Sinopsis King of High School Life Conduct Episode 12 – 1







Lee Min Suk menarik Jung Soo Young untuk mengajaknya bicara, tapi Soo Young menolak. Jin Woo tak membiarkan hal tersebut dan menahan tangan Soo Young. “Kenapa kau tetap memaksa walau dia tidak mau?”

“Siapa kau mau ikut campur begini?” kesal Min Suk. Keduanya bertatapan sengit, Soo Young melerai keduanya. Dia menyuruh mereka untuk pergi dan jangan ribut. Desanya adalah desa kecil kalau ada keributan pasti dia yang akan mendapatkan masalah dan tak akan bisa menikah. Soo Young pergi meninggalkan mereka.

“Apa tujuanmu ke sini? Kenapa kau ke sini?”

“Kan aku sudah peringatkan padamu, Aku akan mengungkapkan perasaanku.” Jawab Jin Woo santai.



Min Suk berjalan pulang tanpa kendaraan sedangkan Jin Woo mengendarai mobilnya. Dia seolah sengaja menyerempet Min Suk, Min Suk yang menghindar malah masuk ke kubangan air. Sepatunya basah semua, Min Suk mengumpat kesal pada Jin Woo. Seluruh penghuni kebun binatang keluar semua dari mulut Min Suk.


King of High School Life Conduct Episode 12



Jin Woo merawat ibunya yang terbaring lemah di ranjang rumah sakit. Dia mencoba menghubungi ayahnya, dengan dingin Presdir Yoo bertanya ada apa?

“Ibu, Menyayat tangannya sendiri. Dia sudah melewati tahap kritis, tapi Terserah kau mau datang atau tidak, Dia ada di RS Jawon, kamar 307.”



Min Suk sarapan bersama ayah dan kakeknya seperti biasa, ayah harus pergi mengantarkan sepatu kets. Selepas itu, Min Suk makan dengan lahapnya. Bukan karena nafsu makan yang tinggi hanya saja dia teringat kejadian dimana Jin Woo memeluk Soo Young. Rasa – rasanya, dia ingin untuk menikam Jin Woo dengan sumpitnya. Min Suk tertunduk menenggelamkan wajahnya,

“Kakek, ambilkan aku air.... Kakek. Ada air di sebelahmu. Berikan aku segelas air.” Pinta Min Suk tak mendapat tanggapan. Dia pun menoleh dan mendapati kakeknya telah hilang.



Soo Young menenteng bekal makanan dan ranselnya, dia pulang ke Seoul karena ibu terus menanyakan mengenai pekerjaan.

Kakek melihat Soo Young, dia segera menyapanya Unni Cantik. Keduanya pun sama – sama senang bisa bertemu.


“Kakek. Kau yakin kau tahu jalannya?”

“Ya. Rumahku... Rumahku.. 38 – 4.” Jawab Kakek. Keduanya bersorak senang, kakek memang pintar. Menurut Soo Young, Kakek seharusnya sudah punya gelar dokter kalau seperti itu.


Min Suk berlari menghampiri kakek, dia sudah mencari – cari dan ternyata malah disini. Namun seketika Min Suk bengong saat melihat Soo Young bersama kakeknya.

Kakek memperkenalkan Soo Young sebagai Unni Cantiknya. Dia juga menunjukkan es krim yang dibelikan Soo Young.

Sedangkan Soo Young terus tertunduk, dia canggung karena Min Suk juga ada disana. Kakek mengajak Soo Young untuk mampir kerumahnya makan semangka.



Keduanya duduk dengan canggung, Min Suk mengatakan kalau kakeknya selalu menceritakan tentang Unni Cantik dan ternyata Unninya adalah Soo Young. Soo Young membenarkan.

“Kemarin.. Yoo Jin Woo... Bukan seperti itu, kan? Dia hanya...”

“Tunggu.” Sela Soo Young. “Berhenti membahas itu, Hubungan kami tidak pantas dicemburui atau apapun.”

