Sinopsis High School Life Conduct Episode 8 – 2





Ternyata pria misterius yang menguntit Soo Young adalah kakek Min Suk. Keduanya sekarang berada di depan sebuah toko sambil menikmati es krim. Soo Young curhat pada kakek tentang masalahnya di perusahaan, dia yang memiliki direktur baru. Soo Young dengan agak menyombongkan diri berkata kalau direkturnya mengatakan cinta padanya.

“Tapi, Kakek.. Aku dengan hormat dan sopan mencampakkannya. Tapi, dia menerima nya begitu saja. Maksudku, dia malah terlihat baik-baik saja. Dia malah mengabaikanku.” Cerita Soo Young.

“Kasar sekali”

Soo Young membenarkan komentar kakek. Kakek meminta Soo Young untuk kembali membelikannya es krim. Dengan muka cemberut dan agak terpaksa, Soo Young mengiyakan saja permintaan kakek.




Soo Young mengekor dibelakang Kakek memasuki toko, dan tak sengaja dia melihat tiga orang pelajar yang tengah bermain troli dengan salah seorang dari mereka menungganginya. Soo Young menggeram kesal melihat kelakuan mereka. Dia bahkan berfikir untuk mengumpulkan mereka dan memarahinya.



Duk Hwan dan Tae Suk menuntut penjelasan Min Suk mengenai situasi yang tengah dialaminya, namun Min Suk masih terdiam. Mereka menebak pasti Min Suk suka dengan Si Popcorn Unni. Mereka tanya berapa umur popcorn Unni itu? Min Suk masih lemas menjawab kalau umurnya 28 tahun. Duk Hwan jelas terkejut. Beda usia mereka itu 10 tahun.

“Kau sudah gila ya? Kau ini bukan Lee Hyung Suk tapi Lee Min Suk, Bocah yang berusia 18 tahun. Atlet SMA. Apa yang akan kau lakukan jika dia membalas cintamu? Kau kau mengaku usia-mu? Itu penipuan Jika kau mengungkapkan usia asli-mu, Kau pasti akan dicampakkannya. itu pasti menyakitkan.”

Min Suk mengusap kasar wajahnya, dia juga tahu dan berusaha untuk melupakannya. Duk Hwan mengajak Min Suk untuk pergi ikut kamp besok dan berlatih dengan keras agar bisa melupakan Popcorn Unninya.
***


“Inilah tempat dimana aku selalu berdiri di dalam mimpi-ku. Oh, oh.  Tali terlihat longgar. Dia tidak boleh melompat.” Ucap Soo Young melihat Min Suk berdiri di puncak tempat bungee jumping. “Jangan melompat, Direktur. Talinya longgar. Omo!” teriak Soo Young melihat Min Suk menjatuhkan tubuhnya dari ketinggian.


Soo Young terbangun dari tidurnya. Dia sudah terbiasa bermimpi di bungee jumping seperti itu tapi tak biasa – biasanya orang lain yang ada dalam mimpi Soo Young.


Yoo Ah sibuk menyiapkan Sushi Tahu Goreng. Soo Young bertanya sedang apa Yoo Ah, Yoo Ah yang sedang sibuk berkata kalau dia sudah tak ada waktu. Soo Young memakan sepotong Sushi Yoo Ah.

Yoo Ah mendengus karena dia sudah tak memiliki waktu untuk membuatnya lagi tapi malah di makan oleh Soo Young. Dengan segera Soo Young mengembalikan sushi yang sudah ia makan, Yoo Ah heran dengan perilaku aneh kakanya itu. Dia menjejalkan sushinya ke mulut Soo Young lagi.



Yoo Ah menelfon Min Suk untuk bertanya kapan Min Suk berangkat? Namun Min Suk yang sedang berbenah mengatakan kalau dia sedang sibuk lalu mengakhiri panggilan tersebut.



Dirumah Min Suk, Ayah bertanya apakah yang menelfon Min Suk itu Yoo Ah. Dia sering kerumah mereka. Min Suk memperingatkan ayah agar jangan bersikap baik pada Yoo Ah atau malah akan membuatnya semakin lengket.

“Dia manis kok.”

