Sinopsis A New Leaf Episode 13-2



Seorang yang kemarin di introgasi oleh Jaksa Lee berniat pergi ke sauna karena introgasi semalaman membuat wasirnya semakin parah. Ia jalan bergegas namun dia di kejutkan dengan kehadiran Jaksa Lee yang meminta penyerahan data. Tentu saja orang itu tak langsung mau, ia meminta surat perintah.

Jaksa Lee bertanya kalau memang ia ada surat perintah maka mereka tak akan meminta penyerahan data. Dia tahu pria tersebut memiliki banyak informasi. Selama berhari – hari ia belum mendapatkan bukti. Apa mungkin mereka harus melakukan introgasi semalaman?

Pria tersebut gelagapan. Jaksa Lee meminta kerjasamanya agar semua berjalan dengan lebih mudah.


Katakan padanya untuk memberimu datanya atau kau akan menginterograsi lagi. Dia mungkin akan memberimu sesuatu atau mungkin juga tidak.” Jaksa Lee tersenyum mengingat tips yang diberikan Seok Joo, apalagi sekarang orang tersebut tengah panik mencari berkas.

Pria tersebut menyerahkan informasi yang dimilikinya, hanya itu yang bisa ia berikan. Jaksa Lee berterimakasih dan mereka jadi tak akan sering – sering bertemu lagi. Jaksa Lee pun pergi.

Selepas kepergiannya, Pria tersebut menghembuskan nafas lega.




Pria yang kemarin di temui oleh Jaksa Lee segera menuju ke Firma Cha untuk memberitahukan kalau mereka telah memberikan sejumlah data pada kejaksaan. Jeon Ji Won meneliti data apa saja yang telah di serahkan. Data derivatif. Ji Won bertanya apakah pria tersebut juga menyerahkan data Derivatif?

Pertanyaan itu dibenarkan oleh Si Pria. Ji Won tampak sedikit kesal. Mereka sudah berusaha menghalangi keluarnya surat penggeledahan tapi mereka malah menyerahkannya secara suka rela.


Ji Won segera melapor pada CEO Cha. CEO Cha memberikan tanggapan sama seperti Ji Won. Meskipun prosentase bukti itu hanya 30% tapi cukup besar. Ini permainan yang sulit. Kenapa bisa terjadi?

Ji Won akan kembali memperlajari berkas apa saja yang di serahkan dan akan membuat berkas yang isinya berlawanan.



Dua orang yang menolong Kim Shil In menemui Seok Joo. Mereka meminta maaf karena telah membuat ayah Seok Joo masuk dalam kasus. Mereka sama sekali tak mengira kalau sakitnya begitu parah. Seok Joo tak mempermasalahkan, karena mereka pula yang telah menyelamatkan ayahnya.

Seok Joo memberikan kunci tempat ayah bekerja, dia memerintahkan menggunakan gedung itu untuk di pergunakan selama menangani kasus. Nanti dia juga akan kesana. Seok Joo mengingatkan agar mereka jangan terlalu menanggapi reporter kalau mereka menghubungi, karena itu menjadi lebih cepat menghilang beritanya.


Ponsel pria yang menyelamatkan ayah Seok Joo bergetar. Dia berkata dalam telefon, kalau ia akan segera mencari pinjaman. Orang satu lagi bertanya, apakah dia melakukan pinjaman?

Pria tersebut membenarkan. Kalau tidak maka mereka akan bangkrut.

Kemudian mereka berdua pun permisi untuk pergi, namun Seok Joo memanggil mereka.



“kenapa ini di tangguhkan?” tanya pria yang melihat Seok Joo tengah menulis sebuah dokumen.

Seok Joo menjelaskan kalau itu adalah dokumen permintaan untuk menangguhkan masa berlaku kontrak hingga putusan hingga putusan dijatuhkan menjadi kasus perdata. Ini hanya menangguhkan jadi mereka bisa membekukan pembayaran hanya sampai pada sidang selesai. Meskipun begitu, tapi akan sangat membantu.




Yoo Jeong Seon memandang foto ayahnya yang berukuran kecil. Tampak kerinduan di rautnya. Dia pun memutuskan untuk menghubungi sang ayah yang tengah sibuk di galeri lukisannya saat ini. Ayah menanyakan kabar Jeong Seok, ia sangat khawatir. Jeong Seon menenangkan, dia baik – baik saja. Ayah lega karena sebelumnya ia sangat prihatin ketika melihat beritanya di TV.

