Sinopsis A New Leaf Episode 10-2



Kim Seok Joo bermain dengan anjingnya. Ponselnya berdering, dikira Seok Joo itu pesan dari Jeong Seon namun perkiraanya salah. Itu hanyalah iklan penawaran. Seok Joo akhirnya memilih mengirim pesan untuk Jeong Seon. Dia mengkhawatirkannya.



Seok Joo pulang melihat Lee Ji Yoon tengah duduk menghabiskan waktu dengan meminum beer. Seok Joo pun menegur karyawan yang bahkan masih magang tapi sudah berani tak berangkat. Ji Yoon mengatakan permasalahannya yang terlalu sombong, dia bahkan tak merasa janggal ketika ayah mengaku bersalah padahal ayah tersebut memiliki alibi.

Seok Joo tahu akan hal itu. Semua klien pasti tidak akan memberitahukan kebenaran dengan sukarela tapi kitalah yang harus membuat klien tersebut mengungkapkan kebenaran tersebut. Seok Joo mengatakan kalau kepalanya sakit jadi dia akan masuk dulu. Namun sebelumnya dia mengingatkan Ji Yoon agar besok berangkat atau kalau tidak dia akan memindahkan Ji Yoon.

Ji Yoon mengerti. Selamat beristirahat.



Seok Joo tampak menghembuskan nafas berat mendapati pesan teksnya untuk Jeong Seon belum mendapatkan balasan. Seok Joo pun menelfonnya.

Ponsel Jeong Seon berdering pertanda panggilan dari Seok Joo. Namun Jeong Seon yang sudah terbaring di ranjangnya seolah tak mendengar dan enggan untuk menerima panggilan tersebut. Dia pun membiarkan ponselnya terus berdering.



Ji Yoon masih belum terlelap. Dia memainkan ponsel untuk melihat-lihat file foto dirinya bersama bibi dan sang adik. Seolah itu menjadi sebuah obat penyemangat untuk Ji Yoon.

“Lee Ji Yoon. Azza...azzaa. Fighting.” Ucapnya seraya mengepalkan kedua tangan.



Ji Yoon tengah berkosentrasi pada pekerjaanya. Senior Kim Jeong Wook mendekati Ji Yoon untuk bertanya namun setengah menyindir, sesakit apa hingga seorang intern harus bolos bekerja?

Ji Yoon tercekat karena tak memiliki alasan. Beruntung Seok Joo berlalu dan menutupi dengan mengatakan kalau dialah yang memberikan Ji Yoon tugas (jadi dia gak berangkat). Lee Ji Yoon tersenyum senang mendapat bantuan, dia mengatakan kalau dia akan berusaha lebih baik lagi.



Sook Ae berhasil menghubungi Ji Yoon yang sekarang tengah bekerja. Sook Ae memberitahu Ji Yoon kalau perusahaan ayahnya bekerja mengalami kebangkrutan. Ji Yoon kebingungan karena dia sendiri tak tahu berita tersebut. Sook Ae menyuruh Ji Yoon melihat saja beritanya diinternet dan lagi, bibi meminta Ji Yoon untuk bertanya pada perusahaan apakah mereka bisa mendapatkan uang kembali untuk saham yang telah mereka beli.

Ji Yoon meng-iya-kan lalu segera memastikan beritanya di internet.



“Pak, jika perusahaan mengalami pailit, apa yang akan terjadi pada orang yang membeli saham mereka? Apa mereka bisa mendapatkan uangnya kembali?” Tanya Ji Yoon pada Kim Seok Yeong.

Seok Yeong kurang mengetahui masalah tersebut karena dia sendiri tak mendapatkan pembekalan mengenai kasus seperti itu. Seok Joo yang lewat menjawab kalau mereka bisa mendapatkan ganti rugi 30 % dan dibagi dalam lebih dari 10 tahun.


Park Sang Tae menegur Seok Joo yang memperkirakan terlalu kejam karena mereka bisa mendapatkan pengembalian 35 % atau bahkan bisa sampai 40%. Ji Yoon mengejar Sang Tae untuk menanyakan mengenai Apa yang akan terjadi pada karyawan jika perusahaan dinyatakan bangkrut? Bahkan jika perusahaannya masih menguntungkan, apakah juga akan dilikuidasi?