Min Suk berdecak mendengar pujian ayah itu. Ayah memberikan Min Suk gingseng merah untuk meningkatkan staminanya yang belakangan ini berkurang. Mungkin karena seringnya latihan. Ayah memohon dengan sangat agar Min Suk memakannya. Dia pergi lalu mengajak Kakek dan Min Suk untuk makan.



Kakek mengambil bungkusan gingseng Min Suk, dia memintanya satu untuk ia berikan pada Unni Cantik. Min Suk menggoda kakek yang membicarakan tentang Si Unni Cantik, apa dia benar – benar cantik?

Unni cantik sangat cantik, Unni cantik kemarin membelikanku es loli” tutur Kakek dengan girang. Min Suk ikut tersenyum memperhatikan kakek yang tingkahnya memang seperti anak kecil. Dia memberikan satu bungkus lagi agar kakek memberikannya pada Unni Cantik.

Kakek berjingkrak kegirangan menerima sebungkus gingseng lagi.


Kakek peri untuk sarapan. Min Suk tak sengaja menatap lumut milik Soo Young yang telah layu. Dia prihatin melihat keadaan lumutnya lalu membawa keluar kamar.
***



Tim Hoki menuju bus untuk berangkat menuju tempat kamp, Yoo Ah berlari menghampiri Min Suk yang sudah hendak masuk dalam bus. Dia menyodorkan bekal yang telah dibuatnya. Min Suk males – malesan untuk menerima bekal itu tapi Duk Hwan dan Tae Suk menyuruhnya untuk mengambil. Kalaupun Min Suk memakannya maka mereka mau menggantikan Min Suk.

Min Suk terpaksa menerima bekal itu, Yoo Ah tetap saja senang dan bergelayut manja di lengan Min Suk. Seandainya dia bisa ikut maka ia ingin ikut dengan Min Suk. Min Suk menoyor pelan kepala Yoo Ah. “Kau ini ada-ada saja. Omong kosong.”

Min Suk masuk kedalam bus. Yoo Ah dan dua antek – anteknya memerikan mereka semangat.



Yoo Ah menarik Tae Suk yang hendak masuk dalam bus. Dia menyuruh Tae Suk agar jangan mengatakannya pada Min Suk. Tae Suk mendesah kesal lalu membentuk O dengan jarinya dan masuk dalam bus.

Teman Yoo Ah tanya dengan maksud Tae Suk tadi. Apa Tae Suk meminjam uang padanya?

Yoo Ah sama sekali tak memperdulikan pertanyaan itu dan tetap menatap antusias ke dalam bus.


Pelatih datang. Dia melihat Yoo Ah dan bala – balanya itu dengan remeh. “Siapa kalian?  Kalian SES ya? Astaga!” decaknya heran melihat tingkah ganjen mereka.
***




Soo Young berangkat sambil beberapa kali curi – curi pandang melongok ke ruangan Min Suk. Ketua Tim Kim datang, dia segera duduk ke tempatnya.

Sang Hee tanya pada Soo Young, apakah Direktur Lee belum berangkat. Dia butuk penandatanganan berkas. Ketua Tim Kim dengan tergagap memberitahukan kalau Min Suk tak berangkat.

“Perjalanan bisnis kemana?” tanya Asisten Park.

“Hah? Mm. Oh, ke Jepang. Itu darurat. Dia berangkat saat fajar. Dia menerima panggilan konferensi, dan.. Ke Osaka.”

Mereka ngedumel kesal karena sebelumnya sudah pernah ada masalah dengan Osaka. Asisten Park sekali lagi bertanya kapan Direktur Lee akan kembali?

Ketua Tim Kim bohong kalau Direktur Lee akan kembali nanti malam. Jaraknya kan dekat jadi nanti naik pesawat. Dia tak mau lagi ambil resiko menerima banyaknya pertanyaan, Ketua Tim Kim pergi menemui General Manager.



Soo Young heran dengan keberangkatan Min Suk yang tiba – tiba itu. Soo Young sontak kaget. Dia membuat sebuah status di media sosial untuk meminta pendapat mengenai arti mimpinya. Ia melihat seseorang jatuh dari bungee jumping.

