Sinopsis King of High School Life Conduct Episode 12 – 2


Soo Young mengajak Ketua Tim Kim untuk bicara. Ketua Tim Kim bingung apa yang akan Soo Young katakan? Dia menyuruh Soo Young untuk menganggapnya sebagai oppa – nya saja. dia bisa membicarakan apapun padanya, kecuali masalah uang. Dia tak punya uang. Anaknya masih butuh susu formula.

Soo Young tersenyum kecil menanggapi ucapan Ketua Tim Kim, dia memberitahukan kalau dirinya akan bekerja hanya sampai akhir minggu.

“Kenapa?! Kupikir kau sangat suka pekerjaanmu sebagai sekretaris.”

“Ada urusan darurat dalam keluargaku. Aku sangat suka bekerja sebagai sekretaris di sini. Karena itu pekerjaan permanen pertamaku. Maafkan aku.”

Soo Young pun pergi, sedangkan Ketua Tim Kim masih bengong. Dia merasa ada sesuatu yang aneh dengan anggota Tim Retail.


Asisten Manager Park memberitahukan pada Ketua Tim Kim kalau direktur tak berangkat lagi. apa mereka perlu menghubunginya? Sepertinya sakit direktur cukup parah?

Ketua Tim Kim terkejut, dia tak tahu kalau Min Suk tak berangkat lagi hari ini. Dia melarang, dia yang akan mengubunginya.


Ketua Tim Kim kelabakan menanti jawaban dari Min Suk. Telfon diangkat.

“Hei, hei. kau, palsu. Ada apa denganmu? Kau bilang kau keluar dari RS. Kenapa kau belum masuk kerja? Jika kau tidak masuk lagi hari ini, Kau akan dalam masalah besar.”

Kupikir aku tidak bisa masuk kerja lagi hari ini.” Ucap Min Suk lemah.

“Kenapa? Kenapa? Kenapa? Kenapa kau tidak bisa masuk kerja? Kau bilang jika dikompres saja,  kau akan cepat sembuh, Bajingan ini, aku sudah cukup sabar. Kenapa kau jadi kurang ajar begini? Kau mau melawanku?”

Maafkan aku. Aku akan menelfonmu.

Min Suk memutuskan panggilan telfonnya. Ketua Tim Kim memijit pelipisnya yang pusing, dia berfikir jangan – jangan operasinya tak berjalan sesuai prediksi.



Ketua Tim Kim menarik Direktur Han, dia melihat kesana – kemari. Berjaga – jaga kalau sampai ada yang mendengarkan percakapan keduanya. Dia melaporkan kalau Min Suk tak berangkat kerja padahal kemarin dia berkata kalau dia akan berangkat. Sekarang Min Suk beralasan kalau lengannya terluka tapi menurut Ketua Tim Kim itu hanya alasan agar dia tak berangkat lagi ke kantor.

Direktur Han menyuruh Ketua Tim Kim agar menjenguk Min Suk, bawakan keranjang buah dan rayu lah supaya Min Suk berangkat ke kantor.

“Seberapa besar? Dengan melon?” tanya Ketua Tim Kim dengan enggan.

“Astaga, dia bukan direktur sungguhan. Memberinya melon terlalu berlebihan.” Iih... pelit. Melon kan ga mahal.
***



Min Suk tengah mengosongkan lokernya, Duk Hwan dan Tae Suk menatapnya sedih. Kenapa begitu cepat mengosongkan loker? Min Suk mengabaikan pertanyaan temannya itu, dia malah melemparkan beberapa peralatannya yang masih bagus pada Duk Hwan dan Tae Suk.

“Kenapa aku harus memakai ini? Memangnya aku pengemis?”

“Kau menjengkelkan sekali.”

Kesal Duk Hwan dan Tae Suk. Min Suk hanya menanggapinya dengan senyuman. Senyuman yang dipaksakan tentunya.


Ki Hyung. Sunbae yang pernah marah – marah pada Min Suk. Dia masuk keruang ganti. “Kau seharusnya lebih berhati-hati. Aku benci semua tentangmu, tapi itulah yang aku benci paling darimu. Kau ceroboh dan sembrono, bodoh.”

