Sinopsis Unemployed Romance Episode 9-1



Seung-hee dan Wan-ha dalam perjanan pulang. Seung-hee mencoba menjelaskan kalau kejadian tadi terjadi karena dia khawatir Jong-dae itu terluka karenanya. Wan-ha tetap diam tak merespon perkataan Seung-hee.
Dalam hatinya Seung-hee merasa gila karena Wan-ha marah tapi sama sekali tak menunjukkan itu padanya. Dia juga khawatir dengan keadaan Jong-dae.



Di tempat kerja ayah Jong-dae akan terjadi PHK besar-besaran, karena banyak dari pengguna apartemen yang lebih memilih untuk menggunakan alat pengaman CCTV dari pada penjaga. Maka separuh dari penjaga akan di suruh mengundurkan diri. Ketua Petugas memilih untuk menggunakan cara yang paling adil dalam menentukan siapa yang harus mengundurkan diri. Dengan cara, batu Gunting Kertas. Hahaha
Adil darimana? Terang saja seluruh petugas langsung terheran-heran kecuali ayah Jong-dae yang langsung melakukan pemanasan pada tangannya.




Seung-hee tengah membereskan sampah untuk membuangnya, Seon-joo dan Jin-joo pulang ke apartemen bersama. Seung-hee menunjukkan paket untuk Seon-joo, ada diatas meja. Seon-joo membukanya, itu berisi produk promosi berupa lompat tali tapi lebih modern. Seon-joo mencobanya. Jin-joo meminta izin untuk mencobanya juga, Seon-joo mengizinkan bahkan memberikan alat itu pada Jin-joo. Jin-joo girang dan mengucapkan terima kasiiih.



Selepas kepergian Seon-joo yang akan istirahat, Seung-hee mengucapkan maaf pada Jin-joo karena selama dia bekerja pada Seung-hee tak mendapatkan apapun. Jin-joo yang polos tak mempermasalahkannya dan sebagai gantinya sekarang dia bekerja pada penulis sukses berkat Seung-hee yang mengenalkannya. Seung-hee dalam hatinya dongkol karena Jin-joo memuji-muji Seon-joo.



Seung-hee membuang sampah, sebuah panggilan dari nomor yang kemarin malam menghubunginya kembali. Beberapa kali dia bertanya tapi tak ada jawaban.
“Apa ini Kim Jong-dae? Kim Jong-dae.” tanya Seung-hee yang tak mendapatkan jawaban. Seung-hee merasa ada yang memperhatikannya di belakang tempat sampah tapi siapa dia?
Preside Kim keluar dari persembunyian sambil menunjukkan ponselnya sebagai tanda kalau dialah yang menghubungi Seung-hee.


Seung-hee mengingat bagaimana dulu President Kim meninggalkannya kabur.
Presiden Kim meminta maaf karena pasti dulu Seung-hee sangat membencinya. Seung-hee sudah tak percaya lagi pada President Kim yang terlalu menggilai judi, seharusnya juga dulu Presiden Kim menemuinya untuk menyelesaikannya. Presiden Kim berkata bukankah dia menyelesaikannya sekarang. Dulu dia melakukan itu untuk menghayati perannya sebagai pengemis di casino. Dan sekarang dia ingin comeback karena ada pengusaha kaya yang bertemu di casino. Pengusaha itu mau berinvestasi.


Seung-hee berdecak tak percaya, dulukan dia sudah ditipu. Presiden Kim meminta maaf tapi Seung-hee mencoba menutupi telinganya agar tak mendengar iming-iming dari President Kim lagi. President Kim mengatakan kalau dia menyiapkan sesuatu sebagai gantinya. Mendengar itu, Seung-hee barulah mendengarkan presiden Kim.



Sebuah mobil terparkir, bagus deh mobilnya. Tapi ternyata mobil itu pergi dan mobil untuk Seung-hee ada di sampinya. Seung-hee bertanya apakah mobil itu bisa berjalan, Presiden Kim meyakinkan karena dia telah menggunakannya ketika di provinsi Gangwon.
President Kim menyuruh Seung-hee menganggap mobil tersebut sebagai uang muka, dan buatlah drama harian dengan judul pengemis kasino. Seung-hee tak yakin ada yang akan menonton sebagai drama harian, kalau memang judulnya seperti itu seharusnya dalam bentuk mini-seri. President Kim senang, yasudah buat saja Mini-seri.



Hyo-sang mengajak Gwang-pal ke sebuah klinik gigi. Hyo-sang akan melakukan promosi untuk produ farmasinya ketika nanti Gwang-pal tengah di bersihkan giginya. Gwang-pal merasa pekerjaan diluar sana tak ada yang mudah. Hyo-sang membenarkan bahkan dia melakukan dua kali pembersihan gigi selama sehari. Gwang-pal mengejeknya kalau semua itu menyakitkan hingga membuat Hyo-sang jelek seperti sekarang.



