Sinopsis The Huntresses Part 4-End



Jin Ok, Ga Bi dan Hong Dan tengah membaca peta konstruksi bangunan Kim Ja Hun.

“Coba pikir, hanya ada ruang rahasia di lantai 7, ditengah-tengah adalah tangga, dan di bawah adalah saluran ventilasi.” Jelas Jin Ok.



Ga Bi menyusup kelantai enam melalui saluran ventilasi. Jin Ok akan keruang rahasia bawah tanah dan Hong Dan menuju kelantai 7 melalui tangga biasa.




Hong Dan yang melewati tangga biasa kepergok oleh dua orang pengawal. Mereka menyuruh Hong Dan untuk kembali. Hong Dan bertanya apakah mereka hanya berdua. Mereka sinis, kalau hanya berdua memangnya kenapa? Siapa kau?

Hong Dan.. Hong Dan... segera setekah dia mengatakan itu, dia pun langsung menghajar kedua pengawal tersebut.


Jin Ok mengendap-endap menjelajahi ruang bawah tanah tersebut sampai dia menemukan sebuah ruangan yang tergembok. Ruangan itu begitu rapat.



Konselir China merasa kalau datang untuk menemui Tuan Kim Ja Hun memanglah tak rugi. Dan kabarnya Kim Ja Hun telah membunuh orang-orang yang mencuri peta militer China. Jika lewat orang itu bisa menyampaikan tujuan jahat Raja Joseon kepada Kaisar, sudah pasti Joseon akan dihibahkan kepada Anda, Tuanku.

Ja Hun jelas sangat berminat. Konselir China itu menjanjikan bubuk mesiu dan persenjataan sebagai hadiah pertama. Dia kemudian bertanya, dimana orang itu?


Penjaga ruangan pria yang dipasung pun melepaskan borgolnya, dia merasa begitu senang ketika konselir China menjemputnya. Diluar, Jin Ok memperhatikan mereka berdua.




Hong Dan mencari-cari sibjagyeong diruang paling atas. Dia menemukan sebuah peti yang tergembong, Hong Dan pun membukanya. Isinya benar-benar membuat Hong Dan pusing. Perhiasan satu peti tak akan membuat hidupnya pasang surut lagi. Seseorang mengintai Hong Dan, dia segera menarik jepit rambutnya dan bersiap melemparkan. Tapi ternyata itu hanya Ga Bi, dia ikut menangtang Hong Dan dengan pedang.
Hong Dan tak perduli, dia menunjukkan apa yang ia temukan pada Ga Bi. Sekotak penuh perhiasan.


Prajurit Song tengah mendapatkan pembakalan oleh panitia pertandingan. Dia mendesis menyalahkan Moo Myeong yang telah membuatnya terjebak menjadi seorang petarung.




Hong Dan tanya apa yang tengah Ga Bi lakukan. Apalagi kalau bukan membakar ruangan itu setelah menabur bubuk mesiu. Ga Bi menyalakan api, Hong Dan meniupnya. Ga Bi mengulangi lagi dan ditiup lagi. Hong Dan menyuruh Ga Bi melakukannya setelah dia keluar. Ga Bi merasa kalau dia ahli dalam masalah ini, jadi dia meminta Hong Dan untuk percaya padanya.

Hong Dan mengatakan kalau dia tak percaya, padahal sepertinya Hong Dan hanya tak inngin menyia-nyiakan peti perhiasan.

“Tak percaya. Kalau begitu, apa mau dikata.” Ucap Ba Gi sembari menyalakan apinya lagi. Hong Dan sontak berteriak.




Prajurit Song Sae Byuk didorong masuk ke lapangan pertandingan Taekyeon. Lawannya hanyalah seorang anak kecil, Sae Byuk menyuruh anak kecil yang bahkan seorang wanita itu untuk pergi karena tempat itu bukanlah ajang main-main. Dimana orang tuamu?