“Apa kau tetap akan menikah?”

Jeong Seon tak tahu pasti karena mereka menundanya. Apakah ayah akan datang?

“Ayah tidak akan datang kecuali ada pernikahan. Seperti apa dia? Kau pasti tahu setelah ada kejadian seperti ini.” Tanya Ayah penasaran. Jeong Seon berjanji akan mempertemukan keduanya tapi Sang Ayah menolak karena ia bisa bertemu ketika pernikahan nanti. Ayah mengakhiri panggilan karena sedang sibuk.

“Ayah sayang padamu, putriku.”

“Aku rindu padamu, ayah.”


Pagi ini, Jeong Seon sepertinya ingin melepas penat dengan berlari pagi. Wajah muram terus menghiasinya. Dia mencoba untuk menghubungi ponsel Seok Joo, namun menunggu beberapa saat namun panggilan itu belum mendapatkan tanggapan.

Ternyata ponsel Seok Joo tertinggal di meja.




Seok Joo pun menjenguk ayahnya di rumah sakit. Seorang suster memberitahu kalau Tn Kim Il Shin telah sadarkan diri. Seok Joo terlihat senang, dia segera menemui ayahnya.

Seok Joo menanyakan kabar Sang Ayah. Dengan nada santai ia bertanya, apakah Seok Joo mengenalinya? Seok Joo membenarkan dengan bingung. Dia kan putra ayah. Ayah hanya terkekeh tak percaya. Putranya itu masih kuliah jadi tak mungkin se – tua Seok Joo.

Ini membuat Seok Joo menatap penuh tanda tanya dengan kondisi sang Ayah.



Dokter yang menangani Ayah Seok Joo masuk kedalam ruangan. Seok Joo pun ngoborol bersamanya diluar.

“Aku tahu syok bisa berbahaya tapi aku tidak pernah dengar bisa menyebabkan lupa ingatan. Apa kepalanya terluka saat pingsan di jalan? Apakah dia perlu CT scan?”

Dokter terlihat prihatin juga dengan kondisi Shin Il karena dia mengalami komplikasi. Dia mengalami Alzheimer. Kalau seorang Alzheimer mengalami syok diabetik bisa secara drastis menurunkan daya ingat. Dokter sudah berniat memberitahukan wali Shin Il namun dilarang oleh Shin Il. Syok diabetik yang dialami di jalan sangat lah berbahaya. Bisa saja dia tak tahu arah pulang. Apa dia punya wali lain?

Seok Joo menatap prihatin dengan kondisi ayahnya. Dia mencoba menahan tangis, namun sulit. Dia berkata kalau dia  memiliki kakak. Dia nanti akan menghubunginya. Tapi Apa dia akan mengenaliku?

Dokter akan memberikan perawatan. Dia yakin kondisi Shin Il akan membaik.



Seok Joo menemui ayahnya dengan wajah sendu. Sedih pastinya mendengar kondisi Shin Il yang tak begitu baik. Meskipun secara fisik tak nampak sakit tapi bagaimana pun ingatan ayahnya kadang – kadang akan menghilang.

Shin Il menatap Seok Joo dengan senyum. Dia melihat sosok Seok Joo yang mirip dengan putranya. Ia yakin kalau putranya besar maka akan jadi seperti Seok Joo. Berapa usiamu?

Dia pasti juga bingung. Jangan berusaha mengkoreksinya. Ikuti saja. Diabetes sangat rentan terhadap stres jadi usahakan ikuti saja.” Ingat Seok Joo pada saran Dokter tadi.

“39.” Jawab Seok Joo dengan menahan rasa sedih. Ayah Seok Joo hanya tersenyum mengingat sang anak yang masih kuliah tingkat pertama, yang tak lain adalah Seok Joo sendiri. Seorang yang berusia 39 tahun dan sekarang duduk dihadapannya. Bagaimana perasaan Seok Joo sekarang? Tak dikenali orang tuanya sendiri? Sakiiiit.




Rapat CEO Cha dan Jeon Ji Won serta beberapa orang lainnya. Ji Won meminta seorang relawan untuk membantu mendekati penggunggat. Seorang yang sesuai dengan kepribadian tidak kaku tapi serius. Mungkin seperti Park Sang Tae.

