Sinopsis A New Leaf Episode 13-1




Kim Seok Joo menghubungi Jaksa Lee Sun Hee untuk bertemu. Namun Jaksa Lee tak menerimanya dengan baik karena dia mengajukan surat penggeledahan tapi di tolak hanya dalam 2 jam. Kalau memang tak ada campur tangan Firma Cha Yeong Woo sepertinya itu tak akan terjadi.

Dalam pengadilan hanya ada 2 hakim yang mengeluarkan surat perintah. Kalau sampai Firma Cha menghubungi lebih dulu maka tak perduli Jaksa Lee menemui sendiri tetap tak akan di terima. Jaksa Lee menganggap Seok Joo menghubunginya karena ingin mengejek tapi Seok Joo mengatakan kalau ia keluar dari Firma Cha. Karena surat pengajuan Jaksa Lee ditolak, mungkin ia akan butuh bantuannya.



Jaksa Lee pun menemui Seok Joo di sebuah cafe, dia merasa keluarnya Seok Joo dari Firma Cha benar – benar mengejutkan. Dan kasus terakhir yang diambil oleh Seok Joo begitu janggal karena sebelumnya Seok Joo selalu mengambil kasus yang melawan jaksa. Kenapa seperti itu?

Seok Joo berkata alasannya karena teman ayahnya banyak yang merugi karena kasus tersebut. Seok Joo akan membantu Jaksa Lee dengan mengirimi mengirim file perhitungan Pak Seo yang membuktikan biaya bank salah. Kau akan mengajukan surat perintah lagi?

Jaksa Lee menuturkan bahwa Jaksa Agung menyalahkannya tapi atasan telah memberikan izin. Maka Jaksa Agung tak akan bisa berbuat apa – apa. Mereka akan tetap melakukan penyelidikan tanpa adanya surat perintah.


Seok Joo memberikan dokumen bankers' trust case. kasus tersebut mirip dengan apa yang sedang mereka hadapi. Seok Joo juga menyuruh Jaksa Lee menghubunginya saja kalau ada perlu, dia tak banyak pekerjaan sekarang. (*Banker's Trust Case: UU SEC Amerika di tahun 1994.)

Jaksa Lee khawatir dengan minimnya bukti yang mereka miliki dan sekarang mereka tengah menunggu hasil dari Badan Pemeriksaan Keungan. Seok Joo tersenyum menyuruhnya jangan terlalu berharap. Kalau masalah sudah ada di tangan CEO Cha maka semua akan berjalan sesuai kendalinya.

Jaksa Lee meminta Seok Joo jangan berfikir seperti itu. Jangan berfikir kalau orang baik mau menerima suap. Karena masih banyak Jaksa yang tak mencari popularitas apalagi intitusi tersebut adalah institusi profesional.

“Maaf. Kurasa mereka memang busuk.” Ucap Seok Joo.

Jaksa Lee menyuruh Seok Joo jangan beranggapan seperti itu karena itu sama saja dengan merendahkan mereka. Ada beberapa orang baik didalamnya dan tak mau disuap. Seok Joo juga berharap demikian.




Badan Pengawas Keuangan bersiap mengadakan rapat. Terdapat dua kubu yang bertarung sengit mempertahankan apa pendapat mereka. Kubu satu meminta untuk penundaan hukum sampai dengan sidang pertama. Namun kubu lain berpihak pada keputusan pengadilan. Pasal 64 peraturan bankir menyatakan bahwa anda harus memberitahu pembeli segala resiko saat menjual produk derivatif.

Kubu lawan menanggapi kalau sampai mereka melakukan hal tersebut maka bank akan bangkrut. Kompensasi 30% adalah $800 juta. Kalau terbukti penipuan maka kompensasi akan menjadi 100%.

Kubu pembela rakyat kecil sangat tidak setuju. Kalau sampai mereka tetap kukuh dengan keputusan tersebut maka perusahaan kecil akan bangkrut. Mereka harus menerima konsekuensi untuk menjaga pasar.


Berita kekeras kepalaan Direktur yang berwenang dalam rapat Badan Pemeriksaan Keuangan pun sampai juga ke telingan CEO Cha. CEO Cha bertanya apa dia telah mencari tahu?

Seorang bawahan segera memberitahukan masalah yang dialami sang Direktur. Yaitu keinginan Direktur tersebut untuk pindah pendidikan anak – anaknya hingga meminjam uang dari bank. Namun saat memindahkannya ke Pulau Jeju ternyata mereka belum mampu karena biaya yang terlalu tinggi.

“Ini akan lebih mudah.” Ucap CEO Cha.


 Direktur yang keras kepala, Direktur Moon keluar dari gedung Badan Pemeriksaan Keuangan dan disambut oleh seorang yang menyapanya. Mereka berdua tampak kenal akrab. Orang yang menjemput Direktur Moon mengajak untuk ngobrol tapi Direktur Moo yang mengetahui Orang Tersebut sekarang berada dibawah naungan Firma Cha maka ia pun menolak dengan halus. Dia ingin bertemu kalau kasusnya sudah selesai saja.