Ki Hyun pun menepuk pundak Min Suk, menguatkan.




Yoo Ah menanti Min Suk dengan khawatir. Dia segera menghambur kearah Min Suk ketika keluar ruang ganti. Min Suk menenangkan dengan bersikap seolah dirinya baik – baik saja. Yoo Ah tahu kalau suami – nya itu memang hebat. Tapi mereka harus makan dan mencarikan hiburan untuk Min Suk. Duk Hwan dan Tae Suk setuju, mereka akan kabur dari latihan.

“Tidak usah. Aku baru saja dapatkan kebebasan. aku telah menghabiskan seluruh waktuku bersama kalian, dan kalian ingin aku bersamamu lagi? Aku tadi Sudah izin ke perusahaan kalau aku tidak masuk kerja. Jadi aku mau Pulang, makan dengan santai, lalu tidur. Aku tidak tidur nenyak selama di rumah sakit dan aku capek.” Tutur Min Suk dengan senyum yang dipaksakan.

Yoo Ah berlari mengikuti Min Suk sedangkan Duk Hwan dan Tae Suk hanya memandang sohibnya dengan prihatin.
***

Dalam sebuah mimpi, Ayah Min Suk tampak sangat marah dengan seseorang.

Bajingan.... Bagaimana kau bisa melakukan itu pada seseorang Dan bisa hidup nyaman begini?

Tidak... Aku tidak bermaksud begitu.” Ucap Seorang yang tak ditampakkan wujudnya.

Bajingan. Kau pantas mati. Pergilah ke neraka.” Ayah semakin mendekat. Dia lalu mencekik leher orang tadi.


Siapa orang tersebut? Sepertinya dia adalah Presdir Yoo, dalam mobil Presdir Yoo menggeleng kasar untuk mengenyahkan mimpi buruknya tersebut. Ponsel Presdir Yoo berdering, itu dari seorang informan.

Kau kemarin menyuruhku, mencari lokasi sopir Choi. Aku akhirnya menemukannya. Dia menjalankan usaha laundry di Gocheokdong. Tapi sopir Choi mengadopsi ke – dua putra Lee Jung Soo.” Lapornya.

“Benarkah?”
***


Duk Hwan dan Tae Suk khawatir kalau sampai Min Suk berbicara dengan tembok seperti orang gila. Mereka akan membawakan ayam untuk Min Suk tapi agak khawatir juga karena mungkin Min Suk tak akan nafsu makan.

“Kita harus cerahkan harinya, dan Beri dia makan, lalu Buat dia bermain game atau sesuatu.” Saran Tae Suk.

“Benar. kita cuma menyiksanya saja kalau cemas.”

Mereka bergegas menuju ke rumah Min Suk untuk memberikan ayam gorengnya.
***



Keduanya pergi ke rumah Min Suk dan mendapati Ketua Tim Kim tengah bertamu disana. Mereka bertanya apakah Min Suk tengah tidur?

Ayah heran. Dia malah mengira kalau Min Suk sedang bersama mereka. Ponselnya dimatikan dan tak bisa dihubungi. Ketua Tim Kim basa – basi bertanya, ooh Min Suk adik Hyung Suk? Apa ada sesuatu yang buruk terjadi padanya?

Ayah membenarkan. Min Suk adalah pemain hoki. Sebuah kecelakaan terjadi hingga lengannya jadi terluka dan tak bisa bermain lagi. Ketua Tim Kim tampak sedikit prihatin mendengar kondisi Min Suk.

“Oh. Benar, benar. Aku hampir lupa. Min Suk bilang padaku, dia mau ke warnet untuk jual item game online.” Sela Duk Hwan.



Keduanya pun pergi diikuti oleh Ketua Tim Kim. Dia berfikir kalau mereka pasti tahu tentang apa yang terjadi. Duk Hwan bertanya apakah Pria yang sekarang bersama mereka itu adalah Ketua Tim Kim? Ketua Tim Kim heran, kenapa kalian tahu?

Keduanya bersorak senang. Mereka tahu semuanya tentang si palsu Min Suk. Bahkan Min Suk sering membicarakan tentang Ketua Tim Kim. Mereka pun mengajak Ketua Tim Kim untuk mengambil selca  bersama.