CEO Cha berfikir sejenak, mencari – cari orang yang tepat hingga akhirnya dia melihat Ji Yoon yang tengah sibuk memilah – milah dokumen. CEO Cha berkata kalau dia telah menemukan seorang yang tepat untuk tugas tersebut.




Tim Ji Yoon tengah sibuk mempelajari sebuah kasus. Ji Yoon sendiri tidak begitu mengerti dengan kasus tersebut. Kim Jeong Wook juga merasakan hal yang sama dengan Ji Yoon tapi kan mereka hanya perlu mencari data dan para mitralah yang nantinya akan menilai.

Ji Won datang ke Tim Ji Yoon. Dia berkata kalau penilaian mereka belum berkembang jadi untuk sementara mereka hanya perlu mengikuti perintah.




Ji Yoon tengah berada di ruangan Ji Won untuk menerima tugas, dia diharuskan mencari informasi mengenai perusahaan kecil dan para korban. Tanyakan mengenai detil produk dan kenapa mereka membeli produk tersebut. Tingkat intelektual. Latar belakang pendidikan.

Lee Ji Yoon tak tahu akan mendapat banyak informasi atau tidak. Karena sebelum ia melakukan introgasi, dia akan memberitahu kalau dia ada di pihak lawan. Ji Won hanya meminta Ji Yoon mendapatkan informasi mengenai keadaan sebenarnya. Ji Yoon adalah orang yang pandai membuat nyaman. Dia berterimakasih pada Ji Yoon.


Ji Yoon pun segera pergi namun Ji Won mengatakan kalau dia senang bisa bertemu Ji Yoon disana. Tapi sepertinya Ji Yoon tak terlalu suka. Ji Yoon tersenyum lebar meskipun tadinya dia sangat serius, dia juga senang kok.


Ji Yoon kembali, Park Sang Tae bertanya pada Ji Yoon, apakah dia masih berada di samping rumah Seok Joo? Ji Yoon membenarkan. Sang Tae meminta Ji Yoon untuk ke rumah Seok Joo karena Seok Joo memintanya bertemu tapi dia terjebak pertemuan sampai jam 10. Jadi ia tak bisa. Sang Tae meminta Ji Yoon untuk menemui Seok Joo. Dan kalau memang Ji Yoon tak takut pada anjing, dia meminta Ji Yoon untuk memberi anjing Seok Joo makan.

“Apa dia sakit?”

“tidak.” Ucap Sang Tae seraya pergi meninggalkan Ji Yoon.




Seok Joo masih dihadapkan pada beberapa berkas, sedangkan Shin Il tengah tertidur di ranjangnya. Ponsel Seok Joo berbunyi membuat Shin Il terbangun. Shin Il melihat berkas yang di pegang oleh Seok Joo. Itu aplikasi penangguhan, apa kau pengacara?

Seok Joo membenarkan. Tampak lah raut sedih di wajah Shi Il, anaknya juga akan menjadi pengacara. Seok Joo tahu itu, dia masih junior kan? Apa kau menyayanginya?

“Ya, dia baru lulus ujian masuk tahun ini. Dia peringkat kedua. Dia selalu pintar Aku selalu memarahinya agar dia tidak sombong. Tanpa diriku semua orang memanjakannya. Dia akan mudah menjadi sombong. Namanya berarti tiang batu.” Tutur Shin Il.

Seok Joo merasa nama itu cukup unik. Shin Il hanya mengibaratkannya,  agar suatu hari nanti putranya bisa menjadi tiang kerangka yang menahan lebih dari satu abad. Dia ingin suatu hari nanti putranya menjadi orang terkemuka yang menegakkan bangsa.

Shin Il tersadar kalau dia tengah berbicara dengan orang yang ia kenal. Dia meminta maaf karena telah menyombongkan putranya. Seok Joo tak masalah, dia tahu kalau Shin Il memiliki harapan besar padanya.
“Aku ingin membesarkan anakku dimana mereka tidak perlu memikirkan tentang arti kebebasan. Sekarang kita hidup di dunia seperti itu tapi aku tetap ingin dia menjadi tiang untuk membantu orang lain dengan segala cara bukan orang yang menjilat sepatu orang lain. Tiang yang kuat.” Ujar Ayah Seok Joo.