Menurut Sang Tae, kalaupun masih menguntungkan pun tak akan berpengaruh. Pasti tetap akan ada PHK atau kalau tidak perombakan personel.


Kim Jeong Wook bertanya apakah Ji Yoon tengah membahas mengenai masalah Grup Yurim. Ji Yoon membenarkan. Jeong Wook memperingatkan agar jangan menanyakan hal tersebut pada Pengacara Kim Seok Joo karena Grup Yurim merupakan keluarga dari calon istrinya.

Ji Yoon hanya terdiam, bengong.



Paman Sang Tae yang seorang Jaksa menghubungi Sang Tae, dia heran kenapa ponakannya yang biasa tak tertarik dengan masalah kontroversial malah menanyakan masalah tersebut padanya. Bukankah kau bilang bahwa Seok Joo akan menjadi menantu mereka?

Sang Tae pun membenarkan. Dia menelfon juga karena tunangan Seok Joo yang dalam masa penyelidikan.
“Sepertinya, masalah terbesarnya adalah bahwa Manager Profesional, Han Min Gwon, dan Direktur Yoo Jeong Seon menyetujui sebagian besar penerbitan saham. Dengan skala sebesar ini, demi alasan politik akan ada kambing hitam dari keluarga pemilik.” Jelas paman Sang Tae.



Kim Seok Joo mengkhawatirkan Jeong Seon yang terlihat lemah selepas introgasi. Dia hanya berharap yang terbaik untuknya. Sang Tae memberitahukan kalau posisi Jeong Seon cukuplah penting dalam kasus tersebut. Seok Joo tak percaya, Apa itu masuk akal? Apa Jeong Seon punya kemampuan luar biasa yang tidak kuketahui? Menghilangkan jejak uang sebanyak itu?

Sang Tae mengingatkan kalau latar belakang Jeong Seon cukuplah pelik. Ibunya adalah anak perempuan satu-satunya dari Presdir Kwon. Namun memutuskan hubungan kekeluargaan karena menikah dengan seorang pria pemahat yang tak sukses. Meskipun anak perempuan satu-satunya Presdir Kwon tetap tak memaafkan sampai akhirnya Ibu Jeong Seon meninggal, barulah ada maaf dari Presdir Kwon. Setelah saat itu, Jeong Seon kembali ke keluarga ibunya. Dan sekarang Jeong Seon hanya memiliki perlindungan dari Sang kakek, Presdir Kwon.

“Memaksakan tanggung jawab pada wanita yang baru berusia 30 tahun? Siapa yang percaya?”

“Menurutmu berapa lama hukumannya?” tanya Sang Tae.

“10 tahun jika mereka naik banding. Tuntutannya mungkin seumur hidup.” Ucap Seon Joo seraya pergi meninggalkan Sang Tae.



Woo Gyeong bersama dengan rekannya tengah membahas mengenai kasus manipulasi saham Grup Hwaryun. kasus manipulasi saham yang sudah umum. Konglomerat generasi ke-2 berinvestasi, semua orang memperhatikan dan menjadi populer, kemudian mengambil keuntungan dan berhenti.

Rekan Woo Gyeong membaca berkasnya, karena Direktur Park Dong Hyeong sudah meninggal maka mereka tak bisa melakukan penyelidikan. Woo Gyeong yakin kalau dalam kasus ini lebih dari 3-4 kaki tangan. Mereka harus menyelidikinya dari situ karena banyaknya tuntutan maka kasus tersebut tak bisa diabaikan.

Rekan Woo Gyeong mendapati kalau Seok Joo adalah pengacara untuk kasus Dong Hyeon terdahulu. Serasa Jackpot, Woo Gyeong segera memerintahkan pemeriksaan rekening Seok Joo dengan meminta bantuan pihak perpajakan. Dari situ nanti mereka bisa mendapatkan lebih banyak nama yang terlibat.




Pemegang saham segera memasuki perusahaan sesaat setelah di buka. Lee Ji Yoon menemui sang bibi yang tengah kebingungan. Ji Yoon kesal karena dia telah memperingatkan untuk mendepositokan saja uangnya. Sook Ae juga menyesal. Seandainya dia tahu pasti tak akan melakukannya lagipula dia tertarik juga karena bunga yang ditawarkan 2 %.

