Sinopsis Trot Lovers Episode 1-1






Suara sorak – sorai para pendukung yang meneriakkan nama Choi Chun Hee bergemuruh. Para atlit lari pun masih dengan semangat empat lima mencoba untuk sampai ke garis finish. Pelatih Choi Chun Hee memberikan instruksi agar berhenti supaya Chun Hee bisa mempertahankan kekuatannya sampai akhir, sekarang garis finish sudah di depan mata. Tinggal beberapa meter tak jauh darinya sekarang.

Choi Chun Hee kelelahan, nafasnya pun tak tertatur. Mungkin karena terlalu memaksakan berlari, secara mengejutkan Chun Hee tak bisa lagi menopang tubuhnya dan jatuh di lintasan lari. Semua pendukung terkejut dan hanya melongo melihat Chun Hee pingsan.
***





Choi Chun Hee melaksanakan latihan seperti biasanya, dengan bersenandung riang. Sebuah tas melayang jatuh tepat di depan kaki Chun Hee. Chun Hee terkejut lalu menatap siapa yang melemparkan tas tersebut. Dia pelatih Chun Hee yang menyuruhnya untuk pergi, bukannya dia sudah menyuruh Chun Hee mengosongkan lokernya? Sekarang, pergilah! Jangan membuat malu pada para junior.

Chun Hee mencoba memohon, dia tahu dia buruk. Maka dari itu dia akan mencoba melakukan yang terbaik. Bukankah pelatih juga pernah mengatakan tak akan ada kegagalan kalau kita mau bekerja keras?

“Tak usah mencoba. Kau tetap tak tahu apa kesalahanmu? Kau... sama sekali tak tahu kapan harus berhenti meskipun kau membutuhkannya. Orang sepertimu tak bisa lari marathon. Berhenti membuat susah orang lain. Dan pergi!” ucapnya dengan kesal.




Chun Hee membenahi beberapa peralatannya di loker, tak seberapa banyak memang namun tetap saja ia begitu enggan untuk melakukannya. Dia menatap namanya di loker tersebut dengan sedih, apalagi ketika ia harus melepaskan nama tersebut.

Chun Hee menguatkan dirinya sendiri, lalu berjalan meninggalakan tempat itu dengan langkah yang berat.
***
4 Tahun Kemudian. Hari Marathon Seoul.



Chun Hee tengah memberikan pengarahan kepada peserta yang ia latih untuk mengikuti perlombaan marathon kali ini. Dia pun membagikan garam yang telah ia bungkus dalam plastik kecil.

“Menjadi orang yang sampai di garis finish pertama kali bukan berarti akan menjadi atlit nasional, jadi jaga stamina. Dan aku akan membagikan garam, ketika kalian merasa kalau kekuatan kalian menurun makan ini sedikit demi sedikit. Dan yang terpenting adalah keselamatan, yang terpenting selanjutnya juga keselamatan. Mengerti?!”

Peserta tersebut berteriak semangat, mengerti!!!!

Tak kalah semangatnya dengan orang yang dilatih Chun Hee, segerombolan gadis juga berlari – lari mengejar mobil seorang idola dengan begitu semangat. Ini membuat Chun Hee menatapnya heran.



Sedangkan sang pria artis dalam mobil tersebut menolak untuk melakukan apa yang di perintah sang manager. Tapi manager itu mencoba bertanya alasannya dengan halus, kenapa? Kenapa kau tak mau melakukannya?

“Aku artis. Aku mengatakannya padamu kalau artis hanya mengekspresikan tentang kemampuan bermusik. Tampil di variety show, membuat musik, dan melakukan hal yang semacam itu.” Ucap Si Artis. Sang manager membenarkan saja, tapi kan mereka juga harus menunjukkan sisi macho dari dia. Itulah kenapa mereka harus lari marathon.



“Image macho?” Si Artis mulai memikirkan saran managernya, Sul Tae Song.

“Hey, pikirkan ini. Ketika gadis – gadis melihatmu berlari, mereka bisa mati di buatnya. Dan semuanya akan berakhir.” Bujuk Tae Song.

Si Artis, Jang Jun Hyun pun mulai tertarik. Tapi agar tak terlalu kentara, dia mengatakan bahwa dia membenci lari tapi udaranya sangat panas. Dia pun melepas jaket bunga – bunga yang dipakainya. Aku yakin, dia berniat memamerkan otot lengan pada fans – fansnya.