“Memangnya dia bilang apa tentangku?”

“Awalnya, kau seperti anjing gila, dan..” jujur Tae Suk menerima pukulan dari Duk Hwan. “Membuatnya gila. Tapi, dia bilang sebenarnya kau sangat baik. Selain itu, Dibandingkan dengan usiamu, Kau terlihat sangat tua.”

Kekekeke. Keduanya cekikikan. Ketua Tim Kim tak terima, dia menunjuk Duk Hwan yang lebih terlihat tua. Duk Hwan protes karena usianya masih 18 tahun.

“Tapi kau seperti 30 tahun.” Ketus Ketua Tim Kim.

Selain itu, Duk Hwan dan Tae Suk menertawakan cara bicara Ketua Tim Kim yang aneh. Tergagap dengan tangan yang bergetar gitu. Tawa mereka kembali meledak.

“Kapan aku melakukan itu?”

Ketua Tim Kim kembali serius, dia menyuruh mereka untuk segera menghubunginya kalau tahu kabar mengenai Min Suk. Dan dia memperingatkan agar mereka jangan sampai menelfon Min Suk terus menerus. Sangat mengganggu kosentrasi Min Suk.


Tae Suk, Duk Hwan dan Yoo Ah mencoba mencari keberadaan Min Suk. Mereka telah mengecek ke warnet dan Lapangan basket juga tak ketemu. Ketiganya bingung harus mencari kemana.

“Mungkinkah... Dia pergi ke jembatan..” tebak Yoo Ah gamang. Sohib Min Suk segera menyela, Min Suk tak selemah itu. Yoo Ah bertanya – tanya apakah ada tempat yang mereka lewatkan?

“mungkinkah?”




Yah. Mereka akhirnya bisa menemukan Min Suk yang tengah berlari mengitari lapangan sekolah sampai kepayahan. Yoo Ah segera menghapiri Min Suk dengan khawatir.

“Kau baik – baik saja?” tanya Tae Suk.

“Memangnya kenapa aku? Aku telah berhari-hari di RS, dan Seluruh tubuhku terasa kaku.”

 Yoo Ah menarik lengan Min Suk, dia mengajaknya untuk pulang karena lengannya masih belum sembuh sempurna. Tapi Min Suk malah menepis tangan Yoo Ah. Dia masih ingin lari. Dia ingin mati kecapean.

Min Suk kembali berlari dan Yoo Ah mencoba mengejarnya. Namun Tae Suk menyuruh Yoo Ah untuk berhenti, mereka tak bisa berbuat apapun. Mungkin Min Suk hanya butuh waktu sendirian.


Yoo Ah memutuskan untuk pulang. Hari yang mendung akhirnya hujan pula, Yoo Ah berteduh. “Suamiku Lee akan kehujanan nanti.”

Yoo Ah pun melanjutkan perjalanan dengan berlari.




Malam menjelang. Hujan turun dengan begitu derasnya. Tiga orang siswa masih berdiri hujan – hujanan di tengah guyuran hujan sedangkan seorang murid wanita terpaku menatapnya dari kejauhan. Yoo Ah menatap suaminya dengan miris, suaminya yang tengah terduduk di tengah lapangan dalam dinginnya guyuran hujan.
Menangis memang bukanlah sebuah cara untuk menghilangkan kesedihan, namun cukup untuk membuat perasaan kita lebih baik. Itulah yang Min Suk lakukan, tujuan dalam hidupnya seolah telah hilang. Sebuah impian yang selama ini ia banggakan sudah tak bisa diraihnya lagi.






Min Suk mengenang moment – moment yang tak bisa ia lupakan selama bermain hoki. Terjatuh dan kembali bangkit untuk menggiring bola. Sebuah gol yang membuat semua orang bersorak tak terkecuali. Tersenyum. Tertawa. Makan bersama dengan para pemain hoki lainnya. Berlatih dengan keras demi sebuah kemenangan. Itu cukup membuat Min Suk semakin meraung, semakin keras menangis.