Ji Yoon memberitahukan kalau mereka akan mendapatkan ganti rugi 35% yang akan dibayar selama 10 tahun. Seorang bibi yang berdiri disamping Sook Ae mendengar ucapan Ji Yoon pun terkejut. Apa itu gila? Apa itu masuk akal?

Semua orang akhirnya gaduh karena ucapan Ji Yoon tentang ganti rugi yang dibayar dalam 10 tahun.



Presdir Kwon heran melihat Jeong Seon yang terus-terusan menolak panggilan dari Kim Seok Joo. Jeong Seon bertanya pada sang kakek, apakah kakek tetap ingin dia menikahi Seok Joo meski dia tidak bisa digunakan sesuai keinginan kakek? (pertanyaan ini sepertinya merujuk ke masalah ibunya dengan sang kakek. Dulu kan Presdir Kwon gak menyetujui ibu Jeong Seon menikah dengan ayahnya karena ayahnya tak bisa Presdir Kwon manfaatkan karena Cuma seorang pemahat)

Presdir Kwon mengatakan kalau Jeong Seon dengan ibunya berbeda. Jeong Seon pintar sedang ibu Jeong Seon bodoh dan keras kepala. Dia pergi ketika hamil dan tidur di studio. Ketika presdir Kwon membawanya pulang dan bahkan menguncinya agar tak pergi dia tetap saja pergi karena hamil diluar nikah.

Presdir Kwon berganti topik dengan menanyakan sikap Seok Joo yang belakangan aneh. Seok Joo menolak beberapa pekerjaan yang di tawarkan. Banyak yang berspekulasi kalau dia akan berhenti bekerja. Benarkah? Setahu Jeong Seon, Seok Joo ingin keluar negeri. Presdir Kwon tanya kenapa dengan Jeong Seon. Apa dia akan putus dengan Seok Joo?

Jeong Seon membenarkan. Toh juga dia akan di penjara nantinya. Dia yang akan bertanggung jawab menggantikan kakek dan pamannya. Kakek sudah pasti akan menjual Yurim Energy?

Presdir Kwon membenarkan, mereka telah menawarkannya.


Presdir Kwon tahu betapa berharganya Yurim energy. Bagaimana tidak? Institusi nasional bahkan memasok listrik dari sana untuk selamanya. Tapi bagi Presdir Kwon anak-anak dan Jeong Seon lebih berharga. Presdir Kwon pun memanggil Gyeong Cheol yang ada diluar ruangan. Dia mewasiatkan untuk memberi Jeong Seon 20% saham dari Yurim Cement dan Yurim Securities. Gyeong Cheol terkejut. Bahkan dari miliknya pun itu lebih sedikit dibanding bagian Jeong Seon.

“Kalau begitu kau yang bertanggung jawab.” Suruh Presdir Kwon.

Gyeong Cheol jelas tak membiarkannya, toh walaupun Jeong Seon dipenjara permasalahan belum tentu selesai. Jeong Seon yang malas harus mendengarkan rengekan tak setuju, dia memilih pamit. Gyeong Cheol menegur sikap tak sopan Jeong Seon yang pergi saat perbincangan serius.

“Hingga Yurim Energy terjual, aku akan ditahan. Aku akan segera kembali.” Jawab Jeong Seon santai.



Kim Seok Joo meminta Jeong Seon untuk tetap tegar. Entah nanti Presdir Kwon atau wakil Presdir tapi yang bersalahlah yang harus bertanggung jawab. Jeong Seon menganggap enteng saja bahkan yang dia dengar kalau dia hanya perlu menunggu sampai proses banding. Seharusnya sekitar 1 atau 2 tahun untuk proses naik banding.

Tapi Seok Joo kira malah 10 sampai 15 tahun. Kasusnya akan lebih rumit dari yang dibayangkan. Jeong Seon tak begitu menggubris. Mereka harus bergerak cepat untuk menyelesaikan masalahnya. Jeong Seon pun berjalan pergi dengan diikuti oleh Seok Joo.



Seok Joo dan Jeong Seon pergi ke tempat mereka memesan gaun pernikahan. Pelayan disana heran karena di jadwal, mereka akan melakukan pemotretannya 2 minggu lagi. Jeong Seon beralasan kalau dia sudah cocok jadi dia akan membelinya. Jeong Seon merasa bersalah pada Seok Joo jadi dia yang akan membayar gaun tersebut. Seok Joo menolak dan menyodorkan ATMnya pada pelayan.