Soo Young berniat pergi, tapi Min Suk menahan tangannya. Dia meminta Soo Young agar tetap bekerja. Bukankah Soo Young adalah wanita modern yang bisa membedakan antara masalah pribadi dan pekerjaan? Dia sudah mengatakannya pada Ketua Tim Kim. Jadi dia harap Soo Young bisa kembali bekerja.

Soo Young tak menjawab. Dia pamit pergi pada kakek, Min Suk sebenarnya tak tega melihat Soo Young yang terseok – seok membawa ranselnya. Tapi apa daya, sekalipun ia mencoba membantu pasti akan diabaikan.



Soo Young membereskan makanan yang dibawanya dari desa. Dia menceramahi Yoo Ah yang pasti setiap hari hanya makan makanan yang sama. Kalau bukan hamburger pasti hanya ramen. Yoo Ah tanya apakah Soo Young pergi ke desa untuk menentukan pilihan? Kalau memang seperti itu, apa keputusan kakaknya?

“Astaga. Tidak ada yang mau kuputuskan. Aku tidak ingat apa- pun, Nona” ucap Soo Young seraya pergi meninggalkan Yoo Ah.


Yoo Ah kembali ke kamarnya, dia menelfon seseorang dan itu Jin Woo. Sepertinya dia bekerja sama dengan Jin Woo mungkin nantinya.

“Ahjussi kue beras, ini aku.”

“Aku tahu. Kenapa melepon sepagi ini?”

“Astaga. Cara bicara mu jahat sekali. Aku harus meneleponmu karena ada berita pagi ini. Unniku sudah kembali. Dia bilang dia akan berangkat kerja.” Lapor Yoo Ah.


Soo Young masih memikirkan ucapan Min Suk tadi, teringat kalau dia adalah wanita modern yang bisa membedakan antara urusan pribadi dan pekerjaan.

Itu benar. Karena urusan pribadi, Aku seharusnya tidak usah keluar dari pekerjaanku. Tanpa pemberitahuan apapun. Itu tidak bertanggung jawab. Aku bisa menghadapainya. Bilang saja padanya langsung, kalau aku dan dia tidak bisa berkencan. Buat dia memahami, Kalau dia cuma anak SMA, dan aku wanita dewasa. Karena aku Jung Soo Young, Wanita modern yang penuh percaya diri, Yang tidak akan menghindari kenyataan.
***


Semua orang senang dengan kembalinya Soo Young, sepi karena beberapa hari Soo Young tak berangkat dan mengurusi gelas – gelas kopi seperti biasanya.


Dae Han dan Yoon Joo datang terlambat, keduanya tampak tergesa – gesa. Do Ji curiga dengan pakaian Yoon Joo yang tak ganti dari kemarin, apa dia tak pulang? Yoon Joo beralasan kalau dia punya baju kembar banyak. Dae Han juga menyuruh Do Ji untuk membeli baju yang kembaran juga bisa kalau mau.

Tiba – tiba hidung Dae Han mimisan, AM Park menyodorkan kotak tisu padanya. Namun Yoon Joo dengan tergopoh – gopoh berlari mengelap hidung Dae Han. Dia begitu khawatir. Kayaknya udah jadian niih..


Min Suk berangkat kerja seperti biasa, dia begitu senang melihat Soo Young sudah berangkat hari ini. Dia mengintip dari balik tirai ruangannya.



Soo Young menemui Min Suk untuk membacakan jadwal Min Suk kali ini, dia begitu serius. “Dan kau disuruh menghubungi Gubernur dari Singapore Investment Corporation. Daan----“ Soo Young menggantung ucapannya.

Min Suk penasaran dengan lanjutan dari ucapan Soo Young tadi.

Tidak. Aku harus tegas. Dia cuma anak SMA. Anak SMA.” Batin Soo Young. “Aku pergi bekerja karena kewajiban pada tugasku, Dan itu hanya sampai kau dapat sekretaris yang baru. Dan jika Kita berdua saja, Kau harus memanggilku noona. Mengerti?”