Sebelum keluar, Tae Song meminta permen karet yang tengah di kunyah Jun Hyun. Ia pun menyodorkan tisu. Tapi saking nyebelinnya Jun Hyun. Dia malah memuntahkan permen karet tersebut ke tangan Tae Song. Sabaaar.

“ Jun Hyun, jangan lupa melemaskan wajah. Smile.” Ucap Tae Song dengan menunjukkan senyum.


Jun Hyun keluar dari mobil, dia segera di kerubuti oleh para reporter dan fans. Dengan gaya sok ngartis, dia pun berjalan seolah melakukan pemanasan. Lalu dia memegang pundaknya kanan kiri, mengecup tangannya dan menunjuk ke langit. Gayanya seolah atlit sungguhan.
***



Sebuah tembakan menandakan dimulainya pertandingan marathon. Orang - orang yang dilatih Chun Hee segera menancap gas agar bisa memimpin. Chun Hee mengingatkan mereka kalau mereka harus lebih lambat lagi. marathon bukan masalah cepat, tapi masalah stamina.


Belum sampai pertandingan selesai, seorang peserta sudah tak kuat lagi untuk melanjutkan pertandingan. Pria gembul tersebut masih terus saja berkata kalau ia ingin memenangkan medali. Dia sudah berjanji pada anaknya.

Chun Hee berdecak, apa pentingnya medali. Dia telah melakuakannya dengan terlalu berlebihan. Ambulan pun membawa pria tersebut.



Tak jauh dari tempat Chun Hee berdiri, tampak seorang pria dengan pakaian bunga – bunga. Dia bukanlah Jun Hyun namun pria lain dengan pakaian yang sama. Dia berlari santai lalu masuk kedalam mobil. Setelah beberapa detik kemudian, dia kembali keluar. Dan sekarang itu memang benar – benar Jun Hyun.

Tae Soong menyemprotkan air ke tubuh Jun Hyun untuk memberikan efek kelelahan.

Chun Hee memperhatikan dari kejauhan dengan senyum sinis.

Chun Hee tengah berbicara dengan pria gembul yang tadi jatuh dan di rawat di ambulan. Teman yang lain sudah mendapatkan medali tapi hanya dia yang tidak.

“Bukankah tadi sudah kukatakan agar jangan melakukan dengan berlebihan.”

“aku harus memberikan anakku medali. Apa yang harus kulakukan?” ucapnya sedih.



Sorak Sorai kembali terdengar ketika Jun Hyun sampai ke garis finish, panitia lomba segera mengalungkan medali ke leher Jun Hyun. Para wartawan segera mewawancarai Jun Hyun yang dengan penuh dramatisasi terjatuh berpura – pura kelelahan.  Chun Hee yang tau segala kebohongan dan trik yang di lakukan oleh Jun Hyung, kembali tersenyum remeh.

“Jang Jun Hyun, bagaimana perasaanmu bisa menyelesaikan lomba marathon ini?”

“Sungguh, aku ingin menyerah beberapa kali. Tapi karena fans ku ada disini maka aku berusaha untuk melakukannya.” semua fans langsung berteriak kencang mendengar ucapan Jun Hyun. Dia memberikan fans servise dengan menari suffle lalu menaruh kedua jarinya di depan mata. Peace!! Smile.


***


Jun Hyun menatap medali yang ia peroleh. Dia meremehkan apa yang ia dapat, entah musik ataupun medali bisa didapat dengan mudah. Jun Hyun menghilangkan rasa penat dengan mendengarkan musik.

Seorang mengetuk kaca mobil. “oh, kau datang cepat?” tanya Jun Hyun seraya menurunkan membuka kaca mobil vannya.




Ternyata bukan Tae Song yang kambali, tapi dia ternyata itu seorang gadis mengenakan pakaian dari pusat olahraga lax. Jun Hyun bergumam pada dirinya sendiri, dia pasti sasaeng. Jung Hyun menatap gadis tersebut dengan tersenyum manis. Gadis itu yang tak lain adalah Chun Hee pun membalas senyum manis Jun Hyun.

“Halo. Beri aku pulpenmu.” Ucap Jun Hyun dengan PD namun Chun Hee masih terdiam. Jun Hyun pun mengambil pulpen miliknya. “Kau tidak punya kertas?”

Chun Hee masih diam. Jun Hyun pun mengerti, dia keluar dari van.