Duk Hwan dan Tae Suk ikut pula bisa merasakan apa yang sahabat – nya rasakan. Mereka menangis menemani Min Suk di tengah guyuran hujan.
***



Sekembalinya Min Suk, dia melihat ayahnya tengah berada di kedai pinggir jalan. Dia menghampiri ayah. Min Suk menatap makanan yang tersaji dimeja, bagaimana dia bisa makan – makanan sebanyak itu saat sudah malam?

“Saat aku seusiamu, Aku bahkan makan batu dan menelan mereka. Perut orang itu harus kenyang.”

Min Suk pun mulai makan dengan lahap.


Ayah memperingatkan Min Suk kalau hoki bukanlah segalanya. Dia tak akan mati kalau tanpa hoki. Min Suk setuju, memangnya hoki apa? Sesuatu yang bisa dimakan? Ayah suka dengan sikap optimis Min Suk. Oiya, Min Suk kan bisa bernyanyi. Kenapa dia tak menjadi idol saja? Dan kenapa kau tak mencoba belajar dengan keras mulai sekarang?

“Tidak mau.”

Ayah ingat kalau Min Suk kan idiot. Tapi kalau memikirkan kepintaran Hyung Suk mungkin Min Suk tak sebodoh itu. Mungkin hanya kurang belajar.

“Astaga. Jangan bandingkan aku dengan si brengsek itu.” Sergah Min Suk. Ayah berdecak. Baiklah kalau begitu, maka Min Suk boleh mengambil alih laundrynya lalu memberi makan untuknya dan kakek. Jangan khawatir. Jangan khawatir Bodoh. Kau bisa melakukan apapun, semuanya.

“Kau satu-satunya, Orang yang menghiburku saat aku ada masalah. Kau seperti ayah sungguhan bagiku, Selain itu si brengsek Lee Hyung Suk, Aku tidak butuh dia. Aku hanya perlu Ayah.”



Min Suk dan Ayah memutuskan pergi ke tempat karaoke bersama dengan kakek. Mereka bernyanyi untuk menghilangkan kesedihan yang merundung Min Suk. Min Suk bernyanyi dan nge – rap dengan bagus. Iyalah, dia kan penyanyi tapi yang buat keren kok gaya nge – rapnya kaya jonghyun apa Yong Hwa di Love Light yah.

Dan benar saja, Min Suk pun mendapatkan nilai sempurna. Dia bersorak.
***


Soo Young mulai mengepak barang – barangnya. Yoo Ah bertanya apakah Unni senang? Soo Young dengan gaya so’ senang berkata kalau dia sudah muak harus tinggal disini. Tak ada keberuntungan dirumah ini. Soo Young pun menyuruh Yoo Ah untuk mengepak barangnya juga. Takut ada yang ketinggalan.

“Kenapa kita harus mendadak pindah begini?”

“Memangnya masalah, Sista? Kita sudah menandatangani kontraknya, dan rumahnya sudah kosong. Aku sangat ingin pindah dari sini. Mari kita buat awal yang menyenangkan di sana, oke?”

Yoo Ah berniat berkata sesuatu, entah apa tapi akhirnya urung.




Pagi harinya, Soo Young mulai membereskan buku – bukunya. dia berkata pada Yoo Ah yang akan berangkat sekolah, dia akan mengirim pesan alamat mereka nanti. Yoo Ah dengan masih tertunduk pun pergi meninggalkan kakaknya. Namun beberapa saat kemudian Yoo Ah kembali.

“Apa? Apa ada yang ketinggalan?”

“Pergilah menemui  Min Suk. Kubilang, Temuilah Min Suk. Dia cidera.” Ucap Yoo Ah mencoba menguatkan dirinya. “Dia cedera saat pertandingan, dan dia tidak bisa lagi bermain hoki. Dia melalui waktu yang sulit. Dia bahkan melalui waktu yang lebih sulit karenamu. Bahkan teman-temannya dan aku pun tidak bisa menghiburnya. Ini sangat menyebalkan sekali, dan Sebenarnya aku sungguh tidak ingin bilang ini. Tapi, ku pikir hanya kau yang bisa menghiburnya sekarang. Jadi, cepat temui dia sekarang. Mengerti, nenek?” ucap Yoo Ah tanpa jeda lalu meninggalkan Unninya.