Ucapan penuh harapan yang begitu mulia dari Ayahnya, membuat mata Seok Joo berkaca – kaca. Seok Joo yakin kalau Anak Shin Il bisa menjadi apa yang Shin Il harapkan dengan bimbingannya.

“Aku tidak selalu ada untuknya saat dia tumbuh dewasa. Itu harapanku. Aku tidak bisa mengatur anakku. Dia mungkin akan membenciku. Bahkan jika sekarang dia tidak bisa memenuhi harapan itu aku percaya bahwa dia akan menjadi tiang suatu hari nanti. Aku tidak boleh membencinya hanya karena aku tidak bisa mengaturnya.” Ucap Shin ll yang tampak sedih pula. Dia berkata pada Seok Joo kalau suatu hari nanti. Seok Joo akan tahu juga ketika ia memiliki anak.


Seok Joo keluar dari ruangan Sang Ayah, dia menangis meluapkan segala perasaanya. Bagaimana dia tak begitu? Ketika mendengar harapan mulia Sang Ayah. Ketika apa yang ia lakukan selalu menentang ayahnya. Melakukan pekerjaan yang sangat di benci ayahnya.



Seok Joo telah kembali seperti semula. Perasaanya telah bisa ia tata kembali. Seok Joo pun mengambil ponsel yang tengah ia charge lalu menghubungi Jeong Seon. Ia meminta maaf karena tak mengangkat telfon Jeong Seon. Jeong Seon sama sekali tak masalah. Seok Joo pasti sibuk. Apa ada sesuatu yang terjadi?

“Ayahku dirawat di rumah sakit.”

“Astaga, apa dia baik saja?” tanya Jeong Seon. Seok Joo menenangkan. Semuanya baik – baik saja. Dia akan memberitahukannya secara langsung. Jeong Seon mengiyakan tapi dia bisa menemui Seok Joo setelah ia pulang dari Filipina. Dia akan menemui ayahnya.

“Sampaikan salamku untuknya. Semoga perjalananmu menyenangkan.” Mereka pun sama – sama mengakhiri panggilannya.



Ji Yoon mulai mencari informasi ke sebuah pabrik. Dia bertanya pada seorang mandor disana. Setelah Ji Yoon memberikan kartu namanya, disana tertera Firma Cha Young Woo. Dia segera mengusir Ji Yoon karena ia berada di pihak bank. Ji Yoon mencoba menjelaskan, meskipun ia dipihak lawan tapi mungkin saja ia bisa membantu kalau tahu siapa penjualnya dan kenapa mereka memutuskan membeli produk tersebut.

“Membantu? Apa maksud anda? Jika kabar menyebar bahwa aku kekurangan dana maka akan merugikan transaksiku.” Jawab dia ketus. Ji Yoon memohon. Dia sendiri juga masih bingung dengan produknya. Pria tersebut tampak luluh lalu mengajak Ji Yoon untuk masuk.



Ji Yoon bertemu dengan si pemilik pabrik dan itu juga merupakan orang yang menolong Ayah Seok Joo. Dia menuturkan kalau mereka hanya memiliki uang $200.000. kalau sampai terus – terusan tak memiliki pinjaman maka mereka akan bangkrut.

Keluarga Ji Yoon juga merupakan salah seorang yang tertimpa akibat dari masalah tersebut. Yurim Cement. Jadi keluarganya merasa sangat khawatir. Anda menandatangani kontrak berkali-kali?

“Kontrak dibatalkan karena nilai mata uang terus jatuh. Saat aku menandatanganinya lagi, nilainya terus melonjak. Ada tekanan karena satu Bank baik-baik saja dan berikutnya tidak.” Ucapnya lalu memanggil salah seorang staff yang bertugas dalam masalah keuangan, Young Mi.



“Kami perusahaan Ekspor. Kami biasa menyimpan dolar. Mereka terus berusaha membujuk kami saat kami berkata tidak membutuhkannya. Kami menyesal karena tidak membatalkannya. Aku bertanya apakah akan beresiko jika nilainya naik. Mereka bilang tidak akan naik. Mereka memberi kami laporan perkiraan.” Jelas Young Mi seraya memberikan dokumen perkiraan.

Ji Yoon senang mendapatkan sebuah informasi penting. Dia tahu mereka semua tengah sibuk. Jadi dia akan pergi.



Seok Joo masih di sibukkan dengan laptop miliknya. Bahkan tak menyadari ayahnya terbangun. Shin Il bertanya kenapa Seok Joo tak pulang? Kenapa dia masih disana?