Min Suk tertawa, dia menganggap ini seperti lelucon. “Noona, pantatku.”

Dia cuma anak SMA.” Pikir Soo Young lagi. “Apa? Memangnya kenapa dengan noona? Kenapa kau tidak mau memanggilku noona? Jika tidak, Aku tidak mau bekerja untukmu lagi. Aku tidak nyaman.”

Min Suk memprotes tapi Soo Young tetap kekeuh minta dipanggil noona.


Diruang rapat, Min Suk tengah ngobrol dengan Ketua Tim Kim. Soo Young datang membawakan berkas, dia komat – kamit untuk menyuruh Min Suk memanggilnya Noona. Min Suk yang males malah pura – pura ga tahu dan hanya memalingkan wajah.


Di koridor, Soo Young masih menyuruh Min Suk memanggilnya Noona namun Min Suk melihat Dae Han dan menyapanya. Dia merasa lingkaran hitam di mata Dae Han sangat jelek. Apa yang membuat Dae Han tak tidur semalaman?

“Terlihat jelas?” tanya Dae Han dengan senyum penuh makna.


Min Suk menghindari Soo Young yang sudah menakutkan seperti hantu saja. Min Suk bahkan menahan Soo Young yang mau masuk keruangannya. Soo Young masih menuntut Min Suk agar memanggilnya Noona.

Min Suk mengunci pintunya, dia lebih baik mati daripada harus memanggil Soo Young dengan sebutan Noona.


Dalam lift, Soo Young masih saja menguntit dan menuntut untuk di panggil Noona. Apa sulitnya memanggil Noona? Soo Young mengajarkan Min Suk untuk melafalkan kata Noona. Noo—Na. Ulangi!

“Aku tidak mau pergi bekerja lagi, kecuali kau memanggilku noona.”

“mmm...Na.” ucap Min Suk dengan pelan.

Soo Young tak mau menerima ucapan itu, lebih keras.

“Noona, Noona, Noona, Noona.” Min Suk mulai geregetan dengan sikap yang menurutku sih agak kekanak – kanakan. “Kau sungguh ingin aku memanggilmu noona? Memangnya kenapa jika aku tidak mau memanggilmu noona? Apa aku terlalu muda untuk mengenal cinta? Hah? Seberapa mudanya aku, sampai kau bilang aku terlalu muda?”

Sadarlah, Jung Soo Young. Dia anak SMA. Dia cuma anak SMA.” Batin Soo Young. “Apa gurumu mengajarkanmu begini?” bentaknya pada Min Suk.




Min Suk mengejar Soo Young yang meninggalkannya, dia sangat marah dan ingin berbicara namun Soo Young menghindarinya. Jin Woo yang menggunakan mobilnya lewat, Soo Young segera menyapanya. Dia dengan so’ akrab masuk kedalam mobil Jin Woo.

Min Suk pun tak dapat berbuat apa – apa.

Jin Woo bertanya apakah Soo Young hanya memanfaatkannya saja? Soo Young meminta maaf atas apa yang ia lakukan. Tapi Jin Woo tak mempermasalahkan, dia menyuruh Soo Young untuk memanfaatkannya saja. Namun dia meminta balas budi Soo Young, dia kan telah membantunya.



Jin Woo membawa Soo Young menemui ibunya. mereka membawakan Ibu Jin Woo bubur, Ibu mencicipi dan rasanya enak. Ibu memuji Soo Young yang sangat cantik. Soo Young menolak dikatai cantik, yang cantik kan Ibu Jin Woo.

“Sungguh menakjubkan. Ini pertama kalinya Jin Woo membawa gadis bersamanya.”

“Hubungan kami bukan seperti itu. Kami cuma bekerja di perusahaan yang sama saja. Aku dengar darinya kalau kau tidak suka makan makanan di sini.”