Anak itu menunjuk ke sebuah arah untuk menipu, saat lengah dia langsung menendang wajah Sae Byeok hingga dia jatuh. Anak itu menantang Sae Byeok untuk segera bangun. Aksi ini mengundang gelak tawa penonton kecuali Moo Myeong. Dia terkejut melihat Sae Byeok yang sudah terkapar di tanah.


Kim Ja Hun juga menyaksikan pertandingan Sae Byuk tadi, dia memuji pertandingan tersebut yang menarik. Konselir China menanggapi dengan dingin. Meskipun menarik tapi bagi konselir tersebut akan lebih menarik kalau dia bisa bertemu dengan Joo Yoo Shik. Ja Hun mencoba mencairkan suasanan dengan kembali tertawa dan meminta konselir tersebut janganlah terlalu terburu-buru.

“Bawa dia ke sini sekarang. Segera!” ucap Konselir dengan penuh penekanan.



Joo Yoo Shik telah dikeluarkan dari penjaranya, penjaga penjara Joo Yoo Shik menyuruhnya untuk mengatakan apa yang dia tahu pada konselir China. Kalau Yoo Shik bisa melakukan tersebut maka dia akan mempertemukan Yoo Shik dengan putrinya. Joo Yoo Shik berucap lirih, Biarkan aku bertemu dengan putriku.

Penjaga penjara kesal dengan sikap Joo Yoo Shik, dia pun mengait leher Joo Yoo Shik dengan sabit. Dia mengancam akan memancung putrinya.

“Jin Ok... Jin Ok... Aku pergi duluan. Tolong jangan mempersulit putriku.” Lirih Joo Yoo Shik.

Jin Ok yang memang sedang menguping pun mendengar ucapan Joo Yoo Shik yang tak lain adalah ayahnya. Jin Ok tak bisa lagi terus bersembunyi.




Jin Ok pun keluar dari persembunyian dan melawan orang-orang Ja Hun sendirian. Tak perlu banyak waktu, Jin Ok bisa merobohkan mereka semua.

Jin Ok menatap sang Ayah dengan miris. Kondisi ayahnya benar-benar sudah tak karuan. Kumal. Banyak luka. Tak terawat. Jin Ok jelas tak bisa menahan air matanya, dia membelai kedua pipi Joo Yoo Shik dengan sayang.

“Jin Ok kah kau?”

“Iya, Ayah. Ayah, aku adalah Jin Ok. Aku benar adalah Jin Ok.” Ucapnya seraya memeluk Yoo Shik. Mereka sama-sama meluapkan kerinduannya.


Penjaga Penjara kembali bangkit dan meraik sabitnya. Jin Ok menyadari hal itu, ia segera berbalik.

Binatang saja lebih berharga darimu. Memperlakukan orang dengan begitu kejam! Biar kau rasakan juga!” Ucap Jin Ok seraya menebas pedangnya pada penjaga.

Namun sayang tebasan itu tertahan oleh pedang seseorang, Sa Hyun lah yang melakukannya. Sa Hyun tak menyangka kalau Jin Ok masih hidup. Jin Ok berkata kalau dia tak memiliki alasan untuk mati. Kenapa kau bisa jadi begini? Kenapa ayahku bisa jadi begini? Hari ini aku harus cari tahu.



“Aku tidak tahu.” Jawab Sa Hyun.

“Ayahku juga kau tidak tahu. Kenapa kau berubah menjadi seperti ini?”

Sa Hyun berkata kalau dia tak tahu ya tak tahu. Dia tak berkewajiban untuk menyampaikan alasannya pada Jin Ok. Jin Ok berkata kalau pada akhirnya Sa Hyun menyangkalnya, dan juga menyangkal dirinya sendiri.

“Anggap saja ini adalah penyangkalan. Ini bisa dijadikan alasanmu untuk mati sekarang?” ujar Sa Hyun seraya menyerang Jin Ok. Jin Ok bukanlah lawan yang lemah, dia pun segera menangkis serangan Sa Hyun.



“Kenapa kau tak menyerang?” tanya Sa Hyun.