Pria tadi masih berkeras. Mungkin karena rasa tak enaknya pada teman maka ia menyetujui barang setengah jam.




Direktur Moon bertemu dengan lawannya dalam sidang. Dia tahu betul apa yang akan mereka lakukan. Dia tahu kalau CEO Cha memang menangani para eksekutif tapi dia merasa sangat sedih. Ketika banyak perusahaan kecil yang menderita dan ia duduk disana. Direktur Moon pun beranjak pergi.

Namun tanpa babibu, lawan Direktur Moon menyodorkan sebuah buku tabungan. Didalamnya berisi uang dengan nilai yang cukup besar. Pria yang menyodorkan tadi menyuruhnya untuk melakukan apapun dengan uang tersebut. Uang itu bukan uang kotor. Teman Direktur Moon juga mengingatkan, dengan kejujuran Direktur Moon maka ia tak akan mendapatkan apapun.

Direktur Moon gamang. Tangannya bergetar memegang buku tabungan tersebut. Mungkin dalam hatinya berkecamuk. Antara nurani yang ingin membantu rakyat kecil atau nafsu yang mendorongnya mengambil uang haram tersebut.


Jaksa Lee menerima sebuah dokumen dan memandang dengan penuh ketidakpercayaan. Dia segera menghubungi Seok Joo. Dengan marah ia bertanya, memang siapa saja yang bisa perusahaan Seok Joo pengaruhi?

Blue House, Jaksa, Hakim dan yah semua kalangan atas mungkin bisa mereka pengaruhi. Maka dari awal ia sudah mewanti – wanti agar Jaksa Lee bersiap.



Jaksa Lee menemui atasan lalu memberikan dokumen bankers' trust case dan akan mengirimnya ke Badan Penyelidik Amerika. Atasan bertanya kenapa Jaksa Lee harus melakukan itu? Jaksa Lee menyodorkan sebuah dokumen lagi. Ini membuat Atasan terkejut karena warga banyak membayar pajak untuk pekerjaan mereka. Mereka ingin menunda hukuman apa gunanya jangka waktu tersebut?

 Jaksa Lee akan mengirimkan bukti tersebut ke Amerika dan mendapatkan surat resmi. Namun atasan ragu, kalau seandainya mereka melakukan tersebut maka akan menunjukkan betapa tak becusnya Badan Pemeriksaan Keuangan dan Badan perdagangan. Tapi, apakah mungkin dengan ini bisa mendapatkan surat penuntutan?

Jaksa Lee berjanji akan berusaha keras mendapatkan kesaksian siang dan malam. Bahkan melakukan penyelidikan silang. Atasan agak keberatan tapi juga tak bisa menolak. Kapan kau membutuhkannya?



Jaksa Lee memulai proses pencarian bukti dengan introgasi kepada beberapa orang. Dia bertanya apa yang mereka ketahui saat pembelian?

Seorang mengaku kalau perusahaan berkata bahwa tidak ada biaya komisi dan harga tak akan naik. Awalnya dia tak minat tapi pihak perusahaan memaksa.


Beralih pada orang yang berbeda, Jaksa Lee bertanya mengenai komisi yang tak ada ada. Pria tersebut mengatakan kalau mereka berjaga – jaga kalau nilainya anjlok mereka masih memiliki uang keuntungan jadi tak ada komisi.

“Tapi jika nilainya naik mereka harus menanggung kerugian, benar? Anda pergi ke Taeseung 10 kali. Apakah anda tahu harga opsi berbeda? Kenapa anda harus pergi 10 kali untuk menjualnya? Berapa imbalan anda? Apakah itu cara anda sukses?” pertanyaan yang segera di sangkal si pria. Ia tak ingat datang beberapa kali karena dia kesana untuk urusan berbeda.


Jaksa Lee Sun Hee pantang menyerah dan melakukan introgasi sampai larut malam. Bahkan Si Pria yang di introgasi sudah mendesah kelelahan. Pertanyaan Jaksa Lee banyak yg tak dijawab. Jaksa Lee gigih berucap akan bertanya sampai pada akhirnya pria tersebut ingat.



Seok Joo membelikan sang ayah alat untuk pengecekan gula darah, itu bisa untuk memeriksa setelah makan. Seok Joo berniat menunjukkan bagaimana cara penggunaanya pada Ayah lalu menarik tangannya. Namun karena Ayah malu atau gengsinya tinggi, ia segera menarik tangannya kembali. Dia beralasan kalau ia pusing, ia harus menangani para korban yang sekarang mengungsi dikantornya. Dia besok harus pergi.

Seok Joo bertanya jam berapa tepatnya ayah akan pergi. Jam sepuluh jawab Ayah. Seok Joo akan menemani Ayahnya. Bukankah senang mendapatkan bantuan? Tanpa jawaban, Seok Joo pun dengan gembira pergi meninggalkan Ayah.

Selepas kepergian Seok Joo, ayah melihat alat yang diberikan putranya. Nampaklah senyum tipis menghiasi wajahnya.