“Oppa akan menandatangani dengan pena Oppa. dimana aku harus tanda tangan?” Tanya Jun Hyun seraya membalikkan tubuh Chun Hee.hahaha.



Chun Hee kembali berbalik dan menampik tangan Jun Hyun yang hendak memberikan tanda tangan di bajunya. Jun Hyun jadi heran sendiri sekaligus kesal, apa – apaan kau? Kenapa kau?

Chun Hee menengadahkan tangannya, dia meminta kembali medali yang di peroleh Jun Hyun. Ia tahu semua trik yang Jun Hyun gunakan, seorang yang berpakaian seperti Jun Hyun mengagantikannya lalu mereka bertukar posisi lagi ketika masuk ke dalam van. Jun Hyun tak bisa berkata apa – apa lagi, rahasianya telah diketahui oleh orang lain, ini kan sudah selesai.

“Aku tidak berpikir menerima medali ketika kau bahkan tidak lari secara adil. Itu mengapa kau perlu memberikannya kepadaku, aku akan mengembalikannya.” Ujar Chun Hee.

Jun Hyun segera menunjuk mulut Chun Hee dan menggambar garis lurus di depannya, dia menyuruh Chun Hee diam. Itu hanyalah medali, bukan perak atau pun emas.

“Semoga kau beruntung.” Jun Hyun memberikan kedipan matanya. Mencoba membuat Chun Hee terpesona.




Tapi sayang sekali, trik itu sama sekali ga berguna. Chun Hee mengulang ucapannya agar Jun Hyun mengembalikan medali tersebut. Jun Hyun menganggap Chun Hee konyol karena itu hanya sebuah medali. Dia akan mengembalikannya.

Jun Hyun masuk kedalam van, lalu menunjukkan medali miliknya. “Ini, kan?” tanya Jun Hyun dengan senyum licik. Bukannya memberikan medali tersebut. Ia malah memacu kencang mobilnya untuk meninggalkan Chun Hee.




Jun Hyun tersenyum girang karena berhasil kabur dari Chun Hee, tapi dia begitu terkejut ketika mengetahui Chun Hee tengah berlari mengejar van yang berlari kencang. Jun Hyun gelalagapan dan sekarang berambisi untuk berhasil kabur dari Chun Hee.

Tae Song yang keluar dari toko untuk membeli kopi pun ikut terkejut, dia menjatuhkan kopi yang ia beli lalu lari mengejar mobil Jun Hyun.



“Jika kau mampu, coba ikuti aku.” Ujar Jun Hyun bangga. Namun kebanggaannya itu segera luntur ketika Chun Hee sudah berhasil mensejajari laju mobilnya. Saking terkejutnya, Jun Hyun hampir menabrak mobil yang melaju berlawanan arah. Beruntung, Jun Hyun bisa mengendalikan mobil tersebut. Dia lalu membelokkan mobil yang ia kendarai.

Chun Hee mengambil kesempatan tersebut lalu menghadang Jun Hyun.

“Dia benar-benar gila.” Desis Jun Hyun menatap Chun Hee yang sudah berdiri tegak di depan mobilnya.




Jun Hyun akhirnya memberikan medali tersebut. Dengan angkuh dia menunjukkan medalinya lalu menjatuhkan medali tersebut didepan Chun Hee. Dia memberikan medali marathon jelek tersebut..

“Hei! Kau pikir maraton itu sebuah lelucon?” Bentak Chun Hee dengan bahasa informal.

“Hei, kau?! Kau sekarang ini bicara informal kepadaku?” Jun Hyun tak terima.

“Ya kau. Apa kau tahu apa artinya menyelesaikan maraton? Menyelesaikan maraton adalah mengatasi 'titik mati'. Dan mengatasi titik mati berarti kau mengatasi kematian. Hanya orang-orang yang telah mengalami rasa sakit yang menyiksa kematian yang bisa menggantung medali penyelesaian di leher mereka. Tapi apa? Medali maraton jelek ini?” Chun Hee tak terima penghinaan Jun Hyun pada medali tersebut.



Tae Song berhasil mengejar keduanya. Chun Hee langsung mengenali Tae Song sebagai orang yang menyemprotkan air agar Jun Hyun terlihat berkeringat. Tae Song jadi panik, namun Jun Hyun bersikap tenang lalu mengelak tuduhan Chun Hee. Tae Song berbalik, dia menjentikkan jadi supaya Jun Hyun menutup kaca jendela mobil.