Jin Ok tak mengucapkan apapun, dia hanya menjentikkan jarinya pertanda tantangan agar Sa Hyun maju. Sa Hyun pun segera menebas Jin Ok namun Jin Ok menahannya. Dengan lincah Jin Ok menipu pergerakan Sa Hyun. Dia pun segera berbalik dan menebas punggung Sa Hyun namun sepertinya dia sama sekali tak berniat melukai. Jin Ok hanya memotong beberapa helai rambut Sa Hyun.



Ga Bi dan juga Hong Dan mencoba kabur dari kediaman Ja Hun. Mereka menggunakan tali untuk menuruni gedung tersebut. Hong Dan bertanya berapa lama lagi apinya akan meledak. Dengan santai Ga Bi berkata kalau api akan meledak sekarang. Hong Dan terkejut, dia bersumpah tak akan mengampuni Ga Bi kalau sudah dibawah.

Benar saja, setelah sepersekian detik Hong Dan mengucapkan itu. Api pun meledak dan menghancurkan kediaman Ja Hun. Ga Bi dan Hong Dan terpental dari gedung.


Hong Dan dan Ga Bi jatuh ke area pasar. Penampilan mereka sudah acak adul karena terkena ledakan. Hong Dan segera mengomeli Ga Bi yang sepertinya sudah pengin mati apa? Padahal dia sudah memperingatkan agar berhati-hati.

“Yang penting kan masih hidup, ya kan?” Ujar Ga Bi cool.


Konselir China menyaksikan gedung Ja Hun yang meledak. Dia terkejut dan dengan marah bertanya apa yang sedang terjadi?

Kim Ja Hun menenangkan karena itu bukanlah masalah besar. Konselir China sudah marah dari sebelumnya jadi tak tahan lagi melihat kekacauan yang terjadi. Diapun meninggalkan Ja Hun. Ja Hun marah-marah pada bawahannya. Dimana Joo Yoo Shik?! Dimana?!




Jin Ok masih dengan pertarungan sengitnya dengan Sa Hyun. Kim Ja Hun datang, penjaga segera melapor kalau Jin Ok adalah putri dari Joo Yoo Shik. Ja Hun merasa kalau jodoh pertemuannya dengan Jin Ok benar-benar buruk.

“Jangan langsung mengambil kesimpulan. Mau itu masalah yang akan datang, atau jodoh yang buruk, akan kuperlihatkan padamu sekarang juga.”

Kim Ja Hun berfikir kalau Jin Ok memanglah pantas menjadi putri Joo Yoo Shik. Namun dia bukanlah orang yang tak sibuk. Ja Hun memerintahkan pengawalnya menyerang Jin Ok, kalau mereka bisa mengalahkannya maka dia akan memberi imbalan 1000 yang.


Jin Ok sama sekali tak gentar dengan serangan pengawal Ja Hun yang banyak, dia melawannya dengan menembakkan senapan yang ia miliki.



Kim Ja Hun murka pada Sa Hyun karena telah membiarkan orang seperti Jin Ok selamat. Apa Kau sengaja? Teringat ada kenanganmu dengannya, begitu? Aku akan menunggu dan melihat, anjing siapa kau sebenarnya.

Ja Hun pun segera pergi meninggalkan Sa Hyun, dia bergumam karena kecerobohannya membiarkan Sa Hyun. Akhirnya Ja Hun pun kembali berbalik dan menusukkan pisau pada perut Sa Hyun. Sa Hyun terkejut karena perlakuan Tuan yang ia hormati tersebut.

“Saat anjing yang dicuri bertemu kembali dengan majikannya semula, pasti akan menggigitnya. Kau sudah tidak ada manfaatnya lagi bagiku. Kembalilah ke majikanmu semula!” Ucap Kim Ja Hun seraya pergi meninggalkan Sa Hyun yang terluka.




Sa Hyun kembali mengingat masa dimana Joo Yoo Shik bertanya pada Sa Hyun, apakah pisau kembangnya telah sampai ditangan Sa Hyun? Joo Yoo Shik kemudian memerintahkan Sa Hyun untuk membunuhnya jika ada kejadian yang mengancam. Dengan cara itulah, maka Jin Ok akan selamat.