Karena gugupnya Soo Young, dia menutupi dengan menambahkan bubur Ibu lagi. dia meminta izin untuk ke toilet. Dan bahkan kakinya sampai tersandung layaknya anak kecil yang kurang hati – hati, Ibu tersenyum melihat tingkah konyol Soo Young. Sama hal – nya dengan Jin Woo yang tersenyum.



“Sudah lama aku tidak melihatmu tersenyum, Jin Woo. Dia bilang dia menyukaimu?”

“Aku tidak mau dia jadi bingung. Waktuku tidak tepat.”

Ibu terkesima karena putranya bisa mempunyai cinta yang bertepuk sebelah tangan. Bayangin  aja, udah handsome. Kaya. Mapan. Kurang apa coba? Boleh dibungkus buat aku kan? Hehehe. Tapi sekarang ibu juga lega, lega karena Jin Woo mau dekat dengan wanita. Sebelumnya dia khawatir kalau sampai Jin Woo menjauhi wanita karena dirinya.

“Tapi.. sejujurnya, bubur ini tak enak.” Ungkap ibu. Keduanya tertawa, Soo Young memang tak pintar memasak.



Soo Young benar – benar tak menyangka kalau ibu Jin Woo masihlah sangat muda dan cantik. Jin Woo mengatakan kalau ibunya dulu adalah artis yang terkenal tapi setelah menikah dengan ayahnya, ibu Jin Woo pensiun.

Soo Young berkata kalau dia akan pulang sendiri saja, Jin Woo menawarkan untuk mengantar Soo Young. Dia menolak, ia lebih memilih naik taksi. Kalau begitu, dia akan mengantarkan Soo Young mencari  taksi.

Di pintu keluar, Soo Young melihat kehadiran Presdir Yoo namun Jin Woo tak tahu. Dia memperhatikannya dengan seksama tapi tak terlalu memperdulikan.


Presdir Yoo melihat Ibu Jin Woo dari kejauahan, dia seolah enggan untuk menghampiri untuk sekedar menyapa atau bahkan hanya bertatap muka. Dia lebih memilih pergi sebelum Jin Woo kembali.
***



Min Suk bermain hoki seperti biasa, dia bermain dengan begitu lincah. Membawa bola dan mencetak gol untuk timnya.

Sekarang dia tengah menggiring bola dengan gesitnya, dia menyurusur lewat samping kanan lapangan. Seorang lawan mencoba mendapatkan bola dan menerjang tubuh Min Suk, tubuh Min Suk terdorong hingga menabrak tembok lapangan.

Min Suk meringis kesakitan. Duk Hwan dan Tae Suk pun menghampirinya dengan panik.



Yoo Ah berlari dengan tergopoh – gopoh menuju ke rumah sakit yang lebih tepatnya ke ruang operasi. Dia begitu cemas dengan kondisi Min Suk, bukankah dia tak apa? Cederanya tak parah tapi kenapa dibawa ke ruang operasi?

“Lukanya tidak ada yang serius, tapi Sesuatu terjadi pada bahunya.” Jawab Tae Suk.

“Bahu? Ada apa dengan bahunya? Seberapa buruk?”

Duk Hwan yang juga ada disana sumpek dengan rewelnya Yoo Ah, dia menyuruh Yoo Ah jangan berisik. Suaminya akan baik – baik saja, ini hanya operasi endoskopi yang memerlukan waktu satu jam.



Semuanya menghambur ke ranjang Min Suk ketika pintu ruang operasi terbuka. Min Suk berdecak, dia tak apa. Lagian dia tak akan sekarat kok.

“Bajingan ini. Kau pikir tubuhmu terbuat dari batu?” umpat Ayah.

“Mulutnya masih hidup.” Ucap Duk Hwan. Hahahaha. Min Suk pun meliriknya sengit, kau mau mati?