Tae Song yang menangani Chun Hee, dia menjelaskan kalau dia kesana dengan niat baik. “Mohon maaf. Ini adalah kesalahan kami, 100%. Bisakah kau mengabaikan hal itu sekali ini saja? Ini bukan untuk kepentingan kita, tapi bagi anak-anak dari keluarga tanpa orang tua.” Pinta Tae Song.

Tae Song memberikan kartu namanya, sedang Chun Hee tak bisa lagi memarahi mereka karena mendengar alasan Tae Song.
***



Chun Hee bersama dengan orang – orang yang ia didik untuk lari marathon sudah berkumpul di club untuk merayakan kemenangan mereka. Semua begitu bergembira.

“Kudengar kau dulunya seorang pelari maraton. Tapi kenapa kau berhenti maraton? Kau punya cerita dibalik itu?” tanya seorang yang ada di sebelah Chun Hee. Chun Hee meneguk birnya, dia sepertinya tak berniat untuk menceritakan alasan di balik ia berhenti sebagai pelari marathon.

“Aku, Choi Chun Hee, akan menyanyikan sebuah lagu.” Teriak Chun Hee mengalihkan perhatian.

Dia pun menyenandungkan lagu yang ia sukai, dia bernyanyi lagu ini setiap saat. Tapi aku sendiri gak apal judulnya, ini lagu pernah dinyanyiin anak EXO di Immortal Song. Lagu lawas.
***


Chun Hee melangkahkan kaki untuk pulang, masih dengan menyanyikan lagu biasa. Tampak ia begitu kelelahan. Diakhir lagu, ia menyanyikannya dengan nada yang lebih keras, mencoba menghilangkan beban sekaligus menyemangati dirinya sendiri.

“Choi Chun Hee, Kau kembali kerja keras hari ini.” Ucap Chun Hee sambil membungkukkan badan, mencoba berterimakasih pada dirinya sendiri. Selepas itu, wajah kelelahan tadi kembali berubah menjadi keceriaan.
***



Choi Chun Hee sampai di toko milik ayahnya, dia tersenyum menyaksikan Ayah dan Sang adik yang tengah makan bersama. Ayah Chun Hee, Choi Myung Sik menawarkan Chun Hee untuk makan namun Chun Hee menolak karena ia sudah makan.

Myung Sik menyuruh Chun Hee untuk menjaga tokonya karena ia telah lelah seharian menjaga toko tersebut. Chun Hee menyarankan agar ayahnya menutup toko saja dan melakukan apa yang ingin dia lakukan.

“Aku mungkin benar-benar harus menutup usaha dengan melakukan itu. Apa kau punya 4 juta won? Kalau kau punya, maka aku akan berhenti.” Ujar Myung Sik.



Kemudian ia berpura – pura seolah punggungnya sakit dan meminta Choi Byul untuk menepuk punggungnya.
“Aku bahkan tidak bisa tidur dengan punggungku yang sakit. Karena cuaca sudah lembab, aku merasakan sakit di otot-otot sendiku. Kupikir rasa sakit ini akan hilang setelah aku pergi ke sauna.” Keluh Myung Sik, dia mencoba menggugah rasa kasian Chun Hee. Tapi tetap saja Chun Hee tak bisa, dia harus ke gym karena ada shift malam.

“Aku bilang tidak berlaku untuk tempat tempat terbuka selama 24 jam. Dalam hal apapun, kau selalu melakukan apapun yang kau inginkan.” Larang Myung Sik.

“Jika aku melakukan apapun yang aku inginkan, lalu bagaimana denganmu? Kau pernah berkonsultasi denganku sebelum kau terlibat utang? Setiap kali kau punya harapan palsu, ibu dan aku harus membersihkan kekacauan yang kau buat.” Balas Chun Hee.

Myung Sik mendesah. Meskipun Chun Hee mirip ibunya tapi kelakuan mereka benar – benar berbeda.




Chun Hee dan Byul akan pulang ke rumah dan berpamitan pada Myung Sik. Chun Hee menatap kasian saat melihat celemek ayahnya yang kotor. Myung Sik tak masalah, tapi tanpa persetujuan ayahnya. Kedua putri Myung Sik membalikkan tubuh Sang Ayah lalu melepas celemek tersebut.