Ingatan Sa Hyun pun kemudian kembali pada saat ia menusukkan pisau kembangnya ke perut sang majikan. Ternyata dia melakukannya sambil menangis, bagaimana tidak sedih ketika harus menussuk seorang yang bahkan sangat baik dan menghidupi dirinya.

Sampai akhirnya Sa Hyun terdorong dan kepala Sa Hyun membentur ke batu. Mungkin inilah yang membuat dia lupa ingatan.



Konstruksi bangunan semakin rapuh namun kesempatan kabur tak di berikan pada pengawal untuk Jin Ok yang malah semakin terkepung. Joo Yoo Shik membantu putrinya meskipun tubuhnya telah terkurung lama, keahliannya sama sekali tidaklah hilang.

Buka mata lebar-lebar dan lihatlah ke depan. Dengan begitu kau baru bisa selamat.

Mereka berdua pun bekerja sama untuk mengalahkan ara pengawal.


Bangunan kediaman Ja Hun mulai runtuh. Warga yang bermukim di sekeliling bangunan Ja Hun pun terkena imbasnya karena bangunan itu super besar. Mereka berlarian menghindari puing bangunan, termasuk Moo Myeong yang berlari ketakutan.



Air mulai menerobos masuk ke ruang bawah tanah yang sekarang menjadi medan pertempuran Jin Ok dengan ayahnya. Prajurit mulai kalang kabut untuk kabur namun beberapa masih ada yang menghadang Jin Ok. Sedangkan Sang Ayah, Joo Yoo Shik terkena luka di perut hingga membuatnya terduduk dan memuntahkan darah.

Sa Hyun mendekatinya sambil mengarahkan pedang. Jin Ok mengancam Sa Hyun untuk jangan melakukan hal yang buruk. Namun Sa Hyun bukan berniat melukai Joo Yoo Shik, dia segera memutar pedangnya lalu mengarahkan pada lawan yang berdiri di belakang Jin Ok.

Sa Hyun menyuruh Jin Ok untuk segera keluar karena bangunan akan segera roboh. Jin Ok tak habis pikir, kenapa Sa Hyun secepat itu berubah. Sa Hyun tak menggubris, dia mencoba memapah ayah Jin Ok.


Kim Ja Hun beserta rombongan  meninggalkan pulau.



Sedang Jin Ok dan Sa Hyun berhasil membawa Joo Yoo Shik keluar. Tiba giliran Sa Hyun untuk keluar dari bangunan, namun sesuatu mengurungkannya. Sa Hyun ternyata mengambil pisau kembang pemberian Jin Ok dulu.

Sa Hyun pun segera bergegas kembali menaiki tangga namun karena konstruksi yang memang telah rapuh, tangga yang ia pijaki terbelah. Sa Hyun pun terjatuh, beruntung ada sebuah tali yang menahan tubuh Sa Hyun. Itu tali yoyo Jin Ok.

Sa Hyun menyuruh Jin Ok agar jangan menyelamatkan dia. Dia sudah mengatakan kalau dia tak mengingat Jin Ok! Apa Jin Ok ingin mereka berdua mati? Apa Jin Ok ingin mati bersama.

“Tidak bisakah dua-duanya hidup? Lebih baik dua-duanya hidup.” Ucap Jin Ok seraya menyodorkan tangannya.



“Dengar baik-baik kata-kataku. Aku tidak kenal padamu. Tidak peduli bagaimana kau kenal padaku dulu, aku tidak kenal padamu.”

“Jelas-jelas kau masih ingat padaku. Dengan menatap matamu, menatap matamu... pasti bisa. Karena itu, tidak boleh menyerah. Ayo cepat naik!”

Sa Hyun pun tertawa mendengar ucapan Jin Ok, keadaan mereka sama-sama sulit. Sa Hyun sepertinya yakin kalau Jin Ok tak akan mampu untuk menahan beban tubuhnya. Dia pun mengeluarkan pisau kembang pemberian Jin Ok.

“Mau apa kau? Tidak boleh!” teriak Jin Ok.