Soo Young tertegun mendengar ucapan Yoo Ah. Saat perjalanan menuju ke tempat pindahan pun Soo Young masih memikirkan tentang Min Suk. Kebersamaan mereka yang tak terlupakan. Soo Young memutuskan untuk kembali kerumahnya. Dia meminta sopir untuk memutar haluan.


Soo Young mengambil sesuatu di rumah, itu benda pemberian Min Suk. Entah apa, dia kemudian berlari menuju kesuatu tempat. Sopir yang sedang duduk di pinggir jalan pun mengira kalau Soo Young sudah mengambil bendanya dan akan segera pindah.

“Agassi, kau mau kemana?”

“Ahjussi, aku tak jadi pindah.” Jawabnya.





Min Suk keluar dari sekolah untuk pergi ke kantor dengan tanpa semangat. Namun dia tertegun menatap sesuatu, Soo Young telah berdiri di depan gerbang sekolah sambil merentangkan lengannya. Dia menanti Min Suk.

Min Suk masih tertegun. Sampai akhirnya dia berlari menghampiri Soo Young. Soo Young pun memeluk Min Suk.

“Tak apa. Tak apa. Tak apa. Aku merasa jauh lebih baik jika aku bilang mantra itu. Perasaan sedihmu mengacaukan wajah tampanmu. Kau seharusnya lebih berhati-hati. Dasar idiot.” Soo Young pun melepas dekapannya. “Aku tidak tahan lagi. Aku tidak boleh bersantai lagi sekarang. Aku harus berada di sampingmu dan melihatmu. Aku harus melakukan sesuatu. Kau bahkan tidak bisa mengurus dirimu sendiri. Jadi, aku harus...”

Min Suk menarik Soo Young dalam pelukannya. Dia memeluk gadis yang sangat ia cintai itu. Dia begitu merindukan Soo Young.

“Aku tidak peduli apakah kau Lee Hyung Suk Atau Lee Min Suk. Aku tidak peduli apakah kau 28 tahun, Atau 18 tahun. Aku sangat menyukaimu. Aku merasa mau mati jika aku tidak melihatmu. Aku, juga merindukanmu.” Ucap Soo Young. Min Suk pun semakin mendekap erat tubuh Soo Young.

***Bersambung ke King of High School Life Conduct Episode 14***

Episode 14 sudah di posting mba Lilih lengkap di kisah romance. Bagaimana kisahnya? Semakin menarik atau semakin membosankan? Kenapa baru episode 13 dimunculkan adanya keterkaitan antara Presdir Yoo dan Min Suk. Mepet banget, tapi katanya sih bakal di tambah satu extra episode dan satu episode spesial. Jadi Episodenya ada 17 + spesial Episode.

Dan yang buat aku awal – awal kesel sama Episode ini itu karena sikap egois Soo Young. Yah emang, menerima perbedaan usia yang begitu jauh ga akan mudah dan emang pasti sangat sulit. Bahkan menurut aku mereka cocok buat ade kaka karena Min Suk masih sekolah. Menurut aku si, tapi namanya juga drama jadi sah – sah aja mau bagaimana maunya si penulis dan PD – nim.

Tapi yang paling dikesalkan dari sikap Soo Young adalah, bukannya dia menyelesaikan masalah selayakanya wanita modern tapi dia malah mau kabur dari masalah. Aku kira kalau seandainya Soo Young mau menghadapi masalah ini, menghadapi Min Suk juga dan memberikan. Aku rasa Min Suk bakalan mengerti dan paham kok. Soo Young bahkan sangat kekanakan sih menurutku, apalagi pas menuntut di panggil Noona. Benci banget! Jelas aja Min Suk berontak lah, dia suka sama Soo Young. Perasaannya di tolak tapi Soo Young malah nuntut untuk di panggil Noona. Sesuatu yang membuat keduanya ga bisa bersatu ya karena status Noona Dongsaeng  itulah. Tapi Soo Young malah semakin menjadi dan menuntut.



0 Response to "Sinopsis King of High School Life Conduct Episode 12 – 2 "

Post a Comment

Jangan lupa komentar yaah^^ biar aku lebih semangat dalam membuat postingan. Meskipun jarang bales tapi semua komentar selalu aku baca kok.. *serius*

Gomawo^^