Mungkin dia sakit atau mengalami kecelakaan.” Sontak Soo Young kaget. Namun ketika dia membuka beberapa komentar lainnya, banyak yang berkata kalau mimpi itu tak memiliki arti. Soo Young meyakinkan dirinya kalau mimpi itu memang tak memiliki arti.
***



Min Suk berlari tanpa lelah melewati semua rintangan yang telah di siapkan. Sedangkan Duk Hwan dan Tae Suk sudah sangat kepayahan, mereka membicarakan Min Suk yang begitu semangat karena dicampakkan wanita.

Tanpa keduanya sadari, Ki Hyung berdiri memperhatikan mereka lalu menepuk keduanya yang hanya mengobrol.

***


Yoo Jin Woo berangkan menuju ke pusat rehab dengan tergesa – gesa setelah menerima panggilan dari sana. Dia bertanya pada suster bagaimana yang terjadi? Apa mereka belum menemukannya?

Suster menggeleng. Mereka belum menemukannya setelah mengecek ke taman dan beberapa tempat yang sering di kunjunginya. Jin Woo panik, sedikit terdiam memikirkan sesuatu.
***



Soo Young masuk keruangan Min Suk untuk mengambil berkas Y- Tower yang diminta oleh Asisten Yoon. Dia segera mengambilnya namun sebelum keluar, Soo Young menatap ruangan itu dengan pandangan seperti seseorang yang merindukan seorang. Dia memberikan beberapa gelas yang tergeletak di ruangan Min Suk lalu membawanya keluar.

Tak sengaja, Soo Young menjatuhkan gelasnya. Pikiran Soo Young jadi aneh – aneh saja, dia teringat mimpi dimana Min Suk jatuh dari puncak bungee jumping. Soo Young menggeleng kasar mengenyahkan pikiran negatif yang bersarang di benaknya.

Jangan berpikiran aneh tentang itu! Itu cuma kebetulan. Kebetulan



Asisten Park mengatakan kalau gempa di Osaka menjadi trending topik hari ini. Gempa dengan kekuatan 6,4 SR dan membuat bangunan dan jalan rusak.

“Direktur sedang di Osaka sekarang kan? Oh, ya tinggal di hotel kan?” tanya Dae Han.

“Aku yakin hotelnya anti gempa.”

Mereka yakin kalau Direktur Lee pasti akan baik – baik saja. Namun Soo Young yang ikut nimbrung menyaksikan beritanya jadi panik.


Soo Young segera mengambil ponsel miliknya untuk menghubungi Min Suk, sayangnya beberapa kali ia mencoba menghubungi Min Suk tapi tak sekalipun diangkat hingga Soo Young makin panik.
***


Sedangkan Min Suk, dia masih disibukkan dengan latihan fisik yang masih harus ia jalani. Dan mengharuskannya meninggalkan ponsel dalam ransel.

Min Suk masih berlari memimpin yang lain, dengan tenaga yang masih full. Sedangkan Duk Hwan dan Tae Suk sudah terduduk tak berdaya.

Setelah sampai ke pemberhentian, Min Suk masih belum bisa menghilangkan ke – galauan hatinya. Dia berteriak frustasi dan kembali berlari mondar mandir padahal yang lain sudah kepayahan.

Karena tubuhnya yang lelah namun dipaksakan, akhirnya Min Suk jatuh tersungkur.


Min Suk mengerang kesakitan karena lengannya yang pergelangannya yang cidera.
***


Presdir Yoo masuk kedalam ruanganannya dan melihat seorang wanita yang tengah menaruh bunga dalam pot. Dia mengomentari ruangan Presdir Yoo yang tampak suram. Presdir Yoo tanpa basa – basi menyuruh wanita tersebut untuk pergi, Apa yang kau inginkan? Apa ini ancaman? Kau mau mengintimidasi-ku?

“Mengintimidasi? Ancaman?” tanya wanita itu. “Bukan seperti itu. Aku hanya... Jika aku tidak datang, Kau tidak akan pernah mengunjungi-ku. Berhenti memperlakukan-ku seperti orang sakit.”

Beraninya kau datang ke sini? Jin Woo juga bekerja di sini.”