Sa Hyun tak menggubris dan memotong tali yoyo Jin Ok. Sa Hyun pun terjatuh ke dasar bangunan yang roboh itu. :’’(



Jin Ok mengejar rombongan Ja Hun, sungguh sosok yang kuat. Namun terlambat, kapal Ja Hun sudah lepas dari pelabuhan.

Selalu ada jalan, Jin Ok pun segera berlari menuju bangunan yang tinggi. Ga Bi dan Hong Dan berusaha memutar bangunan tinggi tersebut dari bawah agar Jarak Jin Ok dengan kapal Ja Hun lebih dekat.

Ja Hun pun juga tak ingin di kejar, dari kapal dia mengerahkan prajurit untuk menyerang Jin Ok dkk dengan panah. Moo Myeong juga ada disana membantu namun karena serangan panah, mereka hanya bisa bersembunyi dibalik bangunan.


Di tengah hujan panah, Ga Bi mencoba mengurangi jumlah prajurit dengan menyerang menggunakan panah yang ia temukan. Memang terbukti bisa melumpuhkan beberapa prajurit. Hong Dan dan Moo Myeong menggunakan kesempatan tersebut untuk memutar bangunan yang di gunakan oleh Jin Ok dengan susah payah.



Jarak sudah cukup, Jin Ok pun mengambil ancang-ancang untuk melompat ke kapal Ja Hun.  Sedang Ja Hun hanya tertegun melihat keberanian Jin Ok untuk melompat disaat amunisi dan juga panah saling berseliweran.

Jin Ok mengaitkan yoyonya untuk mendarat namun terlebih dulu dia menendangi para prajurit yang berada di kapal. Tap. Tap. Tap. Para prajurit pun berceburan ke laut.


Diseberang, Moo Myeong dan Hong Dan begitu bangga dengan sikap heroic Ga Bi yang berani menghadapi para prajurit yang tadi begitu garang menyerang mereka. Namun sekarang mereka begitu senang karena berhasil membuat Jin Ok menyebrang ke kapal Ja Hun.



Jin Ok mengejek Ja Hun yang berniat kabur dengan kapal tapi pada akhirnya dia berhasil mengejar Ja Hun. Ja Hun tertawa mengejek Jin Ok yang beraninya karena ada pedang ditangan. Jin Ok yang mendengar ucapan segera membuang pedangnya. Ja Hun sedikit tersentak dengan sikap Jin Ok.

“Mau mati? Tentu saja harus kukabulkan. Tapi dengan cara apa ya bagusnya? Kupatahkan kakimu, atau kucincang saja?” Ucapan Ja Hun segera dibalas Jin Ok dengan pendaratan yoyonya ke mulut Ja Hun. Mulut Ja Hun pun berdarah.

“Dasar Bang...” Umpatan Ja Hun kembali dibalas dengan yoyo Jin Ok yang mengenai mulutnya lagi.



Ja Hun mulai gemetaran.

Terhadap bangs*t seperti kalian yang suka berbohong, mulut itu tidak ada fungsinya. Ke depannya tutup mulutmmu! Dan hidup dalam penderitaan!”


Jin Ok berbalik pergi namun Ja Hun kembali mencoba memungut pedangnya. Jin Ok kembali berbalik dan melepaskan tembakan ke tangan kanan Ja Hun.

“Kalian dan para musuh telah membunuh orang yang setia. Menyandera anak untuk mengancam ayahnya. Kenangan yang berharga juga ingin kau rampas. Anjing saja jauh lebih berharga dibandingkan denganmu. Akan kusingkirkan tanganmu yang suka mencuri.” Ucap Jin Ok seraya menembak tangan kanan Ja Hun.



“Kuhancurkan kakimu yang mengkhianati negara kita.” Jin Ok meluncurkan pelurunya ke kaki kanan Ja Hun.

“Dan matamu yang tidak ada bedanya dengan mata binatang, yang kau gunakan untuk melihat kami.”

Ja Hun menghentikan pergerakan Jin Ok, dia memohon agar Jin Ok tak lagi melakukannya. Dia meminta ampun. Pandangan mata Jin Ok pun meluluh. Mengambil kesempatan, Ja Hun segera merebut senapan Jin Ok.



