Sinopsis Unemployed Romance Episode 9-2



Jin-joo sudah rapi lalu meminta ijin pada Seon-joo untuk pergi melakukan interview. Seon-joo mengajaknya untuk bersama. Jin-joo sebenarnya keberatan tapi bagaimanapun Seon-joo adalah boss’nya. Tak mungkin dia menolak.



Jin-joo menuangkan minum untuk Hyo-sang dan Gwang-pal, Jin-joo bercerita kalau orang-orang merasa tak nyaman ketika ia menuangkan air minum mereka karena tangan Jin-joo yang kecil sehingga seolah anak kecil yang menuangkan minumnya. Jin-joo menunjukkan telapak tangannya pada Gwang-pal tapi tak di perdulikan dan hanya menepuk tangan Jin-joo. Gwang-pal lebih tertarik pada Seon-joo tentunya.
“Ngomong2, berapa lama kau akan belajar untuk ujian? Itu perlu keberuntungan juga, jadi tidak cukup hanya belajar.” Tanya Seon-joo.
 Gwang-pal mengaku kalau dia tak lulus tahun ini maka ia berniat melanjutkan bisnis ayahnya. Jin-joo penasaran bisnis apa itu. Hyo-sang mengatakan kalau bisnis ayah Gwang-pal adalah bisnis tanaman yang cukup besar. Jin-joo semakin kagum dengan Gwang-pal.


Sedangkan Gwang-pal terus memperhatikan Seon-joo. Jin-joo muram dibuatnya.
“Ngomong-ngomong, bagaimana kau menghilangkan stresmu, Seon Joo? Jika kau terlalu banyak menulis, kau pasti sangat stres.” Tanya Gwang-pal.
“Aku? Apa kau mau tahu?”



Seon-joo asik menari di club bersama dengan Jin-joo yang gerakannya bener-bener kaku. Sedang Gwang-pal dan Hyo-sang memperhatikan mereka. Hyo-sang memuji gerakan yang di lakukan Jin-joo itu cute. Gwang-pal menilai Seon-joo yang sexy dan dia melihat kearah Jin-joo.
“Apa kau mau ku bantu?” tanya Gwang-pal pada Hyo-sang. Mereka berdua pun ikut bergabung untuk menari.


Seung-hee tengah membuat cerita dramanya, dia menulis judul Skandal Pemeriksaan Pengangguran. Tapi sepertinya Seung-hee masih belum menulis cerita. Hanya judul yang baru ia temukan.
Bel berbunyi, itu adalah Gwang-pal yang mengantarkan Seon-joo. Dia mabuk berat.


Gwang-pal basa-basi mengatakan kalau mereka sudah lama tak bertemu. Seung-hee menyipitkan mata karena curiga pada Gwang-pal. Seon-joo bukanlah tipe orang yang suka minum tapi sekarang dia mabuk berat. Gwang-pal menyalahkan Hyo-sang sebagai biang kemabukan Seon-joo.
Gwang-pal mengalihkan pembicaraan, dia bersyukur Seung-hee sekarang sudah bersama Wan-ha yang baik. Meskipun dia tahu bagaimana dulu Seung-hee putus dengan Jong-dae. Seung-hee menatap Gwang-pal kesal.
“Aku tidak menyalahkanmu. Sebagai seorang teman yang melihatnya, aku sedikit kasihan pada Jong Dae.”
“Jadi, apa itu karena aku?” Seung-hee sinis.

“Sejujurnya, setelah kau pergi seperti itu, Jong Dae benar-benar tersakiti. Hingga dia menjalani masa yang sangat sulit untuk sementara. Lalu aku dengar kau berpacaran dengan Wan Ha sekarang. “
Seung-hee masih sinis, siapa yang dia campakkan dan pergi kemana. Gwang-pal memberitahukan kalau Jong-dae menunggui Seung-hee di depan apatemennya sepanjang malam tapi Seung-hee tak muncul karena melanjutkan perjalanan dengan produser. Seharusnya Seon-joo juga tahu karena Jong-dae bertemu dengannya.
Seung-hee terkejut, apa?!


Jong-dae menunggui Seung-hee di depan apartemennya. Seon-joo yang melihat Jong-dae memberitahukan pada Jong-dae kalau Seung-hee tak akan pulang malam ini.
Jong-dae masih mencoba menunggu Seung-hee meskipun Seon-joo sudah memberitahukan seperti itu. Dia menunggu sampai pagi menjelang dan sangat kecewa karena Seung-hee benar-benar tak pulang.

Seung-hee terkejut mendengar penuturan Gwang-pal. Gwang-pal sendiri menyuruhnya agar menanyai Seon-joo ketika bangun nanti.