Wanita itu tampak terpukul, tangannya reflek menampar Predir Yoo karena telah menyebut nama Jin Woo dengan mulut kotornya. Karena Presdir Yoo lah yang menyebabkan Jin Woo jadi menderita. Presdir Yoo sama sekali tak merasa iba atau simpati, dia berteriak pada sekretaris Jang untuk membawa tamunya pergi.



Wanita tadi meronta – ronta ketika Sekretaris Jang dan beberapa penjaga menyeretnya keluar. Untungnya ada Jin Woo yang datang.

Lepaskan!! Apa yang kalian lakukan.” Bentak Jin Woo. Mereka takut dan meminta maaf karena mereka hanya mengikuti perinta Presdir. Jin Woo marah namun tak melampiaskannya pada bawahan, dia pun membimbing wanita tadi pergi.


Jin Woo membawa wanita tadi menuju ke suatu tempat, matanya tampak berkaca – kaca menatap wanita yang tengah tertidur dengan lelapnya itu. Dia tampak begitu sedih.
***



Soo Young masih terus berusaha menghubungi Min Suk dengan menggigiti kukunya khawatir. Asisten Park malah memanfaatkan waktu tanpa Ketua Tim Kim untuk mengajak karyawan lain makan – makan.

Dae Han juga mengkhawatirkan Direktur mereka tapi Asisten Park menenangkan, toh kalau ada apa – apa pasti mereka akan mendengar beritanya. Dae Han tak sependapat, gempanya itu di Jepang bukan Korea. Kalau di Korea akan mudah untuk mengidentifikasi.

Dae Han menelfon Direktur, dia girang karena panggilannya sudah diangkat dan Direktur baik – baik saja.


Soo Young ikut terkejut. Dia menatap ponselnya yang sudah menuliskan pesan angkat telfonnya. Aku mengkhawatirkanmu.

Soo Young menghembuskan nafas lega mendapati Direktur Lee baik – baik saja.


Min Suk kebingungan dengan maksud dari Osaka yang gempa. “eehm. Hah? Oh Ya. Osaka.” Min Suk mengakhiri panggilannya.

“Osaka pantatku!” decaknya. Dia pun menatap tangannya yang di gips karena terkilir.
***



Presdir Yoo menerima hadiah yang telah disiapkan oleh Sekretarisnya untuk Jin Woo, entah apa tapi sepertinya bros mungkin.

Jin Woo datang dengan penuh kekesalan di rautnya.



“Kau sangat konsisten. Konsisten peduli pada omongan orang lain. Konsisten egois, dan secara konsisten, Menyakiti Ibu.” Geram Jin Woo. “Ini sudah 10 tahun. Tak bisakah kau bersikap baik padanya? Dia menyerahkan hidupnya untukmu, ayah.”

“Tidak ada orang yang akan menyerahkan hidupnya untuk orang lain. Tidak ada yang begitu. Dia saja yang bodoh. Aku tidak pernah memaksanya.” Bantah Predir Yoo.

Mendengar jawaban enteng tanpa perasaan itu membuat Jin Woo mundur, mundur untuk menyadarkan ayahnya yang terlampau keterlaluan itu. Dia pun pergi.


Jin Woo melampiaskan kekesalannya dengan ugal – ugalan di jalan raya. Mungkin karena tak ada tempat berkeluh kesah makannya dia melampiaskannya dengan sesuatu yang salah.


Jin Woo duduk termenung di apartemennya, dia membuka kotak kue pemberian Soo Young.

Selamat ulang tahun, Direktur. Aku harap kau menyukai cake ulang tahun ini, dan Aku harap hidupmu akan dipenuhi dengan tawa. Dari Jung Soo Young.” Jin Woo pun meraup kesal wajahnya. Dia tampak sangat frustasi kali ini.
***


Di Tim Retail, mereka membahas mengenai makan bersama yang akan mereka lakukan. Tapi disini, Dae Han masih tampak khawatir dengan Min Suk. Tapi Sang Hee mengatakan agar dia tak usah khawatir, toh presdir sudah bilang kalau dia baik – baik saja.

Entah kenapa, tiba – tiba Dae Han yang khawatir mengajak yang lain untuk makan dan dia yang akan mentraktir. Jelas saja ini membuat mereka kegirangan.