Seon-joo dan Jin-joo masuk ke klinik yang sama dengan Gwang-pal dan Hyo-sang. Gwang-pal langsung menyapa Seon-joo, sudah lama tak bertemu. Jin-joo bertanya siapa mereka, Seon-joo mengatakan kalau mereka adalah teman mantan Seung-hee.
Jin-joo mengenalkan diri pada Gwang-pal tapi dia tak membalas uluran tangan Jin-joo. Hyo-sang menerima uluran tangan Jin-joo tapi Jin-joo langsung menarik tangannya. Oh dia tertarik dengan Gwang-pal.
“Apa yang kalian lakukan disini?” tanya Gwang-pal pada Seon-joo. Jin-joo segera menjawab kalau mereka kesana untuk melakukan wawancara.



Ibu Jong-dae mengepak makanan untuk Ayah, tapi belum selesai dia melakukan itu Ayah sudah pulang. Ibu heran karena seharusnya Ayah masih diluar. Ayah memberitahu kalau dia telah di pecat. Ibu menyuruh Ayah jangan mengatakan lelucon. Ayah tak melucu, dia diberhentikan dari pekerjaan karena ada pencuri di lingkungan apartemen hingga beberapa penghuninya tak ingin lagi mengandalkan penjaga. Mereka beralih menggunakan alat keamanan. Ibu kesal dengan ayah yang tak memberikan perlawanan, kenapa tak berdalih?
“Aku sudah mencoba untuk melakukannya tapi tak bisa Karena sudah di tentukan dengan sangat adil.”
“Bagaimana penentuannya?”
“Batu Gunting Kertas.” Jawab ayah santai.
“Apaaa?!!!” Ibu Jong-dae terkejut.



Gwang-pal mengoceh mengeanai pertemuannya dengan Seon-joo dia rasa itu sebuah takdir. Sedangkan menurut Hyo-sang assisten Seon-joo juga lucu.
Wan-ha datang menemui mereka. Gwang-pal mencela Hyo-sang yang pelit tak mau membelikan Wan-ha minum padahal Wan-ha telah membantu Hyo-sang dalam menawarkan produknya kerumah sakit.
“Dimana Jong-dae?” tanya Wan-ha. Hyo-sang tak enak mengatakannya.
Gwang-pal membahas mengenai Seung-hee, dia menyuruh Wan-ha untuk hati-hati karena dia telah meninggalkan Jong-dae pada saat Jong-dae sudah merelakan segala hal untuknya lalu melakukan perjalanan bersama produser. Hyo-sang mencoba menghentikan ucapa Gwang-pal tapi tak berarti, dia terus saja menjelekkan Seung-hee.


Raut wajah Wan-ha sudah tampak kesal, tapi karena dia seorang yang sabar. Baik hati. Sama sekali dia tak memarahi Gwang-pal. Dia hanya menyuruh untuk memulai minum agar bisa mencegah Gwang-pal terus-terusan menjelekkan Seung-hee.



Jin-joo ikut bersama Seon-joo ke apartemennya. Jin-joo melihat Seung-hee yang sedang tiduran di sofa. Dia segera mendekati Seung-hee dan menanyakan tentang mantannya pada Seung-hee. Seung-hee heran kenapa dia tahu. Jin-joo mengetahui semuanya dari Seon-joo dan pastilah Seung-hee tahu Gwang-pal juga. Seung-hee mengangguk.
Jin-joo meminta nomor ponselnya, jelas Seung-hee tak tau. Kalau begitu alamatnya. Seung-hee kesal karena Jin-joo seperti sedang memaksa. Jin-joo memohon agar Seung-hee meminta nomor Gwang-pal.



Demi teman, Seung-hee mau mencarikan nomor Gwang-pal.
Jin-joo sekarang merasa Seung-hee adalah orang yang aneh, kenapa dulu Seung-hee menyukai mantan pacarnya dan bukan pada Gwang-pal.
“Apa Kau pikir dia lebih baik dari Jong-dae. kalau begitu kau yang aneh.”
“Omo...Kau pasti masih punya perasaan ke mantan pacarmu. Aku melihatmu jadi marah, jadi kau pasti masih punya perasaan padanya.” Simpulan Jin-joo mendengar ucapan Seung-hee. Seung-hee sudah malas menanggapi dan menyuruh Jin-joo untuk pulang.