Seok Joo berbalik senang, apakah ayahnya telah mengenalinya? Ayah Seok Joo melihat keadaan sekeliling. Dia bingung kenapa ia berada di rumah sakit.

“Ayah bisa meninggal. Kenapa tidak memberitahuku?” tanya Seok Joo. Sebuah suara menghentikan obrolan keduanya, Seok Joo pun keluar. Sedang Shin Il melihat dokumen Seok Joo yang tergeletak di meja.


“Dia jauh lebih stabil sekarang. Serangan syok sekali lagi bisa menyebabkan hilang ingatan. Dia harus makan dan minum obat secara teratur. Jika semakin buruk, dia bisa tersesat. Walinya harus menjaganya dengan baik.” Perintah Dokter. Seok Joo mengiyakan perintah tersebut.


Seok Joo kembali keruangan Ayahnya. Ayah tengah membaca aplikasi yang akan diajukan Seok Joo. Dia bertanya apakah Seok Joo akan mengajukan aplikasi tersebut?
Seok Joo membenarkan.



Orang yang kemarin di temui Ji Yoon melapor pada Seok Joo kalau mereka telah memberitahukan informasi pada pihak bank. Seok Joo sama sekali tak mempermasalahkan karena pihak pengadilan juga tetap akan menyelidikinya.

Orang yang memberikan informasi pada Ji Yoon bergumam menyesal karena telah memberikan informasi pada Ji Yoon.

“Aku akan mendaftarkan aplikasi penangguhannya hari ini.” Ucap Seok Joo yang segera disambut oleh ucapan terimakasih.


Seok Joo dengan pandangan takjub menatap gedung pengadilan di depan matanya.



Ternyata Seok Joo akan mengajukan aplikasi yang telah ia buat. Petugas memeriksa aplikasi tersebut, tapi seharusnya Seok Joo memberikannya dua rangkap. Seok Joo meminta maaf, itu aplikasi pertamanya. Jadi dia akan memperbaiki.



Seseorang tengah melakukan persidangan. Hakim bertanya mengenai hutang. Aset dan beberapa hal yang bersangkutan dengan keuangan sebuah perusahaan.

“Ada yang ingin anda sampaikan?” tanya hakim sebelum mengakhiri sidang tersebut.

“Saya bisa memulihkannya. Tolong beri saya kesempatan. Saya mengambil alih Baekdu Group di tahun terakhir saya kuliah. Bagaimanapun saya bisa meningkatkan permintaan Korean soju dari 40% ke 60%. Anda juga minum Baekdu bukan Yang mulia? Itu karya terbaik saya.” Ucap pria tersebut dengan penuh tawa.

“Saya akan memulihkan grup dan Sojunya. Kami perusahaan rakyat.  karena Firma yang kejam. Saya akan membuat 90% kreditur Korea dan rata-rata 60% dari mereka menyerahkan surat persetujuan untuk kepemimpinan saya. Mohon abaikan aplikasinya.” Pinta Pria tadi. Hakim pun akan mempertimbangkan permintaan pria tersebut. Hasilnya akan di beritahukan setelah satu minggu.



Pria tersebut bersama bawahannya keluar dari ruang sidang. Dia sangat senang karena berhasil mengalahkan Firma Cha. Dia tak akan jatuh dalam jebakan untuk kedua kalinya.

Tepat saat mereka keluar, Seok Joo masuk ke pengadilan. Pria tersebut dengan bawahannya menatap Seok Joo dari ujung rambut sampai kaki. Melihat dandanan Seok Joo yang tak teratur tanpa dari pula.

“Aku tahu kau pengangguran. Tapi apa sekarang kau juga tidak punya sopan santun?” Ejeknya. Seok Joo yang tak mengenali pria tersebut hanya bisa menyapa dengan kikuk. Mereka menyindir Seok Joo, kalau hanya beristirahat sebentar pasti bagi Seok Joo bukanlah masalah karena gajinya yang tinggi. Bahkan berhenti pun tidak masalah.

Seok Joo masih menatap dengan bingung. Bawahan Sang Pria berbisik kalau Seok Joo itu mengidap kanker, jadi mungkin pelupa. Seok Joo menatap layar TV yang sedang menayangkan berita. Ada kasus Pria tersebut yang di muat, namanya Jeon Jin Ho. Seok Joo pura – pura saja tahu, Oh, anda Presdir Baekdu Soju.