“Karena sidang, jadwal pernikahan kita dibatalkan. Kita harus membatalkan reservasi gedung pernikahan, pemotretan foto pernikahannya akhir pekan ini, dan kita bisa membatalkannya jika aku menghubungi wedding organizer.” Ujar Jeong Seon.




Jeong Seon mengerti bagaimana posisi Seok Joo yang pastilah tidak nyaman ketika harus menikah disaat tengah amnesia. Dia sudah membatalkan beberapa dan sisanya akan dibatalkan oleh WO. Jeong Seon pun berjalan pergi namun Seok Joo menahannya. Seok Joo merasakan sesuatu yang aneh pada Jeong Seon.
Jeong Seon pun membeberkan alasan utama menunda pernikahan karena dia akan di tahan. Akan lebih dari setahun sampai proses naik banding. Jadi dia akan menunda pernikahannya karena kemungkinan besar dia dipenjara.




Seok Joo yakin kalau Jeong Sun bukanlah orang yang seharusnya bertanggung jawab. Jumlah yang banyak seperti itu tak akan muncul setahun dua tahun. Apakah kau memutuskannya sendiri? Tanpa berdiskusi denganku?

Jeong Sun tahu kakeknya akan membantu dengan menjual Yurim Energy seharga satu triliun won. Maka masalahnya akan selesai. Seok Joo tak yakin mereka bisa menjual Yurim Energy karena bahkan Jeong Sun tak mengetahui perkembangan pembangunannya. Lagipula bisnis itu tidak bisa dijual pada sembarang orang.
“Terjual atau tidak, itu tidak penting. Kenyataannya kami mencoba untuk menjualnya, tapi tidak terjual, itu tujuannya. Mencoba menjual bisnis dan gagal bukan penipuan.”

“Ini adalah masalah serius. Hal ini tidak akan berjalan sesuai dengan apa yang kau katakan padaku. Mereka tidak akan mengabaikannya hanya karena kau mau bertanggung jawab. Presdir Kwon juga akan dituntut. Kemudian dituntut tambahan 3 tahun karena menyembunyikan pelaku sebenarnya. Setidaknya 6 tahun.” Jelas Seok Joo.


Jeong Sun gugup meremas jari tangannya dan menggenggam cincin pertunangan bersama dengan Seok Joo. Dia yakin kalau mereka telah berusaha maka hasilnya tidaklah seburuk apa yang Seok Joo katakan.
Seok Joo menatap jari tangan Jeong Sun yang ada cincinnya. Jeong Sun sadar, dia tanya apakah Seok Joo ingin dia mengembalikan cincinnya?

“Bagaimana jika aku tidak ingin kau mengembalikannya padaku?”



Seok Joo mengantarkan Jeong Sun kembali. Jeong Sun mengatakan kalau hasil sidang akan mempengaruhi hubungan mereka. Dia tunangan Seok Joo tapi juga bagian dari keluarganya juga. Seok Joo akan datang ke persidangan. Jeong Sun melarang, itu akan semakin menyakitkan.

“Apa sebaiknya aku mengambil kasus keluargamu?”

Jeong Sun kembali melarang. Bagaimana pun kakek tak akan mau. Kakeknya tak akan membuat calon suami cucunya mengetahui aib perusahaan. Jeong Sun pun berniat masuk namun Seok Joo menahan lajunya. Dia berjanji pada Jeong Sun kalau dia akan menemukan jalan keluar.



Park Sang Tae menemui Seok Joo di bar. Sang Tae yang habis mendapatkan gajinya berjanji akan mentratktir Seok Joo. Sang Tae tanya apakah Seok Joo sudah mengecek rekeningnya. Kalau memang belum dia menyuruh untuk mengecek, nomor rekening bisa di tanyakan pada sekretaris. Seok Joo tidak terlalu perduli karena itu bukan prioritasnya sekarang. Seok Joo tanya apa benar Sang Tae sudah bercerai dua kali. Sang Tae tersenyum kecut, kenapa disaat bahagia Seok Joo harus mengungkin masa lalu pahitnya?

“Kapan wanita ingin berpisah dengan pria? Dia ingin menunda pernikahan, itu yang dikatakannya, tapi kurasa dia ingin membatalkannya.” Tanya Seok Joo.