Kecuali Soo Young yang masih melamun, Asisten Yoon menyadar Soo Young dan mengajaknya untuk makan Gopchang. Makanan kesukaan Soo Young namun Soo Young berkata kalau dirinya sedang tak enak badan jadi dia akan pulang duluan.

Asisten Yoon mengerti. Dia meninggalkan Soo Young.
***


Pelatih memberikan arahan pada Tim Hoki sebelum pertandingan melawan SMA Duk San.

“Pertama, Aku sangat senang melihat antusiasme kalian hari ini. Tentu saja, memang benar kalau Duk San kandidat yang kuat untuk final. Namun, akan lebih memalukan kalau kita terintimidasi oleh mereka. Dengan semangat juang, Lakukan yang terbaik, baru kalian boleh kalah, oke? Kalian akan ada banyak pertandingan. Namun, pertandingannya cuma terjadi sekali. Pertandingan, Dan juga hidupmu. Jangan lakukan sesuatu yang bisa buat kau menyesal. Paham?”

YA PAK!!.”



Wejangan dari pelatih berakhir, saatnya mereka untuk pesta BBQ. Semua pun bubar dan trio kita berjalan berdampingan. Mereka memuji Min Suk yang telah bekerja keras. Duk Hwan juga senang karena Min Suk telah mencoba melupakan gadisnya.

Dan seperti biasa, Tae Suk menimpali ucapan Min Suk dan sebaliknya hingga mereka ribut tanpa ada ujungnya.

Sampai – sampai tak sadar kalau Min Suk tak lagi bersama mereka.



Min Suk kini menumpang pada mobil yang mengangkut galon. Pemilik mobil bertanya apa dia boleh menurutnkan Min Suk di Seoul daerah manapun? Kenapa Min Suk pulang, apa karena akan mengobati lukanya?

Min Suk terdiam. Dia hanya ingin menemui orang yang ia rindukan.
***


Soo Young berjalan masih dengan banyak pikiran. “Aku sangat khawatir karena mimpi itu. Benar. Aku merasa aneh karena mimpi itu.



Soo Young teringat kenangannya bersama dengan Min Suk.

Karena ada gempa bumi, Aku khawatir dia dalam bahaya. Hanya itu.” Batin Soo Young.



Namun sekuat apapun Soo Young mengelak dari perasaanya, tetap saja kenangan itu masih membayangi pikiran Soo Young.

Tidak. Kau tahukan bukan seperti itu. Kau menyukainya.


Langkah kaki Soo Young terhenti, dia telah menemukan jawaban dari kebimbangannya sendiri. Jawaban yang benar – benar keluar dari hatinya karena sebelumnya dia masih egois, mengelak dari perasaanya selama ini.

Soo Young pun menghentikan taksi, dia meminta untuk diantarkan menuju bandara Gimpo.


Soo Young berlari dengan tergesa menuju ke pintu keluar bandara, dia menenteng kertas bertuliskan OK. Soo Young menanti dengan sabar namun sampai dengan penerbangan terakhir dari Seoul pun ia belum melihat Min Suk.



Soo Young mencoba menghubungi Min Suk namun gagal karena disisi lain, Min Suk juga mencoba menghubungi Soo Young.



Soo Young membuang tulisan OK miliknya dengan sedih. Dia mengira kalau Min Suk telah berubah pikiran. Tapi ketika dia membuka ponsel miliknya, ada panggilan tak terjawab dari Min Suk, Soo Young segera menelfon balik dan Min Suk mengangkatnya.

“Kenapa kau tidak menjawab?  Kau dimana?” tanya Min Suk sambil berlari.

“Bagaimana dengan-mu, Direktur? kau masih di Jepang? Kau tidak jadi kembali hari ini?”

“Aku ada pekerjaan sekarang. Bagaimana dengan-mu, Jung Soo Young?”

“Aku ada di bandara. Aku mau memberitahu-mu sesuatu, Direktur.”

“Aku juga, Temui aku di sekitaran daerah rumah kita.”

“Tentu. Aku akan segera ke sana.”



Keduanya pun bergegas kembali, sama – sama gelisah. Sama – sama ingin mengungkapkan perasaan mereka pula.