Jong-dae minum bersama ayahnya. Ayah merasa kasian pada ibu karena mengalami hidup yang sulit bersamanya. Tapi dia senang ketika ibu memiliki penuh harapan dengan Jong-dae yang akan pergi keluar negeri. Dia mengucapkan terimakasih.
“Kau tidak benar-benar menunda kepergianmu keluar negeri karena uang, kan?”
Ayah memegang kepalanya kesakitan, Jong-dae khawatir dan menyuruhnya untuk ke dokter. Ayah menenangkan, sekarang dia sudah lebih baik kok.



Jong-dae menyodorkan amplop berisi uang kepada Ayah lalu menyuruh untuk beristirahat, walaupun isinya tak banyak. Ayah mencoba menolak. Sebagai kepala keluarga dia merasa bukanlah ayah yang baik.
“Ayah, bagiku rasa inilah artinya keluarga. Orang lain hanya melihat hasilnya, bukan prosesnya. Tapi terlepas dari hasilnya, keluarga yang mengakui prosesnya. Aku tahu betul bagaimana banyak usaha yang telah ayah lakukan. Jadi aku selalu bangga padamu, ayah.”
Jong-dae meminta Ayah untuk menunggu sebentar sampai dia bisa sukses. Ayah tertunduk haru.


Pagi harinya, ibu bekerja seperti biasa di toko makanan. Ayah izin untuk pergi ke pusat tenaga kerja. Ibu diam saja.
“aku akan kembali.” Ucap ayah yang sama sekali tak mendapatkan respon dari ibu. Ayah berjalan pergi namun kembali lagi untuk mengucapkan kalau dia akan segera kembali.
“Jangan kembali! Jangan kembali!!!” bentak ibu kesal.


Jong-dae menelfon Ayah untuk menanyakan apakah ibu sudah sembuh dari marahnya. Ayah mengatakan kalau ibu masih marah dan dia akan pergi ke pusat tenaga kerja sementara waktu. Jong-dae terkejut, kalau ayahnya sampai datang ke pusat tenaga kerja maka Ayah akan tahu kalau Jong-dae tak jadi pergi ke luar negeri.
Jong-dae mengatakan kalau ayahnya tak memenuhi syarat. Ayah tak percaya lagipula darimana Jong-dae tau. Tetangga menyuruhnya untuk mengecek ke pusat tenaga kerja. Ayah yang mulai pusing mengakhiri panggilan tersebut.


Ayah memutuskan untuk mengecek kondisinya. Dokter memeriksa hasil scan otak Ayah, Ayah sebenarnya sudah tahu kalau dia mempunya tumor otak. Ayah mengaku kalau dia dulu mengecek secara rutin tapi belakang ukurannya tidak berubah. Maka setelah dia di pecat dia tak pernah mengecek’nya lagi.
Dokter meyakini kalau tumor yang ada di kepala ayah adalah tumor ganas. Ayah terkejut. Dokter menjelaskan kalau tumor itu berada di tempat yang berbahaya kalau dibiarkan maka bisa menjadi bom waktu. Ayah harus melakukan operasi kalau tidak, kemungkinan Ayah hanya bisa bertahan 30 hari lagi. 1 bulan.


Jong-dae melihat ayah sudah duduk di ruang tunggu pusat ketenagakerjaan. Dia hanya melihat dari kejauhan. Sedangkan ayah ternyata duduk termenung, dia terlihat sedih sepertinya memikirkan masalah tumornya.

Giliran ayah. Dia bertanya kepada petugas akankah dia bisa menerima gaji pengangguran. Dia sedang membutuhkannya dalam waktu cepat. Petugas lebih dulu harus mengecek.
“Saya minta maaf. Tapi anda tidak memenuhi syarat. Anda harus punya asuransi kerja lebih dari 180 hari. Tapi anda tidak memiliki hari yang mencukupi.”
Ayah beralasan kalau dia harus membayar iuran, dia akan memenuhi asuransi tersebut sampai nanti 180 hari. Petugas tetap tidak bisa dan membimbing Ayah agar pergi ke bagian pencarian tenaga kerja saja. Dia memberikan kertas untuk kebagian itu.


Ayah marah. Dia sudah tak memiliki waktu lagi. Apa semudah itu untuk mencari pekerjaan yang bagus?
Petugas meminta maaf karena bagaimanapun Ayah haruslah memenuhi syarat. Ayah semakin marah dan menarik kerah baju petugas tersebut, dia hanya ingin memberikan sesuatu untuk keluarganya.

Satpam datang mencoba membawa keluar Ayah yang membuat keributan. Jong-dae tak bisa lagi bersembunyi menyaksikan Ayahnya seperti itu. Dia menghentikan satpam tersebut untuk membantu ayahnya.



Seon Joo muntah-muntah setelah mabuk berat semalam. Dia meminta Seung-hee untuk membawakannya air. Seung-hee datang dengan segelas air dan langsung menyiramkannya ke kepala Seon Joo. Seon Joo kesal, apa maksud Seung-hee. Seung-hee ketus, bukankah kau mau air? Aku berikan kau air! Kenapa kau berbohong?
“Aku berbohong tentang apa?”
“Aku dengar Jong Dae datang menemuiku. Ketika aku masih di rumah sakit, Jong Dae kesini tanpa tahu apapun. Aku bahkan menanyaimu, kenapa kau diam? Apa aku sasaran mudah buatmu? Apa kau bahagia dengan berbohong padaku dan mengolok-olokku? Kenapa kau melakukan itu padaku?”


