pertanyaan lagi. Jika kau tidak bisa menjawabnya.. Aku tidak akan bisa tidur malam ini...”






Soo Young berjinjin kesulitan menempelkan selebaran itu, sebuah tangan membantu Soo Young. Siapa lagi kalau bukan Min Suk. Soo Young pun terkejut.

“Tapi yang satu ini Aku butuh bantuanmu... Kau mau membantuku? 10 detik saja, Sudah cukup.”

“apa itu?” tanya Soo Young.

Min Suk segera menarik dasi di leher Soo Young, dia memeluk Soo Young dengan erat. Soo Young mencoba melepaskan diri tapi Min Suk malah semakin mempererat pelukannya, dia hanya meminta waktu sepuluh detik.

Soo Young akhirnya diam. Diam dalam pelukan Min Suk.
Bersambung ke Episode 7
Komentar :
Suka banget dengan scene terakhir, hahahaha. Sweet banget, aku kiranya tadi Min Suk lagi di jalan mau ke rumah Soo Young bawain makanan yang dia suka eh nyatanya dia malah ngejar Soo Young. OOOmooo.

Tapi teteup yah, aku sebel sama sikap dodolnya Soo Young. Polos. Terlalu baik. Dan bikin ngeselin. Seenggaknya dia seharusnya punya sebersit kecurigaan dong sama sikap baik Jin Woo yang tiba – tiba baik. Dan ucapan Min Suk di jadiin sebagai masukan juga, tapi dia malah marah sama Min Suk. Ya meskipun disini, Min Suk juga menyampaikannya dengan kurang baik juga jadi Soo Young nangkepnya juga kurang ngeh. Ya makhlum, anak muda sukanya ya gitu. Mencak – mencak gaje kalo lagi kesel.. hehehe. *Ngomogin diri sendiri deeh.

Jin Woo. Bener nih!! Titisannya Ryu Tae Oh. Agak – agak muka dua sih, tapi aku juga ngerasa kasian pas dia cerita tentang dirinya yang kesepian. Ayah yang ga perduli. Malang banget kan. Dan aku yakin, kenapa dia mencoba mengalahkan Min Suk, dia Cuma pengin nunjukin kalau dirinya juga bisa di depan sang ayah. Dia bukan si idiot. Dia tuh mampu.
Dan aku jadi bingung, dia beneran baik ga sih sama si Soo Young? Dia beneran perduli gitu? Kalau seandainya iya, aku ga sreg. Masa tiba – tiba manusia yang sebelnya udah sampe ubun – ubun sama si Soo young sikapnya langsung berubah 180 derajat. Harusnya ada proses kenapa dia jadi suka, ga tiba – tiba kek gini.

Yoo Ah. Kesian bener nih ade atu. Kalau sampai dia tahu Min Suk suka sama kakaknya sendiri gimana yah. Ommo gak bisa bayangin.

Terakhir. Mian lama posting dan komentar gaje. Efek laper ngantuk jadi satu. Hehehe. 

11 Responses to "Sinopsis King of High School Life Conduct Episode 6-2 "

  1. Mau dong di peluk min suk. Fighting mbak puji.

    ReplyDelete
  2. aku juga sebel sama Soo Young ..
    lanjut terus:)

    ReplyDelete
  3. Aku kok lbih suka Yoo Ah sama Min Duk ketimbang Soo young. Terserah-lah !! Terserah-lah.
    buat mbak puji fighting ;)

    ReplyDelete
  4. Mksh ya sis , ditunggu part selanjutnya....semangat ^_^

    ReplyDelete
  5. Semangat lanjut sinopsis nya yach

    ReplyDelete
  6. Enaknya jd Soo Young... Be her self & dpt cintanya Min Suk, dpt jg carenya Jin Woo meski tampaknya akting doang... Aku mnikmati banget drama ini. Semangat ya bikin sinopsisnya...berjuang ^^,

    ReplyDelete
  7. Kenapa sinopsisnya kga lanjut tor ?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Lanjut kok.. udah sampe episode 11 malahan, yang 12 udh tinggal posting

      Delete
  8. waktu jung soo young naek motor kejar mobil taxi direktur lee di eps 6, judul lagu nya apa yah?

    ReplyDelete

Jangan lupa komentar yaah^^ biar aku lebih semangat dalam membuat postingan. Meskipun jarang bales tapi semua komentar selalu aku baca kok.. *serius*

Gomawo^^