Soo Young tengah sendiri dirumahnya, dia masih ragu dengan perasaanya sendiri. Dia menghubungi pemilik rumah yang ia tinggali saat ini, dia mengatakan kalau masa kontraknya akan segera habis dan dia tak akan memperpanjangnya lagi.
***



Ketua Tim Kim mengumumkan pada seluruh anggota Tim Retail kalau Min Suk tak bisa masuk karena sakit flu. Soo Young heran kenapa Direktur bisa tak masuk, padahal kemarin tampak baik – baik saja?

“Kau tidak tahu apapun tentang Direktur Lee?” tanya AM Yoon.

“Tidak.”

“Jadi, ada apa dengan kalian? Bukankah kalian sudah baikan?”

Soo Young diam, dia menggeleng sambil menunjukkan tanda X dengan jarinya. Mungkin maksudnya sudah putus kali yah, atau no comment?

Meskipun ia mengelak, masih tampak jelas ada – nya raut kekhawatiran.


Kau baik-baik saja, Direktur? Aku bertanya sebagai sekretarismu,” pesan Soo Young. Tapi selangkah lagi dia bisa mengirim pesan itu, namun urung. Dia kembali menahan rasa peduli dan khawatirnya untuk Min Suk. Sungguh, aku rasa dia Cuma egois. Gengsi dengan perbedaan umur 10 tahun mereka.



Soo Young menelfon pemilik rumah, dia telah menjatuhkan pilihan ke sebuah rumah yang harganya cukup terjangkau.

Yoo Ah pulang. Soo Young menghidangkan makanannya dan mengatakan pada Yoo Ah kalau mereka akan segera memiliki kontrakan baru. Yoo Ah heran kenapa tiba – tiba harus pindah rumah? Bukannya mereka akan memperpanjang kontrak?

“Kita pindah saja ke rumah baru. Bukankah kau sudah bosan dengan lingkungan sini? Kita bisa dapatkan awal yang baru, di rumah baru nanti. Bukankah itu bagus, Yoo Ah?”

“Awal baru, pantatku.”

“Berpikir pindah ke rumah baru saja, Sudah membuatku senang,”



Yoo Ah bergegas ke kamar mandi, dia menelfon Tae Suk diam – diam untuk menanyakan kondisi Min Suk.  Tae Suk berkata kalau kondisinya bail – baik saja. Yoo Ah memperingatkan agar mereka jangan sampai membuat suaminya kelelahan.

Soo Young masuk untuk memberitahukan Yoo Ah kalau dia akan pergi membeli daun bawang. Yoo Ah segera menyembunyikan telefon. Dia mencoba untuk menutupi kondisi Min Suk, yah sebagai seorang wanita. Aku tahu betul perasaan Yoo Ah.

Setelah Soo Young pergi, Yoo Ah kembali menghubungi Tae Suk, dan sekali lagi memperingarkan agar jangan membuat lelah suaminya.



Di rumah sakit, rupanya Tae Suk dan Duk Hwan tengah ribut. Ribut untuk melihat komik porno, Min Suk menendang bokong mereka. “Anak SMA mesum ini! Ada orang tua sedang tidur,”

Duk Hwan menatap tak enak hati tapi pada kenyataannya dia tetap saja membaca komiknya dengan Tae Suk. Sedangkan Min Suk, dia lebih memilih melihat – lihat fotonya bersama dengan Soo Young. Foto – foto saat kebersamaan mereka yang sesaat tapi meninggalkan kesan yang begitu dalam untuk Min Suk.
***


Tak sepenuhnya Soo Young bisa mengabaikan Min Suk, toh pada kenyataanya dia tetap memikirkan kondisi Min Suk.

Padahal dia tidak terlihat sakit kemarin. Apa dia tidak masuk kerja Karena benar-benar sakit? Atau Karena aku? Dia merasa sengsara karena aku terus memaksanya memanggilku noona? Tapi, Sangat aneh, dia tidak masuk kerja tanpa memberitahuku.” Batin Soo Young penuh tanda tanya.