Setelah celemek terlepas, giliran baju Myung Sik yang telah berlubang tampak. Chun Hee mengomentari baju tersebut hingga membuat Myung Sik menggulung bajunya untuk menyembunyikan lubang kecil itu.
***



Di sebuah gedung besar, Jun Hyun tengah memetik dawai gitarnya dengan santai lalu menyanyikan sebuah lagu pendek. Semua orang memberikan tepuk tangan meriah meskipun ia menyanyi tak lebih dari 1 menit. MC memuji Jun Hyun yang begitu jenius bisa membuat lagu dengan begitu cepat.

“Ah, apa maksudmu jenius? Aku seorang dewa musik.” Jun Hyun menyombongkan diri. Semua orang tertawa dengan ucapan Jun Hyun yang tanpa canggung membanggakan dirinya sendiri.

“Sejujurnya, menjadi luar biasa dan unggul dan semacamnya, kita perlu mengakui hal itu. Orang-orang di negara kita tidak bisa melakukan itu dengan baik. Setiap kali mereka mendapatkan kesempatan, mereka hanya menggigit dan menemukan kesalahan. Benar?” lanjut Jun Hyun.

Sejujurnya, MC tampak tak begitu suka dengan ucapan Jun Hyun namun ia kembali menguasai suasana. Lalu membawa acara ke sesi selanjutnya. Membacakan kisah nyata para fans.


Belum lama ini, aku bergabung dalam maraton dan untuk anak-anak dan kepala rumah tangga.

MC bertanya, bukankah Jun Hyun juga mengikuti lomba maraton tersebut. Jun Hyun membenarkan bahkan dia juga menyelesaikan lari maratonnya.

Semua orang berlari dengan sekuat mereka, tapi wow, ada juga orang-orang yang curang.

Jun Hyun mengerutkan kening, apakah dalam lomba maraton bisa ada kecurangan? MC juga tak tahu. Mereka kembali mendengarkan sang narator yang membacakan kisah para fans.



Sementara orang lain sedang berlari, orang itu istirahat di mobil, dan kemudian keluar tepat sebelum garis finish. Orang bahkan menerima medali seolah olah dia menyelesaikan maraton.

MC berkomentar betapa tak tahu malunya orang tersebut. Sedangkan Jun Hyun yang menyadari kalau kisah tersebut di tujukan untuknya, dia hanya tersenyum kecut. Song Tae yang berdiri memperhatikan pun ikut tersentak.


Disisi lain, Chun Hee tengah bertengger di depan laptop dan mengetikkan sesuatu sambil beberapa kali menggeleng memilih – milih kata yang tepat.



Di atas semua itu, ketika aku bilang kepadanya untuk mengembalikan medali, dia menolak, dan malah marah-marah denganku. Selalu ada orang-orang seperti ini. Tapi, orang hina ini adalah seseorang yang semua kau tahu.

Kisah tersebut semakin membuat semua orang penasaran, penonton yang hadir pun kasak – kusuk membicarakan hal tersebut. Jun Hyun mencoba mengalihkan, memberi sedikit komentar kalau orang tersebut pasti sedang sibuk. Tapi MC tidak memperdulikan ucapan Jun Hyun, mereka semua penasaran hingga menghubungi orang yang memberikan kisah tersebut.




Jun Hyun semakin panik. Tae Song dari kejauhan mengatakan kalau Jun Hyung harus bermain piano. Tae Song mencoba memberika kode lalu menunjuk piano. Namun jarak mereka yang cukup jauh membuat Jun Hyung sama sekali tidak mendengar suara Tae Song. “Katakan kepada mereka kau akan bermain piano dan bernyanyi.” Ucap Tae Song dengan suara lirih.

Jun Hyun semakin geregetan di buatnya, dia yang panik dan tak bisa mengartikan kode yang di berikan oleh Tae Song akhirnya kesal. “Ah, apa yang kau katakan?!” teriak Jun Hyun membuat MC terkejut.


Dan naasnya, siaran tersebut adalah siaran langsung. Staff penayangan juga bingung apa yang mereka harus lakukan, mereka tak bisa mengedit karena itu tayangan langsung.

Beruntungnya, MC benar – benar jago. Dia segera memuji Jun Hyun yang sebagai seorang artis yang sesungguhnya. Jiwanya benar – benar bebas. Benarkan semua?

YA!!” jawab seluruh penonton. Jun Hyun juga berakting seolah lehernya sakit, lalu berkata kalau dia memang harus berdehem. Hmmm. Hmmm.