Segera setelah Seok Joo mengenalinya, Presdir Jeon segera menumpahkan kekesalan. Karena Seok Joo lah ia hampir kehilangan pekerjaan. Seok Joo heran, apa kau pikir aku melakukan kesalahan?

“Kau pikir kau masih jagoan Cha? Kudengar kau meninggalkan Firma. Kenapa kau masih sangat angkuh?” damprat Presdir Jeon. Seok Joo yang tak ingat apapun hanya izin pergi, dengan santai ia permisi. Karena ada urusan.

Selepas kepergian Seok Joo, Presdir Jeon mengumpatnya Seok Joo yang bertindak sok.




Jeon Ji Won memberikan berkas aplikasi penangguhan pada CEO Cha. CEO Cha bertanya apakah ada kasus lain?

“Belum” jawab Ji Won.

“Cari tahu hakimnya dan teman bermain golfnya.”

“Dia tidak bermain golf. Dia tidak suka janji bermain golf, jadi dia menjual klubnya. apa ini Kim Seok Joo yang kukenal?” tanya Ji Won.

CEO Cha memberitahu kalau itu memang benar – benar Seok Joo. Dia tengah lupa ingatan jadi ia rasa hatinya juga berubah. Tapi CEO Cha mengingatkan agar jangan sampai ada orang yang tahu. Ji Won tanya, siapa saja yang tahu?

“Hanya 3 orang di sini yang tahu termasuk Lee dan Park. Itu saja.”




Sidang untuk aplikasi penangguhan dilaksanakan.

“Kasus pidana dan perdata sedang berlangsung. Saat ini meski sidang dimenangkan dan semua hutang dilunasi dalam satu atau dua tahun nilai kurs tinggi dan pinjaman akan diambil kembali oleh bank. Ini juga akan membuat mereka bangkrut. Ini dimaksudkan untuk mencegah perusahaan sehat menjadi bangkrut karena produk ini. Mohon dikabulkan, Yang Mulia.” Jelas Seok Joo.

“Perusahaan tidak akan langsung bangkrut. Maksud anda mereka menderita kerugian. Tolong diingat mereka menandatangani kontrak atas kehendak mereka sendiri. Bagaimana kepercayaan masyarakat jika kami membatalkan kontrak yang jujur. Anda tidak bisa membatalkan hanya karena keadaannya berubah. Ini harapan dasar dari sosial dan hukum kita. Kontrak adalah kontrak. Jika tidak, reputasi kami akan dipertanyakan. Mohon menolak aplikasi tersebut, Yang Mulia.” Tolak pihak Ji Won.



“Berapa pembayaran bulanan setiap perusahaan?” tanya hakim. Seok Joo menjawab kalau pembayarannya antara tentang $500.000 hingga $1.5 juta.

Hakim memutuskan kalau mereka akan melanjutkan sidang kembali dua minggu yang akan datang. Dengan alasan masih ada 22 bulan dalam kontrak. Hakim meminta semua hadirin berdiri, sidang selesai.



Semua pun keluar ruang sidang. Seok Joo dan Ji Won yang bertatap muka saling menyapa satu sama lain.
Kim Jeong Wook juga menyapa Seok Joo, Seok Joo hanya menyapa balik. Dia memuji kerja mereka bagus. Dia pun pergi.
***


Berita aplikasi penangguhan telah di terima mulai di muat dalam surat kabar. Firma Cha tampak begitu suram menerima kekalahan mereka.

Disisi lain, kemenangan Seok Joo di sambut dengan gembira oleh para pemilik usaha kecil. Reporter segera memburu berita tersebut, mereka bertanya bagaimana perasaan mereka karena aplikasi penangguhan telah di terima?

Mereka begitu senang, karena kasus ini membuat mereka percaya dan memiliki sebuah harapan bahwa keadilan itu ada.

“Katakan sesuatu Pak Kim.”

“Ini bukti keadilan hukum. Perusahaan kecil menerima keputusan yang adil. Terima kasih.” Ucap Seok Joo.




Pihak Bank dan Firma Cha Young Woo segera melakukan rapat setelah menerima berita penerimaan aplikasi penagguhan. Wajah – wajah suram tampak begitu jelas.