Tanpa disadarinya, ternyata Soo Young reflek berjalan menuju ke rumah Min Suk. Dia begitu terkejut melihat Ayah dan Kakek Min Suk keluar dari rumah. Ayah yang tengah sebal karena kakek memaksa untuk ikut menjenguk Min Suk dirumah sakit.

Sedangkan Soo Young langsung bersembunyi di baik tembok.
***


Esok pagi, Min Suk sudah persiapan untuk pulang dari rumah sakit. Seperti biasa, ketiga manusia rese itu tengah bergulat karena masalah – masalah kecil.

“Ototnya robek saat terjatuh. Tapi, di pikirannya cuma patah hati. Dia kacau karena hal yang tidak berguna. Dasar norak, kampungan!” ejek Duk Hwan.

Kakek yang ada dipihak Min Suk segera menegurnya, dia khawatir karena kondisi Min Suk kan tengah sakit. Kakek membungkam mulut Duk Hwan, “Min Suk sedang sakit. Sakit.”

Min Suk tersenyum penuh kemenangan, tapi kemudian dia menjelaskan pada kakek kalau temannya memang seperti itu.

 “Kenapa pelatih dan Ayahku lama sekali?” tanya Min Suk.



Di ruang dokter, Ayah terkejut dan meminta pada sang dokter untuk menjelaskan lebih detail lagi.

“Selain di daerah operasi, Aku juga menemukan daerah lain yang rusak kronis. Lengannya kalau untuk hidup normal biasa sudah sangat bagus, tapi Kalau hoki sedikit sulit.”

Pelatih tak percaya karena sebelumnya kan operasi berjalan lancar. Min Suk juga seorang pemain rising star dan salah satu pemain terbaik korea. Dokter tak bisa berbuat apapun, itu memang sangat disayangkan.

Ayah bimbang. Sedih. Dia memohon agar dokter melakukan yang terbaik untuk putranya. Min Suk tak pintar dalam bidang apapun  selain hoki. Ayah mulai meneteskan air mata, bagaimana putranya mungkin tak akan bisa lagi meraih impian satu – satunya itu. Hoki. Ya. Hoki sudah seperti hidup mati untuk anaknya. Dia meminta untuk menggantikan lengannya saja untuk Min Suk, dia rela.


Pelatih masuk ke ruangan Min Suk. Min Suk bertanya dimana ayahnya? Dia sudah ingin pulang, sumpek dan ingin berlatih?

Pelatih tampak tak enak hati. Dia menyuruh Duk Hwan dan Tae Suk untuk membereskan barang Min Suk. Dia menyuruh Min Suk keluar, ada hal yang harus ia bicarakan. Min Suk heran, dia menepuk Duk Hwan. Dia menebak kalau pelatih mendengar percakapan mereka tadi.


“Min Suk..”

“Ya Pelatih.”

Pelatih masih terdiam. Sangat sulit baginya untuk mengatakan sebuah kenyataan pahit pada Min Suk. “Dokter bilang.....”  “Lenganmu tidak masalah bila digunakan di kehidupan sehari hari, tapi Tapi, dia bilang Kau tidak bisa bermain hoki lagi.”

Hening. Suasana menjadi hening, tak ada sepatah katapun yang meluncur dari mulut Min Suk.


Disisi lain, Duk Hwan dan Tae Suk terduduk sedih. Keduanya telah mengetahui kalau Min Suk tak bisa bermain hoki lagi. mereka bisa merasakan apa yang sahabat mereka rasakan.

*** Bersambung ke King of High School Life Conduct Episode 12 – 2***

2 Responses to "Sinopsis King of High School Life Conduct Episode 12 – 1 "

  1. Episode 12 part 2 nya mana kak ? Kok gak ada, penasaran selanjutnya gimana :)

    ReplyDelete

Jangan lupa komentar yaah^^ biar aku lebih semangat dalam membuat postingan. Meskipun jarang bales tapi semua komentar selalu aku baca kok.. *serius*

Gomawo^^