Jun Hyun ketar – ketir menantikan telfon tersebut. Namun sang MC berkata kalau mereka tak bisa menghubungi si pemberi kisah. Jun Hyun bisa bernafas lega. MC kembali mendapatkan instruksi hingga Jun Hyun kembali tegang.

“Ohh, yaa baiklah. Minggu depan. Minggu depan, itu akan terungkap.” Ucap MC. Jun Hyun tertawa renyah dan kembali bernafas lebih lega sekarang
***


Chun Hee sedang di gym dan mengetik sebuah pengumuman pusat olahraga Lax. Bukan dia yang mengirimkan kisah itu berarti? Lalu siapa?

Seseorang datang memberitahukan kalau kunci loker miliknya hilang.




Chun Hee bersama dengan pelanggannya mencari kunci yang hilang. Sampai di sebuah loker, ada pelanggan yang juga tengah kesulitan untuk membuka loker miliknya. Chun Hee menawarkan bantuan.

“Tampaknya ini tidak cocok. Kuncinya nomor #9. Dan lokernya nomor #6.” Tunjuk Chun Hee. Pria tersebut hanya bengong. Dia kemudian menyodorkan minuman yang di pegangnnya pada Chun Hee. Chun Hee menerimanya dengan kikuk, terimakasih.


Pria tersebut, yang kita ketahui sebagai Jo Geun Woo merogoh sakunya. Terdapat dua kunci disana. Itu kunci nomor #6. Geun Woo tersenyum konyol mendapati kuncinya salah.

Pelanggan yang tadi kehilangan kunci miliknya segera menunjuk kunci nomor #9 yang di pegang Geun Woo. Kunci tersebut milik pelanggan tadi. Geun Woo pun mengembalikan kunci tersebut dengan tanpa ekspresi.



Pelanggan tadi kesal karena kunci miliknya di bawa Geun Woo ternyata. Geun Woo yang gak tahu bloon atau emang aneh berkata seharusnya pria tadi berterimakasih karena ia telah menemukan kuncinya. Namun pria tersebut hanya menatap sengit Geun Woo.

Chun Hee mencoba mencairkan suasana denga berkata kalau mungkin itu hanyalah salah paham.

Geun Woo sama sekali tak merasa bersalah, dia kemudian mengambil minuman yang telah ia berikan pada Chun Hee. Dia meminum minuman itu sendiri. Chun Hee yang tadi berfikir kalau Geun Woo memberikan minuman tersebut untuknya hanya bisa melongo melihat tingkah aneh Geun Woo.




Chun Hee menerima sebuah panggilan, dia pun segera pergi ke lift. Disana sudah ada Geun Woo yang tengah menunggu liftnya terbuka.

Mereka berdua yang sama – sama tak kenal hanya saling diam ketika didalam lift. Ringtone sebuah ponsel terdengar terus menerus. Geun Woo merasa terganggu hingga ia menyuruh Chun Hee mengangkat telfonnya.

“Itu bukan ringtoneku.” Chun Hee mengecek ponselnya. Dan memang benar bukan ponselnya yang berdering.

Geun Woo meraba – raba sakunya, benar saja ada ponsel yang tersimpan disana. Dia heran kenapa ponsel itu ada disakunya. Chun Hee menyuruh Geun Woo jangan bercanda. Tapi Geun Woo memang ga tahu.

“Aku minta maaf harus mengatakan ini, tapi mungkin kasus kleptomania...” ucap Chun Hee.

“Sesuatu kecil ini tidak mungkin menjadi penyebab itu.” Geun Woo tak percaya.




Geun Woo memberikan ponsel tersebut pada Chun Hee lalu menyuruhnya untuk mencarikan pemilik ponsel itu. Chun Hee ingin menolak tak bisa.

Mereka berdua keluar dari lift.

Geun Woo menuju ke tempat minuman, dia kembali kebingungan saat mencari koin untuk membeli minum. Chun Hee yang menyaksikan itu hanya bisa menggeleng. Aneh.
***


Chun Hee bertemu dengan Tae Song yang menanyakan mengenai Chun Hee yang memberikan kisah di TV. Chun Hee sama sekali tak mengetahu maksud dari Tae Song.


Sedangkan Jun Hyun, dia tengah menyaksikan percakapan keduanya di dalam van. Namun karena kacanya gelap, ia tak bisa dengan jelas mengetahui apa yang tengah terjadi.