“Apa yang kalian lakukan? Kalian tahu berapa banyak kami sudah membayar? Hanya ada 4 kasus. Ada begitu banyak keputusan. Jika dikabulkan bank tidak akan dibayar. Kalian tahu? Jika Perusahaan tersebut tidak membayar kami. kami harus membayar bank asing setiap bulan, diluar biaya komisi. Bahkan jika perusahaan itu bangkrut! Bagaimana kalian akan bertanggung jawab?” semprot pihak bank.

Ji Won menjajikan kemenangan untuk kasus selanjutnya namun pihak bank tak mau sesuatu hal yang pasti. Mereka meminta Ji Won memberikan sebuah rancangan strategi yang spesifik. Atau mereka tak akan memberikan kesempatan mereka semua pergi.

Penjaga disana segera mengamankan pintu keluar ruang rapat. Perwakilan Firma Cha pun jadi panik kecuali Ji Won yang masih duduk dengan tenang.




Lee Sun Hee mengucapkan selamat atas apa yang telah dicapai oleh Seok Joo. Para korban bisa tenang dan Seok Joo pun tinggal menangani untuk tuntutan. Seok Joo tak tampak sepuas Sun Hee, bukan lebih mudah tapi akan lebih sulit. Yang jelas CEO Cha pasti tak akan mau kalah dan menyiapkan bom yang lebih besar dari sebelumnya. Bagaimana dengan detektif?

“Dia dapat rekaman dari Mirae Bank. Kami dapat barang bukti lebih dari cukup tapi niat melakukan penipuan sulit dibuktikan. Tidak akan mudah dengan kasus pidananya. Aku seharusnya mencantumkan semua 100 perusahaan.” Ucap Seok Joo dan membuat Sun Hee menjadi khawatir.



Di Sisi lain. CEO Cha tengah menyiapkan serangkaian skenario untuk mengalahkan Seok Joo dengan berbagai cara licik. Mencari bibit – bibit Jaksa dan Hakim yang berpotensi untuk di suap dengan iming – iming jabatan.

Dan di scene terakhir ini, tampak jelaaas bagaimana CEO Cha harus menyiapkan ide sendiri. Sedangkan Ji Won hanya terdiam menyaksikannya. Lain halnya ketika Seok Joo yang berada disana. CEO Cha hanya duduk tenang dan memberikan arahan kecil. Dan sekarang keadaan berubah drastis. Ini mungkin awal mula carut marut Firma Cha.
***

KOMENTAR :
Jeelas banget disini, peran Seok Joo di Firma Cha sangat besar. Tak bisa di pungkiri, tanpa adanya Seok Joo membuat Firma Cha kewalahan dan bahkan mengalami kekalahan dalam persidangan. Selama ada Seok Joo mereka ga pernah kalah kan?

Aku yakiiin mungkin di akhir ga akan ada yang namanya percintaan. Hanya saja Seok Joo akan tahu arti penting dari sebuah keadilan. Dan dia akan belajar dari sana, dia akan meneruskan perjuangan sang Ayah. Dan mencoba meraih apa yang diinginkan ayahnya, menjadi sebuah tiang kekar sebuah keadilan. Gak muluk – muluk kok, dia udah punya modal otak. Dia hanya tinggal menjalankan otak itu untuk sebuah keadilan.

Ji Yoon. Jeong Seon. Ji Won. Semua itu hanyalah sebuah pemanis untuk kehidupan Seok Joo. Tanpa adanya mereka, hidup Seok Joo masih bisa terus berjalan dengan mulus sepertinya.
Ohh, satu lagi. tinggal satuu. Omegoot. Gak sabar^^


3 Responses to "Sinopsis A New Leaf Episode 13-2 "

  1. uwahhhh saya ikut nangis pas ayah SJ bilang ingin anaknya menjadi tiang kerangka bangsa....
    KMM daeakkkk ....

    ReplyDelete
  2. akhirnya yang ditunggu2 dateng juga,,, trimakasih ya sinopnya,,,,,
    ditunggu kelanjutannya,, ~fighting~ ^_^

    ReplyDelete
  3. Semakin penasaran.... ^_^
    Menarik untuk di ikuti sampai akhir.... :)

    ReplyDelete

Jangan lupa komentar yaah^^ biar aku lebih semangat dalam membuat postingan. Meskipun jarang bales tapi semua komentar selalu aku baca kok.. *serius*

Gomawo^^