Jin Ok tersentak kaget. Ja Hun menarik pelatuk senapannya dengan angkuh. Namun ckrrk, hanya suara saja yang terdengar. Pelurunya telah habis.

“Yang kuberikan itu adalah pistol tanpa peluru. Bagaimana rasanya? Terasa hampa bukan? Kekuatan yang berada di dalam kendalimu hanya ini? Mau itu mati, hidup, lepaskan, genggam... pada akhirnya adalah seperti ini.”

Jin Ok menunjukkan Sibjagyeong yang sudah ada ditangannya. Dia akan memberikan pada pemilik sesungguhnya. Jin Ok lalu melompat dari kapal meninggalkan Ja Hun sendiri.


Kim Ja Hun tertawa menutupi kemarahan atas kekalahannya. Sebuah benda hitam menggelinding menuju kearahnya. Ingat benda kenyal hitam yang dimainkan Ga Bi?  Ja Hun mengocoknya heran benda itu.


Dari kejauhan Jin Ok melihat kapal Ja Hun yang meledak. Benda hitam itu sama dengan Bom yang dimainkan Ga Bi.
***



Ga Bi, Hong Dan dan Jin Ok telah berada di kerajaan dengan mengenakan hanbok yang cantik. Serta Joo Yoo Shik  beserta Moo Myeong yang mengadap pada Yang Mulia. Kepala polisi pun membacakan putusan mereka.

“Pertama, Jo Yoo Shil bertanggung-jawab atas prajurit yang bertugas di perbatasan.”

“Jenderal Mumyeong....”


“Jika masalah ini telah selesai, kembalikan jabatan Guru Mumyeong padanya.” Permintaan Jin Ok untuk Moo Myeong pada Kepala polisi.


“... atas nama Duta Besar, akan membangun kembali jembatan.”

Putusan kepala polisi ini jelas disambut gembira oleh Moo Myeong.

“Selanjutnya adalah Hong Dan.”


“Tolong lunaskan hutang mereka, sehingga mereka bisa hidup dengan tenang. Dan berikan sebuah toko pada mereka.”


Hong Dan tersentak. Dia begitu senang menerima hal tersebut.

“Kemudian, Park Ga Bi...”


“Ia memiliki bakat dan kemampuan dalam seni perang dan bela diri. Jika ia memiliki pengetahuan dalam 2 hal tersebut, akan sangat bermanfaat bagi negara.”



Ga Bi menampakkan wajah serius tanpa ekspresi namun ketika Prajurit Song melambaikan tangannya, Ga Bi segera tersenyum manis. Hahahaha.
***


Mereka berlima pun keluar dari istana dan segera disambut oleh gadis kecil yang mengantarkan paket.
Ternyata itu adalah paket mengenai informasi penjahat, dengan hadiah 1000 Nyang.



Mereka bertiga pun kembali pada aktivitasnya untuk memburu para penjahat. Bukan hanya bertiga sekarang, tapi berlima di tambah Moo Myeong dan Prajurit Song.

Prajurit Song meminta Ga Bi untuk berlindung di belakangnya namun dengan segera Ga Bi menolak dan menyuruh prajurit Song saja yang berlindung padanya.

Mereka berempat segera menyerang para prajurit yang mengepung untuk menangkap penjahat.
*THE END*
KOMENTAR :
Cerita yang cukup membuatku terhanyut. Begitu komplit dari persahabatan, percintaan kucing-kucingannya Ga Bi dan Prajurit Song. Kisah Ayah Anak.
Maaf terlalu lamaaaa~ karena tahu sendiri. Kadang mood gak selalu dalam keadaan yang baik. Jadi yah seperti ini. TELAT!
Happy Reading~~


1 Response to "Sinopsis The Huntresses Part 4-End"

Jangan lupa komentar yaah^^ biar aku lebih semangat dalam membuat postingan. Meskipun jarang bales tapi semua komentar selalu aku baca kok.. *serius*

Gomawo^^