Tae Song meminta Chun Hee untuk menjaga hubungan baik mereka, dia meminta dengan sangat agar Chun Hee tak memberitahukan ceritanya minggu depan. Chun Hee serius masih kebingungan dengan maksud Tae Song.

“Apa yang kau bicarakan sekarang? Saya tidak tahu tentang segala sesuatu yang lain tapi aku tetap mengatur pertandingan dan janji. Jika aku berkata aku akan menutup mulutku maka aku akan tutup mulut. Jika aku berjanji sesuatu, aku akan menyimpannya. Aku berada di tengah-tengah kerja dan datang ke sini. Aku akan pergi sekarang.” Ucap Chun Hee seraya meninggalkan Tae Song.


Jun Hyun tak bisa lagi diam dalam van, dia segera keluar dan meraih tangan Chun Hee.
***
KOMENTAR :
Di episode satu ini, aku rasa jalan ceritanya begitu cepat. Bahkan sudah sampai tahap yang aku kira akan muncul di episode2 berikutnya. Tapi ternyata aku salah.

Dan menarik drama ini karena aku udah bisa merasakan feel antara Jun Hyun dan Chun Hee. Entah saking sukanya sama Eun Ji atau emang karena feelnya udah ngena, aku suka mereka. Dan karakter Jun Hyun bener – bener gak bisa gue ungkapin. Narsis iya. Sombong. Tapi gimana dengan masa jatuhnya dia nanti?
Dan di episode ini juga udah ada kiss loh. Hayolooh, siap yaah.

Dan seperti kata yang lain, namanya episode satu itu masih banyak banget pengenalan tokoh. pengenalan masalah. jadi maklum masih agak kikkuk. mungkin juga ada yang ga ngeh sama ceritanya, makanya aku mencoba membuat se detail mungkin. semoga sih gak pada bingung^^



11 Responses to "Sinopsis Trot Lovers Episode 1-1 "

  1. Sebelum baca mau komentar dlu. Gomawo ya mba puji udh buat sinopsis trot lovers, ini sinopsis udh ditunggu2 :D wkwk

    ReplyDelete
  2. Wah akhir trot lovers ada yg buat sinopsis y
    Gomawo y chingu uda buat sinopsis trot lover

    ReplyDelete
  3. Katanya untuk episod 1 ini ranting Ώyå ga begitu bagus tp menurut ku lumayan lah apaa Ɩαƍί ªķΰ suka sama yg meranin jun hyun love you oppa. (♥̃͡♥̃͡) (◦'⌣'◦). Ťђάηκ•⌣•ў☺ϋ. Puji buat sinopsisnya jangan lupa posting d twite yaa bt episod selanjutnya

    ReplyDelete
  4. part 2 nya mana....??? blm slesai ya..thanks dah bikin sinopsisnya..di tngg part2 nya ya...

    ReplyDelete
  5. Anonim : ya emang. ratingnya jelek tp mnrtku sih karna lawannya tuh drama yang udh lama airing. kaya triangle sama doctor stranger.
    emang menurt aku jg lumayan. komikal.
    part 2 besok pagi. sekarang lg fokus sama king high schoot 3-1

    ReplyDelete
    Replies
    1. Biasanya ep 1-2 emang kurang bagus ya Mbak Puji? Pelan2 bagu naik tiap episodenya. Mulai menarik banget itu episode 10 ke atas. Dan menurun di episode 17-20. Kalo 20 episode. Meski gitu, kalau suka ya tetep suka pasti, nggak peduli rating.

      Delete
  6. Mksh ya sis udh buat sinop ini....ditunggu part selanjutnya.semangat ^__^

    ReplyDelete
  7. Makaśih bgt ya sebelumnya karna udah bikin sinopsis drama ini. Aku suka sama drama ini karna eunji yg main hihi. Penasaran nih gimana kelanjutannya. Lanjut terus yaaaa..... Semangat!^^

    ReplyDelete
  8. Wahhhh ad yg bkin snop ne drm Daebak lnjut y min

    ReplyDelete
  9. Aaaa ada eunji .hehe .smgt ya unnie nlis sinopnya .

    ReplyDelete

Jangan lupa komentar yaah^^ biar aku lebih semangat dalam membuat postingan. Meskipun jarang bales tapi semua komentar selalu aku baca kok.. *serius*

Gomawo^^