Seon Joo tak merasa bersalah sama sekali, bukankah Seung-hee sekarag sudah memiliki Wan Ha yang lebih mapan?
“Aku yang gila mempertimbangkan orang sepertimu sebagai temanku.” Ucap Seung-hee marah dan meninggalkan Seon Joo.


Ayah dan Jong-dae duduk di taman. Ayah menyuruh Jong Dae jangan mengatakan apapun pada ibunya. Tak akan ada yang berubah jika dia mengatakannya. Ibu akan semakin sedih jika tahu Jong-dae tak pergi belajar keluar negeri karena uang. Mereka tak bisa mengatakan tentang dia ataupun ayah.
Jong-dae tertunduk sedih menerima saran dari ayahnya. Mereka harus menutupi semua hal tersebut pada ibu.



Seung-hee duduk termenung di pinggir sungai. Kenangannya bersama dengan Jong Dae mulai teringat kembali. Bagaimana dulu Jong-dae melakukan hal-hal konyol hanya untuk bisa dekat dengannya. Jong-dae yang rela mengorbankan tes tahap akhir agar bisa masuk menjadi pegawai negeri HANYA demi Seung-hee yang jatuh sakit dan membawanya berobat.
Seung-hee benar-benar menyesal dengan semua itu. Mungkin dia merasa begitu bodoh telah tertipu oleh sahabatnya sendiri dan membuat Jong Dae pergi darinya.
Ponsel Seung-hee bergetar, Jong-dae menghubunginya.



Seung Hee menemui Jong Dae yang mabuk berat di kedai pinggir jalan. Dia sedih melihat betapa terpurukny Jong Dae saat ini. Jong Dae menyadari kehadiran Jong Dae lalu menggenggam tangan Seung-hee.
“Sesuatu terjadi padamu, kan?”
Jong Dae menyalahkan dirinya yang begitu tak berguna. Ketika ayahnya sakit, ia begitu tak berdaya. Kenapa dia hanya hidup melakukan apa yang orang lain katakan baik. Jong-dae meneteskan air matanya. Sedih.


Dream don’t have to be something grand like other people want. Seung Hee
Seung-hee menatap hangat Jong-dae.
“Aku tahu kalau impianmu adalah membuat keluargamu bahagia. Mimpi tidak harus menjadi sesuatu yang besar seperti yang orang lain inginkan. Dan kau telah berbuat banyak untuk ayahmu. Untuk membuat ayahmu bahagia, Kau fokus belajar untuk ujian meskipun itu bukan mimpimu. Itu sebabnya aku menyukaimu terlepas dari apa kau lulus ujian atau tidak. Aku yakin ayahmu tahu itu juga. Dia akan lebih baik. Jangan khawatir.”


Jong Dae terhanyut dengan apa yang Seung-hee ucapkan padanya. Ia pun perlahan mengecup bibir Seung Hee.
***
Note :
Ulalala.... makin galau deh si Seung-hee. Mau pilih paket komplit (Wan Ha) atau paket special (Jong Dae) ?
Kenapa Jong Dae aku sebut paket spesial? Ahaaa. Dia special karena meskipun dia SALAH PAHAM dan menyangka Seung Hee selingkuh dengan produsernya dulu tapi tetap saja dia mau menolong Seung-hee meskipun itu juga sebuah ke-SALAH PAHAMAN saat mengira ahjussi gendut mengganggu Seung-hee. Uuh. Dalam drama ini begitu banyak Salah Paham yah. ^^
Kalau aku sendiri sih pasti Wan Ha. Hahaha. Bukannya matre sih, tapi menatap untuk masa depan aja. kekeke
untuk episode 10, aku usahaain secepetnya dan akan aku buat 1 episode full. tunggu yah ^^

4 Responses to "Sinopsis Unemployed Romance Episode 9-2"

  1. episode 10 dong!ditunggu lho, gomawo dah mau lanjutin sinopsisnya.

    ReplyDelete
  2. ditunggu lanjutannya ya...

    ReplyDelete
  3. Wah 1 episode lagi y? ayo semangat ,jangan lama2 y! He he...(maunya),abisnya udah g sbar bgt. Makasih y udah dilanjutin sinopsisnya, tak tunggu sinopsismu!

    ReplyDelete
  4. Ditunggu episode terakhirnya,smangat!! Jngan lama2 ya! Dah g sbar ni. Thanks

    ReplyDelete

Jangan lupa komentar yaah^^ biar aku lebih semangat dalam membuat postingan. Meskipun jarang bales tapi semua komentar selalu aku baca kok.. *serius*

Gomawo^^