Ayah bersiap untuk tidur. Dia menatap tangan yang gemetaran, keringat dingin pun membasahi tubuhnya. Dia heran, apakah dia belum minum obat?

Ayah berbaring. Dia menggigil hebat meskipun selimut tebal telah menghangatkannya.



Seok Joo membuka kotak barang yang tersimpan di ruang kerja. Ketika penutup tersebut dibuka, ada sebuah harddisk disana. Dia hanya membolak – balikkan harddisk tersebut lalu memindahkan ke laci. Dia kembali membuka – buka isi kotaknya dan menemukan sebuah jam tangan.



Seok Joo menemui Lee Ji Yoon di apartemennya namun Lee Ji Yoon ternyata pulang telat. Dia bertanya tentang jam yang ia bawa. Apa dia tahu? Dia seperti belum pernah melihatnya.

Ji Yoon dengan gugup mengatakan kalau jam tangan tersebut tertinggal di kantor jadi ia membawanya. Kalau memang masih penasaran tanya saja pada Park Sang Tae. Ji Yoon pun segera masuk ke apartemennya dengan gugup.


Ayah Seok Joo berangkat dengan jalan sempoyongan. Beberapa kali tubuhnya terhuyung mencari pegangan. Tangan masih terus gemetaran dengan peluh memenuhi wajahnya. Sampai pada akhirnya ia tak mampu lagi menopang tubuh lalu jatuh di tengah jalan.

Salah seorang pejalan kaki melihat Ayah terjatuh dan segera mencari bantuan.


Selepas kepergian ambulan yang membawa Ayah Seok Joo, Seok Joo sampai ke kantor ayahnya bekerja. Itu tak jauh dari tempat dimana Ayahnya tadi jatuh.



Ayah Seok Joo mengalami syok diabetik. Nafasnya sekarang sudah mulai lancar, Dokter sudah bisa melakukan pengobatan.

Selang tak begitu lama, beberapa orang sampai juga ke lokasi rumah sakit tempat Ayah Seok Joo dibawa. Mereka berjalan dengan begitu tergesa.


Seok Joo memasuki kantor sederhana milik Sang Ayah, tak ada aktivitas apapun di sana. Seok Joo melihat – lihat kantor tersebut.

Dia melihat sebentar jamnya, ayah belum juga datang. Ia memutuskan untuk menunggu dan berniat menghubungi Jeong Seon namun tampak sebuah keraguan. Sampai sebuah panggilan masuk, seorang mengabarkan kalau ayah Seok Joo pingsan. Seok Joo bergegas pergi.



Presdir Kwon bersama kedua anaknya tengah berkumpul. Mereka meminta pada Sang Ayah agar jangan khawatir pada Jeong Seon, namun tampak jelas di raut Presdir Kwon sebuah kekhawatiran disana.

Jeong Seon masuk keruangan tersebut, kedua putra Presdir Kwon menawarkan untuknya pergi ke filipina untuk menghilangkan penat. Jeong Seon menolak dia lebih suka di rumah daripada di penjara. Suasana yang berbeda.

Putra Presdir Kwon bertanya apakah Jeong Seon akan terus bertemu dengan Seok Joo? Ayah, bukankah kau tak akan membiarkannya?

Jeong Seon berkata kalau dia tak akan melakukan kesalahan yang sama seperti ibunya.


Kim Il Shik masih terbaring di ranjang rumah sakit.

Seok Joo bertemu dengan Dokter yang merawatnya. Ayah Seok Joo hanya mengalami Syok Diabetik. Sudah melewati masa kritis tapi memang belum sadar. Seok Joo heran apakah gula darah rendah bisa menyebabkan seperti itu?

Dokter membenarkan. Melewatkan makan malam menyebabkan gula darahnya rendah.


Seok Joo menatap ayahnya yang masih terbaring lemah dengan sedih.
***

KOMENTAR :
Aku penasaran bagaimana akhir dari drama ini. Sekarang alur memang berjalan dengan begitu cepat, karena pemotongan episode mungkin jadi seperti ini. Tapi malah lebih baik kok. Masih menunggu setiap permasalahan diatasi oleh Seok Joo. Dan Seok Joo juga harus mengatasi masalahnya sendiri. Menanti hal ini itu terungkap, tunggu saja..

 Dan aku kira nantinya Seok Joo akan menggantikan Ayahnya. lalu di akhir kemungkinan besar ia akan mengikuti jejak sang Ayah.

2 Responses to "Sinopsis A New Leaf Episode 13-1 "

  1. gomawo ....
    wlpn ga' tw mo kmn arah crt a
    tp q ttp setia ngktn .
    fighting sllu ya !!!

    ReplyDelete
  2. Bisa jadi....
    Yg masih jd pnasaran q ini Lee Ji Yoon sbgai apa toh sbnarx....hmmmm

    ReplyDelete

Jangan lupa komentar yaah^^ biar aku lebih semangat dalam membuat postingan. Meskipun jarang bales tapi semua komentar selalu aku baca kok.. *serius*

Gomawo^^