Seung-hee menemui Jong-dae untuk menanyakan nomor Gwang-pal. Jong-dae merasa kalau Seung-hee tidaklah peka, seharusnya Seung-hee menelfon kantor saja. Seung-hee kesana juga memiliki alasan, dia membawakan Jong-dae satu kantong tulang iga. Seung-hee yang tadinya berfikir untuk mengganti biaya rumah sakit tapi sepertinya lebih baik dia membawakan tulang iga untuk mempercepat penyembuhan Jong-dae. Jong-dae langsung tampak luluh hatinya dengan perhatian Seung-hee.
Jong-dae mengatai Seung-hee seperti nenek-nenek yang percaya hal seperti itu. Seung-hee kesal, kalau memang tak mau maka dia akan membawanya kembali. Jong-dae buru-buru mengambil kantong berisi iga tersebut.



Seung-hee berusaha merebutnya, dan tak sengaja siku Seung-hee menyikut dada Jong-dae. Jong-dae terduduk kesakitan. Seung-hee memeriksa dada Jong-dae. mereka sama-sama tak menyadari kalau jarak mereka sangat dekat sekarang. Seung-hee mendongak dan membuatnya bertemu pandang dengan Jong-dae.
Suasana canggung, mereka sama-sama saling menjauh.


Jong-dae meminta nomor Seung-hee dan nanti dia akan mengirimkan nomor Gwang-pal. Seung-hee pun mengetikkan nomor ponselnya. Jong-dae menatap Seung-hee dengan penuh kasih sayang.
Aku ingat kalau aku mencoba mencari tahu nomor teleponnya beberapa tahun yang lalu” batin Jong-dae.


Seung-hee sudah dalam perjalanan pulang menggunakan bus. Seung-hee tengah ragu antara menyimpan nomor Jong-dae atau tidak. Tapi pada akhirnya Seung-hee pun menyimpan nomor Jong-dae.
Panggilan masuk dari Wan-ha yang mengajak Seung-hee untuk bertemu. Seung-hee tersenyum, tapi senyum ini seolah bukan seperti seseorang yang menerima panggilan dari seorang kekasih. Seolah hanya sekedar teman.
“Baiklah, dimana kau sekarang?”




Seung-hee dan Wan-ha sudah di taman, Wan-ha mengajaknya duduk lalu membersihkan dulu kursi yang akan di duduki Seung-hee.
Wan-ha canggung kemudian menggenggam tangan Seung-hee, tangan Seung-hee begitu dingin. Wan-ha menarik tangannya lalu memasukkan tangan Seung-hee ke saku jas’nya. Hehehe. Seung-hee merasakan ada sesuatu yang aneh di saku Wan-ha lalu menarik tangannya. Seung-hee membuka genggaman tangannya, sudah ada sebuah cincin disana. Seung-hee terdiam.
“Apa kau tak menyukainya?”
“Tidak, aku menyukainya. Ini pertama kalinya aku menerima sesuatu seperti ini. Aku pernah meminta Jong Dae membelikanku ketika dia lulus ujian tapi aku tidak pernah menerimanya selama 10 tahun.”





Seung-hee menyadari ucapannya salah, dia meminta maaf. Wan-ha tak mempermasalahkan lalu memasangkan cincin ke jari Seung-hee sedangkan Wan-ha sendiri sudah mengenakan pasangannya di jarinya pula.
“Ngomong2... bisakah aku bertanya kenapa kau putus dengan Jong Dae?”
“Kami sudah dalam hubungan yang buruk, Tapi dia tidak pernah mengunjungiku sekalipun setelah aku mengalami kecelakaan. Ketika aku melalui masa tersulit, dia mencampakkanku dengan cara yang kejam. Harga dirinya hal yang paling penting buat Jong Dae. aku mengalami kecelakaan eskalator.”
Wan-ha terdiam karena pernyataan Seung-hee dan yang diungkapkan Gwang-pal sangatlah berbeda.
***
KOMENTAR :
Sukses. Ganteng. Pintar. Paket komplit banget si Wan-ha. Tapi kenapa bagi Seung-hee Jong-dae tetaplah sebagai penghuni spesial dalam hatinya. Apakah dia akan terus menyukai Jong-dae ataukah akan mencoba untuk menyayangi Wan-ha?
Tunggu kelanjutannya.......... 3 bagian lagi. Huuuuu. Gak sabar pengin menyelesaikan drama ini.

4 Responses to "Sinopsis Unemployed Romance Episode 9-1"

  1. Mendekati ending makin ga sabar, kira-kira Seung Hee bakalan milih Wan Ha atau balikan lagi sama Jong Dee ya?

    ReplyDelete
  2. Kalo aku sih, aku milih Wan Haa aja, siapa yg g mau sama cowok komplet kayak dia :) (umi)

    ReplyDelete
  3. okeh... di tunggu yah part 2'nya. agak telat nih, maaf.

    ReplyDelete

Jangan lupa komentar yaah^^ biar aku lebih semangat dalam membuat postingan. Meskipun jarang bales tapi semua komentar selalu aku baca kok.. *serius*

Gomawo^^