Sang Tae tanya apa alasannya. Seok Joo menjawab alasannya Karena Jeong Sun mungkin akan ditahan. Sang Tae menebak kalau Jeong Sun merasa tak bisa lagi bergantung pada Seok Joo. Entah karena lupa ingatan, kemampuanmu, atau perubahan sikapmu.


“Siapa yang bertanggung jawab atas Proyek Hwaryun corporation? Anda setuju untuk menjual dengan harga berapa, dan berapakah harga finalnya?” tanya Woo Gyeong pada Lee Jae Joong.

Jang Joong mengatakan kalau dia hanya membeli ketika harganya anjlok dan menjual sahamnya ketika harga melonjak. Woo Gyeong berdiri, dia memberitahu kalau semua orang dalam pemeriksaan. Dan kalau sampai ada yang mau memberi kesaksian maka mereka akan memberikan perlakukan khusus. Woo Gyeong mengiming-imingi Jae Joong.


Rekan Woo Gyeong melaporkan kalau di bawah nama Seok Joo tak terdapat data transaksi jadi mereka tak bisa melayangkan surat perintah untuk Seok Joo. Woo Gyeong yang sepertinya berambisi menyeret Seok Joo dalam kubangan masalah bertanya siapa kepala sekretarisnya.

“Kim Hak Tae.”


Woo Gyeong menghubungi Hak Tae untuk meminta informasi. Hak Tae membeberkan keterkaitan Seok Joo dengan permasalahan tersebut karena Park Dong Hyeon berbagi informasi dengannya. Woo Gyeong memerintahkan rekannya untuk membuat surat penyelidikan. Entah dirumah ataupun dikantor kalau ada bukti pinjaman, pasti ada disana.

Rekan Woo Gyeong mengingatkan kalau Seok Joo berada dibawah naungan firma Cha Young Woo. Woo Gyeong sama sekali tak bergemi, dia juga sudah mendengar kalau Seok Joo akan keluar dari firma.



CEO Cha bergegas menemui Jeon Ji Won, dia telah menyelesaikan pembayaran untuk Ji Won bahkan kalau memang supir dibutuhkan maka dia akan segera mencarinya. Ji Won menolak, dia masih bisa sendiri kalau hanya ke pengadilan. Ji Won tanya kasus apa yang akan ia tangani?

CEO Cha lah yang nanti akan menyaring kasus untuk ditangani Ji Won. Kalau memang dia berniat untuk menuju ke jabatan hakim agung maka dia akan membuat catatan Ji Won tanpa noda. Sedangkan, Pengacara Kim Seok Joo menangani kasus keuangan bisnis, pailit dan gugatan perdata.


CEO Cha menerima laporan dari Jaksa Cho Joon Ho ditengah perbincangannya dengan Ji Won.

“Segera akan ada penggeledahan dan penyitaan di firmamu. Para konglomerat bermain-main dengan pengaruh mereka. Kami sudah memulai penyidikan. Informasi mengenai hubungan Park Dong Hyun dan Kim Seok Joo sudah masuk. Semua informasi datang dari kepala sekretaris sehingga sulit untuk ditutupi.”

CEO Cha mengerti. Dia segera mengabarkan pada orang kantor mengenai masalah tersebut.



Pihak penyidik datang ke kantor. Seorang staff bergegas menuju keruangan Seok Joon dan menyuruh sekretaris Seok Joo untuk menghalangi penyidik untuk sementara waktu.

Lee Ji Yoon yang ada disana pun mengikuti sang staff yang ternyata tengah membuka komputer Seok Joo untuk menukar Hard Disk nya.


Sang Tae mencoba menghalangi masuknya petugas namun percuma ketika petugas menunjukkan tanda pengenalnya. Mereka segera menuju ke ruangan Seok Joo.



Ji Yoon ikut panik. Dia menyembunyikan disk Seok Joo di balik lengan jasnya. Dia pun berniat pergi dengan pura-pura membawa dokumen. Petugas yang merupakan rekan Woo Gyeong mencegat lalu menyuruh Ji Yoon meninggalkan berkas yang ia bawa.

Ji Yoon sebenarnya sangat gugup. Dia segera menaruh dokumen tersebut dan pergi. Petugas pun segera menggledah ruangan Seok Joo dengan seksama.