Min Suk berlarian mencari – cari Soo Young. Soo Young pun sama, dia menghubungi Min Suk untuk bertanya keberadaanya. Mereka sama – sama berada di depan perpustakaan.

Keduanya celingukan dan menyadari kalau mereka berseberangan jalan. Min Suk menunjuk kearah penyebrangan.



Keduanya telah berhadapan, dipisahkan oleh jalanan. Soo Young melihat tangan Min Suk yang di gips, Kau terluka?

Jelas saja, Min Suk yang ada diseberang tak mendengar suara Soo Young. Soo Young menunjuk lengannya. Min Suk sadar sekarang kalau Soo Young membicarakan lengannya yang terluka, tak apa.




“Direktur. Oke. Aku bilang, oke.” Teriak Soo Young di seberang jalan.

Min Suk kebingungan dengan maksud Soo Young. Soo Young membentuk huruf O dan K dengan kedua tangan dan tubuhnya. Namun ketika sebuah mobil melewati Min Suk, tiba – tiba Min Suk menghilang. Soo Young sedih.




Min Suk sudah tak sabar lagi, dia berlari melewati jembatan penyebrangan. Dan memeluk Soo Young dari belakang.

“Aku tidak bisa menyerah seperti ini. Aku punya semangat juang yang tinggi.” Ucap Min Suk.

Oke. Aku bilang, oke.”



Soo Young membalik tubuhnya. “Aku menyukaimu, Direktur. Jadi jawabanku, OK.” Jawab Soo Young lalu memonyokan bibirnya berniat mencium Min Suk namun tangan Min Suk yang terluka tersentuh Soo Young. Dia meringis kesakitan. Soo Young jadi merasa bersalah.


Namun Min Suk sama sekali tak masalah. Dia mengaitkan kepala Soo Young agar masuk melewati sela – sela tali gipsnya. “Aku ini pria dewasa.”

Min Suk pun mencium lembut Soo Young ditengah keramaian, hiruk – pikuk jalan raya menjadi hening seketika. Dunia milik mereka berdua. Kamu. Aku. Kita semua sekarang ngontrak sama mereka.

Mimpi itu tidak ada arti-nya. Dan sekarang, Aku tidak tergantung pada mimpi-mimpi yang tak berarti lagi. Seorang wanita modern profesional, Harus penuh tanggung jawab dan rasa kewajiban. Wanita yang baru saja mulai untuk menicntai. Aku Jung Soo Young.

****Bersambung Ke Episode 9 di Blog Kisah Romance****

Min Suk – Oh – Min Suk. Untung aja itu jalanan korea, kalau di indonesia gini apalagi di bulan ramadhan kamu cemplak cemplok gitu di tengah jalan. Abis.. kamu kena ujan batu. Kekeke.

Episode sweet~~~ Omomomo. Dan aku tarik kembali ucapan ku yang membenci Jin Woo. Disini dia punya sisi baik kok.

Heehehe. Tunggu aku di eps 10 yah. Eps 9 udah ada di Kisah Romance loh. Cek aja, mian lambat. Mood lagi ga ada, labil.

9 Responses to "Sinopsis High School Life Conduct Episode 8 – 2 "

  1. Puji, tampilan blognya berubah yaa

    ReplyDelete
  2. tampilannya berubah ya

    ReplyDelete
  3. Replies
    1. Jadi susah dibuka kak :'(

      Delete
  4. suka banget sama "Kamu. Aku. Kita semua sekarang ngontrak sama mereka" ngakak

    ReplyDelete
  5. Akkkk susah buat dbaca, pdhl nunggu bgt sinopsisnya...

    ReplyDelete
  6. Sis kog jd susah baca ya?jd tumpang tindih gni yakk? Pusing sy....

    ReplyDelete
  7. Oke.. aku udah ubah dan template ini lebih sederhana sekaligus ga tumpang tindih kaya kemarin.
    semoga udah lebih nyaman di buka^^

    ReplyDelete
  8. Tambah keren blognya, Mbak Puji ^^. Daebak!

    ReplyDelete

Jangan lupa komentar yaah^^ biar aku lebih semangat dalam membuat postingan. Meskipun jarang bales tapi semua komentar selalu aku baca kok.. *serius*

Gomawo^^