Kim Seok Joo tengah bersiap menuju kantor. Ada panggilan masuk dari CEO Cha Young Woo yang memberitahukan mengenai penggledahan untuk Seok Joo. Dia tahu Seok Joo tak ingat informasi sensitif yang ia miliki tapi dia meminta Seok Joo untuk menyingkirkan informasi sebanyak mungkin. Seok Joo tanggap dan langsung mengerti maksudnya.



Belum sempat Seok Joo melakukan apapun, bel apartemen telah berdering. Dia pun segera membukanya. Benar saja itu para penyelidik yang sudah siap menggledah rumah Seok Joo.

Seok Joo tak bisa berbuat apa-apa dan memandangi petugas yang melaksanakan tugas mereka.



Ji Yoon dan Sang Tae dikantor juga menyaksikan kejadian yang sama tanpa bisa melakukan apapun. CEO Cha datang, mereka berdua segera memberi hormat sedangkan pandangan CEO Cha tertuju pada tangan Ji Yoon yang menyembunyikan disk Seok Joo dengan cemas.



Woo Gyeong dan rekannya menyadari kalau penggledahan mereka untuk Seok Joo sudah bocor karena hard disk laptop Seok Joo pun sudah di ubah. Namun ada hal lain yang ia temukan, tentang rekening luar negeri.

Woo Gyeong merasa ganjil dengan hal tersebut karena jumlahnya cukup besar disana. Diapun segera menyuruh untuk mencari tahu, apakah sudah dilaporkan ke pajak atau belum?


Seok Joo pun mengecek rekening yang tadi Woo Gyeong baca. CEO Cha menelfon Seok Joo. Dia mengatakan kalau dia hanya bisa mengganti harddisk Seok Joo karena dia juga tahu ketika detik-detik terakhir. Kalau nanti ada sesuatu maka Seok Joo harus bisa membela dirinya sendiri.


Lee Ji Yoon masuk ke apartemen Seok Joo, begitu berantakan karena para petugas yang menggledah dengan sembarangan. Dia segera membuka jasnya dan membereskan rumah Seok Joo. Seok Joo menyuruh Ji Yoon untuk membiarkan saja tapi Ji Yoon berkeras. Dia menyuruh Seok Joo membeli bir saja selagi dia membereskan apartemen.

Namun ternyata, akhirnya mereka membereskan apartemen bersama.


Seok Joo dan Ji Yoon pun minum beer. Seok Joo menerima panggilan dari Woo Gyeong yang meminta kehadirannya di kejaksaan sehubungan dengan kasus manipulasi saham. Seok Joo meng-iya-kan.
Seok Joo pun meminta Ji Yoon untuk segera pulang karena besok dia harus ke kejaksaan maka dia ingin istirahat lebih awal. Seok Joo pun meninggalkan Ji Yoon.

“Tetap tegar. Pak Kim..” ucap Ji Yoon.



Seok Joo pun pagi-pagi telah menuju ke kejaksaan dan di sambut oleh Woo Gyeong. Dia dengan gaya sok’nya menyuruh Seok Joo untuk duduk.

“Kulihat anda membeli saham senilai 300 juta Won dengan rekening pinjaman. Pemilik rekening tersebut tinggal di luar negeri. Dan sepotong kertas dengan nomor rekening tersebut ditemukan di dalam buku di rumah anda. Dengan barang bukti sebanyak ini, bisa dikatakan anda memiliki rekening pinjaman. Kenapa anda tidak menjual sahamnya setelah membelinya?” tanya Woo Gyeong.

Seok Joo lupa, mungkin dia melewatkan saat yang tepat untuk menjualnya. Woo Gyeong tak semuadah itu percaya. Dia menganggap kalau Seok Joo melakukan itu sebagai tipuan untuk menyembunyikan lebih banyak rekening. Seok Joo berkelit, mungkin dia membelinya untuk investasi jangka panjang. Seok Joo mohon diri kalau memang buktinya hanya segitu, dia ada urusan.



Woo Gyeong tak ingin kehilangan kesempatan pun meluncurkan bukti selanjutnya. Ia pun menunjukkan daftar transaksi rekening luar negeri dan hal tersebut tak dilaporkan ke pajak.



Kehadiran keluarga Kwon di sambut oleh para demonstran yang menuntut pengembalian uang mereka. Presdir Kwon sih biasa aja, tapi kalau Jeong Sun tampak dia begitu terbebani dengan teriakan para demonstran tersebut.



Woo Gyeong mempertanyakan rekening luar negeri Seok Joo. Seok Joo beralasan kalau dia melakukannya karena memiliki klien diluar negeri. Woo Gyeong mencecar, kalau begitu kenapa tak ada pajaknya?

Seok Joo mengaku kalau setahun ini dia sangat sibuk maka dia akan mengurus pajak setelah akhir tahun. Seok Joo bahkan sekarang harus pergi karena dia ingin menemui tunangannya yang dalam persidangan.


Seok Joo pun berdiri. Woo Gyeong menahan dengan alasan bahwa Seok Joo bisa saja berusaha menghilangkan bukti. Toh tanpa Seok Joo pun pengadilan tunangannya masih bisa terus berjalan. Seok Joo tak bisa mengelak, dia kembali duduk.

Banyak sekali pertanyaan yang hanya dia jawab tak tahu karena pada dasarnya dia juga lupa ingatan kan?




“Jika anda mencoba menjual lahan yang dibeli seharga $45 juta, dengan harga $800 juta, apakah menurut anda akan terjual? Siapa yang akan membelinya?” tanya Jaksa pada Jeong Seon.

Jeong Seon mengatakan kalau prioritas mereka sekarang adalah hutang mereka. Jadi mereka akan menjual Yurim Energy.

“Ini bukan anda meminta 800 juta Won untuk sesuatu yang senilai 800 juta Won. Anda meminta 800 juta Won, sedangkan harganya sebenarnya di bawah 300 juta Won. Bukankah ini penipuan supaya anda bisa membayar separuh dari 1 trilun Won?” ucap Jaksa.

“Tanpa niat untuk mengganti rugi, terdakwa berbohong agar berasumsi bahwa ini bukan penipuan. Jika anda adalah orang yang bertanggung jawab atas penerbitan saham dan keputusan berinvestasi, anda seharusnya bisa menjelaskan kemana larinya uang tersebut.”

Jeong Seon semakin ketakutan di cecar banyak pertanyaan seperti itu. Tapi memang dia sendiri tak tahu kemana uang tersebut mengalir.

“Yang mulia, pernyataan mengenai bahwa terdakwalah yang membuat keputusan, terdakwa telah melakukan kesaksian palsu. Oleh sebab itu, jaksa kesulitan menemukan pelaku sebenarnya. Ini adalah tindakan dua kali penipuan terhadap korban, dan ini tidak membantu menyelesaikan kasus ini hingga ke akarnya. Terdakwa tidak menunjukkan tanda-tanda menyesal. Kami meminta terdakwa ditahan.” Pinta jaksa pada Hakim.







Jeong Seon melirik kearah kakeknya. Benar saja kalau kasus tersebut lebih rumit dari apa yang ia dengarkan. Bahkan penahanan yang tak ia bayangkan malah secepat itu terjadi.

“Terdakwa menunjukkan tanda-tanda akan menghilangkan dan memalsukan bukti dan tanpa penyesalan, terdakwa mencoba menyembunyikan dan memperkecil kasus ini. Permintaan penahanan dikabulkan.” Putusan hakim.

Seok Joo ternyata sempat menyaksikan akhir dari sidang tersebut. Jeong Seon lemas pun pasrah harus di borgol. Seok Joo yang berdiri tak jauh darinya berjanji akan menemukan jalan keluar.
***

2 Responses to "Sinopsis A New Leaf Episode 10-2 "

  1. ANL sejauh ini seru meski agak2 bingung soalnya keamnesiaan sekjo g trlalu trlht lg, malh seperti sekjo yg episode2 awal mgkn krn kasusny rumit jd jarang senyum kali y.. JY jg g ad perkmbngan sy pikir dia akan jd intern yg bersinar menuntn jalan sekjo, haha ngayal.com
    semangat y mbak br3, meski kalian dilanda kebosanan dan sejenisnya sy harap tetap lnjtkan ya.., :) .. Fighting..

    ReplyDelete
  2. "Ruwet"...apalagi mslah saham hmmmm...sempat ikut deg²an sich pas acra geledah² dadakan...gomawo

    ReplyDelete

Jangan lupa komentar yaah^^ biar aku lebih semangat dalam membuat postingan. Meskipun jarang bales tapi semua komentar selalu aku baca kok.. *serius*

Gomawo^^